cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal KALAM
ISSN : 08539510     EISSN : 25407759     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process. KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 1 (2026)" : 8 Documents clear
Jews dalam al-Qur’an: Analisis Anti-Semitism dalam Tafsir al-Azhar Karya Hamka Muhammad; Mohammad Asrori; Mohamad Zubad Nurul Yaqin; Muhammad Ragab; Muhammad, Muhammad
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620114325

Abstract

from the Qur’anic text, but are also informed by twentieth-century socio-political dynamics, including colonialism, the Palestine–Israel conflict, and currents of modern Islamic thought. The findings identify three dominant discursive strategies: theological delegitimization, threat framing, and integration into broader narratives of global conspiracy. Through a genealogical perspective, the article demonstrates that such narratives should be understood as historically contingent formations that undergo a process of sacralization, whereby political discourses are transformed into religiously authorized interpretations. In this sense, tafsir functions not merely as a reflection of scripture but as a discursive practice that actively shapes religious perception and social meaning. In the contemporary Indonesian context, the reproduction of these narratives may contribute to the consolidation of exclusivist identities and binary oppositions between “self” and “other.” The article, therefore, underscores the importance of contextual, historically grounded, and reflexive approaches to Qur’anic interpretation in fostering more inclusive and balanced religious discourses. [Artikel ini mengkaji konstruksi diskursif tentang Yahudi dan Zionisme dalam Tafsir al-Azhar karya Hamka melalui pendekatan gabungan Analisis Wacana Kritis dan genealogi. Berangkat dari asumsi bahwa penafsiran al-Qur’an tidak pernah bersifat netral, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana interpretasi terhadap kitab suci dimediasi oleh relasi kuasa dan dibentuk oleh konteks historis tertentu. Artikel ini berargumen bahwa representasi Yahudi dan Zionisme dalam tafsir Hamka tidak semata-mata bersumber dari teks al-Qur’an, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial-politik abad ke-20, termasuk kolonialisme, konflik Palestina–Israel, serta arus pemikiran Islam modern. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga strategi diskursif utama, yaitu delegitimasi teologis, pembingkaian sebagai ancaman, dan integrasi ke dalam narasi konspirasi global yang lebih luas. Melalui perspektif genealogis, artikel ini menunjukkan bahwa narasi-narasi tersebut harus dipahami sebagai konstruksi historis yang bersifat kontingen, yang mengalami proses sakralisasi, yaitu transformasi dari wacana politik menjadi interpretasi yang memperoleh legitimasi religius. Dalam pengertian ini, tafsir tidak hanya berfungsi sebagai refleksi terhadap teks suci, tetapi juga sebagai praktik diskursif yang secara aktif membentuk persepsi keagamaan dan makna sosial. Dalam konteks Indonesia kontemporer, reproduksi narasi tersebut berpotensi berkontribusi pada penguatan identitas eksklusif dan oposisi biner antara “diri” dan “yang lain.” Oleh karena itu, artikel ini menekankan pentingnya pendekatan tafsir yang kontekstual, berlandaskan sejarah, dan reflektif guna mendorong diskursus keagamaan yang lebih inklusif dan seimbang.]
Islamic Ethics in Tension: Kafa’ah and Amanah in Indonesian Islamic Party Recruitment Baderan, Suprisno; Fata, Ahmad Khoirul; Yasin, Hendra; Santoso, Eka Putra B.; Muhammad Hilmi
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620128693

