cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 327 Documents
Respon Bibit Tebu Akibat Komposisi Media Tanam yang Diaplikasikan Formulasi Dobel Inokulan Pseudomonad Pendarflor dan Azospirillum Gita Pawana; Achmad Djunaedy; Syaiful Khoiri
Agrovigor Vol 12, No 1 (2019): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.139 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i1.5287

Abstract

Untuk mendapatkan bibit berkualitas baik toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik dengan perakaran baik dan efisien terhadap pemupukan pada media tanam diaplikasikan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum, namun demikian pada pembibitan tebu informasi tentang hal ini masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam yang diaplikasikan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum terhadap pertumbuhan bibit budchip tebu. Budchip ditumbuhkan pada nampan pembibitan dengan komposisi media tanam sebagai perlakuan yaitu M1: top soil dan bahan organik dengan komposisi 1:1, M2: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 1:1, M3: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 2:1, M4: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 1:2. Digunakan rancangan acak lengkap. Pada parameter data dilakukan analisa varian, jika terdapat perbedaan yang siknifikan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dengan taraf nyata (α) 5%. Parameter data yang diamati meliputi: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, bibit yang hidup, jumlah akar primer dan sekunder, dan biomassa tanaman. Kesimpulan yang diperoleh adalah  formulasi konsursium pseudomonad pendarfluor dan Azospirilum dapat meningkatkan pertumbuhan pembibitan tebu, dapat menstimulasi pertumbuhan akar sekunder.  Adapun media tanam dengan komposisi top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum 1:1 merupakan komposisi yang paling ideal.
Pengaruh Pemberian IBA dan Asal Stek Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Kumis Kucing Sukma Fajari Wiraswati; Kaswan Badami
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.276 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.4392

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian IBA pada asal bahan stek terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kumis kucing. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Universitas Trunojoyo Madura. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari - April 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap  (RAL) yang terdiri atas 2 perlakuan yaitu asal bagian stek dan konsentrasi IBA. Asal bagian stek (A), yaitu A1: stek bagian pangkal, A2: stek bagian tengah, dan A3: stek bagian pucuk. Konsentrasi IBA (B), yaitu B0: 0 ppm, B1: 25 ppm, B2: 50 ppm, dan B3: 100 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal bagian stek tanaman kumis kucing dan pemberian IBA berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah tunas pada umur 8 sampai 14 (MST), panjang tunas pada umur 10 sampai 14 (MST), bobot basah daun dan batang, serta bobot kering daun dan akar, namun tidak berpengaruh nyata terhadap variabel saat muncul tunas, akar terpanjang, bobot basah akar, dan bobot kering batang.  Stek batang bagian tengah dengan IBA 100 ppm memberikan nilai tertinggi terhadap variabel panjang tunas. Stek batang bagian tengah dengan IBA 25 ppm memberikan nilai tertinggi terhadap variabel bobot basah daun, batang, akar, dan bobot kering daun, batang, serta akar.
Induksi Partenokarpi dengan Ga3 pada Mentimun (Cucumis sativus L.) Lokal Madura Suhartono Suhartono; Ahmad Arsyadmunir; Ismi Zahrotul Firdaus
Agrovigor Vol 13, No 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.433 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v13i1.6816

Abstract

Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan jenis sayuran yang sangat populer di masyarakat yang buahnya dijual dalam bentuk segar yaitu untuk lalapan, asinan, acar, dan bahan baku industri (kosmetik dan obat-obatan). Namun kandungan bijinya yang sangat banyak membuat proses pengolahan menjadi kurang efisien. Salah satu teknik untuk menghasilkan buah tanpa biji adalah secara partenokarpi melalui pengendalian fitohormon. Hormon yang dapat membantu induksi partenokarpi salah satunya adalah giberelin (GA3). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi berbagai konsentrasi hormon giberelin (GA3) terhadap pembentukan buah dan kualitas buah secara partenokarpi tanaman mentimun lokal Sumenep. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura, pada bulan Desember 2017 - Maret 2018. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan, yaitu konsentrasi hormon giberelin 0, 75, 150, 225, 300, dan 375 ppm. Parameter yang diamati meliputi jumlah bunga betina, persentase keberhasilan bunga jadi buah, bobot buah, diameter buah, panjang buah, ketebalan daging buah, jumlah biji, kadar air buah, dan tekstur buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi hormon giberelin tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter kecuali persentase keberhasilan bunga jadi buah, ketebalan daging buah, dan jumah biji yang memberikan pengaruh yang nyata. Konsentrasi terbaik adalah 300 ppm yang menghasilkan buah dengan jumlah biji 81,5% lebih sedikit dan ketebalan daging buah 16,9% lebih tebal daripada buah hasil polinasi. Jumlah biji dan konsentrasi giberilim membentuk persamaan regresi linier y sama dengan 345.67 – 0.92 x dengan R2 adalah 0.90.
Respon Jagung Sayur (Baby corn) Terhadap Ketersediaan Air dan Pemberian Bahan Organik Kaswan Badami
Agrovigor Vol 1, No 1 (2008): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.351 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v1i1.226

Abstract

This study aimed to find out the response of baby corn to the soil water availability and organic matter application The research was carried out at the horticultural garden of Socah and conducted from May to July 2007. Completely randomized block design with two factors and three replications was applied in this study. The first factor was the application of organic matter, consisting of two levels, namely M1 (without organic matter addition), M2 (the mixture of red Mediterranean soil and organic matter 2:1). The second factor was the capacity of water availability consisted four levels, namely: A1 (100% field water capacity), A2 (83% of field water capacity), A3 (66% field water capacity), and A4 (50% field water capacity).  The results showed that the treatments had interaction with plant height, leaf area, and cob length. It also had a significant influence (p equal 0.001) on leaf number, cob diameter dan wet cob weight. The combined M2A1 showed the best result concerning with plant height, leaf area, and cob length at the harvest time. The application of organic matter (M2) could increase wet cob weight and cob diameter. Water availability on 100% field capacity (A1)  could increase wet cob weight and cob number.
Efektivitas Agen Hayati Beauveria bassiana dalam Menekan Hama Thrips sp. pada Tanaman Cabai Rawit (Capcisum frutescens L.) Dian Yustika Intarti; Irianti Kurniasari; A Sudjianto
Agrovigor Vol 13, No 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.81 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v13i1.5621

Abstract

Thrips sp. merupakan serangga hama yang menyerang tanaman cabai rawit dengan cara menghisap cairan pada daun-daun muda. Daun yang terserang hama Thrips sp. akan berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting, dan menjadi keriput. Jika serangan Thrips sp. tidak segera dikendalikan, maka kerugian yang akan ditimbulkan adalah gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan beberapa konsentrasi Beauveria bassiana terhadap parameter pertumbuhan dan intensitas serangan hama Thrips sp pada tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilakukan di lahan petani Desa Gambiran Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Rancangan Acak Kelompok digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari lima perlakuan dan masing- masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Perlakuan yang digunakan yaitu konsentrasi pengaplikasian Beauveria bassiana yang meliputi K1 sebagai kontrol, K2 adalah konsentrasi 5 ml L-1, K3 adalah konsentrasi 10 ml L-1, K4 adalah konsentrasi 20 ml L-1, dan K5 adalah insektisida tiametoksam 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jamur B. bassiana  tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman cabai rawit. Hasil perhitungan intensitas serangan diperoleh bahwa jamur B. bassiana memberikan pengaruh yang nyata terhadap intensitas serangan dengan perlakuan K2 (5 ml L-1) memiliki intensitas serangan tertinggi dibandingkan perlakuan yang lain. Kesimpulan yang diperoleh bahwa aplikasi B.bassiana dengan konsentrasi akhir 20 ml L-1 mampu menekan hama Thrips sp sebesar 99,53% dibandingkan dengan kontrol.
Deteksi Virus Pada Tanaman Mentimun Di Jawa Barat Nur Unsyah Laili; Tri Asmira Damayanti
Agrovigor Vol 12, No 1 (2019): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.839 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i1.5089

Abstract

Gejala infeksi virus banyak ditemukan di pertanaman mentimun di Jawa Barat. Namun, sulit membedakan virus penyebab hanya berdasarkan pengamatan gejala visual. Penelitian ini bertujuan untuk pemutakhiran data virus yang menginfeksi mentimun di Kabupaten Bogor, Karawang dan Subang, Jawa Barat. Sampel tanaman bergejala dikoleksi dari tiap lokasi. Frekuensi virus ditentukan secara serologi dengan metode DIBA (dot immunobinding assay) menggunakan antiserum Cucumber mosaic virus (CMV), Cucurbit aphid borne yellow virus (CABYV), Cucurbit green mottle mosaic virus (CGMMV), Papaya ringspot virus (PRSV), Squash mosaic virus (SqMV), Watermelon mosaic virus (WMV), dan Zucchini yellow mosaic virus (ZYMV). Deteksi asam nukleat dilakukan terhadap virus baru yang dominan dengan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR)/PCR. Hasil deteksi menunjukkan bahwa frekuensi virus CMV, CABYV, CGMMV, PRSV, SqMV, WMV, dan ZYMV berturut-turut di Bogor mencapai 98%, 100%, 86%, 0%, 8%, 32%, dan 6%, di Subang mencapai 86%, 100%, 88%, 2%, 8%, 60%, and 46%, dan di Karawang 100%, 100%, 98%, 14%, 72%, 68%, and 64%. CMV, CABYV, and CGMMV were the most common viruses detected in three regencies, while PRSV only detected on samples from Subang and Karawang. RT-PCR/PCR  menggunakan primer spesifik atau universal belum berhasil mendeteksi CGMMV dan WMV, namun berhasil mengonfirmasi keberadaan PRSV, Polerovirus, dan Begomovirus.  Kata kunci: Cucurbitaceae, Geminiviridae, Luteoviridae, Potyviridae, Tobamovirus
Kompatibilitas dan Efektifitas Fungi Mikorisa Arbuskula (FMA) terhadap Kacang Komak (Dolichos lablab L) Sidqi Zaed Z.M.; Gita Pawana; Slamet Supriyadi
Agrovigor Vol 1, No 1 (2008): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.2 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v1i1.231

Abstract

Besides, low nutrient availability  the problem in  dry land of Madura  is  the conflict  of land use  for food crops and  forage  production. Overcoming the problem  a program that  unite agriculture and husbandry activities is needed.  The objective of this research was to find out the most compatible and effective isolate of AMF on hyachinth bean (Dolichos lablab L)  as a forage legume.  The AMF which were   Gigaspora sp, Glomus sp, Glomus manihotis, Acaulospora sp dan Entrophosopra sp  were  planted beneath the bean seeds in polybag and   the plants were managed in a green house in optimal condition. The result showed that among isolates of arbuscular micorrhizal fungi, Gigaspora sp. greatly influenced growth and yield of biomass of hyachinth bean (Dolichos lablab L) indicating dependency of the plant to the fungus.  It is concluded that Gigaspora sp is the most compatible isolate for legume of hyachinth bean (Dolichos lablab L).
Teknik Pembibitan dan Organisme Pengganggu Bibit Durian Menoreh Kuning di Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo Hermanu Triwidodo; Suryo Wiyono; Phor Bho Ayuwati
Agrovigor Vol 13, No 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.224 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v13i1.6061

Abstract

Pengembangan durian secara intensif dimulai dengan upaya penyediaan bibit berkualitas. Salah satu kendala dalam penyediaan bibit durian berkualitas adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Penelitian ini bertujuan mempelajari teknik pembibitan dan menginventarisasi keberadaan organisme pengganggu bibit durian Menoreh Kuning di Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo. Wawancara dilakukan untuk mengetahui teknik budidaya bibit durian Menoreh Kuning. Pengamatan hama dan penyakit dilakukan pada bibit durian dengan tujuh umur berbeda (3, 12, 24, 48, 96, 6 double rootstock dan 96 minggu double rootstock). Bibit diperbanyak dengan teknik okulasi menggunakan batang atas durian Menoreh Kuning dengan satu dan dua batang bawah. Hama yang ditemukan adalah Allocaridara sp., Xyleborus sp., Coptotermes sp., Tetranychus sp., Atractomorpha sp., dan Valanga sp., sedangkan penyakit yang ditemukan adalah bercak daun Corynespora sp., hawar daun Rhizoctonia sp., antraknosa Colletotrichum sp., alga Cephaleuros sp., embun hitam Meliola sp., mati pucuk Phytophthora sp. dan layu Phytophthora sp.. Informasi mengenai hama dan penyakit ini dapat digunakan sebagai langkah awal dalam mencegah timbulnya OPT di pembibitan durian.
Pengaruh Intensitas Penyiraman terhadap Persemaian Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) dengan Media Semai Pelepah Batang Pisang di Kelompok Tani Margo Utomo Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur Zainatu Lutfiana; Laratus Fangohoi; Muhammad Saikhu
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.055 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5605

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggaruh penggunaan pelepah batang pisang sebagai media semai cabai rawit (Capsicum frutescents L.). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2019 sampai dengan tanggal 15 April 2019, di Kelurahan Bence, Garum, Blitar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakukan dan 6 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah intensitas penyiraman terhadap persemaian cabai rawit, sebagai berikut: (C0). Tanpa penyiraman; (C1). Penyiraman 1 kali sehari; (C2). Penyiraman 2 kali sehari dan (C3). Penyiraman 3 kali sehari. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah daun dengan interval pengamatan 5 hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelepah batang pisang bisa digunakan sebagai media semai cabai rawit. Berdasarkan hasil pengamatan, perlakuan (C1) menunjukkan hasil yang terbaik. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan terhadap parameter pada akhir penelitian (27 HSS), yang meliputi: rata-rata tinggi tanaman sebesar 13,6 cm dan  rata-rata jumlah daun 4 helai. Penggunaan pelepah batang pisang memberikan pengaruh terhadap intensitas penyiraman pada persemaian cabai rawit (Capsicum frutescents L.). Intesitas penyiraman terbaik adalah pada perlakuan C1 dengan penyiraman 1 kali sehari.
Keanekaragaman dan Dominasi Gulma pada Pertanaman Jagung di Lahan Kering Kecamatan Marisa Kabupaten Pohuwato Erse Drawana Pertiwi; Muh. Arsyad
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.234 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.4291

Abstract

Gulma adalah salah satu Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau jasad pengganggu tanaman. Gulma dapat tumbuh disekitar tanaman, termasuk tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui gulma yang mendominasi pertanaman jagung di Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, 2) Untuk mengetahui indeks keanekaragaman gulma yang tumbuh pada areal pertanaman jagung. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan metode purposive sampling (penentuan lokasi penelitian dan sampel secara sengaja) yang berdasarkan pada tingkat adopsi petani dalam pengendalian gulma di pertanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SDR tertinggi pada pertanaman jagung umur 45 HST terdapat pada Rumput Kusa-Kusa (Echinochloa colonum) yaitu 33 %. Sedangkan Nilai SDR tertinggi pada pertanaman jagung umur 55 HST terdapat pada Teki (Cyperus rotundus) yaitu 51 %. Indeks Keanekaragaman (H’) pada lahan pertanaman jagung umur 45 HST yaitu 1,631 dan lahan pertanaman jagung umur 55 HST yaitu 1,763 yang berarti H’ tergolong sedang (H’ lebih besar dari 1 kurang dari 3 ).

Page 2 of 33 | Total Record : 327