Articles
74 Documents
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA UNTUK KINERJA OPTIMAL BERBASIS PENDEKATAN SISTEM DINAMIK
H. Abdul Ghofar
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 1, No 2 (2020): Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pengembangan sumber daya manusia yang diarahkan untuk mencapai kinerja yang optimal dapat dilakukan melalui pendekatan sistem dinamik. Pendekatan sistem dinamik dapat menjadi alat pendukung pengambilan keputusan praktis yang memungkinkan dapat menguji berbagai skenario formulasi kebijakan. Tulisan ini dibuat bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen sumber daya manusia yang menggunakan analisis secara tekstual, kontennya diperoleh dari buku, jurnal yang berhubungan dengan subjek tema pengembangan sumber daya manusia. Dalam rangka mengembangkan argumentasi, analisis merujuk kepada beberapa kajian untuk diperlakukan sebagai bukti. Ada empat hal yang menjadi kompetensi, yaitu pengalaman, kompetensi teknis, kompetensi perilaku, dan kepribadian yang dianggap sebagai pusat dan sumber kinerja dan mempengaruhi seluruh faktor-faktor yang lain. Namun keempat hal tersebut, sebenarnya masih ada faktor lain lagi yang harus diketahui, yakni kompetensi institusional yang didalamnya mencakup nilai organisasi khas, sehingga mempunyai dampak dan dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Pendekatan sistem dinamik dapat mengkombinasikan antara teori, metode, dan filosofi dalam menganalisa perilaku sebuah sistem yang bersifat dinamis yang mempresentasikan pengembangan sumber daya manusia untuk kinerja lebih optimal.Kata Kunci: Kinerja Optimal; SDM Unggul; Sistem Dinamik
PENGGUNAAN TANDA PAGAR TWITTER SEBAGAI ORKESTRASI OPINI
Karman Karman
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 1, No 2 (2020): Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini membahas penggunaan tanda pagar dalam Twitter dalam politik di Indonesia (pemilihan presiden tahun 2019). idealnya, pengguna Twitter menggunakan tanda pagar untuk membicarakan topik yang sesuai dengan nama tanda pagar. Namun, Mereka menggunakan tanda pagar, dalam konteks pemilihan presiden 2019, untuk pesan-pesan yang tidak berkaitan dengan nama tanda pagar itu sendiri. Tulisan ini menunjukkan bahwa penggunaan tanda pagar tidak dimanfaatkan untuk mendiskusikan pesan dalam topik tertentu. Pengguna Twitter memanfaatkan tanda pagar untuk menjadikan tanda pagar dalam posisi topik trending. Pengguna Twitter dari masing-masing pendukung kandidat presiden mengompetisikan tanda pagar Nama tanda pagar tidak memiliki relevansi dengan isi substansi isi pesan. Masing-masing kelompok yang memberikan dukungan kepada salah satu calon presiden memiliki aktor pemuka pendapat, baik akun asli atau akun anonim. Tanda pagar dalam konteks politik digunakan untuk orkestrasi opini publik. Pemuka pendapat dalam tanda pagar tertentu seperti halnya dirigen dalam paduan suara yang memandu buzzers. Mereka yang terlibat dalam tanda pagar sering kali menunjukkan aktivitas yang tidak otentik. Dalam penutup, artikel ini memberikan implikasi metodologi jika tanda pagar digunakan untuk unit analis dalam penelitian. Persoalan metodologi tanda pagar adalah populasi yang tidak jelas, parameter interaksi yang problematik.Kata Kunci: Tanda Pagar, Twitter, Orkestrasi Pendapat.
DINAMIKA SENI TRADISIONAL PADA ERA DIGITAL
Djoko Waluyo;
Rosmawati Rosmawati
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini meninjau Dinamika Seni Tradisional pada era Digital yang difokuskan sebagai hiburan dan sarana media komunikasi sosial. Eksistensi seni tradisional berupa seni pertunjukan rakyat, makin terdesak dengan penonton yang makin berkurang, atau dengan kata lain, peminat terhadap seni tradisional makin berkurang. Penampilan seni tradisional ini telah mengalami perubahan disebabkan faktor-faktor obyektif. Faktor makin intensif masuknya Internet telah mengancam eksistensi seni tradisional, diantaranya, penampilan panggung teater rakyat yang kurang menarik. Seni tradicional, diantaranya, yang makin kurang penontonnya perlu merevitalisasi media pertunjukan rakyat dalam era digital. Ini menjadi tantangan agar dapat dikenali kembali oleh generasi milenial. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan sumber-sumber literatur ilmu komunikasi. Tujuan artikel ini untuk memberikan pemahaman terhadap pentingnya peran seni tradisional dalam kehidupan sosial yang berfungsi sebagai hiburan dan fórum komunikasi sosial.
IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA DI SAAT PANDEMI COVID-19
Bambang Mudjiyanto;
Amri Dunan
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sepanjang sejarahnya, bangsa Indonesia telah menghadapi berbagai bentuk tantangan dan ujian. Hal itu dapat dilalui berkat kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa yang berpedoman pada ideologi Pancasila, yang juga menjadi dasar dan ideologi negara. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat perbedaan pendapat dalam masyarakat Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya, dan agama. Nilai-nilai Pancasila harus dipahami secara menyeluruh sehingga tercipta kerukunan bangsa. Sila-sila Pancasila dapat menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi berbagai tantangan. Di masa pandemi Covid-19, nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam masyarakat Indonesia, yaitu gotong royong.
STRATEGI DALAM MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI KECERDASAN BUATAN
Karman Karman
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini memberikan gambaran budaya teknologi kecerdasan buatan. Budaya teknologi mencakup aspek budaya (tujuan, nilai), organisasi atau industri, dan aspek teknis. Dalam artikel ini, aspek teknis yang dimaksud adalah teknologi kecerdasan buatan. Tulisan ini mengeksplorasi strategi negara-negara dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Penulis memilih negara yang tergabung dalam negara-negara G20. Negara-negara ini giat dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Penulis menelaah dokumen kebijakan negara-negara G20 untuk mengidentifikasi budaya teknologi. Penulis menemukan model pendekatan negara-negara G20 dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan berdasarkan tujuan mereka dapat dikelompokkan menjadi empat model. Mereka adalah pendekatan pertahanan-keamanan, pendekatan pasar, pendekatan inklusi sosial, pendekatan pelayanan publik. Upaya mereka untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan adalah dengan: melakukan riset, memberikan keterampilan kembali baru atau pengembangan, regulasi dan etika, penetapan standard keamanan teknologi kecerdasan buatan. Tulisan ini tidak menginvestigasi bagaimana implementasi dari kebijakan pengembangan kecerdasan buatan setiap negara. Keterbatasan ini dapat dijadikan acuan untuk merekomendasikan kajian berikutnya sebagai upaya untuk memperbaiki keterbatasan tadi.
PERBANDINGAN SOLUSI PARKIR KONVENSIONAL DENGAN SMART PARKING
Dewi Hernikawati
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kota sebagai pusat ekonomi menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk bekerja dan bertempat tinggal di kota. Hal ini berakibat pada pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan lahan untuk tempat tinggal. Dengan banyaknya jumlah penduduk ini memicu peningkatan jumlah kendaraan untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Peningkatan jumlah kendaraan yang tidak dibarengi dengan ketersediaan lahan parkir ini menimbukan permasalahan baru bagi suatu kota. Kota dituntut untuk mencari solusi terhadap ketersediaan lahan parkir bagi masyarakat. Dalam tulisan ini akan membandingkan solusi untuk menyediakan parkir agar lebih efisien dengan membandingkan solusi parkir konvensional dibandingkan dengan smart parking. Metode yang digunakan pada penulisan ini adalah pendekatan kualitatif dengan melakukan studi literatur Hasilnya adalah solusi parkir konvensional bisa diterapkan dengan membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia jika dibandingkan dengan smart parking. Solusi smart parking memberikan kemudahan bagi pengguna parkir untuk menemukan lokasi parkir kendaraan dan bisa melakukan reservasi sebelumnya yang tidak bisa dilakukan pada parkir konvensionaal. Dari sisi keamanan solusi smart parking memiliki tingkat keamanan lebih baik jika dibandingkan dengan parkir konvensional. Solusi smart parking lebih hemat dari sisi biaya yang dikeluarkan pengguna karena lebih cepat menemukan lokasi sehingga hemat waktu dan bahan bakar. Berdasarkan hasil tersebut maka solusi parkir dengan Smart parking lebih direkomendasikan untuk diterapkan secara massif karena lebih efisien.
TEORI UTAMA SOSIOLOGI KOMUNIKASI (FUNGSIONALISME STRUKTURAL, TEORI KONFLIK, INTERAKSI SIMBOLIK)
Ari Cahyo Nugroho
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perspektif sosiologis komunikasi ini memiliki dua arah utama yang biasa digunakan untuk mengukur masalah sosial baru: perspektif mikro dan makro. Masing-masing memiliki perspektif yang berbeda dan memberikan jawaban yang berbeda untuk masalah yang diidentifikasi, tergantung pada ukuran komunitas yang terlibat. Makalah ini mengekspor tiga teori sosial utama: teori fungsionalis struktural, teori konflik, dan interaksionisme simbolik. Hasil pembahasan menguraikan bahwa teori fungsi struktural terletak pada konsep tatanan sosial. Teori ini berasumsi bahwa masyarakat itu statis atau seimbang, dan semua elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitasnya. Teori konflik cenderung melihat masyarakat sebagai konflik terus-menerus dalam kelompok dan kelas. Interaksionisme simbolik itu sendiri merupakan aktivitas khas manusia. Dengan kata lain, hal itu dilakukan dalam bentuk komunikasi dan pertukaran simbol-simbol yang bermakna
MENCEGAH RADIKALISME MELALUI MEDIA SOSIAL
Felix Tawaang;
Bambang Mudjiyanto
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sikap mendorong kebencian kepada negara, pemerintah, maupun golongan lain bukan merupakan ajaran agama mana pun. Tak ada satu ajaran agama yang membenarkan radikalisme. Islam, misalnya, mengajarkan cinta kepada sesama. Radikalisme berkaitan dengan pemikiran, sikap, perilaku orang-orang. Paham ini menoleransi kekerasan untuk mencapai tujuan. Mereka menanfaatkan media sosial untuk menyebarkan paham tersebut, dari satu pihak ke pihak lain serta. Kita seharusnya memerangi paham ini karena radikalisme ini memiliki potensi mendorong seseorang untuk melakukan aksi terorisme. Mereka yang memiliki paham radikalisme menggunakan justifikasi agama dalam menjalankan aksi mereka. Cara untuk menangani radikalisme adalah dengan melakukan deradikalisasi melalui pendidikan di masyarakat. Pemerintah harus mengedepankan pendekatan yang manusiawi dan empatik dalam melakukan tindakan terhadap praktik-praktik radikal ketimbang penindakan yang bersifat represif.
TINJAUAN PEMIKIRAN ELIHU KATZ: MEDIA, TEKNOLOGI, DAN EFEK
Muh. Bahruddin
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Elihu Katz membagi empat tradisi penelitian komunikasi yang menjelaskan efek media. Pertama, tradisi kritis yang menekankan kepemilikan media. Kedua, teori teknologi yang berfokus pada bagaimana media menentukan cara berpikir khalayak. Ketiga, teori isi yang melihat kemampuan media dalam mempengaruhi khalayak. Keempat, tradisi kontekstual yang berfokus pada bagaimana khalayak ditempatkan oleh media. Keempat pendekatan ini menarik Katz untuk mempelajari media massa lebih jauh. Perkembangan teknologi membuat kajian media massa semakin progresif. Tulisan ini membahas bagaimana Katz memetakan efek media yang didasarkan pada tradisi dan bagaimana keterlibatan teknologi komunikasi mengubah banyak konsep dan efek media massa hari ini.
ADAPTASI KULTURAL MAHASISWA-PERANTAU DALAM MENGHADAPI GEGAR BUDAYA SAAT PANDEMI
Nisya D. Anggraeni1;
Amri Dunan;
Karman Karman
Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa Vol 2, No 2 (2021): Majalah Ilmiah Semi Populer Komunikasi Massa
Publisher : Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya gegar budaya di kalangan mahasiswa perantau. Hal ini mengubah kebiasaan mereka. Perubahan kebiasaan ini membuat mahasiswa perantau merasa frustrasi karena ketidakmampuan beradaptasi dengan kebiasaan yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses adaptasi dan faktor–faktor dalam menghadapi gegar budaya pada mahasiswa perantau di masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan yaitu, kualitatif dan wawancara terstruktur dengan lima mahasiswa perantau dari universitas yang berbeda di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan, proses adaptasi mahasiswa perantau mengalami kesulitan. Sementara faktor yang mempengaruhi terjadinya gegar budaya yaitu pengalaman yang berbeda dan karakteristik fisik seperti penampilan, memakai masker, dituntut untuk selalu menjaga kesehatan, kegiatan yang berbeda dan menimbulkan prasangka, stereotip, serta intimidasi.