Abstract

This article examines the tension between Islamic ethical ideals and political practice in leadership recruitment within Indonesian Islamic parties, with particular reference to al-kafa’ah (competence) and al-amanah (integrity). While Law No. 2 of 2011 mandates democratic and transparent recruitment, the institutionalization of these ethical principles remains contested. This study employs a normative juridical approach combined with qualitative analysis to investigate recruitment mechanisms in two major Islamic parties: the Prosperous Justice Party (PKS) and the United Development Party (PPP). The findings demonstrate that recruitment processes are predominantly shaped by political pragmatism, elite bargaining, and short-term electoral considerations, rather than by competence and integrity. This results in a persistent gap between normative commitments and institutional practice. The study identifies three structural constraints: elite-dominated decision-making, weak institutionalization of ethical standards, and the absence of independent ethical oversight. This article argues that the marginalization of al-kafa’ah and al-amanah reflects deeper structural tensions between Islamic ethical frameworks and the logic of modern electoral politics. By highlighting these tensions, the study contributes to broader debates on Islamic political ethics and institutional reform. Strengthening institutional design and embedding ethical principles within recruitment systems are essential for enhancing the credibility of Islamic parties and their role in democratic consolidation in Indonesia. [Artikel ini mengkaji ketegangan antara ideal etika Islam dan praktik politik dalam rekrutmen kepemimpinan partai Islam di Indonesia, dengan fokus pada prinsip al-kafa’ah (kompetensi) dan al-amanah (integritas). Meskipun Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 mensyaratkan rekrutmen yang demokratis dan transparan, institusionalisasi prinsip-prinsip etika tersebut masih bersifat problematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yang dikombinasikan dengan analisis kualitatif untuk mengkaji mekanisme seleksi kepemimpinan pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses rekrutmen lebih banyak dipengaruhi oleh pragmatisme politik, negosiasi elite, dan pertimbangan elektoral jangka pendek, dibandingkan dengan prinsip kompetensi dan integritas. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan yang persisten antara komitmen normatif dan praktik institusional. Penelitian ini mengidentifikasi tiga kendala struktural utama, yaitu dominasi pengambilan keputusan oleh elite, lemahnya institusionalisasi standar etika, serta ketiadaan mekanisme pengawasan etika yang independen. Artikel ini berargumen bahwa marginalisasi al-kafa’ah dan al-amanah mencerminkan ketegangan struktural antara kerangka etika Islam dan logika politik elektoral modern. Dengan menyoroti ketegangan tersebut, penelitian ini berkontribusi pada perdebatan yang lebih luas mengenai etika politik Islam dan reformasi kelembagaan. Penguatan desain institusional dan integrasi prinsip-prinsip etika dalam sistem rekrutmen menjadi langkah penting untuk meningkatkan kredibilitas partai Islam serta perannya dalam konsolidasi demokrasi di Indonesia.]
The Formation of Sunni and Shia Theology in Early Islam: A Collective Memory Perspective on Power and Identity Masugi, Ibrahim Achmad Farrel Mahardika; Wiwik Setiyani
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620129066

Abstract

This study investigates how traumatic experience and power dynamics after the Prophet Muhammad’s death shaped the theological and collective-psychological divergence of Sunni and Shia Islam. The core question concerns how the First Fitnah and the Karbala tragedy functioned not merely as political conflicts but as catalysts of enduring psychological patterns that inform doctrine and ritual. Grounded in the theory of collective memory developed by Maurice Halbwachs, this study employs a qualitative library research approach to examine classical texts, historical records, and modern scholarship. It argues that historical events are not passively remembered but actively reconstructed within social frameworks, enabling their transformation into enduring theological meanings. Findings reveal that the Shia community transformed the trauma of betrayal and martyrdom into a theology of resistance rooted in the Imamate, the memory of Karbala, and the concept of occultation, fostering defensive solidarity and an identity structured around suffering. In contrast, Sunnism developed a theology of legitimacy and social harmony through the caliphate, cultivating obedience and a psychological drive for stability to counter fears of fragmentation. The results affirm that both theological traditions are products of the dynamic interplay between power, history, and collective memory mechanisms that shape and transmit religious identity across generations. [Penelitian ini mengkaji bagaimana pengalaman traumatis dan dinamika kekuasaan pasca wafat Nabi Muhammad SAW membentuk divergensi teologis dan psikologi kolektif antara Sunni dan Syiah. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana Fitnah Kubro dan tragedi Karbala tidak hanya berfungsi sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai katalis bagi terbentuknya pola psikologis yang bertahan lama dan memengaruhi doktrin serta praktik keagamaan. Berlandaskan teori memori kolektif yang dikembangkan oleh Maurice Halbwachs, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menelaah teks klasik, catatan sejarah, dan literatur akademik kontemporer. Penelitian ini berargumen bahwa peristiwa historis tidak diingat secara pasif, melainkan direkonstruksi secara aktif dalam kerangka sosial tertentu sehingga menghasilkan makna teologis yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Syiah mentransformasikan trauma pengkhianatan dan kesyahidan menjadi teologi resistensi yang berakar pada konsep Imamah, memori Karbala, dan doktrin ghaib, yang menumbuhkan solidaritas defensif serta identitas berbasis penderitaan. Sebaliknya, Sunni mengembangkan teologi legitimasi dan harmoni sosial melalui konsep khilafah, yang menumbuhkan etos kepatuhan serta dorongan psikologis untuk menjaga stabilitas guna meredam ketakutan terhadap disintegrasi. Temuan ini menegaskan bahwa kedua tradisi teologis merupakan hasil dari interaksi dinamis antara kekuasaan, sejarah, dan mekanisme memori kolektif yang membentuk serta mentransmisikan identitas keagamaan lintas generasi.]
Collaborative Qur’anic Transmission in the Ngaji Tradition: The Case of Peripheral Muslim Community in Nusa Pandau, Indonesia Hamdan, Ali; Miski; Faisal Mahmoud Adam Ibrahim
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620130857

Abstract

How is the Qur’an transmitted within geographically peripheral Muslim communities? This article examines the dynamics of Qur’anic transmission within the ngaji tradition in Nusa Pandau, a remote Muslim community along the Melawi River in West Kalimantan, Indonesia. Drawing on qualitative field research with a socio-historical approach, the study is based on observation and in-depth interviews with Qur’anic teachers, students, and local religious actors involved in the transmission process. The findings demonstrate that Qur’anic transmission in Nusa Pandau operates collaboratively through multiple religious agents rather than through a single dominant authority. Within the ngaji tradition, transmission encompasses not only Qur’anic recitation but also the transmission of religious values, aesthetic practices of tilawah, and interpretive meanings embedded in communal religious activities. The study further reveals that Qur’anic transmission in this peripheral Muslim community developed through interconnected networks linking local traditions with Javanese and Sumatran Qur’anic pedagogical lineages, particularly through the circulation of the Baghdadiyah method and sanad-based learning practices. These findings suggest that geographical remoteness does not isolate Muslim communities from broader Qur’anic networks; instead, it encourages adaptive, collaborative, and non-contestative forms of religious authority and Qur’anic learning. [Bagaimana transmisi Al-Qur’an berlangsung dalam komunitas Muslim yang berada di wilayah geografis perifer? Artikel ini mengkaji dinamika transmisi Al-Qur’an dalam tradisi ngaji di Nusa Pandau, sebuah komunitas Muslim terpencil di tepian Sungai Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan kualitatif dengan pendekatan sosio-historis yang didasarkan pada observasi dan wawancara mendalam terhadap guru ngaji, murid, dan aktor-aktor keagamaan lokal yang terlibat dalam proses transmisi Al-Qur’an. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transmisi Al-Qur’an di Nusa Pandau berlangsung secara kolaboratif melalui banyak agen keagamaan, bukan melalui satu otoritas tunggal yang dominan. Dalam tradisi ngaji, transmisi tidak hanya mencakup bacaan Al-Qur’an, tetapi juga transmisi nilai-nilai keagamaan, praktik estetika tilawah, dan pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an yang terintegrasi dalam aktivitas keagamaan komunal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa transmisi Al-Qur’an di komunitas Muslim perifer tersebut berkembang melalui jejaring yang saling terhubung antara tradisi lokal dengan genealogi pedagogi Al-Qur’an dari Jawa dan Sumatra, terutama melalui sirkulasi metode Baghdadiyah dan praktik pembelajaran berbasis sanad. Temuan ini menegaskan bahwa keterpencilan geografis tidak mengisolasi komunitas Muslim dari jejaring Al-Qur’an yang lebih luas, tetapi justru mendorong terbentuknya model otoritas keagamaan dan pembelajaran Al-Qur’an yang adaptif, kolaboratif, dan non-kontestatif.]
From Precarity to Divine Sufficiency: A Qur’anic Response to the Neoliberal Structuring of Marriage Delay Bakar, Abu; Maram, Ahmad Nabilul; Rozaq, Muhammad Fathur; Ulum, Muhammad Nashrul
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131019

Abstract

The increasing tendency among Muslim youth to delay marriage reflects a growing tension between the Qur’anic promise of divine sufficiency and the economic insecurity produced by contemporary neoliberal conditions. Existing studies tend to examine this issue either sociologically or exegetically, leaving limited attention to an integrated theological framework that addresses structural economic precarity. This study employs Fazlur Rahman’s Double Movement theory to reinterpret classical Qur’anic exegeses by reconstructing their original moral vision and contextualizing it within contemporary socioeconomic realities. The study finds that classical Islamic hermeneutics dissociate the legitimacy of marriage from material accumulation, emphasizing spiritual sufficiency and ethical responsibility over market-oriented financial standards. This article proposes a “responsive marital theology” that redefines qanāʿah (contentment) not as passive resignation, but as an active ethical framework for social resilience. By repositioning marriage as a collective social responsibility (farḍ kifāyah), the study offers a theological foundation for institutional and community-based interventions aimed at reducing structural barriers to marriage in contemporary Muslim societies. [Meningkatnya kecenderungan menunda pernikahan di kalangan pemuda Muslim mencerminkan ketegangan antara janji al-Qur’an tentang kecukupan ilahi dan ketidakamanan ekonomi yang dihasilkan oleh kondisi neoliberal kontemporer. Kajian-kajian sebelumnya cenderung membahas persoalan ini secara sosiologis atau eksegetis secara terpisah, sehingga masih terbatas perhatian terhadap kerangka teologis integratif yang mampu menjelaskan problem ketidakpastian ekonomi struktural. Penelitian ini menggunakan teori Double Movement Fazlur Rahman untuk menafsirkan kembali tafsir-tafsir klasik al-Qur’an melalui rekonstruksi visi moral dasarnya dan kontekstualisasinya dalam realitas sosial-ekonomi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hermeneutika Islam klasik memisahkan legitimasi pernikahan dari akumulasi material dengan menekankan kecukupan spiritual dan tanggung jawab etis di atas standar finansial yang berorientasi pasar. Artikel ini menawarkan konsep “teologi pernikahan responsif” yang mendefinisikan ulang qanā‘ah bukan sebagai bentuk kepasrahan pasif, melainkan sebagai kerangka etis aktif bagi ketahanan sosial. Dengan menempatkan kembali pernikahan sebagai tanggung jawab sosial kolektif (farḍ kifāyah), penelitian ini memberikan landasan teologis bagi intervensi institusional dan berbasis komunitas untuk mengurangi hambatan struktural terhadap pernikahan dalam masyarakat Muslim kontemporer.]
Islamic Ecospirituality and Artificial Intelligence: Toward Ecodigital Awareness in Climate Change Communication Efendi, Efendi; Suratman, Junizar; Gazali, Gazali; Harlis, Syukri Alfauzi; Hadi, Rahmad Tri; Efendi, Salsa Hamidah; Muhammad Idris
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131093

Abstract

The global environmental crisis reflects not only ecological degradation but also a moral and spiritual rupture in the human–nature relationship. While artificial intelligence (AI) enhances environmental monitoring, prediction, and communication, it remains largely technocratic and insufficient to foster transformative ecological consciousness. Conversely, eco-spirituality provides ethical depth and moral responsibility but lacks scalable mechanisms for broad societal impact. This study proposes eco-digital consciousness as an integrative framework that synthesizes AI-driven technological mediation with eco-spiritual ethical foundations. Using a conceptual qualitative design, the research combines critical discourse analysis with a multidisciplinary literature review across environmental philosophy, Islamic eco-theology, digital communication, and AI in climate governance. Findings show that AI improves cognitive accessibility and personalized engagement through real-time data and adaptive systems, while eco-spirituality enhances affective depth and ethical orientation. Their integration produces ecological narratives that are cognitively accessible, emotionally resonant, and ethically compelling, shifting environmental communication from information transmission to consciousness transformation. The study conceptualizes eco-digital consciousness across three dimensions: cognitive-digital awareness, affective-spiritual internalization, and ethical-behavioral transformation. It also identifies key shifts in green campaigns, from mass communication to personalization, from awareness to transformation, and from nudging to ethical commitment. Despite AI’s potential, its ethical limitations require eco-spirituality as normative guidance. This framework offers a holistic paradigm for advancing environmental communication and sustainability. [Krisis lingkungan global tidak hanya mencerminkan degradasi ekologis, tetapi juga menunjukkan keretakan moral dan spiritual dalam hubungan manusia dengan alam. Meskipun kecerdasan buatan (AI) meningkatkan pemantauan, prediksi, dan komunikasi lingkungan, pendekatannya masih bersifat teknokratis dan belum mampu mendorong kesadaran ekologis yang transformatif. Sebaliknya, ekospiritualitas memberikan kedalaman etis dan tanggung jawab moral, namun belum memiliki mekanisme yang skalabel untuk menjangkau masyarakat luas. Penelitian ini mengajukan eco-digital consciousness sebagai kerangka integratif yang mensintesis mediasi teknologi berbasis AI dengan fondasi etika ekospiritualitas. Dengan pendekatan kualitatif konseptual, penelitian ini menggabungkan analisis wacana kritis dan tinjauan pustaka multidisipliner yang mencakup filsafat lingkungan, ekoteologi Islam, komunikasi digital, serta AI dalam tata kelola iklim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI meningkatkan aksesibilitas kognitif dan keterlibatan personal melalui data real-time dan sistem adaptif, sementara ekospiritualitas memperkuat kedalaman afektif dan orientasi etis. Integrasi keduanya menghasilkan narasi ekologis yang mudah dipahami, beresonansi secara emosional, dan kuat secara etis, sehingga menggeser komunikasi lingkungan dari penyampaian informasi menuju transformasi kesadaran. Konsep ini mencakup tiga dimensi: kesadaran kognitif-digital, internalisasi afektif-spiritual, dan transformasi etis-perilaku. Meskipun AI memiliki keterbatasan etis, ekospiritualitas berperan sebagai panduan normatif. Kerangka ini menawarkan paradigma holistik bagi komunikasi lingkungan dan keberlanjutan.]
Articulating Qur’anic Values in Javanese Cosmology: A Hermeneutical Reading of Kawruh Jiwa of Ki Ageng Suryomentaram Safei, Abdullah; Muhammad Irawan Taqwa; Agus Handoko; Zakaria Abdiwali Muhammed
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131139

Abstract

This study argues that Ki Ageng Suryomentaram’s (KAS) Kawruh Jiwa is not merely an indigenous psychological framework but a sophisticated vernacularization of Qur’anic values within Javanese intellectualism. While previous scholarship focuses on its psychological dimensions, this research positions Kawruh Jiwa as a dialectical product between divine revelation and local cosmology. Employing a qualitative method rooted in Gadamerian philosophical hermeneutics—specifically the concept of "fusion of horizons"—this research analyzes KAS’s key texts to uncover their theological intersections with Qur’anic concepts. The findings demonstrate that KAS’s teachings reconfigure Tazkiyatun Nafs (purification of the soul) through local wisdom: Kramadangsa serves as a manifestation of Nafs al-Ammarah, while Mawas Diri functions as a contextualized practice of Muhasabah. This study concludes that Suryomentaram’s work acts as a "cultural exegesis" that integrates Javanese identity with Qur’anic spirituality. These findings offer a theoretical contribution to the study of Islam Nusantara by providing a hermeneutical model on how universal religious values can be indigenized without losing their theological essence. [Penelitian ini berargumen bahwa ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram (KAS) bukan sekadar kerangka psikologi pribumi, melainkan sebuah vernakularisasi nilai-nilai Al-Qur'an yang canggih dalam intelektualisme Jawa. Jika penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada dimensi psikologis, riset ini memposisikan Kawruh Jiwa sebagai produk dialektis antara wahyu ilahi dan kosmologi lokal. Dengan menggunakan metode kualitatif yang berakar pada hermeneutika filosofis Gadamerian—khususnya konsep "peleburan cakrawala" (fusion of horizons)—penelitian ini menganalisis teks-teks utama KAS untuk mengungkap titik temu teologisnya dengan konsep-konsep Al-Qur'an. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ajaran KAS mengonfigurasi ulang konsep Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) melalui kearifan lokal: Kramadangsa diidentifikasi sebagai manifestasi dari Nafs al-Ammarah, sementara Mawas Diri berfungsi sebagai praktik Muhasabah yang terkontekstualisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karya Suryomentaram berfungsi sebagai "eksegesis budaya" yang mengintegrasikan identitas Jawa dengan spiritualitas Al-Qur'an. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis bagi studi Islam Nusantara dengan menyediakan model hermeneutis tentang bagaimana nilai-nilai agama universal dapat dipribumikan tanpa kehilangan esensi teologisnya.]
Embodying the Qur’an: Tahfidz Practice, Religious Habitus, and Qur’anic Consciousness in Muslim Minority Thailand Munawar, Karam; Rohtih, Wiwin Ainis; Mufid, Miftara Ainul; Zainuddin, Ahmad; Jeeranan Wongphaopan
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131236

Abstract

Studies on Qur’anic tahfidz have largely focused on memorization techniques and pedagogical achievement, while the formation of religious consciousness through memorization practices remains underexplored. This study examines how the sabaq method functions as a process of forming Qur’anic habitus and embodied religious consciousness among Muslim students at At-Taqwa School, Chiang Mai, Thailand. Employing a qualitative approach within the framework of the Living Qur’an, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation of tahfidz activities. The findings demonstrate that repetitive memorization practices constitute forms of lived engagement with the Qur’an operating through cognitive, affective, and practical dimensions. Memorized verses are not only retained verbally but also connected to moral reflection, emotional attachment, spiritual discipline, and everyday religious conduct. Drawing on Pierre Bourdieu’s concept of habitus, this study argues that tahfidz practices function as mechanisms of religious habituation through which Qur’anic values become embodied within students’ dispositions, bodily routines, and socio-religious subjectivity. In the context of the Muslim minority in Thailand, tahfidz also serves as a medium for reproducing Islamic identity and sustaining Qur’anic culture. This study contributes to Living Qur’an scholarship by repositioning tahfidz as an embodied religious practice rather than merely a pedagogical activity of textual memorization. [Kajian mengenai tahfidz Al-Qur’an selama ini lebih banyak berfokus pada teknik hafalan dan capaian pedagogis, sementara pembentukan kesadaran religius melalui praktik menghafal masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini menganalisis bagaimana metode sabaq berfungsi sebagai proses pembentukan habitus Qur’ani dan kesadaran religius yang embodied pada santri di At-Taqwa School, Chiang Mai, Thailand. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka Living Qur’an dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan tahfidz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik repetisi hafalan merupakan bentuk lived engagement with the Qur’an yang berlangsung melalui dimensi kognitif, afektif, dan praksis. Ayat-ayat yang dihafal tidak hanya direproduksi secara verbal, tetapi juga dikaitkan dengan refleksi moral, keterikatan emosional, disiplin spiritual, dan perilaku religius sehari-hari. Dengan menggunakan konsep habitus Pierre Bourdieu, penelitian ini menunjukkan bahwa praktik tahfidz berfungsi sebagai mekanisme habituasi religius yang menginternalisasikan nilai-nilai Qur’ani ke dalam disposisi, ritme tubuh, dan subjektivitas sosial-keagamaan santri. Dalam konteks Muslim minoritas di Thailand, tahfidz juga berfungsi sebagai medium reproduksi identitas Islam dan pelestarian budaya Qur’ani. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi Living Qur’an dengan memosisikan tahfidz sebagai praktik religius embodied, bukan sekadar aktivitas pedagogis reproduksi teks.]

Page 1 of 1 | Total Record : 8