cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 374 Documents
PROFIL ASAM LEMAK DAGING BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE Sriyani N. L. P; M. A. Rasna; I N. T. Ariana; A. W. Puger
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.887 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i01.p03

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan profil lemak hewani dari dua jenis daging babi daribangsa (breed) yang berbeda yaitu babi bali asli (babi lokal) dan babi landrace (babi ras). Penelitian ini dilaksanakandengan mengambil beberapa sampel daging babi bali dan babi Landrace. Daging yang diambil bersumber daridaging yang dijual di Rumah Potong Hewan Tradisional yang berlokasi di Banjar Pegending, Desa Dalung KutaUtara. Selanjutnya sampel daging dianalisis profil asam lemaknya dengan metode Gas Cromatografi di LaboratoriumTerpadu IPB Bogor. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa profil asam lemak penyusun daging babi bali aslimaupun daging babi landrace terdiri dari 10 asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acids/SFA) yaitu asam caprik,asam laurat, asam miristat, asam pentadecanoat, asam palmitat, asam heptadecanoat, asam stearat, asam arachidat,asam behenik, asam caprilic, empat jenis asam lemak tidak jenuh tunggal (Mono Unsatured Fatty Acids/MUFA)yaitu asam palmitoleat, asam oleat, asam erucic, asam eiucosenoic dan 2 jenis asam lemak tak jenuh ganda (PollyAnsatured Fatty Acids/PUFA) yaitu asam linoleat, asam eicosedienoic. Kata kunci: profil asam lemak, daging babi bali, dan babi landrace
PARAMETER GENETIK SIFAT PRODUKSI DAN REPRODUKSI SAPI BALI DI DAERAH BALI ARDIKA, N.; INDRAWATI, R. R.; DJEGHO, JOHANES
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.059 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengestimasi parameter genetik sifat produksi yaitu nilai heritabilitas bobot sapihdan bobot setahun, nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahun. Dan mengestimasi parameter genetiksifat reproduksi yakni nilai ripitabilitas lama bunting, selang kawin setelah beranak dan selang beranak. Catatansifat produksi maupun reproduksi dikumpulkan pada populasi dasar pada Proyek Pembibitan dan PengembanganSapi Bali (P3Bali). Model rataan kuadrat terkecil dengan jumlah catatan yang tidak sama (unbalance design) meliputilokasi, musim kelahiran, jenis kelamin anak, dan paritas sebagai pengaruh tetap dan pejantan dalam lokasisebagai peubah acak. Catatan saudara tiri sebapak (paternal half-sibs) digunakan untuk mengestimasi nilai heritabilitasdan korelasi genetik, sedangkan estimasi nilai ripitabilitas dengan menggunakan komponen ragam. Nilaiheritabilitas bobot sapih didapatkan sebesar 0,34±0,14, bobot setahun sebesar 0,58±0,23, korelasi genetik antarabobot sapih dengan bobot setahun sebesar 0,94 dan nilai ripitabilitas lama bunting, selang kawin setelah beranakdan selang beranak berturut-turut 0,07; 0,06 dan 0,04. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitasbobot sapih dan bobot setahun dan korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahun adalah tinggi, seleksibobot sapih akan efektif untuk meningkatkan bobot sapih dan bobot setahun. Nilai ripitabilitas lama bunting, selangkawin setelah beranak dan selang beranak adalah rendah. Perbaikan manajemen praktis sebelum dan setelahberanak perlu mendapatkan perhatian.
KETERANDALAN PITA DALTON UNTUK MENDUGA BOBOT HIDUP KERBAU LUMPUR, SAPI BALI DAN BABI PERSILANGAN LANDRACE PUTRA, I.G.M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8 No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.824 KB)

Abstract

RINGKASAN Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keterandalan pita Dalton dalam menduga bobot hidup kerbau lumpur, sapi Bali, dan babi persilangan Landrace. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil penimbangan bobot hidup, pengukuran lingkar dada dan hasil pendugaan bobot hidup berdasarkan pita Dalton terhadap 544 ekor kerbau lumpur, 1264 ekor sapi Bal, dan 200 ekor babi persilangan Landrace jantan dan betina. Data dianalisis menggunakan ujiT untuk data berpasangan dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pita Dalton tidak dapat diandalkan secara langsung untuk menduga bobot hidup kerbau lumpur, sapi Bali, dan babi (P <0.001). Pita Dalton terandalkan penggunannya bila dikoreksi melalui regresi linier sederhana antara bobot hidup hasil penimbangan dengan bobot hidup hasil pendugaan dengan pita Dalton. Rumus untuk menduga bobot hidup ternak melalui pita Dalton adalah masing-masing : BH(Bobot Hidup) = 37.408+0.729PD (Pita Dalton) untuk kerbau lumpur, BH = 30.167+0.670 PD untuk sapi Bali , BH = 8.609 + 0.714 PD untuk babi persilangan Landrace
RESPON PEMBERIAN DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L), DAUN MENGKUDU (Morindacitrifolia L), DAN DAUN SIRIH (Piper betle L) DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN ITIK BALI Trisnadewi A. A. A. S.; T. G. B. Yadnya; A. A. P. P. Wibawa; I M. Mudita
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.857 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i02.p02

Abstract

The experiment was carried out to study the response of additional leaves of purple sweet potato (Ipomoea batatasL.), noni (Morinda citrifolia L.) and betle (Piper betle L.) in diets on performance of bali duck. The experimentused completely randomized design with four treatments consists of control diet A (diet without leaves), diet B (dietcontaining with purple sweet potato leaf, diet C (diet containing noni leaf), and diet D (diet containing beetle leaf).Each treatment conducted with three replications and each replications consist of five ducks. The variables observedwere feed consumption, antioxidant consumption, body gain, and FCR and of bali ducks. Feed consumption of baliducks in treatment B, C and D were significantly lower, however, the antioxidant consumption significantly higherthan control diet. In contrast, body weight gain in treatments B, C and D increased significantly but decreased FCRcompared to treatment A. The treatments of B, C, and D can increase the carcass weight, and carcass percentagesignificantly. These were offered to bali ducks could increase percentage of meat and bone but significantly decreasefat of carcass including their skin for bali ducks fed with A (control treatment). It can concluded that the leaves ofpurple sweet potato, noni, and betle leaf in diets improved the performance and carcass of bali ducks.
PENGARUH PENGGUNAAN DAUN KATUK (SAURUPUS ANDROGYNUS) DAN DAUN BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN AYAM BROILER1) BIDURA, I G. N. G.; CANDRAWATI, D.P.M.A.; SUMARDANI, N.L.G.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.932 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Tabanan, Bali untuk mempelajari pengaruh penggunaan tepung daun katuk (Saurupus androgynus) dan daun bawang putih (Allium sativum), serta kombinasinya dalam ransum terhadap penampilan ayam broiler umur 2 ? 7 minggu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lenglap (RAL) dengan empat perlakuan dan enam kali ulangan. Keempat perlakuan tersebut adalah ransum tanpa penggunaan daun katuk atau bawang putih sebagai kontrol (A), ransum dengan 3 % tepung daun katuk (B), 3 % daun bawang putih (C), dan 1,5 % tepung daun katuk + 1,5 % tepung daun bawang putih (D). Semua ransum dalam bentuk tepung, isokalori (ME : 2900 kkal/kg), and isoprotein (CP : 20 %). Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ransum dan air minum, berat badan akhir, dan pertambahan berat badan ayam pada perlakuan B, C, dan D secara nyata (P<0,05) meningkat jika dibandingkan dengan kontrol (A). Penggunaan 3 % tepung jerami bawang putih (C) lebih efektif untuk meningkatkan penampilan ayam jika dibandingkan dengan tepung daun katuk (B) atau kombinasi keduanya (D). Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun katuk, bawang putih, dan kombinasinya dalam ransum ternyata dapat meningkatkan pertambahan berat badan dan efisiensi penggunaan ransum ayam broiler umur 2 ? 7 minggu. Penggunaan tepung daun bawang putih lebih efektif dalam meningkatkan pertambahan berat badan ayam broiler umur 2 ? 7 minggu jika dibandingkan dengan daun katuk atau kombinasi keduanya.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI PADA IMBANGAN KONSENTRAT DAN JERAMI PADI TERHADAP KECERNAAN IN-VITRO Saransi A. U.; I G. L. O. Cakra; I G. Mahardika
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.533 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i01.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi pada imbangan konsentrat dan jeramipadi terhadap produk fermentasi secara in-vitro. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2018 diLaboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana Bali. Rancangan yangdigunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuanyang dicobakan adalah lama waktu fermentasi yaitu 1, 2, 3, 4, dan 6 jam (W1, W2, W3, W4, dan W6) pada imbangankonsentrat dengan jerami padi yaitu konsentrat 0% : jerami 100% (A), konsentrat 25% : jerami 75% (B), konsentrat50% : jerami 50% (C), konsentrat 75% : jerami 25% (D). Variabel yang diamati adalah koefisien cerna dan lajukecernaan bahan kering dan bahan organik. Koefisien cerna bahan kering dan bahan organik semakin tinggi seiringdengan lama waktu fermentasi in-vitro sampai 6 jam dan ditemukan laju kecernaan tertinggi diperoleh pada waktuantara 4 - 6 jam. Dapat disimpulkan kecernaan tertinggi dengan waktu fermentasi 6 jam dan laju kecernaan terbesarpada 4-6 jam.Kata kunci: fermentasi in-vitro, konsentrat, jerami padi
KELAYAKAN PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI HIJAUAN-KELAPA RUMAMBI, AGNITJE
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.205 KB) | DOI: 10.24843/mip.2012.v15.i01.p05

Abstract

Penduduk miskin di Indonesia diperkirakan sebesar 19% dari populasi penduduk. Salah satu ciri penduduk miskin adalah kekurangan gizi meliputi protein, zat besi, vitamin A, seng dan yodium. Pemerintah Indonesia menyikapi masalah kemiskinan dan kelaparan dengan memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi pangan, diverifikasi pangan serta memperbaiki distribusi pangan. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui kelayakan pengembangan model integrasi hijauan-kelapa. Dasar pemikiran produktivitas kelapa secara monokultur adalah rendah, sehingga perlu pemanfaatan lahan dibawah tegakan kelapa dengan pengembangan integrasi hijauan-kelapa. Masalah yang perlu ditangani dalam pengembangan model hijauan-kelapa adalah mengenai (1) kelayakan agronomis seperti pemilihan jenis hijauan yang sesuai dengan iklim mikro di bawah kelapa (2) kelayakan teknis menyangkut manajemen hijauan-kelapa, (3) kelayakan ekonomis dan (4) kelayakan lingkungan model hijauan-kelapa. Kesimpulan, Pengembangan hijauan dibawah kelapa memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Namun resiko kerugian dapat dikurangi dengan melakukan analisis kelayakan agronomis, teknis, ekonomi dan lingkungan.
PENGARUH SUPLEMENTASI ENZIM PHYLAZIM DALAM RANSUM YANG MENGGUNAKAN 30 % DEDAK PADI TERHADAP PENAMPILAN BROILER CANDRAWATI, D. P. M. A.; WITARIADI, N. M.; BIDURA, I. G. N. G.; DEWANTARI, M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 9 No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.977 KB)

Abstract

RINGKASAN Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi enzim Phylazim dalam ransum berbasis dedak padi (ransum dengan 30 % dedak padi) terhadap penampilan broiler umur 2 ?V 6 minggu, telah dilaksanakan di Denpasar, Bali. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu ransum basal dengan 15 % dedak padi sebagai kontrol (A), ransum dengan 30 % dedak padi (B), dan ransum dengan 30 % dedak padi dengan suplementasi 0,20 % enzim Phylazim (C). Setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan dan tiap ulangan menggunakan empat ekor ayam broiler umur dua minggu dengan bobot badan rata-rata (473,94 ?b 13,70 g), sehingga terdapat 18 unit percobaan. Jadi, jumlah keseluruhan ayam yang digunakan sebanyak 72 ekor. Ransum disusun isokalori (ME : 2900 kkal/kg) dan isoprotein (CP : 20 %). Ransum dan air minum selama periode penelitian diberikan secara ad libitum. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi : konsumsi ransum dan air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan feed conversion ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 30 % dedak padi dalam ransum ternyata tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum dan air minum, tetapi secara nyata (P<0,05) menurunkan berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan ransum jika dibandingkan dengan kontrol. Penambahan 0,20 % enzim kompleks dalam ransum yang mengandung 30 % dedak padi ternyata tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan ransum broiler jika dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan 30 % dedak padi dalam ransum broiler ternyata menurunkan penampilan broiler jika dibandingkan dengan kontrol (ransum dengan 15 % dedak padi) dan dengan suplementasi 0,20 % enzim Phylazim dalam ransum yang menggunakan 30 % dedak padi memberikan hasil yang sama dengan kontrol (ransum dengan 15 % dedak padi).
PEMANFAATAN KLOBOT JAGUNG SEBAGAI WAFER RANSUM KOMPLIT UNTUK DOMBA RETNANI, YULI; FURQAANIDA, N.; PRATAS, R. G.; ROFIQ, M. N.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.53 KB)

Abstract

ABSTRAK Limbah pertanian pada umumnya memiliki kandungan protein, kecernaan, dan palatabilitas yang rendah disamping itu sifatnya yang voluminous menyulitkan dalam penanganan, baik pada saat transportasi maupun penyimpanannya, sehingga memerlukan suatu cara untuk meningkatkan nilai guna limbah pertanian. Klobot jagung merupakan salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat, karena kandungan seratnya tinggi yaitu sebesar 32%. Kendala yang dihadapi dalam penggunaan klobot jagung sebagai pakan ternak yaitu sifatnya yang voluminous, sehingga masih belum banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Untuk memudahkan penyimpanan dan menjaga ketersediaannya maka klobot jagung dimanfaatkan dengan pengolahan fisik dalam bentuk wafer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui taraf terbaik dari klobot jagung yang dapat digunakan sebagai substitusi sumber serat pengganti rumput lapang di dalam wafer ransum komplit untuk domba ditinjau dari kualitas sifat fisik yaitu kadar air, kerapatan wafer, daya serap air, dan palatabilitas. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah: ransum yang mengandung 30% rumput lapang + 70% konsentrat (R1); ransum yang mengandung 20% rumput lapang + 10% klobot jagung + 70% konsentrat (R2); ransum yang mengandung 10% rumput lapang + 20% klobot jagung + 70% konsentrat (R3); dan ransum yang mengandung 30% klobot jagung + 70% konsentrat (R4). Variabel yang diukur adalah kandungan air, densitas, penyerapan air, dan palatabitas dari wafer klobot jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan R2 dan R3 berpengaruh terhadap kandungan air (p<0,05). Perlakuan R2, R3, dan R4 berpengaruh sangat nyata terhadap daya serap air (p<0,01), tetapi tidak berpengaruh terhadap densitas. Nilai kandungan air berkisar antara 9,39%-12,61%, dan nilai densitas berkisar antara 0,70 g/cm3-0,75 g/cm3, sedangkan nilai palatabilitas wafer berkisar 550-885 g/hari. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa klobot jagung dapat digunakan sebagai pengganti rumput sebagai bahan pakan alternatif sampai 20% pada ransum komplit untuk domba. THE UTILIZATION OF CORN HUSK AS COMPLETE RATION WAFER FOR SHEEP ABSTRACT Generally, agricultural waste contain low protein, digestibility, and palatability, while its property is voluminous, so its difficult on handling either at transportation or storage. We need a special way for increasing the value of agricultural waste. Corn husk is one of agricultural waste that can be used as source of fiber, in which its contain 32% of fiber approximately. However, there is a problem to use corn husk as animal feed, in which its has voluminous property, so the utility of corn husk still not more used yet as animal feed. To facilitate its storage and keep availability, the corn husk must be made with physical processing as wafer form. Objectives of this research were to know the best level of corn husk that can be used to substitut roughage as fiber source in completely feed for sheep with wafer form, and to know the physical quality and palatability of corn husk wafer. Experimental method that used in this research was Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. The four treatments were ration for sheep, consist of R1 (30% field grass + 70% concentrate), R2 (20% field grass + 10% corn husk + 70% concentrate), R3 (10% field grass + 20% corn husk + 70% concentrate) and R4 (30% corn husk + 70% concentrate). The results were analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) and to be continued with Contras Orthogonal if the effect of treatments were different significantly. Variables to be measured were water content (%), density (g/cm3), water absorption (%) and palatability of corn husk water. The result show that treatments of R2 and R3 influenced to water content significantly (P<0.05). The treatments of R1, R2, R3 and R4 influenced the increase of water absorption with very significant (P<0.01), but their effect were not significant to density. The average values of water contain were ranging between 9.39% to 12.61%. The average of density values were ranging between 0.70 g/cm3 to 0.75 g/cm3 and the values of palatability of water were ranging between 550-885 g/day. Based on the research results above, the corn husk can be used to replace serious grass as alternatively animal feed until 20% of water in completely feed for sheep.
QUALITY AND MICROBE PROFILE OF LOCAL AND IMPORT BEEF AT DILI-TIMOR LESTE V., OLIVEIRA,; KRISTINA DEWI, G.A.M.; SURIASIH, K.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.512 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i03.p01

Abstract

ABSTRACTThis study aims at determining the beef quality and microbes profile of local and import beef marketed at TimorLeste. It is conducted using a completely randomized design (CRD) with two treatments of local and import beef atnine markets as the location and taken three times in each market. The variables observed were the physical qualityof meat (pH, cooking lose of meat, water holding capacity, meat color) and chemical quality i.e. protein level, meatcontent of water and microbial profile (total of microbe, E.coli and Coliform). The results showed that pH of localbeef, cooking shrinkage, water holding capacity, meat protein were 20.37% (P <0.01), 10.11% (P> 0.05), 50.62%( P <0.01) and 9.08% (P <0.05) were lower than imported beef while the meat color and meat moisture contentwere higher by 35.14% (P <0.01) and 53% (P> 0.05), respectively. Total microbe of local beef, total E. coli of meatand total of Coliform respectively 45.16% (P <0.05), 79.59% (P <0.05) and 51% (P <0.05) markedly higher thanimported beef. It can be concluded that the means showed good quality of physical local and import beef and existedin the normal score, so they can be consumed. However, total microbe of local and import beef, especially E.coli andColiform were above standard except E.coli on import beef which was still under the standard of SNI.3932:2008.

Page 9 of 38 | Total Record : 374


Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue