cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 373 Documents
Sexual Harassment In Education Institutions: College Students’ Sexually Abused Experience and Its Impact On Their Lives Umi Mahmudah; Siti Fatimah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.97-107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswa pada saat mereka masih anak-anak. Penelitian menitikberatkan pada pengalaman pelecehan seksual mereka di sekolah. Pendekatan mixed-method digunakan. Teknik pengambilan data kualitatif dilakukan dengan wawancara sedangkan data kuantitatif diperoleh dari distribusi angket. Sebanyak 240 mahasiswa di dua universitas di Jawa Tengah dianalisis. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan pengalaman pelecehan seksual mereka. Kemudian, metoderegresi digunakan untuk menganalisis relasi antara pengetahuan dan pengalaman tersebut terhadap dampak-dampak negatif yang mungkin menyertainya. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa  yang dilecehkan secara seksual ketika mereka masih anak-anak adalah tinggi, terutama anak perempuan. Pelaku pelecehan seksual sebagian besar dilakukan oleh guru. Namun tetangga, teman, dan keluarga juga berpotensi menjadi pelaku. Dampak yang paling besar adalah secara psikologis, yaitu ketakutan yang tidak wajar, depresi, depresi, dan trauma. Hasil juga mengemukakan bahwa pengetahuan dan pengalaman dilecehkan seksual oleh korban menyebabkan berbagai dampak negatif. [This study aims to explore the experiences of college students' sexual abuse when they were children. The research focuses on their experiences of sexual harassment at school. A mixed-method approach is used. The qualitative data collection technique is carried out by interview while the quantitative data are obtained from the distribution of questionnaires. A total of 240 students at two universities in Central Java are analyzed. Descriptive analysis techniques are used to describe their experiences of sexual harassment. Then, the regression method is used to analyze the relationship between knowledge and experience against the negative impacts that may accompany it. The results show that students who are sexually abused when they are children are high, especially girls. Most of the perpetrators of sexual harassment were teachers. However, neighbors, friends, and family are also potential perpetrators. The biggest impact is psychological, namely unnatural fear, depression, depression, and trauma. The results also reveal that the knowledge and experience of being sexually abused have various negative impacts.]
Poligami dan Ketahanan Keluarga Masyarakat Aceh Fitri Auliani; Ulya Layyina; Mutia Arrisha; Haiyun Nisa
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.59-68

Abstract

Berbagai permasalahan keluarga seperti pernikahan tidak tercatat, pernikahan siri, perkawinan anak, poligami, perceraian  dan sebagainya memerlukan perhatian khusus. Sebagai bentuk solusi, para pemangku kebijakan merumuskan Qanun Hukum Keluarga yang bertujuan untuk mengatur kehidupan keluarga masyarakat Aceh yang berlandaskan syariat Islam sehingga mampu membentuk ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga diatur melalui pendidikan pra nikah, tercatat secara resmi dalam dokumen negara, perceraian dilakukan dipengadilan, peminangan disesuaikan dengan kearifan lokal, pengaturan persyaratan administrasi seperti harus bebas dari pengaruh narkotika dan obat terlarang, sanksi dan sebagainya. Namun, Rancangan Qanun Hukum Keluarga justru menuai polemik yang mengarah kepada regulasi poligami. Kredibilitas regulasi poligami dalam menyokong ketahanan keluarga masih dipertanyakan. Tinjauan naratif ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pengesahan regulasi poligami terhadap ketahanan keluarga masyarakat Aceh. Adapun metode penelitian menggunakan pendekatan studi pustaka (literature review) dengan metode penulisan artikel merujuk pada narrative review. Hasil kajian literatur didapatkan bahwa secara teoritis, regulasi poligami memberikan pengaruh positif maupun negatif pada keluarga poligami. Namun ketika disandingkan dengan ketahanan keluarga yang merupakan esensi dari Qanun Hukum Keluarga, maka regulasi poligami tidak dapat menjamin terbentuknya ketahanan keluarga pada masyarakat Aceh.   [Various family problems such as unregistered marriages, unregistered marriages, child marriages, polygamy, divorce and so on require special attention.As a solution, policymakers formulated Qanun Hukum Keluarga which aims to regulate the family life of the Acehnese people based on Islamic law so that they can build family resilience. However, the Draft of Qanun Hukum Keluarga has resulted in a polemic that leads to the regulation of polygamy. The credibility of the polygamy regulation in supporting family resilience is still questionable. This narrative review aims to provide an overview of the legalization of polygamy regulations on the resilience of families in Aceh. The research method uses a literature review approach with an article writing method referring to a narrative review. This study discovered that theoretically, polygamy regulation has either a positive or negative effect on polygamous families. Therefore, when juxtaposed with family resilience, which is the essence of the Qanun Hukum Keluarga, the regulation of polygamy cannot guarantee the formation of family resilience in Acehnese society.]  
Kesetaraan Gender Dalam Pembaruan Hukum Keluarga Di Syria dan Indonesia Neng Eri Sofiana
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.83-95

Abstract

Syria dan Indonesia adalah negara yang memiliki hubungan diplomatik yang baik. Syria melakukan reformasi dan kodifikasi hukum keluarga lebih awal dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan, Syria termasuk salah satu negara yang paling awal melakukan kodifikasi. Tulisan ini akan melihat bagaimana pembaruan hukum keluarga yang terdapat di negara Syiria dan Indonesia, kemudian melihatnya dari sisi fikih klasik dan sensitifitas gender. Hal ini dilakukan sebab regulasi pemerintah dapat menjadi salah satu sumber diskriminasi perempuan, sedangkan pembaruan hukum keluarga menjadi salah satu upaya untuk mengakomodir hak-hak perempuan, sehingga dapat mengangkat harkat, martabat, dan status perempuan. Adapun metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah dengan penelitian pustaka yang bertumpu kepada subjek primer berupa kodifikasi hukum keluarga kedua negara, buku dan jurnal terkait. Hasilnya, ternyata, Syiria yang lebih bercorak kepada madzhab Hanafi lebih memiliki sentifitas gender atau pemenuhan hak-hak perempuan dalam ketentuan regulasi hukum keluarganya dibandingkan Indonesia yang lebih cenderung kepada madzhab Syafi’i. Adapun jika dilihat dari karakteristik tujuan, metode dan alasan sosiologis terkait ketentuan yang dipilih di negara tersebut dalam pembentukan dan pemberlakuan pembaruan hukum keluarga Islam, maka negara Syria dapat dikategorikan sebagai negara yang memiliki pembaruan hukum keluarga yang bersifat responsif, unifikasi madzhab dan intradoktrinal reform, sedangkan negara Indonesia memiliki pembaruan hukum keluarga yang bersifat adaptif, unifikasi madzhab dan intradoktrinal reform.   [Syria and Indonesia are countries that have good diplomatic relations. Syria carried out the reform and codification of family law earlier than Indonesia. In fact, Syria was one of the earliest countries to codify. This paper will look at how family law reforms exist in Syria and Indonesia, then look at it from the side of classical fiqh and gender sensitivity. This is done because government regulations can be a source of discrimination against women, while family law reform is an effort to accommodate women's rights, so that they can elevate the dignity and status of women. The method used in this writing is library research which relies on primary subjects in the form of Islamic constitution law both Syia and Indonesia, books and related journals. The result, it turns out, is that Syria, which is more oriented to the Hanafi thought, has more gender sensitivity or the fulfillment of women's rights in the provisions of family law regulations than Indonesia, which is more inclined to the Syafi'i thought. Meanwhile, if viewed from the characteristics of the objectives, methods and sociological reasons related to the provisions chosen in the country in the formation and implementation of Islamic family law reform, the Syrian state can be categorized as a country that has responsive family law reform, unification of schools or madhzab and intradoctrinal reform, while Indonesia has an adaptive family law reform, madhzab unification and intradoctrinal reform.]
Eksistensi Wanita Karier Di Era Pandemi: Antara Kebutuhan dan Peluang Nasrulloh Nasrulloh; Ahmad Hafidh
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.217-227

Abstract

Di masa ini telah marak ditemui wanita berkarier pada sektor-sektor yang bermacam. Ulama pun ada yang membolehkan meski memberikan batasan-batasan tertentu agar tidak melewati batas yang telah ditetapkan oleh agama. Pada situasi pandemi yang serba sulit ini, keberadaan wanita karier di Kota Malang cenderung tidak mengalami penurunan, berbeda halnya dengan pelaku karier laki-laki yang mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana eksistensi wanita karier di Kota Malang pada situasi pandemi Covid-19, serta motif yang melatarbelakangi mereka tetap berkarier di era pandemi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif empiris, dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi wanita karier di Kota Malang pada era pandemi cenderung meningkat, karena mereka menyikapi situasi pandemi dengan baik, misalnya mulai merambah ranah digital atau menjalani karier yang dibutuhkan pada situasi pandemi. Sedangkan motif sebagian besar mereka tetap berkarier karena kebutuhan ekonomi, sebagian yang lain melihat situasi pandemi sebagai peluang untuk berkarier. [At this time there has been a rise in career women in various sectors. Some ulema said that the career women are allowed in Islam only if it doesn’t cross the limits set by religion. In this difficult pandemic situation, the existence of career women in Malang city tends to increase, in contrast to male career actors who experience a decline. This research aims to find out how the existence and the motives of women to have the careers in Malang city during the Covid-19 pandemic. The study uses empirical qualitative method, with a phenomenological approach. The results of this study show that increasing of career women in Malang city in the pandemic era was because they respond well to the pandemic situations, for example starting to penetrate digital shutters or undergoing the career needed. While the motive is mostly to keep a career because of economic needs and the opportunity of seeing the pandemic situation.]
The Niqab Among Pattani, Salafi, and Nahdliyin Students: Piety, Safety, and Identity Lis Safitri
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.69-82

Abstract

Saat ini pengguna niqab atau cadar tidak hanya berasal dari Muslimah konservatif melainkan juga dari kalangan Muslimah moderat. Maraknya pengguna cadar membuat resah komunitas termasuk institusi pendidikan Islam karena dikaitkan dengan pertumbuhan radikalisme Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap fenomena penggunaan cadar di IAIN Purwokerto pada tahun 2018-2019. Subjek penelitian diseleksi berdasarkan gender-based yaitu para mahasiswi pengguna cadar yang terbagi menjadi tiga kelompok yaitu mahasiswi Pattani, mahasiswi Nahdliyin, dan mahasiswi Salafi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cadar di IAIN Purwokerto memiliki beberapa tujuan. Mahasiswi Pattani menganggap cadar sebagai media untuk meraih akhlak yang lebih baik. Mereka tidak menyetujui cadar sebagai tolok ukur kesalehan seseorang. Hal tersebut juga diamini oleh mahasiswi Nahdliyin yang menyatakan bahwa religiusitas lebih ditunjukkan oleh ketaatan dan akhlak. Dia memakai cadar dengan alasan kenyamanan. Sementara mahasiswi Salafi menyatakan cadar sebagai identitas, kesalehan, serta kesempurnaan perempuan. Ketiga kelompok mahasiswi tersebut mengakui bahwa cadar memiliki fungsi perlindungan diri bagi pemakainya meskipun hanya pseudo-safety. Pengguna cadar di IAIN Purwokerto sama sekali tidak terafiliasi dengan organisasi ekstremis. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak kampus dalam mengeluarkan kebijakan terkait pengguna cadar di kampus. [Recently, the niqabi (women who wear niqab) come not only from the conservative but also the more moderate Muslim women. The increasing use of the veil has unsettled communities, including Islamic educational institutions, because it is associated with the rise of radicalism. This qualitative research aims to describe the phenomenon of niqabi student in the Islamic State Institute of Purwokerto (IAIN Purwokerto) between 2018 and 2019. The data were collected thorugh in-depth interviews and observation to three groups of informants: Pattani students, Nahdliyin students, and Salafi students. The data were subjected to Creswell's phenomenological research. The result showed that the niqabi at IAIN Purwokerto had several motives. While Pattani students expected wearing niqab as a medium to achieve better morals, they refused to believe that niqabi women were more pious than their non-niqabi counterparts. Likewise, the Nahdliyin student admitted that the niqab was not necessarily demonstrating individual level of religiosity which is exhibited through their submission to Islamic tenets and good behavior. Meanwhile, Salafi students considered the niqab to be a woman's identity, piety, and perfection. All niqabi students expressed that the niqab has a self-safety function although pseudo safety. Niqabi students at IAIN Purwokerto were not affiliated with radicalism. The result of the study can be used for the campus in issuing policies related to niqabi on campus.]
Womenpreneurship: Aktualisasi Peran Perempuan Melalui Pemberdayaan Kewirausahaan di Kecamatan Lembeyan Kabupaten Magetan Muhammad Ghafar; Ahmad Zarkasyi
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.81-94

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aktualisasi perempuan dalam berwirausaha di Kelurahan Lembeyan Kulon, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, dalam mengembangkan potensi pertanian berupa tanaman buah jambu mede sebagai oleh-oleh destinasi wisata Telaga Sarangan Magetan. Produksi jambu mede yang  menyentuh angka lima belas ton per empat bulan ini dijual dengan nilai rendah sehingga petani di Desa Lembeyan sering mengalami kerugian dan akibatnya terkadang buahnya hanya dijadikan pakan ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus guna mendeskripsikan data secara menyeluruh dan utuh mengenai aktualisasi peran perempuan melalui pemberdayaan kewirausahaan. Analisis data dilakukan peneliti dengan tahapan kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, dengan teknik keabsahan data kredibilitas dan konfirmbality. Pemberdayaan perempuan desa melalui pelatihan pengolahan abon jambu  mede  diharapkan dapat mendorong semangat berwirausaha perempuan di Kelurahan Lembeyan serta nantinya melahirkan womenpreneur desa yang berkontribusi terhadap nilai tambah hasil pertanian jambu mede dan menambah pendapatan keuangan keluarga. [This study aims to reveal the actualization of women in entrepreneurship in Lembeyan Kulon Village, Lembeyan District, Magetan Regency, empowering women in developing agricultural potential in the form of cashew fruit plants as souvenirs for the tourist destination of the Magetan Sarangan Lake. Cashew nut production reaches fifteen tons per four months, the harvest has been sold at a low value so that farmers in Lembeyan village often experience losses and as a result sometimes the fruit is only used as animal feed. This study describes the data as a whole and in its entirety regarding the actualization of the role of women through entrepreneurial empowerment. Data analysis was carried out by matching the data obtained, systematized, interpreted logically for the validity and credibility of the data obtained. Empowerment of village women through training on processing cashew floss is expected to encourage women's entrepreneurial spirit in Lembeyan Village and later contribute to the added value of cashew agricultural products and increase family financial income.]
Peran dan Kontribusi Perempuan Penjual Jamu Gendong Pada Perekonomian Keluarga Di Kabupaten Boyolali Rochman Hadi Mustofa; Aida Nuzul Umi Hanifah; Mutiara Karima
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.53-64

Abstract

  Kabupaten Boyolali memiliki reputasi yang terkenal dalam usaha jamu gendong secara turun-temurun, salah satunya di Desa Kadipaten. Penjual jamu gendong di Kabupaten Boyolali identik dengan profesi yang ditekuni oleh perempuan, namun tidak banyak yang meneliti terkait mengapa mereka banyak menekuni profesi jamu gendong hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran dan kontribusi perempuan penjual jamu gendong pada perekonomian keluarga, mendeskripsikan faktor pendorong perempuan di Dusun Kadirejo, Desa Kadipaten, Kabupaten Boyolali dalam menekuni profesi penjual jamu gendong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Data diperoleh menggunakan wawancara mendalam dari 12 informan. Keabsahan data penelitian menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontibusi perempuan berperan penting pada perekonomian keluarga dan rata-rata mampu manajemen waktu yang baik. Faktor yang mendorong perempuan berprofesi sebagai penjual jamu gendong dipengaruhi oleh faktor internal meliputi rendahnya penghasilan suami, modal relatif kecil, rendahnya tingkat pendidikan dan keinginan produktif dalam ekonomi keluarga. Faktor eksternal meliputi meneruskan bisnis keluarga dan faktor lingkungan sosial. [Boyolali Regency has a long history of jamu gendong producers, one of which is located in the Kadipaten Village. Jamu gendong sellers are likewise identical to woman professions, but   little studies why so  many  women  are  involved in  jamu gendong profession. The purpose of this study is to examine the function and contribution of women selling jamu gendong to the family economy, as well as to identify the reasons that motivate women in Kadirejo Village, Kadipaten Village, Boyolali Regency to start businesses as jamu gendong sellers. This study employs a qualitative approach with a phenomenological design. The data were gathered through in-depth interviews among 12 informants. Source triangulation was done to determine the legitimacy of the research data. The findings indicate that women contribute significantly to the family economics and are generally capable of effective time management. Women are encouraged to work as sellers of  jamu gendong because of  internal reasons such as their husbands' low income, limited capital, low educational attainment, and a desire to contribute to the family economy. The external influences include family business continuation and social contextual issues.]
Syariat Islam dan Produksi Pengetahuan Perempuan Aceh Sri Roviana
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.109-126

Abstract

Perebutan ruang publik politik di Aceh benar-benar nyata adanya. Kaum perempuan berada dalam posisi marginal secara politik, ekonomi, maupun kultural disebabkan karena pandangan ulama konservatis yang menguasai ranah publik dengan dukungan elit-elit politik lokal, nasional dan Wilayatul Hisbah. Temuan kajian ini menunjukkan posisi perempuan Aceh yang sejak semula telah aktif dalam pergerakan melawan kolonialisme, aktif dalam politik praktis dan kegiatan ekonomi mengalami peminggiran secara sistematis karena adanya kebijakan politik seperti syariat Islam yang dipahami secara normatif, berbeda dengan semangat membela seluruh kepentingan umat manusia. Ditemukan pula secara jelas perempuan berada pada posisi terpinggirkan karena tafsir yang dilakukan sangat formalistik dan male perspective. Artikel ini bertujuan memberikan analisis atas berbagai aktivitas perempuan dalam memproduksi pengetahuan sebagai sarana melakukan perlawanan dan perebutan ruang publik politik secara back stage (secara tersembunyi), bukan dengan cara terang-terangan. Artikel ini menggunakan teori perebutan ruang public yang bersifat hiden transcript model James C Scott dengan menggunakan modal sosial dari Pierre Bourdieu.   [The struggle for public political space in Aceh is genuine. Women are in a marginal position politically, economically, and culturally due to the views of conservative ulama who dominate the public sphere with the support of local, national, and Wilayatul Hisbah political elites. The position of Acehnese women, who form the beginning had been active in the movement against colonialism, active in practical politics and economic activities, was systematically marginalized due to political policies such as Islamic law, which was understood normatively, in contrast to the spirit of defending all the interests of humanity. Women are in a marginalized position because the interpretation is the very formalistic and male perspective. This article aims to analyze various women's activities in producing knowledge as a means of resisting and seizing public political space backstage (hidden), not by overtly mobilizing masses, demonstrations, burning public facilities, committing murders, and destroying facilities.]
Peran Joint Program Terkait Upaya Menghentikan Kasus Female Genital Mutilation (FGM) Di Somalia Anna Mardiyah; Rusdi J. Abbas
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.161-174

Abstract

Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi tradisi FGM di Somalia, United Nations Population Fund (UNFPA) melakukan kerja sama dengan United Nations Children's Fund (UNICEF) dan membentuk program yang dikenal dengan Joint Program. Tulisan ini mencoba menggambarkan bagaimana tradisi FGM yang terjadi di Somalia dan menunjukkan bahwa UNFPA berusaha mengurangi tradisi ini. Penulis menggunakan metode kualitatif yang berbasis pada studi literatur yang terkait dengan perempuan, tradisi FGM, serta dokumen-dokumen resmi baik dari PBB maupun dokumen resmi dari Somalia. Penulis menemukan bahwa FGM sering terjadi karena telah menjadi budaya yang turun temurun di sebagian besar negara-negara Afrika dan melekat erat pada masyarakat. Di dunia internasional FGM dianggap sebagai kejahatan jender. FGM ini sendiri sering terjadi di berbagai negara yang ada di belahan dunia terutama Somalia. Masyarakat Somalia pada umumnya melaksanakan praktik FGM karena, praktik ini dipercaya merupakan proses anak menjalani transisi menuju kedewasaan. Melihat hanya ada kerugian yang diterima oleh perempuan melalui tradisi FGM, Joint Program melakukan kerja sama dengan Pemerintah, pemuka agama, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Somalia. Adanya kerja sama ini diharapkan dapat mengurangi angka keberlangsungan tradisi ini. [As an effort to reduce the tradition of FGM in Somalia, the United Nations Population Fund (UNFPA) collaborated with the United Nations Children's Fund (UNICEF) and formed a program known as the Joint Program. This paper tries to describe how the FGM tradition occurs in Somalia and shows that UNFPA is trying to reduce this tradition. The author will use a qualitative method based on literature studies related to women, FGM traditions, as well as official documents from both the United Nations and official documents from Somalia. The author finds that FGM often occurs because it has become a hereditary culture in most African countries and is closely attached to the community. Internationally, FGM is considered a gender crime. FGM itself often occurs in various countries around the world, especially Somalia. Somali people, in general, carry out the practice of FGM because this practice is believed to be a process of children undergoing the transition to adulthood. Seeing that there are only losses received by women through the FGM tradition, the Joint Program collaborates with the government, religious leaders, and Non-Governmental Organizations (NGOs)in Somalia. The existence of this collaboration is expected to reduce the sustainability of this tradition.]
Pendidikan Nonformal Berbasis Majelis Taklim Perempuan Di Yogyakarta: Analisis Epistemologi BayᾹnῙ, ‘IrfᾹnῙ, BurhᾹnῙ Dan Ilmu Sosial Profetik Siti Aisyah; Mahumah Marhumah; Hamruni Hamruni
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.187-202

Abstract

Majelis Taklim sebagai bagian integral pendidikan Islam dan Sistem Pendidikan di Indonesia menempati peran strategis pembinaan jamaah dalam perwjudan insan beriman, bertakwa, dan masyarakat utama. Selama ini, kajian akademik pendidikan nonformal berbasis Majelis Taklim Perempuan masih kurang mendapatkan perhatian serius di kalangan akademisi. Tulisan ini mengangkat dua pokok objek penelitian: pertama, pengembangan materi pendidikan dalam perspektif epistemologi bayānī, ’irfānī, dan burhānī, pada pendidikan nonformal berbasis Majelis Taklim Perempuan di kota Yogyakarta; dan kedua, pengembangan kegiatan pendidikan nonformal berbasis Majelis Taklim Perempuan di kota Yogyakarta perspektif ilmu sosial profetik. Subjek penelitian pada lima pengajian ibu-ibu di kota Yogyakarta: 1) Pengajian ’Aisyiyah Ranting Kadipaten Wetan dan Ngasem, 2) Pengajian Dewi Khodijah Pasar Beringharjo, 3) Pengajian Kartini Kecamatan Jetis dan Kampung Sitisewu, 4) Pengajian Raudlatul Jannah Muslimat NU Cabang Kota Yogyakarta, dan 5) Pengajian Al-Wardah (WSI-KBW UCY). Hasil temuan penelitian ini adalah 1) Proses penyajian materi dengan fokus pengembangan cara unik yang dilakukan ustaz dan ustazah 2) rintisan kegiatan pemberdayaan masyarakat telah dilakukan melalui aktivisme sejarah, pilar humanisasi, liberasi, dan transendensi.   [Majelis Taklim (Woman Islamic Forum), which serves as an integral part of Islamic education in Indonesia, has been playing a role model in Presenting the women community to challenge the religious activism in the community. Surprisingly, the few studies are less attention in an academic project to address the Majelis Taklim issue. This thesis raises two main points as the implementation of teaching materials in Majelis Taklim in Yogyakarta on bayānī, 'irfānī, and burhānī epistemology perspective. Second, Majelis Taklim in Yogyakarta teaches on the prophetic approach for Social Perspective. The paper addresses five Majelis in Yogyakarta as Pengajian ‘Aisyiyah Subdipaten Wetan and Ngasem, Pengajian Khodijah Pasar Beringharjo, Pengajian Kartini, Jetis District and Kampung Sitisewu, Pengajian Raudlatul Jannah Muslimat NU Yogyakarta City Branch, and Pengajian Al-Wardah (WSI-KBWUCY). The analysis finds the points of Unique topics in developing material for Teaching Proses and the First Model of Women activism on Woman historical in Indonesia with Freedom of Speech in Human rights, Liberation, and equality transcendence.]