cover
Contact Name
Sofyan Mahfudy
Contact Email
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Phone
+6281329446085
Journal Mail Official
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Editorial Address
LPPM, UIN Mataram, Jl. Pendidikan 35 Mataram 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
ISSN : 18583571     EISSN : 25809628     DOI : 10.20414/transformasi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 264 Documents
GenreMU say no to HIV: Community-based HIV health education and mentoring for adolescent prevention Angga Wilandika; Salami Salami
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.13191

Abstract

[Bahasa]: HIV masih menjadi permasalahan kesehatan global, termasuk di Indonesia, dengan remaja sebagai kelompok berisiko tinggi akibat rendahnya literasi kesehatan terkait HIV. Program GenreMU Say No to HIV dikembangkan sebagai upaya penguatan literasi kesehatan remaja melalui pendekatan berbasis komunitas. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, self-efficacy, serta perubahan cara pandang remaja dalam pencegahan HIV. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan community-based approach Research, yang memungkinkan keterlibatan aktif komunitas dalam setiap tahapan program, mulai dari identifikasi masalah hingga implementasi dan evaluasi. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan interaktif yang melibatkan diskusi, simulasi, serta pendekatan peer-education. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test terhadap 124 peserta remaja, dengan pengukuran perubahan skor pengetahuan dan self-efficacy. Hasil menunjukkan adanya peningkatan dalam aspek pengetahuan HIV serta self-efficacy dalam pencegahan perilaku berisiko setelah pelatihan. Implikasi dari program ini meliputi perlunya integrasi edukasi HIV berbasis mentoring kesehatan ke dalam kurikulum sekolah, penguatan program peer-education, serta dukungan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan akses remaja terhadap informasi kesehatan yang akurat dan inklusif. Kata Kunci: community-based research, literasi kesehatan, HIV, remaja, efikasi diri [English]: HIV remains a global health issue, including in Indonesia, with adolescents identified as a high-risk group due to low health literacy related to HIV. The GenreMU Say No to HIV program was developed to strengthen adolescent health literacy through a community-based approach. This program aims to enhance knowledge, self-efficacy, and adolescents' perspectives on HIV prevention. This community service activity was implemented using a Community-Based approach, emphasizing participatory planning, health education delivery, and outcome evaluation through pre- and post-activity assessments. The activities were conducted through interactive training sessions incorporating discussions, simulations, and a peer-education approach. The evaluation utilized a pre-test and post-test design involving 124 adolescent participants, assessing changes in knowledge and self-efficacy scores. The findings indicated a significant improvement in HIV knowledge and self-efficacy in preventing risky behaviors following the training. The program's implications highlight the need to integrate structured HIV health education and mentoring programs into school-based youth development initiatives, strengthen peer-education programs, and advocate for government policies that enhance adolescent access to accurate and inclusive health information. Keywords: community-based research, health literacy, HIV, adolescents, self-efficacy
Implementation of contextual and experimental learning through training on yogurt production for chemistry teachers in the MGMP Jakarta Selatan 2 Irma Kartika; Fera Kurniadewi; Muktiningsih Nurjayadi; Amarisa Nur Affifah; Ikhsandy Alfindo; Wandira Danil Ramadhan; Konita Adhani; Bella Pricilya Nababan; Azzahra Cahya Maulida; Tiwuk Susantiningsih
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.13237

Abstract

[Bahasa]: Kimia sebagai mata pelajaran yang bersifat abstrak dan konseptual seringkali dianggap kurang menarik oleh siswa karena didominasi metode hafalan dan minim penerapan kontekstual. Hasil wawancara dengan siswa SMA menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis eksperimen lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman, namun implementasinya terkendala oleh keterbatasan fasilitas laboratorium, sehingga menurunkan relevansi materi dan motivasi belajar siswa. Kondisi ini mendorong pengembangan kompetensi guru dalam praktikum berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui pembuatan yoghurt yang mengintegrasikan berbagai konsep Kimia serta isu lingkungan dan kesehatan berkelanjutan.  Menanggapi kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNJ telah menyelenggarakan pelatihan pembuatan yoghurt bagi 40 guru Kimia di lingkungan MGMP Kimia Jakarta Selatan 2. Kegiatan laboratorium awal telah dilakukan pada Mei–Juni 2024 di Laboratorium Biokimia FMIPA UNJ dan kegiatan inti PkM (meliputi pendahuluan, perencanaan dan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi) telah terlaksana pada Agustus 2024 di SMAN 70 Jakarta. Kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan dan kreativitas guru dalam merancang pembelajaran Kimia yang kontekstual dan aplikatif, sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas. Para peserta juga merekomendasikan keberlanjutan program melalui pendampingan intensif dan penyusunan modul praktikum berbasis CTL yang terstandar. Kata Kunci: Contextual Teaching and Learning, eksperimen, kimia, Kurikulum Merdeka Belajar, yoghurt [English]: The abstract and conceptual characteristics of chemistry often lead students to perceive the subject as less appealing, particularly when instruction relies heavily on rote memorization and lacks contextual relevance. Interviews with senior high school students indicate that experiment-based learning is more effective at enhancing understanding; however, its implementation is constrained by limited laboratory facilities, which reduces the relevance of the material and students’ motivation to learn. This condition encourages the development of teachers’ competencies in Contextual Teaching and Learning (CTL)–based laboratory activities through yogurt production, which integrates diverse chemistry concepts with environmental and sustainable health issues. To address this need, the UNJ Community Service (PkM) team conducted a yogurt production training program for 40 chemistry teachers from MGMP Jakarta Selatan 2. The preliminary laboratory activities were conducted from May to June 2024 at the Biochemistry Laboratory, Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA), Universitas Negeri Jakarta, while the main Community Service (PkM) activities—including introduction, planning and preparation, implementation, and evaluation—were carried out in August 2024 at SMAN 70 Jakarta. The program successfully improved teachers’ skills and creativity in designing contextual and applied chemistry learning in accordance with the principles of the Merdeka Belajar Curriculum, while also supporting the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 4 on quality education. The participants further recommended continuing the program through intensive mentoring and the development of standardized CTL-based laboratory modules. Keywords: Contextual Teaching and Learning, experiment, chemistry, Merdeka Belajar curriculum, yogurt
Developing the character profile of Pancasila and rahmatan lil'alaamin students through local wisdom-based project modules in Madrasah Ibtidaiyah Sri Fatmawati; Suhartono; Abdul Syahid
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14021

Abstract

[Bahasa]: Nilai-nilai Pancasila dan Rahmatan Lil’alamin merupakan landasan moral dan etika yang penting dalam pendidikan di Indonesia, khususnya di madrasah. Usaha meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai ini berarti memastikan bahwa peserta didik tidak hanya memahami terbatas teori, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan melakukan pendampingan terhadap implementasi kurikulum merdeka khususnya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil alamin (P5PPRA) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ar-Raudah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kegiatan PkM berbasis pada aset Madrasah sehingga dalam pelaksanaannya menggunakan metode ABCD (Asset Based Community Development). Hasil isian kuisioner terhadap warga madrasah menunjukkan bahwa MI Ar-Raudah memiliki potensi kearifan lokal yang dapat dijadikan tema pengembangan modul P5PPRA. Para guru guru MI mendapatkan pendampingan yang intensif terhadap penyusunan modul P5PPRA sampai dengan implementasi di kelas. Kegiatan ini menghasilkan modul P5PPRA dengan tema Kearifan Lokal yaitu Mengayam Purun dan Makanan Tradisional. Evaluasi terhadap profil pelajar menunjukan bahwa sebagian besar termasuk dalam kategori berkembang sesuai harapan (BSH) yaitu pada profil kerja sama, bernalar kritis, berkebhinekaan global, dan gotong royong, sedangkan profil mandiri masih termasuk dalam kategori sedang berkembang (SeB). Kata Kunci: kearifan lokal, madrasah, P5PPRA [English]: The values ​​of Pancasila and Rahmatan Lil'alamin are important moral and ethical foundations in education in Indonesia, especially in madrasahs. Efforts to improve understanding and application of these values ​​mean ensuring that students not only understand limited theory, but are also able to apply these values ​​in everyday life. This Community Service (PKM) activity aims to support the implementation of the independent curriculum, specifically the Pancasila Student Profile Strengthening Project and the Rahmatan lil alamin Student Profile (P5PPRA), at the Ar-Raudah Elementary Madrasah (MI) in Katingan Regency, Central Kalimantan. The PkM activity is based on Madrasah assets and utilises the ABCD (Asset-Based Community Development) method in its implementation. The results of the questionnaire completed by the madrasah community indicate that MI Ar-Raudah possesses the potential for local wisdom that can serve as a theme for developing the P5PPRA module. MI teachers receive intensive assistance in compiling the P5PPRA module, from implementation in the classroom. This activity resulted in a P5PPRA module on Local Wisdom, specifically focusing on Mengayam Purun and Traditional Food. Evaluation of student profiles reveals that most of them are categorised as developing as expected (BSH), specifically in the cooperation, critical reasoning, global diversity, and mutual cooperation profiles. The independent profile, however, remains in the developing category (SeB). Keywords: local wisdom, madrasah, P5PPRA
Utilizing artificial intelligence (AI) for the preparation of daily lesson plans in early childhood education (ECE) in Genteng sub-district Surabaya Sinarring Azi Laga; Deny Hermansyah; Ellen Theresia Sihotang; Yudha Delonix Renzina
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14067

Abstract

[Bahasa]: Perkembangan teknologi yang cukup pesat menuntut perlunya pengembangan bahan ajar melalui penyusunan rencana pembelajaran harian yang menarik dan relevan di PAUD Kecamatan Genteng Surabaya. Kurikulum yang diterapkan selama ini berbasis STEAM, tetapi pada praktiknya sebagian besar para guru PAUD masih belum memanfaatkan teknologi, khususnya AI-ChatGPT pada perencanaan pembelajaran. Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kompetensi guru-guru PAUD dalam memanfaatkan ChatGPT dalam rangka penyusunan rencana pembelajaran harian.  Pendekatan yang digunakan adalah Community Based Research melalui pelatihan dengan memadukan konsep dan praktik. Rancangan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, pendampingan, evaluasi dan monitoring serta pelaporan. Hasil dari pelatihan yang memadukan konsep dan praktik secara signifikan membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru-guru PAUD pada penyusunan rencana pembelajaran dengan memanfaatkan AI-ChatGPT. Peningkatan pengetahuan didasarkan pada perolehan nilai diatas 60 meningkat 97,10% diikuti dengan penurunan standar deviasi rata-rata nilai dari 10,72 menjadi 8,22 yang merefleksikan bahwa peningkatan pengetahuan merata pada setiap peserta pelatihan. Para guru PAUD juga terampil memanfaatkan ChatGPT pada penyusunan rencana pembelajaran dengan tingkat persentase 60%. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut maka pelatihan pemanfaatan AI-ChatGPT cukup efektif meningkatkan kompetensi para guru PAUD dalam merancang pembelajaran berbasis STEAM secara inovatif. Model pelatihan yang dilakukan secara praktis dapat diimplementasikan untuk memperkuat literasi digital yang mendukung kualitas perencanaan pembelajaran sejumlah PAUD. Kata Kunci: Artificial Intelligence (AI), ChatGPT, Pendidikan Anak Usia Dini, rencana pembelajaran harian [English]: The rapid development of technology has created a need to improve teaching materials through the preparation of engaging and relevant daily lesson plans in Early Childhood Education (ECE) institutions in the Genteng Sub-district, Surabaya. Although a STEAM-based curriculum has been implemented, in practice, most ECE teachers have not yet used technology, particularly AI-based tools such as ChatGPT, in their lesson planning. Therefore, this community service program aims to enhance ECE teachers’ competence in using ChatGPT to support the preparation of daily lesson plans. This community service program employed Community-Based Research through training that integrated conceptual understanding and hands-on practice. The program was designed through several stages, including preparation, implementation, mentoring, evaluation, and monitoring. The results show that the training significantly improved teachers’ knowledge and skills in using AI-ChatGPT for lesson planning. The improvement in knowledge was indicated by a 97.10% increase in the proportion of participants scoring above 60, accompanied by a decrease in the standard deviation from 10.72 to 8.22, reflecting a more even distribution of learning gains. In addition, 60% of the teachers demonstrated adequate skills in using ChatGPT for lesson planning. Based on these evaluation results, the AI-ChatGPT training was found to be effective in enhancing ECE teachers’ competence in designing innovative STEAM-based learning. The practical training model can be implemented to strengthen digital literacy and support the quality of lesson planning in ECE institutions. Keywords: Artificial Intelligence (AI), ChatGPT, Early Childhood Education, daily lesson plans
Strengthening communities of practice through the Bintang innovation program: Literacy and numeracy tutoring based on culturally responsive digital literacy media and platforms Atika Susanti; Nurul Renaningtias; Ike Kurniawati
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14077

Abstract

[Bahasa]: Penguatan literasi dan numerasi di sekolah dasar membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan responsif terhadap budaya lokal, mengingat banyak guru masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi digital secara efektif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan komunitas praktisi dalam Program Inovasi BINTANG (Bimbingan Belajar Literasi dan Numerasi) bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan media dan platform digital berbasis budaya lokal. Metode yang digunakan adalah pendampingan intensif melalui pendekatan observasional dan modeling, dikembangkan dalam empat fase utama: fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase reproduksi (reproduction phase), dan fase motivasi (motivation phase). Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta pada seluruh indikator materi pelatihan, terutama pada aspek keterlibatan fitur digital dan integrasi budaya lokal dalam pembelajaran, serta antusiasme tinggi selama diskusi dan praktik penggunaan platform. Kegiatan ini juga membentuk komunitas praktisi yang aktif dan kolaboratif sebagai wadah berkelanjutan untuk berbagi praktik baik. Model pendampingan ini dapat direplikasi di sekolah lain, dengan rekomendasi agar media dan platform digital yang telah dipelajari diterapkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran literasi dan numerasi berbasis budaya. Kata Kunci: literasi, numerasi, platform digital, budaya lokal, komunitas praktisi [English]: Strengthening literacy and numeracy in primary schools requires a contextual and culturally responsive learning approach, as many teachers still face challenges in effectively integrating digital technology. This community service activity, conducted through training and mentoring of a practitioner community in the BINTANG Innovation Program (Guidance for Literacy and Numeracy Learning), aims to enhance teachers’ competencies in utilizing media and digital platforms grounded in local culture. The method applied is intensive mentoring using observational and modeling approaches, developed in four main phases: attentional phase, retention phase, reproduction phase, and motivation phase. Evaluation results show an improvement in participants’ understanding across all training material indicators, particularly regarding digital feature engagement and integration of local culture into learning, accompanied by high enthusiasm during discussions and practical platform use. This activity also established an active and collaborative practitioner community as a sustainable forum for sharing best practices. The mentoring model can be replicated in other schools, with the recommendation that the learned media and digital platforms be applied continuously in literacy and numeracy learning grounded in local culture. Keywords: literacy, numeracy, digital platform, local culture, community of practitioners
From concepts to practice: Strengthening teachers’ capacity for sustainable science education Shinta Purnamasari; Ayu Ratna Santika; Andinisa Rahmaniar; Abdul Latip; Wiwit Yuli Lestari; Aceng Muhammad Rohmat Hidayat; Raihan Muhammad Ramdan; Nawa Hilmi Syarifatoha; Siti Nazila Anwar; Annisa Alyatunnawal; Sabrina Aprilla Safarizi
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14151

Abstract

[Bahasa]: Education for Sustainable Development (ESD) merupakan sarana strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam proses pendidikan. Namun, penerapan ESD di sekolah masih menghadapi tantangan, terutama pada keterbatasan pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang pembelajaran kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas guru IPA dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip ESD melalui pelatihan berbasis praktik yang relevan dan kolaboratif. Pelatihan diikuti oleh 12 guru IPA di Kabupaten Garut, dengan tiga tahapan utama: pembekalan konsep, on-the-job training, dan simulasi proyek pembelajaran. Hasil evaluasi menunjukkan dampak positif, dengan lebih dari 80% peserta merasakan manfaat langsung, menilai kegiatan sesuai kebutuhan, dan menyatakan kepuasan serta kesiapan mengintegrasikan ESD. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan yang bersifat aplikatif dan berbasis pengalaman nyata mampu meningkatkan pemahaman konseptual, keterampilan pedagogis, serta kesiapan guru dalam mengintegrasikan ESD ke dalam pembelajaran IPA. Program ini memberikan dasar bagi pengembangan program pelatihan ESD berkelanjutan yang dapat diadaptasi dan direplikasi di berbagai konteks sekolah, serta memperkuat kemitraan sekolah–perguruan tinggi dalam mendukung transformasi pendidikan menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kata Kunci: Education for Sustainable Development (ESD), pembelajaran IPA, penguatan kapasitas guru [English]: Education for Sustainable Development (ESD) serves as a strategic means to integrate sustainability values into the educational process. However, ESD implementation in schools still faces challenges, particularly teachers’ limited understanding and skills in designing contextual learning. This community service program aimed to strengthen science teachers’ capacity to implement ESD principles through practice-based and collaborative training. The program involved 12 science teachers from Garut Regency and consisted of three main stages: conceptual briefing, on-the-job training, and a project-based learning simulation. Evaluation results showed positive impacts, with more than 80% of participants reporting direct benefits, relevance to their needs, satisfaction, and readiness to integrate ESD into science teaching. These findings indicate that experiential training effectively enhances teachers’ conceptual understanding and pedagogical skills. This program provides a basis for developing sustainable and replicable ESD training and for strengthening school–university partnerships to support educational transformation toward achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: Education for Sustainable Development (ESD), science learning, teacher capacity strengthening
Enhancing geophysical literacy awareness and student interest through hands-on instrumentation training for high school students in Sambas regency Irfana Diah Faryuni; Andi Ihwan; Muh. Ishak Jumarang; Muliadi; Yoga Satria Putra; Joko Sampurno; Riza Adriat; Zulfian; Radhitya Perdhana; Muhardi; Taufik Nur Fitrianto; Tiara Nusa Putri
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14198

Abstract

[Bahasa]: Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memiliki potensi geologi dan hidrologi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran kontekstual dalam pendidikan geosains. Namun, literasi geosains siswa SMA di wilayah ini masih menghadapi tantangan, terutama akibat keterbatasan pembelajaran berbasis lapangan dan minimnya pengenalan instrumen ilmiah. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang mencakup tahap persiapan, pelaksanaan lapangan, dan evaluasi. Kegiatan dilakukan melalui perencanaan kolaboratif dengan sekolah mitra serta demonstrasi berbagai instrumen geofisika, antara lain metode resistivitas, flowmeter, dan Automatic Weather Station (AWS), disertai pengenalan identifikasi batuan menggunakan lup geologi dan komparator batuan. Evaluasi program dilakukan melalui kuesioner pascakegiatan yang mencakup skala Likert empat poin, pertanyaan nominal, dan respons terbuka untuk mengukur tingkat pengenalan awal, ketertarikan siswa, aktivitas yang paling berkesan, serta minat melanjutkan pembelajaran di bidang geofisika. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa lebih dari 70% peserta menyatakan tingkat ketertarikan dan persepsi manfaat yang tinggi terhadap pembelajaran berbasis pengalaman, khususnya dalam memahami aplikasi geosains dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa demonstrasi instrumen dan pemanfaatan konteks geologi lokal dipersepsikan positif sebagai media pembelajaran geosains. Selain itu, kegiatan ini menegaskan potensi Kabupaten Sambas sebagai “laboratorium alam” yang strategis untuk mendukung penguatan pendidikan kebumian, terutama di wilayah dengan kerentanan lingkungan dan kebencanaan. Kata Kunci: Geofisika, edukasi lapangan, Kabupaten Sambas [English]: Sambas Regency, West Kalimantan, possesses substantial geological and hydrological potential that can be utilized as a contextual learning resource in geoscience education. However, geoscience literacy among high school students in this region remains limited, primarily due to restricted access to field-based learning and limited exposure to scientific equipment. This community service program was implemented using a Participatory Action Research (PAR) approach, consisting of preparation, field implementation, and evaluation stages. The activities involved collaborative planning with partner schools and hands-on demonstrations of geophysical instruments, including electrical resistivity equipment, flow meters, and an Automatic Weather Station (AWS), as well as introductory rock identification using geological hand lenses and rock comparators. Program evaluation was conducted through a post-activity questionnaire comprising four-point Likert-scale items, nominal questions, and open-ended responses to assess students’ initial exposure, interest, most memorable activities, and motivation to engage further with geophysics learning. The results indicated that more than 70% of the participants reported high levels of interest and perceived benefits from the experiential learning activities, particularly in understanding the real-world applications of geoscience. These findings suggest that students positively perceive instrument-based demonstrations and the use of local geological contexts as effective learning media. Furthermore, this program highlights the potential of Sambas Regency as a “natural laboratory” for strengthening earth science education, especially in regions vulnerable to environmental and disaster-related challenges. Keywords: Geophysics, field education, Sambas Regency
Implementing cognitive diagnostic assessment training to improve middle school science teachers’ assessment practices in Lima Puluh Kota regency Widia Kemala Sari; Selma Riyasni; Rani Oktavia
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14269

Abstract

[Bahasa]: Asesmen diagnostik berfungsi mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa secara tepat. Namun, guru-guru di Kabupaten Lima Puluh Kota masih menghadapi kendala dalam perancangannya. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kompetensi guru IPA dalam menyusun asesmen diagnostik kognitif sehingga mereka mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa secara lebih akurat dan komprehensif. Pengabdian menggunakan metode PAR (Participatory Action Research) dengan kegiatan pelatihan terdiri dari beberapa materi yaitu: (1) Pengenalan Anderson Krathwohl Taxonomy (AKT) dan 24 Kotak Proses Berpikir, (2) Penyusunan ATP dengan AKT menggunakan Scaffolding; dan (3) Diagnosis keterampilan kognitif siswa dilakukan menggunakan teknik Linear Extrapolation (LE), yaitu metode statistik sederhana untuk memperkirakan level kognitif berdasarkan data yang tersedia. Data kegiatan pengabdian dikumpulkan dari tiga instrumen: 1) Angket respon kegiatan; Hasil angket menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap kegiatan, dengan 97% responden menyatakan tanggapan positif dan 3% bersikap netral. 2) Angket persepsi kemampuan diagnostik; mayoritas guru menilai dirinya memiliki kemampuan diagnostik yang tinggi, namun masih menunjukkan kebutuhan akan penguatan dalam aspek teknologi asesmen. Analisis gender dan profesionalitas guru secara statistik dengan uji-t menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. 3) Pretest dan Posttest; terjadi peningkatan pemahaman guru sebesar 29%, dari rerata skor 84,5 menjadi 118,5 dalam penyusunan asesmen diagnostik. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis PAR efektif dalam meningkatkan keterampilan diagnostik guru, terutama dalam merancang asesmen kognitif berbasis taksonomi berpikir. Kata Kunci: asesmen diagnostik, guru IPA, Participatory Action Research (PAR), scaffolding [English]: Diagnostic assessment functions to identify students’ learning needs accurately. However, teachers in Lima Puluh Kota Regency still face challenges in designing such assessments. This community service activity aims to enhance science teachers' competence in developing cognitive diagnostic assessments to more accurately and comprehensively identify students’ learning needs. The program employed the Participatory Action Research (PAR) method, with training activities consisting of several components: (1) an introduction to the Anderson–Krathwohl Taxonomy (AKT) and the 24 cognitive process cells; (2) the development of Learning Objective Flow (ATP) based on AKT using a scaffolding approach; and (3) the diagnosis of students’ cognitive skills using the Linear Extrapolation (LE) technique, a simple statistical method for estimating cognitive levels based on available data. Data from the community service activities were collected using three instruments: (1) an activity response questionnaire, the results of which showed a high level of satisfaction, with 97% of respondents expressing positive responses and 3% remaining neutral; (2) a diagnostic ability perception questionnaire, in which most teachers rated their diagnostic ability as high but still indicated a need for strengthening assessment-related technological aspects. Statistical analysis of gender and teacher professionalism using a t-test showed no significant differences; and (3) pretest and posttest results, which indicated a 29% increase in teachers’ understanding, with the average score rising from 84.5 to 118.5 in the development of diagnostic assessments. These findings demonstrate that PAR-based training is efficacious in improving teachers’ diagnostic skills, particularly in designing cognitive assessments based on thinking taxonomies. Keywords: diagnostic assessment, science teachers, Participatory Action Research (PAR), scaffolding
Training on recycling waste into marketable products at the “Taman Resik Lestari central waste bank and Sanggar Pawuhan” Bantul Trio Ardhian; Heri Maria Zulfiati; Azfa Mutiara Ahmad Pabulo; Elyas Djufri
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14278

Abstract

[Bahasa]: Sampah merupakan salah satu persoalan lingkungan mendesak di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bantul, yang hingga kini masih didominasi praktik pengumpulan dan pemilahan sederhana tanpa memberikan nilai tambah ekonomi. Program pengabdian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan keterampilan dan kreativitas mitra dalam mendaur ulang sampah menjadi produk inovatif bernilai jual tinggi, (2) memberikan akses pada teknologi sederhana untuk mendukung efisiensi produksi, dan (3) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, aksi, observasi, dan refleksi secara partisipatif. Mitra kegiatan, yaitu Bank Sampah Induk “Taman Resik Lestari” dan Sanggar Pawuhan Kelola Sampah Jadi Berkah, terlibat aktif sejak tahap identifikasi permasalahan dan kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan daur ulang, penggunaan teknologi sederhana, hingga evaluasi hasil dan perumusan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterampilan mitra, khususnya keterampilan teknis dan kreativitas dalam mengolah plastik bekas menjadi produk kalung dengan variasi desain, anyaman, dan warna yang lebih estetik. Akses terhadap teknologi sederhana seperti mesin pencacah plastik dan alat cetak manik-manik berhasil meningkatkan efisiensi produksi, ditandai dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, kualitas produk yang lebih baik, dan kapasitas produksi yang meningkat dua kali lipat. Temuan utama dari program ini adalah terbentuknya ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang tidak hanya menekankan pada aspek teknis produksi, tetapi juga mencakup pemberdayaan sosial, dukungan kelembagaan, dan strategi pemasaran digital. Implikasi dari kegiatan ini adalah perlunya replikasi model pelatihan dan pemberdayaan ini di komunitas lain sebagai upaya memperkuat ekonomi sirkular berbasis masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian SDG 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan serta SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Kata Kunci: pelatihan daur ulang, bank sampah, kreativitas, teknologi sederhana, kesadaran masyarakat [English]: Waste is a major environmental challenge in Indonesia, including Bantul Regency, where waste management remains dominated by basic collection and sorting with limited economic value. This community service programme aims to (1) improve partners’ skills and creativity in recycling waste into marketable products, (2) provide access to simple technologies to enhance production efficiency, and (3) increase public awareness of sustainable waste management. The programme applied a Participatory Action Research (PAR) approach through iterative stages of planning, action, observation, and reflection. Partners, namely the “Taman Resik Lestari” Central Waste Bank and Sanggar Pawuhan Kelola Sampah Jadi Berkah, were actively involved from problem identification and training design to implementation and evaluation. The results show significant improvements in partners’ technical skills and creativity in producing recycled plastic necklaces with better designs and colour variations. The use of simple technologies, including plastic shredders and bead-moulding tools, reduced production time, improved product quality, and doubled production capacity. Overall, the programme contributed to the development of a community-based waste management ecosystem that integrates technical, social, and economic empowerment, supporting SDG 12 and SDG 8. Keywords: recycling training, waste banks, creativity, simple technology, public awareness
Integrated digital literacy, IoT deployment, and digital marketing for the competitiveness of smart agricultural villages Rizqa Ula Fahadha; Sutarto
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14340

Abstract

[Bahasa]: Kemajuan teknologi digital menawarkan peluang baru bagi sektor pertanian; namun, petani di Desa Sukamaju, Kabupaten Bandung, terus menghadapi keterbatasan akses dan kapasitas dalam memanfaatkan perangkat Internet of Things (IoT) dan platform pemasaran digital. Inisiatif pengabdian masyarakat ini diimplementasikan menggunakan pendekatan Penelitian Aksi Partisipatif (PAR) untuk memastikan bahwa petani bertindak sebagai pencipta bersama yang aktif, bukan penerima pasif. Intervensi tersebut terdiri dari pelatihan produksi berbasis IoT yang terstruktur, peningkatan kapasitas pemasaran digital, dan pendampingan berulang yang didukung oleh evaluasi pra-uji dan pasca-uji. Hasil menunjukkan peningkatan substansial dalam literasi digital dan kemampuan operasional, dengan skor rata-rata meningkat dari 48,6 menjadi 81,3. Di luar literasi, program ini menghasilkan peningkatan pendapatan penjualan sebesar 23% dan pengurangan penggunaan air irigasi sebesar 18%, menunjukkan peningkatan baik dalam akses pasar maupun efisiensi sumber daya. Strategi partisipatif lebih lanjut mengurangi kendala infrastruktur lokal dengan mengintegrasikan penggunaan perangkat bersama, modul pelatihan offline, dan mekanisme dukungan berbasis masyarakat. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi aplikasi IoT dan pemasaran digital memberikan landasan yang terukur untuk keberlanjutan pedesaan jangka panjang dan daya saing di sektor pertanian. Kata Kunci: Internet of Things, literasi digital, pemberdayaan masyarakat, pemasaran digital, smart farming [English]: Advances in digital technology offer new opportunities for the agricultural sector; however, farmers in Sukamaju Village, Bandung Regency, continue to face limited access and capacity in utilizing Internet of Things (IoT) devices and digital marketing platforms. This community service program was implemented using the Participatory Action Research (PAR) approach to ensure that farmers act as active co-creators rather than passive recipients. The intervention comprises structured IoT-based production training, digital marketing capacity-building, and repetitive mentoring, all supported by pre- and post-test evaluations. Results showed substantial improvements in digital literacy and operational ability, with the average score increasing from 48.6 to 81.3. Beyond literacy, the program led to a 23% increase in sales revenue and an 18% reduction in irrigation water usage, demonstrating improvements in both market access and resource efficiency. Participatory strategies further reduce local infrastructure constraints by integrating the use of shared devices, offline training modules, and community-based support mechanisms. These results demonstrate that integrating IoT applications and digital marketing provides a measurable foundation for long-term rural sustainability and competitiveness in the agricultural sector. Keywords: Internet of Things, digital literacy, community empowerment, digital marketing, smart farming