cover
Contact Name
persona
Contact Email
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 23015985     EISSN : 26155168     DOI : -
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia is a peer-reviewed journal, published by Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Persona Journal was first published in 2012. At first this journal was published three times a year. Starting in 2017 this journal is only published twice a year, in June and December
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 (2020): Desember" : 11 Documents clear
Properti psikometri Self-Compassion Scale versi Indonesia: Struktur faktor, reliabilitas, dan validitas kriteria Muttaqin, Darmawan; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi; Fitria, Annisa Zaenab Nur; Ramadhanty, Amanda Meuthia; Lempang, Giofanny Filadelfia
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3944

Abstract

AbstractThe purpose of this study was to examine the psychometric properties of Indonesian version of the Self-Compassion Scale (SCS), a measure self-compassion. Participants were 681 undergraduate students (17-22 years old) at the Faculty of Psychology University of Surabaya. The accidental sampling technique was used as a method of data collection by asking the participants' willingness to be involved in this study by filling in the research informed consent. The confirmatory factor analysis, composite reliability, and correlations were used to examine the factor structure, reliability, and criterion validity. The results found that the six-factor hierarchy model with self-compassion and self-criticism as the main dimensions are the best factor structures and have good internal consistency. The correlations between Indonesian version of the SCS with other measurements proved that Indonesian version of the SCS has a good criterion validity. The result suggests that Indonesian version of the SCS was a valid and reliable measurement tools to measure the self-compassion in Indonesian samples.Keywords: criterion validity; factor structure; reliability; SCS; self-compassion AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji properti psikometri dari Self-Compassion Scale (SCS) versi Indonesia yang mengukur self-compassion. Partisipan yang terlibat sebanyak 681 mahasiswa yang berusia 17-22 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Teknik accidental sampling digunakan sebagai metode pengambilan data dengan meminta kesediaan partisipan untuk terlibat dalam penelitian ini dengan mengisi inform consent penelitian. Analisis konfirmatori faktor, reliabilitas komposit, dan korelasi dengan alat ukur lain digunakan untuk menguji struktur faktor, reliabilitas, validitas kriteria dari SCS versi Indonesia. Hasil analisis konfirmatori faktor menemukan bahwa model hierarki enam faktor dengan self-compassion dan self-criticism sebagai dimensi utama merupakan struktur faktor yang terbaik dan memiliki konsistensi internal yang baik. Adanya korelasi SCS versi Indonesia dengan alat ukur lain membuktikan SCS versi Indonesia memiliki validitas kriteria yang memuaskan. Hasil mengindikasikan bahwa SCS versi Indonesia merupakan alat ukur yang valid dan reliabel untuk mengukur self-compassion pada sampel Indonesia.Kata kunci: reliabilitas; SCS, self-compassion; struktur faktor; validitas kriteria
Resiliensi akademik dan kepuasan belajar daring di masa pandemi COVID-19: Peran mediasi kesiapan belajar daring Kumalasari, Dewi; Akmal, Sari Zakiah
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.4139

Abstract

Abstract The COVID-19 pandemic accelerates the disruption in the education world to shift from face-to-face learning to online learning. Several challenges in implementing online learning potentially make online learning not run well, and later it will be affected by student’s satisfaction. This study aims to examine the effect of academic resilience on student satisfaction in online learning with the mediating role of online learning readiness. About 379 university students (aged 18-32 years (M = 20.55, SD = 1.87) whose hired by using the incidental sampling technique, participated in this study. The data were collected with three instruments: the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning, and Student Satisfaction with Online Learning. The result showed that online learning readiness fully mediates the relationships between academic resilience and online learning satisfaction. Higher academic resilience increasing online learning readiness, then enhancing student’s online learning satisfaction. This study provides a valuable result for further research and intervention design related to academic resilience, learning readiness, and online learning satisfaction. Keywords: Academic resilience; College students; Online learning readiness; Online learning satisfaction AbstrakPandemi COVID-19 mengakselerasi distrupsi pada dunia pendidikan untuk beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran daring berpotensi membuat pembelajaran daring tidak berjalan ideal dan nantinya berdampak pada kepuasan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh resiliensi akademik terhadap kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran daring dengan peran mediasi kesiapan belajar daring. Penelitian ini melibatkan 379 mahasiswa berusia 18-32 tahun (M=20.55, SD=1.87) yang diperoleh melalui Teknik sampling incidental. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning dan Student Satisfaction with Online Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan belajar daring menjadi mediator dalam hubungan antara resiliensi akademik dan kepuasan belajar daring pada mahasiswa. Resiliensi akademik yang baik membuat individu memiliki kesiapan belajar daring yang lebih baik yang kemudian akan meningkatkan kepuasan dalam belajar daring. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan penelitian dan intervensi terkait resiliensi akademik, kesiapan belajar dan kepuasan belajar daring. Kata kunci: Kesiapan belajar daring; Kepuasan belajar daring; Resiliensi akademik; Mahasiswa
Self-esteem dan resiliensi sebagai prediktor penyesuaian diri mahasiswa baru di Indonesia Faizah, Faizah; Marmer, Farica Veronica; Aulia, Nadhirah Nurul; Rahma, Ulifa; Dara, Yuliezar Perwira
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3448

Abstract

AbstractStudents who continue their education to higher education will find a variety of changes, new challenges, demands, and greater responsibilities. This transition can put pressure on new students and negative results if they cannot pass it. The purpose of this study was to determine the role of self-esteem and resilience towards the adjustment of new students. Determination of the sample using accidental sampling technique with a sample of new students in the first semester who are actively enrolled in state or private universities (N = 673). Measuring instruments used are the Rosenberg Self-esteem Scale-Revised with reliability 0,836, Brief Resilience Scale with reliability 0,747, and Inventory of New College Student Adjustments with reliability 0,701 that have been through the process of trans adaptation. Based on the results of multiple regression tests, self-esteem and resilience are significant predictors of the adjustment of new students in a positive direction. Self-esteem is an evaluation of core self and resilience in difficult times can be a factor that increases the adjustment of new college students.Keywords: Adjustment; New College Student; Resilience; Self-esteem AbstrakSiswa yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi akan menemukan berbagai perubahan, tantangan baru, tuntutan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Transisi ini dapat memberikan tekanan bagi mahasiswa baru dan hasil yang negatif apabila tidak dapat melewatinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-esteem dan resiliensi terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru. Penentuan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan sampel mahasiswa baru di semester pertama yang terdaftar aktif di perguruan tinggi negeri ataupun swasta (N = 673). Alat ukur yang digunakan adalah skala Rosenberg Self-esteem Scale-Revised dengan reliabilitas 0,836, Brief Resilience Scale dengan reliabilitas 0,747, dan Inventory of New College Student Adjustment dengan reliabilitas 0,701 yang telah melalui proses transadaptasi. Berdasarkan hasil uji regresi berganda, self-esteem dan resiliensi merupakan prediktor yang signifikan terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru dengan arah yang positif. Self-esteem sebagai evaluasi inti diri dan resiliensi sebagai ketahanan dalam masa sulit dapat menjadi faktor yang meningkatkan penyesuaian diri mahasiswa baru.Kata kunci: Mahasiswa baru; Penyesuaian diri; Resiliensi; Self-esteem
Peran kesepian dan fear of missing out terhadap kecanduan media sosial: Analisis regresi pada mahasiswa Zanah, Firda Nur; Rahardjo, Wahyu
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3386

Abstract

AbstractAddiction to social media is an issue that many people, especially college students, experienced today and it is facilitated by technological advancements. There are several things that can predict social media addiction, which is loneliness and fear of missing out. The purpose of this study was to determine the effect of loneliness and fear of missing out simultaneously on social media addiction among college students. This research was a quantitative study using the loneliness scale by Gierveld and Tilburg with a reliability score of 0,83, fear of missing out scale by Przybylski et al., with a reliability score of 0,79 and social media addiction scale by Al-Menayes with a reliability score of 0,77. The subject in this study was selected using purposive sampling with a total of 166 college students who were actively using social media. The hypothesis was analyzed using multiple regression analysis. The result of this study showed that social media addiction among college students was significantly affected by loneliness and fear of missing out. Negative antecedents such as loneliness and fear of missing out can influence students to get involved in something that is also negative, which is social media addiction.Keywords: Fear of missing out (fomo); College students; Loneliness; Social media addiction. AbstrakKecanduan media sosial merupakan masalah yang saat ini dialami oleh banyak orang, khususnya mahasiswa, dan difasilitasi oleh kemajuan teknologi. Terdapat beberapa hal yang dapat mendorong terjadinya kecanduan media sosial, salah satunya adalah kesepian dan fear of missing out. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kesepian dan fear of missing out secara simultan terhadap kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan skala kesepian dari Gierveld dan Tilburg dengan reliabilitas sebesar 0,83, skala fear of missing out dari Przybylski dkk., dengan reliabilitas sebesar 0,79 dan skala kecanduan media sosial dari Al-Menayes dengan reliabilitas sebesar 0,77. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sebanyak 166 orang mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial. Hipotesis dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh kesepian dan fear of missing out. Anteseden yang bersifat negatif seperti kesepian dan fear of missing out dapat mempengaruhi individu untuk terlibat dalam hal yang juga bersifat negatif yaitu kecanduan media sosial.Kata kunci: Fear of missing out (FoMO); Kecanduan media sosial; Kesepian; Mahasiswa.
Masih ada harapan: Eksplorasi pengalaman pemuda yang menangguhkan bunuh diri Nurdiyanto, F A
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3995

Abstract

AbstractSuicide is a global crisis that cannot be resolved. Trends show that suicide began mostly by adolescents and more than 51% were committed by age <45 years. Previous research found that individuals who have experienced suicide attempts have a negative and pessimistic view of life. The purpose of this study is to illustrate the meaning of individual experiences in deferring suicide. Five survivors (3 women) participated through snowball sampling. Data collection was done by phenomenological interviews and observations of participants. Data were analyzed using the descriptive phenomenological analysis to bring out the essence of suicidal experiences. This study derives 4 themes that can facilitate reducing suicidal ideation: connectedness, spirituality, hope, and shame. This study implies that suicide prevention can consider this finding as a protective factor for individuals at risk of suicide and build a support network for suicide survivors.Keywords: Suicide attempt; protective factors; phenomenology. AbstrakBunuh diri merupakan krisis global yang belum dapat diselesaikan. Tren menunjukkan bahwa bunuh diri mulai banyak dilakukan oleh remaja dan lebih dari 51% dilakukan oleh kelompok usia kurang dari 45 tahun. Penelitian terdahulu mencatat individu yang memiliki pengalaman percobaan bunuh diri memiliki pandangan yang negatif sekaligus pesimis terhadap kehidupan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan makna pengalaman individu dalam menangguhkan bunuh diri. Lima penyintas bunuh diri (3 wanita) berpartisipasi melalui snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara fenomenologi dan observasi terhadap partisipan. Analisis data yang digunakan berupa analisis fenomenologis deskriptif untuk memunculkan esensi pengalaman bunuh diri ke dalam bentuk tema-tema fenomenologis. Studi ini memperoleh 4 tema yang dapat memfasilitasi dalam mengurungkan keinginan bunuh diri: keterhubungan, spiritualitas, harapan, dan malu. Implikasi penelitian ini adalah upaya pencegahan bunuh diri dapat mempertimbangkan temuan ini sebagai faktor protektif bagi individu yang memiliki risiko bunuh diri dan membangun jaringan pendukung bagi penyintas bunuh diri.Kata kunci: bunuh diri; faktor protektif; fenomenologi.
Psikodinamika moral disengagement remaja pelaku pencabulan: Sebuah studi kasus instrumental Christanti, Dessi; -, Suryanto; Putra, Muhammad Ghazali Bagus Ani
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3333

