cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Ritual, Kepercayaan Lokal dan Identitas Budaya Masyarakat Ciomas Banten Humaeni, Ayatullah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3343

Abstract

This article discusses the local beliefs, the characteristics and cultural identity as well as the socio-religious rituals of Ciomas society. It is a field research using ethnographical method based on anthropological perspective. To analyze the data, the researcher uses structural-functional approach. The finding shows the champion character of jawara is frequently identified with negative labels by several authors such as Willams and Kartodirdjo. The fame of Golok Ciomas that has historical and cultural values for Bantenese society in general is also often referred to champion figures who are rude, valiant, and act like a criminal. As a matter of fact, for majority of Bantenese society, such distinctive characteristics have more positive meanings that were inherited by their ancestors and they still possess religious values maintained up to the present. Artikel ini mengkaji sistem kepercayaan lokal, karakteristik dan identitas kultural masyarakat, serta ritual sosial keagamaan masyarakat Ciomas. Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode ethnografi dengan menggunakan pendekatan antropologis. Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan pendekatan fungsional-struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “karakter jawara” seringkali oleh beberapa penulis seperti Williams dan Kartodirdjo digambarkan dengan label-label negatif. Popularitas Golok Ciomas yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat Banten secara umum juga seringkali disandingkan dengan sosok jawara yang terkenal dengan sikapnya yang keras, berani, dan suka berbuat kriminal. Padahal, bagi sebagian besar masyarakat Ciomas sendiri karakteristik-karakteristik khas tersebut sebenarnya memiliki makna yang lebih positif yang diwariskan oleh nenek moyang dan masih memiliki nilai-nilai religius yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Laseman Hand-Drawn Batik Motifs and Socio-Religious Life Patterns of The Lasem Community Jaeni, Muhammad; Hidayati, Nunung; Idris, Saliha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26617

Abstract

Various Lasem batik motifs have been widely researched in Indonesia, but no one has researched the Lasem batik motifs using social semiotic analysis. The research aims to determine the meaning of Lasem batik motifs using a social semiotic analysis approach, understand the function of Lasem batik patterns and motifs, and determine their influence on the social life of the Lasem community. The approach used in this research is qualitative. The data collection methods used are observation, documentation, and in-depth interviews. The data analysis used in this research uses two types of analysis, namely content analysis and descriptive analysis. The results of the research explain that there are several meanings contained in Lasem's batik motifs, such as the meaning of togetherness, prosperity, caring, sincerity (not giving up), spreading goodness, rejecting evil, patience (holding back anger), and seriousness in living life. The use of batik is the style of the people who own it. Laseman Batik has experienced a shift in meaning and function. The transmission of values and meanings of batik motifs continues to be instilled in the community so that they become shared knowledge and can have implications for people's attitudes and behaviors among partners. Ragam motif batik Lasem telah banyak diteliti di Indonesia, namun belum ada yang meneliti motif batik Lasem ini dengan analisis semiotic social. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemaknaan motif batik Lasem dengan pendekatan analisis semiotic social, memahami fungsi corak dan motif batik Lasem serta mengetahui pengaruhnya terhadap kehidupan social masyarakat Lasem. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan atau observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenis analisis yaitu analisis isi dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Terdapat beberapa makna yang terkandung dalam motif-motif batik tulis Lasem, seperti: makna kebersamaan, kesejahteraan, kepedulian, kesungguhan (tidak putus asa), menyebar kebaikan, tolak bala, sabar (Menahan amarah), kesungguhan menjalani kehidupan. Penggunaan batik merupakan style masyarakat sebagai pemiliknya. Batik Laseman telah mengalami pergeseran makna dan fungsi. Transmisi nilai-nilai dan makna motif batik terus ditanamkan kepada masyarakat agar menjadi pengetahuan bersama dan pada gilirannya dapat berimplikasi kepada sikap dan perilaku masyarakat.
The Implications of Sufism Akhlaqi to Strengthen The Noble Morals of Indonesian Students Fahrudin, Fahrudin; Islamy, Mohammad Rindu Fajar; Faqihuddin, Achmad; Parhan, Muhamad; Kamaludin, Kamaludin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26192

