cover
Contact Name
Sofyan Mahfudy
Contact Email
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Phone
+6281329446085
Journal Mail Official
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Editorial Address
LPPM, UIN Mataram, Jl. Pendidikan 35 Mataram 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
ISSN : 18583571     EISSN : 25809628     DOI : 10.20414/transformasi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 264 Documents
Mangrove planting in the coastal area of the Pelauw village, Haruku Island, Maluku as an effort to prevent seawater intrusion Zulfiah; Samsul Bahri; Delpina Nggolaon; Stevi Silahooy; Gede Wiratma Jaya; Aditya Ramadhan; Ervina Rumpakwakra
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14365

Abstract

[Bahasa]: Keberadaan aktivitas masyarakat pesisir dan perubahan iklim global dapat menimbulkan permasalahan jangka panjang di wilayah pesisir, seperti abrasi dan intrusi air laut. Permasalahan ini dijumpai di Negeri Pelauw, Pulau Haruku, Maluku yang menunjukan adanya indikasi intrusi air laut di beberapa lokasi sumur. Beberapa studi terdahulu menunjukan bahwa pengaruh intrusi air laut semakin kecil ketika eksosistem mangrove semakin lebar. Atas dasar itu kegiatan pengabdian ini mencoba melakukan penanaman mangrove dalam upaya mengurangi dampak intrusi air laut dan abrasi. Kegiatan ini dilandaskan pada metode community based participatory research (CBPR) yang melibatkan partisipasi aktif kelompok nelayan dan pemerintah setempat. Sebanyak 500 bibit diperoleh dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Waihapu Batu Merah, Ambon dan ditanam di dua lokasi yaitu, di Teluk Namaea (100 buah) dan Tanjung Pesona (400 buah). Dua lokasi penanaman tersebut ditentukan berdasarkan hasil diskusi bersama dengan mitra dan pemerintah desa, analisis citra satelit, dan karakteristik sedimen. Kegiatan penanaman mangrove dilaksanakan selama dua hari pada Juli 2025 dengan mempertimbangkan kondisi pasang surut sekitar pantai. Penanaman hari pertama di Teluk Namaea pada pagi hari dan dianjutkan pada sore hari di Tanjung Pesona dengan keterlibatan mitra dan pemerintah desa. Hari kedua penanaman dilanjutkan di Tanjung Pesona yang dibantu juga oleh aparat TNI. Setelah penanaman, monitoring pertumbuhan mangrove dilakukan melalui komunikasi dengan perwakilan masyarakat Pelauw. Hasil evaluasi pertumbuhan mangrove pada bulan pertama, menunjukkan pertumbuhan yang baik, hanya ditemukan beberapa pohon yang mati. Kegiatan ini berharap mangrove bisa tumbuh dan berkembang serta mampu menurunkan dampak intrusi air laut, meskipun dalam jangka waktu yang panjang. Kata Kunci: air tanah, intrusi air laut, mangrove, sedimen substrat, Pulau Haruku [English]: Coastal community activities and global climate change may lead to enduring issues in coastal regions, including erosion and seawater intrusion. We identified this issue at Negeri Pelauw, Haruku Island, Maluku, where we observed seawater intrusion in some dug wells. Prior studies have demonstrated that the impact of seawater intrusion diminishes as the mangrove ecosystem expands. This community service initiative aimed to plant mangroves to mitigate the effects of seawater intrusion and erosion. This project utilized the Community-Based Participatory Research (CBPR) methodology, engaging fisherman groups, coastal communities, and governmental entities. A total of 500 seedlings were acquired from “Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS),” Waihapu, Batu Merah, Ambon, and planted at two sites: Namaea Bay (100 seedlings) and Tanjung Pesona (400 seedlings). The two planting locations were determined based on discussions with community members and the village government, satellite imagery analysis, and sediment characteristics. The mangrove planting activities were carried out over two days in July 2025, taking into account tidal conditions around the coast. The first day's planting took place in the morning at Namaea Bay, followed by the afternoon at Tanjung Pesona, with partners and the local government involved. The second day's planting continued in Tanjung Pesona, also assisted by Indonesian National Armed Forces (TNI) personnel. The first month's monitoring on mangrove growth showed that it was growing well, with only a few dead trees. Perhaps the mangrove ecosystem will continue to expand and develop, potentially mitigating the impact of seawater intrusion. Keywords: groundwater, seawater intrusion, mangroves, substrate sediment, Haruku Island
Improving students' health independence through healthy student cadre training at the Bin Baz Islamic boarding school Ery Fatmawati; Dyah Muliawati; Surip Haryani
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14373

Abstract

[Bahasa]: Pesantren sebagai ekosistem pendidikan berasrama memiliki potensi besar sekaligus tantangan kesehatan, mulai dari penyakit menular berbasis lingkungan hingga isu kesehatan remaja putri seperti anemia dan kebersihan personal. Kondisi ini menuntut model penguatan kemandirian kesehatan berbasis komunitas melalui kader internal pesantren. Kader berperan sebagai pendamping sebaya yang memperkuat Poskestren maupun Posyandu Remaja, memastikan program berjalan rutin, terukur, serta selaras kebijakan sekolah-sehat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemandirian kesehatan santri melalui Pelatihan Kader Santri Sehat di Pesantren Islamic Center Bin Baz. Kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan 30 santri putri kelas XI dan XII. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi kelompok, simulasi, praktik, serta peer support. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, dengan analisis uji statistik paired sample t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan kesehatan reproduksi (rata-rata pre-test 80,13 menjadi 96,17; p = 0,000) dan keterampilan pemeriksaan dasar seperti pengukuran berat badan, LILA, lingkar perut, dan tekanan darah (p < 0,05). Mayoritas peserta memiliki tingkat kematangan emosional sedang hingga tinggi, yang mendukung peran mereka sebagai kader santri sehat. Kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan kader santri sehat efektif meningkatkan kemandirian kesehatan santri di pesantren. Program ini berpotensi dijadikan model intervensi berkelanjutan dengan dukungan kelembagaan pesantren dan kolaborasi tenaga kesehatan. Kata kunci: kemandirian kesehatan; kader santri; posyandu remaja; pesantren; pelatihan kesehatan. [English]: Islamic boarding schools (pesantren) possess significant potential as educational environments but also encounter health issues, ranging from infectious diseases transmitted through the environment to distinct female health concerns like anaemia and personal hygiene. Therefore, it is crucial to enhance community health independence via internal Islamic boarding school cadres. This community service initiative sought to enhance students' health autonomy via the Healthy Student Cadre Training at the Bin Baz Islamic Centre in Islamic boarding schools. Using a Participatory Action Research (PAR) methodology, the initiative engaged 30 female students in 11th and 12th grades. Training techniques involved lectures, group discussions, simulations, hands-on sessions, and peer assistance. Assessment was carried out using pre- and post-tests, followed by statistical analysis using paired-samples t-tests. Findings indicated a notable increase in reproductive health knowledge (80.13 to 96.17; p < 0.001) and an improvement in fundamental examination skills, including weight, MUAC, waist circumference, and blood pressure assessments (p < 0.05). The majority of participants exhibited moderate to high levels of emotional maturity, reinforcing their position as health cadres. The results indicate that cadre training significantly improves the health independence of Islamic boarding school students and shows promise as a sustainable intervention model with the backing of institutional and professional healthcare. Key words: health independence, student cadres, adolescent health post, pesantren, health training
Innovations in the processing of local food-based supplementary feeding programs (PMT) at the posyandu in Astambul sub-district Banjar Regency Sari Wahyunita; Eka Rusliana; Aulia Ramadhani
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14388

Abstract

[Bahasa]: Posyandu memiliki peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang balita dan pencegahan stunting, namun partisipasi masyarakat di Kecamatan Astambul masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya inovasi dalam pemberian makanan tambahan (PMT). Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan aktivitas posyandu melalui pemanfaatan pangan lokal, yaitu daun kelor (Moringa oleifera) dan ikan patin (Pangasius sp.). Metode pelaksanaan yaitu penyuluhan kesehatan, pelatihan pengolahan PMT lokal, serta uji organoleptik dengan melibatkan 55 ibu balita. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest–posttest. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan ibu setelah intervensi. Nilai rata-rata pretest 59,25 ± 12,75 meningkat menjadi 85,41 ± 8,36 (p = 0,000; Cohen’s d = 2,45). Penyuluhan tentang PMT berbasis pangan lokal juga meningkatkan nilai rata-rata dari 61,80 ± 11,32 menjadi 87,25 ± 7,94 (p = 0,000; Cohen’s d = 2,33). Uji organoleptik menunjukkan penerimaan tinggi terhadap nugget ikan patin daun kelor dan bubur nasi daun kelor, terutama pada aspek rasa dan warna. Temuan ini membuktikan bahwa inovasi PMT berbasis pangan lokal dapat diterima masyarakat dan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan di posyandu. Program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita, tetapi juga memperkuat layanan posyandu dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan stunting. Kata Kunci: Posyandu, edukasi gizi, pangan lokal, Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) [English]: Posyandu plays a crucial role in monitoring child growth and development and in preventing stunting; however, community participation in Astambul Subdistrict remains low. One contributing factor is the limited innovation in supplementary feeding programs (PMT). This community service program aimed to enhance Posyandu activities by utilizing local food resources, specifically moringa leaves (Moringa oleifera) and catfish (Pangasius sp.). The program was implemented through health education, training on local food–based PMT processing, and organoleptic testing involving 55 mothers of toddlers. Evaluation was conducted using a pretest–posttest design. The results showed a significant increase in maternal knowledge following the intervention, with mean pretest scores of 59.25 ± 12.75 increasing to 85.41 ± 8.36 (p = 0.000; Cohen’s d = 2.45). Education on local food–based PMT also significantly improved knowledge scores from 61.80 ± 11.32 to 87.25 ± 7.94 (p = 0.000; Cohen’s d = 2.33). Organoleptic evaluation indicated high acceptance of moringa–catfish nuggets and moringa rice porridge, particularly in terms of taste and color. These findings demonstrate that local food–based PMT innovations are well accepted by the community and have strong potential for sustainable implementation in Posyandu. The program not only improved maternal knowledge and skills but also strengthened Posyandu services in supporting nutritional improvement and stunting prevention. Keywords: Posyandu, nutrition education, local food, supplementary feeding programs (PMT)
Enhancing coastal women’s capacity in Medan through healthy coconut balm production for menstrual pain management and reproductive health Syarifah; R. Kintoko Rochadi; Henny Sri Wahyuni; Nirma Juli Saputri; Mei Thalia Sembiring; Viola Agnesya Br Sembiring; Nabila Rizqi Lingga
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.15039

Abstract

[Bahasa]: Perempuan pesisir kerap menghadapi keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan, termasuk dalam penanganan dismenore yang sering dianggap wajar sehingga kurang ditangani optimal. Temuan awal di Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Medan menunjukkan sebagian besar anggota belum memahami solusi non-farmakologis dan masih bergantung pada obat kimia atau praktik tradisional sederhana. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan serta membekali keterampilan praktis produksi melalui edukasi partisipatif yang memperkenalkan produk berbahan alam lokal, yaitu Healthy Coconut Balm. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi interaktif, pemutaran video tutorial, pelatihan langsung pembuatan produk, serta pre-test dan post-test untuk menilai efektivitas kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 19,33 menjadi 27,85 meskipun tidak signifikan secara statistik (p=0,078), namun tetap relevan secara praktis. Selain itu, seluruh peserta berhasil mempraktikkan pembuatan produk dengan antusiasme tinggi. Uji organoleptik menunjukkan penerimaan yang cukup baik terhadap aroma, warna, tekstur, dan sensasi hangat balsam. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kapasitas perempuan pesisir dalam menjaga kesehatan reproduksi secara alami, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis bahan lokal. Dalam jangka pendek, kegiatan ini terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi sederhana, sementara dalam jangka panjang berpotensi mendorong kemandirian ekonomi melalui komersialisasi produk herbal. Program ini turut mendukung penguatan kapasitas komunitas dan agenda pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan, kesetaraan gender, dan kemandirian ekonomi. Kata Kunci: Balsem herbal, dismenore, kesehatan reproduksi, pemberdayaan masyarakat, perempuan pesisir [English]: Coastal women often face limited access to health information and services, particularly in managing dysmenorrhea, which is frequently considered a normal condition and therefore inadequately addressed. Preliminary findings at the Indonesian Coastal Women’s Association (KPPI) in Medan indicate that most members have limited knowledge of non-pharmacological solutions and still rely on chemical medications or simple traditional practices. This community service program aimed to improve health literacy and provide practical production skills through participatory education by introducing a local natural-based product, namely Healthy Coconut Balm. The implementation methods included lectures, interactive discussions, video tutorials, hands-on training in product preparation, and pre-tests and post-tests to evaluate program effectiveness. The results showed an increase in the average knowledge score from 19.33 to 27.85, although it was not statistically significant (p = 0.078), it remained practically relevant. In addition, all participants successfully practiced product production with high enthusiasm. Organoleptic tests indicated good acceptance in terms of aroma, color, texture, and warming sensation. This initiative not only enhanced coastal women's capacity to maintain reproductive health through natural approaches but also opened opportunities for creative economic activities based on local resources. In the short term, the program improved participants’ knowledge and basic production skills, while in the long term, it has the potential to promote economic independence through the commercialization of herbal products. Furthermore, this program supports community capacity building and sustainable development goals in health, gender equality, and economic empowerment. Keywords: herbal balm, dysmenorrhea, reproductive health, community empowerment, coastal women