cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 373 Documents
The Incapability to Establish a Household as a Consequence of Child Marriage Ashabul Fadhli; Ummil Khairiyah; Herio Rizki Dewinda
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.209-225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan faktor-faktor yang mendorong terjadinya perkawinan anak di Lintau Buo Utara serta mengetahui bentuk persoalan yang timbul karena perkawinan tersebut. Tidak mudah bagi anak untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang kompleks sebagaimana yang diadaptasi oleh pasangan dewasa. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dalam bentuk kualitatif. Adapun jenis penelitian ini adalah deskriptif-analitis. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 7 (tujuh) pasangan kawin anak, Kantor Urusan Agama Kecamatan Lintau Buo Utara. Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis menggunakan teori Hurlock tentang pernyesuaian sosial dalam perkawinan dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menemukan bahwa minimnya pengetahuan tentang perkawinan yang berkelindan dengan persoalan sosial lainnya berakibat pada ketidaksiapan anak menjalani relasi perkawinan. Ketidaksiapan anak dalam perkawinan diketahui telah mempengaruhi kondisi sosial anak yang diantaranya adalah sulit melakukan penyesuaian diri dan gangguang emosi. Realitas sosial ini telah menekan psikologi anak karena tidak adanya kematangan emosi anak sebelum menikah. [This study aimed to describe the factors that encouraged child marriage in the Lintau Buo Utara Sub-district and find out the problems that arose from the marriage. Unlike adult couples, it is difficult for children to make complex adjustments towards marriage. This research is a field study in the form of qualitative. The type of research used in this study is descriptive analytics. The primary data were obtained through interviews with 7 (seven) child-married couples and from the Religious Affairs Office of Lintau Buo Utara. The collected data were then analyzed using Hurlock’s theory of social adjustment in marriage and Miles and Huberman’s interactive model. The results of this study showed that the lack of knowledge about marriage that was intertwined with other social problems resulted in the unreadiness of children to undergo marital relations. The unreadiness of children in marriage also affected their social conditions, which included facing difficulties in adjusting themselves and having emotional disturbances. This social reality suppressed the psychology of children because there was no emotional maturity before marriage.]
Dynamic and Challenges of Women Leaders: Gender Equality Agenda vs Gender Traditional Roles In Society Serlyeti Pulu; Nur Iman Subono; Shelly Adelina
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.117-131

Abstract

Artikel ini mengkaji beberapa penelitian terdahulu tentang latarbelakang dan konteks social membentuk perempuan pemimpin dalam gerakan sosial-politik dan gerakan perempuan, agenda-agenda aksi yang dirumuskannya, serta bagaimana mereka mengelola tantangan yang dihadapi dalam menjalankan misinya. Fenomena munculnya perempuan pemimpin di berbagai organisasi sosial dan organisasi perempuan di tingkat lokal dan di tingkat nasional periode kontemporer dan periode pergerakan kemerdekaan menjadi konteks kajian dalam penulisan ini. Kerangka pemberdayaan dari Joana Rowlands memandu analisis tulisan ini. Temuan penting kajian atas riset-riset terdahulu menunjukkan bahwa perempuan pemimpin mengembangkan kekuatan dari dalam diri sendiri, memperkuatnya dengan membangun hubungan dengan pihak lain, dan selanjutnya mengembangkan aksi bersama. Kekuatan yang sudah dimiliki tersebut, berinteraksi dengan persoalan sosial, menghasilkan aksi kolektif, merupakan proses hasil pemberdayaan yang menjadikan para perempuan dapat mendorong perubahan yang lebih besar. [This article examines some of the previous research on the background and social context of shaping women leaders in socio-political movements and women’s movements, the action agendas they formulated, and how they manage the challenges faced in carrying out their missions. The phenomenon of the emergence of women leaders in various social organizations and women’s organizations at the local level and the national level of the contemporary period and the period of the independence movement is the context of the study in this paper. The empowerment framework from Joana Rowlands guides the analysis. Key findings from previous studies have shown that women leaders develop strengths from within themselves, strengthen them by building relationships with others, and further develop collective action. These strengths, interacting with social issues, and generating collective action, are processes of empowerment that allow women to drive greater change.]
Beyond The Domestic Space: The Beauty Of Women In Hijab In The Commercials Qudratullah; Abd Malik, Ikmal
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.114-126

Abstract

In advertisements, women are close to the role of models of the products offered. It is because women are considered to have many attractions. This article explores the meaning of the beauty of women wearing the hijab in the Wardah cosmetic advertisement version "Kisah di Balik Cantik: Awal Mimpi ."This advertisement highlights the stories of individual journeys and struggles to achieve authentic and meaningful beauty. This advertisement not only explores the physical aspects of beauty but also promotes messages about beauty that come from within  as well as  motivates personal stories. This can help change the narrow narrative of hijab-wearing women's beauty in the media.  This advertisement features a short story that includes the ability and competence to represent the beauty of women wearing the hijab in making decisions about products, jobs, and partners. This study uses a qualitative approach and Roland Barthes' semiotic as a tool of  analysis. The results of this study indicate that the beauty of women in hijab contains three elements: halal, reasonable, and not excessive. Beauty comes from within, behaves gently, and independently dares to get challenges and work outside the domestic sphere.[Dalam  iklan, perempuan sangat dekat dengan peran model dengan beragam produk yang ditawarkan. Hal ini dikarenakan wanita dianggap memiliki kelebihan dan daya tarik yang banyak dikagumi. Artikel  ini bertujuan untuk menggali makna kecantikan wanita berhijab dalam iklan kosmetik Wardah versi “Kisah di Balik Cantik: Awal Mimpi”. Iklan ini menyoroti cerita perjalanan dan perjuangan individu untuk meraih kecantikan yang autentik dan bermakna. Iklan ini tidak hanya mengeksplorasi aspek fisik kecantikan, tetapi juga mempromosikan pesan tentang kecantikan yang berasal dari dalam dan cerita-cerita pribadi yang memotivasi. Hal ini dapat membantu mengubah narasi yang terkadang sempit tentang kecantikan wanita berhijab dalam media.  Iklan ini menampilkan cerita singkat yang memuat kemampuan dan kompetensi dalam representasi kecantikan perempuan berhijab dalam memilih aspek mengambil keputusan tentang produk, pekerjaan dan pasangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dan semiotika Roland Barthes  sebagai alat analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecantikan wanita berhijab mengandung tiga unsur yaitu halal, baik, dan tidak berlebihan. Kecantikan datang dari dalam, berperilaku lembut, dan secara mandiri berani  mengambil tantangan  serta  bekerja di luar ranah domestik]
Reinterpretasi Poligami Dalam Diskursus Islam: Studi Komparasi Pemikiran Siti Musdah Mulia dan Asghar Ali Engineer Adress Muhammad Adress Prawira Negara; Neng Hannah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.161-179

Abstract

Dari dulu hingga saat ini, poligami merupakan suatu diskursus yang masih memiliki perbedatan baik kalangan ulama klasik maupun ulama kontemporer. Mayoritas pelaku yang melakukan praktik poligami tidak memikirkan dampak buruk terhadap perempuan dengan alasan dan rujukan praktik tersebut telah dilegitimasi oleh Al-Qur’an. Maka dari itu, penelitian ini memiliki kedudukan untuk menjelaskan kedua pemikiran tokoh feminis Islam yang kontra terhadap praktik poligami penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Sementara teknik analisis data yang digunakan adalah inventarisasi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah kedua tokoh menyetujui dalam beberapa hal, diantaranya untuk memahami ayat poligami tentu tidak boleh lepas dari ayat-ayat yang berhubungan dengan Q.S. An-Nisa ayat 3, poligami merupakan bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan, dan keadilan dalam poligami tidak akan pernah tercapai walaupun telah diusahakan. Namun, dalam menyimpulkan praktik poligami, kedua tokoh tersebut memiliki perbedaan. Musdah menyatakan bahwa praktik poligami adalah praktik yang haram karena lebih banyak mendatangkan kerugian dibandingkan keuntungan. Sedangkan Asghar Ali Engineer membolehkan praktik poligami namun dengan pertimbangan menegakan keadilan terhadap anak yatim dan janda serta sesuai apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. [The purpose of this study is to explain the two thoughts of Islamic feminist figures who are against the practice of polygamy. This research uses a descriptive analysis method with a feminist approach. Data collection was carried out using a literature study. The data analysis technique used is the theory of Shulamit Reinhartz, namely deconstructing the dominant way of reading. The results of this study are that the two figures agree on several things, including understanding the verses of polygamy, of course, cannot be separated from the verses related to Q.S. An-Nisa verse 3, polygamy is a form of discrimination against women, and justice in polygamy will never be achieved even if efforts have been made. However, the two figures have differences in concluding the practice of polygamy. Musdah stated that the practice of polygamy is unlawful because it causes more harm than profit. Meanwhile, Asghar Ali Engineer allows the practice of polygamy but with the consideration of upholding justice for orphans and widows and according to what was done by the Prophet Muhammad SAW. However, it should be remembered that the condition for polygamy that a man cannot fulfill is to be fair. Therefore, the practice of monogamy is a form of marriage that achieves justice and prosperity. ]
Viktimisasi Terhadap Transpuan Sebagai Kelompok Marginal Candra Vira Faradillah; Muhammad Aswar Basri; Endang Sari; Ana Purwanto; Achmad Ibrahim Wijaya
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.85-98

Abstract

Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, harapan untuk berperilaku heteronormatif cukup dominan, sehingga menyulitkan kehidupan komunitas transpuan. Diskriminasi dan stigmatisasi menempatkan transpuan dalam kelompok rentan sehingga mereka juga turut berpotensi menjadi korban kekerasan maupun kejahatan lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi bentuk-bentuk viktimisasi terhadap kelompok transpuan sebagai kaum marginal serta bagaimana upaya perlindungan terhadap kelompok transpuan ditinjau dari teori viktimologi kritis.  Metode penelitian yang digunakan adalah normatif-empiris. Data primer yang digunakan adalah informasi dan keterangan dari wawancara yang dilakukan terhadap responden transpuan di beberapa kota, yaitu Yogyakarta (Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul), Kota Semarang, Kabupaten Baturaja, dan Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk viktimisasi terhadap transpuan di antaranya kekerasan fisik dan verbal, kekerasan seksual, viktimisasi properti dan diskriminasi oleh Negara dan masyarakat  serta reviktimisasi sosial. Upaya perlindungan  seharusnya komprehensif dari berbagai sektor baik ekonomi, sosial, budaya, agama  dan hukum. [In today's society, the expectation of heteronormative behavior is quite dominant, making it   difficult for the transgender community to live. Discrimination and stigmatization place transwomen in a vulnerable group so that they have  also potential  to become victims of violence and other crimes. This research aims to analyze what are the forms of victimization of transgender people as marginalized people and  how are the efforts to protect transgender people in terms of critical victimology theory. The research method used is normative-empirical research. The primary data used is information from interviews conducted with transgender respondents in several cities, namely Yogyakarta (Sleman Regency and Bantul Regency), Semarang City, Baturaja Regency, and Makassar City. The results showed that there were several forms of victimization against transgender including physical and verbal violence, sexual violence, property victimization and discrimination of Nation and society and social revictimization. The efforts of  protection  should be comprehensive, from various sectors including economic, social, culture, religion  and law.]
Women's Resilience Regarding Otang Tengka Tradition In Besuki Village, East Java Faridatur Riskiyah; Alifiulahtin Utaminingsih; Siti Kholifah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.73-84

Abstract

Otang tengka is a Madurese ethnic tradition synonymous with the role of married women in giving and receiving donations from groceries to those with special needs, such as for births, marriages, and even funerals. In practice, this tradition imposes economic demands as there is an obligation to participate in donation activities, mainly when the community's financial condition is middle to lower. This study aims to identify the forms of resilience developed by women who play essential roles in carrying out traditions, especially in Besuki Village, Besuki District, Situbondo Regency, East Java – the focus of this research. Bonnie Benard's resilience theory examines the various forms of women's resilience. This study adopts qualitative research methods, utilizing observation and interviews for data collection. The findings indicate several forms of resilience developed by married women, including engaging in trade as a form of autonomy, negotiating as a problem-solving strategy, managing family finances as an expression of purpose and future orientation, and socializing as a manifestation of a sense of humor. [ Otang tengka merupakan tradisi etnis Madura yang identik dengan peran perempuan yang sudah menikah dalam proses pemberian dan penerimaan sumbangan berupa sembako kepada pihak yang memiliki hajat berupa kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Pada praktiknya, tradisi ini memberikan tuntutan secara ekonomi karena adanya kewajiban mengikuti kegiatan sumbang-menyumbang sementara kondisi ekonomi masyarakat adalah menengah ke bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk resiliensi yang dikembangkan oleh perempuan selaku aktor penting dalam pelaksanaan tradisi terutama di Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur sebagai lokasi penelitiannya. Teori resiliensi dari Bonie Benard digunakan untuk melihat bentuk-bentuk dari resiliensi perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk resiliensi yang dikembangkan oleh perempuan yang sudah menikah, yaitu berdagang sebagai bentuk autonomi, negosiasi sebagai bentuk problem solving, pengelola keuangan keluarga sebagai bentuk sense of purpose and future, dan bersosialisasi sebagai bentuk sense of humor.]
The Construction Of Gender Equality In The Webcomic "Hingga Usai Usia" Amida Rizqulloh Noble; Hakim, Lukman; Prima Ayu Rizki Mahanani
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.127-144

Abstract

AbstractTingginya angka ketimpangan gender di Indonesia menunjukan pembangunan gender yang belum optimal, sehingga perlu adanya informasi mengenai kesetaraan gender yang menarik dan bisa diakses semua kalangan dengan mudah. Salah satunya melalui ruang kreatif digital yaitu bentuk web komik. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi kesetaraan gender dalam web komik “Hingga Usai Usia” yang membahas aspek-aspek kesetaraan gender. Dengan metode kualitatif dan pendekatan semiotika Roland Barthes, hasil kajian menunjukkan enam konstruksi kesetaraan gender yang ada di web komik tersebut, yaitu; konsensual, keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan anak, berbagi peran, maskulinitas positif, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, dan partisipasi perempuan di ranah publik. Namun, konstruksi berbagi peran merupakan aspek yang dominan digambarkan karena web komik ini menceritakan kehidupan pasangan suami istri. Kata Kunci: Kesetaraan Gender, Web Komik, Semiotika [The high rate of gender inequality in Indonesia indicates suboptimal gender development. Therefore, there is a need for accessible and interesting information on gender equality, primarily through digital creative spaces such as webcomics. Thus, this research aims to uncover the construction of gender equality in the webcomic "Hingga Usai Usia," which discusses various aspects of gender equality. By using qualitative methods and Roland Barthes' semiotic approach, the findings reveal six constructions of gender equality within the webcomic: consensus, male involvement in childcare, role-sharing, positive masculinity, female involvement in decision-making, and women's participation in the public sphere. However, the role-sharing construction emerges as the dominant aspect portrayed in the webcomic, which narrates the lives of married couples.] Keyword: Gender Equality, Web Comics, Semiotic
Perempuan Pekerja: Kemaslahatan Dalam Larangan Menjadi Buruh Migran Di Dusun Sade, Nusa Tenggara Barat Lindra Darnela; Arif Sugitanata
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.39-54

Abstract

Aturan adat tentang larangan perempuan menjadi pekerja migran masih diterapkan dan dipatuhi oleh masyarakat Dusun Sade, Nusa Tenggara Barat. Di sisi lain, menjadi buruh migran adalah hak bagi semua warga negara dan dilindungi secara hukum. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis argumen kultural masyarakat Sade dalam mematuhi aturan adat tersebut. Penelitian lapangan ini dilakukan pada tahun 2022 dengan mewawancarai Kepala Desa Rembitan, tokoh adat, dan masyarakat Sasak Sade sebagai data primer. Dengan menggunakan penelitian kualitatif dan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini melihat bahwa larangan perempuan menjadi buruh migran di Dusun Sade Lombok Tengah memiliki dasar yang kuat baik dari sisi budaya maupun hukum. Kebiasaan ini telah mengakar kuat dalam masyarakat setempat, sebagai penghargaan terhadap leluhur dan tradisi adat. Kepatuhan terhadap ketentuan untuk tidak menjadi buruh migran juga didukung oleh pemahaman kultural historis perempuan dan merupakan pilihan rasional untuk mempertahankan struktur yang berfungsi dengan baik di masyarakat. Larangan ini juga sebagai bentuk perlindungan keluarga dan masyarakat terhadap perempuan, sehingga bisa disimpulkan bahwa aturan adat ini memiliki nilai-nilai kemaslahatan. [The customary rule on the prohibition of women from becoming migrant workers is still implemented and obeyed by the people of Dusun Sade , West Nusa Tenggara. However, being a migrant worker is a right for all citizens and is legally protected. This article aims to analyse the cultural arguments of the Sade people in complying with these customary rules. This field research was conducted in 2022 by interviewing the Head of Rembitan Village, traditional leaders, and the Sasak Sade community as primary data. Using qualitative research and a legal sociology approach, this study sees that the prohibition of women from becoming migrant workers in Dusun Sade, Central Lombok has a strong basis both in terms of culture and law. This custom has been deeply rooted in the local community, as a tribute to ancestors and customary traditions. Compliance with the provision not to be a migrant worker is also supported by a historical cultural understanding of women and is a rational choice to maintain a well-functioning structure in society. This prohibition is also a form of family and community protection for women, so it can be concluded that this customary rule has beneficial values.]
Representasi Dan Identitas Perempuan Minangkabau Dalam Fotografi Masa Kolonial Tahun 1900-1942 Ilma; Andoni, Yudhi
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.1-21

Abstract

Artikel ini menjelaskan bagaimana representasi dan identitas perempuan Minangkabau dalam periode kolonial tahun 1900-1942 melalui analisis fotografi. Tulisan ini mengkaji bagaimana fotografi sebagai medium visual tidak hanya merekam tetapi juga membentuk persepsi dan representasi tentang perempuan Minangkabau oleh masyarakat kolonial dan bumiputera. Melalui tinjauan terhadap koleksi foto-foto yang diambil oleh fotografer kolonial, artikel ini akan menyoroti berbagai aspek kehidupan perempuan, termasuk modernitas, gaya hidup, peran sosial, adat istiadat, dan dinamika keseharian mereka dalam konteks budaya Minangkabau. Penulisan ini menggunakan metode sejarah, terutama didasarkan pada sumber-sumber sezaman seperti surat kabar, majalah, foto, serta beberapa kajian sebelumnya yang telah dilakukan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa fotografi masa kolonial memberikan wawasan berharga tentang interaksi sosial, status gender, dan adaptasi budaya di tengah pengaruh kolonialisme, serta membuka diskusi tentang representasi visual dan narasi historis perempuan Minangkabau dalam arsip kolonial. [This article explains the representation and identity   of Minangkabau women in the colonial period 1900-1942 through photographic analysis. This writing examines how photography as a visual medium not only records but also shapes perceptions and representations of Minangkabau women by colonial and native communities. Through a review of a collection of photographs taken by colonial photographers, this article  highlight various aspects of women's lives, including their modernity, lifestyle, social roles, customs and daily dynamics in the context of Minangkabau culture. This writing uses historical methods, mainly based on contemporary sources such as newspapers, magazines, photographs, as well as several previous studies on the related issues. The results of this study show that colonial period photography provides valuable insight into social interactions, gender status, and cultural adaptation in colonial period. It a opens discussions about the visual representation and historical narratives of Minangkabau women in colonial archives.]  
Konstruksi Kesalehan, Posisi dan Agensi Perempuan dalam Wacana Keagamaan Fadilla Dwianti Putri; Elizabeth Kristi Poerwandari
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.193-209

Abstract

Konstruksi kesalehan pada perempuan dalam wacana agama Islam kerap dikaitkan dengan simbol keagamaan serupa memakai jilbab untuk menutupi aurat. Dalam posisinya, perempuan juga dilekatkan dengan peran-peran domestik, seperti mengurus rumah dan anak, dan taat pada suami sebagai wujud ketaatan pada Allah Swt. Konstruksi ini kemudian diyakini oleh perempuan bahwa pembagian peran tersebut adalah kodratnya, yang kemudian menciptakan hegemoni tentang kesalehan. Sementara itu, Saba Mahmood (2005) dalam analisisnya tentang agensi kesalehan di Mesir menemukan, kesalehan bisa dimaknai sebagai sebuah kapasitas untuk menginterpretasi ajaran agama sebagai petunjuk bagi kehidupan sehari-hari, dengan tetap menegakkan ketaatan pada Allah Swt. Namun dalam konteks Indonesia, saat ini kita dihadapkan dengan kelompok-kelompok konservatif dan tekstualis, yang meskipun cenderung minoritas, memiliki jaringan yang kuat dalam menyebarluaskan doktrinasi ajaran yang mengukuhkan konstruksi kesalehan yang hegemonik. Oleh karena itu, kontra narasi dan gerakan serupa yang Mahmood temukan di Mesir, yang mampu memberikan analisis kritis pada perempuan terhadap ajaran agama, penting untuk dibangun di Indonesia.   Abstract Women’s piety in Islamic discourse is often associated with religious symbols such as the use of the hijab to cover aurat. Women are also associated with domestic roles such as taking care of the house and children, and obeying their husbands as a form of obedience to Allah Swt. Women then believe that the division of labour is in their nature, which then creates a hegemonic construction of piety. Meanwhile, Saba Mahmood (2005) from her research in Egypt found that piety can be interpreted as the ability to interpret religious teachings as instructions for daily life, while maintaining obedience to Allah Swt. However, in the Indonesian context, we are currently facing conservative and textualist groups that, although they are usually in the minority, have strong networks in the dissemination of doctrinal teachings that reinforce the hegemonic construction of piety. Therefore, it is important to develop the counter-narratives and similar movements that Mahmood found in Egypt in Indonesia, which can provide women with a critical analysis of religious teachings.