Abstract

The world of education today faces a variety of complex and diverse challenges. One significant challenge is the shift towards the industrial era 4.0, which potentially negatively impacts student morals. This study explores the concept of Sufism akhlaqi as proposed by experts and its implications for teaching Islamic Religious Education (IRE) at a university in Indonesia, aiming to strengthen students' noble morals. The research employs a qualitative approach, utilizing a descriptive-analytical method through literature review. The findings of this study indicate that: (1) Sufism akhlaqi emphasizes the purification of the soul to strengthen students' noble character; (2) The implications of the Sufism akhlaqi concept for IRE teaching support the instructional objectives of fostering faith and piety in students, while also focusing on promoting noble morals. IRE learning materials should integrate the values of Sufism akhlaqi in each relevant subject, and lecturers must serve as role models of noble morals. Dunia pendidikan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan beragam. Salah satu tantangan yang cukup besar adalah peralihan menuju era industri 4.0 yang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap moral mahasiswa. Penelitian ini mendalami konsep tasawuf akhlaqi yang dikemukakan oleh para ahli dan implikasinya dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam (IRE) di salah satu universitas di Indonesia, yang bertujuan untuk memantapkan akhlak mulia mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif-analitis melalui tinjauan pustaka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tasawuf akhlaqi menekankan pada penyucian jiwa untuk memperkuat akhlak mulia peserta didik; (2) Implikasi konsep tasawuf akhlaqi terhadap pengajaran IRE mendukung tujuan pembelajaran untuk menumbuhkan keimanan dan ketakwaan pada peserta didik, sekaligus fokus pada peningkatan akhlak mulia. Materi pembelajaran IRE hendaknya mengintegrasikan nilai-nilai tasawuf akhlaqi pada setiap mata pelajaran yang relevan, dan dosen harus menjadi teladan akhlak mulia.
Islamic Religious Values in Dhukutan Traditional Ceremony as Character Education for Elementary School Students Wati, Mila Anggar; Sumarwati, Sumarwati; Saddhono, Kundharu
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i1.5615

Abstract

This study aims to describe the values of Islamic religious character education in the cleaning process of Dhukutan village in Nglurah village, Tawangmangu sub-district. Dhukutan is a traditional ceremony of Nglurah villagers to commemorate the death of their ancestors named Kyai Menggung. This traditional ceremony is held once every seven lapan (1 lapan=35 days based on Javanese calendar). The method used to find the value of religious character education is a descriptive qualitative method. The sources of the data are the offerings related to the implementation of the Dhukutan village cleaning ceremony. The results of the study show that the religious values reflected in the Dhukutan traditional ceremony are sincere, honest, obedient, disciplined, diligent, praying, grateful, and trustworthy. Within the process of Dhukutan village cleaning ceremony, the value of religious character education is beneficial for students to be both intellectually and emotionally intelligent students. This study suggests educators, especially within Tawangmangu area, to employ the Dhukutan village cleaning ceremony as a learning tool of religious character education values for elementary students. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter agama dalam proses pembersihan desa Dhukutan di desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu. Dhukutan adalah upacara tradisional penduduk desa Nglurah untuk memperingati hari kematian leluhur mereka yang bernama Kyai Menggung. Upacara tradisional ini diadakan sekali setiap 7 lapan (1 lapan = 35 hari berdasarkan kalender Jawa) Metode yang digunakan untuk menemukan nilai pendidikan karakter agama adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah sesembahan yang terkait dengan pelaksanaan upacara pembersihan desa Dhukutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai agama yang tercermin dalam upacara tradisional Dhukutan adalah tulus, jujur, patuh, disiplin, rajin berdoa, bersyukur, dan dapat dipercaya. Dalam proses upacara pembersihan desa Dhukutan, ditemukan nilai pendidikan karakter agama yang sangat berguna bagi siswa untuk membentuk kecerdasan intelektual dan emosional siswa. Studi ini menyarankan para pendidik, khususnya di daerah Tawangmangu, untuk menggunakan upacara pembersihan desa Dhukutan sebagai alat pembelajaran pendidikan karakter agama bagi siswa.
The Cultural Preaching Values of The Gayo Tradition Melengkan in Aceh Marhamah, Marhamah; Fauzi, Fauzi; Rahmad, Rahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26447

Abstract

The delivery of Islamic preaching can be effectively conducted through cultural approaches, such as the Gayo tradition of melengkan in Aceh. This tradition involves delivering speeches at wedding ceremonies using metaphorical sentences that embed Islamic messages. It serves as a valuable means of preaching and merits preservation. However, the tradition faces challenges due to the declining number of people skilled in the art of melengkan. It is hoped that local government policies will support training the next generation in the art of melengkan to prevent this tradition from becoming extinct. This research aims to analyze the forms and preaching values within the tradition, employing a descriptive qualitative research method. Data collection is conducted through interviews with key informants, including performers of melengkan, traditional leaders, and community figures from the Gayo community. Observations of traditional wedding ceremonies and analysis of melengkan speech texts are supplemented with other literature. The research findings indicate that the cultural preaching messages in melengkan include informative, persuasive, and coercive types. The values embodied within these messages encompass beliefs, worship or Sharia, and morality. Further studies could explore broader applications of cultural preaching values in multicultural settings worldwide, offering a model for other regions with similar cultural and religious dynamics. Penyampaian dakwah Islam dapat dilakukan secara efektif melalui pendekatan budaya, seperti tradisi melengkan di Aceh. Tradisi ini melibatkan penyampaian pidato dalam upacara pernikahan menggunakan kalimat metaforis yang menyertakan pesan-pesan Islam. Ini merupakan sarana berharga untuk berdakwah dan layak untuk dilestarikan. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan karena menurunnya jumlah orang yang terampil dalam seni melengkan. Diharapkan kebijakan pemerintah daerah akan mendukung pelatihan generasi berikutnya dalam seni melengkan untuk mencegah kepunahan tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan nilai-nilai dakwah dalam tradisi tersebut, menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan informan kunci, termasuk pelaku melengkan, pemimpin tradisional, dan tokoh masyarakat dari komunitas Gayo. Observasi upacara pernikahan tradisional dan analisis teks pidato melengkan dilengkapi dengan literatur lainnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pesan dakwah budaya dalam melengkan mencakup tipe informatif, persuasif, dan koersif. Nilai-nilai yang terkandung dalam pesan-pesan ini mencakup kepercayaan, ibadah atau Syariah, dan moral. Studi lanjutan bisa mengeksplorasi aplikasi luas nilai-nilai dakwah budaya di lingkungan multikultural di seluruh dunia, menawarkan model untuk wilayah lain dengan dinamika budaya dan agama yang serupa.
Dinasti Mamalik di Mesir Darmalaksana, Wahyudin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v11i2.5210

Abstract

This paper intends to explore the historical aspect of Mamalik dynasty. It was associated with Daulah Islamiyah in Mesir which lead by slave group (Mamalik) from 13th century up to 16th A.D that became one of unique Islamic political faces. At that time, civil society can form themselves as military power driven by slavers. Retired slavers emerged as political elite and bodyguard of Sultan. Mamalik group divided into two groups. First, Mamalik Bahriyah coming from middle Asia, especially Turkey Qipsaq. Second, Mamalik Burjiyah coming from Sirkasia race in·Kaukasus (East Europe). Historically, Mamalik Dynasty in Mesir classified into three periods. First, the period of Mamalik government formation which was "oligarchy". Second, the period of development in which Mamalik group cooperated with Mogol and Europe country. Third, the period of saturation or the decrease of Mamalik dynasty in Mesir which was caused by the attack of Turkey Utsmani, disease epidemic, and corruption. Makalah ini bermaksud untuk mengeksplorasi aspek historis dinasti Mamalik. Itu terkait dengan Daulah Islamiyah di Mesir yang dipimpin oleh kelompok budak (Mamalik) dari abad ke-13 hingga 16. yang menjadi salah satu wajah politik Islam yang unik. Saat itu, masyarakat dapat membentuk diri mereka sebagai kekuatan militer yang dikendalikan oleh budak. Mantan budak muncul sebagai elit politik dan pengawal Sultan. Kelompok Mamalik dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, Mamalik Bahriyah yang berasal dari Asia tengah, terutama Turki Qipsaq. Kedua, Mamalik Burjiyah berasal dari ras Sirkasia di Kaukasia (Timur Eropa). Secara historis, Dinasti Mamalik di Mesir digolongkan ke dalam tiga periode. Pertama, periode pembentukan pemerintahan Mamalik yang merupakan "oligarki". Kedua, periode perkembangan di mana Kelompok Mamalik bekerja sama dengan Mongolia dan negara Eropa. Ketiga, periode kejenuhan atau penurunan dinasti Mamalik di Mesir yang disebabkan oleh serangan Turki Utsmani, epidemi penyakit, dan korupsi.
Madura’s Local Wisdom-Based Pedagogical Project Management: The Role of Traditional Values in Education System Development Khairi, Ahmad Imam; Surjanti, Jun; Nasution, Nasution; Katsuhisa, Shirai
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.28266

Abstract

Integrating local wisdom into education systems is crucial for preserving cultural identity and enhancing educational quality in the modern era. Madura Island possesses traditional values potentially applicable to pedagogical project management. However, the effective utilization of these values in contemporary pedagogical project management remains poorly understood. Existing research predominantly focuses on specific aspects of the curriculum or teaching methods, such as integrating cultural values into learning materials, employing local wisdom-based teaching methods, and adopting learning approaches contextual to Madurese culture. Still, there is a noticeable gap in the literature regarding how Madurese local wisdom values can be systematically operationalized in education project management, including planning processes that involve local stakeholders, implementation that respects local customs, and evaluation methods rooted in local values. To explore how Madurese cultural values can be effectively utilized in pedagogical project management to create a more in-depth and contextually relevant approach, this study employed a mixed-method approach with a sequential explanatory design. The first phase involved a quantitative survey of 230 education stakeholders in Madura using Structural Equation Modeling (SEM). The second phase included in-depth interviews and participatory observations in five schools, analyzed using NVivo 14. SEM results revealed a significant positive relationship between the integration of Madurese local wisdom values and pedagogical project management effectiveness. Qualitative analysis showed these values strengthen decision-making structures and community commitment to educational projects. This research demonstrates that incorporating Madurese local wisdom values can enhance pedagogical project management effectiveness, making an important contribution to developing a contextualized and sustainable pedagogical project management model. This model has potential applications across various cultural contexts in Indonesia and globally. By adopting this model, education in Madura is expected to be not only more effective but also rich with local cultural values, creating a deep and meaningful learning experience for students. Mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan sangat penting untuk menjaga identitas budaya dan meningkatkan kualitas pendidikan di era modern. Pulau Madura memiliki nilai-nilai tradisional yang berpotensi diterapkan dalam manajemen proyek pedagogis. Namun, pemanfaatan nilai-nilai tersebut secara efektif dalam manajemen proyek pedagogis kontemporer masih kurang dipahami. Penelitian yang ada sebagian besar berfokus pada aspek-aspek spesifik kurikulum atau metode pengajaran, seperti mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam materi pembelajaran, menerapkan metode pengajaran berbasis kearifan lokal, dan mengadopsi pendekatan pembelajaran yang kontekstual dengan budaya Madura. Meski begitu, terdapat kesenjangan yang mencolok dalam literatur terkait bagaimana nilai-nilai kearifan lokal Madura dapat dioperasionalisasikan secara sistematis dalam manajemen proyek pendidikan, termasuk proses perencanaan yang melibatkan pemangku kepentingan lokal, pelaksanaan yang menghormati adat setempat, dan metode evaluasi yang berakar pada nilai-nilai lokal. Untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai budaya Madura dapat dimanfaatkan secara efektif dalam manajemen proyek pedagogis guna menciptakan pendekatan yang lebih mendalam dan relevan secara kontekstual, penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain eksplanatori berurutan. Tahap pertama melibatkan survei kuantitatif terhadap 230 pemangku kepentingan pendidikan di Madura menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Tahap kedua mencakup wawancara mendalam dan observasi partisipatif di lima sekolah, yang dianalisis menggunakan NVivo 14. Hasil SEM mengungkapkan adanya hubungan positif yang signifikan antara integrasi nilai-nilai kearifan lokal Madura dan efektivitas manajemen proyek pedagogis. Analisis kualitatif menunjukkan bahwa nilai-nilai ini memperkuat struktur pengambilan keputusan dan komitmen masyarakat terhadap proyek pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Madura dapat meningkatkan efektivitas manajemen proyek pedagogis, memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model manajemen proyek pedagogis yang kontekstual dan berkelanjutan. Model ini memiliki potensi penerapan di berbagai konteks budaya di Indonesia dan secara global. Dengan mengadopsi model ini, pendidikan di Madura diharapkan tidak hanya lebih efektif tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya lokal, menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna bagi siswa.
The Value of Islamic Education on Layang Fasholatan and Its Relevance for Modin Syahriyah, Ummi Ulfatus; Maknun, Moch. Lukluil; Islahuddin, Islahuddin; Iswanto, Agus; Dahri, Harapandi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.29154

Abstract

The discovery of manuscripts preserved by the community on the slopes of Mount Kawi, specifically in the village of Sumberdem, Wonosari, Malang, is significant and merits further exploration through content analysis. In addition to serving as evidence of the village’s identity as an Islamic proselytizing center, these manuscripts deserve to be studied and their contents revealed. One particularly noteworthy manuscript is Layang Fasholatan, which outlines concise guidelines on fiqh, akidah, and morals/tasawwuf that remain relevant in the present context. Its content can also be contextualized with the responsibilities of a village imam/modin, whose role includes leading religious rites such as weddings and funeral processions. Despite the breadth of prior research, few studies have specifically examined the practical relevance of manuscript content to the contemporary roles of village religious leaders such as the modin. This study offers a novel contribution by contextualizing the worship-related teachings in Layang Fasholatan within the lived religious duties of a modin in modern rural Java. Using a philological approach, content analysis, and in-depth interviews, this study presents a focused analysis of the manuscript, specifically within the scope of amaliyah/fiqh and worship. The manuscript provides a concise guide to funeral practices, prayer procedures, devotional supplications (wirid), and marriage contract guidelines. This study affirms that Layang Fasholatan, with its emphasis on worship practices, aligns closely with the religious functions and practical needs of a modin, making it both a historically and contemporarily valuable resource. While the research effectively utilizes philological and content analysis methods, it remains a preliminary exploration focused solely on the amaliyah aspect, leaving ample opportunity for future studies to examine its other dimensions and broader applications. Penemuan manuskrip-manuskrip yang dilestarikan oleh masyarakat di lereng Gunung Kawi, tepatnya di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan temuan yang signifikan dan layak untuk diteliti lebih lanjut melalui kajian isi. Selain menjadi bukti identitas desa sebagai kawasan dakwah Islam, manuskrip-manuskrip ini perlu dikenali dan diungkapkan isinya. Salah satu manuskrip yang menarik untuk dikaji adalah Layang Fasholatan, yang memuat panduan singkat mengenai fikih, akidah, dan akhlak/tasawuf yang masih relevan dalam konteks kekinian. Isi manuskrip ini juga dapat dikontekstualisasikan dengan tugas seorang imam atau modin desa, yang berperan memimpin pelaksanaan ibadah masyarakat, khususnya dalam prosesi pernikahan dan kematian. Meskipun telah banyak penelitian sebelumnya, sedikit yang secara khusus menelaah relevansi praktis isi manuskrip terhadap peran kontemporer tokoh agama desa seperti modin. Studi ini memberikan kontribusi baru dengan mengontekstualisasikan ajaran-ajaran ibadah dalam Layang Fasholatan ke dalam praktik keagamaan sehari-hari seorang modin di pedesaan Jawa modern. Dengan menggunakan pendekatan filologis, analisis isi, dan wawancara mendalam, studi ini menyajikan analisis terbatas terhadap isi manuskrip dalam lingkup amaliyah/fikih dan ibadah. Manuskrip ini memberikan panduan ringkas mengenai tata cara pemulasaraan jenazah, tata cara salat, wirid dan doa, serta panduan akad nikah. Studi ini menegaskan bahwa Layang Fasholatan, dengan penekanan pada praktik ibadah, sangat selaras dengan kebutuhan religius dan fungsi seorang modin, menjadikannya sumber yang berharga dan praktis baik dalam konteks historis maupun kekinian. Meskipun penelitian ini telah berhasil menerapkan metode filologis dan analisis isi secara efektif, studi ini masih merupakan eksplorasi awal yang hanya berfokus pada aspek amaliyah, sehingga masih terbuka peluang besar bagi penelitian lanjutan untuk mengkaji dimensi lainnya dan penerapan yang lebih luas.
Internal Conflict of Jama'ah Tabligh (2015-2023): A Case Study from Parongpong West Bandung Hakim, Ajid; Nurcahya, Yan; Syah, M Kautsar Thariq; Wahyuni, Supi Septia; Noor, Arba'iyah Mohd
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.30392