Abstract

AbstractThere are many juvenile sex offender cases in Indonesia. This study aimed to reveal how the psychodynamics of moral disengagement on juvenile sex offenders. Through moral disengagement, juvenile sex offenders commit various rationalizations to negate the feelings of guilt. This research used the qualitative method of an instrumental case study. The participants were seven juvenile sex offenders. The collecting data through semi-structured interviews and analyzed through the stages of categorization and direct interpretation, correspondence and patterns, and naturalistic generalization. The credibility used data triangulation and asked the participants to read the interview transcript. The results showed the psychodynamic of juvenile sex offenders began by forming moral disengagement before the occurrence of sexual abuse or initiation phase.  After committing fornication, adolescents could feel guilty or not feel guilty due to moral disengagement. This study showed that participants frequently used the attribution of blame, dehumanization, distortion of consequences. The theoretical implications were that moral disengagement also functions to overcome fear after moral violation and different forms of moral disengagement from theory, namely active avoidance.Keywords: Instrumental case study; Juvenile sex perpetrators; Moral disengagement AbstrakPencabulan oleh remaja masih banyak terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana psikodinamika moral disengagement remaja pelaku pencabulan. Melalui moral disengagement, remaja pelaku pencabulan melakukan berbagai bentuk rasionalisasi untuk meniadakan perasaan bersalah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus instrumental. Partisipan penelitian adalah tujuh remaja pelaku pencabulan. Pengambilan data menggunakan wawancara semi terstruktur. Analisa data melalui tahapan kategorisasi dan interpretasi langsung, korespondensi dan pola, serta generalisasi naturalistik. Kredibilitas penelitian menggunakan triangulasi data dan meminta informan membaca transkrip wawancara. Hasil penelitian menunjukkan psikodinamika remaja pelaku pencabulan diawali dengan membentuk moral disengagement sebelum terjadinya pencabulan, yaitu pada fase inisiasi.  Setelah pencabulan atau fase pasca pencabulan, remaja dapat merasa bersalah namun dapat pula tetap tidak merasa bersalah karena moral disengagement. Bentuk moral disengagement yang banyak digunakan partisipan adalah atribusi menyalahkan, dehumanisasi, distorsi konsekuensi. Implikasi teoritis adalah moral disengagement juga berfungsi mengatasi perasaan takut setelah pelanggaran moral dan bentuk moral disengagement yang berbeda dengan teori yaitu penghindaran aktif.Keywords: Moral disengagement; Remaja pelaku pencabulan; Studi kasus Instrumental
Harga diri dan citra tubuh sebagai prediktor kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja perempuan Prastuti, Endang; Mulyani, Hanifah Tri
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3472

Abstract

Abstract Adolescent girls in their development period are more vulnerable to have mental health problems, one of which is Body Dysmorphic Disorder. This is related to the condition of physical change experienced by adolescent girls. This study aims to determine how much self-esteem and body image can predict the tendency of Body Dysmorphic Disorder in adolescent girls, both partially and simultaneously. This study uses a quantitative approach to the type of correlational research. The sampling techniques used in this study were proportional stratified random sampling with the research subjects were 152 adolescent girls at SMAN 1 Purwosari. This study uses research instruments in the form of self-esteem scales, body image scales, and body dysmorphic disorder tendency scales, compiled by researchers. The results of statistical analysis conducted using multiple regression test showed that self-esteem and body image can predict the tendency of body dysmorphic disorder significantly and negatively. These results indicated that self-esteem and body image are important factors against the tendency of body dysmorphic disorder. Therefore, it is necessary for adolescent girls to understand the importance of self-esteem and the development of positive body image at the age of adolescence.Keywords: adolescent girls; body image; self esteem; tendencies to body dysmorphic disorder AbstrakRemaja perempuan dalam masa perkembangannya rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, salah satunya Body Dysmorphic Disorder. Hal ini berkaitan dengan perubahan kondisi fisik yang dialami oleh remaja perempuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana harga diri dan body image dapat menjadi prediktor dari kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja perempuan baik secara parsial maupun stimultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proportional stratified random sampling dengan subjek penelitian berjumlah 152 remaja perempuan di SMAN 1 Purwosari. Instrumen penelitian ini menggunakan skala harga diri, skala citra tubuh dan skala kecenderungan body dysmorphic disorder yang disusun oleh peneliti. Hasil analisis statistik menggunakan uji regresi ganda menunjukkan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi prediktor yang signifikan terhadap kecenderungan body dysmorphic disorder dengan arah pengaruh yang negatif. Hasil ini mengindikasikan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi faktor penting yang berperan sebagai prediktor kecenderungan body dysmorphic disorder. Implikasi temuan: perlu bagi remaja perempuan dalam memahami pentingnya penghargaan diri dan pengembangan citra tubuh yang positif pada usia remaja.Kata Kunci: citra tubuh; harga diri; kecenderungan body dysmorphic disorder; remaja perempuan
Resiliensi pada mahasiswa di Jakarta: Menilik peran komunitas Kinanthi, Melok Roro; Grasiaswaty, Novika; Tresnawaty, Yulistin
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3449

Abstract

AbstractCollege students are prone to depression so that they need to be resilient. The aim of this study is to examine whether community resilience affects resiliency among college students in Jakarta. With a quantitative approach, this study involved 265 participants, selected by convenience sampling. We applied Community Advancing Resilience Toolkit Assessment Survey (CARTAS) and Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) to gather data on the variables. Reliability coefficients for CARTAS were .656 to .806 for each dimension. While the reliability coefficient for CDRIS was .881. The regression analysis revealed community resilience has a significant positive contribution to individual resilience among participants. For each dimension, the contribution of community resilience to individual resilience was 7,9% to 12,2%. This result implied the community-based approach should be considered to develop an intervention for enhancing individual resilience.Keywords:  College student; Community resilience; Resilience. AbstrakPenelitian terdahulu mengungkapkan bagaimana resiliensi memainkan peranan penting bagi mahasiswa agar dapat berdaya dengan maksimal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran resiliensi komunitas terhadap resiliensi mahasiswa di Jakarta. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 265 partisipan yang dipilih melalui convenience sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah Community Advancing Resilience Toolkit Assessment Survey (CARTAS) and Connor Davidson Resilience Scale (CDRISC).  Koefisien reliabilitas Cronbach Alpha CARTAS berkisar antara 0,656- 0,806 untuk tiap-tiap dimensinya. Sementara itu, koefisien reliabilitas Cronbach Alpha CDRISC adalah 0,881. Analisis regresi menunjukkan resiliensi komunitas berkontribusi positif secara signifikan terhadap resiliensi mahasiswa di Jakarta, dengan kontribusi sebesar 7,9% hingga 12,2%. Temuan ini mengindikasikan pendekatan berbasis masyarakat atau komunitas dapat dipertimbangkan dalam penyusunan intervensi yang dapat meningkatkan resiliensi individu.Kata kunci: Mahasiswa; Resiliensi komunitas; Resiliensi.
Terapi Neuro Linguistic Programming (NLP) untuk meningkatkan resiliensi pada remaja dengan Non-Suicidal Self Injury (NSSI) Azalia, Sabella Sacharissa; Pratitis, Niken Titi
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.3 KB) | DOI: 10.30996/persona.v9i2.4099

Abstract

Abstract Adolescents with non-suicidal self-injury (NSSI) are vulnerable to resilience or resilience to their problems. Resilience is an important part for adolescents to have in order to overcome their problems. One of the psychological interventions that can be done is to increase resilience by using the Neuro-Linguistic Therapy Program (NLP), in which this therapy focuses on thinking patterns and information processing so that adolescents can practice independently when the desire to hurt themselves arises. This study aims to determine the effectiveness of NLP therapy to increase the resilience of adolescents with NSSI. This research is a quantitative study using a pre-experimental design approach with one group pretest-posttest design. The data collection method used was the Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ) scale to determine the NSSI behavior in adolescents, and to use a resilience scale before and after therapy to measure the results of NLP therapy treatment. Participants in this study were students with NSSI behavior consisting of three female students and two male students. The results showed that NLP therapy was effective in increasing the resilience of students with NSSI. The implications and limitations of the study are discussed.Keywords: Adolescent Resilience; Neuro Linguistic Programming Therapy; Non-Suicidal Self Injury. AbstrakRemaja dengan non-suicidal self-injury (NSSI) rentan dengan ketahanan atau resilien dalam menghadapi permasalahannya. Resilien menjadi bagian penting untuk dimiliki remaja agar dapat mengatasi permasalahannya. Salah satu Intervensi psikologi yang bisa dilakukan adalah meningkatkan resiliensi dengan menggunakan terapi Neuro Linguistic Program (NLP), yang mana terapi ini berfokus pada pola pikir dan pengolahan informasi sehingga remaja dapat mempraktikkan secara mandiri di saat keinginan untuk menyakiti diri sendiri muncul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi NLP untuk meningkatkan resiliensi remaja dengan NSSI. Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan pre-experimental design dengan one group pretest posttest design. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala Self Harm Behaviour Questionnare (SHBQ) untuk mengetahui perilaku NSSI pada remaja, serta menggunakan skala resiliensi sebelum terapi dan sesudah terapi untuk mengukur hasil dari perlakuan terapi NLP. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki perilaku NSSI yang terdiri dari tiga siswi perempuan dan dua siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terapi NLP efektif meningkatkan resiliensi siswa dengan NSSI. Implikasi dan keterbatasan penelitian dibahas.Kata Kunci: Non-Suicidal Self Injury; Resiliensi Remaja; Terapi Neuro Linguistic Programming
Meningkatkan harga diri anak slow learner melalui Child Centered Play Therapy Iswinarti, Iswinarti; Hormansyah, Roselina Dwi
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i2.3491

Abstract

AbstractA slow learner is a child who has a delayed learning process. It affects other abilities such as adaptation, communication, and personality that can affect self-esteem. High self-esteem will make someone able to think positively about themselves and be more confident. One treatment to improve self-esteem is using Child-Centered Play Therapy (CCPT). It helps children to explore themselves through play media. This study aimed to see the effect of CCPT on the improvement of self-esteem in slow learner children. This study designed by using a quasi-experiment with a control group also pre-test and post-test. Subjects were 20 people with 9-11 years age range who were identified as slow learners. There were two groups in this study: experimental groups and the control groups that each contained 10 children. Rosenberg Self-Esteem (RSE) was used as an instrument of self-esteem (?=0,85). The data analysis method used Wilcoxon and Mann-Whitney tests. It proved that Child-Centered Play Therapy (CCPT) was effective in increasing the self-esteem of children who were slow learners. Slow learner children can increase their self-esteem through fun activities. Keyword: Child centered play therapy; Self-esteem; Slow learner AbstrakAnak dengan slow learner adalah seorang anak yang mengalami keterlambatan dalam proses belajar. Keterlambatan ini berpengaruh terhadap kemampuan lainnya seperti adaptasi, komunikasi dan pribadi yang dapat memberi dampak terhadap harga diri. Anak dengan harga diri yang tinggi membuat mereka dapat berpikir positif mengenai dirinya sendiri dan lebih percaya diri. Salah satu bentuk penanganan untuk meningkatkan harga diri adalah menggunakan Child Centered Play Therapy (CCPT). Terapi ini membantu anak mengeksplorasi diri melalui media bermain. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh CCPT terhadap peningkatan harga diri anak slow learner. Desain penelitian menggunakan eksperimen quasi dengan kelompok kontrol serta pre-test dan post-test. Terdapat dua kelompok dalam penelitian, yaitu kelompok eksperimen yang terdiri atas 10 anak, dan kelompok kontrol juga terdiri atas 10 anak. Rosenberg Self Esteem (RSE) digunakan sebagai instrumen untuk mengukur harga diri (?=0,85). Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa Child Centered Play Therapy (CCPT) efektif meningkatkan harga diri anak slow learner. Anak slow learner dapat meningkat harga dirinya melalui terapi yang menyenangkan yaitu melalui bermain. Kata kunci: child centered play therapy; self-esteem; slow learner

Page 1 of 2 | Total Record : 11