cover
Contact Name
Jurnal Etnohistori
Contact Email
etnohistori@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arlinahmadjid@unkhair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
ETNOHISTORI: Jurnal Kebudayaan dan Kesejarahan
Published by Universitas Khairun
ISSN : 24601055     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ETNOHISTORI adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dengan tujuan turut serta mengembangkan ilmu Antropologi dan ilmu Sejarah di Indonesia. Karena itu, Redaksi Jurnal ETNOHISTORI menerima karangan dalam kedua ranah disiplin ilmu tersebut. Karangan dapat bersifat ulasan teoritis, refleksi metode, ataupun hasil penelitian lapangan.
Arjuna Subject : -
Articles 98 Documents
KONTRIBUSI KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK KORBAN PERCERAIAN DI KOTA TERNATE SYAMSIAR .; HASMAWATY .; MUHAMMAD IKHSAN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i2.4080

Abstract

Perceraian telah menjadi fenomena sosiobudaya yang mewarnai dinamika kehidupan keluarga di masa moderen ini. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui peran orangtua (ayah atau ibu) yang telah bercerai terhadap keberlanjutan pendidikan formal anak dan mengetahu kontribusi keluarga luas (extended family) dalam pendidikan anak korban perceraian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan dan mendeskripsikan obyek yang diteliti berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan. Penentuan informan secara sengaja (purposive) dan teknik snowball. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan pengamatan. Analisis data menggunakan analisis kualitatif model reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat tiga pola kontribusi keluarga pada kebutuhan pendidikan anak korban perceraian. Pertama, pendidikan anak, termasuk biaya pendidikan dibebankan kepada siapa yang merawatnya. Kedua, pendidikan anak dan biayanya ditanggung bersama oleh orangtua yang bercerai. Ketiga, pendidikan dan biaya pendidikan anak korban perceraian ditanggung oleh keluarga luas dimana anak itu diasuh setelah perceraian. Kata Kunci: Anak, korban perceraian, pendidikan, orangtua
REPRESENTASI BUDAYA DALAM FESTIVAL TELUK JAILOLO M. IDHAR BAKRI; ARLINAH MADJID; HUDAN IRSYADI
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i1.4092

Abstract

Festival Teluk Jailolo (FTJ) adalah agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat. Festival ini bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya lokal Halmahera Barat yang semakin memudar. Pengaruh globasisasi yang semakin meningkat telah menjadikan generasi muda hampir lupa akan budaya daerah. Pelaksanaan Festival Teluk Jailolo juga ditujukan untuk menetralisir kondisi birokrasi yang dianggap kaku pasca konflik horizontal, yang terjadi di Kabupaten Halmahera Barat pada tahun 1999. Dalam festival ini disajikan beragam kuliner, tarian, seni pertunjukan, dan tekstil tradisional. Penelitian ini mendeskripsikan budaya masyarakat Halmahera Barat yang direpresentasikan melalui Festival Teluk Jailolo serta pandangan masyarakat terhadap representasi budaya tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dan studi literatur. Teori yang digunakan adalah teori representasi dan teori simbol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Festival Teluk Jailolo memiliki implikasi dalam bidang sosial, budaya dan ekonom bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Halmahera Barat. Kata kunci: budaya lokal, festival teluk jailolo, halmahera barat
PERUBAHAN MUSIK TRADISIONAL DAN RESISTENSINYA PADA MASYARAKAT TIDORE SITI MARYATI SALASA; SAFRUDIN AMIN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4090

Abstract

Orang Tidore adalah orang yang menjunjung tinggi warisan leluhurnya. Namun, seiring perkembangan zaman musik tradisional menjadi sangat jarang terdengar dan dimainkan. Selain itu, juga tertinggal jauh dari musik modern. Instrumen dan music tradisional Tidore ini hanya dimainkan dan dinyanyikan pada acara tertentu, seperti pada ritual kesenian daerah dan acara adat. Kondisi ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran dikalangan masyarakat pendukung musik tradisional Tidore, yang pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai gejala perlawanan. Dalam kehidupan masyarakat subkultur pendukung musik tradisional Tidore, perlawanan yang dilakukan cenderung mempertahankan dengan melestarikan musik tradisionalnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada musik tradisional Tidore dan menjelaskan resistensi masyarakat pendukung musik tradisional Tidore atas perubahan yang terjadi tersebut. Kata kunci: musik tradisional, resistensi, tidore
SASTRA LISAN TIDORE SEBAGAI MANIFESTASI PEMERTAHANAN BUDAYA FARIDA MARICAR; ETY DUWILA; NURAIN JALALUDDIN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i2.4081

Abstract

 Penelitian ini menemukan beberapa nilai yang terkandung di dalam sastra lisan Tidore, yaitu nilai kepemimpinan dan nilai moral. Masyarakat Tidore di Kota Tidore Kepulauan memertahankan  budaya mereka melalui sastra lisan.  Salah satu  sastra lisan yang masih ada pada masyarakat Tidore adalah cerita rakyat. Penelitian ini bertujuan  mengidentifikasi, mencatat, dan menarasikan cerita-cerita yang ada di  masyarakat  Tidore, serta nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut. Ada beberapa cerita rakyat Tidore teridentifikasi dan mencerminkan nilai budaya dan kehidupan, seperti kesabaran, kesopanan, pengenalan bahasa, hingga pembentukan karakter anak.  Melalui cerita lokal, pengetahuan dan kearifan lokal itu dapat ditransmisikan kepada anak-anak sebagai warisan budaya dan pengetahuan nenek moyangnya. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa ada beberapa nilai yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut, yaitu nilai kepemimpinan, nilai moral dan nilai sosial. Kata Kunci: sastra lisan, cerita rakyat Tidore, budaya 
FASILITAS SANITASI PADA OBJEK WISATA JIKO MALAMO RAHMA DO SUBUH; FITRIA SOAMOLE
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i1.4091

Abstract

Sanitasi diartikan sebagai suatu cara  atau upaya manusia dalam mengelola lingkungan (fisik) yang dapat menjamin kesehatannya.  Dengan kata lain sanitasi juga berarti  sebagai upaya prefentif yang dilakukan untuk mencegah atau terhindar dari penyeakit dengan cara menjaga kebersihan terutama kebersihan air. Jadi dapat dikatakan bahwa fasilitas  Sanitasi merupakan prasarana penunjang kenyamanan pada suatu objek wisata tidak terkecuali objek wisata Jikomalamo. Semakin baik fasilitas sainitasi semakin tinggi tingkat kenyamanan wisatawan.  Objek wisata Jikomalamo sendiri saat ini menjadi destinasi wisata favorit di kota Ternate dengan jumlah pengunjung terbanyak dibandingkan dengan tempat wisata lain. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang fasilitas sanitasi pada objek wisata Jiko malamo. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan   teknik survey, wawancara serta dokumentasi,  diperoleh hasil penelitian bahwa sistem sanitasi pada objek wisata jiko malamo masih jauh dari standar sanitasi yang ditentukan oleh WHO maupun Kementerian Kesehatan RI. Terdapat empat tempat yang masih memperhatikan kebersihan dan hamper memenuhi standar sanitasi. Sistem sanitasi yang diterapkan antara lain meliputi  sanitasi dasar; penyediaan air bersih, Pembuangan air limbah, ketersediaan tempat sampah, jarak toilet serta penerangan. Sedangkan sanitasi bangunan meliputi konstruksi bangunan, bahan bangunan serta kelembaban, belum ada yang memenuhi kriteria UU Sanitasi Kementerian Kesehatan RI. Kata kunci: sanitasi, fasilitas, objek wisata 
PERUBAHAN RITUAL HIDOA BADAKA PADA MASYARAKAT DESA GOSOMA DI HALMAHERA UTARA DIAN NIAR TARTILA KARINDA; ARLINAH MADJID; HUDAN IRSYADI
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.4075

Abstract

Ritual hidoa badaka adalah ritual akil balig yang dimiliki oleh masyarakat Desa Gosoma Kabupaten Halmahera Utara. Ritual ini diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menginjak masa akil balig, masyarakat Desa Gosoma adalah masyarakat yang tergolong masyakarat multikultur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan hasil penelitian menunjukan bahwa ritual dimulai dari hari pertama anak mendapatkan haid dan berakhir pada hari setelah haid berhenti, dan perubahan dalam ritual hidoa badaka meliputi penentuan hari, alat dan bahan yang digunakan, pakaian, dan banyak ritual yang tidak dilakukan secara utuh semuanya. Perubahan dilatarbelakangi adanya faktor intern (penemuan baru khususnya bidang teknologi, kemajuan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, rasa tidak puas terhadap pola hidup lama, dan faktor ekstern (kontak dan pengaruh budaya asing serta munculnya berbagai media massa yang menyuguhkan aneka informasi inovatif). Kata Kunci :Ritual Hidoa Badaka
RESPONS MASYARAKAT TIDORE TERHADAP KEBERADAAN OBJEK WISATA HATIJA ADAM; ANDI SUMAR KARMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i1.4093

Abstract

Objek Wisata Ake Sahu adalah jenis wisata alam, dan terdapat air panas yang tersedia secara alami di bibir pantai. Sejak tahun 2006 Pemerintah kota Tidore bersama masyarakat Kelurahan Tosa memulai mengembangkan potensi wisata Ake Sahu. Adapun aktivitas wisatawan seperti berenang di laut, berendam air panas, piknik keluarga, duduk bersama teman-teman sambil menikmati kopi.Selain dari itu tempat tersebut juga sering di gunakan oleh mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan wisata ilmiah. Studi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui 1). aktivitas kepariwisatawan di Objek Wisata Ake Sahu, 2). Respons masyarakat lokal terhadap keberadaan Objek Wisata Ake Sahu. Diharapkan studi ini secara teoritis dapat memperkaya studi dalam kajian-kajian antropologi terkait dengan pariwisata. Secara praktis diharapakan dapat bermanfaat bagi peneliti-peneliti yang berkeinginan untuk melakukan studi dengan kajian serupa. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan di Objek Wisata Ake Sahu, yang diantaranya berupa Batobo pante (mandi air laut), Batobo Ake Sahu (mandi air panas), makan-makan, memotret (foto-foto), ikat tali di pohon beringin, kumpul bersama keluarga dan pasangan. Masyarakat setempat merespons kehadiran pariwisata terlihat pada partisipasi mereka dalam kerja sama dalam membersihkan lokasi wisata, menyediakan barang-barang untuk kebutuhan wisatawan yang untuk di sewakan dan untuk dijual. Kata kunci: Pariwisata, Respons, Masyarakat Lokal, Ake Sahu, Tidore.
SISTEM PERAWATAN KESEHATAN TRADISIONAL PADA MASA KEHAMILAN DAN PASCA MELAHIRKAN DI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN ELMA JAMAL; SAFRUDIN AMIN; BAHTIAR HAIRULAH
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i2.4082

Abstract

Masyarakat dan Kesehatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, penggunaan perawatan tradisional dalam pemanfaatan sumber kekayan alam Indonesia perlu ditingkatkan dan dikembangkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Artikel ini membahas tentang sistem perawatan kesehatan tradisional khususnya pada ibu hamil dan pasca melahirkan di desa Modayama kecamatan Kayoa Utara Kabupaten Halmahera Selatan. Penelitian ini menggunkan metode Kualitatif, Observasi, wawancara dengan empat informan yang mengetahui perawatan tradisional ibu hamil dan pasca melahirkan. Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa masyarakat Modayama masih menggunakan penggobatan tradisional dalam perawatan ibu hamil dan pasca melahirkan. Kedua, untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan perawatan ibu hamil dan pasca melahirkan. Studi ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dalam hal pengetahuan dan pemahaman perawatan ibu dan anak pasca melahirkan, pantangan dan sebab akibat yang terjadi. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam perawatan tradisional dapat bermanfaat untuk referensi bagi semua pihak khususnya dalam bidang Kesehatan. Kata Kunci : konsep sehat sakit, ibu hamil, pasca melahirkan, Kualitatif. 
RITUAL ARUWAHANG PADA ORANG TERNATE DI TOGOLOBE, PULAU HIRI ASRUL LAMUNU; SAFRUDIN ABD. RAHMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4087

Abstract

Ternate is an historical Sultanate with a variety of cultures and traditions. An example of this is the Aruwahang death rite of the ethnic Ternate people of Togolobe, Hiri island. The people of Ternate also have a rich oral tradition, which is still practised today. Ethnic Ternate people uphold these adat (customary) norms and values. The wealth of these traditions serves as evidence that Ternate is a region capable of conserving its ancestral culture as well as giving meaning to the norms and values there of. In order that the meaning of the Aruwahang ritual be fulfilled, it is considered important that it be performed with strong adherence to customary procedure. Ternate people do not consider the Aruwahang to be merely a ceremonial procession, but as an essential ritual after a person’s death. The followers of the Aruwahang believe in the value and meaning that this ritual gives to the people of Ternate. The place the ritual takes place, the attendees (gogoro), the offering of adat food (ngogu adat), and other aspects of the ritual, are all considered to have an important meaning with regards to the life of an ethnic Ternate person. Ngogu adat, usually called jaha se kukusan by the local people, is based upon symbols of life, death and faith in God. This study was conducted in Togolobe village, Hiri Island sub-district, North Maluku. Qualitative data were collected from observation, in-depth interviews, and other technical documentation provided by the study subjects. The study was conducted in four stages: study design, data collection, data analysis, and presentation of results. The data analysis was performed in three stages: data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Two principal conclusions were derived from our study. Firstly, the Aruwahang ritual is an attractive and unique ancestral inheritance that must be maintained by the ethnic Ternate people. Secondly, that Aruwahang is a religious death rite (dina) that is still faithfully practiced today. Kata kunci: Aruwahang ritual, ngogu adat, dina, symbolism 
RITUAL KOLOLI KIE PADA MASYARAKAT ADAT KESULTANAN TERNATE MUH. SAMSIR DJ LA HADE; ANDI SUMAR KARMAN; SAFRUDIN ABD RAHMAN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.4076

Abstract

Secara etimologi, kata kololi kie berasal dari bahasa asli Ternate. Kololi berarti “keliling atau mengintari” dan kie yang berarti “gunung, pulau, darat/daratan.” Secara umum, kololi kie diartikan sebagai “kegiatan mengitari atau mengelilingi pulau/gunung.” Dalam bahasa populer lain di Kota Ternate. Kololi kie juga disebut dengan kata ron gunung (ron artinya “keliling”). Fokus penelitian yaitu: 1) Bagaimana pandangan masyarakat adat kesultanan Ternate terhadap ritual Kololi Kie. 2) Bagaimana proses pelaksanaan ritual Kololi Kie. 3) Apa saja nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual Kololi Kie. Metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode atau pendekatan kualitatif. Adapun hasil penelitian yaitu: Bahwa ritual Kololi Kie mengandung makna yang mendalam tentang memupuk tali kebersamaan masyarakat antara masyarakat adat di Kesultanan Ternate dan masyarakat secara umum di Kota Ternate. Mengelilingi pulau dapat disimbolkan sebagai upaya memberikan pengamanan  terhadap batas teritorial dan memperkuat simpul-simpul kekuatan bangsa, untuk mencegah berbagai ancaman dari luar. Ritual Kololi Kie sama maknanya dengan membelajarkan masyarakat untuk mempertahankan budaya dan menjaga keutuhan bangsa dari gempuran dan tantangan budaya global. Keempat, pada ritual tersebut, beberapa kampung dijadikan sebagai tempat persinggahan untuk berziara di makam-makam. Nilai-nilai yang masih dijaga dan dipelihara oleh masyarakat adat Kesultanan Ternate adalah Nilai Tenggang rasa, nilai kebersamaan, nilai gotong royog serta nilai keagamaan. Kata Kunci : Ritual Kololi Kie, Budaya, Religi, Kesultanan Ternate

Page 8 of 10 | Total Record : 98