cover
Contact Name
AHMAD SYAUQI
Contact Email
syauqiberbakti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.empati@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95, (Gedung Fak. Dakwah dan Ilmu Komunikasi Lt. III), Cempaka Putih, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 1541
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EMPATI : JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ISSN : 23014261     EISSN : 26216418     DOI : 10.15408/empati
Core Subject : Social,
Empati: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial is a peer-reviewed journal on social welfare and social work, offering access to a better understanding of social welfare in Indonesia and developments through the publication of articles and research reports. EMPATI emphasizes on social welfare and social work practice in Indonesia, and intended to communicate original researches and current issues on various subjects such as on human service organizations, children, elderly, disability, economy, policy, health, gender, age, class, mental health, etc. The Journal provides an interdisciplinary forum to which academics and professionals working in the fields of social welfare.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
PENGARUH KELEKATAN TEMAN SEBAYA TERHADAP CRAVING MANTAN PENGGUNA NARKOBA DI YAYASAN MUTIARA MAHARANI JAKARTA Thurfatul Munaa; Ismet Firdaus
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i1.31520

Abstract

Abstract. Former drug users as individuals who have used drugs have the possibility to experience craving or the desire to use drugs again which can result in relapse are former drug users. Peers as individuals who are close to former drug users have a big role in their lives. This study aims to determine whether there is an influence of peer attachment to craving former drug user. The research applied a quantitative approach. In taking the sample, the researchers used a saturated sample technique because the population of former drug users at the Mutiara Maharani Jakarta Foundation was less than 100, namely 21 people. Data collected using a questionnaire whose validity and reliability have been tested. The data that has been collected, analyse with the program SPSS for windows 29.0 and processed using simple linear regression analysis. The research results show the value of tcount (-0.158) smaller than ttable (2.093) with a significance value of 0.876 which is higher than 0.05. Therefore, H1 rejected and H0 accepted, meaning that there is no significant effect between peer attachment and craving former drug user. Peer attachment has an effect of 0.1% on craving former drug users while 99.9% influenced by variables outside the study. Keywords: Peer attachment, craving, former drugs user. Abstrak. Mantan pengguna narkoba sebagai individu yang pernah menggunakan narkoba memiliki kemungkinan untuk mengalami craving atau keinginan menggunakan narkoba kembali yang dapat berakibat pada relapse-nya para mantan pengguna narkoba. Teman sebaya sebagai individu yang dekat dengan mantan pengguna narkoba memiliki peran besar dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui adakah pengaruh kelekatan teman sebaya terhadap craving mantan pengguna narkoba. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dalam pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik sampel jenuh karena populasi mantan pengguna narkoba di Yayasan Mutiara Maharani Jakarta kurang dari 100 yaitu berjumlah 21 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang validitas dan reliabilitasnya telah teruji. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan bantuan program SPSS for windows 29.0 dan diolah dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan nilai thitung (-0,158) lebih kecil dari ttabel (2,093) dengan nilai signifikansi 0.876 yang lebih tinggi dari 0.05. Oleh karena itu, H1 ditolak dan H0 diterima artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kelekatan teman sebaya dengan craving mantan pengguna narkoba. Kelekatan teman sebaya memberikan pengaruh sebesar 0,1% terhadap craving mantan pengguna narkoba sedangkan 99,9% dipengaruhi oleh variabel di luar penelitian. Kata Kunci: Kelekatan teman sebaya, craving, mantan pengguna narkoba.
SELF-HEALING FOR WOMEN WITH UNWANTED PREGNANCIES AT YAYASAN RUMAH TUMBUH HARAPAN BANDUNG Tuti Kartika; Arini Dwi Deswanti; Muhammad Ananta Firdaus; Mira Azzasyofia; Vrinsca Paulus
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i1.31791

Abstract

Abstract. Women who experience unwanted pregnancies (PKTD) face very complex problems: being left behind by the man who impregnated them, being expelled by their families, being stigmatized by society, feeling deep shame and guilt, and losing their future. This study aims to examine the problem of unwanted pregnancy and its solution by RUTH Foundation. The research method is descriptive qualitative with data collection techniques of in-depth interviews, documentation study, observation, and Focus Group Discussion. The results of the study illustrate that the PKTD have problems of shame and fear, loss of future, and being left by the man who impregnated them. This research also succeeded in identifying self-healing services provided by the RUTH Foundation, namely healing carried out by the KTD women themselves with assistance from RUTH Foundation officers. The media used are sewing, knitting, painting, baking, flower arranging, going to nature, and other entertainment media. Self-healing is carried out continuously by emphasizing the willingness and ability of KTD women. The conclusion of this study is that self-healing by the RUTH Foundation has succeeded in leading women with domestic violence to forgive themselves and accept the situation they are in. Forgiving themselves and accepting the conditions experienced has opened up space for women with domestic violence to foster self-motivation and build a fighting spirit to continue a better life. The most important thing is that the Ruth Foundation has saved two generations, namely the CVC herself as a mother and the fetus in her mother's womb. Keywords: Women, unwanted pregnancy, self-healing. Abstrak. Perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (PKTD) menghadapi permasalahan sangat kompleks: ditinggal lelaki yang menghamilinya, diusir keluarga, mendapatkan stigma masyarakat, rasa malu dan bersalah yang mendalam, serta kehilangan masa depan. Studi ini bertujuan mengkaji permasalahan PKTD dan solusinya oleh Yayasan RUTH. Metode penelitian berbentuk deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, studi dokumentasi, observasi, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menggambarkan bahwa PKTD memiliki masalah rasa malu dan takut, kehilangan masa depan, dan ditinggal lelaki yang menghamilinya. Penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi pelayanan self healing yang diberikan oleh Yayasan RUTH yakni penyembuhan yang dilakukan oleh perempuan KTD itu sendiri dengan pendampingan dari petugas Yayasan RUTH. Media yang digunakannya adalah menjahit, merajut, melukis, membuat kue, merangkai bunga, pergi ke alam terbuka, dan media hiburan lainnya. Self healing dilakukan secara terus menerus dengan menekankan pada kemauan dan kemampuan perempuan KTD. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa self healing oleh Yayasan RUTH berhasil mengantar perempuan KTD memaafkan dirinya dan menerima situasi yang dialaminya. Memaafkan diri sendiri dan menerima kondisi yang dialami telah membuka ruang bagi perempuan KTD untuk menumbuhkan motivasi diri dan membangun semangat juang melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Hal paling penting adalah Yayasan Ruth telah menyelamatkan dua generasi, yaitu PKTD itu sendiri sebagai seorang ibu dan janin dalam kandungan ibunya.  Kata kunci: Perempuan, kehamilan tidak diinginkan, self-healing.
KETERLIBATAN PENTAHELIX DALAM PENGELOLAAN BANK SAMPAH Muhammad Daffa Rizqi Eko Putra; Santoso Tri Raharjo
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i1.29577

Abstract

Abstract. A company's CSR program cannot be implemented alone, but requires the support of the involvement of various parties in order to achieve the expected goals. These various parties or stakeholders can consist of individuals, groups, or organizations as well as communities or governments; expected to contribute and be involved in the implementation of CSR programs. The involvement of various stakeholders is one of the key factors that need to be considered, considering the effectiveness and efficiency in achieving the program, as well as the sustainability of empowerment. There are at least 5 (five) categories of stakeholders who can be involved and collaborate in CSR programs, namely Academic, Business, Community, Government and Media (ABCGM). Each stakeholder plays a different role according to their respective capacities and abilities, as well as their respective authorities. The purpose of this research is to describe the involvement and collaboration of stakeholders in environmental management CSR programs, especially in the management of waste banks. A qualitative approach with a descriptive method is used to describe the involvement of stakeholders in the CSR program "Bank Garbage" Kompas Gramedia in RW 02 Kelurahan Gelora, by observing the involvement of five parties (pentahelix) or stakeholders in the program. The results showed that the involvement and cooperation of pentahelix in the CSR program was observed to support the implementation of the program and the achievement of the objectives of the CSR program for waste bank management. Each stakeholder has a different role, but collaborates with each other to achieve the expected goals. Awareness and openness of each stakeholder is the key to cooperate with each other, so that this becomes the basic capital for the sustainability of the program into the future. Keywords: Corporate social responsibility (CSR), pentahelix, collaboration, waste bank. Abstrak. Program CSR suatu perusahaan tidak dapat dilaksanakan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan keterlibatan berbagai pihak agar mencapai tujuan yang diharapkan. Berbagai pihak atau stakeholders tersebut bisa terdiri dari individu, kelompok, maupun organisasi serta komunitas atau juga pemerintah; diharapkan dapat berkontribusi dan dilibatkan dalam pelaksanaan program CSR. Keterlibatan berbagai stakeholders merupakan salah satu faktor kunci yang perlu diperhatikan, mengingat efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian program, serta sustainability pemberdayaan. Setidaknya terdapat 5 (lima) kategori stakeholders yang dapat dilibatkan dan berkolaborasi  dalam program-program CSR, yaitu Academic, Business, Community, Government and Media (ABCGM). Masing-masing stakeholders memainkan peran yang berbeda sesuai dengan kapasitas dan kemampuan, serta kewenangan masing-masing. Tujuan riset ini adalah menggambarkan bagaimana keterlibatan dan kolaborasi stakeholder dalam program CSR pengelolaan lingkungan khususnya dalam pengelolaan bank sampah. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan keterlibatan stakeholders dalam program CSR “Bank Sampah” Kompas Gramedia di RW 02 Kelurahan Gelora, dengan mengamati  keterlibatan lima pihak (pentahelix) atau stakeholder dalam program tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dan kerjasama pentahelix dalam program CSR teramati mendukung terlaksananya program dan pencapaian tujuan program CSR pengelolaan bank sampah. Masing-masing stakeholder memiliki peranan yang berbeda, namun saling berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kesadaran dan keterbukaan masing-masing stakeholder merupakan kunci saling bekerja sama, sehingga hal ini menjadi modal dasar pada keberlanjutan program ke masa depan. Kata Kunci: Corporate social responsibility (CSR), kolaborasi, pentahelix, bank sampah.
TAHAPAN INTERVENSI KRISIS DALAM PRAKTIK PEKERJA SOSIAL KELUARGA Danisya Aulia; Nurliana Cipta Apsari; Budi Muhammad Taftazani
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i1.38774

Abstract

Abstract. This article discusses the role of family social workers in implementing crisis intervention for families experiencing complex problems and emergency issues. This research was conducted with the goal of describing and analyzing the stages of crisis intervention carried out by family social workers to handle problems in crisis conditions. By referring to a qualitative approach and descriptive methods, researchers attempt to describe the stages of crisis intervention in depth. Researchers used literature review techniques in the process of collecting data and analyzing crisis intervention which were carried out by exploring literature in various media. The research results show that crisis intervention carried out by family social workers requires a holistic understanding of the issues in the family. Where, the initial stage of crisis intervention focuses on defining the problem in understanding the client's problem. It is necessary to ensure client safety followed by providing support and identifying alternative solutions. Next, family social workers need to make a concrete and targeted action plan to overcome the crisis, followed by obtaining commitment from the client to implement a follow-up intervention plan. By providing appropriate services and support, social workers can help families overcome crises and restore stability to their lives. The significance of this research study lies in its contribution to the literature regarding the stages of crisis intervention which focuses on the implementation of family social work practices, as well as encouraging social work practitioners to carry out interventions in the micro domain.Keywords: Family social worker, crisis intervention, family issues. Abstrak. Artikel ini membahas peran pekerja sosial keluarga dalam melaksanakan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami masalah kompleks dan isu darurat. Penelitian in dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tahapan intervensi krisis yang dilakukan pekerja sosial keluarga untuk menangani masalah saat mengalami kondisi krisis. Dengan mengacu pada pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, peneliti berupaya menggambarkan tahapan intervensi krisis secara mendalam. Peneliti menggunakan teknik literatur review dalam proses pengumpulan data dan analisis intervensi krisis yang dilakukan dengan eksplorasi literatur di berbagai media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi krisis yang dilakukan pekerja sosial keluarga membutuhkan pemahaman yang holistik terhadap isu atau konflik yang terjadi dalam keluarga. Di mana, tahapan awal intervensi krisis memfokuskan pada pendefinisian masalah (defining problem) dalam memahami masalah klien. Kemudian, perlu memastikan keselamatan klien (ensure client safety) yang diikuti dengan pemberian dukungan (provide support) serta mengidentifikasi alternatif solusi (examining alternatives). Selanjutnya, pekerja sosial keluarga perlu membuat rencana tindakan (makes plan) yang konkret dan terarah untuk mengatasi krisis, diikuti dengan memperoleh komitmen dari klien (obtaining a commitment) untuk melaksanakan rencana intervensi lanjutan. Dengan memberikan layanan yang sesuai dan dukungan yang tepat, pekerja sosial dapat membantu keluarga mengatasi krisis dan memulihkan stabilitas dalam kehidupan mereka. Signifikasi studi dari penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap literatur mengenai tahapan intervensi krisis yang berfokus pada pelaksanaan praktik pekerja sosial keluarga, serta implikasinya bagi praktisi pekerja sosial dalam melaksanakan praktik atau intervensi dalam ranah mikro.Kata Kunci: Pekerja sosial keluarga, intervensi krisis, isu keluarga.
KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN AYAM PETELUR BAGEUR DI AREA USAHA SEGS, Ltd Salsabila Firdhausiyah; Silverius Djuni Prihatin
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i2.35112

Abstract

Abstract. This Every company is required to carry out its social responsibilities. The Corporate Social Responsibility (CSR) program is one way to fulfill this obligation. The empowerment program for Ayam Petelur Bageur breeders in Tugubandung Village, Kabandungan District, Sukabumi Regency is a form of social responsibility carried out by Star Energy Geothermal Salak, Ltd. through its community development program. The purpose of this research is to determine the magnitude of the influence of communication, resources, disposition and bureaucratic structure on the level of success of the Ayam Petelur Bageur Empowerment Program. This research uses a quantitative research design which is then supported by qualitative data. The survey method was used to collect quantitative data with a questionnaire instrument, while qualitative data was obtained through in-depth interview guides. The research results show that the factors that influence the success of the community empowerment program, which as an independent variable are in the medium category. In communication (X1) the percentage is at 67%. Then the resource (X2) total percentage is 70%. In disposition (X3) the resulting percentage is 77%. And the resulting bureaucratic structure (X4) percentage is 67%. Meanwhile, the success rate of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y), which is the dependent variable, is also in the medium category with a percentage of 63.33%. So it can be concluded that communication (X1), resources (X2), disposition (X3), and bureaucratic structure (X4) have a significant influence on the level of success of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y) with a large influence of 43.1% which is in the medium category. Meanwhile the other 56.9% is influenced by other variables not included in this study or influenced by other factors. Keywords: Community Development, Success of Community Empowerment Programs, Factors Influencing Community Empowerment Program. Abstrak. Setiap perusahaan diharuskan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya. Program Corporate Social Responsibility (CSR) adalah salah satu cara untuk memenuhi kewajiban tersebut. Program pemberdayaan peternak Ayam Petelur Bageur di Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi adalah salah satu bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh Star Energy Geothermal Salak, Ltd. melalui program community development-nya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya pengaruh komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap tingkat keberhasilan Program Pemberdayaan Ayam Petelur Bageur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang kemudian didukung oleh data kualitatif. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dengan instrumen kuesioner, sedangkan data kualitatif didapatkan melalui panduan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan program pemberdayaan masyarakat, yang mana sebagai variabel bebas berada dalam kategori sedang. Pada komunikasi (X1) persentase berada pada 67%. Lalu sumber daya (X2) jumlah persentasenya 70%. Pada disposisi (X3) jumlah persentase yang dihasilkan adalah 77%. Dan struktur birokrasi (X4) persentase yang dihasilkan 67%. Sedangkan pada tingkat keberhasilan program pemberdayaan Ayam Petelur Bageur (Y), yang mana sebagai variabel terikat juga berada dalam kategori sedang dengan persentase 63,33%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi (X1), sumber daya (X2), disposisi (X3), dan struktur birokrasi (X4) terdapat pengaruh yang signifikan terhadap tingkat keberhasilan program pemberdayaan Ayam Petelur Bageur (Y) dengan besar pengaruh sebanyak 43,1% yang mana berada dalam kategori sedang. Sedangkan 56.9% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini atau dipengaruhi oleh faktor lain. Kata kunci: Community Development, Keberhasilan Program Pemberdayaan Masyarakat, Faktor yang Berpengaruh Terhadap Program Pemberdayaan Masyarakat.
KONTRIBUSI HUMAN INTIATIVE PADA PROGRAM INTIATIVE FOR EMPOWERMENT DALAM MENDUKUNG SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Ahmad Darda
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i1.37392

Abstract

Abstract. The Government of Indonesia through Presidential Regulation Number 59 of 2017 concerning Implementation of Achieving Sustainable Development Goals, is committed that the implementation and achievement of SDGs is carried out in a participatory manner by involving all parties to improve people's welfare. Human Initiative as Non-Governmental Organizations (NGOs) engaged in social humanity has contributed through community empowerment programs in supporting the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) in Indonesia. This study aims to determine the contribution of the Human Initiative through the Nutrition Garden program in supporting the Sustainable Development Goals (SDGs). In this study the authors used a qualitative approach and data collection was obtained through interviews, observation, and documentation studies. The informants in this study were five people and were selected through a purposive sampling technique. The author uses the theory of stages of empowerment by Soekanto which states that in carrying out community empowerment, there are seven stages that must be passed. The results of this study indicate that the Human Initiative through the Nutrition Garden program in Tajurhalang Village has contributed to the three SDGs goals, the first of which is the first goal of No Poverty and Zero Hunger, and Good Health and Well Being. and Prosperous). Furthermore, the Human Initiative has also gone through the process and stages of community empowerment properly so that the Nutrition Garden program in Tajurhalang Village has been able to help beneficiaries with food security issues.Keywords: Community Empowerment, Sustainable Development Goals, Food Security. Abstrak. Pemerintah Indonesia melalui Perpres Nomor 59 Tahun    2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, berkomitmen agar pelaksanaan dan pencapaian SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Human Initiative sebagai Non-Governmental Organizations (NGO) yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan memiliki andil melalui program pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi Human Initiative melalui program Kebun Gizi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Pada penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dan pengumpulan data diperoleh melalui proses wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini sebanyak lima orang dan dipilih melalui teknik purposive sampling. Penulis menggunakan teori tahapan pemberdayaan oleh Soekanto yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat, ada tujuh tahapan yang harus dilalui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Human Initiative melalui program Kebun Gizi di Desa Tajurhalang telah berkontribusi dalam tiga tujuan SDGs, yang pertama yaitu No Poverty (Tanpa Kemiskinan) dan Zero Hunger (Tanpa Kelaparan), dan Good Health and Well Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Selanjutnya Human Initiative juga telah melalui proses serta tahapan pemberdayaan masyarakat dengan baik sehingga program Kebun Gizi di Desa tajurhalang telah mampu membantu penerima manfaat dalam masalah ketahanan pangan.Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Sustainable Development Goals, Ketahanan Pangan.
FAMILY PARTICIPATION MODEL WITH CHILDREN WITH DISABILITIES IN REALISING AN INCLUSIVE SOCIETY Juli Astutik; Budi Suprapto; Zaenal Abidin; Mohd Haizzan Yahaya
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i2.34146

Abstract

Abstract. This research aims to find a model of family participation with children with disabilities in realising an inclusive society in Ngawonggo Village, Tajinan District, Malang Regency. This research was conducted with a qualitative approach of the descriptive type. The research subjects were determined by the purposive method. Data collection techniques were carried out by observation and interview. Data analysis was conducted using the interactive model (Milles and Huberman).  The results showed that the forms of family participation with children with disabilities include: 1) Participation in decision-making, 2).  Participation in implementation, 3) Participation in benefits, and 4) Participation in evaluation. with socialisation programs, family parenting and therapy, can create an inclusive society, such as: 1)  Religious and community leaders understand the importance of supporting the growth and development of children with disabilities, 2) The community treats children with disabilities as normal, 3) Children with disabilities can play and learn with normal peers, 4) There is support from the local government for children with disabilities through the allocation of the Village Fund Budget, 5) Parents with children with disabilities have gradually opened up and provided public access to their children. Keywords: Family Participation, Children with Disabilities, Inclusive Society. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model partisipasi keluarga dengan anak penyandang disabilitas dalam mewujudkan masyarakat inklusi di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Subjek penelitian ditentukan dengan metode purposif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif (Milles dan Huberman).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi keluarga dengan ABK antara lain: 1) Partisipasi dalam pengambilan keputusan, 2).  Partisipasi dalam pelaksanaan, 3) Partisipasi dalam manfaat, dan 4) Partisipasi dalam evaluasi. Dengan adanya program sosialisasi, pola asuh keluarga dan terapi, dapat menciptakan masyarakat yang inklusif, seperti: 1) Tokoh agama dan tokoh masyarakat memahami pentingnya mendukung tumbuh kembang ABK, 2) Masyarakat memperlakukan ABK sama seperti anak normal lainnya, 3) ABK dapat bermain dan belajar bersama teman sebaya yang normal, 4) Adanya dukungan dari pemerintah daerah terhadap ABK melalui pengalokasian Anggaran Dana Desa, 5) Orang tua yang memiliki ABK berangsur-angsur membuka diri dan memberikan akses publik terhadap anaknya. Kata Kunci: Partisipasi keluarga, ABK, Masyarakat inklusif.
PERAN STRATEGIS KEMENTERIAN SOSIAL BAGI PENGUATAN PROGRAM BANTUAN PANGAN NON-TUNAI PASCA COVID-19 Fatmawati Fatmawati; Ade Sofyan Mulazid
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i1.38166

Abstract

Abstract. This research aims to evaluate the implementation of the post-COVID-19 non-cash food assistance (BPNT) policy and analyze whether the distribution process carried out by the Ministry of Social Affairs is running according to procedures. Apart from that, the inhibiting and supporting factors for the BPNT distribution process were also analyzed. This research uses qualitative descriptive. Research informants consisted of bureaucrats, policy makers and beneficiary communities. The research results show that the government through the Ministry of Social Affairs has a strategic role in dealing with social problems, including the family hope program, financial support, direct financial support to village treasuries, social support to fulfil basic needs in the Jabodetabek area, pre-employment cards, basic food cards, and electricity subsidies. Policy implementers fail to comply with policy standards and objectives by intentionally violating procedures that benefit certain individuals for personal gain. The obstacles to this program are that policy implementation does not run smoothly, because several names of beneficiaries are not included in the Integrated Social Welfare Data (DTKS), incorrect redistribution of benefits, and inappropriate benefits and use of aid. funds are inaccurate. not used to buy necessities. This program is supported by strict monitoring and evaluation by the government so that it can minimize problems in the beneficiary communities. The theoretical implications of this research will contribute to the development of literature to examine the strategic role of the Ministry of Social Affairs and the implementation of the BPNT program to explain preventive and supportive factors after COVID-19. In practice, it can also provide consideration to the Ministry of Social Affairs, especially the Director General of Social Protection and Security when preparing a strategy for implementing the BPNT program.Keywords: Strategic Role, Food Assistance, Economic Recovery, COVID-19 Pandemic. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi kebijakan bantuan pangan non-tunai (BPNT) pasca COVID-19 dan menganalisis proses penyaluran yang dilakukan Kementerian Sosial apakah berjalan sesuai prosedur. Selain itu juga dianalisis faktor penghambat dan pendukung proses penyaluran BPNT. Penelitian ini, menggunakan deskriptif kualitatif. Informan penelitian ini terdiri dari birokrat, pengambil kebijakan, dan masyarakat penerima manfaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Sosial mempunyai peran strategis dalam menangani permasalahan sosial antara lain program keluarga harapan, dukungan dana, dukungan keuangan langsung ke kas desa, dukungan sosial pemenuhan kebutuhan dasar di wilayah Jabodetabek, kartu prakerja, kartu sembako, dan subsidi listrik. Pelaksana kebijakan gagal mematuhi standar dan tujuan kebijakan dengan sengaja melanggar prosedur yang menguntungkan individu tertentu demi keuntungan pribadi. Hambatan program ini adalah implementasi kebijakan tidak berjalan lancar, karena beberapa nama penerima manfaat tidak terdapat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), redistribusi manfaat yang tidak tepat, dan manfaat serta penggunaan bantuan yang tidak tepat. dana tidak akurat. tidak digunakan membeli kebutuhan pokok. Program tersebut didukung dengan monitoring dan evaluasi yang ketat oleh pemerintah sehingga dapat meminimalisir permasalahan masyarakat penerima manfaat. Implikasi penelitian ini secara teoritis akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur untuk mengkaji peran strategis Kementerian Sosial dan pelaksanaan program BPNT untuk menjelaskan faktor preventif dan supportif pasca COVID-19. Dalam praktiknya juga bisa memberikan pertimbangan kepada Kementerian Sosial, khususnya Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial ketika menyiapkan strategi implementasi program BPNT.Kata Kunci: Peran Strategis, Bantuan Pangan, Pemulihan Ekonomi, Pandemi COVID-19.
PENERAPAN PRINSIP HAM PADA SISTEM LAYANAN DAN RUJUKAN TERPADU (SLRT) DI KABUPATEN BANDUNG Firda Dwi Anjani; Binahayati Rusyidi; Muhammad Fedryansyah
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v12i2.34066

Abstract

Abstract. The implementation of SLRT must seek the application of legal, responsive, transparent, participatory, gender equality, accountable, objective, and sustainable principles. Bandung Regency is an area that has held SLRT since 2016 until now and has received Best Practice achievements from the Ministry of Social Affairs. In fact, the characteristics of the region can be a challenge for the implementation of the SLRT implementation principle. Namely, the male population is greater than the female population, the area is large and consists of lowlands and highlands, and the 69 OPDs have their own programs and target recipients. The researcher wants to know how the Bandung Regency SLRT applies the principles of its implementation by using a human rights-based approach theory. This is because there is harmony between the principles of implementing SLRT and human rights principles in the form of participation, accountability, non-discrimination and equity. Information regarding the implementation of SLRT Bandung Regency is presented using qualitative data, sourced from interviews, non-participant observation, and literature studies. The findings of the study state that the implementation of SLRT in Bandung Regency shows active community participation and differences in treatment in the delivery of services that support substantive gender equality. On the other hand, not all OPDs in Bandung Regency have succeeded in integrating their programs and program beneficiary targets with SLRT. Thus, service delivery is not fully sustainable. However, this is not a form of government reluctance, but rather due to limited resources. Keywords: Implementation of SLRT; Human Rights-Based Approach; Human Rights Principle. Abstrak. Penyelenggaraan SLRT harus mengupayakan penerapan asas legal, responsif, transparan, partisipatif, kesetaraan gender, akuntabel, objektif, dan berkelanjutan. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang telah menyelenggarakan SLRT sejak tahun 2016 hingga saat ini dan mendapatkan prestasi Best Practice dari Kementerian Sosial. Padahal, karakteristik wilayahnya dapat menjadi tantangan diterapkannya asas penyelenggaraan SLRT. Yaitu, jumlah penduduk laki-laki yang lebih banyak dibandingkan perempuan, wilayah yang luas dan terdiri atas dataran rendah dan tinggi, serta 69 OPD yang memiliki program dan sasaran penerimanya masing-masing. Peneliti ingin mengetahui bagaimana SLRT Kabupaten Bandung menerapkan asas penyelenggaraannya dengan menggunakan teori pendekatan berbasis HAM. Pasalnya, terdapat keselarasan antara asas penyelenggaraan SLRT dengan prinsip HAM berupa partisipasi, akuntabilitas, non diskriminasi dan ekuitas. Informasi mengenai penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung disajikan menggunakan data kualitatif, bersumber dari kegiatan wawancara, observasi non partisipan, dan studi literatur. Hasil temuan penelitian menyatakan penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung menunjukkan upaya partisipasi aktif masyarakat dan perbedaan perlakuan dalam penyelenggaraan layanan yang mendukung kesetaraan substantif gender. Di sisi lain, belum semua OPD di Kabupaten Bandung berhasil mengintegrasikan program dan sasaran penerima programnya dengan SLRT. Sehingga, penyelenggaraan layanan belum sepenuhnya berkelanjutan. Namun, hal tersebut bukan merupakan bentuk keengganan pemerintah, melainkan karena keterbatasan sumber daya. Kata kunci: Penyelenggaraan SLRT; Pendekatan Berbasis HAM; Prinsip HAM
THE INFLUENCE OF FAMILY COMMUNICATION PATTERNS ON THE INDEPENDENCE OF CHILDREN WITH DISABILITIES Juli Astutik; Budi Suprapto; Zaenal Abidin; Haryanto Haryanto
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i1.38915

Abstract

Abstract. This study aims to explore three key aspects: 1) family communication patterns with children with disabilities, 2) the level of independence of children with disabilities, and 3) the relationship between family communication patterns and the level of independence of children with disabilities in Ngawonggo Village, Tajinan District, Malang City. Every child, including those with disabilities, has the right to a decent life. The family is crucial for a child's growth and development, making the family's communication patterns significantly influential. Parents generally aspire for their children to develop well, and children with disabilities require special parental attention. The study employed a quantitative approach, targeting parents of children with disabilities through purposive sampling. Data collection involved questionnaires and interviews. Data analysis utilized product-moment correlation tests (r test) with a significance level of 0.05 to examine the relationship between family communication patterns and the independence of children with disabilities. Regression analysis was also conducted to predict changes in the independence of children based on communication patterns. Results indicated that: 1) family communication patterns with children with disabilities are mixed and flexible, adjusting to specific situations and conditions, 2) the level of independence of these children is 81.60%, and 3) there is a significant correlation (r count 0.816 > r tab 0.708) between family communication patterns and children's independence. The regression analysis suggested that improved communication patterns could enhance children's independence from an average of 74.916 to 87.1909. The study recommends that parents adopt a conversation model of family communication, recognizing the child's existence and providing opportunities for them to express and discuss their opinions and desires to foster greater independence.Keywords: Family communication patterns, independence, children with disabilities. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tiga aspek utama: 1) pola komunikasi keluarga dengan anak-anak penyandang disabilitas, 2) tingkat kemandirian anak-anak penyandang disabilitas, dan 3) hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan tingkat kemandirian anak-anak penyandang disabilitas di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kota Malang. Setiap anak, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak untuk hidup layak. Keluarga sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga pola komunikasi keluarga sangat berpengaruh. Orang tua umumnya ingin anak-anak mereka berkembang dengan baik, dan anak-anak penyandang disabilitas memerlukan perhatian khusus dari orang tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menargetkan orang tua dari anak-anak penyandang disabilitas melalui sampel purposif. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan uji korelasi produk momen (uji r) dengan tingkat signifikansi 0,05 untuk menguji hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan kemandirian anak-anak penyandang disabilitas. Analisis regresi juga dilakukan untuk memprediksi perubahan kemandirian anak berdasarkan pola komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pola komunikasi keluarga dengan anak-anak penyandang disabilitas bersifat campuran dan fleksibel, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu, 2) tingkat kemandirian anak-anak penyandang disabilitas mencapai 81,60%, dan 3) terdapat korelasi signifikan (r hitung 0,816 > r tabel 0,708) antara pola komunikasi keluarga dengan kemandirian anak. Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan pola komunikasi dapat meningkatkan kemandirian anak dari rata-rata 74,916 menjadi 87,1909. Penelitian ini merekomendasikan agar orang tua menerapkan model komunikasi keluarga berbasis percakapan, yang mengakui keberadaan anak dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengekspresikan dan mendiskusikan pendapat serta keinginan mereka untuk meningkatkan kemandirian.Kata Kunci: Pola komunikasi keluarga, independensi, anak dengan disabilitas.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2025): Empati Edisi Juni 2025 Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 12 No. 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol 11, No 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol 11, No 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 10, No 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 9, No 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol 8, No 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol 7, No 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol 7, No 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol 6, No 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 5 No. 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 5, No 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol. 4 No. 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol 4, No 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol 3, No 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 1, No 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 More Issue