cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 373 Documents
Teologi Al-Ma’un Berperspektif Feminisme: : Studi Kasus Perempuan Kepala Keluarga Miskin Kota Di Depok, Jakarta, Dan Tangerang Selatan Yulianti Muthmainnah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.203-215

Abstract

Kemajuan ekonomi Indonesia ditopang oleh perempuan yang berada di garda depan. Termasuk pajak yang dibayarkan perempuan lebih besar dari laki-laki. Angka kemiskinan perempuan kepala keluarga di Indonesia lebih tinggi daripada keluarga yang dikepalai laki-laki. Tetapi, perempuan miskin kota jarang mendapatkan akses, bantuan, untuk pemberdayaan ekonomi mereka karena tidak terdata sebagai kepala keluarga. Melalui ‘Teologi al-Ma’un Berperspektif Feminisme (TABF)’, filantropi berbasis observasi keluarga miskin (duafa) yang dikepalai perempuan dengan 30 indikator, peta desa berperspektif feminisme, penggalangan dana, dan penyaluran bantuan tanpa dana tunai, dengan pelibatan mahasiswi/a untuk menumbuhkan empati dan kewirausahaan mahasiswi/a yang dikembangkan sejak 2017, berhasil menciptakan usaha baru, pemberdayaan ekonomi perempuan kepala keluarga. Tulisan ini meneliti tahapan TABF, keberlanjutan dan kebertahanan TABF terutama di masa covid-19 dengan tiga contoh: Kebayoran Lama-Jakarta, Ciputat-Tangerang Selatan, dan Parung-Bogor melalui metode kualitatif. Penelitian ini menyumbang upaya menurunkan kemiskinan perempuan yang dilakukan lembaga pendidikan dan membuktikan pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga (PRT) harus diadvokasi secara lebih serius.   [Indonesia's economic progress is supported by women who are in the vanguard. Including taxes paid by women are greater than men. However, urban poor women rarely get access to assistance for their economic empowerment because they are not recorded as the head of the family. The poverty rate for female heads of household in Indonesia is higher than for families headed by men. The research is based on 'Theology al-Ma'un with Feminist Perspective', philanthropy based on observations of poor families (duafa) headed by women with 30 indicators, village maps with a feminist perspective, fundraising, and distribution without cash assistance, with the involvement of students to foster empathy and entrepreneurship. It has been developed since 2017 and has succeeded in creating new businesses, empowering the economy of women heads of families. This paper examines the stages of al-Ma'un Theology, the sustainability and endurance of al-Ma'un Theology with Feminist Perspective, especially during the Covid-19 period with three case studies: Kebayoran Lama-Jakarta, Ciputat-Tangerang Selatan, and Parung-Bogor through qualitative methods. This research contributes to efforts to reduce poverty for women carried out by educational institutions and proves that employment as domestic workers (PRT) should be advocated more seriously.]
Perspektif Bourdieu pada Latar Belakang Ekonomi, Lingkungan Sosial dan Peer Group, Anak Berkonflik dengan Hukum Diana Dewi Sartika; Safira Soraida; Yosi Arianti
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.13-24

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi kehidupan anak berkonflik dengan hukum (ABH/anak pelaku tindak kejahatan) pada aspek kehidupan mereka dari latar belakang ekonomi, lingkungan sosial, dan peer group dominasi maskulin. Studi ini menganalisis fokus kajian melalui elaborasi konsep penting dari Bourdieu, seperti habitus primer sekunder, doxa, heterodoxa, kapital, arena, dan dominasi maskulin. Studi kualitatif ini menggali data dari informan ABH dan beberapa petugas di LPKA Palembang. Pengumpulan Data melalui wawancara mendalam dan observasi. Sementara, analisis data secara interaktif melalui reduksi, display data, dan penarikan kesimpulan. Latar belakang ekonomi keluarga ABH sebagian besar berasal dari kelas sosial bawah dan lingkungan kurang mendukung dalam pengembangan karakter positif ABH. Posisi habitus primer ABH ini merupakan lingkungan negatif. Dalam hal ini, lingkungan sosial dan peer group menjadi referensi dalam proses pembentukan identitas sebagai habitus sekunder. Perilaku tindak kejahatan merupakan perwujudan heterodoxa ABH di luar arena mainstream (doxa). Lingkungan sosial dan peer group menjadi kapital sosial dan kapital budaya bagi ABH dalam arena kejahatan. Perspektif Bourdieu terkait gender pada masalah ini adalah konteks dominasi maskulin yang kuat. Hasil studi ini menunjukkan mayoritas ABH laki-laki. Sementara, perempuan dan anak perempuan lebih terlihat sebagai korban. [The study focuses on exploring the children in conflict with the law (ABH) in several aspects. The family Background is under economic Problems, a negative social environment, Poor peer groups, and masculine domination. The study analyzes the elaboration concepts from Bourdieu, such as primary and secondary habitus, doxa, heterodox, capital, arena, and masculine domination. The study takes from extracting data with informants such as ABH and several officers at LPKA Palembang. Data was collected through in-depth interviews and observations. Meanwhile, data analysis was carried out interactively, through reduction, data display, and concluding. ABH's family background is an economic poor background, the lower social classes, the environment habitus does not support ABH, and the social peer groups become their references in the process of performing identity as a secondary habitus. Bourdieu's perspective regarding gender sees in the masculine dominance problem. The result of the study shows the majority of ABH are male. Meanwhile, the women and girls are the victims of patrilineal culture.]
Kongres Ulama Perempuan Indonesia dalam Wacana Merebut Tafsir Gender Pasca Reformasi: Sebuah Tinjauan Genealogi Amrin Ma'ruf; Wilodati Wilodati; Tutin Aryanti
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.127-146

Abstract

Tahun 2017, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Pertama kali terselenggara di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon. Kehadiran KUPI merepresentasi ulama perempuan dalam wacana produksi pengetahuan berbasis gender di pesantren. Tulisan ini menganalisis preseden awal KUPI tentang jaringan produksi pengetahuan isu gender di pesantren. Genealogi Michel Foucault adalah pisau analisis akademis pada wacana gender di pesantren dalam pembahasan ini. Wacana ini tersebar dalam diskursus ruang publik yang berserakan tapi belum pada lingkungan pesantren terutama pada pengetahuan tentang ulama perempuan. Agensi Pengetahuan tentang perempuan ulama membentuk cara pandang baru tentang etika personal, modal perumusan kaidah Fiqih, dan arah pengetahuan berbasis gender. KUPI adalah salah satu  ruang publik pada konsepsi pengetahuan gender di pesantren yang dikuasai oleh dominasi patriarkis. KUPI mewakili suara gender pesantren baik secara digital ataupun public terbuka pasca reformasi dengan berbagai kemunculan para aktivis gender pesantren. [In 2017, the Indonesian Women's Ulama Congress (KUPI) was first held at the Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Islamic, Cirebon. KUPI represents female ulama in the discourse of gender-based knowledge of pesantren decision in Islamic living production. This paper Talks KUPI's initial presentation on the network of gender knowledge in pesantren. Michel Foucault's genealogy is the academic analysis on gender discourse in pesantren living law in Fiqih Process discussion. This issue is spread in the scattered public space discourse, but not yet in the pesantren environment, especially in the knowledge of female clerics. The Agencies on women ulama forms a new perspective on personal ethics, the formula new Fiqh rules, and the direction of gender-based knowledge. KUPI is one of the spaces in the conception of gender knowledge in pesantren which is dominated by patriarchal domination. KUPI represents the gender voice of pesantren both digitally and publicly after the reformation with the pesantren gender activists.]
Gender dalam Sorotan Tafsir di Indonesia (Penelitian berbasis Systematic Literature Review) Mukhamad Saifunnuha
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.202.147-159

Abstract

Sejak kemunculannya, kajian gender telah cukup berkembang di Indonesia. Beragam kajian dilakukan, seperti kajian ayat, kajian tokoh, pemikiran, dan kajian kitab tafsir. Tulisan ini juga mengkaji gender dalam karya-karya tafsir di Indonesia, untuk mengetahui dinamika penafsiran yang ada, khususnya terkait penafsiran ayat-ayat gender; serta sejauh mana perhatian dan kontribusi Indonesia dalam mengarusutamakan kesetaraan gender melalui karya-karya tafsir yang hadir di dalamnya. Penulis menggunakan model systematic literature review (SLR) dalam penelitian ini, yaitu sebuah cara sistematis dan terstruktur untuk mengumpulkan, mengevaluasi secara kritis, mengintegrasikan dan menyajikan temuan dari berbagai studi penelitian melalui  topik serta pertanyaan penelitian . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Indonesia dengan karya tafsirnya mampu menghadirkan kajian atau penafsiran ramah gender, yang ditandai dengan kemunculan Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab. Meskipun demikian, beberapa karya tafsir yang hadir sebelum Quraish Shihab juga sudah mulai menunjukkan keramahan gender dalam penafsirannya, seperti Hamka dalam tafsirnya. Sedangkan setelah era Quraish Shihab, kajian gender dalam penafsiran sudah marak dilakukan, khususnya  dalam penafsiran-penafsiran tematik. Adapun objek kajian yang dibahas pun semakin variatif dan tidak hanya berkutat pada ayat-ayat penciptaan manusia, kepemimpinan dalam rumah tangga, atau poligami saja; melainkan sudah merambah ayat-ayat lain seperti QS at-Taubah ayat 71 tentang hak kepemimpinan perempuan dalam politik kepemimpinan. [Since its inception, gender studies have developed  in various studies such as verse studies, figures, thoughts, and interpretation. This paper examines gender in interpretation (tafsir) works in Indonesia, to find out the dynamics of the  interpretations, especially related to  gender verses;  how  their  roles and contributions in mainstreaming gender equality through the works of interpretation. In this study, the writer uses a systematic literature review (SLR) model ,  a systematic and structured way to collect, critically evaluate, integrate and present findings from various research studies through a topics and research questions. The results of this study indicate that Indonesia with its interpretation works is able to present gender-friendly studies which is marked by the appearance of Quraish Shihab's Tafsir al-Misbah. However, several works  that came before Quraish Shihab have also begun to show gender friendliness, such as Hamka in his interpretation. Meanwhile, after the era of Quraish Shihab, gender studies have been widely carried out, especially in thematic interpretations. The objects of study discussed are varied,  not only dwell on the verses of the creation of man, leadership in the household, or polygamy ; but also other verses such as QS at-Taubah verse 71 concerning the rights of women in politics leadership.]
Asal Penciptaan Perempuan Hingga Dunia Mode dan Praktek Ibadah: Pentafsiran Ulang Tulang Bengkok dan Mitos Menstrual Taboo Fathonah K. Daud; Nina Nurmila
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.25-40

Abstract

Artikel ini menelaah asal penciptaan perempuan dan mitos menstrual taboo, di mana merupakan akar historis pemahaman misoginis dalam Islam. Metode penelitian ini menggunakan kajian pustaka dengan pendekatan kajian tematik tafsif bi ar-ra’yi dalam perspektif gender dan analisis deskriptif-eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman tentang mitos-mitos di luar Islam pada era Jahiliyyah yang berpengaruh pada penafsiran ulama klasik yang terkesan misoginis terhadap perempuan. Kajian teks suci ini menunjukkan perempuan tidak diciptakan dari tulang rusuk bengkok. Hal ini melihat makna نفس (nafs) dalam berbagai konjugasi kata yang terulang 295 kali dalam al-Qur’an. Kata tersebut tidak hanya memiliki makna Adam secara spesifik, tetapi punya arti luas sebagai bangsa (ras). Sementara, mitos menstrual taboo memunculkan pemahaman menstrual creations. Hal ini dulu nampak tabu dan mendiskriditkan perempuan, berbeda dengan masa kini yang menjadikan bagian dari mode dan gaya hidup sehingga living ibadah sebagai bagian dari menstrual taboo. [The article talks the creation of women and the menstrual taboo myth that is the misogynistic understanding in al-Qur’an and Hadis interpretation. The method uses a library document with a gender issue and descriptive-exploratory analysis on tafsir bi al-ra’yi. The paper finds the history of pre-Islamic myths era in taking effect for classical scholars on exegeses of Misogynist perspective. The study of exegeses for al-Qur’an and hadis is not talking about the creation women from a crooked rib. It puts the meaning of the word ‘نفس’ (nafs) in 295 various conjugations. The word is not in meaning man “Adam” on specifically but has a big meaning in people generally sex. Meanwhile, the menstrual taboo myth sees for living menstrual creation. The era took the menstrual taboo for discrimination issue. Today the menstrual taboo changes for living religion practices with live style mode.]
Cyberpsychology: The Understanding of Woman-Social Media's Interaction Novi Nur Lailisna
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.123-132

Abstract

The face can display how the emotion of a human. Some research concluded that it is possible to be different details of emotion and event. As found in the gender studies, men and women are having professional anger in both statuses for their own emotions. Especially for women who are actively become netizens of social media such as Facebook, Twitter, and Instagram are predictively more interactive in that media and have various emotions to say and receive anything from them.  The critical introduction of social media from N. Bakić-Mirić explained a wide variety of topics including how to define the characteristics of new media; social and political uses of new media and new communications; new media technologies, politics, and globalization; everyday life and new media; theories of interactivity, simulation, the new media economy; cybernetics, cyberculture, the history of automata and artificial life. Therefore, more specifically, women have the psychology of becoming women in social media. Applying qualitative methodology, this study explores what cyberpsychology extend to women and how their emotion be on social media. The research contributes to women on to be careful with social media. [Wajah pada kesempatannya mampu menampilkan bagaimana emosi manusia. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan adanya emosi dan peristiwa tertentu dalam konteks yang berbeda. Sebagaimana dalam studi gender, pria dan wanita mengalami kemarahan yang bermakna dari ungkapan untuk emosi mereka sendiri. Khususnya bagi perempuan yang aktif menjadi warganet di media sosial seperti facebook, twitter dan instagram; perempuan diprediksi lebih interaktif dalam media tersebut dan memiliki berbagai emosi untuk menyampaikan dan menerima apa pun dari. Pengenalan kritis media sosial dari N. Bakić-Mirić dijelaskan dalam berbagai topik termasuk: bagaimana mendefinisikan karakteristik media terbarukan; penggunaan media baru dan komunikasi baru secara sosial dan politik; teknologi media baru, politik dan globalisasi; kehidupan sehari-hari dan media baru; teori interaktivitas, simulasi, ekonomi media baru; sibernetika, budaya siber, sejarah automata dan kehidupan buatan (maya). Oleh karena itu, terkhusus lagi, perempuan memiliki psikologinya sendiri untuk menjadi perempuan di media sosial. Menerapkan metodologi kualitatif, studi ini  mengeksplorasi pertanyaan penelitian seperti: apa pengertian psikologi-siber yang terdapat pada perempuan dan bagaimana emosi mereka di media social. Hasil dari penelitian ini, adalah memberikan wawasan kepada wanita agar lebih peduli pada dirinya sendiri dalam penggunaan media sosial.]
Restorasi Keluarga Modern Saurip Kadi
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.109-122

Abstract

Potensi diskriminasi pada peran agama memprihatinkan karena sebab-sebab penindasan, malapetaka kemanusiaan pada soalan keluarga dan kaum LGBT (lesbian, gay, bisex dan transgender. Hal ini bertentangan dengan misi dan eksistensi agama. Untuk itu, diperlukan upaya terukur dalam praktek beragama pada esensi ajaran. Hal ini mengembalikan agama sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan manusia. Langkah yang perlu ditempuh meliputi   tafsir ulang (hermeneutika) dan perubahan dalam pemahaman makna firman. Tulisan ini bertujuan untuk memberi masukan kepada para tokoh agama dan tokoh sipil sekaligus untuk menawarkan solusi praktis untuk melakukan restorasi keluarga modern yang mengajarkan persamaan hak, penghargaan HAM, serta tegaknya peri keadilan dan peri kemanusiaan bagi setiap orang, tak terkecuali terhadap kaum LGBT. Adapun metoda penelitian yang ditempuh, dengan cara membedah persoalan keluarga dan LGBT, melalui pengkajian sejumlah buku-buku teologi dan hasil penelitian sosial beberapa ahli, di sejumlah negara, disamping dengan melakukan komparasi sejumlah firman dan atau ajaran tentang keluarga dan LGBT dari beberapa agama.  [The potential role of religion becomes a source of discrimination. It is under mis landing an, oppression and humanitarian disasters, including family issues and LGBT (lesbian, gay, bisexual and transgender) activities. This is contrary to the mission and existence of the religions themselves. For this reason, a measured effort is needed so that religious practice returns to the essence of teachings, therefore religions can return as a source of inspiration for human life. Steps that need to be taken include reinterpretation (hermeneutics) or at least a change in understanding the meaning of the verses about family and LGBT in sacred books of religions, redefinition and re-actualization of teachings and the role of religions in society and daily lives. This paper aims to provide input to religious and civic leaders as well as to offer practical solutions on how to restore modern families that teach equality of rights, respect for human rights, and uphold justice and humanity for everyone, including LGBT people. The research method used is by dissecting family and LGBT issues, by examining a number of theological books and the results of social research from several experts, in a number of countries, as well as by comparing a number of words or teachings about family and LGBT from several religions.]
Hegemoni Elit Agama Pada Perempuan Pesantren: Ejawantah Jabatan Kepala Daerah Jawa Timur Nurul Azizah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.145-155

Abstract

Keterlibatan elit lokal pesantren pada pemilu kepala daerah di Jawa Timur menjadi penentu kemenangan. Pada Pemilihan Kepala Daerah langsung  peran elit agama sangat berpengaruh dalam mendulang suara pemilih. Elit menggunakan hegemoni agama dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat pada Pemilukada. Era gerakan agama baru mengubah kecenderungan paradigma berpikir bahwa pertama kalinya perempuan  tampil menjadi  kepala daerah. Tulisan ini bertujuan menganalisis hegemoni elit agama berbasis pesantren di era postmodernisme pada Pemilukada khususnya di Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif prespektif deskriptif dan analisis konten data kualitatif menunjukkan bahwa terdapat hegemoni dan gerakan patron klien pesantren antara kyai, santri, alumni, simpatisan dan masyarakat pesantren sebagai strategi memenangkan kepala daerah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan teori elit dan teori partisipasi politik. Data penelitian diperoleh dari analisis kepustakaan dan dokumen dari lembaga terkait. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana elit agama menghegemoni masyarakat dalam meningkatkan partisipasi publik dan meyakinkan untuk memilih calon perempuan sebagai Gubenur. Hasil analisis menunjukkan bahwa hegemoni elit agama menjadi alat untuk meraih kekuasaan dalam proses Pemilukada.  Elit agama cukup berpengaruh dalam memberikan dogma pada masyarakat melalui ritual rutin keagamaan seperti ceramah pengajian. [The involvement of the local elite pesantren in the regional head elections in East Java has become the determinant of the victory. In the direct regional head elections, the role of religious elites is very influential in gaining the  voters. The elites used religious hegemony to increase people's political participation in the elections. The era of the new religious movement changed the paradigm tendency to think that women could be the  regional heads. This paper aims to analyze the hegemony of pesantren-based religious elites in this postmodernist era in the elections, especially in East Java. This research uses descriptive perspective qualitative research methods and qualitative data content analysis shows that there was hegemony and movement of patrons of pesantren clients between kyai, santri, alumni, sympathizers, and pesantren communities as a strategy to win over the regional heads. In this study, researchers used elite theory and political participation theory approaches. Research data is obtained from literature analysis and documents from related institutions. The research problem is how the religious elites galvanized society in increasing public participation and convincing to choose female candidates like Gubenur. The results of the analysis showed that the hegemony of the religious elites became a tool to gain the power and win the election. The religious elites are influential  in providing dogma to society through routine religious rituals such as through religious meetings.]
Hegemoni Maskulinitas “Tafsir Hadis” Pada Makna Teks “Perempuan Membawa Sial” Fiki Khoirul Mala
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.133-144

Abstract

Peper ini memfokus pada pengaruh dominasi maskulinitas dalam syarah hadis dari kitab al-Tamhīd karya Ibn ‘Abd al-Barr al-Andalusy di Andalusia. Adapun tujuan penelitian dari Paper ini menganalisis representasi hegemoni maskulinitas secara umum dari perspektif syarah hadis dan memetakan alur pemahaman tentang hadis berdasarkan tekstual dan kontekstual yang berkaitan dengan hegemoni maskulinitas. Paper ini mengurai teori kritik matan hadis dan teori hegemoni Antonio Grmasci. Hal ini mencermati tentang makna perempuan pembawa sial dan pola makna hegemoni maskulinitas yang didefinisikan Antoni Gramsci. Dari kedua makna yang ada memiliki kandungan pengaruh lingkungan dan perjalanan pengalaman hidup dari kemunculan sebuah tafsir suatu hadis. [This research focuses on the influence of masculinity domination in the hadith syarah from the Kitab al-Tamhiīd limā fī al-Muwaṭṭa min al-Ma’āni wa al-Asānid by Ibn ‘Abd al-Barr al-Andalusy in Andalusia. The purpose of study is to analyze the epresentation of hegemonic masculinity in general from the perspective of syarah hadith and map out the flow in understanding hadith based on textual and contextual aspects related to hegemonic masculinity. The paper says to critical on exegesis Hadith intepretetion theory and Antonio Gramsci’s hegemonic theory. It is talking about women with damn charge in unlucky public deal perception for female posision. It is differen with hegemonic masculinity theory. The environment and experience are the main influences for hadith interpretation]
Resistensi Perempuan Iran Terhadap Kebijakan Wajib Berhijab Pada Era Hassan Rouhani Nabilah Wafa Wijayanto; Roma Ulinnuha
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.171-186

Abstract

Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, Khomaeni berhasil meningkatkan kembali nilai-nilai keislaman yang sebelumnya mengalami kemunduran karena pemimpin Shah yang sangat menjungjung tinggi budaya Barat. Salah satunya yaitu ketaatan dalam penggunaan hijab bagi perempuan Iran. Kebijakan wajib berhijab bagi perempuan Iran resmi dikeluarkan pada 7 Maret 1979, tidak ada toleransi dalam hal tersebut meski sehari setelahnya demonstrasi dilakukan oleh para perempuan Iran yang mayoritas menolak kebijakan tersebut. Artikel ini menelaah mengenai resistensi perempuan Iran terhadap kebijakan wajib berhijab dengan menggunakan perspektif Feminisme Fatima Mernissi. Dalam pandangan Mernissi, hijab merupakan hasil dari kontruksi sosial dan mencerminkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Melihat realitas pemaksaan untuk berhijab di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Mernissi mencoba untuk menelaah kembali dan menginterprertasi teks yang menjadi landasan dalam hukum berhijab. [The victory of Iran's Islamic revolution in 1979, Khomaeni succeeded in re-increasing Islamic values which had previously suffered a setback because of the Shah's leader who highly respected Western culture. One of them is obedience in the use of hijab for Iranian women. The mandatory hijab policy for Iranian women was officially issued on March 7, 1979, there is no tolerance for this even though the day after demonstrations were carried out by Iranian women, the majority of whom rejected the policy. This article examines the resistance of Iranian women to the mandatory hijab policy using the feminist perspective of Fatima Mernissi. In Mernissi's view, the hijab is the result of social construction and reflects the dominance of men over women. Seeing the reality of being forced to wear the hijab in a number of countries in the Middle East region, Mernissi tries to re-examine and interpret the text that forms the basis for the hijab law.]