cover
Contact Name
Pudyastuti Kusumaningrum
Contact Email
mot.farmasi@ugm.ac.idm
Phone
-
Journal Mail Official
mot.farmasi@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Obat Tradisional
ISSN : 14105918     EISSN : 24069086     DOI : -
Core Subject : Health,
raditional Medicine Journal (Majalah Obat Tradisional), or Trad. Med. J. (ISSN 1410-5918 (print) and ISSN 2406-9086 (online)), is an international scientific journal published by Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada, three times annually. Collaborating with Indonesian Pharmacist Association, Daerah Istimewa Yogyakarta, and we dedicate our journal to researches and development in traditional medicine. The journal receives papers on research laboratory, field research, and case studies of traditional medicine and its constituent, covering research topics including raw materials, cultivation, phytochemical, pharmacological effects and toxicology, formulation, and biotechnology.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
DAYA ANTIMIKROBA METABOLIT BIOAKTIF JAMUR SHIITAKE (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) YANG DIKULTUR PADA TIGA JENIS MEDIUM FERMENTASI Ekowati, Nuraeni; Kasiamdari, Rina Sri; Pusposendjojo, Nursamsi; Soegihardjo, C.J.
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.742 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss3pp%p

Abstract

Jamur shiitake (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) merupakan salah satu jamur yang berpotensi sebagai jamur pangan dan bahan obat (edible and medicinal mushroom). Kultivasi pada medium cair dengan proses fermentasi telah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir ini. Empat isolat L. edodes (isolat asal Malang, Cianjur, Lembang dan Yogyakarta) dikultur pada tiga jenis medium fermentasi yaitu (KM: Kauffman Medium; GYMT: Glucose, Yeast extract,  Malt extract, Thiamin; YEMR: Yeast extract,  Malt extract,  Rice bran). Metabolit bioaktif yang diekstrak dari biomassa miselium dan filtrat kultur hasil fermentasi diuji menggunakan mikroba patogen Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 35218, Candida albicans ATCC 10231,dan  Trichophyton mentagrophytes. Data diameter zona  hambat dianalisis menggunakan analisis ragam, dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam filtrat kultur maupun biomassa miselium L.edodes yang diekstrak menggunakan kloroform, etil asetat dan air, mampu menghambat S. aureus, E.coli dan C. albicans tetapi tidak mampu menghambat T.mentagrophytes. Isolat L.edodes asal Lembang dan Yogyakarta yang dikultur pada medium Kauffman memberikan hasil zona hambat terbaik (24,97-31,14 mm). Mikroba uji yang paling sensitif terhadap senyawa bioaktif dari L. edodes adalah C. albicans diikuti oleh E.coli, S. aureus dan T. mentagrophytes. Metabolit bioaktif dari L. edodes berpotensi menghambat mikroba patogen dari kelompok bakteri dan khamir tetapi tidak menghambat jamur.  
FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) DENGAN KOMBINASI BAHAN PENGISIMANITOL – AMILUM MANIHOT Sulaiman, T. Nanda Saifullah; Purwantini, Indah; Haryanti, Farida
Majalah Obat Tradisional Vol 17, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.864 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ17iss3pp47-52

Abstract

Ekstrak hidroalkoholik kunyit direkomendasikan sebagai suplemen untuk prevensi atherosklerosis. Namun,penggunaannya dalam pengobatan tradisional dirasa kurang praktis dan kurang acceptable, sehingga perlu dibuat sediaan tablet hisap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi kombinasi bahan pengisi manitol-amilum manihot terhadap sifat fisik granul, tablet dan rasa tablet.Formula optimum diperoleh dengan menggunakan metode simplex lattice design. Ekstrak air dibuat menggunakan penyari berupa akuades suhu 80OC sedangkan ekstrak alkohol menggunakan penyari etanol 96%. Kedua ekstrak dicampur  sehingga diperoleh ekstrak hidroalkoholik kunyit, kemudian digranul dengan metode granulasi basah, dibuat menjadi lima formula dengan kombinasi bahan pengisi manitol-amilum manihot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi bahan pengisi manitol-amilum manihot mampu mempengaruhi kekerasan tablet, waktu larut dan penerimaan rasa. Formula optimum yang didapat adalah campuran bahan pengisi manitol-amilum manihot dengan perbandingan 80% : 20%.
INDEK GLIKEMIK UWI, GADUNG DAN TALAS YANG DIBERIKAN PADA TIKUS Sari, Ika Puspita; Lukitaningsih, Endang; Rumiyati, Rumiyati; Setiawan, Irfan Muris
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.68 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss3pp127-131

Abstract

Indonesia kaya akan umbi lokal yang semakin hari semakin dilupakan oleh generasi sekarang sebagai sumber bahan pangan yang sehat. Seiring dengan makin meningkatnya penyakit degeneratif terkait tingginya asupan glukosa, perlu digali kembali kekayaan lokal umbi-umbian dan pembuktian kandungan karbohidrat sehat di dalamnya yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indek glikemik (IG)  umbi-umbian yang diberikan secara oral pada tikus. Umbi yang diteliti antara lain, Uwi (Dioscorea alata), Gadung (Dioscorea hispida) dan Talas (Colocasia esculenta). Tikus dikelompokkan menjadi 9 kelompok masing-masing terdiri 4 ekor. Umbi diberikan dalam bentuk serbuk yang disuspensikan ke dalam Na CMC 0,1%  dengan dosis 2,5 g/kg berat badan (BB), kontrol positif berupa glukosa pemberian oral dosis 2,5 g/kg BB. Dilakukan pengambilan sampel darah hewan uji pada jam ke 0 (sebelum pemberian senyawa uji atau kontrol), 0,5; 1 dan jam ke-2 setelah pemberian senyawa uji.  Serum darah selanjutnya ditetapkan kadar glukosanya menggunakan GOD-PAP kit. Data berupa kadar glukosa darah hewan uji versus waktu dianalisis menjadi Area Under Curve (AUC) kadar glukosa versus waktu (0-2 jam). Perhitungan IG dilakukan dengan membandingkan AUC (0-2jam) senyawa uji terhadap AUC (0-2jam) glukosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga umbi yang diteliti memiliki nilai IG rendah (14-22). Umbi lokal dapat dikembangkan sebagai sumber karbohidrat yang sehat.
FORMULASI MOUTHWASH MINYAK ATSIRI DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) SERTA UJI ANTIBAKTERI DAN ANTIBIOFILM TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans SECARA IN VITRO Yosephine, Ardiana Dewi; Wulanjati, Martha Purnami; Saifullah, Teuku Nanda; Astuti, Puji
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.692 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss2pp%p

Abstract

Kemangi (Ocimum basilicum L.) mengandung minyak atsiri yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri. Berdasarkan sifat antibakterinya, maka minyak atsiri daun kemangi dapat dikembangkan menjadi mouthwash untuk mencegah timbulnya plak gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tween 80 (emulgator) dan gliserin (stabilizer) pada sifat fisik mouthwash, mengetahui perbandingan tween 80 dan gliserin yang menghasilkan mouthwash dengan stabilitas terbaik, serta melihat aktivitasnya sebagai agen antibakteri dan antibiofilm terhadap Streptococcus mutans secara in vitro. Minyak atsiri diperoleh dengan cara distilasi air dan uap air. Minyak atsiri kemudian diformulasi menjadi sediaan mouthwash dan dilakukan variasi jumlah tween 80 serta gliserin untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat fisik sediaan. Aktivitas antibakteri dan antibiofilm diuji dengan metode mikrodilusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tween 80 berpengaruh signifikan terhadap kenaikan viskositas dan gliserin berpengaruh signifikan terhadap kenaikan massa jenis bila keduanya ditambahkan lebih dari 2,5 mL dalam 50 mL mouthwash. Dari lima formula yang dibuat, formula dengan perbandingan tween 80 dan gliserin =  3,75 mL : 1,25 mL ditemukan sebagai formula terbaik. Mouthwash daun kemangi menunjukkan aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap Streptococcus mutans secara in vitro. Sediaan tersebut memiliki nilai KHM sebesar 0,1 % v/v dengan % penghambatan pertumbuhan bakteri sebesar 87,50 ± 3,33 %, sedangkan kadar optimum minyak atsiri daun kemangi yang mampu menghambat serta mendegradasi biofilm berturut-turut adalah 0,1 % v/v dan 0,2 % v/v dengan % penghambatan dan degradasi biofilm sebesar 77,52 ± 0,82 % dan 57,64 ± 6,09 %.
PENGARUH TRAGAKAN SEBAGAI PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET HISAP EKSTRAK JAHE (Zingiber officinalle Roxb.) Taurina, Wintari; Syukri, Yandi; Triastuti, Asih
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.951 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss2pp%p

Abstract

Jahe (Zingiber officinale Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat batuk, pelega perut, obat rematik serta penawar racun, dan telah lama digunakan dalam bentuk jamu. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan obat tradisional yang lebih praktis, ekonomis, stabil, dan bernilai estetis dalam bentuk tablet hisap ekstrak jahe. Pertama dilakukan ekstraksi dari serbuk jahe, kemudian dibuat ekstrak kental dan diformulasi menjadi tablet hisap menggunakan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi bahan pengikat tragakan berturut-turut adalah 5%, 7,5%, dan 10%. Granul yang dihasilkan diuji sifat fisiknya berikut dievaluasi sifat fisik tablet dan tanggapan rasa serta waktu melarut di dalam mulut. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan korelasi Pearson dengan taraf  kepercayaan 99%. Semua formula dengan variasi konsentrasi bahan pengikat tragakan dapat menghasilkan sifat fisik tablet hisap yang baik dalam memenuhi persyaratan. Dari hasil penelitian terlihat bahwa semakin besar konsentrasi tragakan  yang digunakan menyebabkan % penyimpangan bobot tablet dan kerapuhan semakin kecil, kekerasan akan semakin besar serta memperlama waktu melarut tablet. Diantara formula, tablet dengan konsentrasi tagakan 10% menghasilkan sifat fisik yang paling optimal dengan penyimpangan bobot 0,98%, kekerasan 10,18 kg, dan kerapuhan 0,11% serta waktu melarut 11,50 menit. Pada uji tanggapan rasa ketiga formula sebagian besar diterima responden dengan syarat meningkatkan kemanisan dan memperbaiki bentuk dan warnanya.
PERBANDINGAN METODE PEMBUATAN EKSTRAK TERPURIFIKASI BEE PROPOLIS DARI LEBAH MADU (Apis mellifera) BERDASARKAN KADAR FLAVONOID TOTAL DIHITUNG SEBAGAI RUTIN Pramono, Suwijiyo; Puspitasari, Agustina Dian
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.89 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss2pp81-86

Abstract

Propolis adalah campuran kompleks lilin lebah, gula, dan getah pepohonan kumpulan lebah madu (Apis mellifera). Salah satu kandungan yang memiliki efek farmakologis adalah flavonoidnya. Flavonoid dapat diperoleh dalam kadar dan kemurnian tinggi dengan dibuat ekstrak terpurifikasi. Ekstraksi dilakukan dengan etanol 96%, dilanjutkan purifikasi dengan etanol 30%, kloroform dan etil asetat untuk metode I, serta air panas dan etil asetat untuk metode II. Kandungan flavonoid dideteksi dengan Kromatografi Lapis Tipis, fase diam silika gel 60F 254, fase gerak n-butanol-asam asetat-air (3:1:1 % v/v). Kadar flavonoid total diukur dengan  spektrofotometer UV-Vis berdasarkan metode Zou, dihitung sebagai rutin. Hasil dianalisis dengan paired sample t-test. Rerata kadar flavonoid total dari ekstrak propolis belum terpurifikasi yaitu 1,23 ± 0,37 %b/b. Metode I dan II dapat digunakan untuk mempurifikasi ekstrak etanol 96% propolis, menghasilkan kadar flavonoid total yaitu 9,97 ± 1,57 (8,1 kali) dan 11,78 ± 1,30 %b/b (9,6 kali). Uji paired sample t-test dengan SPSS 16.00 menunjukkan efektivitas purifikasi dengan nilai Sig = 0,048.
UJI AKTIVITAS ANTIANEMIA EKSTRAK ETANOLIK BIJI Parkia speciosa Hassk Ghani, Andayana Puspitasari; Nursucihta, Shella; Thai’in, Hanifah Ataina; Putri, Denade Mawlidya; Utami, Dwijayanti Ngesthi
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.557 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss2pp49-54

Abstract

Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan Fe untuk eritropoesis tidak cukup. Petai (Parkia speciosa Hassk.) merupakan tanaman yangtersebar luas di Nusantara, dengan kadar zat besi yang tinggi diduga dapat meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian dilakukan dengan menggunakan petai dari Wonosari dan dibuat menjadi ekstrak kering dengan alat freezedryer. Ekstrak biji petai (Parkia speciosa Hassk.) dipejankan pada tikus putih (Rattus norvegicus) bergalur Wistar. Analisis data menggunakan One Sample t-Test dan uji ANOVA untuk mengetahui pengaruh dosis terhadap efek farmakologis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak biji petai (Parkia speciosa Hassk.) memberikan pengaruh terhadap peningkatan kadarHemoglobin (Hb) dalam darah tikus putih (Rattus norvegicus) namun belum dapat ditentukan dosis ekstrak yang paling optimum. 
SKRINING DAN ANALISIS KLT-BIOAUTOGRAFI SENYAWA ANTIMIKROBA BEBERAPA EKSTRAK SPONS ASAL PERAIRAN LAUT PULAU BARRANG LOMPO, SULAWESI SELATAN Yulianty, Risfah; Rante, Herlina; Alam, Gemini; Tahir, Akbar
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.514 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss2pp88-94

Abstract

Spons merupakan salah satu invertebrata filum Porifera yang menghasilkan senyawa aktif dengan berbagai variasi struktur dan salah satu aktivitas biologinya adalah sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak spons yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan potensi senyawa aktif antimikroba dari spons asal perairan Pulau Barrang Lompo. Mikroba uji yang digunakan adalah Escherichia coli, Salmonella typhii, Staphylococcus aureus, dan Candida albicans. Bahan uji diperoleh dengan maserasi 14 buah sampel spons dengan metanol yang dilanjutkan dengan partisi berturut-turut menggunakan kloroform dan metanol, selanjutnya dilakukan uji KLT-bioautografi terhadap ekstrak yang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari sampel spons dengan kode BRLP-009 dan BRLP-010 mempunyai aktivitas paling potensial sebagai antimikroba.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN BAWANG MEKAH (Eleutherine americana Merr.) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL) Pratiwi, Dina; Wahdaningsih, Sri; Isnindar, Isnindar
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.591 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss1pp%p

Abstract

Penggunaan dan permintaan terhadap tanaman obat tradisional saat ini semakin bertambah sehingga penelitian ke arah obat-obatan tradisional juga semakin meningkat. Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat yaitu bawang mekah (Eleutherine americana Merr.). Tanaman ini biasanya digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari daun bawang mekah. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) yang diawali dengan ekstraksi secara maserasi. Simplisia daun bawang mekah (150 g) direndam dengan etanol 70% selama 3x24 jam pada suhu kamar. Ekstrak etanol cair yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator dan dipekatkan menggunakan waterbath sehingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian terhadap ekstrak dilakukan skrining fitokimia serta uji pendahuluan dengan metode DPPH secara kromatografi lapis tipis (KLT) dengan fase gerak BAA (4:1:5). Aktivitas antioksidan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dibandingkan dengan vitamin C. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak mengandung senyawa flavonoid, saponin, fenol dan tanin. Pada uji pendahuluan menggunakan KLT, diperoleh 3 spot yang divisualisasi dengan sinar UV 366 nm dan disemprot dengan DPPH 0,2%. Ketiga spot menunjukkan perubahan warna kuning dengan latar belakang ungu yang menandakan ekstrak positif memiliki aktivitas antioksidan. Hasil pengukuran secara spektrofotometri menunjukkan bahwa ekstrak mempunyai IC50 pada 31,97437 µg/ml, sedangkan vitamin C memiliki nilai IC50 yang lebih rendah (3,90186 µg/ml).
EFEK SENYAWA FLAVONOIDS DARI KEMUNING (Murraya paniculata [L.] Jack.) TERHADAP PELEPASAN HISTAMIN DARI KULTUR SEL MAST Nugroho, Agung Endro; Riyanto, Sugeng; Sukari, Mohamad Aspollah; Maeyama, Kazutaka
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.985 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss1pp%p

Abstract

Murraya paniculata [L.] Jack. merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia, dikenal dengan nama Kemuning. Penelitian mengenai tanaman ini telah banyak dilakukan, terutama isolasi senyawa aktifnya. Tanaman ini mempunyai kandungan senyawa aktif, diantaranya senyawa turunan flavonoid. Pada penelitian, tiga senyawa flavonoid yang diisolasi dari M. paniculata diuji aktivitasnya terhadap pelepasan histamin dari kultur sel mast yaitu sel RBL-2H3. Ketiga senyawa tersebut adalah 3,3’,4’,5,5’,7–heksametoksiflavon; 3,3’,4’,5,5’,6,7-heptametoksiflavon; dan 3,3’,4’,5,5’,6,7,8-oktametoksiflavon. Induktor pelepasan histamin yang digunakan adalah DNP24-BSA dan thapsigargin. Keduanya berturut-turut menginduksi secara imunologis dan non-imunologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa heptametoksiflavon dan heksametoksiflavon cenderung tidak mempengaruhi pelepasan histamin dari sel mast. Namun, oktametoksiflavon dapat meningkatkan pelepasan histamin dari sel mast baik tanpa induksi maupun terinduksi dengan DNP24-BSA atau thapsigargin. Senyawa tersebut mampun meningkatkan pelepasan histamin hingga 50%. Dari hasil tersebut, penambahan gugus polimetoksi pada struktur flavonoid berpotensi dapat menghasilkan efek pelepasan histamin dari sel mast.  

Page 9 of 56 | Total Record : 552