cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Telaah Peran Organisasi Keagamaan dalam Pengembangan Pendidikan, Sosial, dan Dakwah Suprayogo, Imam
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i2.5138

Abstract

The question that always arises like a religious organization is how the religious social organization itself actually possesses and at the same time develops a formidable force in order to always adapt to the demands of this progressive and rational era. As a system, organizations including religious social organizations are always challenged both internally and externally. The organization will continue to grow strong or firm if it still has a source of driving force in the form of a clear vision, mission, or vision for the future. In addition, it remains strong if able to solve various challenges that come from within and from outside itself. Pertanyaan yang selalu muncul seputer organisasi keagamaan adalah bagaimana sesungguhnya organisasi sosial keagamaan itu sendiri memiliki dan sekaligus mengembangkan kekuatan yang tangguh agar selalu dapat menyesuaikan dengan tuntutan zaman yang semakin maju dan rasional ini. Sebagai sebuah sistem, berbagai organisasi termasuk organisasi sosial keagamaan selalu memperoleh tantangan baik yang datang dari internal maupun eksternal. Organisasi akan tetap tumbuh kuat atau kukuh jika tetap memiliki sumber kekuatan penggerak berupa cita-cita, misi, atau visi yangjelas ke depan. Selain itu, ia tetap kuat jika mampu menyelesaikan berbagai tantangan yang datang dari dalam maupun dari luar itu sendiri. 
Lembaga Kekhalifahan sebagai Suatu Institusi Politik Fitrianto, Achmad Room
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.448

Abstract

The issue of leadership succession has always been an interesting issue of all time. Beside the emergence of the issue of succession and power struggles, the problems of empowering the people and sustaining the civilization are also one of the keys of power transitions. One of the most widely known leadership succession in history is the successions that happened after the death of the Prophet Muhammad saw. This episode  was responded variously by many parties of that time. However, Abu Bakar came up with an awareness that the death of the Prophet Muhammad saw was not the end of anything. There is a huge responsibility to continue the islamic civilization that has been built by the Prophet Muhammad saw. Therefore, the caliphate system was developed and established. At the time of Umar as, the caliphate system was enhanced with the establishment of the Shura Council. Dynamic development of the caliphate system has become an interesting study recently. The system was built based on the divine prophetic system. It was then adopted into a system that puts its main concerns for the society. After some time, the system was degraded by the worldly interests of the Umayyad family who turned it into a monarchy system. However, the development of this system through periods can be analyze in order to gain some valuable lessons for the modern leaderships. Isu suksesi kepemimpinan selalu menjadi isu menarik sepanjang masa. Selain munculnya isu suksesi dan perebutan kekuasaan, masalah pemberdayaan masyarakat dan penengah peradaban juga merupakan salah satu kunci transisi kekuasaan. Salah satu suksesi kepemimpinan yang paling banyak dikenal dalam sejarah adalah suksesi yang terjadi setelah kematian Nabi Muhammad saw. Ini banyak ditanggapi oleh banyak pihak. Namun, Abu Bakar muncul dengan kesadaran bahwa kematian Nabi Muhammad saw saw bukanlah akhir dari apapun. Ada tanggung jawab besar untuk melanjutkan peradaban islami yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, sistem khilafah dikembangkan dan didirikan. Pada saat Umar, sistem khilafah ditingkatkan dengan pembentukan Dewan Syura. Perkembangan dinamis sistem khilafah telah menjadi studi menarik baru-baru ini. Sistem ini dibangun berdasarkan sistem nubuatan ilahi. Kemudian diadopsi ke dalam sistem yang menempatkan perhatian utamanya bagi masyarakat. Setelah beberapa lama, sistem itu terdegradasi oleh kepentingan duniawi keluarga Umayyah yang mengubahnya menjadi sistem monarki. Namun, pengembangan sistem ini melalui periode dapat dianalisis untuk mendapatkan beberapa pelajaran berharga bagi kepemimpinan modern.
Ibn Khaldun dan Pemikir Sosial Budaya Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5186

Abstract

The greatness of Ibn Khaldun's name makes the world recognized and reviewed his thoughts. If we revisit the treasury of medieval Islamic intellectual thought and develop a tradition of thought in the world of campus, this tradition and culture is good to do. This paper raises who is really the figure of Ibn Khaldun and how his thoughts are especially on his social cultural thinking. Ibn Khaldun's theory of social phenomena includes the theory of evolution that views social phenomena as the dynamics of society, nations and states that differ across generations. The human society according to Ibn Khaldun is an independent entity. and can be perfectly managed regardless of religious values. He says humans can be good and evil at the same time. Man is evil because of animal nature, and on the contrary, man is good because of his involvement with other human beings. Ibn Khaldun's mind is so visionary that it is relevant to the context of the development of the era as developed by modern philosophers which actually comes from the socio-cultural view of Ibn Khaldun. Begitu besar nama Ibn Khaldun sehingga dunia mengakui dan mengkaji kembali pemikiran-pemikirannya. Jika kita menguak kembali khazanah pemikiran intelektual Islam abad pertengahan dan mengembangkan tradisi pemikiran di dunia kampus, tradisi dan budaya ini bagus untuk dilakukan. Tulisan ini mengangkat siapakah sesungguhnya sosok Ibn Khaldun itu dan bagaimana pemikirannya khususnya pada pemikiran sosial budayanya. Teori fenomena sosial Ibn Khaldun termasuk teori evolusi yang memandang fenomena sosial sebagai dinamika masyarakat, bangsa dan negara yang berbeda antar generasi. Masyarakat manusia menurut Ibn Khaldun adalah suatu entitas yang independen. dan dapat diurus secara sempurna lepas dari nilai-nilai agama. Menurutnya manusia bisa baik clan jahat pada saat yang sama. Manusia jahat karena adanya sifat dasar kebinatangan, dan sebaliknya, manusia itu baik karena keterlibatannya dengan manusia lain. Pemikiran Ibn Khaldun sangat visioner sehingga relevan dengan konteks perkembangan jaman sebagaimana yang kemudian dikembangkan oleh filsuf modern yang sesungguhnya bermuara dari pandangan sosial budaya Ibnu Khaldun.
Implikasi Falsafah Siri' Na Pacce pada Masyarakat Suku Makassar di Kabupaten Gowa Darwis, Rizal; Dilo, Asna Usman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2317

Abstract

Articulating the religion in the life of human is a phenomenon in the actual practice. Religion consists of beliefs, dogmas, traditions, practices and rituals. A faith people who was born into a religious tradition would inherit and take all these aspects directly and believed that everything inherited was essential and integral aspect of religion. From this context, religious understanding begined from understanding the legacy that has been determined and doctrined unilaterally without passing personal lane that bassically  resulted a conviction and a strong understanding. At the life level, people had a philosophy of their life. This was ref lected in a philosophy siri’ na pacce that was hold  by tribe Makassar as guidelines in their daily activities. Mengartikulasikan agama dalam ranah kehidupan manusia merupakan sesuatu yang fenomenal dalam praktik yang sebenarnya. Agama terdiri dari keyakinan, dogma, tradisi, praktik dan ritual. Seorang yang beriman yang dilahirkan dalam tradisi yang religius akan mewarisi dan mengambil semua aspek ini begitu saja dan meyakini bahwa segala sesuatu yang diwarisi merupakan aspek esensial dan integral dari agama. Dari konteks ini, pemahaman keagamaan merupakan pemahaman yang sama karena berawal dari pemahaman warisan yang sudah ditentukan dan didoktrinkan secara sepihak tanpa melewati jalur penelusuran pribadi yang pada dasarnya akan menghasilkan sebuah keyakinan dan pemahaman yang kukuh. Pada tataran kehidupan, masyarakat tentunya memiliki falsafah dalam menjalani kehidupan mereka. Hal ini tergambar pada falsafah yang dipegangi masyarakat Suku Makassar, yaitu falsafah siri’ na pacce yang menjadi pedoman dalam pergaulan mereka sehari-hari.
Ngurup Cimplung: Food Security Strategy in Banjarnegara Household Dewi, Nurul Friska
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.7480

Abstract

This study aims to look at the lives of farmers from a survival strategy perspective. An ethnographic approach is used with participant observation and interviews. The results of the study show that despite changes due to modernization of agriculture, local traditions and knowledge are still carried out. There are at least two strategies that are carried out in overcoming food security in their households, namely the short-term strategy, done by “ngurup cimplung”, taking plants around that can be used for daily needs. Whereas the long-term strategy is done by carrying out various rituals, namely “gethekan”, “Ujungan Ritual”, as well as istisqa prayers, all of which are to wish the Divine pleasure to keep nature-friendly with them. The strategy of performing this ritual also has a large function in food security both at the community and household level and even at the individual level. Each special event usually serves local food. For them, the efforts made are as an exchange effort, as “ngurup cimplung” is an economic exchange effort. Performing rituals by presenting a variety of foods are believed to get an equivalent fortune even more abundant than that given. Although rice is a staple food in every activity, the people of Gumelem, Banjarnegara can still use it wisely as a food security effort. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kehidupan petani dari perspektif survival strategy. Pendekatan etnografi digunakan dengan teknik observasi partisipan dan wawancara. Hasil studi menunjukkan meskipun terjadi perubahan akibat modernisasi pertanian, tetapi tradisi dan pengetahuan lokal tetap dilakukan. Ada dua strategi yang dilakukan petani yaitu strategi jangka pendek yaitu dengan “ngurup cimplung”, mengambil tanaman di sekitar yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan strategi jangka panjang dilakukan dengan melakukan berbagai ritual, yaitu “gethekan”, ritual adat ujungan, maupun sholat istisqa yang kesemuanya adalah mengaharap ridha Ilahi agar alam tetap bersahabat dengan mereka. Dengan melakukan ritual ini juga memiliki fungsi besar dalam ketahanan pangan baik di level komunitas maupun rumah tangga bahkan individu. Setiap kegiatan khusus biasanya menyuguhkan pangan lokal. Bagi mereka, upaya yang dilakukan adalah sebagai upaya pertukaran, sebagaimana “ngurup cimplung” merupakan upaya pertukaran ekonomi. Sedangkan melakukan ritual dengan menyuguhkan berbagai makanan dipercaya akan mendapatkan rejeki yang setara bahkan lebih berlimpah dari yang diberikan. Meskipun beras menjadi makanan pokok di setiap aktivitas, tetapi masyarakat Gumelem, Banjarnegara tetap bisa menggunakan dengan bijak sebagai upaya ketahanan pangan.
Menumbuhkan Jiwa Berwirausaha Slamet, Slamet
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4659

Abstract

Entrepreneurs are people with the ability seeing and assessing the available chances, collecting the necessary resources to take the advantages from it, and doing the appropriate act to ensure the success. Entrepreneurs are act-oriented people and have high motivation to take a risk in achieving their goals. Besides the definition of entrepreneurship, this article presents the must-have personalities of an entrepreneur, such as confidence, enthusiasm, honesty, and introspective; some aspects to develop the work ethic in entrepreneurship is also presented here. It is noteworthy for the youths that work enthusiasm is not only about earning money but more about self-actualization and carrying out the mandate. Moreover, work is a way to show our gratefulness toward our Creator, Allah swt. Para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhka guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan. Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi pada tindakan dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam mengejar tujuannya. Selain pengertian kewirausahaan, artikel ini membahas kepribadian wirausaha seperti percaya diri, semangat, jujur, dan mawas diri; juga beberapa hal untuk membangun etos kerja di bidang kewirausahaan. Penting untuk disadari kaum muda saat ini bahwa semangat bekerja tidak hanya sekedar mencari uang tetapi lebih kepada untuk aktualisasi diri dan melaksanakan amanah. Lebih lagi, bekerja ialah bentuk rasa syukur seorang manusia terhadap Sang Pencipta.
Harmony with Nature: A Literature Review of Islamic and Perennial Values in Cikondang Indigenous Traditions Supandi, Didi; Sa'ari, Che Zarrina binti; Abdillah, Abdillah; Naan, Naan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.27558

Abstract

The Cikondang indigenous community, one of the indigenous communities in Bandung Regency, holds a wealth of rich and diverse cultural values, including Islamic and timeless values that serve as guidelines for life. However, in an era of modernization and rapid environmental change, challenges to the preservation of such traditions and values are increasing. A lack of understanding and documentation regarding the relationship between these values and harmony with nature can result in the loss of cultural identity and damage the balance of local ecosystems. Therefore, this research aims to explore and analyze existing literature to understand how Islamic and perennial values are reflected in the traditions of the Cikondang community and how these values can contribute to efforts to maintain harmony between humans and nature. The research method used is a literature review. The selected literature includes journal articles, books, and academic sources relevant to the themes of local wisdom, religious values, and community relations with the environment, with a focus on publications from the last two decades. The results demonstrate that there is an integration of Islamic and perennial values in the Cikondang indigenous community. These values create a social system that encourages collaboration between humans and nature, where the Cikondang people see themselves as part of the ecosystem, not its master. Islamic values address environmental management, such as the concept of khalifah (stewardship), encouraging people to preserve natural resources. Similarly, perennial values promote respect for nature and encourage strengthening the relationship between humans and nature. Masyarakat adat Cikondang, salah satu komunitas adat di Kabupaten Bandung, memiliki kekayaan nilai budaya yang kaya dan beragam, termasuk nilai-nilai Islam dan nilai-nilai abadi yang menjadi pedoman hidup. Namun, di era modernisasi dan perubahan lingkungan yang cepat, tantangan terhadap pelestarian tradisi dan nilai-nilai tersebut semakin meningkat. Kurangnya pemahaman dan dokumentasi mengenai hubungan antara nilai-nilai ini dengan keharmonisan alam dapat menyebabkan hilangnya identitas budaya serta merusak keseimbangan ekosistem lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis literatur yang ada guna memahami bagaimana nilai-nilai Islam dan abadi tercermin dalam tradisi komunitas Cikondang dan bagaimana nilai-nilai ini dapat berkontribusi pada upaya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur. Literatur yang dipilih mencakup artikel jurnal, buku, dan sumber akademis yang relevan dengan tema kearifan lokal, nilai-nilai keagamaan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan, dengan fokus pada publikasi dua dekade terakhir. Hasil penelitian menunjukkan adanya integrasi nilai-nilai Islam dan abadi dalam komunitas adat Cikondang. Nilai-nilai ini menciptakan sistem sosial yang mendorong kolaborasi antara manusia dan alam, di mana masyarakat Cikondang melihat diri mereka sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasanya. Nilai-nilai Islam berbicara tentang pengelolaan lingkungan, seperti konsep khalifah (pemimpin) di bumi, yang mendorong orang untuk melestarikan sumber daya alam. Demikian pula, nilai-nilai abadi menghormati alam dan mendorong pemeliharaan serta penguatan hubungan antara manusia dan alam.
Symbolic Meaning of Kesandingan Ritual in Probolinggo Nurhadi, Nurhadi; Faisol, Faisol; Ibrahim, Faisal Mahmoud Adam
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.10545

Abstract

Kesandingan, one of the rituals in Probolinggo, East Java, is a cultural phenomenon that mingles with religious elements of society. It is something sacred and mystical that parents do when a toddler (an infant under three years old) experiences heat illness for days, tends to be fussy, cries a lot, and cannot sleep at night. This research aims to explain the process of symbolic communication of kesandingan ritual and to understand the symbolic meaning behind the ritual. It is a descriptive-qualitative study through observation, in-depth interviews, and documentation. The data analysis uses a qualitative-naturalistic technique. The result demonstrates that the symbolic communication process of kesandingan ritual in Mentor, Sumberasih, Probolinggo, comprises seven series: burning incense, wiping incense smoke on the child's face, giving the child holy water to drink, wiping the child with floral water, preparing food, making a wish on the child's bed, and distributing food. Meanwhile, the symbolic meaning of kesandingan ritual refers to divine, social and personal dimensions. Ritual kesandingan merupakan salah satu ritual masyarakat Probolinggo Jawa Timur yang sudah menjadi fenomena budaya yang berbaur dengan unsur religi masyarakat. Ritual kesandingan merupakan sesuatu yang sakral dan mistis yang dilakukan orang tua saat anak batita (bawah tiga tahun) mengalami sakit panas berhari-hari, rewel, kerap menangis dan tidak bisa tidur terutama malam hari. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan proses komunikasi simbolik ritual kesandingan dan memahami makna simbolik dibalik ritual tersebuat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif, pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan teknik analisa data kualitatif-naturalistik. Sebagai hasilnya, diketahui bahwa proses komunikasi simbolik ritual kesandingan di desa Mentor Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo meliputi tujuh rangkaian yaitu: membakar kemenyan, mengusap asap kemenyan ke wajah anak, memberi minuman kepada anak dengan air doa, mengusap wajah anak dengan air bunga, menyiapkan makanan, memanjatkan doa ditempat tidur anak, dan membagikan makanan. Sedangkan makna simbolik ritual kesandingan mencakup tiga dimensi, yaitu: dimensi ketuhanan, sosial, dan personal.
Islam dan Konservasi Sumber Daya Alam Minarno, Eko Budi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i3.4701

Abstract

Among the various crises, worrying enough is the start of the scarcity of some Natural Resources (SDA), especially from unrecoverable groups such as petroleum, metals and minerals. And by often ignoring the needs of other living beings as well as the needs of future generations. If then comes a crisis with respect to this SDA, which is affected negatively human finally. SDA is needed by humans in the past, present and future. The threat to the existence and sustainability of natural resources is just the same as the threat to human existence and survival. The conservation of natural resources, which is essentially the management of natural resources, is an absolute must and is the main responsibility of human being as the Caliph of this earth. There are three main tasks for human beings related to the conservation of natural resources including al Intifa '(nurture and utilize), al I'tibar (think, be grateful, explore the secrets of nature), and al Islah (preserve and deliberate sustainability for the benefit of people, and the creation of harmony of life nature of Allah's creation. Di antara berbagai krisis, yang cukup mengkhawatirkan adalah mulai terjadinya kelangkaan beberapa Sumber Daya Alam (SDA) terutama dari kelompok yang tidak terpulihkan seperti minyak bumi, logam, dan min­eral. Dan dengan sering mengabaikan kebutuhan makhluk hidup yang lain maupun kebutuhan generasi yang akan datang. Kalau kemudian muncul krisis sehubungan dengan SDA ini, yang terkena darnpak negatif akhirnya manusia juga. SDA sangat dibutuhkan oleh manusia dimasa lalu, sekarang dan yang akan datang. Ancaman terhadap keberadaan dan kelangsungan SDA sama saja artinya dengan ancaman terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup manusia. Konservasi SDA yang berintikan pengelolaan SDA, adalah suatu hal yang mutlak harus dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab utama manusia sebagai khalifah di bumi ini. Ada tiga tugas utama bagi manusia berkaitan dengan koservasi SDA meliputi al Intifa’ (memelihara dan mendayagunakan), al I’tibar (memikirkan, mensyukuri, menggali rahasia alam), dan al Islah (memelihara dan sengaja kelestarian untuk kemslahatan umat, serta terciptanya harmoni kehidupan alam ciptaan Allah SWT.
Arab Community Encounter with Kaili Culture in Education and Da’wah Mahid, Syakir; Andriansyah, Andriansyah; Wekke, Ismail Suardi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i1.4788

Abstract

This article identifies the Islamic education movement and da’wah (Islamic missionary endeavor) of the Arab community in Palu incorporated in the Alkhairat organization. The formation of this organization arose from a madrasah (madrassa) named “Madrasah Alkhairat Al-Islamiyah” found by Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, an ulama (Islamic scholar) from Hadramaut, in 1930 in Palu. The formation of the madrasah was the response of the Arab community in Palu Valley to the Christianization of Dutch Christian missionaries under the auspices of the Leger Dois Heist (Salvation Army). This study uses non-participant observation methods and purposive in-depth interviews with ten subjects consisted of leaders, teachers and staffs in Alkhairat to obtain data related to the topic. Furthermore, the authors verify the data. Finally, this article shows that the Islamic education and da’wah movement undertaken by the Arab community in Palu Valley reflects the process of integration and harmonization of Arabs with local people, and has supported the construction progress in Palu. Artikel ini mengidentifikasi gerakan pendidikan dan dakwah Islam komunitas Arab di Palu yang tergabung dalam organisasi Alkhairat. Terbentuknya organisasi ini berawal dari sebuah madrasah bernama “Madrasah Alkhairat Al-Islamiyah” yang didirikan oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, seorang Ulama asal Hadramaut, pada tahun 1930 di Palu. Pembentukan madrasah tersebut merupakan respon komunitas Arab di Lembah Palu terhadap kristenisasi yang dilakukan oleh para misionaris kristen Belanda di bawah naungan Leger Dois Heist (Bala Keselamatan) terhadap masyarakat Palu dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode observasi non-partisipan dan wawancara mendalam terhadap sepuluh orang yang terdiri pimpinan, guru maupun staff dalam jaringan Alkhairat guna mendapatkan data terkait topik yang dikaji. Selanjutnya, penulis melakukan verifikasi data yang dijadikan bahan dalam penulisan. Akhirnya, artikel ini menunjukkan bahwa gerakan pendidikan dan dakwah Islam yang dilakukan oleh komunitas Arab di Lembah Palu mencerminkan proses integrasi dan upaya harmonisasi orang-orang Arab dengan masyarakat lokal setempat serta telah mendukung perkembangan pembangunan di Kota Palu.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue