cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Critique of Khatam Al-Qur'an: Between Orthodoxy and Customary Traditions in Minangkabau Helfi, Helfi; Wadi, Fajrul; Fauzan, Fauzan; Daipon, Dahyul; Demiral, Ferik
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.31865

Abstract

The tradition of khatam al-Qur’an in Minangkabau represents a synthesis of Islamic principles and indigenous customs, forming a unique cultural framework. Its manifestation varies distinctly between the Minangkabau heartland and its peripheral (rantau/Minangkabau migrants living outside their homeland) regions. On one hand, some practices lean heavily toward Islamic orthodoxy; on the other, they are steeped in customary traditions. Numerous studies have explored the tradition of khatam al-Qur’an in Indonesia, but those within the discourse of custom and Islam in Minangkabau has received relatively little scholarly attention. Therefore, this research seeks to explore the dialectic between Islam and adat (customs) in the celebration of khatam al-Qur’an whether the two remain irreconcilable, like oil and water, or harmoniously blend within the socio-religious life of the Minangkabau people. Employing a normative qualitative approach, this research positions Islam as the benchmark for evaluating the authenticity of khatam al-Qur’an as practiced across Minangkabau society. Data were gathered through fieldwork in both luhak (core regions) and rantau (diasporic extensions) of West Sumatra. The luhak such as Tanah Datar, Agam, and Lima Puluh Kota represent the cultural and historical epicenters of Minangkabau, while the rantau including Padang, Pasaman, and other peripheral areas signify its expansion. Insights were drawn from in-depth interviews with individuals directly involved in the khatam al-Qur’an festivities. Findings reveal that the tradition is observed across all Minangkabau territories. In the rantau, the ceremonies are generally modest and restrained. Conversely, in the core regions, especially Agam, Tanah Datar, and Lima Puluh Kota, the events are marked by grandeur and solemnity, sometimes at the expense of Islamic values—evident in practices such as the excessive makan bajamba (communal feasting) and parades that obstruct public roads. Khatam al-Qur'an ceremonies should be restructured into purposeful events that foster religious devotion and community unity, with active support from religious leaders, educators, and local authorities. Tradisi khatam al-Qur'an di Minangkabau merupakan perpaduan antara prinsip-prinsip Islam dan adat istiadat setempat, yang membentuk sebuah kerangka budaya yang unik. Manifestasinya sangat bervariasi antara daerah pusat Minangkabau dan daerah pinggirannya (rantau/perantau Minangkabau yang tinggal di luar kampung halamannya). Di satu sisi, beberapa praktiknya sangat condong pada ortodoksi Islam; di sisi lain, praktik-praktik tersebut sangat kental dengan tradisi adat. Banyak penelitian telah mengeksplorasi tradisi khatam al-Qur’an di Indonesia, namun kajian dalam wacana adat dan Islam di Minangkabau masih relatif sedikit mendapat perhatian akademis. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengeksplorasi dialektika antara Islam dan adat dalam perayaan khatam al-Qur'an. Apakah keduanya tetap tidak dapat didamaikan, seperti minyak dan air, atau berpadu secara harmonis dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Minangkabau. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif normatif, penelitian ini menempatkan Islam sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi keaslian khatam al-Qur'an yang dipraktikkan dalam masyarakat Minangkabau. Data dikumpulkan melalui penelitian lapangan di luhak (daerah inti) dan rantau (daerah perantauan) di Sumatera Barat. Luhak-luhak tersebut-seperti Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota-mewakili pusat-pusat budaya dan sejarah Minangkabau, sementara rantau-termasuk Padang, Pasaman, dan daerah-daerah periferi lainnya. menandakan perluasannya. Wawasan ini diperoleh dari wawancara mendalam dengan orang-orang yang terlibat langsung dalam perayaan khatam al-Qur'an. Temuan-temuan menunjukkan bahwa tradisi ini dilaksanakan di seluruh wilayah Minangkabau. Di rantau, upacara-upacara yang dilakukan umumnya sederhana dan terkendali. Sebaliknya, di daerah inti, terutama Agam, Tanah Datar, dan Lima Puluh Kota, perayaan ini ditandai dengan kemegahan dan kekhidmatan, terkadang dengan mengorbankan nilai-nilai Islam-terlihat dari praktik-praktik seperti makan bajamba yang berlebihan dan pawai yang menghalangi jalan raya. Perayaan khatam al-Qur'an perlu direstrukturisasi menjadi acara yang bermakna untuk menumbuhkan kesalehan religius dan mempererat persatuan komunitas, dengan dukungan aktif dari para pemuka agama, pendidik, dan otoritas lokal.
A Decade of Digital Da'wah: Global Research Trends And Thematic Evolution (2013 - 2025) Choirin, Muhammad; Abdul Kadir, Fakhrul Adabi; Setiyanti, Anis; Larhzizer, Fouad; Iqbal, Moch.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.33487

Abstract

Over the past decade, the proliferation of digital platforms has significantly transformed the landscape of Islamic preaching, giving rise to what is now widely referred to as Digital Da’wah. Despite existing studies on content and communication strategies, few have systematically mapped the global scholarly trends in Digital Da’wah. This study addresses that gap through a comprehensive bibliometric review. It presents a comprehensive bibliometric analysis of global scholarly output on Digital Da’wah between 2013 and 2025, aiming to identify research trends, influential authors, collaborative networks, and thematic evolution within the field. Utilizing data from the Scopus database, the analysis employs tools such as Biblioshiny and the R programme to generate visual mappings of keyword co-occurrence, citation patterns, and thematic clusters. To interpret thematic shifts, this study employs frameworks from Islamic communication theory and digital sociology, offering insights into how da’wah adapts to digital contexts. The results reveal a steady increase in scholarly attention toward topics such as social media da’wah, digital Islamic communication, online religious authority, and youth engagement in Islamic content. Additionally, the study uncovers the geographical distribution of publications, with significant contributions from Southeast Asia, the Middle East, and Western academia. Thematic evolution analysis indicates a shift from early focus on content production and media ethics to recent concerns about algorithmic visibility, digital literacy, and da’wah effectiveness in virtual spaces. This research contributes to a deeper understanding of how Digital Da’wah has evolved as an academic field and offers insights for scholars, practitioners, and policymakers involved in Islamic communication and media studies. Dalam satu dekade terakhir, perubahan platform digital telah secara signifikan mengubah lanskap da'wah Islam, yang kini dikenal luas sebagai da'wah Digital. Meskipun sejumlah studi telah membahas konten dan strategi komunikasi dalam da'wah digital, kajian yang secara sistematis memetakan tren keilmuan global dalam bidang ini masih terbatas. Studi ini mengisi kekosongan tersebut melalui tinjauan bibliometrik yang komprehensif. Penelitian ini menganalisis output keilmuan global tentang da'wah Digital pada rentang waktu 2013 hingga 2025, dengan tujuan mengidentifikasi tren penelitian, penulis berpengaruh, jaringan kolaboratif, serta evolusi tematik dalam bidang ini. Data diambil dari basis data Scopus, dan dianalisis menggunakan alat seperti Biblioshiny dan program R untuk menghasilkan pemetaan visual keterkaitan kata kunci, pola sitasi, dan klaster tematik. Untuk menafsirkan pergeseran tematik, studi ini menggunakan kerangka teori komunikasi Islam dan sosiologi digital, guna memahami bagaimana da'wah beradaptasi dalam konteks digital. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan perhatian akademik terhadap topik seperti da'wah melalui media sosial, komunikasi Islam digital, otoritas keagamaan daring, dan keterlibatan pemuda dalam konten keislaman. Studi ini juga mengungkap distribusi geografis publikasi, dengan kontribusi signifikan dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan kalangan akademik Barat. Analisis evolusi tematik menunjukkan pergeseran dari fokus awal pada produksi konten dan etika media, menuju isu-isu mutakhir seperti visibilitas algoritmik, literasi digital, dan efektivitas da'wah di ruang virtual. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih dalam tentang perkembangan da'wah Digital sebagai bidang kajian akademik serta menawarkan wawasan bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam studi komunikasi dan media Islam.
Revitalization of The Sasak Local Wisdom Values for The Social Harmony in Berinding Central Lombok Sakinaturrahmi, Yulia; Sudrajat, Sudrajat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.29951

Abstract

Globalization has brought diverse cultures and values that have gradually eroded the local wisdom of the Sasak tribe. This decline—exacerbated by globalization, the COVID-19 pandemic, weak educational transmission, and cultural change—has prompted community leaders and government actors to intensify preservation efforts. Previous studies have largely examined Sasak local wisdom from anthropological or cultural perspectives, focusing on documentation or historical description. However, few have analyzed the concrete and collaborative strategies undertaken by multiple community stakeholders to sustain and revitalize these values amid modern globalization. This study fills that gap by investigating how village governments, religious leaders, traditional figures, and youth organizations collectively work to preserve and renew Sasak local wisdom as a living cultural system. Using a qualitative ethnographic approach, this research employs observation, interviews, and documentation as data collection methods. The findings reveal several strategic initiatives: (1) village heads organize cultural festivals, commemorate village anniversaries with local themes, restore historical sites, and collaborate on curriculum development; (2) religious leaders strengthen moral and spiritual awareness through weekly studies and Islamic holiday celebrations; (3) traditional leaders conduct training on sorong serah aji krame, traditional etiquette, and cultural identity; and (4) youth leaders establish the “Remaje Sasak” community as a hub for information exchange, learning, and the practice of local wisdom. These collective efforts provide a platform for the Sasak people—especially the younger generation—to preserve, internalize, and embody the values rooted in their cultural heritage. The study’s implications highlight that integrated collaboration among local stakeholders offers a replicable model for other communities seeking to protect and sustain their cultural identity amid the transformative pressures of globalization. Globalisasi telah membawa beragam budaya dan nilai-nilai baru yang secara perlahan mengikis kearifan lokal masyarakat Suku Sasak. Kemerosotan ini—yang diperparah oleh arus globalisasi, pandemi COVID-19, lemahnya transmisi pendidikan, dan perubahan budaya—telah mendorong para pemimpin masyarakat serta pemerintah desa untuk meningkatkan upaya pelestarian kearifan lokal. Penelitian sebelumnya umumnya mengkaji kearifan lokal Sasak dari perspektif antropologis atau kebudayaan dengan penekanan pada dokumentasi dan deskripsi historis. Namun, hanya sedikit yang menelaah strategi konkret dan kolaboratif yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan masyarakat dalam mempertahankan serta merevitalisasi nilai-nilai tersebut di tengah arus globalisasi modern. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat, dan organisasi kepemudaan bekerja sama untuk melestarikan dan memperbarui kearifan lokal Sasak sebagai sistem budaya yang hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi serta teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa inisiatif strategis, yaitu: (1) kepala desa menyelenggarakan festival budaya, memperingati hari jadi desa dengan tema kearifan lokal, memulihkan situs bersejarah, dan bekerja sama dalam pengembangan kurikulum; (2) tokoh agama memperkuat kesadaran moral dan spiritual melalui pengajian rutin dan perayaan hari besar Islam; (3) tokoh adat memberikan pelatihan tentang sorong serah aji krame, etika tradisional, dan identitas budaya; serta (4) tokoh pemuda membentuk komunitas “Remaje Sasak” sebagai pusat informasi, pembelajaran, dan praktik kearifan lokal. Upaya kolektif ini menjadi wadah bagi masyarakat Sasak—khususnya generasi muda—untuk melestarikan, menginternalisasi, dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang tertanam dalam warisan budaya mereka. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi terpadu antar pemangku kepentingan lokal dapat menjadi model bagi komunitas lain dalam menjaga dan memperkuat identitas budaya di tengah tekanan globalisasi.
Kiai Azaim Ibrahimy's Thought on Happiness and Well-Being: The At-Tawazun Approach in Society 5.0 Arifin, Samsul; Saputra, Rahmat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.33430

Abstract

In the face of Society 5.0 and rapid digitalization, younger generations are increasingly vulnerable to emotional imbalance, a diminished spiritual connection, and weakened social bonds. This study explores the thoughts of K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy on happiness and psychological well-being, as conveyed through the Majelis Dzikir Basmalah YouTube channel, and examines their alignment with Martin Seligman’s PERMA model. This study addresses a gap in existing research by integrating the spiritual teachings of Kiai Azaim Ibrahimy with Seligman’s PERMA model to explore well-being in Islamic boarding schools, a context largely overlooked in both Islamic and psychological literature. Its novelty lies in offering a holistic framework that combines local spiritual wisdom with positive psychology to respond to the mental health challenges of pesantren communities in the digital Society 5.0 era. Using a qualitative hermeneutic-ethnographic approach, the research reveals that Kiai Azaim’s teachings resonate with the five pillars of PERMA: gratitude as a source of positive emotion, spiritual engagement through religious devotion, harmonious interpersonal relationships, a meaningful life rooted in service, and a sense of accomplishment encompassing both worldly and spiritual success. The study further analyzes the implementation of the At-Tawazun counseling model in pesantren (Islamic boarding school) settings, which incorporates local wisdom through practices such as uswah hasanah (exemplary conduct), ta’zhim (reverence), khidmah (service), and riyadhah (spiritual discipline). These traditions foster spiritual, social, and psychological harmony within the pesantren environment. The findings underscore the strategic role of pesantren-based counseling as a contextual, holistic, and culturally grounded approach to enhancing mental well-being in the digital age. Consequently, pesantren emerge not only as spiritual institutions but also as vital centers for nurturing psychological resilience amid global change. Di tengah tantangan era Society 5.0 dan digitalisasi, generasi muda menghadapi ketidakseimbangan emosional yang kian kompleks. Ketergantungan pada teknologi, tekanan sosial media, serta melemahnya ikatan spiritual dan sosial berkontribusi terhadap menurunnya tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis. Studi ini bertolak dari kegelisahan tersebut, dengan meneliti pemikiran Kiai Azaim Ibrahimy tentang kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa yang disampaikan melalui kanal YouTube Majelis Dzikir Basmalah, dan mengaitkannya dengan model PERMA dari Martin Seligman. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik-etnografis, penelitian ini menemukan bahwa ajaran Kiai Azaim selaras dengan lima dimensi PERMA: syukur sebagai sumber emosi positif, keterlibatan spiritual dalam ibadah, relasi sosial harmonis antar santri, makna hidup dalam bingkai pengabdian, serta pencapaian yang mencakup keberhasilan dunia dan akhirat. Penelitian ini juga menelaah praktik konseling At-Tawazun di pesantren yang mengintegrasikan kearifan lokal melalui metode uswah hasanah, ta’zhim, khidmah, dan riyadhah. Teknik-teknik ini terbukti efektif dalam menumbuhkan keseimbangan spiritual, sosial, dan psikologis di lingkungan pesantren. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan pendekatan konseling berbasis pesantren sebagai model alternatif yang kontekstual, relevan, dan holistik untuk memperkuat ketahanan mental di era digital. Dengan demikian, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan spiritual, tetapi juga sebagai pusat penguatan kesejahteraan psikologis yang adaptif terhadap dinamika global.
The Development of Pesantren Patterns in Sidosermo Surabaya: Integrating tradition and modernity Kurniadi, Kurniadi; Chotib, Moch.; Khumaidah, Sofkhatin; Kumaini, Ruston; Harisi, Isnain La
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.31220

Abstract

Islamic boarding schools in Indonesia, as traditional Islamic educational institutions, have undergone significant transformations in recent decades. Adopting a modern curriculum is important to ensure that pesantren students have skills that are relevant to the times. By integrating religious and general sciences, pesantren can produce graduates who not only have a strong Islamic understanding, but are also competitive in the world of work. While existing studies have explored the integration of modern subjects into pesantren curricula in several regions, there remains a research gap concerning how this integration unfolds in East Java, where distinct cultural and regional dynamics influence educational practices. Therefore, this research aims at analysing the development patterns of pesantren in Indonesia in a case study of the Sidosermo Pesantren Area in Surabaya by highlighting how they integrate deeply rooted traditions with the demands of modernity. Using a qualitative approach, this study collected data through in-depth interviews, participatory observation, and literature study. The results revealed that the pesantren managed to maintain traditional values, such as the teaching of the yellow book and grave pilgrimage, while adopting modern elements that include formal curriculum, digital technology, and professional-based management. This integration process not only strengthens the role of pesantren as centers of religious education, but also places them as agents of social change that are responsive to the challenges of the times. Nevertheless, pesantren are faced with a great challenge in maintaining a balance between maintaining tradition and innovating. This study demonstrates that the success of pesantren in facing modernity depends on their ability to hold on to fundamental Islamic values, open to global developments and information technology today. The recommendations include developing a hybrid curriculum combining religion, science, and technology; integrating e-learning tools; promoting pesantren-based economic initiatives; and strengthening alumni networks to support institutional growth and student careers. Pondok pesantren di Indonesia, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, telah mengalami transformasi yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Penerapan kurikulum modern menjadi penting untuk memastikan bahwa para santri memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, pesantren dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pemahaman Islam yang kuat, tetapi juga mampu bersaing di dunia kerja. Meskipun studi sebelumnya telah meneliti integrasi mata pelajaran modern dalam kurikulum pesantren di beberapa daerah, masih terdapat kesenjangan penelitian mengenai bagaimana integrasi tersebut berlangsung di Jawa Timur, di mana dinamika budaya dan regional yang khas memengaruhi praktik pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pengembangan pesantren di Indonesia melalui studi kasus di Kawasan Pesantren Sidosermo Surabaya, dengan menyoroti bagaimana mereka mengintegrasikan tradisi yang mengakar kuat dengan tuntutan modernitas. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren berhasil mempertahankan nilai-nilai tradisional, seperti pengajaran kitab kuning dan ziarah makam, sekaligus mengadopsi elemen-elemen modern yang mencakup kurikulum formal, teknologi digital, dan manajemen berbasis profesional. Proses integrasi ini tidak hanya memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga menempatkan mereka sebagai agen perubahan sosial yang responsif terhadap tantangan zaman. Namun demikian, pesantren dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi. Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pesantren dalam menghadapi modernitas bergantung pada kemampuan mereka untuk berpegang pada nilai-nilai dasar Islam, terbuka terhadap perkembangan global dan teknologi informasi saat ini. Rekomendasi dari penelitian ini mencakup pengembangan kurikulum hibrida yang menggabungkan agama, sains, dan teknologi; integrasi perangkat e-learning; penguatan inisiatif ekonomi berbasis pesantren; serta penguatan jaringan alumni untuk mendukung pertumbuhan kelembagaan dan karier santri.
Reception Aesthetics of Religious Moderation Values in Linggabuana’s Serat Carub Kandha Firdausi, Muhammad Anwar; Rosyidah, Inayatur; Hambali, Gufron; Fatimah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.24386

Abstract

The diversity of readers' responses in literary works is called reception aesthetics. This study aims to elucidate the readers’ response and the reception aesthetics towards the values of religious moderation in Serat Carub Kandha by Prince Linggabuana. Employing the research design of the synchronic experimental reception method, the data collection utilized note-taking and literature study techniques. It involved twenty respondents of Islamic university students as the readers. The data analysis technique used reader criteria assessment and Hans Robert Jauss' theory concerning the reader's experience of the novel, horizon of expectations, aesthetic distance, the spirit of the times, literary series, and literary history. The chosen manuscript was Serat Carub Kandha Pupuh Mijil as the fifth branch of the story. The results demonstrated that the noble value readers capture is in the form of religious moderation values. They are tolerance (tasamuh), neutral (tawassuth), uprightness (i’tidal), deliberation (al-shura), anti-violence (la' unf), and culture friendly (i'tibar al-'urf). These are manifested through respect for diversity and multicultural in the part of allowing residents to establish Islamic learning centers even though the Padjajaran kingdom practiced Buddhism. Notably, the wife of Prince Linggabuana, Dewi Subang Kranjang, embraced Islam, while his three sons secretly studied Islam with Sheikh Quro'. Keberagaman tanggapan atau respon pembaca pada karya sastra disebut estetika resepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tanggapan dan estetika resepsi pembaca terhadap nilai-nilai moderasi beragama dalam Serat Carub Kandha karya Pangeran Linggabuana. Dengan memakai rancangan penelitian metode resepsi sinkronis eksperimental, pengumpulan data menggunakan teknik simak catat dan studi kepustakaan. Penelitian ini melibatkan dua puluh mahasiswa universitas Islam sebagai pembaca. Teknik analisis data menggunakan penilaian kriteria pembaca dan teori Hans Robert Jauss yang meliputi pengalaman pembaca terhadap novel, horizon harapan, jarak estetik, semangat zaman, rangkaian sastra dan sejarah sastra. Naskah yang dipilih yaitu Serat Carub Kandha Pupuh Mijil, yang merupakan cabang cerita yang kelima. Berdasarkan hasil penelitian, nilai luhur yang bisa ditangkap pembaca berupa nilai-nilai moderasi beragama. Nilai tersebut meliputi tasamuh (toleransi), tawassuth (netral), i’tidal (lurus), al-shura (musyawarah), la' unf (anti kekerasan), dan i'tibar al-'urf (ramah budaya). Hal ini tercermin dalam penghormatan akan keberagaman dan multikultural pada bagian diperbolehkannya penduduk membangun pusat kegiatan belajar agama Islam meskipun kerajaan Padjajaran beragama Buddha. Bahkan istri Pangeran Linggabuana, Dewi Subang Kranjang beragama Islam, sementara ketiga putranya diam-diam mempelajari Islam kepada Syeikh Quro’
Islam Posmodernisme Abdurrahman, Muslim
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v9i3.4641

Abstract

In this modem era, Islam, in fact, has a significant influence in politics and culture. Western people regard this as a symptom of the emergence of Islamic fundamentalism. It is a reaction of Islam to modernism and capitalism. Even though the term is not purely from Islamic terminology, for Western academicians it virtually represents Islam. Even, they relate it to terrorist movements. It takes us back to remarkable phenomena of secularism embedding that happened in Europe two decades ago. Modernism and capitalism have effects not only on Islam but also on other non-Islamic countries. Therefore, it is not surprising if then in this era of global capitalism Western academicians try to eliminate the thesis of secularism in their fundamentalism project. In the third millennium, after the fall of communism in Russia and Western Europe, Western is interested in studying Islam, if truth to be told, it is more intense. They are afraid of the influence of Islam for which the fundamentalists struggle to realize Islam as the grand narrative, a blue print of universal ideology that often impedes Western hegemony with its liberal democracy. Pada zaman modern ini, nyatanya Islam memiliki pengaruh signifikan dalam Politik dan budaya. Orang Barat menganggap ini sebagai pertanda kemunculan fundamentalis Islam. Hal itu adalah reaksi Islam terhadap modernisme dan kapitalisme. Meskipun begitu, istilah tersebut tidak berasal dari istilah Islam, hanya saja menurut akademis Barat, istilah tersebut merepresentasikan Islam secara virtual. Bahkan, mereka mengaitkannya dengan gerakan teroris. Hal ini membawa kita kembali pada fenomena dahsyat sekularisme yang terjadi di Eropa dua dekade lalu. Modernisme dan kapitalisme berefek tak hanya pada Islam tapi juga pada negara-negara non-Islam. Maka dari itum tidak mengejutkan jika dalam era kapitalisme global, akademisi Barat mencoba menyingkirkan hipotesis sekularisme dalam proyek fundamentalismenya. Pada milenium ketiga, pasca runtuhnya komunisme di Rusia dan Eropa Barat, negara Barat mulai tertarik mempelajari Islam. Karena jika kebenaran diungkapkan, maka akan lebih hebat. Mereka takut akan pengaruh Islam bagi para fundamentalis yang berjuang untuk menyadarkan Islam sebagai narasi besar, sebuah blue print ideologi universal yang sering mengahalangi hegemoni Barat dengan demokrasi liberalnya.
Seting Perilaku dan Teritorialitas Ruang sebagai Perwujudan Adab di Masjid Gading Pesantren Kota Malang Putrie, Yulia Eka; Maslucha, Luluk
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2765

Abstract

This study concerns behavior setting and territoriality in Masjid Gading Pesantren as a part of the broader research on community based mosques and social interaction within them. The purpose is to identify some unique behavior patterns of the users of Masjid Gading Pesantren from the perspective of behavioral based research in architecture. The methods employed in this research are place-centered mapping, architectural documenting, and informal interview. The finding shows some specific behavioral pattern of the mosque’s users derived from the courtesy toward the mosque and the leader of the mosque as well as the pesantren. The behaviors form pattern as they become the tradition or local custom deriving into unique courtesy. Furthermore, this behavioral pattern also shapes the specific territories in the mosque, namely mihrab as a primary territory ‘owned’ by the kyai and legitimated by the santris. Such unique behavioral pattern belongs to local value which is largely accepted in Islam as long as it does not contradict with syariah. Penelitian ini mengenai seting perilaku dan teritorialitas ruang di Masjid Gading Pesantren yang merupakan bagian dari penelitian mengenai masjid berbasis masyarakat dan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekhasan pola perilaku keruangan santri dan jamaah di Masjid Gading Pesantren dari sudut pandang keilmuan arsitektur perilaku. Penelitian ini menggunakan metode place centered mapping, dokumentasi, dan wawancara informal. Temuan menunjukkan kekhasan pola perilaku keruangan yang disebabkan adanya adab terhadap masjid dan adab terhadap kyai sebagai pemimpin masjid dan pesantren. Perilaku-perilaku ini membentuk pola karena telah menjadi tradisi atau kebiasaan setempat yang menjadi perwujudan yang khas terhadap adab. Lebih jauh, pola perilaku ini juga membentuk teritori-teritori yang khas di masjid tersebut, yaitu area mihrab yang menjadi teritori primer yang ‘dimiliki’ oleh kyai dan dilegitimasi oleh para santri. Kekhasan perilaku ini dapat dianggap sebagai kearifan lokal yang diterima secara luas keberadaannya di dalam Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dorsumsisi, Awal Kekerasan terhadap Perempuan? Isroqunnajah, Isroqunnajah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4683

Abstract

The allegations against the practice of institutionalized dorsumsisi in some parts of the world and teragenda as the material discourse fiqh, interesting to be responded and dismantled aspects of normatifitas and historicity. This paper discusses dorsumsisi, medical term to mention the practice of circumcision for women. Medically it is reported that dorsumsisi as a harmless operative procedure and in accordance with the biomedical theory of Victoria's biological determinism. This practice resulted in differences in legal status, Imam Syafii and some followers of Imam Hambali responded as obligatory. While some followers of Imam Hanafi, Imam Malik and some followers of Imam Syafii proclaim sunnah and followers of Imam Hanafi, some followers of Imam Malik and Hambali argue mustahab. Each with its own argument. Whatever the legal status that the ulama have produced, if this practice is carried out with an obsession with the medical benefits to be gained, then this practice is not a form of violence as expected. Tuduhan terhadap praktik dorsumsisi yang telah melembaga di beberapa belahan dunia ini dan teragenda sebagai materi wacana fiqh, menarik untuk direspon dan dibongkar aspek normatifitas dan historisitasnya. Tulisan ini membahas dorsumsisi, terma medis untuk menyebut praktik khitan bagi perempuan. Secara medis dilaporkan bahwa dorsumsisi sebagai prosedur operatif yang tidak berbahaya dan sesuai dengan teori biomedis dari determinisme-biologis Victoria. Praktek ini nembuahkan perbedaan status hukumnya, Imam Syafii dan sebagian pengikut Imam Hambali meresponnya sebagai sesuatu yang wajib. Sementara sebagian pengikut Imam Hanafi, Imam Malik dan beberapa pengikut Imam Syafii menyatakan sunnah dan para pengikut Imam Hanafi, sebagian pengikut Imam Malik dan Hambali berpendapat mustahab. Masing-masing dengan argumentasinya sendiri-sendiri. Apapun status hukum yang telah dihasilkan oleh para ulama, jika praktik ini dilangsungkan dengan obsesi manfaat medis yang akan didapat, maka praktek ini tidaklah merupakan bentuk kekerasan sebagaimana yang diduga.
Perubahan Sosial dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Kurikulum Pendidikan Ibrahim, Abd. Latif Fuad; Fannani, Bakhruddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4740

Abstract

Every society will not remain in one condition only, but undergoing continuous change in its various aspects; social, economic, and political. No single society is fixed and unchanged. Therefore, it can be said that every society is changing, and always changing. The educational curriculum must be flexible and can be improved. If there are substantial changes occurring within a society, the educational curriculum needs to be reviewed so that it can go hand in hand with the change, then its value and function can serve as a correct tool for educating the children of the community. If not, then the educational curriculum will become something foreign, which is no longer suitable for the people who have undergone a change. The educational curriculum is required to give sufficient attention to the orientation of the phenomenon, the extent of its impact and its influence on people's lives. Setiap masyarakat tidak akan tetap berada dalam satu kondisi saja, tetapi mengalami perubahan secara terus menerus dalam berbagai aspeknya; sosial, ekonomi, dan politik. Tidak ada satu masyarakat pun yang tetap dan tidak berubah. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat itu mengalami perubahan, dan senantiasa berubah. Kurikulum pendidikan itu harus lentur dan bisa diperbaiki. Jika ada perubahan mencasar yang terjadi di dalam suatu masyarakat, maka kurikulum pendidikannya perlu ditinjau kembali agar dapat berjalan seiring dengan perubahan tersebut, lalu nilai dan fungsinya dapat dijadikan sebagai satu perangkat yang benar untuk mendidik anak-anak masyarakat. Jika tidak, maka kurikulum pendidikan tersebut akan menjadi sesuatu yang asing, yang tidak cocok lagi untuk masyarakatnya yang telah mengalami perubahan. Kurikulum pendidikan dituntut untuk memberikan perhatian yang cukup kepada orientasi fenomena, sejauh mana dampak dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue