cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Pusat Peradaban Islam Abad Pertengahan: Kasus Bayt al Hikmah Fahruddin, M. Mukhlis
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.433

Abstract

Science had gotten progression rapidly in Abbasiyah period, it showed by practiced of books translating activity in many languages, out of arabic language and emergence Bayt al-Hikmah as center of civilization and progression in science. Bayt al-Hikmah had formed not only as library but also as translating center, discussion center, and research center. All progression in Abbasiyah period is not far from possessor support and high appreciation which they give to any master in the way to developed science. Because of that, there were various science and specialist present and it makes intellectual tradition in development of Abbasiyah period significant and dynamic. Ilmu pengetahuan telah berkembang pesat dalam periode Abbasiyah, hal ini ditunjukkan dengan buku-buku yang diterjemahkan dalam banyak bahasa dari bahasa Arab dan munculnya Bayt al-Hikmah sebagai pusat peradaban dan kemajuan sains. Bayt al-Hikmah telah terbentuk tidak hanya sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penerjemahan, pusat diskusi dan pusat penelitian. Semua kemajuan dalam periode Abbasiyah tidak jauh dari dukungan pemiliknya dan apresiasi tinggi yang mereka berikan pada pakar manapun dalam pengembangan sains. Karena itu, ada berbagai sains dan spesialis yang hadir dan itu membuat tradisi intelektual dalam pengembangan periode Abbasiyah signifikan serta dinamis.
Mengembangkan Islam dengan Local Wisdom: Strategi Kebudayaan Nahdlatul Ulama Arifi, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i2.4583

Abstract

Religion and culture are two entities which always interact to each other. Interaction between religion and culture can manifest in cohesiveness of religion into community culture in the form of plural society behavior as an expression of religious society. In addition, a culture of society can integrate into the practices of religious values that manifested in the spirit of religious society. Further, it is called as religious traditions or religious experiences based culture. The Nahdlatul Ulama (NU) is a Muslim community which upholds local tradition values. Its movement is based on three principles: Islamic values, Indonesian culture and community benefit. The implementation of these principles required the understanding of local wisdom as the heart of the community. As long as the local tradition goes with the principles, it can accomodate the model of cultural development of NU. Therefore, the religious practices of nahdliyyin (members of the NU) reflect the nuance of Islamic culture. Agama dan budaya adalah dua entitas yang selalu berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara agama dan budaya dapat bermanifestasi dalam kekompakan agama ke dalam budaya masyarakat dalam bentuk perilaku masyarakat majemuk sebagai ungkapan masyarakat religius. Selain itu, budaya masyarakat dapat mengintegrasikan ke dalam praktik nilai-nilai agama yang terwujud dalam semangat masyarakat beragama. Selanjutnya, ini disebut sebagai tradisi keagamaan atau budaya berbasis pengalaman religius. Nahdlatul Ulama (NU) adalah komunitas Muslim yang menjunjung tinggi nilai tradisi lokal. Pergerakannya didasarkan pada tiga prinsip: nilai Islam, budaya Indonesia dan manfaat masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip ini mewajibkan pemahaman kearifan lokal sebagai jantung masyarakat. Selama tradisi lokal berjalan dengan prinsip, ia bisa mengakomodasi model perkembangan budaya NU. Oleh karena itu, praktik keagamaan nahdliyyin (anggota NU) mencerminkan nuansa budaya Islam.
Perspektif Pendidikan Menengah dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Sudiyono, Sudiyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5148

Abstract

From the goals of national education, it can be seen that several important components underlie the development of national education in Indonesia which lead to improving the quality of Indonesian people as a whole with universal criteria as follows: 1) people who fear God Almighty, 2) humans who have knowledge and skills, health physically and spiritually, a steady and independent personality, 3) high aspects of citizenship. In the future that secondary education in Indonesia, which needs to be the attention of the government and society, including the industrial world, namely; schools build educational processes that are in accordance with the needs and development of students, emphasize education on developing life skills, both vocational and social, and involve parents and the community in the education process. Dari tujuan pendidikan nasional terlihat beberapa komponen penting yang melandasi pembangunan pendidikan nasional di Indonesia yang mengarah pada peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dengan kreteria universal sebagai berikut:1) manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2) manusia yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, 3) aspek kewarganegaraan yang tinggi. Di masa depan bahwa pendidikan menengah di Indonesia, yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, termasuk dunia industri yaitu; sekolah membangun proses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didik, menekankan pada pendidikan pada pengembangan kecakapan hidup baik yang bersifat vokasional atau pun keperibadian sosial, dan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan.
Menata Rumah yang Islami Zien, Hafidz Zamroni; Kusumadewi, Tarranita
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2015

Abstract

Prophet Muhammad in a hadith reveals that there are four things making people happy:  having shalihah  wife, spacious houses, comfortable vehicles, and good neighbors. A house as the inhabited buildings working as the activity base is one of the ways to form a society and Islam civilization. An Islamic house must be able to have two functions in life. First, the welfare of the world including: a sense of compassion (mawadah warahmah), ensuring children's education, creating hospitality (ukhuwah Islamiyah), forming the Muslim individual, supporting successful careers, and having health condition. Second, the welfare of the afterlife including: easy to implement the mahdah worship, muamalah process and able to keep its inhabitants from the things forbidden and makruh. An Islamic house is not always designed like mosques or houses which are full of Islamic ornaments, such as calligraphy, and more. An Islamic house is an efficient house which can be used to  dhikr to Allah, and to remember death. The house is not always facing the Qibla or the lavatory was not facing Mecca. An Islamic house is a house that allows occupants to stay and interact with others. Besides, the privacy of each person can also be maintained in it. It is then becoming the task of the architects to make Islamic houses. However, the most important thing of an Islamic house is that it does not isolate the occupants from the outside world. Further, it could create a better interaction and social relationship with its surroundings and neighbors. Nabi Muhammad dalam sebuah hadits mengungkapkan bahwa ada empat hal yang membuat orang bahagia: memiliki istri yang shalihah, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman, dan tetangga yang baik. Rumah sebagai bangunan tempat tinggal yang berfungsi sebagai basis aktivitas merupakan salah satu cara untuk membentuk masyarakat dan peradaban Islam. Sebuah rumah islami harus mampu memiliki dua fungsi dalam kehidupan. Pertama, kesejahteraan dunia meliputi: rasa kasih sayang (mawadah warahmah), menjamin pendidikan anak, menciptakan keramahan (ukhuwah Islamiyah), membentuk individu muslim, mendukung karir yang sukses, dan memiliki kondisi kesehatan. Kedua, kesejahteraan akhirat yang meliputi: kemudahan dalam melaksanakan ibadah mahdah, proses muamalah dan mampu menjaga penghuninya dari hal-hal yang dilarang dan makruh. Sebuah rumah islami tidak selalu didesain seperti masjid atau rumah yang penuh dengan ornamen islami, seperti kaligrafi, dan lainnya. Rumah islami adalah rumah yang efisien yang dapat digunakan untuk berdzikir kepada Allah, dan untuk mengingat kematian. Rumah tidak selalu menghadap kiblat atau kamar mandi tidak menghadap Mekah. Rumah islami adalah rumah yang memungkinkan penghuninya untuk tinggal dan berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, privasi setiap orang juga dapat terjaga di dalamnya. Hal inilah yang kemudian menjadi tugas para arsitek untuk membuat rumah-rumah islami. Namun, hal terpenting dari sebuah rumah islami adalah tidak mengisolasi penghuninya dari dunia luar. Selanjutnya dapat menciptakan interaksi dan hubungan sosial yang lebih baik dengan lingkungan dan tetangganya.
Mencermati Gagasan Islamisasi Ilmu Faruqi Soleh, Achmad Khudori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4630

Abstract

Due to the secular paradigm, modern (Western) knowledge becomes dry, even apart from the monotheistic or theological values. Consequently, modern science sees nature and man as mere material and incidental existence without God's interference, so that it can be exploited without calculation. This paper reviews the idea of Faruqi bringing together the secular and Western paradigm in the birth of modern monotheistic scholarship. The Islamization program of Faruqi science emphasizes on the total overhaul of western social science because it is considered Eurocentric. The steps of Islamization of the given science and its criticism of the reality of Islamic education is a major contribution to the reform of the Islamic education system. The ideas that need to be conveyed are first, the relevance of Islam in every field of science. Second, the principle of the unity of truth and knowledge. Thirdly, objective criteria in providing an epistemological basis for the natural and social sciences today are mistaken. Fourth, the discipline of science is not regulated and appears immediately. Akibat paradigma yang sekuler, pengetahuan modern (Barat) menjadi kering, bahkan terpisah dari nilai-nilai tauhid atau teologis. Akibatnya, sains modern melihat alam dan manusia hanya sebagai material dan insidental yang eksis tanpa interfensi Tuhan, sehingga ia bisa dieksploitir tanpa perhitungan. Tulisan ini mengulas gagasan Faruqi mempertemukan paradigma sekuler dan Barat dalam melahirkan keilmuan modern yang bertauhid. Program Islamisasi ilmu Faruqi menekankan perombakan total atas keilmuan sosial barat karena dianggap bersifat Eurosentris. Langkah-langkah Islamisasi ilmu yang diberikan dan kritiknya terhadap realitas pendidikan Islam merupakan sumbangan besar bagi perombakan sistem pendidikan Islam. Gagasan yang perlu di sampaikan adalah pertama, relevansi Islam di setiap bidang ilmu pengetahuan. Kedua, prinsip kesatuan kebenaran dan pengetahuan. Ketiga, kriteria objektif dalam memberikan basis epistemologi bagi ilmu alam dan sosial saat ini dirasa keliru. Keempat, disiplin ilmu tidak diatur dan muncul serta merta.
The Religious Construction of Kiai on Pluralism and Multiculturalism Yani, Muhammad Turhan; Haidar, Muhammad Ali; Warsono, Warsono; Sadewo, FX Sri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i2.5074

Abstract

The reality of plurality in the context of humanity is something that Allah Almighty has desired, and the human task is to nurture and develop mutual respect and appreciation among people (tolerant). In this regard, the purpose of this study is to explore and explain exactly what kind of religious construction of kiai pesantren about pluralism and multiculturalism, the basis of references used, because it is related to the kiai’s point of view in resolving social conflicts that sometimes occur in the community. The data research was collected through survey and depth interview with some kiai pesantren in East Java. Data analysis was conducted with qualitative narrative and through Forum Group Discussion (FGD). The result shows that the mapping of religious construction of kiai pesantren in East Java consists of (1) religious construction with inclusive and exclusive categories and (2) religious construction with exclusive categories. Realitas pluralitas dalam konteks kemanusiaan merupakan kehendak Allah SWT, tugas manusialah memelihara dan mengembangkan rasa saling menghormati dan menghargai sesama (toleran). Dalam hal ini, tujuan penelitian ini mengeksplorasi dan menjelaskan dengan tepat konstruksi religius kiai pesantren tentang pluralisme dan multikulturalisme, dasar referensi yang digunakan, karena ini terkait dengan sudut pandang Kiai dalam menyelesaikan konflik sosial yang kadang-kadang terjadi di masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dan wawancara mendalam dengan beberapa kiai pesantren di Jawa Timur. Analisis data dilakukan dengan narasi kualitatif dan melalui Forum Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan agama Pesantren Kiai di Jawa Timur pada pluralisme dan multikulturalisme dapat dipetakan menjadi dua, yaitu (1) konstruksi keagamaan dengan kategori inklusif dan eksklusif dan (2) konstruksi keagamaan dengan kategori eksklusif.
Studi Privasi dan Aksesibilitas Rumah Hunian Pondokan Mahasiswa Ditinjau dari Nilai-Nilai As Sunnah Junara, Nunik; Kusumadewi, Tarranita
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i1.2672

Abstract

The existence of boarding house, the process of acculturation and values shift in residence, affect the physical and non-physical condition of the home and its surroundings. Similarly, shifting occurs in the private-public space caused by the interaction between the occupants. In a pluralistic Muslim society, the Islamic values influence the process of shifting the public-private space. Accessibility becomes the main concern in the shift pattern as a consequence of the limited land and increasing space demand. There are two shift patterns, physical shift indicating a change in the function space, and non-physical shift involving a sense of space for those interact in it. Sunnah values are employed to see the aspects are considered in home, especially on privacy and interaction. It used descriptive method through collecting detailed information that depicts the existing symptoms, identifying, making comparisons or evaluations and determining what is done to establish a plan or decision. The result of this study is the suggested design that can synergize with the activities occuring within it. Keberadaan rumah pondokan mahasiswa, terjadinya proses akulturasi budaya dan pergeseran nilai-nilai dalam rumah hunian, mempengaruhi kondisi fisik dan non fisik rumah dan lingkungannya. Begitu pula terjadinya pergeseran ruang privat-publik pada rumah hunian yang disebabkan interaksi antara pemilik rumah dengan penghuni pondokannya. Dalam lingkungan masyarakat muslim yang majemuk terdapat nilai-nilai Islam yang mempengaruhi terjadinya proses pergeseran ruang privat-publik tersebut. Aksesibilitas merupakan hal utama yang harus diperhatikan pada pola pergeseran ruang sebagai konsekuensi sempitnya lahan dan bertambahnya kebutuhan ruang. Terdapat dua pola pergeseran ruang, pertama secara fisik yang mengindikasikan perubahan fungsi ruang, dan kedua secara non fisik, yang melibatkan rasa ruang dari pelaku-pelaku yang berinteraksi didalamnya. Nilai-nilai as Sunnah digunakan untuk mengkaji aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam rumah tinggal terutama privasi dan interaksi. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif, dengan mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang menggambarkan gejala-gejala yang ada, mengidentifikasi, membuat perbandingan atau evaluasi dan menentukan apa-apa yang dilakukan untuk menetapkan rencana atau keputusan. Hasil dari kajian ini berupa saran rancangan yang dapat bersinergi dengan aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Menggagas Alternatif Pemikiran Aswaja di Tengah Kehidupan Masyarakat Berbasis Pesantren Alfa, Mohammad Asrori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v6i2.4668

Abstract

The comprehension of Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) so far has been understood as ideology doctrine of certain community. As a result, there happened many misunderstandings and anxiety which give bad impact to sociocultural and socio-psychological in the life of people. In fact, the substantialism of Aswaja values itself can be the benchmark (mi’yar) of thinking method (manhaj al fikr) in several human life aspects both micro and macro. This can be implemented in the society life by using concept popularity approach which has been known: tawassut (moderate), tasamuh (tolerant), tawazun (balance), dan i’tidal (justice). In this article, the author will discuss about the history and definition of Aswaja and also the aim and advantages of learning it. Pemahaman konsep Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) selama ini sering dipahami sebagai doktrin ideologi komunitas tertentu. Akibatnya, banyak terjadi bentuk kesalahpahaman dan keresahan yang berimbas sosiokultur, sosiopolitik, dan sosio-psychologic di tengah perkembangan kehidupan umat manusia. Sesungguhnya, substantialisme nilai Aswaja itu sendiri bisa dijadikan tolok ukur (mi’yar) sarana metodologi berpikir (manhaj al fikr) dalam berbagai aspek kehidupan manusia secara mikro maupun makro. Hal ini dapat kita implementasikan di tengah masyarakat dengan menggunakan pendekatan popularitas konsep yang selama ini dimiliki: tawassut (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan i’tidal (bersikap adil). Artikel ini akan membahas sejarah dan pengertian Aswaja serta tujuan dan manfaat mempelajarinya.
Hak-Hak Asasi Manusia dalam Hukum Islam Hamidah, Tutik
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4721

Abstract

Human rights objectively aim noble. It grants basic rights to human beings without distinction of origin, race, color, sex, language or religion. The concept of human rights in maqasid al syariah is Islamic sharia is prescribed in order to protect the human benefit by protecting the interests, safety and welfare of human beings both in life in the world and in the hereafter. The fundamental problem, if Islamic law is confronted with human rights is at least in family law. There arose some offers of methods of understanding nas in order to respond to human development. A verse of qatb'i is by analyzing a number of verses so that a unified understanding of the verses can be obtained. The collaboration of some of these verses shows that the understanding contained therein is definite and undeniable. then the tension in Islamic law, especially allegations of discrimination against women and non-Muslims can be avoided without any need to have allegedly left the Qur'anic verses. Hak-hak Asasi manusia secara obyektif bertujuan mulia. la memberi hak-hak dasar kepada manusia tanpa membedakan asal-usulnya, baik ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa maupun agama. Konsep HAM dalam maqasid al syariah yaitu syariah Islam disyariatkan dalam rangka melindungi kemaslahatan manusia dengan melindungi kepentingan, keselamatan dan kesejahteraan manusia baik dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Problem yang mendasar, jika hukum Islam dihadapkan kepada HAM paling sedikit adalah pada hukum keluarga. Muncullah beberapa tawaran metode memahami nas dalam upaya merespon perkembangan kemanusiaan. Suatu ayat qatb 'i adalah dengan menganalisis sejumlah ayat sehingga bisa diperoleh suatu pengertian yang searah dari ayat-ayat tersebut. Kolaborasi sejumlah ayat tersebut menunjukkan bahwa pengertian yang terkandung di dalamnya bersifat pasti dan tak terbantah. maka ketegangan dalam Hukum Islam, khususnya tuduhan diskriminasi terhadap wanita dan non-muslim bisa dihindarkan tanpa perlu ada tuduhan telah meninggalkan ayat-ayat al quran.
Masjid: Bentuk Manifestasi Seni dan Kebudayaan Muchlis, Aulia Fikriarini
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i1.420

Abstract

Cultural  value can determine the characteristics of cultural environment in which those values believed. Hence, it is colored by the act of the society and the product of the culture. In this sense, human  beings as the main actor of that existing culture. One of the visible products of the culture is its art (architecture) as the proof that best  describes the situation  of the culture. The architecture also influences the ups and downs of a civilization, and it is more meaningful creating the combination between human culture and the human’s obedience to the God which shows harmonious relationship among human, environment, and the creator. It, then, will emerge as an Islamic new civilization, and will bring the goodness for human  beings. This paper describes a mosque as not only the symbol of syi’ar Islam for praying and i’tikaf,  but something that has wider role. It is the creation of Islamic cultural value.  It means that the mosque was born from the knowledge that is inspired from spiritual values, therefore, it reminds and guides human  to come back to the God. Nilai budaya dapat menentukan karakteristik lingkungan budaya di mana nilai-nilai itu dipercaya. Oleh karena itu, nilai budaya diwarnai oleh tindakan masyarakat dan produk budaya. Dalam pengertian ini, manusia sebagai aktor utama dari budaya yang ada. Salah satu produk budaya adalah seni (arsitektur) sebagai bukti yang paling menggambarkan situasi budaya. Arsitektur juga mempengaruhi naik turunnya peradaban, dan ini lebih berarti menciptakan kombinasi antara budaya manusia dan ketaatan manusia terhadap Tuhan yang menunjukkan hubungan yang harmonis antara manusia, lingkungan, dan sang pencipta. Ini kemudian akan muncul sebagai peradaban baru Islam, dan akan membawa kebaikan bagi manusia. Makalah ini menjelaskan bahwa masjid tidak hanya sebagai simbol syi'ar Islam untuk shalat dan i'tikaf, tapi sesuatu yang memiliki peran lebih luas. Inilah ciptaan budaya Islam nilai. Artinya masjid itu lahir dari pengetahuan yang ada Terinspirasi dari nilai spiritual, oleh karena itu, ini mengingatkan dan membimbing manusia untuk kembali kepada Tuhan.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue