cover
Contact Name
Musawa
Contact Email
psw@uin-suka.ac.id
Phone
+6285228019060
Journal Mail Official
psw@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles 373 Documents
Dinamika Perjuangan Kesetaraan Gender Masyarakat Urban (Memahami Gerakan Sosial International Women’s Day Di Kota Semarang) Anang Prihanto, Bayu; Widaningrum, Ambar
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.23-38

Abstract

Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender melahirkan gerakan sosial yang berfokus pada isu-isu pengarusutamaan gender. Salah satu gerakan sosial berbasis gender dikenal dengan International Women’s Day. Belum tercapainya kesetaraan gender di Indonesia menyebabkan pentingnya kajian yang menjelaskan tentang tahapan gerakan sosial International Women’s Day, sehingga dapat diketahui penyebab belum tercapainya tujuan gerakan di Indonesia. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menjelaskan tahapan gerakan sosial dan pola gerakan sosial International Women’s Day Semarang sebagai pelaku Gerakan Sosial Baru (GSB). Terdapat dua penyebab yang membuat IWD Semarang belum mencapai tujuan. Pertama, belum adanya organisasi yang tersentral yang menjadi pedoman aktivitasnya. Kedua, kegagalan gerakan dalam menentukan tujuan dari gerakan, sehingga aksi-aksi yang dilakukan hanya bersifat seremonial. Berdasarkan temuan tersebut, kajian ini menekankan pentingnya kelembagaan gerakan sosial dengan melakukan kerjasama dengan para aktor gerakan sosial, terutama dalam penyusunan rencana kerja, jangka pendek, menengah dan rencana jangka panjang gerakan. Peran pemerintah diperlukan terutama pada fasilitasi terkait dengan penguatan aktivitas advokasi kesetaraan gender.   [Gender inequality has given rise to social movements that focus on solving gender problems. One of the gender-based social movements is International Women's Day. The lack of gender equality in Indonesia has led to the importance of studies that explain the stages of the International Women's Day social movement, so that we can find out the reasons why the movement's goals in Indonesia have not been achieved. This study uses a descriptive qualitative method by explaining the stages of social movements and social movement patterns of International Women's Day Semarang as actors in the New Social Movement (GSB). There are two reasons why IWD Semarang has not achieved its goals. First, there is no centralized organization to guide its activities. Second, the movement's failure to determine the goals of the movement, so that the actions carried out were only ceremonial. Based on these findings, this study emphasizes the importance of social movement institutions by collaborating with social movement actors, especially in preparing work plans, short, medium and long-term movement plans. The government's role is needed, especially in facilitation related to strengthening gender equality advocacy activities.]
The Teachers Perceptions on Misogynistic Hadiths: The Interpretations and It's Implications for Teaching Gender Equality Marhumah Marhumah; Zulkipli Lessy; Afifur Rochman Sya'rani; Siti Nur Hidayah
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.132-148

Abstract

Peran perempuan dan laki-laki yang tidak setara dan tidak seimbang telah menjadi subyek perdebatan sengit dalam masyarakat Muslim. Secara umum persepsi terhadap budaya dan agama telah berlangsung lama bahwa peran laki-laki harus mendominasi peran perempuan, dan subordinasi perempuan adalah nasib yang tidak dapat diubah. Penelitian ini mengkaji pemahaman guru-guru Muslim Indonesia terhadap konseptualisasi teks-teks Islam terutama hadis (perkataan Nabi Muhammad), mengenai aspek yang menggambarkan dan menentukan peran gender. Penelitian kualitatif ini adalah untuk mengungkap persepsi lima guru laki-laki dan lima perempuan, yang bekerja di Sekolah Menengah Islam di Yogyakarta, terkait dengan pemahaman mereka tentang status perempuan dalam masyarakat Islam. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok (FGD) yang melibatkan laik-laki dan perempuan dan dilakukan secara online melalui Zoom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru mengakui bahwa sikap individu dan institusional berusaha untuk membatasi partisipasi perempuan dalam masyarakat Muslim, dan sebagian besar Muslim yakin bahwa sikap tersebut berasal dari teks-teks Islam (terutama hadis) yang telah diterjemahkan secara historis dan atau harfiah. Pandangan mereka bervariasi terkait dengan tiga konsep Islam yang dianalisis karena berpengaruh bagi status sosial dan pekerjaan perempuan, yaitu kodrat (sifatmanusia), qiwama (kedudukan sosial dan kepemimpinan), dan laknat (penilaian atau murka oleh para malaikat). Pada dasarnya, tidak semua guru dalam penelitian ini memiliki kesempatan untuk mengajar subjek yurisprudensi Islam (fiqh), di mana topik pernikahan secara khusus dibahas. Namun, mereka semua menyadari kebutuhan yang sedang berlangsung di kelas dan masyarakat. Penelitian ini memiliki implikasi praktis dari pendekatan pedagogis di sekolah-sekolah Islam untuk pendidikan tentang kesetaraan gender. [Unequal and unbalanced roles of women and men have become the subject of intense debate in Muslim society. Common cultural and religious perceptions have long been that men’s roles should dominate over women’s roles and that women’s subordination is an unalterable fate. This study examines conceptualization by Indonesian Muslim teachers regarding Islamic texts, primarily of the hadith (the sayings of the Prophet Muhammad), that describe and prescribe aspects of gender roles. This qualitative study was designed to explore perceptions of five male and five female teachers, employed in Islamic Secondary Schools in Yogyakarta, as related to their understanding of women’s status in Islamic society. The data were gathered through mixed-gender focus group discussions conducted online via Zoom. Findings show that the subjects clearly acknowledge that individual and institutional attitudes persist for circumscribing women’s participation within Muslim society, and that most Muslims derive these attitudes from Islamic texts (mainly the hadith) that have been translated in historical and/or literal ways. The teachers varied in their views about three Islamic concepts which were analyzed as influential for the societal and occupational status of women, namely kodrat (human nature), qiwama (societal standing and leadership), and laknat (judgment by, or wrath of, the angels). Basically, not all of the teachers in this study had occasion to teach the subject of Islamic Jurisprudence (fiqh), in which the marriage topic is specifically covered, yet they were all aware of an ongoing need in classroom and society. This study has practical implications of the pedagogical approaches in Islamic schools for education on gender equality.]
Rethinking Gender In Islamic Law Suud Sarim Karimullah; Mukhid; Zumiyati Sanu Ibrahim; Muhajir
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.99-113

Abstract

In the study of feminist hermeneutics, gender construction in Islamic law tries to bridge the gap between the dominant patriarchal norms in interpreting traditional Islamic law and modern society regarding gender equality for social justice. By exploring the classical literature and contemporary Islamic legal text, this study focuses on the problems of gender construction through the lens of feminist hermeneutics in Islamic law. The pattern in this feminist hermeneutic approach not only expands but also deepens the understanding of paradigmatic changes in gender construction in the framework of Islamic law. This perspective introduces a new idea for exploring gender construction within the legal framework. This approach challenges the dominant patriarchal interpretation of Islamic law, particularly women's roles and rights. This social change can be perceived in an inclusive view more responsive to gender issues.[ Dalam kajian lensa hermeneutika feminis, konstruksi gender dalam hukum Islam berupaya menjembatani kesenjangan antara norma-norma dominan patriarki dalam interpretasi hukum Islam tradisional dan tuntutan masyarakat modern dalam kesetaraan gender demi keadilan sosial. Dengan menggali sumber pustaka teks-teks hukum Islam klasik dan kontemporer maupun  literatur akademik yang relevan, paper ini mengulas lebih lanjut  permasalahan kostruksi gender dalam kacamata hermeneutika feminis pada hukum Islam. Pola kajian dalam pendekatan hermeneutika feminis ini tidak hanya memperluas tetapi memperdalam pemahaman perubahan paradigmatik konstruksi gender dalam kerangka hukum Islam. Penerapan perspektif ini membuka wilayah baru bagi eksplorasi konstruksi gender dalam kerangka hukum tersebut. Pendekatan ini menantang fondasi interpretasi patriarkal yang dominan dalam hukum Islam, khususnya terkait peran dan hak-hak perempuan. Perubahan sosial terlihat  dalam pandangan inklusif yang lebih responsif terhadap isu gender.]
Feminist Interpretations Of Misogynistic Qur'an And Hadith: Strategies For Promoting Feminism In Indonesia And Malaysia Muqtada, Muhammad Rikza; Istianah; bin Mustapha , Ahmad Sharifuddin
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.223.55-72

Abstract

This paper discusses the discourse of interpretation of the Qur'an and misogynistic hadith by feminist activists in Indonesia and Malaysia as a strategy in promoting feminism in their respective countries. For this reason, the discussion focuses on interpretation methods, production of feminist interpretations, and dissemination of feminist interpretation. The study is qualitative research in which data is taken through interviews, observations, and documentation. The results of the study show that 1) The interpretation of the Qur'anic texts and hadith is done by seeing them as open and constantly developing texts. It means that texts could respond  and  interact with modern knowledge such as gender, law, and human rights. 2) The feminist approach to the Qur'an and hadith involves misogynistic challenges including marginalization, stereotypes, subordination, and violence against women. It also looks at the multiple roles of women and their subordination 3) Feminist interpretation is socialized by feminist activists from Islamic boarding schools and university backgrounds. They took part in discussions and wrote about feminism in magazines and social media. They also participate in women's organizations that advocate women protection and campaign for women's rights including the hazards of polygamy. This study shows that power relations within organizations have a significant impact on the interpretation of religious texts. This interpretation was then used to motivate women activists to promote feminism. [Tulisan ini mendiskusikan wacana penafsiran al-Qur’an dan hadis misoginis oleh para aktivis feminisme di Indonesia dan Malaysia sebagai strategi dalam mempromosikan feminisme di negara masing-masing. Untuk itu, pembahasan akan terfokus pada metode penafsiran, produksi tafsir feminis, dan diseminasi penafsiran feminisme. Kajian bersifat lapangan dengan mengambil data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan yang digunakan adalah feminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Penafsiran teks-teks al-Qur'an dan hadis dilakukan dengan melihatnya  sebagai sesuatu yang terbuka dan terus berkembang. Artinya teks harus terus berinteraksi dengan pengetahuan modern seperti gender, hukum, dan hak asasi manusia. Hal ini membuat teks lebih mudah dipahami. 2) Pendekatan feminis terhadap Al-Qur'an dan hadits melibatkan tantangan misoginis termasuk marjinalisasi, stereotip, dan kekerasan terhadap perempuan. Pendekatan ini juga melihat peran ganda perempuan dan subordinasi mereka. 3) Tafsir feminis disosialisasikan  oleh para aktivis feminis yang berlatar belakang pesantren dan universitas. Mereka ikut serta dalam diskusi dan menulis tentang feminisme di majalah dan media sosial. Mereka juga ikut serta dalam organisasi perempuan yang mengkampanyekan hak-hak perempuan termasuk bahaya poligami dan mengadvokasi lembaga Pemerintah untuk melindungi perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa relasi kuasa dalam organisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap penafsiran teks-teks agama. Interpretasi ini kemudian digunakan untuk memotivasi para aktivis perempuan untuk mempromosikan feminisme.]
Exploring Parental Engagement In Child Sexual Abuse: The Mothers Experiences To Take Care In Indonesian Families Wahyuningsih, Sri
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Vol. 24 No. 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.1-21

Abstract

AbstrakKasus pelecehan seksual terhadap anak meningkat di beberapa negara termasuk Indonesia. Oleh karena itu, orang tua sebagai pendidikan pertama bagi anak mempunyai peran utama dalam pencegahan. Hal ini melibatkan orang tua dalam pengasuhan. Kajian tentang pelecehan seksual telah dilakukan oleh beberapa ulama, Meskipun demikian, studi tersebut kurang mengeksplorasi keterlibatan orang tua terkhusus bagi seorang ibu. Oleh karena itu, Tulisan ini berupaya untuk memberikan pengalaman orang tua dalam pencegahan pelecehan seksual terhadap anak. Dengan menggunakan metode inkuiri naratif, data ini dikumpulkan melalui wawancara naratif terhadap enam ibu di Jawa Tengah Indonesia. Penemuan hasil wawancara  mengungkapkan bahwa orang tua  harus andil dalam pengenalan pendidikan seks kepada anak. Hal ini, orang tua menjadi teladan bagi anak dalam pengenalan seksualitas. Orang tua wajib menjalin komunikasi yang baik tentang keselamatan diri anak pada pemahaman seksualitas. Orang tua dituntut mengajarkan dan membimbing pemahaman tentang ajaran agama yang dalam atau deep education serta pelibatan media social untuk mempermudah komunikasi. Artikel ini menjelaskan tentang peran tanggung jawab pemerintah  dalam  pengambil kebijakan pada seksualitas issu. Hal ini menghimbau  pemerintah agar bisa memberikan lokakarya atau pelatihan pencegahan pelecehan seksual anak kepada orang tua. Kegiatan itu bisa berkolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mitigasi dan pencegahan pelecehan seksual anak.  Kata Kunci: Pelecehan Seksual Anak, Keluarga Indonesia, Orang Tua, Pembuat Kebijakan  [Child sexual abuse (CSA) is an increasing concern in many countries, including Indonesia. In this context, parents—who serve as primary educators and role models for their children—play a crucial role in preventing sexual abuse. The responsibility is deeply rooted in the values and practices of parenting. While previous studies have examined various aspects of sexual abuse, limited research has focused on parental engagement within the Indonesian context, particularly across families of diverse backgrounds. Moreover, the implications of such engagement have yet to be thoroughly investigated. The present study seeks to explore the experiences of Indonesian parents, especially mothers, in their efforts to prevent child sexual abuse through active parental engagement. Adopting a narrative inquiry approach, data were collected through in-depth interviews with six mothers from different regions in Indonesia. The findings indicate that parents employ a range of strategies to engage in the prevention of CSA. These include providing children with sex education, serving as positive role models, fostering open and supportive communication about personal safety, instilling religious and moral values, and guiding children in the responsible use of social media. This study highlights the need for comprehensive efforts to support parental involvement in CSA prevention. It suggests that the Indonesian government and policymakers should offer targeted training programs or workshops for parents across sectors. Furthermore, the study emphasizes the importance of collaborative efforts among families—particularly mothers and fathers—schools, and government institutions, to establish a united front against child sexual abuse.]  Keywords: Child Sexual Abuse, Indonesian Families, Parents, Policymakers                                                               
Women's Leadership In Islamic Da’wah: A Comparative Study Of 'Aisyiyah And Muslimat NU's Role. Choirin, Muhammad; Masuwd, Mowafg Abrahem; Baehaqi, Imron; Kurniawan, Kurniawan; Larhzizer, Fouad; Fihri, Ahmad
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Vol. 24 No. 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.22-37

Abstract

Abstrak Studi ini mengkaji peran dan partisipasi perempuan dalam dakwah Islam dan kepemimpinan melalui dua organisasi perempuan Muslim terbesar di Indonesia, Aisyiyah (yang berafiliasi dengan Muhammadiyah) dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana kedua organisasi ini berkontribusi dalam mempromosikan Islam moderat dan memberdayakan perempuan Muslim di masyarakat modern. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan teknik perbandingan dan eksploratif, penelitian ini mengacu pada literatur yang ada untuk menyoroti peran penting perempuan dalam membentuk nilai-nilai sosial dan membina generasi pemimpin berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam dakwah, baik sebagai peserta aktif maupun pendukung inisiatif dakwah suami mereka. Kontribusi mereka sangat penting dalam mempercepat kegiatan dakwah dan memperkuat ajaran Islam dalam konteks kontemporer. Selain itu, studi ini menekankan pentingnya kedua organisasi ini dalam menghadapi tantangan sosial, seperti mempromosikan moderasi dan memberdayakan perempuan di tengah dinamika sosial dan budaya yang berubah. Dengan mengisi kekosongan penelitian sebelumnya, studi ini menawarkan wawasan baru tentang kepemimpinan dan kontribusi perempuan dalam dakwah, dengan implikasi praktis dan akademik bagi dakwah Islam modern dan pengembangan komunitas.  Kata Kunci:Muballighah, Dakwah, Ormas Islam Permpuan, Kepemimpinan Perempuan [This study examines the leadership roles and participation of female preachers in Islamic da’wah and leadership through two of Indonesia's largest Muslim women's organizations, 'Aisyiyah (affiliated with Muhammadiyah) and Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). The study aims to critically analyze how these organizations contribute to promoting moderate Islam and empowering Muslim women in modern society. Using a qualitative approach with comparative and exploratory techniques, the research draws on existing literature to highlight the significant roles of women in shaping societal values and nurturing the next generation of leaders. The findings reveal that women play integral roles in da’wah, both as active participants and supporters of their husbands' da’wah initiatives. Their contributions are essential in advancing da’wah activities and reinforcing Islamic teachings in contemporary contexts. Furthermore, the study emphasizes the importance of these organizations in addressing societal challenges, such as promoting moderation and empowering women amid shifting cultural and social dynamics. By bridging gaps in previous research, this study offers new insights into the leadership and contributions of women in da’wah, with both practical and academic implications for contemporary  Islamic preaching and community development. Keywords: Muballighah, Da’wah, Islamic Women’s Organizations, Women’s Leadership and Empowerment.]  
Deconstruction Of Gender Issue: Women’s Position In Rights On Religious Texts Yanti, Illy; hidayati, rahmi; Yuliatin; Mahluddin
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Vol. 24 No. 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.55-71

Abstract

Abstrak Artikel ini menunjukkan bahwa teks suci agama banyak ditemui penjelasan tentang persamaan posisi dan hak  baik untuk laki-laki dan  perempuan. Namun, fakta dilapangan tidak sesuai dengan prinsip keadilan, kesetaraan, dan persamaan dimata hukum sebagai akibat dari penafsiran yang bias. Artikel  ini merespons kekosongan dalam literatur sebelumnya yang terkesan adanya pembodohan terhadap perempuan baik dalam ranah privat maupun publik, dan bertujuan menghapus kekeliruan dalam memahami teks-teks suci dengan upaya pembacaan ulang teks agama. Artikel ini menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida dalam membaca ulang teks. Penulis ingin menunjukkan bahwa menggunakan dekonstuksi Derrida mampu mempengaruhi gaya berpikir seseorang ketika memahami suatu makna dalam menemukan konteks tetapi tidak berakhir dan terus berkelanjutan. Kemudian, dekonstruksi teks tersebut dapat menenetapankan hukum dari pendapat fuqaha yang memenuhi kebutuhan dan dinamika masyarakat. Perlu membangun pemahaman di masyarakat dengan ajaran fiqh dalam teks yang harus ditafsirkan dengan realitas sosial (fiqh al waqi’). Pemahaman fiqh ini mengejawantahkanbudaya di masyarakat dan menghilangkan kesan bahwa fiqh lebih cenderung lahir dari relasi kuasa patriarki. Kata Kunci: Dekonstruksi, Fikih Gender, Posisi dan Hak-hak Perempuan, Teks-teks Keagamaan [This article provides many explanations about the equal positions and rights of men and women. However, in fact, this reality is not alway based on the principles of justice and equality in the eyes of the law as a result of biased interpretation.  This study responds to a Lacuna in the previous literature that tends to emphasize the seeming dumbing down of women in both the private and public spheres. This article aims to erase the misunderstanding of sacred texts, by attempting to re-read religious texts. This article  uses Jacques Derrida's deconstruction theory in re-reading the text. The author wants to show that using Derrida's deconstruction is able to influence one's thinking style when understanding a meaning in finding a context but not ending and continuing. Then, the deconstruction of the text can establish the law of the fuqaha opinion that meets the needs and dynamics of society. It is necessary to build  understanding in society with the teachings of fiqh in the text that must be interpreted with social reality (fiqh al-waqi'). This understanding of fiqh embodies the culture in society and eliminates the impression that fiqh is more likely to be born from patriarchal power relations. Keywords: Deconstruction, Gender Fiqh, Women's Position and Rights, Religious Texts.]
Social Raw And Women Bodies Identities In Post-Contemporary Transhumanism Nurani, Shinta
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Vol. 24 No. 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.72-88

Abstract

Abstrak  Artikel ini membahas isu tubuh perempuan dalam pergeseran nalar humanisme pada nalar transhumanisme post-kontemporer yang berkaitan fatwa dalam interpretasi identitas gender. Salah satu akar ketidakadilan terhadap perempuan dalam tafsir klasik berasal dari stereotip yang cenderung merendahkan perempuan. Tulisan ini menggunakan cara kualitatif fenomenologis dengan epistemologi sosial-kritis-transformatif. Teknik pengumpulan data ini  mendokumentasikan data dengan analisis isi. Paper ini menyajikan kritik terhadap tubuh perempuan dalam nalar Transhumanisme Post-Kontemporer, yang terbuka pada habit of mind dan absen terhadap sami'na wa atha'na tanpa proses berpikir, berargumen, dan perenungan. Kritik kedua mengekspolasi Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Peraturan dan Pedoman Muamalah Melalui Media Sosial dalam pembatasan hukum haram dalam postingan konten yang bersifat pribadi ke publik. Hal ini mensikapi kontroversi pose pada aurat tubuh dengan kontekstualisasi interpretasi untuk menjaga fitrah manusia dari pandangan fitnah dan nafsu. Perdebatan terakhir menjelaskan tubuh sebagai subjek yang harus dihargai sebagai anugerah dalam pemanfaatan aktualisasi diri sebagai makhluk biologis, spiritual, dan intelektual. Kata Kunci: Media Baru, Tubuh Perempuan, Fatwa, Identitas Gender, Transhumanisme Post-Kontemporer [This paper discusses gender issues about the female body in the humanist problem towards post-contemporary transhumanism with an exegesis fatwa on gender identity interpretation. One of the roots of injustice against women in the classical interpretation stems from stereotypes that tend to demean women. This Article is a phenomenological qualitative study with social-critical-transformative with epistemology role. The data collection technique uses a documentation study under content Social raw analysis. This paper talks about women's bodies in Post-Contemporary Transhumanism with a habit of mind and delay of sami'na wa atha'na with spontaneity reaction. The second critic sees MUI’s Fatwa Number 24 of 2017 concerning Law and Guidelines for Muamalah through social media under Islamic law as haram, announced under private content in Social Raw. It responds to the debate of women's social media posts on Aurat (private women's bodies) with the contextualization of interpretation to protect human nature from slander and lust. The last critic put the body as a subject for appreciative self-actualisation act in biological being, spiritual being, and intellectual being.Keywords: Social Media, Women's Body, Fatwa, Gender Identity, Post-Contemporary Transhumanism.]
Superstition Mitigation Of Pregnant Women In Malay Riau Erni; Ulya, Ridha Hasnul
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Vol. 24 No. 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.241.38-54

