cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
PEREMPUAN ANTARA KODRAT DAN DORONGAN BERAKTUALISASI DIRI *, Muflihah
PALASTREN Vol 4, No 1 (2011): Jurnal Palastren (Januari - Juni)
Publisher : PALASTREN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Women and men are created in units of the same degree of responsibility to run on the earth. Each creature has a certain tendency on the nature and desire of God in creating creatures. For example, naturally women experience menstruation, pregnancy, and childbirth. However, among all the differences, there are equal rights and obligations that must be done by both sexes. Women were not created by God as the second sex to men. Keywords: Nature, equality, public, domestic.
RATU BALQIS DALAM NARASI SEMIOTIKA AL QUR’AN Fathurrosyid, Fathurrosyid
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif wacana dan hubungan gender dalam Al-Qur’an, terutama di wilayah publik politikdengan menggunakan kisah objek formal, Ratu Balqis di Kerajaan Saba’ di Qs. al-Naml (27): 29-44.Menerapkan semiotika yang memberi arti dan maknayang mampu merekonstruksi pemahaman yang telah terkesan kaku dan eksklusif pada kisah Ratu Balqis.Melalui pemahaman semiotik, hubungan antara pria dan wanita mengacu pada simbol kesetaraan gender di antara mereka. Dalam konteks ayat-ayat ini Ratu Balqis ternyata menjadi simbol feminis sejati dengan menjelaskanketaatan dan penyerahan dirinya hanya untuk Allah swt,bukan untuk Nabi Sulaiman. Karena keduanya adalah hamba Allah swt yang tidak boleh mengklaim dirinya superior, sementara yang lain ditekan sebagai inferior.Keterlibatan Nabi Sulaiman dalam pengakuan Balqi sadalah hanya sebagai aktor dan mediator yang membuat mereka mengadopsi teologi monotheisme.kata kunci: Semiotika, Al-Qur’an, Ratu Balqis, Gender. This study tried to dismantle the discourse and genderrelations perspective of the Qur’an, especially in thepublic-political region by using formal object tale, of Queen Balqis in the Kingdom of Saba’ on Qs. al-Naml(27):29 - 44. Applying semiotics that signed meaning andsignificance was able to reconstruct the understanding which has been impressed rigid, exclusive and misogynicon the story of Queen Balqis. Through a semiotic understanding, relationships between men and women refer to the gender equality symbols between them. Inthe context of these verses, Queen Balqis turned outto be a true feminist symbol through clarifying herobedience and submission only to Allah swt, not toProphet Solomon. Because both are the servants of Allahswt that should not be claiming to be the superior, whileothers are suppressed as the inferior. The involvement of Prophet Solomon in Balqis’ confession was merely as theactor and mediator that made them adopting a theology of monotheism.Keywords: Semiotics, Al-Qu’an, Queen Balqis, Gender
MANAJEMEN PESANTREN RESPONSIF GENDER : STUDI ANALISIS DI KEPEMIMPINAN NYAI PESANTREN DI KABUPATEN PATI Ambarwati, Ambawati; Husna, Aida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidaksetaraan gender dalam sebuah organisasi masih dapat ditemukan termasuk di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren. Penyebab perbedaan ini berasal dari pengaruh bias gender yang masih banyak ditemukan dalam buku-buku rujukan (kitab kuning) dimana perempuan diposisikan sebagai masyarakat “kelasdua”, asumsi bahwa kemampuan perempuan hanyadalam urusan domestik serta pandangan perempuandi pesantren bahwa mereka wajib untuk menghormati,mengikuti dan mematuhi pria. Berdasarkan penelaahan atas kontribusi dan posisi “bu Nyai” di pesantren, makadapat disimpulkan bahwa banyak perempuan atau“nyai” yang telah memiliki peran kepemimpinan dipesantren. Tuntutan kepemimpinan perempuan munculdari karakteristik pesantren yang memisahkan pria dan wanita yang secara otomatis memerlukan kontribusi dari kepemimpinan perempuan sebagai wakil pimpinantertinggi “kyai”.Kata kunci: Manajemen Pesantren, Partisipasi, Nyai, Gender. Inequality gender roles in organizations still foundincluding in Islamic educational institutions such asboarding school. The cause of this discrepancy comesfrom the influence of gender bias of most of the materials(kitab kuning) i.e. the view of the position of women asbeing “second class”, the assumption that the abilityof women only in domestic affairs just as well as theview of women in boarding schools of the obligation torespect, to follow and to obey men. Whereas, it is alsofound the involvement of women in management ofboarding schools. The demands of women’s leadershipemerged from boarding relationships characteristic thatseparates men and women as well as the acceptance ofthe girls’ boarding schools also requires the contributionof women’s leadership as a representative of the highestleadership of “kyai”.Keywords: Participatoty, Women leader, boarding school
PENGENDALIAN PERKAWINAN DINI (CHILD MARRIAGE) MELALUI PENGEMBANGAN MODUL PENDIDIKAN PENYADARAN HUKUM : STUDI KASUS PADA MASYARAKAT SUBKULTUR MADURA DI DAERAH TAPAL KUDA, JAWA TIMUR Hanafi, Yusuf
PALASTREN Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan modul pendidikan berorientasi pengakuan hukum untuk menghindari praktik pernikahan anak di bawah umur, terutama di Madura Sub-Budaya Masyarakat di daerah tapal kuda. Hasilnya adalah modul pendidikan yang terdiri atas tiga paket. Paket I berisi istilah perkawinan dan anak-anak di bawah usia sahnya dalam perspektif hukum Islam, hukum nasional dan hak asasi manusia internasional. Paket II resiko dan bahaya pernikahan anak di bawah umur, baik fisik, psikologis, medis dan seksual. Paket III berisi rencana kebijakan dan rencana aksi untuk pencegahan praktik pernikahan anak di bawah umur yang dirancang secara sinergis di segala bidang, baik hukum, politik, pendidikan, agama dan sosial-ekonomi. Bahan Modul dikembangkan berdasarkan pendekatan kompetensi. Seperti biasa bahan berbasis kompetensi, maka modul adalah hasil dari perkembangan ini akan terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tema, strategi, media, penilaian, dan alokasi waktuABSTRACT This research tried to develop educational module orientated in law recognition to avoid the practice of child marriage under age, especially in Madura Sub-Culture Community in Horseshoe Area. The result is an educational module which consist three packages. Package I contains the terms marriage and children under the age of legality in the perspective of Islamic jurisprudence, national laws and international human rights. Package II risks and dangers of the marriage of child marriage under age, whether physical, psychological, medical and sexual. Package III contains policy plan and action plan for the prevention of child marriage practices designed underage synergistically in all fields, whether legal, political, educational, religious and socio-economic. The materials module was developed based on the competency approach. As usual competency-based material, then the module is the result of this development will consist of: competency standards, competency base, indicators, themes, strategies, media, assessment, and time allocation
POLITIK KEPEMIMPINAN PESANTREN : PERAN PUBLIK PEREMPUAN DI PESANTREN DAARUT TAUHIID BANDUNG Ulyani, Farida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menjelaskan mengapa perempuan dalam komunitas MC bisa memberdayakan perempuan melalui kegiatan dakwah dan bagaimana pola pemberdayaan dilakukan. Penelitian ini jugamenguraikan gerakan feminis pesantren berbasis.Pendekatan fenomenologis interpretatif untuk penelitian dan menafsirkan fenomena budaya yang ditemukan dalam komunitas perempuan di MC.Temuan dari penelitian ini adalah: (1) Adanya MCdi asrama DT telah memberikan warna dan pola dalam sosiologi sekolah perkotaan, dimana telah disediakan ruang publik bagi perempuan Muslim untuk mengaktualisasikan diri melalui kegiatan dakwah dan pemberdayaan perempuan, (2)Munculnya gerakan perempuan yang dilembagakan dalam MC tidak bisa lepas dari tokoh kunci, AaGym yang awalnya memberi peran khusus untuk istrinya (3) Pola gerakan berbasis pada penguatan ekonomi keluarga.Kata kunci: Politik kepemimpinan, Pesantren, Dakwah, pemberdayaan Perempuan The research also elaborates the pesantren-based feministmovement. Interpretative pheno menological approach to research and interpret the cultural phenomenon that isfound in the female community in the MC. The  findingswere: (1) The presence of MC in boarding DT has givencolor and pattern in the sociology of urban schoolsthat have provided public space for Muslim women toactualize themselves through propaganda and women’sempowerment, (2) The rise of the women’s movementwhich was institutionalized in the MC could not beseparated from key figure of Aa Gym that originally gavea special role to his wife (3) the pattern of movementbased especially on strengthening the economic family.Keywords: The politics of leadership, Pesantren, Dakwah, Women empowerment
HARMONI DALAM KELUARGA PEREMPUAN KARIR : UPAYA MEWUJUDKAN KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DALAM KELUARGA Rahmawati, Anita
PALASTREN Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan hubungan gender dalam karir keluarga. Masalah yang sering timbu ldalam keluarga karir ganda adalah ideologi gender dalammasyarakat, khususnya yang terkait dengan stereotipgender dalam kerja dan distribusi jender tenaga kerja.Oleh karena itu, hubungan gender dalam karir keluarga yang dapat dibangun melalui kemitraan gender adalahpersamaan dan keadilan antara suami dan istri, dan anakanak,baik laki-laki dan perempuan dalam melakukansemua fungsi keluarga melalui pembagian peran dantenaga kerja, baik dalam masyarakat, wilayah domestikdan sosial. Melalui kemitraan dan hubungan gender yangharmonis dalam keluarga, mereka dapat merealisasikan kesejahteraan keluarga dan kesetaraan gender.Kata kunci:  Relasi Gender, Keluarga, Perempuan, Karir.
PENEGAKAN HAK REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM KEBIJAKAN KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA Khoirun Nida, Fatma Laili
PALASTREN Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam dinamika manajemen kependudukan, masuknya perempuan sebagai akseptor lebih dominan daripadalaki-laki. Namun, tidak diragukan lagi, berbagai masalah muncul dari perempuan sebagai akseptor. Masalah yang timbul sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam menjalankan perannya terkait dengan pembatasan jumlah anak menyebabkan berbagai dampak fisik, psikologis dan sosial. Ironisnya, kondisi masih tidak mengubah peran perempuan sebagai target utama dalam dinamika program keluarga berencana. Banyak faktor yang melemahkan posisi perempuan untuk memiliki daya tawardalam kehidupan reproduksi, terutama terkait dengan dinamika kontrasepsi, seperti kesenjangan penyebaran program kontrasepsi di kalangan perempuan (istri) dan laki-laki (suami), dan peran yang kurang optimal dari pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat baik secara edukatif serta medis sebagai konsekuensi daripelaksanaan program keluarga Berencana.kata kunci: Keluarga Berencana, Hak reproduksi Perempuan In dynamics of population management, the inclusionof women as acceptors is more dominant than men.It means that women’s involvement in the program isabsolute. However, no doubt, a variety of problems arisesfrom the women as the acceptors. The problems thatarise as a result of their involvement in carrying out its role related to the restriction of the children number getvarieties of physical, psychological and social impacts.Ironically, the condition still does not change the role ofwomen as the main target in the dynamics of the familyplanning program. Many factors weaken the position ofwomen to have the bargaining power to reproductivelife, especially related to the dynamics of contraception,such as the gap dissemination of contraception programsamong women (wives) and men (husbands), and lessoptimal role of government in service to the communityboth educativelly as well as medically as a consequence ofthe implementation of the family planing program. Keywords: Family Planning, Women’s reproductionrights
KETELADANAN PEREMPUAN DALAM SASTRA QUR’ANI : ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINIS KISAH PEREMPUAN DALAM AL QURAN Nasir, Amin
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerita dalam Al-Qur’an bukan hanya cerita untuk dongeng semata-mata, tapi  juga mengandung pelajaran,tuntutan, dan petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an secara khusus membahas jenis perempuan menurut perbuatan mereka. Al-Qur’an mengacu pada seorang wanita sholehah dan wanita yg dzalim. Penelitian ini menganalisis empat cerita wanita, yaitu: Asiyah, ibu Musa, Ratu Saba’,dan istri Nabi Nuh dan Nabi Lut. Qur’an menegaskan pandangan perempuan sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas pilihannya, baik tindakan terpuji atauaktivitas tirani. Perempuan diakui sebagai pribadi yang mandiri yang tidak bergantung pada sosok laki-laki.Orang wanita mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan, baik atau buruk.Kata Kunci: Kritik Sastra, Perempuan Teladan, Al-Qur’an. Stories in the Qur’an is not just a fairytale story for sheer,but it also contains lessons, demands, and instructionsfor humans. The Qur’an specifically discuss the types ofwomen according to their deeds. The Qur’an refers to anideal woman and a bad women. This research analyzedfour women stories : Asiyah, Moses mother, the QueenSaba’ and Mrs Nuh dan Mrs Lut. Qur’an confirms theview of women as a person who fully responsible for herchoice, either commendable action or tyranny activity.Women are recognized as an independent person whodoes not rely on the male figure. A woman getting a reward for what she has does, good and bad.Keywords: Literary Criticism, Women  Idols, Al-Qur’an.
