cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
KEBIJAKAN RAMAH PEREMPUAN DALAM MERESPON ANTAGONISME INDUSTRI RAMBUT DAN BULU MATA PALSU DI KABUPATEN PURBALINGGA Tobirin, Tobirin; Darwin, Muhadjir; Widaningrum, Ambar
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3311

Abstract

 Artikel ini mendiskusikan keberadaan industri rambut dan bulu mata palsu yang memberikan kemudahan aksesibilitas bagi perempuan untuk bekerja dan menghasilkan upah yang layak. Melalui kerja yang dibayar perempuan menjadi mandiri, dan memiliki status sosial yang meningkat. Namun masalah muncul pada saat perempuan bekerja, masalah tersebut berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan anak, beban ganda, disharmonisasi keluarga dan tingkat gugat cerai yang tinggi. Tujuan penulisan artikel ini menganalisis dampak industrialisasi dan respon negara dalam kebijakan ramah perempuan dan anak. Penelitian ini menggunakan metode mixed methode dengan subyek penelitian buruh perempuan dan keluarga, pelaku industri, aparat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan perempuan buruh memiliki peran baru sebagai pencari nafkah utama danmandirisecara ekonomi, peningkatan partisipasi kerja perempuan dan tata nilai baru dalam masyarakat yang menganggap perempuan lebih dominan dibandingkan laki-laki, kebijakan ramah perempuan belum menyentuh persoalan sebenarnya dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.
PERAN ORGANISASI MASSA PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERDAMAIAN (Studi Kasus Muslimat NU Jawa Tengah) Farida, Umma
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3092

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap peran organisasi massa (ormas) perempuan dalam mewujudkan dan membangun perdamaian yang sering kali terabaikan dari perhatian publik. Ini dikarenakan pada umumnya ormas perempuan hanyalah sebagai badan otonom dari organisasi induknya. Padahal gerakan, kiprah, dan perjuangan mereka sangatlah signifikan, termasuk dalam upaya mewujudkan kerukunan intern dan antar umat beragama. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, wawancara, dan observasi, lalu dianalisis secara deskriptif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah merupakan salah satu ormas perempuan yang menaruh atensi terhadap pembangunan perdamaian di Jawa Tengah. Selama 2 tahun pertama masa khidmahnya (2016-2018), PW Muslimat NU Jawa Tengah telah melakukan upaye pembangunan perdamaian tersebut melalui model dialogue in communitydan dialogue of life yang dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk, yaitu: melakukan capacity building di internal pengurus dan anggota PW Muslimat NU Jawa Tengah dengan mengedepankan sikap moderat dalam beragama, dan membangun harmonisasi intern dan antar umat beragama dengan bersinergi melakukan kesepakatan bersama lembaga pemerintah dan organisasi keagamaan lainnya dalam rangka menghindarkan klaim kebenaran dan mengembangkan toleransi.Kata Kunci: Organisasi Massa Perempuan, Muslimat NU, Pembangunan PerdamaianABSTRACTThis article aims to reveal the role of women’s mass organizations in realizing and building peace that are often overlooked since in general they are only autonomous boards of their main organization. Data was collected by the method of documentation, interviews, and observations, and then analyzed descriptively-critically. The results of the study indicate that PW Muslimat NU Central Java is one of the women’s organizations that put attention on peace building in Central Java in the range of 2016-2018. PW Muslimat NU Central Java has made peace building efforts through a dialogue in community and dialogue of life model that can be classified into two forms, namely: capacity building in the internal management and members of the PW Muslimat NU Central Java by promoting moderate attitude in religion, and building internal and inter-religious harmonization by synergizing in agreement with government institutions and other religious organizations in order to avoid truth claims and develop tolerance.Keywords: Women’s Mass Organization, Muslimat NU, Peace Building
Fear of Success Perempuan Bekerja (Dalam Perspektif Budaya Jawa) Rahmawati, Agustin; Suryanto, Suryanto; Hartini, Nurul
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3556

Abstract

Fear of Success (FOS) yang dimengerti sebagai ketakutan akan konsekuensi yang akan diterima jika keberhasilan diraih, menjadikan perempuan enggan untuk berprestasi. Tidak terkecuali pada perempuan Jawa. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana dinamika FOS pada perempuan Jawa. Metode yang digunakan adalah dengan mendasarkan pada literature review dari berbagai sumber, antara lain dari hasil-hasil penelitian terdahulu dan buku-buku referensi terkait. Telaah ini menghasilkan gambaran bahwa perempuan Jawa,dengan predikatnya sebagai kanca wingking bagi suami, memang harus sedikit menahan prestasinya untuk tetap bisa diterima dalam budayanya. Agar perempuan Jawa tetap menjadi perempuan ‘baik-baik’, maka harus memperhatikan pranata-pranata yang berlaku, sehingga pada akhirnya itu yang menyebabkan munculnya  fear of success, terutama pada perempuan bekerja. Namun demikian, dengan intervensi budaya yang tidak terelakkan, FOS masih bisa direduksi dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan meningkatkan self esteem, selalu merasa optimis dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa datang, serta tetap berusaha positif terutama terhadap kultur yang ada, perempuan Jawa  mampu mengaktualisasikan dirinya, meskipun tidak bisa dipungkiri FOS masih  muncul dengan tingkat yang minimal.
Media Sosial dan Gaya Hidup Wanita Di Indonesia utomo, bambang setyo; Pawito, Pawito
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2652

Abstract

The development of communications technology today is increasingly fast and gives a variety of effects and impact on human life. Since internet technology has been activated and the emergence of Web 2.0 innovations in the early 2000s has attracted social media has become a major concern in recent years. Indonesian women who are the most current users of social media in using social media are not just for reasons to make friends but on the other hand they use social media in financial terms. There is a trend that is currently using social media to open a business. In addition to these trends, women with their ability to build networks and communicate have presented some phenomena in their lifestyle
PEREMPUAN DAN LIMINALITAS PERDAMAIAN: Hubungan Islam-Kristen dalam Liminalitas Simbolik Kain Gandong di Maluku Pattiasina, Sharon Michelle O; Lattu, Izak Y M; Nuban Timo, Ebenhaizer I
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3298

Abstract

Tulisan ini menganalisis peran perempuan dan tradisi Kain Gandong dalam liminalitas hubungan Islam-Kristen yang berfokus pada ritual Panas Pela dan ritual Pelantikan raja di negeri Hative Kecil dan Hitumessing, Maluku. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara, studi dokumenter dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam tradisi Kain Gandong. Perempuan berperan sebagai pemegang Kain Gandong dengan mengacu pada arti dan makna dari kata gandong itu sendiri. Tradisi Kain Gandong menciptakan sebuah ruang kebersamaan yang disebut sebagai ruang liminalitas. Ruang tersebut dapat membebaskan masyarakat dari perbedaan-perbedaan status sosial, budaya dan agama. Berdasarkan data yang diperoleh, penulis menemukan tiga nilai yang dapat berguna untuk membangun kehidupan bersama, yakni nilai persaudaraan, nilai kesetaraan dan nilai perdamaian.
BUDAYA ORGANISASI PESANTREN DALAM MEMBENTUK SANTRI PUTRI YANG PEDULI KONSERVASI LINGKUNGAN Choiron, Ahmad
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2338

Abstract

ABSTRAK Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan kegamaan diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan tata nilai Islami berkaitan dengan lingkungan. Santri baik laki-laki maupun perempuan memiliki wawasan ramah lingkungan melalui budaya organisasi yang ada di Pesantren. Unsur budaya organisasi pesantren yang telah dimanfaatkan dalam peningkatan kesadaran ekologi bagi santri putri dilakukan melaui perwujudan verbal dan perwujudan perilaku. Budaya organisasi di pesantren dalam mendorong santri putri terlibat dalam pengelolaan lingkungan terkendala oleh adanya semacam pembagian wilayah bagi santri putri dan putra dalam pengelolaan lingkungan sebagai akibat pembakuan peran di pesantren. Kata kunci: Islamic Boarding School, Female Student, Budaya OrganisasiABSTRACT The role of pesantren as a religious education institution is expected to be able to provide Islamic knowledge and values related to the environment. Santri both male and female have eco-friendly insights through the organizational culture in the pesantren. The organizational culture elements of the pesantren that have been used in increasing ecological awareness for female santri are carried out through verbal manifestations and behavioral manifestations. Organizational culture in pesantren are encouraging female santri to be involved in environmental management. It is constrained by the existence of a kind of division of area for female and male students in environmental management as a result of standardizing roles in pesantren. Keyword: Islamic Boarding School, Female Student, Organizational culture
PERAN POLITIK PEREMPUAN MELALUI SINOMAN DI DESA GROBOG WETAN TEGAL DALAM PERSPEKTIF GENDER Mubarok, Zaki
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3444

Abstract

Sinoman dirumuskan sebagai tradisi saling membantu antar anggota masyarakat dalam aspek politik, sosial dan agama. Sinoman lazim dilakukan perempuan baik berupa pemberian materi atau pekerjaan nir transaksional. Dalam konteks politik pemilihan kepala desa, sinoman menjadi mekanisme vote gatter, kampaye, memberi dan menyajikan logistik selama pemilihan kepala desa. Meski berperan penting, perempuan tidak otomatis menjadi figur yang berada di tengah kekuasaan atau masuk dalam inti struktur kekuasaan. Sebaliknya, ia menjadi bagian luar dari sistem kekuasaan atau politik yang berjalan. Peran penting mereka dalam politik desa didasarkan pada semangat ibadah yang bersumber pada ajaran patuh kepada perintah suami atau laki-laki yang berkedudukan sebagai imam. Karena pilihan politik suami menjadi pilihan politik yang harus dipatuhi istri atau saudara perempuan lainnya. Peran perempuan dalam Sinoman memiliki pengaruh atas pembagian kekuasaan untuk suami atau saudara laki-lakinya di desa.
PENINGKATAN HARGA DIRI DIRI SPIRITUAL RENDAH MELALUI MODEL LOGO KONSELING FEMINIS BAGI PEREMPUAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG Engel, Jacob Daan
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.2440

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this article is discussing low spiritual self-esteem of women of victims of trafficking at the “Mulya Jaya” Women’s Social Protection Home in Jakarta from the perspective of logo counseling model of feminist approach. This research is motivated by the crimes of women and children trafficking. This is a qualitative research in which data are collected through interview, observation and focus group discussion. Logo counseling model and feminist approach are intended to improve low spiritual self-esteem spirituality experienced by the victims especially dealing with self-exploration, self-acceptance, self-assertiveness, self-transcendence, values of attitudes and integrity that are oriented towards life, integrated in self-potential, self-activity and self-evaluation, which are useful for positive behavioral changes, namely from low spiritual self-esteem to healthy spiritual self-esteemKeywords: logo counseling model, feminist approach, low sporotual self-esteem, human traffickingABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji harga dirispiritual rendahperempuan korban perdagangan orangdi Rumah Perlindungan Sosial Wanita (RPSW) Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Mulya Jaya” Jakartadari perspektif model logo konseling dengan pendekatan feminis.Fakta yang memotivasi penelitian ini adalah masalah berbahaya yang berkembang di masyarakat, yaitu perdagangan orang perempuan dan anak-anak yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab.Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitatif.Wawancara, observasidan focus group discussiondilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif. Penelitian model logo konseling dengan pendekatan feminis dilakukanuntuk memperbaiki harga dirispiritualyang rendahperempuan korbanperdagangan orang, khususnya dalam eksplorasi diri para korban, penerimaan diri, ketegasan diri, transendensidiri, nilai-nilai sikap dan integritas diri yang berorientasi pada makna hidup, terintegrasi dalampotensi diri, aktivitas diri dan evaluasi diri, yang berguna bagi perubahan perilaku positif, yaitu dari harga diri spiritual rendah ke harga diri spiritual yang sehatKata kunci: model logo konseling, pendekatan feminis, harga diri spiritual rendah,perdagangan orang.    
KESETARAAN GENDER DAN RELASI KUASA DALAM TAFSIR AL-QUR’AN TEMATIK KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA Purwanto, Tinggal
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.5052

Abstract

Tafsir Al-Qur’an Tematik is a product of mufassir creative dialectic with the text of the Qur'an which contains interrelated elements among various interests as produced by involving the Government. This engagement raises the question of the supposedly dialectical interpretation, while raising questions about the product of tafsir, especially regarding the interpretation of gender equality which indicates a power-knowledge relations built for a particular interest. This study aims to explain how power-knowledge relations operate in the book, especially in constructing gender equality. With that purpose, the theory of gender equality and the theory of power-knowledge relations is used to achieve the intended purpose. The this study finds that power-knowledge relations flow in the Tafsir Al-Qur’an Tematik. Power relations operate in a dialectical and productive manner through initiation, election, accommodation, contestation, controversy, negotiation and compromise of the exegeteers in compiling the tafsir. The mufassir not only try to explain the book of the Qur'an alone, but also attempt to construct the life of the people to be in line with the Government agenda. The mufassir does attempt to construct an equal relationship between men and women, but the construction is not wholly objective and neutral as it still leaves a more discriminatory effect prioritizing men in the public domain and women in the domestic sphere. These power-knowledge relations operate systematically by controlling power relations with truth so as to give rise to more equitable constructions directed to regulate the lives of people on behalf of increased productivity. By its mechanism, power-knowledge normalizes the lives of people with a construction of gender equality that is essentially loaded with power politics. Keywords: tafsir, gender equality, and power relations.Tafsir Al-Qur’an Tematik is a product of mufassir creative dialectic with the text of the Qur'an which contains interrelated elements among various interests as produced by involving the Government. This engagement raises the question of the supposedly dialectical interpretation, while raising questions about the product of tafsir, especially regarding the interpretation of gender equality which indicates a power-knowledge relations built for a particular interest. This study aims to explain how power-knowledge relations operate in the book, especially in constructing gender equality. With that purpose, the theory of gender equality and the theory of power-knowledge relations is used to achieve the intended purpose. The this study finds that power-knowledge relations flow in the Tafsir Al-Qur’an Tematik. Power relations operate in a dialectical and productive manner through initiation, election, accommodation, contestation, controversy, negotiation and compromise of the exegeteers in compiling the tafsir. The mufassir not only try to explain the book of the Qur'an alone, but also attempt to construct the life of the people to be in line with the Government agenda. The mufassir does attempt to construct an equal relationship between men and women, but the construction is not wholly objective and neutral as it still leaves a more discriminatory effect prioritizing men in the public domain and women in the domestic sphere. These power-knowledge relations operate systematically by controlling power relations with truth so as to give rise to more equitable constructions directed to regulate the lives of people on behalf of increased productivity. By its mechanism, power-knowledge normalizes the lives of people with a construction of gender equality that is essentially loaded with power politics. 
Citra Diri Maskulin Para Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Wuryaningsih, Tri; Mutahir, Arizal; Dewi, Ratna
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.3827

Abstract

Persoalan kekerasan terhadap anak di Indonesia menjadi persoalan yang sangat serius. Pemerintah menyatakan bahwa ‘Indonesia Darurat Kekerasan terhadap Anak.’ Kasus kekerasan terhadap anak terus mengalami peningkatan. Kasus kekerasan seksual merupakan kasus terbanyak. Kasus kekerasan seksual tidak lepas dari gagasan maskulinitas yang sangat cenderung patriarkhis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan tentang gagasan maskulinitas para pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang berkenaan dengan makna dan struktur sosial yang melingkupi mereka. Untuk meraih tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Temuan penelitian ini adalah: tindakan seksual para pelaku kejahatan seksual tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan mereka tentang gender dan seksualitasnya, laki-laki dianggap sebagai sang penakluk, pemangsa, dan perempuan sebagai pihak yang ditundukkan (objek seksual). Bagi kaum paedofil (pelaku sodomi), perempuan adalah sosok yang selalu membuatnya sakit hati. Anak-anak dijadikan pelampiasan hasrat seksualnya; para pelaku kejahatan seksual menganggap persetubuhan dengan anak dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada ancaman dan paksaan, bukan merupakan kekerasan atau tindak kejahatan; struktur sosial yang melingkupi para pelaku adalah: tingkat sosial ekonomi rendah, lingkungan pergaulan buruk, ketiadaan figur ayah, ketiadaan istri dalam jangka waktu lama, cenderung menutup diri dari lingkungannya, konsumsi obat-obat terlarang, minuman keras, materi pornografi serta seks bebas                                Kata kunci: kejahatan seksual, anak, maskulinitas, makna, struktur sosial Abstract"Indonesia Emergency Violence against Children" is the statement delivered by the government to show how the issue of violence against children in Indonesia has become a very serious problem. Currently the case of violence against children is increasing and cases of sexual violence cases occupy the highest among the other kinds of violence. This study aims to analyze and explain the idea of masculinity perpetrators of sexual crimes against children that focuses on the meaning and social structures that surround sexual offenders. The findings in this study are: 1) The sexual act of sexual offenders can not be separated from their meaning about gender and sexuality, in which the male sex is considered as the conqueror, predators, and women as the subjugated (sexual object). For the pedophile, the woman is a person who always made it hurt. Only the children can freely vent to his sexual desires; 2) According to sex offenders, that sexual intercourse with a child on the basis of consensual, there is no threat and coercion is not the violence or crime; 3) social structure that surrounds the sex offenders are: socio-economic level is low, the social environment is bad, the absence of a father figure, the absence of the wife in the long term, tend to close themselves from the environment, the consumption of illegal drugs, alcohol and pornographic material as well as free sex.Keywords: sexual crimes, child, masculinity, meaning, social structure