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas klasifikasi makna dan tipologi fungsi dalam superstisi yang berkaitan dengan kelahiran, masa bayi, dan masa kanak-kanak di kalangan masyarakat Melayu Muslim di Riau. Paper ini mengidentifikasi makna denotatif dan konotatif yang terkandung dalam kepercayaan-kepercayaan tradisional tersebut, sekaligus menyoroti peran dalam bimbingan perilaku serta pelestarian nilai-nilai budaya. Makna denotatif memberikan informasi faktual, terutama terkait kesehatan ibu dan anak, sementara makna konotatif membawa unsur emosional, moral, dan spiritual. Tipologi fungsi dalam superstisi bertujuan memperkuat keyakinan religius, merefleksikan harapan kolektif, mendidik anak-anak, menjelaskan fenomena alam, dan memberikan hiburan pada masa-masa sulit. Superstisi tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga mekanisme informal untuk pengendalian sosial dan pendidikan. Artikel ini menekankan hal penting memahami kepercayaan lokal dalam rancangan intervensi kesehatan yang sensitif terhadap budaya. Dengan mempertemukan pengetahuan tradisional dan praktik modern, tulisan ini turut memberikan kontribusi pada wacana tentang folklore, pelestarian budaya, dan pelayanan kesehatan berbasis komunitas dalam konteks masyarakat Melayu kontemporer. Kata kunci: Taksonomi Makna, Tipologi Fungsi, Superstisi [This study examines the taxonomy of meaning and typology of functions in superstitions under to birth, infancy, and childhood within the Malay Muslim in Riau. The paper talks denotative and connotative meanings in superstitious faith, while sees under education of kindness act and Tradition cultur saving. Denotative meanings provide factual advice, particularly concerning maternal and child health, while connotative meanings carry emotional, moral, and significance spiritual act. The typology of functions reveals that superstitions is reinforcing religious emotions, projecting societal desires, educating children, explaining natural phenomena, and offering comfort during crises. These faith functions are not only as intangible treasure cultural but also as informal edification process of social control and education. The article sees the importance of understanding local faith in culturally sensitive under early health interventions. With the traditional knowledge and modern practices, this study talks to telling folklore, to saving cultural heritage, and to serving community-based healthcare in Malay society. Keyword: Taxonomic Of Meaning, Typology Of Functions, Superstition
Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Faktor Penyebab Dan Upaya Pencegahannya Berdasarkan Perspektif Sistem Ekologi Pratama, Denny Maulana; Apsari, Nurliana Cipta
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2024.232.184-197

Abstract

Abstrak Keberagaman yang ada di dalam keluarga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perempuan atau istri sebagai salah satu kelompok yang rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Perilaku kekerasan tersebut terjadi bukan hanya disebabkan karena faktor individu saja, melainkan juga lingkungan yang lebih luas lagi. Melalui artikel ini, penulis bertujuan untuk melakukan kajian berkaitan dengan faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga dan upaya pencegahan berdasarkan perspektif sistem ekologi. Metode penelitian pada artikel ini menggunakan studi literatur dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi pada berbagai artikel dalam jurnal ilmiah bereputasi nasional dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai konteks lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan pada istri dalam rumah tangga. Pada konteks ini, lingkungan dikategorikan menjadi microsystem, mesosystem, exosystem, macrosystem, dan chronosystem. Selain faktor lingkungan, individu juga memiliki pengaruh dalam proses interaksi dengan berbagai lingkungan tersebut yang menjadi faktor risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Dengan berlandaskan faktor penyebab, upaya pencegahan juga dapat dilakukan selaras dengan program pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak yang telah dilaksanakan sebelumnya di Indonesia. Sehingga, kekurangan yang ada dalam pelaksanaan layanan dapat direspon khususnya dengan menggunakan perspektif sistem ekologi. Dengan demikian, kasus kekerasan dalam rumah tangga juga diharapkan dapat diminimalisir. Kata Kunci: Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Faktor Penyebab, Upaya Pencegahan, Perspektif Sistem Ekologi. [The diversity that exists in the family is a challenge for women or wife as one of the groups who are vulnerable to experiencing domestic violence. This violent behavior occurs not only due to individual factors, but also the wider environment. Through this article, the author aims to conduct a study related to the factors causing domestic violence and prevention efforts based on the perspective of the ecological system. The research method in this article uses a literature study by applying inclusion and exclusion criteria to various articles in national and international reputable scientific journals. The results show that various environmental contexts can influence the occurrence of domestic violence. In this context, the environment is categorized into microsystems, mesosystems, exosystems, macrosystems, and chronosystems. In addition to environmental factors, individuals also have an influence in the process of interaction with these various environments which are risk factors for domestic violence. Based on the causal factors, prevention efforts can also be carried out in line with the integrated service center program for empowering women and children that has been implemented previously in Indonesia. Thus, the shortcomings that exist in the implementation of services can be addressed, especially by using an ecological system perspective. Thus, cases of domestic violence are also expected to be minimized.] Keywords: Domestic Violence, Causative Factors, Prevention Efforts, Ecological System Perspective.