REKONSTRUKSI HUKUM BERKEADILAN GENDER SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PEMBERDAYAAN BURUH PEREMPUAN TELAAH DISPARITAS HUKUM PADA TENAGA KERJA WANITA DI KABUPATEN MAGELANG Hidayat, Arif
PALASTREN Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perlakuan terhadap Pria dan wanita tentu saja berbeda,namun kenyataan berbicara bahwa wanita cenderung menjadi korban perlakuan tidak adil. Ini mengarah ke skema yang berbeda antara pria dan wanita dalam penilaian keadilan. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi model penegakan keadilan antaralaki-laki dan perempuan. Melalui metode kualitatif penelitian ini menunjukkan bahwa model penegakan hukum antara laki-laki dan perempuan berbeda. Namun,model utama kedua menunjukkan kemiripan, misalnyarelasi yang didominasi model penegakan hukum. Selainpengaruh dominan hukum internasional, dalam model kesejahteraan, pria terlibat secara signifikan sedangkan dalam model perempuan variabel yang mempengaruhi  adalah harapankata kunci: Pemberdayaan, Penegakan Hukum, KeadilanGender. Men and women are treated differentially but women tend to be the victims of unjust treatment. It leads to the different schemas between men and women in justice judgment. This article aimed to explore the law enforcement model between men and women. Trough the qualitative method the study shows that law enforcement model between men and women is different. However, the main model of these two is similar, e.g. relationaldominated law enforcement model. Besides the dominant influence of interactional law, in the model of men welfare is significantly involved while in the model of women the other influencing variable is expectation.Keywords: Empowerment, Law Enforcement, Gender Justice.
PEREMPUAN DALAM TANTANGAN PENDIDIKAN GLOBAL : KONTRIBUSI KAUM PEREMPUAN DALAM MEWUJUDKAN MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS Syamsiyah, Dailatus
PALASTREN Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Partisipasi perempuan dalam pendidikan semakin mendapatkan momentumnya melalui indikator GDI (Gender Development Index) yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam usia harapan hidup, pendidikan dan jumlah pendapatan. Kenyataannya angka partisipasi perempuan dalam pendidikan masih rendah. Sejumlah faktor baik agama, budaya, sosial, politik dan budaya ditengarai menjadi penyebab. Pandangan perempuan yang penting melek huruf perlu diubah dengan meningkatkan kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan. Peningkatan persentase pendidikan perempuan di Indonesia pada gilirannya akan dapat meningkatkan pencapaian MDG’s yaitu menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian anak, dan memberantas kemiskinan.The participation of women in education is increasingly gaining its momentum through indicators GDI (Gender Development Index) which is concerning about equality between men and women in life expectancy , education and income amount . In fact the numbers of female participation in education is still low. A number of factors such as religious, cultural, social,and political factors suspected to be the main cause. The views about women’s literacy are important to be changed to improve access to education for women’s equality. The increase in the percentage of female education in Indonesia in turn will be able to improve the achievement of the MDG’s is to reduce maternal mortality, reduce child mortality, and combating poverty.

Page 7 of 47 | Total Record : 466