cover
Contact Name
Sofyan Mahfudy
Contact Email
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Phone
+6281329446085
Journal Mail Official
jurnaltransformasi@uinmataram.ac.id
Editorial Address
LPPM, UIN Mataram, Jl. Pendidikan 35 Mataram 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
ISSN : 18583571     EISSN : 25809628     DOI : 10.20414/transformasi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 276 Documents
Mangrove planting in the coastal area of the Pelauw village, Haruku Island, Maluku as an effort to prevent seawater intrusion Zulfiah; Samsul Bahri; Delpina Nggolaon; Stevi Silahooy; Gede Wiratma Jaya; Aditya Ramadhan; Ervina Rumpakwakra
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14365

Abstract

[Bahasa]: Keberadaan aktivitas masyarakat pesisir dan perubahan iklim global dapat menimbulkan permasalahan jangka panjang di wilayah pesisir, seperti abrasi dan intrusi air laut. Permasalahan ini dijumpai di Negeri Pelauw, Pulau Haruku, Maluku yang menunjukan adanya indikasi intrusi air laut di beberapa lokasi sumur. Beberapa studi terdahulu menunjukan bahwa pengaruh intrusi air laut semakin kecil ketika eksosistem mangrove semakin lebar. Atas dasar itu kegiatan pengabdian ini mencoba melakukan penanaman mangrove dalam upaya mengurangi dampak intrusi air laut dan abrasi. Kegiatan ini dilandaskan pada metode community based participatory research (CBPR) yang melibatkan partisipasi aktif kelompok nelayan dan pemerintah setempat. Sebanyak 500 bibit diperoleh dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Waihapu Batu Merah, Ambon dan ditanam di dua lokasi yaitu, di Teluk Namaea (100 buah) dan Tanjung Pesona (400 buah). Dua lokasi penanaman tersebut ditentukan berdasarkan hasil diskusi bersama dengan mitra dan pemerintah desa, analisis citra satelit, dan karakteristik sedimen. Kegiatan penanaman mangrove dilaksanakan selama dua hari pada Juli 2025 dengan mempertimbangkan kondisi pasang surut sekitar pantai. Penanaman hari pertama di Teluk Namaea pada pagi hari dan dianjutkan pada sore hari di Tanjung Pesona dengan keterlibatan mitra dan pemerintah desa. Hari kedua penanaman dilanjutkan di Tanjung Pesona yang dibantu juga oleh aparat TNI. Setelah penanaman, monitoring pertumbuhan mangrove dilakukan melalui komunikasi dengan perwakilan masyarakat Pelauw. Hasil evaluasi pertumbuhan mangrove pada bulan pertama, menunjukkan pertumbuhan yang baik, hanya ditemukan beberapa pohon yang mati. Kegiatan ini berharap mangrove bisa tumbuh dan berkembang serta mampu menurunkan dampak intrusi air laut, meskipun dalam jangka waktu yang panjang. Kata Kunci: air tanah, intrusi air laut, mangrove, sedimen substrat, Pulau Haruku [English]: Coastal community activities and global climate change may lead to enduring issues in coastal regions, including erosion and seawater intrusion. We identified this issue at Negeri Pelauw, Haruku Island, Maluku, where we observed seawater intrusion in some dug wells. Prior studies have demonstrated that the impact of seawater intrusion diminishes as the mangrove ecosystem expands. This community service initiative aimed to plant mangroves to mitigate the effects of seawater intrusion and erosion. This project utilized the Community-Based Participatory Research (CBPR) methodology, engaging fisherman groups, coastal communities, and governmental entities. A total of 500 seedlings were acquired from “Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS),” Waihapu, Batu Merah, Ambon, and planted at two sites: Namaea Bay (100 seedlings) and Tanjung Pesona (400 seedlings). The two planting locations were determined based on discussions with community members and the village government, satellite imagery analysis, and sediment characteristics. The mangrove planting activities were carried out over two days in July 2025, taking into account tidal conditions around the coast. The first day's planting took place in the morning at Namaea Bay, followed by the afternoon at Tanjung Pesona, with partners and the local government involved. The second day's planting continued in Tanjung Pesona, also assisted by Indonesian National Armed Forces (TNI) personnel. The first month's monitoring on mangrove growth showed that it was growing well, with only a few dead trees. Perhaps the mangrove ecosystem will continue to expand and develop, potentially mitigating the impact of seawater intrusion. Keywords: groundwater, seawater intrusion, mangroves, substrate sediment, Haruku Island
Improving students' health independence through healthy student cadre training at the Bin Baz Islamic boarding school Ery Fatmawati; Dyah Muliawati; Surip Haryani
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14373

Abstract

[Bahasa]: Pesantren sebagai ekosistem pendidikan berasrama memiliki potensi besar sekaligus tantangan kesehatan, mulai dari penyakit menular berbasis lingkungan hingga isu kesehatan remaja putri seperti anemia dan kebersihan personal. Kondisi ini menuntut model penguatan kemandirian kesehatan berbasis komunitas melalui kader internal pesantren. Kader berperan sebagai pendamping sebaya yang memperkuat Poskestren maupun Posyandu Remaja, memastikan program berjalan rutin, terukur, serta selaras kebijakan sekolah-sehat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemandirian kesehatan santri melalui Pelatihan Kader Santri Sehat di Pesantren Islamic Center Bin Baz. Kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan 30 santri putri kelas XI dan XII. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi kelompok, simulasi, praktik, serta peer support. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, dengan analisis uji statistik paired sample t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan kesehatan reproduksi (rata-rata pre-test 80,13 menjadi 96,17; p = 0,000) dan keterampilan pemeriksaan dasar seperti pengukuran berat badan, LILA, lingkar perut, dan tekanan darah (p < 0,05). Mayoritas peserta memiliki tingkat kematangan emosional sedang hingga tinggi, yang mendukung peran mereka sebagai kader santri sehat. Kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan kader santri sehat efektif meningkatkan kemandirian kesehatan santri di pesantren. Program ini berpotensi dijadikan model intervensi berkelanjutan dengan dukungan kelembagaan pesantren dan kolaborasi tenaga kesehatan. Kata kunci: kemandirian kesehatan; kader santri; posyandu remaja; pesantren; pelatihan kesehatan. [English]: Islamic boarding schools (pesantren) possess significant potential as educational environments but also encounter health issues, ranging from infectious diseases transmitted through the environment to distinct female health concerns like anaemia and personal hygiene. Therefore, it is crucial to enhance community health independence via internal Islamic boarding school cadres. This community service initiative sought to enhance students' health autonomy via the Healthy Student Cadre Training at the Bin Baz Islamic Centre in Islamic boarding schools. Using a Participatory Action Research (PAR) methodology, the initiative engaged 30 female students in 11th and 12th grades. Training techniques involved lectures, group discussions, simulations, hands-on sessions, and peer assistance. Assessment was carried out using pre- and post-tests, followed by statistical analysis using paired-samples t-tests. Findings indicated a notable increase in reproductive health knowledge (80.13 to 96.17; p < 0.001) and an improvement in fundamental examination skills, including weight, MUAC, waist circumference, and blood pressure assessments (p < 0.05). The majority of participants exhibited moderate to high levels of emotional maturity, reinforcing their position as health cadres. The results indicate that cadre training significantly improves the health independence of Islamic boarding school students and shows promise as a sustainable intervention model with the backing of institutional and professional healthcare. Key words: health independence, student cadres, adolescent health post, pesantren, health training
Innovations in the processing of local food-based supplementary feeding programs (PMT) at the posyandu in Astambul sub-district Banjar Regency Sari Wahyunita; Eka Rusliana; Aulia Ramadhani
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.14388

Abstract

[Bahasa]: Posyandu memiliki peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang balita dan pencegahan stunting, namun partisipasi masyarakat di Kecamatan Astambul masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya inovasi dalam pemberian makanan tambahan (PMT). Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan aktivitas posyandu melalui pemanfaatan pangan lokal, yaitu daun kelor (Moringa oleifera) dan ikan patin (Pangasius sp.). Metode pelaksanaan yaitu penyuluhan kesehatan, pelatihan pengolahan PMT lokal, serta uji organoleptik dengan melibatkan 55 ibu balita. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest–posttest. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan ibu setelah intervensi. Nilai rata-rata pretest 59,25 ± 12,75 meningkat menjadi 85,41 ± 8,36 (p = 0,000; Cohen’s d = 2,45). Penyuluhan tentang PMT berbasis pangan lokal juga meningkatkan nilai rata-rata dari 61,80 ± 11,32 menjadi 87,25 ± 7,94 (p = 0,000; Cohen’s d = 2,33). Uji organoleptik menunjukkan penerimaan tinggi terhadap nugget ikan patin daun kelor dan bubur nasi daun kelor, terutama pada aspek rasa dan warna. Temuan ini membuktikan bahwa inovasi PMT berbasis pangan lokal dapat diterima masyarakat dan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan di posyandu. Program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita, tetapi juga memperkuat layanan posyandu dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan stunting. Kata Kunci: Posyandu, edukasi gizi, pangan lokal, Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) [English]: Posyandu plays a crucial role in monitoring child growth and development and in preventing stunting; however, community participation in Astambul Subdistrict remains low. One contributing factor is the limited innovation in supplementary feeding programs (PMT). This community service program aimed to enhance Posyandu activities by utilizing local food resources, specifically moringa leaves (Moringa oleifera) and catfish (Pangasius sp.). The program was implemented through health education, training on local food–based PMT processing, and organoleptic testing involving 55 mothers of toddlers. Evaluation was conducted using a pretest–posttest design. The results showed a significant increase in maternal knowledge following the intervention, with mean pretest scores of 59.25 ± 12.75 increasing to 85.41 ± 8.36 (p = 0.000; Cohen’s d = 2.45). Education on local food–based PMT also significantly improved knowledge scores from 61.80 ± 11.32 to 87.25 ± 7.94 (p = 0.000; Cohen’s d = 2.33). Organoleptic evaluation indicated high acceptance of moringa–catfish nuggets and moringa rice porridge, particularly in terms of taste and color. These findings demonstrate that local food–based PMT innovations are well accepted by the community and have strong potential for sustainable implementation in Posyandu. The program not only improved maternal knowledge and skills but also strengthened Posyandu services in supporting nutritional improvement and stunting prevention. Keywords: Posyandu, nutrition education, local food, supplementary feeding programs (PMT)
Enhancing coastal women’s capacity in Medan through healthy coconut balm production for menstrual pain management and reproductive health Syarifah; R. Kintoko Rochadi; Henny Sri Wahyuni; Nirma Juli Saputri; Mei Thalia Sembiring; Viola Agnesya Br Sembiring; Nabila Rizqi Lingga
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2025): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v21i2.15039

Abstract

[Bahasa]: Perempuan pesisir kerap menghadapi keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan, termasuk dalam penanganan dismenore yang sering dianggap wajar sehingga kurang ditangani optimal. Temuan awal di Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Medan menunjukkan sebagian besar anggota belum memahami solusi non-farmakologis dan masih bergantung pada obat kimia atau praktik tradisional sederhana. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan serta membekali keterampilan praktis produksi melalui edukasi partisipatif yang memperkenalkan produk berbahan alam lokal, yaitu Healthy Coconut Balm. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi interaktif, pemutaran video tutorial, pelatihan langsung pembuatan produk, serta pre-test dan post-test untuk menilai efektivitas kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 19,33 menjadi 27,85 meskipun tidak signifikan secara statistik (p=0,078), namun tetap relevan secara praktis. Selain itu, seluruh peserta berhasil mempraktikkan pembuatan produk dengan antusiasme tinggi. Uji organoleptik menunjukkan penerimaan yang cukup baik terhadap aroma, warna, tekstur, dan sensasi hangat balsam. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kapasitas perempuan pesisir dalam menjaga kesehatan reproduksi secara alami, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis bahan lokal. Dalam jangka pendek, kegiatan ini terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi sederhana, sementara dalam jangka panjang berpotensi mendorong kemandirian ekonomi melalui komersialisasi produk herbal. Program ini turut mendukung penguatan kapasitas komunitas dan agenda pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan, kesetaraan gender, dan kemandirian ekonomi. Kata Kunci: Balsem herbal, dismenore, kesehatan reproduksi, pemberdayaan masyarakat, perempuan pesisir [English]: Coastal women often face limited access to health information and services, particularly in managing dysmenorrhea, which is frequently considered a normal condition and therefore inadequately addressed. Preliminary findings at the Indonesian Coastal Women’s Association (KPPI) in Medan indicate that most members have limited knowledge of non-pharmacological solutions and still rely on chemical medications or simple traditional practices. This community service program aimed to improve health literacy and provide practical production skills through participatory education by introducing a local natural-based product, namely Healthy Coconut Balm. The implementation methods included lectures, interactive discussions, video tutorials, hands-on training in product preparation, and pre-tests and post-tests to evaluate program effectiveness. The results showed an increase in the average knowledge score from 19.33 to 27.85, although it was not statistically significant (p = 0.078), it remained practically relevant. In addition, all participants successfully practiced product production with high enthusiasm. Organoleptic tests indicated good acceptance in terms of aroma, color, texture, and warming sensation. This initiative not only enhanced coastal women's capacity to maintain reproductive health through natural approaches but also opened opportunities for creative economic activities based on local resources. In the short term, the program improved participants’ knowledge and basic production skills, while in the long term, it has the potential to promote economic independence through the commercialization of herbal products. Furthermore, this program supports community capacity building and sustainable development goals in health, gender equality, and economic empowerment. Keywords: herbal balm, dysmenorrhea, reproductive health, community empowerment, coastal women
Islamic values-based leadership and organizational management training for student council and santri organization leaders at Nur Ismail Islamic Boarding School, Pamekasan Nailah Aka Kusuma; Imam Wahyudi; Ika Oktaviana Dewi; Jamilatul Uyun; Sustiyana
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14415

Abstract

[Bahasa]: Pengurus OSIS dan organisasi santri di Pondok Pesantren Nur Ismail Blumbungan, Pamekasan, masih menghadapi keterbatasan dalam perencanaan program, koordinasi anggota, komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan organisasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan dan manajerial serta memperkuat nilai-nilai kepemimpinan islami pengurus organisasi santri. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui pelatihan partisipatif yang mencakup ceramah interaktif, studi kasus kontekstual, simulasi kepemimpinan, diskusi kelompok terfokus, dan pendampingan penyusunan rencana aksi. Materi pelatihan mengintegrasikan kepemimpinan islami, perencanaan strategis, manajemen konflik, komunikasi efektif, dan evaluasi program. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 25%, sedangkan 90% peserta mampu menerapkan teknik delegasi, pengambilan keputusan, dan resolusi konflik melalui simulasi. Pada tingkat organisasi, 75% dari program kerja yang dijadwalkan pada bulan pertama terlaksana sesuai rencana, disertai penguatan perilaku yang mencerminkan integritas, tanggung jawab, dan kolaborasi selama proses pelatihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan berbasis PAR dapat memperkuat kapasitas individu sekaligus mendorong penguatan awal kemandirian organisasi santri. Model pelatihan yang mengintegrasikan keterampilan manajerial dan nilai kepemimpinan Islami ini dapat menjadi kerangka praktis yang dapat diadaptasi dalam pengembangan kapasitas organisasi santri di pesantren lain dengan karakteristik serupa. Kata Kunci: kepemimpinan, karakter, pelatihan, santri, organisasi siswa/santri  [English]: Student Council (OSIS) and santri organization leaders at Nur Ismail Islamic Boarding School in Blumbungan, Pamekasan, continued to face challenges in program planning, member coordination, communication, and decision-making in organizational management. This community service program aims to improve the leadership and managerial competencies of santri organization leaders while strengthening Islamic leadership values. The program employed a Participatory Action Research (PAR) approach through participatory training that included interactive lectures, contextual case studies, leadership simulations, focus group discussions, and facilitated action-plan development. The training integrated Islamic leadership, strategic planning, conflict management, effective communication, and program evaluation. Evaluation results showed a 25% increase in participants’ knowledge, and 90% of participants applied delegation, decision-making, and conflict-resolution techniques during the simulations. At the organizational level, 75% of the work programs scheduled for the first month were implemented as planned, accompanied by behaviors reflecting integrity, responsibility, and collaboration throughout the training process. These findings indicate that PAR-based training can strengthen individual capacities while supporting the initial development of organizational autonomy among santri organizations. This training model, which integrates managerial skills with Islamic leadership values, provides a practical framework that may be adapted for capacity-building programs in santri organizations at other Islamic boarding schools with similar characteristics. Keywords: leadership, character, training, santri, student organizations
Training on making flavoured crisps for the community of Kayen Hamlet, Sampang subdistrict Elyas Djufri; Alfat Khaharsyah; Laila Udhiatuzzahro; Kwondoin Adi Putra; Tedih Tedih
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14460

Abstract

[Bahasa]: Memberdayakan masyarakat Dusun Kayen melalui peningkatan keterampilan produksi keripik varian rasa dan peningkatan kapasitas kewirausahaan berbasis produk lokal menjadi tujuan utama program pelatihan ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Terdapat 30 orang sebagai peserta pelatihan yang dipilih dan dijadikan sampel yang merepresentasikan karakteristik demografi masyarakat setempat. Pelatihan yang diberikan menggunakan sistem participatory cycles yang bersifat integratif dan menggunakan kuesioner dengan skala Likert 5-1 untuk evaluasi. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji independent samples t-test untuk menguji perbedaan persepsi berdasarkan status usaha dan pengalaman peserta. Pelatihan ini jelas sangat memuaskan para peserta (mean 3.67-4.20). Pengukuran kepuasan terfokus pada relevansi materi pelatihan (KP4, mean = 4.20). Terdapat analisis segmentasi yang mempertimbangkan perbedaan persepsi peserta pelatihan dengan status usaha (p > 0.05) dan pengalaman membuat keripik (p > 0.05). Terdapat implikasi dari analisis ini yang merekomendasikan pentingnya pendampingan setelah pelatihan, terutama dalam akses permodalan, pengembangan pemasaran, dan pengelompokan usaha. Penggunaan PAR ini sangat baik dalam memenuhi dan mengakomodasi pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan jangka panjang dan mengatasi hambatan pascapelatihan menjadi tujuan penelitian selanjutnya. Penelitian ini sangat penting untuk evaluasi sebagai pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat. Kata kunci: pelatihan, keripik, keterampilan praktik, pemberdayaan masyarakat [English]: The main objective of this training program was to empower the Kayen Hamlet community by improving their skills in producing flavoured crisps and strengthening their entrepreneurship capacity based on local products. The study employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving 30 training participants purposively selected to represent the demographic characteristics of the local community. The training was implemented through an integrative participatory cycle and evaluated using a five-point Likert-scale questionnaire. The data were analyzed using descriptive statistics and an independent samples t-test to examine differences in participants’ perceptions based on business status and prior experience in making crisps. Most respondents reported satisfaction (mean 3.67 to 4.20). Participants reported that of all the training interventions they had completed, the one that incorporates the most current and relevant training (KP4, mean = 4.20) was the best. There was, however, no statistically significant difference (p > 0.05) in perceptions of the participants when categorized according to their entrepreneurial status and prior experience in the production of snacks. This indicates all participants required supplementary assistance that relates to seed finance, the marketing of their snacks, and the formation of strategic business collaborations, and hence the need to support all participants even after the training. The results of this study suggest that the Participatory Action Research was successful since all the study participants were satisfied. Keywords: training, chips, practical skills, and community empowerment
Empowering elementary students’ environmental awareness of the Mahakam River ecosystem through a pop-up book in Samarinda Atin Nuryadin; Nurul Fitriyah Sulaeman; Agus Riyadi; Ayu Ramadani Wandira; Erna Sari; Waode Asriani Mutin; Muhammad Amiq Zahidsyahtya; Destias Rahman Zulhakim; Desi Az-Zahra Putri; Syifa Nuraini; Muhammad Syawaludin Rahman
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14491

Abstract

[Bahasa]: Kota Samarinda terletak di sepanjang Sungai Mahakam, yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, meningkatnya aktivitas manusia menyebabkan penurunan kualitas lingkungan di sekitar sungai. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian lingkungan pada siswa di salah satu sekolah dasar di Samarinda melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung (experiential learning). Sebanyak 128 siswa kelas VI dilibatkan dalam kegiatan observasi lingkungan di tepian Sungai Mahakam serta pembuatan pop-up book bertema ekosistem sungai. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para siswa memiliki pemahaman mengenai fungsi ekologis sungai serta sikap positif terhadap kebersihan lingkungan. Berdasarkan hasil angket, sebagian besar siswa memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga kebersihan sungai, dengan mayoritas responden menolak perilaku eksploitasi berlebihan seperti pertambangan batu bara. Analisis jawaban terbuka juga memperlihatkan bahwa siswa menekankan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan, melestarikan pesut, dan bergotong royong dalam menjaga lingkungan. Secara keseluruhan, temuan tersebut menunjukkan bahwa program ini berpotensi menumbuhkan literasi ekologis dan kesadaran lingkungan siswa sekolah dasar melalui pembelajaran berbasis lokal dan berorientasi pada pengalaman. Kata Kunci: kepedulian lingkungan, pop-up book, sungai Mahakam, sekolah dasar  [English]: The city of Samarinda is located along the Mahakam River, which plays an important role in the lives of its surrounding communities. However, increasing human activities have led to a decline in the environmental quality of the river area. This community service program aimed to foster environmental awareness and concern among students at one of the elementary schools in Samarinda through an experiential learning approach. A total of 128 sixth-grade students participated in environmental observation activities along the Mahakam River and in creating a pop-up book themed on the river ecosystem. The results indicated that students demonstrated an understanding of the ecological functions of the river and positive attitudes toward environmental cleanliness. Based on questionnaire results, most students showed a high level of awareness regarding the importance of maintaining river cleanliness, with the majority rejecting excessive exploitation activities such as coal mining. The analysis of open-ended responses also revealed that students emphasized the importance of not littering, protecting the Irrawaddy dolphin (pesut), and participating in collective efforts to preserve the environment. Overall, the findings suggest that the program has potential to foster elementary students’ ecological literacy and environmental awareness through locally based, experience-oriented learning. Keywords: environmental awareness, pop-up book, Mahakam River, elementary school
Empowering BUMKal Segoroyoso through cattle rumen waste processing into organic fertilizer for sustainable agriculture Ambar Pratiwi; Maryudi; Rokhmayanti; Sutan Nur Chamida Tri Astuti
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14558

Abstract

[Bahasa]: Limbah rumen sapi merupakan produk sampingan rumah pemotongan hewan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan jika tidak diolah dengan tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Segoroyoso dalam mengolah limbah rumen sapi menjadi pupuk organik padat dan cair, sekaligus mendorong pengelolaan limbah berbasis masyarakat melalui BUMKal Segoroyoso. Program ini menerapkan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dengan mengidentifikasi sumber daya lokal, melibatkan lembaga masyarakat dalam menentukan kebutuhan dan kegiatan, memobilisasi aset yang ada melalui pelatihan teknis, serta melakukan evaluasi dan pemantauan lanjutan. Peserta kegiatan mewakili BUMKal Segoroyoso, pemerintah kalurahan, kelompok tani, kelompok wanita tani, dan kader PKK. Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan praktis pembuatan pupuk organik padat dan cair, pemantauan fermentasi, serta evaluasi program. Evaluasi pengetahuan peserta dilakukan secara deskriptif melalui pre-test dan post-test. Skor rata-rata meningkat dari 2,08 sebelum pelatihan menjadi 4,56 setelah pelatihan. Peserta juga menunjukkan kemampuan praktis dalam mengidentifikasi bahan baku pengolahan dan menjalankan prosedur dasar fermentasi. Pupuk yang dihasilkan menunjukkan karakteristik kematangan yang dapat diamati, meliputi warna cokelat gelap, tekstur remah, dan berkurangnya bau tidak sedap. Program ini memperkuat pengetahuan dan keterampilan praktis masyarakat serta menciptakan peluang bagi BUMKal untuk mengembangkan pupuk organik berbasis rumen sapi sebagai produk olahan lokal. Pendampingan berkelanjutan, fasilitas pengolahan yang memadai, penilaian kualitas produk, dan perencanaan bisnis diperlukan untuk mendukung keberlanjutan program. Kata Kunci: BUMKal, limbah rumen sapi, pemberdayaan masyarakat, pupuk organik, pertanian berkelanjutan [English]: Cattle rumen waste is a slaughterhouse by-product that remains underutilized and may cause environmental problems when disposed of without appropriate treatment. This community service program aims to strengthen the capacity of the Segoroyoso community to process cattle rumen waste into solid and liquid organic fertilizers while promoting community-based waste management through BUMKal Segoroyoso. The program applied an Asset-Based Community Development (ABCD) approach by identifying local resources, involving community institutions in determining needs and activities, mobilizing available assets through technical training, and conducting evaluation and follow-up monitoring. Participants represented BUMKal Segoroyoso, the village government, farmer groups, women farmer groups, and PKK cadres. Activities included socialization, hands-on training in solid and liquid organic fertilizer production, fermentation monitoring, and program evaluation. Participants' knowledge was evaluated descriptively using pre-test and post-test scores. The average score increased from 2.08 before training to 4.56 after training. Participants also demonstrated practical abilities in identifying processing materials and conducting basic fermentation procedures. The resulting fertilizer showed observable characteristics of maturation, including a dark brown color, crumbly texture, and reduced unpleasant odor. The program strengthened community knowledge and practical skills and created opportunities for BUMKal to develop cattle-rumen-based organic fertilizer as a locally managed product. Continued mentoring, adequate processing facilities, product quality assessment, and business planning are required to support program sustainability. Keywords: BUMKal, cattle rumen waste, community empowerment, organic fertilizer, sustainable agriculture
Psychoeducation to overcome environmental problems: Improving understanding of cooperative behavior in clean water sharing among students of vocational school Purnama, Chandra Yudistira; Srisayekti, Wilis; Trirahardjo, Sunggoro; Yanuvianti, Milda
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14690

Abstract

[Bahasa]: Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai permasalahan lingkungan, khususnya terkait ketersediaan air bersih, dapat menghambat upaya penanganan lingkungan secara berkelanjutan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Psikoedukasi untuk Mengatasi Permasalahan Lingkungan” bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa-siswi SMK PPN Tanjungsari, Jawa Barat, tentang perilaku kooperatif dalam konteks berbagi air bersih. Psikoedukasi dilaksanakan melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, dan simulasi, dengan evaluasi yang mengacu pada model Kirkpatrick pada level reaksi dan level pembelajaran. Evaluasi reaksi dilakukan menggunakan skala penilaian kepuasan terhadap kualitas kegiatan, penyampaian dan kejelasan materi, efektivitas metode, fasilitas, kebermanfaatan, serta kecukupan waktu. Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan desain satu kelompok pre-test–post-test disertai follow-up, melalui perbandingan skor pengetahuan sebelum kegiatan (pre-test), sesaat setelah kegiatan (post-test pertama), dan satu bulan kemudian (post-test kedua). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta merasa puas terhadap pelaksanaan psikoedukasi dan materi yang diberikan. Terdapat peningkatan nilai rata-rata pemahaman terkait perilaku kooperatif dalam pendistribusian air bersih pasca intervensi, di mana tren positif tersebut terus berlanjut hingga tahap pengukuran tindak lanjut (follow-up). Temuan ini mengindikasikan bahwa psikoedukasi berkontribusi dalam memperkuat pemahaman dan berpotensi mendorong praktik perilaku kooperatif berbagi air bersih sebagai bagian dari solusi terhadap permasalahan lingkungan terkait air bersih. Kata Kunci: berbagi air bersih, lingkungan, perilaku kooperatif, psikoedukasi [English]: Lack of public awareness and understanding of environmental issues, particularly those related to the availability of clean water, can hinder efforts to address environmental problems sustainably. The community service program aims to improve students' knowledge and understanding of cooperative behavior in the context of clean water sharing at SMK PPN Tanjungsari, West Java. Psychoeducation was delivered through material presentations, interactive discussions, and simulations, with evaluation based on the Kirkpatrick model at the reaction and learning levels. Reaction evaluation used a satisfaction assessment scale for the quality of the activity, delivery and clarity of the material, effectiveness of the method, facilities, usefulness, and adequacy of time. Learning evaluation was carried out using a one-group pre-test–post-test design with follow-up, comparing knowledge scores before the activity (pre-test), immediately after the activity (first post-test), and one month later (second post-test). The evaluation results showed that participants were satisfied with the implementation of psychoeducation and the materials provided. There was an increase in participants’ average understanding score regarding cooperative behavior in clean water sharing after the intervention, with this positive trend continuing into the follow-up measurement phase. These findings indicate that psychoeducation strengthens understanding and may encourage cooperative behavior in clean water sharing as part of the solution to environmental problems related to clean water. Keywords: clean water sharing, cooperative behavior, environment, psychoeducation, water
Interactive comics and family engagement to foster personal hygiene autonomy in children with special needs Dias Tiara Putri Utomo; Suhariyati Suhariyati; Nahardian Vica Rahmawati
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 22 No. 1 (2026): Transformasi Juni
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v22i1.14815

Abstract

[Bahasa]: Anak berkebutuhan khusus (ABK) sering menghadapi kendala dalam menjaga personal hygiene secara mandiri akibat keterbatasan pemahaman dan keterampilan motorik halus. Oleh karena itu, diperlukan media edukasi yang adaptif serta keterlibatan aktif orang tua untuk membangun kebiasaan kebersihan diri yang efektif. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman praktik kebersihan melalui pemanfaatan media komik interaktif sebagai sarana edukasi serta menumbuhkan kemandirian personal hygiene pada ABK. Program ini dilaksanakan pada periode Mei hingga September 2025 dengan menggunakan pendekatan Participatory Community Engagement. Intervensi dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, implementasi, serta evaluasi. Kegiatan pendidikan dan pelatihan berfokus pada praktik personal hygiene yang didukung dengan penggunaan media komik interaktif meliputi kegiatan cuci tangan sesuai pedoman WHO, menggosok gigi, dan memotong kuku. Evaluasi program dilakukan dengan menganalisis data pre-test dan post-test menggunakan instrumen lembar ceklis yang diisi oleh orang tua. Hasil evaluasi pada 25 ABK menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator personal hygiene. Pada 6 langkah cuci tangan sesuai pedoman WHO terdapat peningkatan kemandirian dari 64% menjadi 80%. Pada aktivitas menggosok gigi, kemandirian siswa meningkat dari 64% menjadi 76%. Sebaliknya, memotong kuku menunjukkan tingkat kemandirian terendah, di mana sebelum intervensi, hanya 52% ABK yang menunjukkan tingkat kemandirian, yang kemudian meningkat menjadi 56%% kemandirian. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media interaktif dan keterlibatan orang tua berkontribusi positif dalam meningkatkan kemandirian personal hygiene pada ABK. Kata Kunci: anak berkebutuhan khusus, keterlibatan orang tua, komik interaktif, kebersihan diri, participatory community engagement  [English]: Children with special needs (CSN) frequently face challenges in maintaining personal hygiene independently due to limited comprehension and fine motor skills. Therefore, adaptive educational media and active parental involvement are necessary to foster effective personal hygiene habits. This community service project aims to enhance the understanding of hygiene practices through interactive comics as an educational tool while cultivating personal hygiene independence among CSN. The program was conducted from May to September 2025 using a Participatory Community Engagement Approach. Interventions were carried out across several stages: socialization, education and training, action, and evaluation. The education and training activities focused on personal hygiene practices supported by interactive comics, covering handwashing according to WHO guidelines, toothbrushing, and nail trimming. Program evaluation analyzed pre-test and post-test data using checklist instruments completed by parents. Results among 25 CSN demonstrated improvements across all personal hygiene indicators. For the WHO 6-step handwashing technique, independence increased from 64% to 80%. In toothbrushing activities, student independence rose from 64% to 76%. Conversely, nail trimming yielded the lowest baseline independence, rising from 52% prior to intervention to 56% independence. These findings indicate that interactive media and parental involvement contribute positively to increasing personal hygiene independence among CSN. Keywords: children with special needs, parental engagement, interactive comics, personal hygiene, participatory community engagement