Abstract

Jama’ah Tabligh (JT), a global Islamic revivalist movement, has undergone an unprecedented internal conflict that disrupted nearly a century of organizational harmony. A major leadership rift divided the movement into two factions: the Nizamuddin-based Maulana Saad (MS) group and the Pakistan-based Syuro Alami (SA) faction led by Sheikh Abdul Wahab. Over time, distinct characteristics have developed between the two factions, becoming particularly evident in Parongpong, West Bandung, although similar patterns appear elsewhere. While JT has often been studied as a peaceful, apolitical missionary movement, few scholarly works have systematically examined the causes and local consequences of its internal division. This study addresses that gap by analyzing the impact of the schism between the MS and SA factions, focusing on Parongpong as a microcosm of the global split. Employing a historical method that includes heuristic, critical, interpretive, and historiographical stages, the study draws upon oral sources collected between 2015 and 2023 through informal interviews with JT members in West Java—particularly in Parongpong and Bandung—as well as written materials such as the Buku Musyawarah Halakoh and publications from tablighi-jamaat.com. The findings reveal that the conflict stems from divergent perspectives on leadership structures, spiritual allegiance (bai‘at), missionary strategies, and theological interpretation. The SA group, often more digitally engaged and scholarly, contrasts with the orally oriented and tradition-centered MS followers. The conflict has deeply affected JT’s internal social fabric and global outreach. In Parongpong, it manifests in disrupted religious routines and divided loyalties among members. The novelty of this study lies in linking a global religious schism to its localized sociological expressions, offering new insights into how spiritual authority is contested, negotiated, and redefined within transnational Islamic movements. These findings contribute to broader understandings of organizational dynamics and internal fragmentation in contemporary Islamic movements. Jama’ah Tabligh (JT), sebuah gerakan kebangkitan Islam berskala global, telah mengalami konflik internal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengguncang hampir satu abad tradisi keharmonisan organisasional. Perpecahan kepemimpinan yang signifikan membagi gerakan ini menjadi dua faksi: kelompok Nizamuddin yang dipimpin oleh Maulana Saad (MS) dan faksi Syuro Alami (SA) yang berbasis di Pakistan di bawah pimpinan Syaikh Abdul Wahab. Seiring waktu, kedua faksi ini menunjukkan perbedaan karakteristik yang mencolok, terutama di Parongpong, Bandung Barat, meskipun pola serupa juga tampak di wilayah lain. Meskipun JT selama ini banyak dikaji sebagai gerakan dakwah yang damai dan apolitis, hanya sedikit penelitian yang secara sistematis menelaah penyebab serta dampak lokal dari perpecahan internal tersebut. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis dampak perpecahan antara faksi MS dan SA, dengan fokus pada Parongpong sebagai cerminan mikro dari perpecahan global. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang mencakup tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh dari sumber lisan—yang dikumpulkan antara tahun 2015 hingga 2023 melalui wawancara informal dengan anggota JT di Jawa Barat, khususnya Parongpong dan Bandung—serta sumber tertulis seperti Buku Musyawarah Halakoh dan publikasi di tablighi-jamaat.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik ini berakar pada perbedaan pandangan mengenai struktur kepemimpinan, ikatan spiritual (bai‘at), metode dakwah, dan interpretasi teologis. Faksi SA, yang cenderung lebih aktif secara digital dan akademis, berbeda dengan pengikut MS yang lebih berorientasi pada tradisi lisan dan konservatif. Konflik ini berdampak mendalam terhadap struktur sosial internal dan jangkauan global JT. Di Parongpong, perpecahan tampak melalui terganggunya rutinitas keagamaan dan terbelahnya loyalitas anggota. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya menghubungkan perpecahan keagamaan global dengan manifestasi sosiologis lokal, sehingga memberikan wawasan baru mengenai bagaimana otoritas spiritual diperdebatkan, dinegosiasikan, dan didefinisikan ulang dalam gerakan Islam transnasional. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang dinamika organisasi dan fragmentasi internal dalam gerakan Islam kontemporer.
Living Qur'an and Pencak Silat Culture: Practicing the Pager Wojo in Pagar Nusa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto Mustofa, Aji; Kurniati, Listia; Alfikri, Fuad; Aisi, Muhamad Najih; Khusain, Moh Ali
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.31879

Abstract

In the current digital age, there is a growing return to spiritual practices such as dhikr and Qur'anic recitation, which serve as sources of emotional resilience, moral grounding, and community cohesion within religious-based organizations like Pencak Silat Pagar Nusa. While studies on the integration of Islamic values in martial arts settings are growing, there remains a gap in understanding how specific Qur'anic verses, especially Ayat Kursi, are ritualized and pedagogically adapted in everyday spiritual practice. This study offers a novel contribution by examining the Pager Wojo ritual as a Living Qur'an phenomenon within Pagar Nusa at UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, focusing on the embodiment of Qur'anic teachings in localized martial traditions. Accordingly, this study aims to understand how the Qur'an, particularly Ayat Kursi, is interpreted, internalized, and practiced in daily life through protective rituals, reflecting a dynamic interaction between scripture and society. Employing qualitative field research methods and a Living Qur'an approach, this study utilizes Karl Mannheim’s sociology of knowledge to analyze the multifaceted meanings embedded in these ritual practices. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving ritual participants. The findings reveal three layers of meaning: objective meaning, which frames the ritual as a medium for seeking divine protection and spiritual closeness; expressive meaning, which emphasizes its role in calming the heart and fostering a sense of safety; and documentary meaning, which highlights its function in Islamic da'wah and cultural preservation. The ritual incorporates specific breathing techniques combined with Qur'anic recitation, performed individually and collectively. This research concludes that the Pager Wojo ritual exemplifies how the Qur'an lives through communal practices, integrating Islamic teachings with local wisdom while preserving scriptural authenticity. Future research may consider comparative practices in other regions or adopt interdisciplinary approaches—such as psychology or health sciences—to assess the broader impact of embodied Qur'anic rituals on practitioners. Di era digital saat ini, terdapat peningkatan minat terhadap praktik spiritual seperti dzikir dan pembacaan Al-Qur'an sebagai sumber ketahanan emosional, landasan moral, dan kohesi sosial dalam organisasi berbasis agama seperti Pencak Silat Pagar Nusa. Penelitian ini mengkaji ritual Pager Wojo sebagai fenomena Living Qur'an di Pagar Nusa, UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang menunjukkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dihayati dan diwujudkan dalam tradisi seni bela diri lokal. Meskipun minat terhadap integrasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam komunitas seni bela diri terus meningkat, studi-studi sebelumnya belum secara mendalam mengeksplorasi bagaimana ayat-ayat tertentu—seperti Ayat Kursi—diritualkan dalam praktik sehari-hari dan diadaptasi secara pedagogis dalam membentuk ekspresi spiritual. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana Al-Qur'an, khususnya Ayat Kursi, ditafsirkan, diinternalisasi, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui ritual perlindungan, yang mencerminkan interaksi dinamis antara teks suci dan masyarakat. Dengan menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dan pendekatan Living Qur'an, studi ini menerapkan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim untuk menganalisis makna berlapis dari praktik ritual tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan partisipan ritual. Temuan penelitian mengungkap tiga lapisan makna: makna objektif yang menunjukkan bahwa ritual ini menjadi sarana untuk mencari perlindungan ilahi dan kedekatan spiritual; makna ekspresif yang menyoroti fungsi ritual sebagai praktik penenang hati dan perlindungan diri; serta makna dokumenter yang menggambarkan perannya dalam dakwah Islam dan pelestarian budaya. Ritual ini melibatkan teknik pernapasan khusus yang dikombinasikan dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, dilakukan secara individu maupun kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritual Pager Wojo merupakan contoh nyata bagaimana Al-Qur'an hidup dalam praktik komunitas, dengan berhasil mengintegrasikan ajaran Islam dan kearifan lokal tanpa mengabaikan keaslian teks suci. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi praktik serupa di wilayah lain atau menggabungkan pendekatan interdisipliner, termasuk psikologi atau ilmu kesehatan, untuk menilai dampak yang lebih luas dari ritual Al-Qur'an yang diwujudkan secara fisik bagi para praktisinya.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue