cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 373 Documents
Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender Dalam Persfektif Islam Syukron Mahbub
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.65-80

Abstract

Pendidikan pertama bagi anak merupakan pengenalan terhadap lingkungan keluarga terutama pemahaman tentang orang tua. Dalam pendidikan ini, orang tua membentuk watak dalam kemampuan kognitif dan sikap anak. Namun, keluarga menghadapi beberapa problem dalam konteks Pendidikan kesenjangan gender. Oleh karena itu, keluarga dituntut mampu memahamkan pendidikan berbasis gender kepada anak. Hal ini bersamaan dengan upaya Pemerintah dalam program pendidikan keluarga berwawasan gender (PKBG) dengan Inpres No. 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender. Program ini menyadarkan pemahaman hak dan kewajiban pada peran laki-laki dan perempuan pada institusi keluarga. Dalam pendidikan Islam, peran laki-laki dan perempuan memiliki akses dan kesempatan yang setara dengan kemapuan yang dimiliki. al-Qur’an mengisyaratkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Hal ini termaktub dalam surah al-Hujurat ayat 13. Keluarga menjalankan fungsi-fungsi alami  terutama fungsi pendidikan keluarga yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan.   [The first education for children is an introduction to the family environment, especially an understanding of parents. In education, parents shape the character in the cognitive abilities and attitudes of children. However, families have several problems in the context of gender gap education. Therefore, families have a role required to be able to understand gender-based education to children. In issues, The Government's efforts in the gender-oriented family education program (PKBG) with family law with Number No. 9 of 2000 on gender mainstreaming. The program raises awareness of the rights and obligations of the roles of men and women in the family daily role. In Islamic education, the roles of men and women have access and opportunities that are equal to their abilities. The Qur'an implies the equality of men and women in surah al-Hujurat 13. The family carries out natural functions, especially the function of family education which teaches equality and justice between men and women.]
Gender and Islam: On the Politics of Sexuality of Muslim Male Authors In Indonesia and France Wening Udasmoro
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.1-11

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan antara karya sastra dan perubahan social terkait dengan politik seksualitas. Secara umum, karya-karya sastra di dunia yang ditulis oleh pengarang laki-laki, secara historis memiliki muatan yang banyak memosisikan perempuan sebagai objek terutama terkait dengan tubuh dan seksualitasnya. Setelah peristiwa 11 September 2001 yang secara koinsidental hampir bersamaan dengan munculnya era Reformasi di Indonesia, baik di Indonesia maupun Prancis semakin banyak karya-karya bertemakan Islam yang ditulis. Dengan menganalisis karya-karya bertemakan Islam yang ditulis oleh pengarang laki-laki, yakni Syngué Sabour Pierrede Patience, karya Atiq Rahimi and Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, artikel ini menggunakan lensa teori dengan mengetengahakn konsep mengenai politik seksualitas. Sebagai metode, digunakan analisis wacana kritis sebagai usaha untuk memahami beroperasinya kekuasaa bahasa di dalam karya-karya tersebut. Fokus dari penelitian ini adalah pada aspek fundamental yang dipandang oleh penulis novel untuk menjustifikan kontrol terhadap seksualitas perempuan. Penelitian ini menemukan bahwa tubuh dan seksualitas perempuan dikendalikan baik secara fisik maupun simbolis, tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengontrol moralitas publik dan untuk melanggengkan rejim kekuasaan laki-laki yang dilembagakan secara agama, budaya dan politik. [The article aims to explore the relation between the work of literature and the social changes on the politics of sexuality. In general, literary works written by male authors, historically have a lot of content that positions women as objects, especially related to their body and sexuality. After the incident of September, 11, 2001, which coincidentally almost in the same time with the emergence of the Refromasi era in Indonesia, both in Indonesia and France, more Islamic-themed work were written. By analyzing Islamic-themed works written by male authors, namely, Syngué Sabour Pierre de Patience by Atiq Rahimi and Ayat-Ayat Cinta, by Habiburrahman ElShirazy, this article uses a theoretical lens by highliting the concept of the politics of sexuality. Critical discourse analysis method is used as an attempt to understand the operation of the power of language in these works. This article focused on the fundamental aspects considered by the authors to justify the control over women’s body and sexuality. This research finds that women’s body and sexuality are controlled both physically and symbolically, not only by men but also by their families and society. The objective is to control the public morality and to perpetuate the religiously, culturally, and politically institutionalized male dominant regime.]
Bina Ketahanan Keluarga Ojek Online Di Kabupaten Ponorogo Pada Masa Pandemi Covid-19 Ulin Nadya Rif'atur Rohmah; Evi Muafiah; Neng Eri Sofiana; Bagus Fajar Adryanto
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.95-107

Abstract

Dampak Covid 19 bagi ojek online sebagai salah satu pekerja informal yang terkena dampak penurunan ekonomi akibat Covid-19 yang selanjutnya berpengaruh juga pada ekonomi keluarga. Krisis ekonomi yang dirasakan tidak hanya berpengaruh secara fisik saja, namun juga secara sosial dan psikologis. Penelitian ini bertujuan menjawab bagaimana pengupayaan ketahanan keluarga terhadap berbagai problematika kehidupan keluarga ojek online di Kabupaten Ponorogo pada masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif atau penelitian lapangan dengan data yang didapatkan dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori ketahanan keluarga dengan metode analisa deskriptif. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh keluarga telah menunjukkan adaptasi yang positif terhadap berbagai problematika yang sedang dihadapi. Adapun strategi koping yang dilakukan melalui penerapan komunikasi yang efektif dan komitmen yang tinggi serta diimbangi pula oleh spiritualitas keluarga. [The impact of Covid 19 for online motorcycle taxis as one of the informal workers affected by the economic decline due to Covid-19 which in turn also affects the family economy. The perceived economic crisis does not only affect physically, but also socially and psychologically. This study aims to answer how to strive for family resilience against various problems of online motorcycle taxi family life in Ponorogo Regency during the Covid-19 pandemic. This type of research is qualitative or field research with the data conducted by interview, observation, and documentaion. The theory used is the theory of family resilience and the analysis method is analysis description. This research concludes that the whole family has shown positive adaptation to the various problems they are facing. The coping strategies are carried out through the application of effective communication and high commitment and are also balanced by family spirituality.]
Male Order dalam Konstruksi Seksualitas Perempuan Minangkabau Mardian Sulistyati
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.212.157-169

Abstract

Perempuan dalam sistem matrilineal Minangkabau memiliki peran dan posisi utama, namun kekuatan itu hadir bersamaan dengan semangat adat yang mendefinisikan sekaligus melemahkan. Realitas ini memantik sejumlah pertanyaan: apakah pengistimewaan perempuan dalam tradisi Minangkabau benar-benar berangkat dari kepedulian an sich? Mungkinkah konsep matrilineal Minangkabau memperantarai hasrat adat yang (sangat mungkin) maskulin? Apakah keadaan ini ada kaitannya dengan penguatan identitas keislaman di Sumatera Barat? Ketiga persoalan tersebut didiskusikan melalui tinjauan kritis terhadap tiga konsep adat, yaitu padusi, bundo kanduang, dan sumbang duo baleh. Artikel ini menunjukkan bahwa konstruksi seksualitas perempuan adalah elemen substansial untuk dapat membaca jejak maskulinitas dalam suatu sistem budaya. Tesis utama artikel ini ada pada ambivalensi feminitas dan maskulinitas yang bekerja dalam sistem matrilineal Minangkabau. Feminitas perempuan dimuliakan dan dilanggengkan secara adat, namun bersamaan dengan pengawasan dan pembatasan yang juga secara adat. Sementara itu, maskulinitas laki-laki ditekan dan dikesampingkan secara adat, namun bersamaan dengan penguatan dan pengutamaan mereka dalam ruang-ruang adat. Belakangan, aturan-aturan syariat (syarak-isasi) seksualitas perempuan semakin menguatkan kutub ambivalen ini secara ideologis dan praksis. [Women in the Minangkabau matrilineal system have the central role and position, but the power comes together with the defining and debilitating by adat. This reality raises several questions: Does the privilege of women in the Minangkabau tradition come from awareness? Does the Minangkabau concept of maternity mediate the masculine custom's desire? Does it have anything to do with strengthening the Islamic identity in West Sumatera? In this article, I discuss these questions through a critical analysis of the adat concept: padusi, bundo kanduang, and sumbang duo baleh. This article shows that the construction of female sexuality is a substantial element in being able to read the traces of masculinity in a cultural system. The thesis of this article is the ambivalence of femininity and masculinity in the Minangkabau matrilineal system. On the one hand, women's femininity is glorified and perpetuated but controlled and restricted by custom. On the other hand, male masculinity is muted and sidelined, but their identity is strengthened in custom spaces. Recently, the sharia rules (syarak-ization) of women's sexuality have increasingly emphasized this ambivalence ideologically and practically.]
Transisi, Eksistensi, dan Spiritualitas Transpria: Pengalaman dan Argumen Amar Alfikar Zahrotusani Aulia Nurrubiyanti; Azis Muslim
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.187-200

Abstract

Amar Alfikar telah memutuskan melakukan transisi gender, karena dorongan batin, diagnosis gender dysphoria, dan yang menarik, ada argumen keagamaan yang mendasarinya. Pertanyaan utamanya adalah, bagaimana argumen keagamaan yang ia bangun. Penelitian studi tokoh ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, dengan pendekatan feminis dan agama, berfokus menggali pemikiran tentang bagaimana tafsir, dan penerimaan transgender dari aspek sosial dan agama. Pengumpulan data dilakukan dengan membuat transkrip pada setiap video Youtube dan media lain yang menghadirkan Alfikar. Hasilnya antara lain: merujuk para fuqaha, illat yang dianalogikan Alfikar belum bisa diterima untuk pembenaran tindakan mengubah gender. Dari sisi feminisme Beauvoir, Alfikar mempunyai tiga problem, dengan dirinya, lingkungan sosial, dan usahanya mematuhi agama. Problem ini akhirnya ia pecahkan dengan jalan dialog dan keterbukaan. Dalam bahasa Beauvoir, Alfikar berusaha membangun etre pour soi, dan mengaplikasikan gerakan feminisme yang berdaya, merdeka, dan intelektual. [Amar Alfikar has decided to make a gender transition, because of inner urges, a diagnosis of gender dysphoria, and interestingly, there is an underlying religious argument. The main question is, how is the religious argument he built. This character study research uses a descriptive qualitative method, with a feminist and religious approach, focusing on exploring thoughts on how to interpret, and accept transgender from social and religious aspects. Data collection is done by making transcripts of every Youtube video and other media that presents Alfikar. The results include: referring to the fuqaha, Alfikar's analogy with illat cannot be accepted to justify the act of changing gender. In terms of Beauvoir's feminism, Alfikar has three problems, with himself, his social environment, and his efforts to obey religion. He finally solved this problem by means of dialogue and openness. In Beauvoir's language, Alfikar tries to build etre pour soi, and applies a feminist movement that is empowered, independent, and intellectual.]
Jurnal Musawa: Solusi Dan Tantangan Akademis Dalam Studi Gender Di Perguruan Tinggi Islam Witriani Witriani; Zusiana Elly Triantini
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.201-210

Abstract

Permasalah Gender adalah gejala sosial yang sangat dinamis. Paradigma berfikir dan meneliti menyangkut proses tindakan ditunjukkan oleh lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mendirikan Jurnal musawa. Hal ini guna kritik pada kajian gender secara akademis. Sejauh paradigma Gender dan HAM   dalam Kajian Islam, Sosial dan Sains menjelaskan peran Jurnal Musawa pada kanca akademis. Fungsi dan peran Jurnal Musawa menjelaskan secara elegan proses studi gender pada kalangan akademis baik praktis dan teoritis. Hal ini menjelaskan perubahan-perubahan pemikiran pada tataran filosofis memahami studi gender di perguruan tinggi. Jurnal musawa membawa wacana tersebut dalam perang kritik serta argumentasi. Hal ini mencerminkan adanya perkembangan pemikiran akademis dalam studi gender di Perguruan tinggi. Pola akademis ini memberikan ruang besar dalam Studi gender sebagai Lembaga pembelajaran perempuan di Pusat Studi Wanita(PSW) UIN Sunan Kalijaga.  [Gender issue is very dynamic social problem. The paradigm study gender concerns to any process of showing UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in publishing Musawa journals. The habit talks for criticism on academic gender studies. As far as the Gender and Human Rights paradigm in Islamic, Social and Scientific Studies explains Musawa Journal in academia. The challenge of the Musawa elegantly explains the process of gender studies to academics both practically and theoretically. It explains the philosophy changing in issues at the level of understanding gender studies in higher education. Musawa brings the discourse into a criticism and argumentation. The tradision reflects the development of academic thought in gender studies in tertiary institutions. The academic pattern provides a large space in gender studies as a Center for gender studies at Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Kalijaga.]
Harmonizing Religious Discourse and Power In The Implementation Of Gender Equality Arisy Abror Dzukroni; Subi Nur Isnaini
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.221.1-13

Abstract

Pemahaman teks-teks keagamaan yang tidak komprehensif menjadi awal tuduhan atas ketidaksesuaian konsep gender dan feminism dengan ajaran Islam. Sebagian feminis menyebutnya dengan interpretasi agama yang patriarkis. Namun seringkali feminis muslim terjebak dan hanya focus pada pemahaman ulang atas wacana agama dan tidak memperhatikan bagaimana pemahaman-pemahaman baru tersebut dapat diterapkan. Feminis sosialis yang lebih cenderung memperhatikan aspek sosial di dalam masyarakat memiliki pemikiran yang lebih aplikatif. Penelitian ini berusaha untuk menggabungkan kedua corak pemikiran feminism tersebut dalam rangka optimasi kesetaraan gender. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini dilengkapi data primer dari karya empat tokoh yang dijadikan sampel penelitian, yakni Nawal El-Saadawi dan Michel Foucault sebagai representasi dari feminis social serta Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir sebagai representasi dari feminis Islam. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa pemikiran feminis Islam yang lebih menitikberatkan pada reinterpretasi agama dapat dipadukan dengan pemikiran feminis sosialis yang banyak berfokus pada kajian kekuasaan yang patriarkis. Implementasi kajian agama yang moderat dapat dilakukan melalui konsep kekuasaan yang tidak patriarkis. [The incomprehensible understanding of religious texts is the beginning of accusations of incompatibility between the concepts of gender and feminism with Islamic thoughts. The feminists call it a patriarchal interpretation of religion. However, Islamic feminists are often trapped and only focus on re-understanding religious discourse and ignore how these new understandings can be applied. Socialist feminists who tend to pay more attention to social aspects in society have more applicable thoughts. This study seeks to combine the two styles of feminist thought to optimize gender equality. This study used qualitative research methods and used primary sources from four feminists expert, namely Nawal El-Saadawi, Michel Foucault, and as socialist feminists Amina Wadud and Faqihuddin Abdul Kadir as an Islamic feminist. The results said that Islamic feminist thought, which focuses more on religious reinterpretation, can be combined with socialist feminist thought, which focuses on studying patriarchal power. Implementing religious moderation studies can be done through the intermediary of the non-patriarchal power.]
Pandangan Islam Terhadap Konsep "Gender Equality" SDGs. Studi Kasus: Sertifikat EGES " Egyptian Gender Equity Seal" Di Mesir Dyah Sekar Arum
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.180-192

Abstract

Mesir merupakan negara yang mempunyai tingkat kesetaraan gender yang rendah. Upaya seperti, pemberian Sertifikat Kesetaraan Gender Mesir (Egyptian Gender Equity Seal atau EGES) mencerminkan inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi disparitas gender di negara tersebut. Kebijakan berbasis Sertifikat ini berfungsi sebagai tindakan konkret dalam membuktikan capaian segel kesetaraan gender, yang diberikan secara langsung oleh Bank Dunia (World Bank), Dewan Nasional Perempuan (National Council of Women atau NCW), dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) kepada dua sektor swasta di Mesir. Dua sektor perusahaan ini diidentifikasi sebagai sektor dengan pemberdayaan perempuan terbesar. Sesuai dengan prinsip Kesetaraan Gender yang tercakup dalam konsep kelima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu "Gender Equality," peran tersebut dianggap sebagai elemen krusial dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan partisipasi perempuan dalam upaya meningkatkan perekonomian suatu negara. Sertifikat EGES merupakan inisiatif dalam pengembangan kesetaraan gender, yang diwujudkan dalam bentuk segel sebagai bukti nyata untuk mengurangi disparitas gender. Dalam perspektif Islam, kesetaraan gender diidentifikasi sebagai penghargaan terhadap perempuan. Individu dalam komunitas manusia memiliki peran yang ditentukan, termasuk perempuan yang mengemban tanggung jawab seperti melahirkan, menyusui, menghadapi masa haid, dan sebagainya, sementara laki-laki memiliki peran sebagai kepala keluarga, berfungsi sebagai saksi utama dalam pernikahan, menyediakan nafkah bagi keluarganya, dan memiliki tanggung jawab lainnya. [ Egypt is a country that has a low level of gender equality. Efforts such as the awarding of the Egyptian Gender Equity Seal (EGES) reflect initiatives aimed at reducing gender disparities in the country. This Certificate-based policy functions as a concrete action in proving the achievement of the seal of gender equality, which is given directly by the World Bank, the National Council of Women (NCW), and the United Nations Development Program (UNDP) to two private sectors in Egypt. These two company sectors were identified as the sectors with the greatest empowerment of women. The principle of Gender Equality is included in the fifth concept of the Sustainable Development Goals (SDGs), namely "Gender Equality," this role is considered a crucial element in the sustainable development agenda. This allows women's participation in efforts to improve a country's economy. The EGES certificate is an initiative to develop gender equality, which is realized in the form of a seal as concrete evidence of reducing gender disparities. From an Islamic perspective, gender equality is identified as respect for women. Individuals in the human community have defined roles, including women who carry out responsibilities such as giving birth, breastfeeding, facing menstruation, and so on, while men have the role of head of the family, functioning as the main witness at marriage, providing support for their family, and have other responsibilities.]
Menyoal Ketimpangan Relasi Kuasa dan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren: Sebuah Tinjauan Kritis Moh Ashif Fuadi; Mega Alif Marintan; Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Muhammad Aslambik
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.148-160

Abstract

Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di kalangan pesantren menjadi perhatian  banyak pihak, karena sejatinya pesantren merupakan lembaga yang dianggap aman untuk belajar para santri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor ketimpangan relasi kuasa dan persepsi santri terhadap pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Penelitian ini menggunakan mix method dengan pendekatan kuantitatif dalam pengambilan data survei dan pendekatan kualitatif dalam menganalisis data dari responden melalui observasi, wawancara dan studi pustaka dari berbagai sumber tertulis dan media online. Hasilnya yaitu, pertama, perilaku kekerasan seksual khususnya di pesantren merupakan dampak dari ketimpangan relasi kuasa. Kedua, upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren dilakukan dengan monitoring dari pesantren, mau’idzoh atau nasehat kyai, aturan resmi tentang batasan antara laki-laki dengan perempuan, dan kajian kitab kuning tentang pendidikan seksual dan pemahaman gender melalui kitab ‘Uqūdu al-Lujain, Qurratul ‘Uyūn, Fathul Izār, dan fikih wanita. Ketiga, kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum pesantren melalui doktrinnya, dapat menurunkan tingkat kepercayaan sehingga perlu tindakan pencegahan dengan kerjasama yang terintegrasi dan penegakan hukum yang seimbang. [ The phenomenon of sexual violence in Islamic boarding schools (pesantren) has become everybody’s concern lately. This institution should be considered safe place  for santri to live and learn.This study aims to determine the influence of inequality factors on power relations in sexual violence and to know students' perceptions of the prevention of sexual violence in pesantren. This study uses a mixed-method with a quantitative approach in taking survey data and a qualitative approach in analyzing data from respondents through observation, interviews and literature studies from various written sources and online media. The results are, first, sexual violence in pesantren predominantly stems from disparities in power relation. Second, Prevention strategies within pesantren encompass close monitoring, mau'idzoh (advice) guidance from kyai, establishment of clear boundaries between genders, and incorporating sex education and gender awareness through Kitab Kuning texts through the book of 'Uqū du al-Lujain, Qurratul 'Uyūn, Fathul Izār, and fikih women. Third, cases of sexual violence committed by pesantren through their doctrines can reduce trust so that preventive measures  are needed with integral cooperation and balanced law enforcement.]
Kesalahpahaman Barat tentang Perempuan Muslim: Kritik Lila Abu- Lughod dalam Do Muslim Women Need Saving? Erry Fitrya Primadhany; Maimunah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.226-238

Abstract

Kalangan Barat menganggap bahwa persoalan keterbatasan hak perempuan Muslim masih sering terjadi.  Persoalan tata cara berpakaian, kejahatan kehormatan dan lainnya dianggap sebagai batasan-batasan bagi seorang Muslim. Anggapan tersebut memicu pesan bahwa “perempuan muslim perlu diselamatkan”. Lila Abu-Lughod melalui karyanya “Do Women Muslim Need Saving” mencoba untuk mengkiritisi anggapan ini. Tulisan ini menggunakan metode kepustakaan. Sumber data berupa buku dan jurnal yang berkaitan dengan feminisme dan buku karya Lila Abu Lughod yang berjudul “Do Women Muslim Need Saving?”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlu pengkajian ulang mengenai asumsi Barat terhadap Islam khususnya   perempuan Muslim. Perempuan Muslim menjalankan aktifitasnya sesuai dengan apa yang diyakini. Segala ketidakadilan yang menimpa perempuan Muslim pada dasarnya merupakan kasus yang berlaku secara global kepada siapa saja tidak hanya perempuan yang beragama Islam. Apabila terdapat ketidakadilan maka hal tersebut bukanlah datang dari Agama Islam melainkan pada tatanan  sosial, budaya,  kebijakan Pemerintah dan lain sebagainya. Karena di dalam Islam, hak-hak seorang Muslim telah dijamin tanpa membedakan baik laki-laki ataupun perempuan.  [Westerners think that the issue of limited Muslim women's rights still occurs frequently. For example, the issue of dress codes, honor crimes and others. This assumption triggers the message that "Muslim women need to be saved". Lila Abu-Lughod through her work “Do Women Muslim Need Saving” tries to criticize it. This paper uses the library method. The data sources are books and journals related to feminism and a book by Lila Abu Lughod entitled “Do Women Muslims Need Saving?”. The results obtained indicate that there is a need to review Western assumptions about Islam, especially regarding Muslim women. Muslim women carry out their activities in accordance with what is believed. All injustices that befell Muslim women are basically cases that apply globally to anyone, not only women who are Muslim. If there is injustice then it does not come from religion but social conditions, government and so on. Because in Islam, rights are guaranteed regardless of whether men or women.]