cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 369 Documents
Perempuan dan Pendidikan Islam dalam Novel "'Asrul Al-Hub" Sulthon Pamungkas; Aning Ayu Kusumawati
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.158-169

Abstract

Abstrak Penelitian ini fokus pada bagaimana peran perempuan dalam pendidikan Islam  pada novel ’Aṣrul Al-Ḥub karya Najib Mahfuz. Hal yang menjadi titik berat artikel ini bahwa diperlukan pengamatan khusus terkait peran perempuan dalam pendidikan Islam,  karena seperti digambarkan  dalam Novel ’Aṣrul Al-Ḥub, peran perempuan  sangat  dominan dan konsisten dalam pendidikan Islam. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dan catat  dengan mencermati  data primer berupa dialog yang ada dalam novel ’Aṣrul Al-Ḥub karya Najib Mahfuz tentang bagaimana pendidikan Islam disampaikan oleh tokoh-tokoh perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh perempuan, yaitu ibu Izzat (Sitta ‘Ain) dan Sayyidah,  secara konsisten mengajarkan  pendidikan Islam melalui tiga strategi yaitu pemahaman, pembiasaan dan keteladanan. Sedang tiap kategori tersebut terdapat metode-metode pendidikan, misalnya  pada kategori pemahaman terdapat metode diskusi, metode ‘Ibrah dan Maū’iẓah, metode penanaman motivasi, dan metode demontrasi. Sedang pada kategori pembiasaan terdapat metode kepekaan sosial dan tidak dendam/pemaaf, selanjutnya pada keteladanan terdapat optimisme dan konsistensi/kesabaran. Kata Kunci: Perempuan, Pendidikan Islam, ’Aṣrul Al-Ḥub. [This research focuses on the method of delivering Islamic education in the novel 'Aṣrul Al-Ḥub by Najib Mahfuz. The point of this article is that special observation is needed regarding the role of women in Islamic education, bearing in mind that in the Novel 'Aṣrul Al-Ḥub, women dominate and are consistent in teaching Islamic education. The data collection method in this study uses the observing and note-taking method to collect primary data in the form of dialogue in the novel 'Aṣrul Al-Ḥub by Najib Mahfuz which contains information about how Islamic education conveyed by female characters. This research shows that female figures, namely Sitta 'Ain and her daughter in law  Sayyidah, consistently teach Islamic education through three categories, namely understanding, habituation and modelling. In each of these categories there are educational methods, for example in the understanding category there are discussion methods: 'Ibrah and Maū'iẓah, instilling motivation, and demonstration . While in the habituation category there are ways: social sensitivity and forgiveness, then in modelling there are  optimism and consistency/patience.] Keyword: Women, Islamic Education,  'Aṣrul Al-Ḥub.
Women, Ecology And Children: A Study Of Ecofeminism In Indonesian Children's Literature Setiyawan, Radius; Yuyun Wahyu Izzati Surya; Aribowo; Setiyowati, Arin
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.145-157

Abstract

Abstrak Sastra diyakini memiliki peran dalam membentuk persepsi anak-anak tentang dunia, namun sayangnya cerita-cerita yang terkandung di dalamnya memiliki banyak bias gender. Penelitian ini menggunakan analisis wacana Theo van Leeuwen untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana perempuan dan alam mengalami eksklusi dari hubungan mereka dengan subjek lain. Beberapa praktik eksklusi yang disajikan antara lain: misogini/seksis, stereotip dan hubungan tidak setara lainnya yang dalam konteks ini digunakan untuk melihat hubungan antara gender dan alam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dan alam memiliki hubungan penting yang ditunjukkan melalui penggunaan metafora, latar alam, keberadaan tumbuhan dan hewan yang muncul langsung dalam cerita. Di bagian lain, alam dan perempuan tampaknya terpinggirkan karena keduanya digambarkan secara minor dan terus menerus diangkat sebagai objek. Di sisi lain, ada juga cerita yang dianalisis menunjukkan adanya simbolisme mutualisme antara alam dan perempuan dalam melawan dominasi patriarki. Kata Kunci: Ekofeminisme, Sastra Anak, Perempuan, Ekologi [Literature is believed to play a role in shaping children's perceptions of the world. Unfortunately, many stories contain significant gender bias. This study uses Theo van Leeuwen's discourse analysis to examine how women and nature experience exclusion from their relationships with other subjects. Several exclusion practices  include misogyny/sexism, stereotypes, and unequal relationships, which in this context are used to explore the connection between gender and nature. The findings of this research indicate that women and nature share a significant relationship, as demonstrated through the use of metaphors, natural settings, and the presence of plants and animals that appear directly in the stories. In other  part, nature and women seem marginalized as both are portrayed in minor roles and continuously presented as objects. On the other hand, stories are analyzed that reveal a mutual symbolism between nature and women in resisting patriarchal domination.] Keywords: Ecofeminism, Children's Literature, Women, Ecology  
Relasi Perempuan Dan Alam Dalam Konservasi Lingkungan Pespektif Al-Qur’an Dan Hadis Istianah; khusniyah, aziizatul
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.222-235

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji tentang relasi perempuan dan  konservasi lingkungan perspektif al-Qur’an dan hadis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji dan menelaah perspektif Al-Qur'an dan Hadis tentang hubungan antara perempuan, alam, dan konservasi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Penelitian ini fokus pada telaah terhadap teks-teks Al-Qur'an dan Hadis yang relevan dengan konservasi lingkungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan Hadis telah mengajarkan pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan alam. Manusia, termasuk perempuan, diberi mandat sebagai khalifah untuk menjaga dan memakmurkan alam. Terkait ekofeminisme, artikel ini juga menyoroti hubungan yang erat antara perempuan, alam, dan kelestarian lingkungan. Keduanya memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dilindungi agar tidak punah. Bumi sebagai “Ibu Pertiwi” menumbuhkan tumbuhan, dan perempuan mempunyai “rahim” yang  melahirkan generasi baru. Oleh karenanya, perempuan dan alam tidak boleh dijadikan sebagai objek eksploitasi. Alam tidak boleh dirusak dan dieksploitasi demi mendapat keuntungan segelintir orang. Demikian pula dengan perempuan, tidak boleh  mendapat tekanan dan berbagai tindak kekerasan. Dalam konteks konservasi lingkungan, perempuan memiliki peran dalam pengelolaan sumber daya alam dan mendukung upaya konservasi. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa ajaran Al-Qur'an dan Hadis dapat menjadi landasan moral dan spiritual bagi perempuan muslim dalam terlibat dalam konservasi lingkungan. Kata Kunci: perempuan, alam, konservasi lingkungan, al-Qur’an dan hadis. [This article examines the relationship between women and nature in environmental conservation from the perspective of the Qur'an and Hadith. This article aims to review and analyze the Qur'anic and Hadith perspectives on the relationship between women, nature, and environmental conservation. The method used in this research is a literature study. The research involved studying and reviewing Qur'anic and Hadith texts which are relevant to environmental conservation. The results of this study show that the Qur'an and Hadith have taught the importance of protecting, caring , and conserving nature. Humans, including women, are mandated as caliphs to protect and prosper nature. This article also highlights the close relationship between women, nature, and environmental sustainability. Both have an important role as a source of life that must be preserved and protected from extinction. In environmental conservation, women have a role in managing natural resources and supporting conservation efforts. This research implies that the teachings of the Qur'an and Hadith can be a moral and spiritual foundation for Muslim women in engaging in environmental conservation. Keywords: women, nature, environmental conservation, al-Qur'an, and hadith.]
Shifting Paradigm Penafsiran Dalam Surat An-Nisa: 3 (Studi Perbandingan Tafsir Klasik Dan Kontemporer) Muhammad Taufiq; Dozan, Wely; Abdul Rasyid Ridho
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.170-183

Abstract

Abstrak Tulisan ini mendiskusikan pergeseran paradigma penafsiran dalam surah an-Nisa’ (4): 3 yang selama ini menjadi isu hangat dan sering diperbincangkan dalam dunia penafsiran terutama pada abad klasik dan kontemporer. Ayat tersebut dalam perspektif tafsir klasik lebih menitikberat pada aspek poligami. Namun demikian, penafsiran abad kontemporer lebih dipahami sebagai ayat monogami, karena hal tersebut tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang melatarbelakangi sehingga terjadi shifting paradigm dalam tafsir. Penafsiran ayat tersebut tentu memiliki pergeseran yang cukup signifikan seiring berkembangnya epistemologi pengetahuan. Sebagai kegelisahan akademik, tulisan ini fokus membahas pokok permasalahan dalam penelitian yaitu, Pertama, bagaimana penafsiran surah an-Nisa’ (4): 3 dalam perspektif kalsik dan kontemporer, Kedua, bagaimana bentuk-bentuk pergeseran paradigma penafsiran dalam Surah an-Nisa’(4): 3 dalam pandangan tafsir abad klasik dan kontemporer. Adapun hasil penelitian yaitu penafsiran surah an-Nisa’ (4): 3 telah menunjukkan adanya sebuah pergeseran pemahaman yang disebabkan oleh shifting paradigm epistemologi pengetahuan. Sebagai klasifikasi, dalam penafsiran abad klasik, orientasi penafsiran lebih cenderung  tekstual tanpa menimbang makna konteks. Sedangkan pada penafsiran abad kontemporer, terjadi anomali yaitu ketidaksesuain antara penafsiran  dengan realita, maka melahirkan konstruk shifting paradigm dengan merumuskan metodologi baru, dari tekstual menuju penafsiran dengan corak tekstual. Kata kunci: Shifting, Paradigm, Penafsiran, an-Nisa’(4): 3, Klasik, Kontemporer [This article discusses the shifting paradigm of interpretation in Surah an-Nisa' (4): 3 which has been discussed  in the world of interpretation, especially in the classical and contemporary centuries.From the perspective of classical interpretation, this verse was seen more on the aspect of polygamy. However, contemporary interpretation is better understood as a monogamous  verse, because it  is certainly influenced by several factors, resulting in a paradigm shift in interpretation. The interpretation of this verse has certainly a significant shift along with the development of knowledge epistemology. As an academic concern, this article focuses on discussing the main problems of  the research, namely, first, how is the interpretation of Surah an-Nisa' (4): 3 in classical and contemporary perspectives. Second, what are the forms of shifting interpretive paradigms in Surah an-Nisa' (4): 3 in the view of classical and contemporary interpretations. The results of the research show that there is a shifting of  interpretation of Surah an-Nisa' (4): 3, caused by a shifting paradigm in the epistemology of knowledge. As a classification, classical interpretations tend to be textual without considering the meaning of the context. Meanwhile, in the contemporary interpretations, there is   anomaly  such as inconsistencies between interpretation and reality, thus it leads to the construction  of shifting paradigms by formulating a new methodology, from textual to interpretation with textual patterns.] Keywords: Shifting, Paradigm, Interpretation, an-Nisa'(4): 3, Classical, Contemporary
“Personal Is Political” Kekerasan Seksual: Baseline Study Untuk Rekomendasi Kebijakan Khafsoh, Nur Afni; Andayani; Hanjarwati, Astri
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.198-221

Abstract

Abstrak Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi marak terjadi meskipun dalam beberapa sebab tidak terpublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana relasi kuasa dan normalisasi kekerasan seksual di Perguruan Tinggi, serta seberapa jauh “Personal is Political” menjadi fenomena kekerasan seksual di pendidikan tinggi. Penelitian ini juga menyajikan rekomendasi kebijakan bagi lembaga dalam penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode angket dan wawancara secara FGD kepada penyintas maupun civitas akademika lainnya. Hasil dari baseline study menunjukkan bahwa bentuk kekerasan seksual yang terjadi meliputi fisik, verbal, KGBO.  Pelaku kekerasan seksual mulai dari mahasiwa, tendik hingga dosen. Personal is Political diindikasikan melalui normalisasi kekerasan seksual bahkan menyalahkan korban. Relasi kuasa (Dosen-Mahasiswa, Senior-Junior, Pegawai-Mahasiswa) menambah lemahnya posisi korban untuk mendapatkan keadilan.  Pelaku memanfaatkan otoritas yang ia miliki untuk memanipulasi korban sedemikian rupa sehingga korban sangat takut untuk melawan. Rekomendasi yang ditawarkan meliputi perubahan kebijakan, aksi kolektif, gerakan sosial. Kata Kunci : Kekerasan Seksual, Perguruan Tinggi, Personal is Political, Power Relations [The phenomenon of sexual violence occurring in universities is widespread, although for several reasons it is not publicized. This research aims to examine the extent of power relations and the normalization of sexual violence in higher education, as well as the extent to which "Personal is Political" has become a phenomenon of sexual violence in higher education. This research also presents policy recommendations for institutions in handling sexual violence in higher education. This research was conducted using questionnaires and FGD interviews with survivors and other academics. The results of the baseline study show that the forms of sexual violence that occurred included physical, verbal, KGBO. Perpetrators of sexual violence range from students, staff to lecturers. Personal is Political is indicated through the normalization of sexual violence and even blaming the victim. Power relations (Lecturer-Student, Senior-Junior, Employee-Student) increase the weakness of the victim's position in obtaining justice. The perpetrator uses the authority he has to manipulate the victim in such a way that the victim is too afraid to fight back. The recommendations offered include policy changes, collective action, social movements. Keywords: Sexual Violence, Higher Education, Personal is Political, Power Relation]
Redefining Jihad, Hijrah, and Caliph in Mohja Kahf’s The Girl in the Tangerine Scarf Djohar, Hasnul Insani; Oktaviano, Willy
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.236-252

Abstract

Abstract Historically, Orientalism has perceived Islam in reductionist views for centuries. To resist this basic view, it is crucial to investigate Mohja Kahf’s The Girl in the Tangerine Scarf (2005), which redefines Islam and Islamic terms, such as Jihad, Hijrah, and Caliph in more positive insights. Kahf’s text questions orientalists, which tend to misrepresent Muslims in a limited way, such as Jihad associated with terrorism and killing others instead of fighting against worldly desires. To contest these negative misrepresentations of the Muslim world, in her novel, Kahf uses Islamic sacred texts, such as Surah At-Taubah (Repentance) and Al-A’raf (The Heights), to redefine Islam as a religion, which promotes Salam (peace) and tolerance in the world instead of violence as misrepresented in Western liberalism. By engaging with postcolonial and Islamic studies, this paper investigates how Kahf uses the Quran and hadiths in her novel to reject imperialist perspectives. Thus, Kahf’s novel explores the Islamic sacred texts to inspire people how to live in a modern society by appreciating different people regardless of their different races and faiths and practicing tolerance to establish a more global civilized society. Keyword: US-Muslimah’s fiction, Quran and Hadiths, Jihad , Hijrah, Caliph and leader, Tolerance [Secara historis, Orientalisme telah memandang Islam dalam pandangan reduksionis selama berabad-abad. Untuk menolak pandangan dasar ini, penting untuk menyelidiki The Girl in the Tangerine Scarf (2005) karya Mohja Kahf, yang mendefinisikan ulang Islam dan istilah-istilah Islam, seperti Jihad, Hijrah, dan Khalifah dalam wawasan yang lebih positif. Teks Kahfi mempertanyakan para orientalis yang cenderung memberikan gambaran keliru tentang umat Islam secara terbatas, seperti Jihad yang dikaitkan dengan terorisme dan membunuh orang lain alih-alih berperang melawan keinginan duniawi. Untuk melawan kesalahpahaman negatif tentang dunia Muslim, dalam novelnya, Kahfi menggunakan teks suci Islam, seperti Surah At-Taubah (Pertobatan) dan Al-A'raf (Ketinggian), untuk mendefinisikan kembali Islam sebagai agama yang mengedepankan Salam ( perdamaian) dan toleransi di dunia dibandingkan kekerasan seperti yang disalahartikan dalam liberalisme Barat. Dengan terlibat dalam studi pascakolonial dan Islam, makalah ini menyelidiki bagaimana Kahf menggunakan Al-Quran dan hadis dalam novelnya untuk menolak perspektif imperialis. Oleh karena itu, novel Kahfi mengeksplorasi kitab-kitab suci Islam untuk menginspirasi masyarakat bagaimana hidup dalam masyarakat modern dengan menghargai orang yang berbeda tanpa membedakan ras dan keyakinannya serta mengamalkan toleransi untuk mewujudkan masyarakat beradab yang lebih global. Kata Kunci: Fiksi AS-Muslimah, Quran and Hadits, Jihad, Hijrah, Khalifah, Tolerance.]
Meretas Jalan Kesetaraan: Praktik Baik Dan Refleksi Program Sekolah Gender Di Perguruan Tinggi Nasrul Latifi, Yulia; Elly Triantini, Zusiana
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.253-270

Abstract

Abstrak Artikel ini akan menjelaskan tentang praktik baik pengarusutamaan gender di salah satu perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan peran dan jaringan aktor (actor network theory/ANT) dan metode penelitian kualitatif, artikel ini menjelaskan temuan penelitian terkait dengan bagaimana upaya program pengausutamaan gender di lingkungan perguruan tinggi di tengah derasnya arus tehnologi informasi yang terus bergerak dinamis, sementara persoalan gender belum bergerak dan masih seringkali muncul berupa persoalan klasik dan berulang. Berangkat dari metode analisis yang digunakan dan didasarkan pada pencarian makna yang secara ontologik bergerak antara empiris, logis, dan etik dengan corak berfikir reflektif dan verstehen, temuan penelitian ini menunjukkan kuatnya peran, kontribusi, dan tantangan Sekolah Gender dalam penguatan paradigma kesetaraan gender dan penguatan kampus inklusi. Analisis atas temuan data menghadirkan refleksi dan rekomendasi bagi penguatan pengausutamaan gender seperti yang terlihat dalam program Sekolah Gender terutama terkait: bentuk dan substansi, kurikulum dan materi, pendekatan pembelajaran, strategi publikasi, dan pengembangan jejaring internal dan eksternal dan merekomendasikan forum atau program serupa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.    Kata Kunci: Pengarusutamaan, Gender, Peran, Tantangan, Perguruan Tinggi  [This article will discuss the best practices of gender mainstreaming at one of the Islamic universities in Indonesia. Using an actor-network theory (ANT) and qualitative methods, this article presents interesting findings on how gender mainstreaming programs survive and are implemented in the higher education environment amidst the dynamic flow of information technology, while gender issues remain stagnant and often present as recurring, classical problems. Based on the analytical methods used and the search for meaning that ontologically navigates between empirical, logical, and ethical dimensions with a reflective and verstehen way of thinking, the research findings highlight the significant role, contributions, and challenges faced by the Gender School in strengthening the paradigm of gender equality and fostering an inclusive campus. The analysis of the data findings provides reflections and recommendations for strengthening gender mainstreaming, as seen in the Gender School program particularly related to: the form and substance, curriculum and materials, learning approaches, publication strategies, and the development of internal and external networks. It also recommends similar forums or programs in various universities across Indonesia.] Keywords: Mainstreaming, Gender, Role, Challenges, University
From Victim To Perpetrator: Comparing The Shift Of Rape Narrative Focus In Audrie & Daisy (2016) And Photocopier (2021) Pratiwi, Viana Aulia; Hidayatullah, Danial
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025):
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.104-119

Abstract

Abstrak Meski berbeda latar belakang - Amerika dan Indonesia - seperti sosio-kultural, dan tingkat pendidikan, namun pelaku pelecehan dalam Audrie & Daisy (2016) dan Photocopier (2021) patut ditelusuri lebih lanjut dengan asumsi bahwa teks dunia pertama berbeda dengan teks dunia ketiga dalam kaitannya dengan wacana perempuan sebagai subjek dan agen. Mengungkap bagaimana pergeseran fokus naratif dalam representasi pelaku kekerasan seksual dari korban menjadi pelaku sehingga eksistensi pelaku sebenarnya tidak menjadi “tidak teridentifikasi.” Kajian kualitatif ini mengidentifikasi narasi pemerkosaan melalui wacana dalam konstelasi relasi gender antara pelaku seksual dengan korban atau penyintas. Membandingkan konstruksi wacana pelaku dalam narasi pemerkosaan dengan teori representasi Stuart Hall yang mengkaji narasi dan wacana film, representasi sosiokultural, dan representasi pelaku kekerasan seksual. Di Indonesia, pelaku laki-laki, dengan segala keistimewaan dan statusnya, menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang menjadi penyintas. Pelaku yang tidak dihukum menempatkannya dalam hierarki lebih tinggi di Amerika. Nilai-nilai otonomi individu yang dijunjung tinggi dalam budaya Amerika menempatkan laki-laki pada posisi hegemonik, sedangkan di Indonesia, dengan nilai-nilai keterlekatan sosialnya, narasinya terlihat kuat dalam mengorbankan perempuan demi kepentingan kelompok. Wacana yang dapat diidentifikasi tidak hanya memberikan kekuatan narasi terhadap pemerkosa tetapi juga rasa tidak terkutuk atau simpati dari pembaca. Kata Kunci: Pemerkosaan, Pelaku, Studi Banding, Amerika, Indonesia, Narasi [Although the backgrounds are different - America and Indonesia - such as sociocultural and education levels, the perpetrators of sexual harassment in Audrie & Daisy (2016) and Photocopier (2021) are worth exploring further, with the assumption that first-world texts are different from third-world texts with the discourse of women as subjects and agents. How the shift in narrative focus in the representation of perpetrators of sexual violence from victims to perpetrators, so that the existence of the perpetrators does not become "unidentified is a critical point of view of this study." This qualitative study identifies rape narratives through discourse in the constellation of gender relations between sexual perpetrators and victims or survivors. Comparing the construction of the perpetrator's discourse in the rape narrative with Stuart Hall's theory of representation that examines film narratives and discourses, representations of sociocultural and sexual perpetrators. In Indonesia, male perpetrators, with all their privileges and status, occupy a higher position than female survivors. Perpetrators who are not punished are placed in a higher hierarchy in America. The values ​​of individual autonomy that are upheld in American culture place men in a hegemonic position, while in Indonesia, with its values ​​of social attachment, the narrative is seen as strong in sacrificing women for the benefit of the group. Identifiable discourses not only provide narrative power to rapists but also a sense of not being condemned or sympathetic by the reader. Keywords: Rape, Perpetrator, Comparative Study, America, Indonesia, Narrative.]
Gender Apartheid In Afghanistan: Analysis Discrimination Against Women's Rights Under The Taliban Regime (2021-2023) Pritania, Nayes; Nasir, Muhammad; Putra, Johan Septian; Hussin, Nafisah Ilham
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025):
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.89-103

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji kesetaraan gender dan diskriminasi sistemik yang dialami oleh perempuan di bawah rezim Taliban di Afghanistan pada periode 2021 hingga 2023. Studi ini memberikan analisis kritis terhadap kebijakan-kebijakan Taliban, dengan menyoroti dampak merugikan terhadap hak-hak perempuan, akses terhadap pendidikan, peluang kerja, dan partisipasi dalam kehidupan publik. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengandalkan data sekunder yang diperoleh melalui tinjauan pustaka terhadap artikel ilmiah, jurnal, dan laporan terkait. Temuan menunjukkan bahwa kebijakan Taliban membentuk suatu bentuk apartheid gender yang terlembagakan, yang tidak hanya melanggar standar hak asasi manusia internasional, tetapi juga prinsip-prinsip dasar keadilan dan kesetaraan dalam Islam. Selain itu, praktik diskriminatif ini secara signifikan menghambat pembangunan sosial-ekonomi di Afghanistan. Artikel ini menekankan urgensi pengakuan apartheid gender sebagai kejahatan internasional dan menyerukan upaya global yang terkoordinasi untuk mengatasi serta mencegah pelanggaran sistemik semacam ini. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus yang lebih luas mengenai kesetaraan gender dan mendorong reformasi kebijakan yang menjamin keadilan serta kesetaraan hak bagi perempuan di Afghanistan dan wilayah lainnya. Kata kunci: Gender Apartheid, Perempuan, Afghanistan Rezim Taliban [This article examines gender equality and the systemic discrimination faced by women under the Taliban regime in Afghanistan from 2021 to 2023. It offers a critical analysis of the Taliban’s policies, emphasizing their detrimental effects on women's rights, access to education, employment opportunities, and participation in public life. Employing a descriptive method and a case study approach, the study draws on secondary data gathered through a comprehensive literature review of scholarly articles, journals, and reports. The findings reveal that the Taliban's policies constitute a form of institutionalized gender apartheid, violating both international human rights standards and core Islamic principles of justice and equality. Furthermore, the study argues that these discriminatory practices significantly impede Afghanistan’s socio-economic development. The article highlights the urgent need to recognize gender apartheid as an international crime and calls for coordinated global efforts to address and prevent such systemic violations. This research contributes to the wider discourse on gender equality and advocates for policy reforms that promote justice and equal rights for women in Afghanistan and beyond. Keyword: Gender Apartheid, Women, Afghanistan, the Taliban Regime ]