cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
Konsep Tanggap Lingkungan pada Rancangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok Semarang Valent Poetra Arroyan; Subhan Ramdlani; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1952.149 KB)

Abstract

Pemerintah Kota Semarang menetapkan kebijakan yang menempatkan Semarang Utara sebagai kawasan pengembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), merupakan fasilitas utama perikanan tangkap, berada di kawasan Tambaklorok, kelurahan Tanjung Emas. Permasalahan yang terdapat pada tapak adalah kondisi lingkungan tapak yang relatif kurang baik, seperti terjadinya penurunan muka tanah (amblesan) 11 cm/tahun dan menyebabkan kawasan tersebut nyaris berada di bawah permukaan air laut (+0,50 mdpl) sehingga rentan terhadap banjir dan rob. Kondisi iklim dan cuaca yang memiliki karakteristik, seperti angin kencang, panas matahari menyengat, dan curah hujan yang relatif tinggi juga perlu ditanggapi agar tidak memberikan dampak negatif pada bangunan. Pendekatan rancangan bangunan tanggap lingkungan digunakan sebagai metode analisis, sesuai dengan parameter perancangan aspek bangunan, terutama pada aspek bentuk ruang, massa, dan tampilan, serta aspek struktur, konstruksi, dan material. Hasil rancangan bentuk ruang, massa, dan tampilan diharapkan tanggap terhadap kondisi angin, matahari, dan hujan, serta rancangan struktur, konstruksi, dan material diharapkan tanggap terhadap kondisi tanah yang rentan terhadap amblesan dan banjir, serta stabil dan tahan terhadap angin, matahari, dan kelembaban.Kata kunci: Tempat Pelelangan Ikan (TPI), tanggap lingkungan, Tambaklorok
Bentukan Visual Arsitektur Rumah Sinom di Kelurahan Kertosari - Ponorogo Wahyuni Eka Sari; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.204 KB)

Abstract

Kerajinan batik yang berkembang pada tahun 1955 menjadikan Kelurahan Kertosari sebagai kelurahan yang banyak menghasilkan batik Ponorogo. Rumah Sinom Ponorogo dijadikan sebagai rumah pembatik menjadi suatu bangunan yang banyak difungsikan. Rumah Sinom yang berada di Kabupaten Ponorogo merupakan rumah Limasan. Rumah Sinom tak lepas dari elemen – elemen pembentuk bangunan yaitu elemen visual. Karakter visual dapat mendukung karakter spasial dalam bangunan. Karakter visual dalam rumah Sinom tak hanya sebagai nilai arsitektural semata namun juga menghasilkan nilai fungsional. Rumah Sinom Ponorogo dengan berbagai elemen bangunan kini mulai ditinggalkan dan diabaikan oleh pemiliknya. Orang mulai senang dengan bangunan modern yang lebih minimalis yang mengakibatkan rumah lama mulai dilupakan dan akan kehilangan makna yang terkandung di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi bentukan visual arsitektur rumah Sinom di Kelurahan Kertosari - Ponorogo. Bentukan visual merupakan karakteristik bangunan rumah Sinom Ponorogo sehingga akan didapatkan suatu karakteristik berupa karakter fisik dalam bangunan. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis atau pemaparan kondisi. Metode analisis kualitatif dilakukan dengan observasi lapangan. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan pendekatan historis.Kata kunci: karakter visual, rumah Sinom
Pengaruh Konfigurasi Atap pada Rumah Tinggal Minimalis Terhadap Kenyamanan Termal Ruang Yogi Misbach Adisurya; Agung Murti Nugroho; Muhammad Satya Adhitama
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.224 KB)

Abstract

Global Warming merupakan permasalahan global yang belum terselesaikan hingga saat ini, dan menyebabkan kenyamanan termal di dalam ruangan menurun dikarenakan suhu di dunia meningkat, penggunaan Air Conditioner (AC) adalah solusi yang banyak digunakan banyak orang namun cara ini membutuhkan konsumsi energi listrik yang cukup besar, khususnya pada bangunan rumah tinggal. Oleh karena itu diperlukan teknologi bangunan yang dapat meningkatkan kenyamanan ruangan, salah satunya adalah teknologi atap. Atap pada rumah tinggal merupakan bagian dari bangunan yang berpengaruh paling besar dalam melindungi bangunan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang kemudian di analisis. Studi ini bertujuan untuk menemukan konfigurasi atap yang dapat meningkatkan kenyamanan termal di dalam ruangan pada bangunan rumah tinggal di kota Malang.Kata kunci: Kenyamanan termal, Rumah tinggal, Atap
Kajian Bukaan Terhadap Pendinginan Alami Ruangan pada Bangunan Kolonial Di Malang Arvin Lukyta; Agung Murti Nugroho; Muhammad Satya Adhitama
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.39 KB)

Abstract

Bangunan kolonial Belanda sudah berdiri sejak abad 17 dimana pada saat ituBelanda menjajah Indonesia terutama di Kota Malang bangunan kolonial sudah adasejak tahun 1767. Pada saat itu pembangunan bangunan kolonial di Malang diawalidengan pembangunan berupa tempat tinggal meluas hingga menjadi kantor danbangunan layanan publik seperti sekolah, rumah sakit, dsb. Dilihat dari segi sainsteknologi bangunan bangunan kolonial yang awalnya hanya dibangun di benuaEropa yang memiliki iklim subtropis kini merambat ke daerah tropis sepertiIndonesia tentu akan memperngaruhi kondisi kenyamanan suhu pada penggunabangunan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai komponen seperti jendela padabangunan kolonial tersebut yang dibuat untuk bisa beradaptasi dengan lingkunganiklim di Eropa sedangkan jika di Indonesia belum dipastikan komponen jendelatersebut bisa memberikan dampak kenyamanan termal yang sama dengan didampak yang diberikan di Eropa. Melalui penelitian ini akan dikaji seberapa besarpengaruh bukaan jendela ini terhadap pendinginan alami ruang dan apakah masihbisa memberikan kenyamanan termal pada pengguna bangunan. Variabel penelitianyang akan diobservasi dan diukur adalah bentuk bukaan, rasio WWR, dan rasio luaslantai terhadap luas bukaan jendela. Pada penelitian ini akan diukur seberapa besarpengaruh komponen-komponen bukaan tersebut terhadap suhu ruang yangberkaitan dengan pendinginan alami ruang.Kata Kunci: Bangunan kolonial, Jendela, dan pendinginan alami
Tanda Visual pada Woning Voor Agent Van Javasche Bank Rizaldy Hari Kurniawan; Chairil Budiarto Amiuza; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.017 KB)

Abstract

Woning voor Agent van Javasche Bank merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda di Surabaya yang sekarang dikenal sebagai perpustakaan Bank Indonesia. Bangunan ini berdiri pada tahun 1921 dan dirancang oleh biro arsitek Belanda Job en Sprij yang pada awalnya digunakan sebagai rumah tinggal bagi Direktur Javasche Bank atau yang sekarang dikenal sebagai Bank Indonesia. Pada perkembangannya bangunan ini memiliki tanda visual yang berbeda dari bangunan kolonial pada umumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tanda visual yang terdapat pada bangunan dan hubungannya dengan periodisasi bangunan kolonial yang ada di Indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan semiotika melalui tiga aspek yaitu sintaksis, pragmatik dan semantik. Hasil studi menunjukkan bahwa pada bangunan ini terdapat tanda visual dari tiga periodisasi bangunan kolonial yang ada di Indonesia. Tanda visual tersebut disampaikan melalui hubungan aspek sintaksis, pragmatik, dan semantik pada bangunan. Tanda visual yang terdapat pada bangunan menunjukkan ciri dari tiap periodesasi dan juga makna yang terkandung dari setiap periodisasi bangunan kolonial.Kata kunci: Bangunan kolonial, tanda visual, semiotika.
Konsep Bangunan Sehat Pada Kandang Sapi Studi Kasus UPTPT dan HMT Kota Batu Pandhu Anugerah Gusti; Heru Sufianto; Ary Deddy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.449 KB)

Abstract

Kebutuhan dalam mengkonsumsi susu dipengaruhi oleh jumlah produksi susu sapi, di Indonesia kebutuhan akan susu sapi sangat tinggi sehingga diperlukan langkah-langkah untuk menjaga produksi susu tetap tinggi salah satunya dengan memperhatikan kandang sapi dimana kandang sapi dapat menciptakan kondisi panas didalam kandang yang dapat membuat sapi menjadi stres, sapi perah yang tidak stres dapat menghasilkan produksi dan kualitas yang baik, hal ini berhubungan dengan kondisi kandang sapi yang sehat yang memiliki kenyamanan termal. Oleh karena itu diperlukan konsep bangunan kandang yang sehat yang dapat menciptakan kenyamanan termal, salah satunya adalah dengan bentuk atap, orientasi, jenis lantai dan material. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang kemudian dianalisis. Studi ini dilakukan untuk menemukan suhu nyaman didalam kandang sapi di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPTPT dan HMT) Kota Batu.Kata Kunci: Bangunan sehat, Kenyamanan termal, Kandang sapi
Tata Letak Rumah Tradisional Madura Di Desa Mangaran Situbondo Kurnia Wulan Suci Nur Azizah; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.851 KB)

Abstract

Desa Mangaran merupakan salah satu desa yang masih memiliki dan menerapkan tata letak permukiman tradisional Madura asli. Etnis Madura pendhalungan yang berada di Desa Mangaran menjadi satu hal yang menarik untuk diteliti terutama pada tata letak permukiman tradisionalnya. Banyak faktor yang mempengaruhi rumah tradisionalMadura di Desa Mangaran sehingga menimbulkan perbedaan dengan rumah tradisional asli di Pulau Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tata letak dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya rumah tradisional Madura di Desa Mangaran, Kabupaten Situbondo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan teknik populasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan beberapa tata letak kelompok rumah tradisional Madura di Desa Mangaran yang berubah. Perubahan tersebut terlihat dari penambahan, pengurangan, dan perubahan letak rumpun rumah tradisionalnya. Terdapat tiga faktor yang sangat mempengaruhi perubahan tersebut, antara lain man (manusia), society (sosial), dan network (jaringan).Kata kunci: Tata letak, Rumah tradisional, Madura
Karakter Spasial Bangunan Kolonial Protestanche Kerk (Gereja Merah)-Probolinggo Ramadhani Puspa Pratami Putri; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.292 KB)

Abstract

Bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih ada saat ini banyak mengalami kemunduran. Kurangnya kepedulian dan rasa memiliki dari masyarakat adalah penyebab utama tidak terpelihara bahkan kerusakan bangunan bersejarah. Salah satu bangunan yang masih utuh, asli dan berfungsi dengan baik adalah bangunan Gereja Merah Probolinggo yang keberadaannya terancam mengalami pergeseran fungsi. Tujuan studi ini mengetahui karakter spasial bangunan kolonial Protestanche Kerk (Gereja Merah)-Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan mendeskripsikan dan menganalisis elemen-elemen pembentuk karakter spasial bangunan. Bangunan Gereja Merah memiliki denah persegi panjang dan simetris dan memiliki hubungan ruang saling berdekatan. Ruang-ruang tersebut berorientasi ke arah mimbar dan memiliki organisasi ruang linier. Bangunan berorientasi menghadap ke arah Timur atau ke Jalan Suroyo.Kata Kunci: Karakter struktural, bangunan kolonial Belanda
Karakteristik Spasial Bangunan Gereja Immanuel Jakarta Muhammad Gardian Novandri; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1113.838 KB)

Abstract

Gereja Immanuel Jakarta didirikan pada tahun 1839 dan merupakan salah satu dari gereja tertua yang masih ada di DKI Jakarta. Gereja tersebut merupakan salah satu dari 134 buah cagar budaya yang ada di DKI Jakarta. Seiring perkembangan zaman, terdapat perubahan fungsi ruang dan penambahan ruang pada bangunan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik spasial pada bangunan Gereja Immanuel Jakarta. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode analisis deksriptif. Orientasi bangunan menghadap ke arah barat. Fungsi ruang dengan hirarki paling tinggi terdapat pada ruang ibadah. Ruang ibadah menghubungkan setiap ruang yang ada pada bangunan Gereja Immanuel Jakarta. Organisasi ruang yang terbentuk pada bangunan tersebut adalah organisasi ruang memusat kearah ruang ibadah. Sirkulasi ruang utama yang terbentuk adalah sirkulasi ruang radial dengan ruang ibadah sebagai pusat nya. Orientasi ruang menurut bukaan besar berorientasi ke arah ruang ibadah dan luar bangunan.Kata kunci: Karakteristik spasial, bangunan kolonial Belanda, bangunan gereja
Kids Safety Park, Batu Penerapan Konsep Keselamatan pada Pengguna Taman Bermain Anak Gabriella Rosita Darmawan; Heru Sufianto; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.301 KB)

Abstract

Kecelakaan yang terjadi di masa kanak-kanak dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental di kehidupan selanjutnya. Kecelakaan tersebut biasanya dialami saat anak-anak sedang bermain. Perkembangan otak, fisik dan mental manusia yang paling pesat terjadi di usia 6-12 tahun yang dikatergorikan sebagai usia anak-anak. Pada usia tersebut, anak-anak akan sangat aktif bergerak, namun kewaspadaan akan terjadinya kecelakaan masih kecil. Oleh karena itu, dibutuhkan peralatan dan fasilitas yang mampu mewadahi aktifitas bermain anak dan tetap mengutamakan keselamatan. Untuk mengurangi resiko kecelakaan secara maksimal, perancangan terhadap suatu area permainan dengan faktor keselamatan diperlukan agar anak-anak selamat saat bermain. Melalui tersedianya fasilitas bermain, diharapkan mampu memenuhi kualitas keselamatan sesuai dengan kebutuhan para penggunanya.Kata kunci: Anak-anak, pengguna, keselamatan, taman bermain, Kota Batu

Page 15 of 148 | Total Record : 1474