cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
GERAKAN SOSIAL MASYARAKAT KAMPUNG LABALUBA DESA KONTUMERE KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA TAHUN 1960-1980 Nurwan, Nurwan; Hadara, Ali; Batia, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.189 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i4.12874

Abstract

ABSTRAK: Inti pokok masalah dalam penelitian ini meliputi latar belakang gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna, Faktor-faktor yang mendorong gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna, proses gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna dan akibat gerakan sosial masyarakat Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna? Latar belakang gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba yaitu keadaan kampungnya yang hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga tiap kampung dan jarak yang jauh masing-masing kampung membuat keadaan masyarakatnya sulit untuk berkomnikasi dan tiap kampung hanya terdiri dari lima sampai dengan tujuh kepala keluarga saja. Kampung ini letaknya paling timur pulau Muna terbentang dari ujung kota Raha sekarang sampai kampung Wakuru yang saat ini. Kondisi ini juga yang menjadi salah satu faktor penyebab kampung ini kurang berkembang baik dibidang ekonomi, sosial politik, pendidikan maupun di bidang kebudayaan. Keadaan ini diperparah lagi dengan sifat dan karakter penduduknya yang masih sangat primitif. Faktor yang mendorong adanya gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna adalah adanya ketidaksesuaian antara keinginan pemerintah setempat dan masyarakat yang mendiami Kampung Labaluba pada waktu itu. Sedangkan proses gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna bermula ketika pemerintah seolah memaksakan kehendaknya kepada rakyat yang menyebabkan rakyat tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Akibat yang ditimbulkan dari adanya gerakan sosial masyarakat Kampung Labaluba Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna terbagi dua yaitu akibat positif dan akibat negatif.Kata Kunci: Gerakan Sosial, Factor dan Dampaknya ABSTRACT: The main issues in this study include the background of the social movement of Labaluba Village, Kontumere Village, Kabawo Sub-District, Muna District, Factors that encourage social movements of Labaluba Kampung Sub-village, Kontumere Village, Kabawo Sub-District, Muna District, the social movement process of Labaluba Village, Kontumere Village, Kabawo Sub-District Muna Regency and due to Labaluba community social movements Kontumere Village Kabawo District Muna Regency? The background of the Labaluba Kampung community social movement is that the condition of the village consists of only a few heads of households per village and the distance of each village makes it difficult for the community to communicate and each village only consists of five to seven households. This village is located east of the island of Muna stretching from the edge of the city of Raha now to the current village of Wakuru. This condition is also one of the factors causing the village to be less developed in the economic, social political, educational and cultural fields. This situation is made worse by the very primitive nature and character of the population. The factor that motivated the existence of the social movement of Labaluba Village in Kontumere Village, Kabawo Subdistrict, Muna Regency was the mismatch between the wishes of the local government and the people who inhabited Labaluba Village at that time. While the process of social movements in Labaluba Village, Kontumere Village, Kabawo District, Muna Regency began when the government seemed to impose its will on the people, causing the people to disagree with the policy. The consequences arising from the existence of social movements in Labaluba Village, Kontumere Village, Kabawo District, Muna Regency are divided into two, namely positive and negative effects. Keywords: Social Movements, Factors and their Impacts
TRADISI MANSA PADA MASYARAKAT WANGI-WANGI DI KABUPATEN WAKATOBI (Suatu Tinjauan Sejarah) Edi, La; Hadara, Ali; M., Aswati
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.749 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7357

Abstract

ABSTRAK            Tradisi Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi dalam kajian ini telah diteliti dengan menfokuskan pada lima masalah utama yaitu (1) Bagaimana latar belakang lahirnya Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi? (2) Bagaimana prosesi Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi? (3) Bagaimana fungsi Mansa  pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi? (4) Bagaimana perubahan Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi? (5) Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Mansa  pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi.Hasil penelitian di lapangan menunjukkan  bahwa; (1) latar belakang lahirnya Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi menurut tradisi lisan yang berkembang, bahwa Mansa sebagai seni penjaga diri sudah ada di Pulau Oroho sebelum kerajaan di Liya dirikan, yaitu sekitar awal abad ke XIII, yaitu  Mansa yang berasal dari Maluku, yang kemudian Mansa itu diserap menjadi kebudayaan masyarakat Wangi-Wangi yang dalam masyarakat Wangi-Wangi dinamakan Mansa Makanjara. Selanjutnya pada perkembangannya, sekitar  abad ke XIX muncul Mansa Balabba sebagai salah satu aliran Mansa yang populer. Selain itu, Mansa di Wangi-Wangi sangat bervariasi, anggapan ini diperkuat dengan beberapa alasan yaitu dari letak geografisnya yang merupakan jalur pelayaran, Kedua; masyarakat Wakatobi dari berbagai penelitian terdahulu dikatakan merupakan pelaut-pelaut tangguh tradisional, yang memungkinkan dari sebagian mereka mempelajari tehnik beladiri ditempat yang mereka kunjungi. (2) prosesi pelaksanaan belajar Mansa dimulai dari Elaha u laro (mencari simpati), Hesofui (pensucian diri), Paho (mempertajam penglihatan), Hena-henai’a (belajar jurus).(3) Fungsi Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi tentunya tidak jauh berbeda dengan fungsi silat pada umumnya, yaitu (a) sebagai beladiri,dan (b) sebagai pertunjukan. (4) Perubahan yang terjadi dalam tradisi Mansa yaitu terutama munculnya aliran-aliran baru seperti Karate, Tai Kondo yang dapat mempengaruhi eksitensi Mansa yang lama. (5) Nilai yang terkandung dalam tradisi Mansa yaitu: (a) Nilai Budaya (b) Nilai Sosial; (c) Nilai Spiritual; dan (d) Nilai Estetika. Kata Kunci: Sejarah, Nilai, dan tradisi Mansa
SEJARAH KAMPUNG DANDILA MENJADI DESA MAROBEA KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT (1960-2015) Dadaswati, Dadaswati; Hadara, Ali; Baenawi, La Ode
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.943 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7362

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini diarahkan pada tiga aspek utama yaitu (1) sejarah terbentuknya kampung Dandila (2) Proses perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat (3) Perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Sjamsuddin (2007) yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan yakni (1) Heuristik: pengumpulan data melalui, penelitian kepustakaan, pengamatan, wawancara dan studi dokumen; (2) Verifikasi yaitu untuk mengkaji keaslian dan kebenaran data yang terdiri dari  kritik ekstern (kritik luar) dan kritik intern (kritik dalam), (3) Historiografi (penulisan sejarah) yang terdiri atas: a) penafsiran (interpretasi), b) penjelasan (eksplanasi), dan c) penyajian (ekspose).            Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Sejarah terbentuknya Kampung Dandila berawal dari Kapitalao La Ode Muhammad, dimana pada saat itu dia ditugaskan untuk menjaga keamanan kerajaan Tiworo dibagian timur, sehingga atas dasar pengamatannya daerah pertahanan tersebut dibentuk menjadi sebuah kampung dengan nama Kampung Dandila. Berdasarkan tradisi lisan yang mengungkapkan asal-usul nama Dandila yang berasal dari nama tanaman “kadandi-dandila” yang berarti kelam atau untuk sekarang ini lebih dikenal dengan nilam. Menurut cerita bahwa, tanaman kelam atau nilam ini merupakan tanaman liar yang banyak dijumpai sekitar daerah hutan belukar tersebut, sehingga pada saat daerah pertahanan tersebut dibentuk menjadi sebuah kampung dinamakan Kampung Dandila. (2) Proses perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea dari sebuah pengusulan masyarakat yang dipimpin oleh La Aku Pada 1967 dan berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Muna Nomor 30 Tahun 1968 tentang pembentukan Desa Marobea, Kampung Dandila terbentuk menjadi sebuah desa dengan nama Desa Marobea yang berada dalam cakupan Kecamatan Lawa. Nama tersebut berasal dari Kapitalao Marobea yang bertempat di Dandila  dan dijabat oleh Laode Muhammad pada saat itu. (3) Perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi Desa Marobea dilihat dari perkembangan pembangunan fisik maupun non fisik cukup menunjang peningkatan dan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Seiring perkembangnya Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi pembangunan terjadi dibeberapa bidang baik itu pembangunan fasilitas umum maupun sarana dan prasarana yang menjadi kegiatan pembangunan pemerintahan yang menunjang kehidupan ekonomi masyarakat Desa Marobea. Kata Kunci: Sejarah, Pembentukan Desa, dan Perkembangan
SEJARAH WATA-WATANGKE PADA MASYARAKAT MUNA awansyah, La Ode; Darnawati, Hj.; Baenawi, La Ode
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.528 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7367

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang 1) Latar belakang  tradisi wata-watangke, 2) Proses penyampaian tradisi wata-watangke dalam masyarakat Muna, dan  3) Makna yang terkandung dalam tradisi Wata-watangke.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsudin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) Heuristik (pengumpulan data), (2) Kritik sumber (eksternal dan internal), (3) Historiografi, penulisan sejarah yang terdiri atas: penafsiran, penjelasan dan penyajian. Kajian pustaka dalam penelitian ini menggunakan konsep sejarah, konsep kebudayaan, konsep wata-watangke (teka-teki), konsep pendidikan, konsep moral dan penelitian relevan.Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) latar belakang tradisi wata-watangke menjelaskan bahwa munculnya wata-watangke dimulai pada masa pengaruh Islam di Muna dimasa pemerintahan Raja Sugi Manuru pada abad XVI Dalam tahap perkembangannya tradisi wata-watangke dimainkan oleh pasangan muda-mudi yang sedang jatuh cinta., tradisi wata-watangke yang hanya mainkan oleh  muda-mudi, permainan wata-watangke berkembang dan dimainkan dari rumah ke rumah, bahkan dari kampung ke kampung dan  ini digunakan untuk membangun hubungan silaturahim agar tetap terjalin dengan baik. Dengan demikian, tradisi wata-watangke memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting untuk menjaga hubungan kekeluargaan dan komunikasi antarsesama dalam kehidupan masyarakat Muna. 2) Proses pengungkapan tradisi Wata-watangke, Dalam permainan wata-watangke terbagi atas dua bagian yaitu penanya dan penjawab. Biasanya pertanyaan dalam wata-watangke diajukan untuk dijawab atau ditebak lawan dalam permainan wata-watangke tersebut. orang atau kelompok yang mengajukan pertanyaan bertanya kepada orang atau kelompok yang dituju, maka kelompok tersebut harus menebak atau menjawab pertanyaan tersebut. 3) Permainan wata-watangke pada masyarakat Muna banyak memuat makna pendidikan, baik bentuk permainannya sampai pada ungkapan dalam wata-watangke itu sendiri diantaranya adalah nilai pendidikan agama, moral, sosial, dan karakter. Kata Kunci: Wata-watangke, Sejarah, dan Masyarakat Muna
PENGUATAN KERUKUNAN MAHASISWA MELALUI INTEGRASI KONSEP KERUKUNAN ANTAR AGAMA DAN ETNIK KEDALAM PEMBELAJARAN MATA KULIAH PENDIDIKAN MULTI KULTURAL PADA MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI FKIP UHO Hak, Pendais
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.642 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v2i1.8454

Abstract

ABSTRAK Paper ini diringkas dari hasil penelitian yang menfokuskan kajian dengan rumusan masalah apakah pembelajaran mata kuliah pendidikan multi kultural berbasis kerukunan antar agama dan etnik dapat menguatkan kerukunan mahasiswa pendidikan sosiologi FKIP Universitas Halu Oleo?. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun 2016/2017 semester III pada mahasiswa pendidikan sosiologi FKIP Universitas Halu Oleo. Jumlah mahasiswa sebanyak 42 orang. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori Classroom Action Research atau penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan demikian prosedur yang dilakukan adalah mengacu pada prosedur kegiatan dalam penelitian jenis PTK yang meliputi beberapa langka atau prosedur yaitu; pertama, tahap perencanaan berupa penyiapan bahan ajar dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Kedua, tahap pelaksanaan. Pelaksanaan perkuliahan dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan dengan perkuliahan didesain dengan pola diskusi kelompok dan praktek. Ketiga, tahap evaluasi yaitu untuk mengukur sejauhmana hasil PTK tersebut dalam pandagan atau persepsi mereka tentang kerukunan. Keempat, tahap refleksi. Karena dalam penelitian hanya dilakukan sebelum dan setelah penelitian. Sebelum kegiatan perkuliahan dilakukan langsung diberikan angket untuk mengukur persepsi mahasiswa tentang kerukunan dengan 4 variabel. Setelah kegiatan perkuliahan sebanyak 8 kali pertemuan langsung diberikan lagi evaluasi. Sehingga refleksi yang dilakukan yaitu untuk melihat hal-hal yang berdampak dan hal-hal apa yang harus direkomendasikan. Hasil penelitian ini menunjukan Kegiatan pembelajaran dengan melalui integrasi konsep kerukunan antar agama dan etnik dalam pembelajaran pada mahasiswa pendidikan sosiologi FKIP Universitas Halu Oleo sangat berdampak pada penguatan kerukunan mahasiwa hal ini ditunjukan dengan hasil indeks yang mengalami peningkatan jika dibandingkan antara sebelum dan setelah perkuliahan. Masalah mendasar dari belum tingginya index kerukunan mahasiswa (belum mencapai nilai indekx tinggi 3,5-4,0) karena sikap dan pandangan ekslusifisme baik dari sudat pandang pemahaman agama maupun sikap primordial etnik yang sudah terbangun dalam alam pikiran mahasiswa. Sehingga kondisi ini membutuhkan proses yang lebih lama dan tentunya juga harus didukung oleh bentuk-bentuk intervensi yang lain baik secara formal maupun non formal. Tetapi jika mahasiswa terus bergelut dengan kelompok yang mendoktrinkan paham kearah yang lebih ekslussif, bahkan radikal maka hal ini bisa tetap mendormg pemahaman yang tertutup lagi (ekslusif). Sehingga kegiatan dan program seperti ini harus dudukung dengan bentuk internalisasi dan dukungan dari pihak lain baik itu kalangan akademisi, tokoh agama, tokoh adat, dan maupun pemerintah.  Kata Kunci: Internalisasi Nilai, Pembelajaran, dan Penguatan Kerukunan
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 7 KABAWO MELALUI PENERAPAN MODEL PENGAJARAN LANGSUNG NURLANDE, NURLANDE
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.966 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v2i1.8477

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah Apakah melalui model pengajaran langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 7 Kabawo Mata Pelajaran PKn?  Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa  kelas V SD Negeri 7 Kabawo pada Mata Pelajaran PKn melalui model pengajaran langsung . Sedangkan Manfaat penelitian ini adalah : 1) Guru, untuk mengetahui tentang teknik pembelajaran di sekolah yang dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, sehingga materi yang diajarkan dapat dikuasai siswa. 2) Sekolah, penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran. 3) Bagi siswa, dapat menambah keterampilan belajar, meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas V SD Negeri 7 Kabawo dengan jumlah siswa sebanyak 19 orang  yang terdiri dari 9 orang laki-laki  dan 10  orang perempuan. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan  pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Prosedur pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari dua siklus. Adapun prosedur penelitian ini adalah (1) Perencanaan; (2) Pelaksanaan; (3) Observasi dan Evaluasi; (4) Refleksi. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai seperti apa yang telah didesain dalam factor-faktor yang diselidiki. Sumber data penelitian yaitu terdiri dari siswa dan guru. Jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal. Tehnik pengambilan data : (1) data tentang kondisi pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi; (2) data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan alat evaluasi hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematik siswa dikelas V SD Negeri 7 Kabawo dapat ditingkatkan melalui penerapan model pengajaran langsung. Hal ini dapat dilihat pada siklus III yang rata-rata 100% tuntas. Dari rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran telah terlaksana maka dikatakan bahwa penelitian ini berhasil. Kata Kunci: Hasil Belajar, Meningkat, dan Pengajaran Langsung
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN IPS MATERI PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DI KELAS V SDN 9 DURUKA Sainu, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.764 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i2.6093

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berangkat dari kondisi siswa SDN 9 Duruka pada mata pelajaran IPS yang menunjukkan perolehan nilai siswa yang belum mencapai KKM khususnya pada materi persiapan kemerdekaan Indonesia. Metode ceramah yang diterapkan guru selama ini merupakan salah satu penyebabnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.  Tujuannya adalah untuk  meningkatkan aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Prosedur penelitian terdiri dari  4 tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus, tiap siklus sebanyak 3 kali pertemuan.  Data hasil penelitian (aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa)  diperoleh melalui observasi, wawancara, dan tes, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.  Setelah melewati proses perlakuan sebanyak 2 siklus, maka Hasil penelitian ini menunjukan; (1) Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas mengajar guru pada mata pelajaran IPS materi persiapan kemerdekaan Indonesia di kelas V SDN 9 Duruka, di mana skor aktivitas mengajar guru pada siklus I sebesar 73,68% meningkat menjadi 89,47% pada siklus II; (2) Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi persiapan kemerdekaan Indonesia di kelas V SDN 9 Duruka, di mana skor aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 63,16% meningkat menjadi 84,21% pada siklus II;  dan (3) Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi persiapan kemerdekaan Indonesia di kelas V SDN 9 Duruka, di mana ketuntasan belajar siswa meningkat dari 41,67% pada siklus I menjadi 83,33% pada siklus II.
PENGGUNAAN DISPLAY DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN DALAM PROSES SERTA HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 TONGKUNO Maut, Wa Ode Arini
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.658 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i2.9799

Abstract

ABSTRAK: Sekolah merupakan unit utama dalam pengelolaan proses pendidikan, disekolah itulah terjadi proses belajar mengajar, yakni proses pendewasaan yang melibatkan siswa dan guru sebagai komponen utama dalam pengembangan potensi anak. Disamping itu banyak komponen penunjang yang turut berperan terhadap kemajuan proses belajar anak di sekolah. penelitian ini di lakasanakan selama dua siklus mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi Hasil pembelajaran yang didapatkan menunjukan bahwa proses belajar IPS melalui tekhnik permainan dan display mampu memberikankeberhasilan belajar pada siswa.Ketiga paradigma lainnya dicapai melalui kegiatan yang membuat siswa melakukan berbagai kegiatan dalam suasana berkelompok. Sehingga learning to do, learning to be, dan learning to live together juga mereka telah lalui. Itu pun dapat terukur dari rubrik penilaian yang dibuat dan telah terliaht bagaimana siswa terbawa dalam untuk kelompoknya untuk meraih penilaian-penilaian yang mereka hadapi selama kegiatan berlangsung. Kata Kunci: Pembelajaran Teknik Bermain dan DisplayABSTRAK: Sekolah merupakan unit utama dalam pengelolaan proses pendidikan, disekolah itulah terjadi proses belajar mengajar, yakni proses pendewasaan yang melibatkan siswa dan guru sebagai komponen utama dalam pengembangan potensi anak. Disamping itu banyak komponen penunjang yang turut berperan terhadap kemajuan proses belajar anak di sekolah. penelitian ini di lakasanakan selama dua siklus mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi Hasil pembelajaran yang didapatkan menunjukan bahwa proses belajar IPS melalui tekhnik permainan dan display mampu memberikan keberhasilan belajar pada siswa.Ketiga paradigma lainnya dicapai melalui kegiatan yang membuat siswa melakukan berbagai kegiatan dalam suasana berkelompok. Sehingga learning to do, learning to be, dan learning to live together juga mereka telah lalui. Itu pun dapat terukur dari rubrik penilaian yang dibuat dan telah terliaht bagaimana siswa terbawa dalam untuk kelompoknya untuk meraih penilaian-penilaian yang mereka hadapi selama kegiatan berlangsung.
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KECAMATAN SAMPARA (1902-2015) Akmal, Andi; Melamba, Basrin
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.807 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i2.6108

Abstract

ABSTRAKOrientasi dari penelitian ini fokus pada tiga masalah pokok yaitu 1) mengetahui latar belakang sejarah Sampara, 2) menguraikan proses terbentuknya Kecamatan Sampara, 3) Mendeskripsikan faktor-faktor pendukung terbentuknya Kecamatan Sampara.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan Tahapan Heuristik (pengumpulan sumber sejarah), kritik sumber baik kritik eksternal maupun internal, interpretasi dan Historiografi.Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang sejarah Sampara, yaitu Sampara merupakan salah satu wilayah di kerajaan Konawe yang memiliki peranan penting dalam hal pertahanan lautnya. Sampara dikenal memiliki Kapita Lau atau Kapita Bondoala (Panglima Angkatan Laut)  yang juga merupakan salah satu dewan kerajaan Konawe yang disebut “Opitu Dula Batuno Konawe”  yang bertugas menjaga pertahanan di wilayah perairan di Kerajaan Konawe. pada awal masuknya Belanda di Kerajaan Konawe pada tahun 1906.. Sampara pada awal pemerintahan Belanda Berada di bawah onderafdeling Kendari pada masa Kerajaan Laiwui. Pada tanggal 24 januari 1942 Jepang berhasil mengambil alih kerajaan Laiwui dari Belanda, kedatangan Jepang awalnya disambut baik oleh masyarakat dan bangsawan tetapi lama-kelamaan berubah menjadi kebencian karena masyarakat sangat tertekan mereka disuruh bekerja secara paksa jika melawan maka mereka akan di hukum bahkan sampai terbunuh. Akhir kekuasaan jepang yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. (2) Pembentukan Kecamatan Sampara, Berdasarkan surat keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara yang isinya adalah tentang pembubaran Distrik yang harus disusul dengan pembentukkan  wilayah Kecamatan.  Dengan berdasarkan surat keputusan tersebut dimana Kabupaten Kendari pada waktu itu terdiri 19 Distrik yang direalisir menjadi 7 wilayah administratif Kecamatan. Kemudian dengan surat keputusan Gubernur kepala daerah Provinsi Sulawesi Tenggara tanggal 7 Juli 1964 tentang penambahan jumlah wilayah Kecamatan dan didalamnya termasuk wilayah Kecamatan Sampara dengan ibu kotanya Pohara. (3) Faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Kecamatan Sampara adalah (a) faktor geografi, (b) faktor sosial budaya, (c) faktor demografi, (d) faktor sejarah. Kata Kunci: Sejarah, Perkembangan, Kecamatan Sampara
MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS III SD NEGERI 18 KENDARI MATERI KEBANGGAAN SEBAGAI ANAK BANGSA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG Sultan, Sultan
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.242 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i2.9836

Abstract

ABSTRAK: Masalah pkok penelitian ini adalah Bagaiamana upaya dan minat meningkatkan hasil belajar Pkn siswa kelas III SDN 18 Kendari tentang kebanggaan sebagai anak Indonesia melalui model pembelajaran langsung (model direct instruction) tahun pelajaran 2015/2016?Model Direct Instruction terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis kreatif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu: siklus I studi PKn siswa mencapai 66,67%, perolehan pos test adalah 55,17%. Siklus II PKn siswa mencapai 76,19% sedangkan post testnya 62,07%. Hasil yang diperoleh telah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan pada awal penelitian. Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa model langsung dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 18 Kendari. Kata Kunci : Model, Pembelajaran, Langsung

Page 7 of 21 | Total Record : 208


Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue