cover
Contact Name
Pudyastuti Kusumaningrum
Contact Email
mot.farmasi@ugm.ac.idm
Phone
-
Journal Mail Official
mot.farmasi@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Obat Tradisional
ISSN : 14105918     EISSN : 24069086     DOI : -
Core Subject : Health,
raditional Medicine Journal (Majalah Obat Tradisional), or Trad. Med. J. (ISSN 1410-5918 (print) and ISSN 2406-9086 (online)), is an international scientific journal published by Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada, three times annually. Collaborating with Indonesian Pharmacist Association, Daerah Istimewa Yogyakarta, and we dedicate our journal to researches and development in traditional medicine. The journal receives papers on research laboratory, field research, and case studies of traditional medicine and its constituent, covering research topics including raw materials, cultivation, phytochemical, pharmacological effects and toxicology, formulation, and biotechnology.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
AKTIVITAS AMILUM BENGKUANG (Pachyrrizus erosus (L.) Urban) SEBAGAI TABIR SURYA PADA MENCIT DAN PENGARUH KENAIKAN KADARNYA TERHADAP VISKOSITAS SEDIAAN Zulkarnain, A. Karim; Ernawati, Novi; Sukardani, Nurul Ikka
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.182 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss1pp%p

Abstract

Yam starch (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.) with microparticles of size and had opaque properties could be used as an physical sunscreens. Yam starch was made in creams and lotions formulation and applied topically. This study aimed to determine the effect of yam starch concentration to the increasing of creams and lotions formulation as well as sunscreens activity in mice seen from its Sun Protecting Factor (SPF). Yam starch was obtained by the deposition method, then was done characterization and measurement of particle diameter. The formulation of creams and lotions each in 3 formulas with yam starch concentration of 15%, 20%, and 25%, further the viscosity and physical stability were observed under extreme heat and cold conditions. The observations during storage were colour, odor, homogenity, and viscosity. Sunscreen activity was determined by in vivo method using Swiss Webster female mice strains induced by 8-MOP, and then observation of its SPF value. The viscosity data  in extreme hot and cold conditions was analyzed statistically at significance level of 95%. The results showed that the more increase of  the concentration of yam starch the more  increase of viscosity, while the colour, odor, and homogenity of the formulation did not change during storage. Creams and lotions formulation with starch concentration of 15%, 20%, and 25%, had sunscreen activity in vivo in mice, with SPF value of 1.22; 1.52, and 2.38.
PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP PEROLEHAN EKSTRAKTIF, KADAR SENYAWA FENOLAT DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI DAUN DEWA (Gynura pseudochina (L.) DC.) Rivai, Harrizul; Bakhtiar, Amri; Nurdin, Hazli; Suyani, Hamzar
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.295 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss1pp%p

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh cara pengeringan terhadap perolehan kadar ekstraktif, senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan dalam daun dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.). Cara-cara pengeringan yang diuji adalah: pengeringan angin pada suhu kamar, pengeringan oven pada suhu 40 oC, pengeringan oven pada suhu 60 oC, pengeringan oven microwave dan sampel segar sebagai kontrol.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan tumbuhan segar menyebabkan berkurangnya perolehan ekstraktif, kadar senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan. Cara-cara pengeringan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P < 0,05) terhadap perolehan ekstraktif, kadar senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan. Di antara cara-cara pengeringan yang diuji, perolehan ekstraktif tertinggi diberikan oleh pengeringan oven microwave, sedangkan kadar senyawa fenolat tertinggi dan aktivitas antioksidan yang tertinggi diberikan oleh pengeringan angin pada suhu ± 25  oC.
EFEK PENGHAMBATAN EKSTRAK N-HEKSANA BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP REAKSI ANAFILAKSIS KUTANEUS AKTIF PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B Sasmito, Ediati; Nugroho, Agung Endro; V. Sagala, Yose
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.869 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss1pp%p

Abstract

Mengkudu (Morinda citrifolia L.) adalah salah satu tanaman berkhasiat obat  yang sudah tidak asing lagi penggunaannya dalam pengobatan. Mengkudu telah diketahui memiliki efek farmakologis, antara lain efek analgesik, antihipertensi, dan imunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekstrak n-heksana buah mengkudu dapat menghambat reaksi anafilaksis kutaneus aktif pada tikus Wistar jantan yang diinduksi vaksin hepatitis B. Penelitian ini menggunakan metode anafilaksis kutaneus aktif, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan histopatologinya. Uji anafilaksis kutaneus aktif dilakukan selama dua minggu. Hewan uji dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok : kontrol tanpa perlakuan, perlakuan dengan  ekstrak n-heksana buah mengkudu dosis   50mg, 100mg, dan 200mg/kgBB tikus, dan kelompok yang diberi kromolin dosis 2,16mg/kg BB tikus sebagai kontrol positif. Hewan uji disensitisasi 2 kali (1x setiap minggu) dengan vaksin hepatitis B (dosis 145µg/kgBB tikus) secara subkutan pada bagian punggung. Pada minggu kedua, hewan uji diambil secara acak 4 ekor setiap kelompok untuk dikurbankan dan diambil jaringan kulit beserta jaringan hatinya. Jaringan dibuat sebagai preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoxyllin-eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak n-heksana buah mengkudu dosis 50mg, 100mg, dan 200mg/kgBB pada tikus jantan Wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B dapat menghambat reaksi anafilaksis kutaneus aktif.
UJI TOKSISITAS AKUT FRAKSI N-HEKSAN EKSTRAK METANOL DAUN DAN BATANG Impatiens balsamina Linn. DENGAN PEDOMAN OECD 425 Sunggono, Benny Wijaya; Kusharyanti, Indri; Nurbaeti, Siti Nani
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.094 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss3pp118-126

Abstract

Tanaman pacar air (Impatiens balsamina Linn.) merupakan tanaman herba yang secara empirik digunakan untuk terapi nyeri tulang, gigitan serangga, peluruh haid dan pencegah kanker pencernaan. Secara empiris, daun pacar air tidak boleh dikosumsi secara langsung karena mengandung racun yang dapat mempengaruhi pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat keamanan dari fraksi n-heksan daun dan batang pacar air sehingga dapat dijadikan acuan untuk penggunaan terapi yang aman. Fraksi n-heksan diperoleh dari ekstraksi cair cair ekstrak metanol daun dan batang pacar air. Hasil penapisan fitokimia dengan uji tabung menyatakan bahwa fraksi n-heksan mengandung senyawa triterpenoid steroid. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode yang diadopsi dari OECD (Organization for economic co-operation and development) nomor 425: Acute Oral Toxicity (Up and Down Procedure). Hasil pengujian Limit Test menyatakan fraksi n-heksan daun dan batang pacar air memiliki nilai LD50 lebih besar dari 5000 mg/kg berat badan tikus. Hingga dosis 5000 mg//kgBB tidak ada tanda-tanda toksik pada sistem mata, respirasi, kelakuan, otonom dan somatomor. Pada dosis 5000 mg/kgBB, fraksi n-heksan juga tidak menyebabkan kematian pada tikus, tidak menyebabkan penurunan berat badan, tidak menyebabkan perubahan makan dan minum yang signifikan. Pemberian fraksi n-heksan pada dosis 2000 mg/kg dapat menyebabkan lesi degenarasi hidropik pada organ hati dan dapat memperparah kerusakan pada organ ginjal pada dosis 5000 mg/kg. Oleh sebab itu, penggunaannya tetap harus diperhatikan. Menurut klasifikasi Loomis, fraksi n-heksan pacar air berada dalam kategori toksik ringan.
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) DAN KURKUMINOIDNYA TERHADAP EFEK ANALGETIK PADA MENCIT Wicaksono, Arko Jatmiko; Yuniarti, Nunung; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.4 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss1pp%p

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek analgetik dari minyak atsiri rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.), kurkuminoid, dan kombinasi keduanya. Penyarian kurkuminoid dilakukan dengan pelarut etil asetat dan heksan. Minyak atsiri diperoleh dari hasil destilasi air-uap. Uji analgetik dilakukan dengan metode formalin tes (20µL formalin 1%, intraplantar) terhadap mencit jantan galur Swiss (30±5g), umur 2 bulan. Kelompok uji meliputi CMC-Na 0,5 % p.o. (kontrol negatif), indometasin 4 mg/kgBB p.o. dan i.p. (kontrol positif), kurkuminoid 48 mg/kgBB p.o., minyak atsiri 24mg/kgBB p.o, serta kombinasinya p.o. Injeksi formalin dilakukan 1 jam setelah pemejanan sampel. Data licking time diambil pada fase I (menit 0-5) dan fase II (10-30menit) setelah injeksi formalin. Fase I mengindikasikan nyeri yang terjadi pada daerah susunan saraf pusat (SSP) sedangkan fase II pada daerah perifer. Hasil uji terhadap fase I menunjukkan daya analgetik indometasin p.o sebesar (4,96±3,26 %) dan i.p. (4,54±1,65%). Kurkuminoid dan minyak atsiri masing-masing (1,22±0,89%) dan (28,8±8,48%), sedangkan campuran (42,14±5,6%). Kurniawan (2007) melaporkan bahwa besarnya daya analgetik fase I pada morfin 5 mg/kgBB p.o. adalah (69,68±2,17%). Pada fase II minyak atsiri memiliki daya analgetik sebesar (74,63±1,97%), campuran minyak atsiri (24mg/kgBB) dan kurkuminoid (48 mg/kgBB) memiliki daya analgetik sebesar (67,56±0,59%), indometasin i.p. (49,46±1,08%) dan p.o (49,82±0,91%), serta kurkuminoid (44,80±1,46%).
SENYAWA ANTIBAKTERI BIS (2-ETILHEKSIL) ESTER DAN TRITERPENOID DALAM EKSTRAK n-HEKSANA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) Sukadana, I Made; Santi, Sri Rahayu
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.815 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Telah dilakukan isolasi senyawa antibakteri dari ekstrak kental n-heksana daun tempuyung (Sonchus Arvensis L.). Sebanyak 9,15 g ekstrak kental n-heksana hasil partisi menunjukkan aktif antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm  terhadap Staphylococcus aureus dan 8 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 1000 ppm. Pemisahan ekstrak kental n-heksana menggunakan teknik kromatografi kolom diperoleh 5 fraksi dengan pola pemisahan yang berbeda, yaitu fraksi F1, F2, F3, F4, dan F5 yang masing-masing mengandung jumlah komponen senyawa yaitu 6, 5, 4, 2, dan 1 senyawa. Hasil uji kelima fraksi ini terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan bahwa fraksi F2 dan F4, positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Fraksi F3 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sedangkan fraksi F5 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pemisahan lebih lanjut terhadap fraksi aktif antibakteri (F4) menggunakan teknik kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif, menghasilkan 3 fraksi (fraksi F4.1, F4.2, dan F4.3), dimana fraksi F4.1 menunjukkan fraksi yang paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri uji dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 11 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 100 ppm. Hasil identifikasi terhadap fraksi F4.1 (isolat) menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM) dan pendekatan ”database” WILEY7 menunjukkan bahwa isolat merupakan campuran 2 komponen senyawa yaitu bis (2-etilheksil) ester dan kemungkinan senyawa baru golongan triterpenoid dengan rumus molekul C32H66O6 .  
DAYA ANTI QUORUM SENSING EKSTRAK DAUN KAYU MANIS (Cinnamomun burmannii Ness. Ex Bl.) TERHADAP Pseudomonas aeruginosa Hertiani, Triana; Apriliany, Fitri; Anshory, Hady
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.649 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss3pp173-177

Abstract

Quorum sensing adalah sistem komunikasi antar sel bakteri. Perkembangan biofilm diatur oleh quorum sensing. Biofilm dapat melindungi bakteri dari kerusakan akibat antibiotik sehingga konsentrasi antibiotik harus ditingkatkan 100 sampai 1000 kali lipat. Penghambatan quorum sensing diharapkan dapat mencegah pembentukan biofilm. Kulit kayu manis (Cinnamomum burmanii Ness. Ex Bl.) memiliki aktivitas antibakteri dan antibiofilm. Ketersediaan daun yang melimpah menyebabkan dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah daun kayu manis memiliki daya anti quorum sensing terhadap Pseudomona aeruginosa. Serbuk kering daun kayu manis dimaserasi bertingkat berturut-turut menggunakan n-heksana, etil asetat dan metanol. Setelah masing-masing ekstrak dievaporasi, daya antibakteri diamati dengan metode mikrodilusi menggunakan penambahan MTT. Ekstrak yang aktif diamati  daya anti quorum sensing nya dengan metode difusi pada cetrimide Agar.  Aktivitas antiquorum sensing ditunjukkan dengan daerah buram di bawah sinar UV 366 nm. KLT-bioautografi dilakukan untuk mengetahui senyawa yang aktif dalam fraksi tersebut dengan menggunakan fase diam silika gel F254, fase gerak kloroform-metanol  (6:1 v/v), loading sampel sebanyak 1,25 mg dan waktu kontak lempeng dengan medium selama 30 menit. Penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. aeruginosa dengan nilai KHM 8 mg/mL. Aktivitas penghambatan quorum sensing dan pertumbuhan ditunjukkan pada loading samples 12,5 dan 25 mg/sumuran, sedangkan pada 6,25 mg ekstrak hanya menunjukkan aktivitas penghambatan quorum sensing. Keberadaan senyawa yang memiliki gugus fungsi fenolik, flavonoid, alkaloid dan aldehid/keton terdeteksi dengan metode KLT tetapi tidak terdeteksi bercak aktif pada bioautografi.
ANALISIS FLAVONOID DAN TANNIN DENGAN METODA MIKROSKOPI-MIKROKIMIAWI Mulyani, Sri; Laksana, Toga
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.417 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss3pp%p

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis senyawa flavonoid dan tannin dalam bahan uji dengan metoda mikroskopi – mikrokimiawi. Untuk analisis flavonoid digunakan bahan uji kulit jeruk, daun tempuyung, daun kumis kucing dengan kontrol negatip daun paku. Bahan uji daun jambu biji, daun jati belanda, biji pinang digunakan untuk analisis tannin dengan kontrol negatip rimpang jahe. Penelitian dilakukan dengan cara bahan uji diiris melintang, selanjutnya diberi pereaksi identifikasi flavonoid (amoniak, NaOH, AlCl3, sitroborat), sedang pereaksi untuk tannin digunakan FeCl3, garam fast blue, dan prusian blue. Bahan uji selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop, daerah yang memberi reaksi positip terhadap pereaksi yang digunakan menunjukkan bahan uji mengandung senyawa yang dianalis, Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode mikroskopi-mikrokimiawi dapat digunakan untuk menganalisis adanya flavonoid/tannin dalam bahan uji. Adanya senyawa flavonoid akan memberikan warna kuning dengan pereaksi amoniak, NaOH, AlCl3, dan sitroborat sedang tannin akan berwarna biru sampai hitam dengan FeCl3, merah dengan garam fast blue, dan biru dengan prusian blue.
FORMULASI HARD CANDY LOZENGES EKSTRAK DAUN LEGUNDI (Vitex trifolia L.) Sulaiman, T. Nanda Saifullah; Murti, Yosi Bayu; Alkarim, Mahfud
Majalah Obat Tradisional Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.144 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ17iss1pp15-21

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi kadar gula (sukrosa dan glukosa) terhadap sifat fisik dan rasa, serta mengetahui tingkat kesukaan konsumen pada hard candylozenges ekstrak daun legundi.Hard candy lozenges diproduksi menggunakan metode peleburan dengan membuat tiga formula kombinasi sukrosa dan glukosa yaitu FI (70%:30%), FII (50%:50%), dan FIII (30%:70%). Hard candy lozenges diuji sifat fisik meliputi: keseragaman bobot, kekerasan, uji kadar air, waktu larut dan KLT-densitometri serta uji tanggap rasa menggunakan kuesioner dengan penilaian secara scoring oleh reponden. Hasil pengujian dianalisa menggunakan SPSS 11.0 for windows dengan taraf signifikansi (α) = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya variasi kadar sukrosa dan glukosa mempengaruhi sifat fisik hard candy lozenges ekstrak daun legundi yaitu meningkatkan kekerasan, dan memperlama waktu larut (p < 0,05) tetapi tidak mempengaruhi kadar air tablet (p > 0,05). Semakin banyak sukrosa yang digunakan maka tablet menjadi semakin keras dan waktu larut menjadi semakin lama. Berdasarkan hasil uji tanggap rasa hard candy lozenges ekstrak daun legundi secara subjektif, Formula III paling disukai oleh responden dengan perbandingan sukrosa dan glukosa 30%:70%.
PENGARUH WAKTU PEMANENAN DAN TINGKAT MATURASI DAUN TERHADAP KADAR VITEKSIKARPIN DALAM DAUN LEGUNDI (Vitex trifolia L.) Murti, Yosi Bayu; Dwinatari, Indrawan Kurnia
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.194 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss2pp110-116

Abstract

Legundi (Vitex trifolia L.) merupakan salah satu tanaman tradisional Indonesia yang belum banyak diteliti dan belum dikembangkan menjadi fitofarmaka. Daun legundi dapat digunakan untuk terapi pada penderita asma dengan kadar optimum. Oleh karena itu perlu dilakukan optimasi pemanenan daun legundi yang meliputi waktu dan tingkat maturasi daun. Optimasi waktu pemanenan dengan cara memanen daun legundi pada waktu yang berbeda yaitu pagi, siang, dan sore hari, sedangkan untuk optimasi tingkat maturasi daun dengan cara memanen daun nomor satu sampai lima dari ujung termuda, selanjutnya ditetapkan waktu pemanenan dan daun yang memberikan kadar viteksikarpin optimum. Pengukuran kadar viteksikarpin ditetapkan secara KLT-densitometri kemudian dianalisis menggunakan software Wincats dan Microsoft Office Excel 2007. Kadar viteksikarpin dalam daun legundi paling tinggi dipanen pada sore hari, kemudian siang hari, dan paling rendah pada pagi hari. Kadar viteksikarpin dalam daun legundi paling tinggi pada daun ke-2, kemudian daun ke-1, daun ke-3, daun ke-4, dan paling rendah pada daun ke-5. Pemanenan yang memberikan kadar viteksikarpin optimum yaitu pemanenan di sore hari dengan memetik daun ke-1 sampai daun ke-3.

Page 7 of 56 | Total Record : 552