cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 5 (2024)" : 10 Documents clear
Evaluasi Pengetahuan dan Tindakan Ibu terhadap Diare pada Balita Puskesmas Banda Raya Salsabila, Nisa; Dimiati, Herlina; Maharani, Cut Rika; Saputra, Irwan; Aini, Zahratul
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.310-15

Abstract

Latar belakang. Diare masih menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada balita. Diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pengetahuan dan perilaku ibu Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku ibu dengan penanganan diare pada balita di Puskesmas Banda Raya Kota Banda Aceh.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu dengan balita yaang berdomisili di Banda Raya berjumlah 96 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan simple random sampling. Penelitian menggunakan instrumen kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-squre. Hasil. Mayoritas responden dengan usia 21-35 tahun (66,7%), pendidikan SMA (55,2%), mayoritas ibu di Kecamatan Banda Raya bekerja sebagai ibu rumah tangga (79,2%), dengan umur anak 1 hingga 2 tahun (55,2%). Analisis data menggunakan uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan penanganan diare pada balita (p=<0,05). Serta terdapat hubungan antara perilaku ibu dengan penanganan diare pada balita (p=<0,05). Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan perilaku ibu berhubungan dengan penanganan diare pada balita di Puskesmas Banda Raya Kota Banda Aceh.
Prosedur Menunda Minum saat Transfusi Sel Darah Merah dan Kejadian Enterokolitis Nekrotikans pada Bayi Prematur Mardhotillah, Afiffa; Marsubrin, Putri Maharani Tristanita
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.341-8

Abstract

Bayi prematur memiliki risiko menderita komplikasi akibat prematuritas dan luarannya sangat berhubungan dengan usia gestasi. Di antara berbagai komplikasi, enterekolitis nekrotikans merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai pada bayi prematur. Patogenesis terjadinya  masih belum dipahami secara penuh. Prematuritas menjadi satu-satunya faktor risiko yang konsisten ditemukan dalam studi mengenai enterekolitis nekrotikans, tetapi diyakini bahwa etiologinya bersifat multifaktorial. Saat ini, mulai banyak penelitian yang juga mengaitkan enterekolitis nekrotikans dengan transfusi sel darah merah atau dikenal sebagai transfusion associated necrotizing enterocolitis. Berbagai upaya untuk mencegah terjadinya enterekolitis nekrotikans dilakukan, salah satunya dengan melakukan prosedur menunda minum saat transfusi sel darah merah. Tujuan dari telaah ini adalah untuk memaparkan berbagai pandangan dan penelitian terkait penerapan prosedur menunda minum saat transfusi sel darah merah dan kaitannya dengan angka kejadian enterekolitis nekrotikans.
Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kesiapan Bersekolah pada Anak Usia Prasekolah Prastya, Reza Wahyu Dwi; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.297-304

Abstract

Latar belakang. Usia prasekolah merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan anak. Keterlambatan perkembangan umumnya terjadi pada masa prasekolah dan dialami oleh 10-15% anak prasekolah. Gangguan perkembangan pada anak prasekolah membuat anak memiliki performa lebih rendah dari temannya yang dapat memengaruhi kesiapan bersekolah. Penelitian kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah masih terbatas di Indonesia. Pola asuh orang tua dapat memengaruhi kesiapan bersekolah. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kesiapan bersekolah, gambaran pola asuh orang tua, dan hubungan antara pola asuh orang tua dengan kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah. Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Data kesiapan bersekolah diperoleh melalui kuesioner BRIGANCE Early Childhood Screens III dan pola asuh orang tua melalui kuesioner Parenting Styles and Dimension Questionnaire. Penelitian dilaksanakan di Taman Kanak- kanak Negeri Menteng 01 dan Negeri Cilacap, Jakarta. Penelitian ini melibatkan 18 anak (23,7%) berusia empat tahun dan 58 anak (76,3%) berusia 5 tahun dengan mayoritas anak perempuan. Hasil. Hasil skrining menunjukkan bahwa 20 anak (26,3%) tidak siap masuk sekolah. Rerata usia ibu adalah 34,92 tahun dan usia ayah 37,48 tahun. Pola asuh orang tua yang umum diterapkan adalah otoritatif (86,8%), diikuti permisif (11,8%), dan otoriter (1,3%). Temuan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh dan kesiapan bersekolah (p<0,001). Pola asuh permisif lebih umum diterapkan pada anak laki-laki, sedangkan anak perempuan lebih sering dididik dengan pola asuh otoritatif. Pola asuh otoriter ditemukan pada keluarga dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih rendah. Kesimpulan. Pola asuh dan kesiapan bersekolah memiliki hubungan signifikan secara statistik. Anak yang dididik dengan pola asuh otoritatif memiliki tingkat kesiapan sekolah yang lebih tinggi.
Hubungan Kadar Malondialdehid dengan Usia Kehamilan pada Bayi Kurang Bulan Hidayah, Dwi; Suryani, Fitri Ika; Rachma, Ulfa Puspita
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.292-6

Abstract

Latar belakang. Selama beberapa dekade terakhir, angka kelahiran kurang meningkat di seluruh dunia. Bayi baru lahir, terutama Bayi Kurang Bulan sangat rentan terhadap stres oksidatif karena ketidakseimbangan antara peningkatan produksi Reactive Oxygen Species dan kurangnya kemampuan antioksidan. Adanya cedera oksidatif dapat dilacak dengan pengukuran penanda, malondialdehid hasil dari peroksidasi lipid.Tujuan. Untuk menilai hubungan kadar malondialdehid dengan usia kehamilan, berat lahir, dan asfiksia pada Bayi Kurang Bulan Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan pada Bayi Kurang Bulan (Usia Kehamilan 28 - < 37 minggu) yang lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi pada bulan Mei - November 2021. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara consecutive. Variabel bebas adalah kadar malondialdehid, variabel terikat adalah Usia Kehamilan, Berat Lahir, dan asfiksia. Data dianalisis secara statistik dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dan nilai p<0,05 dianggap signifikan. Hasil. Didapatkan 42 subjek sebagian besar Usia Kehamilan 28 – < 34 minggu 25 subjek (59,52%) dan 17 subjek (40,48%) ?34 – 37 minggu. Rerata kadar malondialdehid adalah 49,9 nmol / mL. Tidak ada hubungan signifikan kadar malondialdehid dengan Usia Kehamilan [p = 0,301; IK95% = (-2,93) – 9,27], BL [p = 0,867; IK95% = (-11,19) – 9,50] dan asfiksia [(p= 0,168), IK95% = (-10,87) – 1,95].Kesimpulan. Kadar malondialdehid pada Bayi Kurang Bulan tidak berhubungan dengan Usia Kehamilan, Berat Lahir, dan asfiksia.
Faktor-Faktor Penentu Vaccine Hesitancy pada Orang Tua Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Vaksin COVID-19 di Kabupaten Bandung Nirwani, Bunga; Dhamayanti, Meita; Solek, Purboyo; Lukmanul Hakim, Dzulfikar Djalil; Alam, Anggraini; Tarigan, Rodman
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.283-91

Abstract

Latar belakang. Hingga 18 Mei 2020, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia, mendorong upaya pencegahan melalui vaksinasi anak. Kendati Ikatan Dokter Anak Indonesia mendukung vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6–11 tahun, terdapat keraguan (hesitancy) dan penolakan vaksin yang perlu dipahami faktornya.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi adanya keraguan terkait vaksinasi COVID-19 pada anak dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi orang tua.Metode. Penelitian analitik kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya yang merupakan bagian dari riset Academic Leadership Grant meliputi data demografis subjek penelitian, tingkat pengetahuan subjek penelitian mengenai COVID-19, serta status keraguan subjek penelitian terhadap vaksin COVID-19. Hasil. Didapat 613 subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki setidaknya satu orang anak berusia 6-12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 613 subjek, sebagian besar memiliki skor pengetahuan COVID-19 yang baik pada 419 orang (68,4%) dan sebagian besar menunjukkan tanpa keraguan pada 546 (89,1%). Pendidikan terakhir (p=0,002 <0,05) dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga (p=0,007 <0,05) merupakan faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap skor pengetahuan COVID-19.Kesimpulan. Tingkat pendidikan dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga merupakan faktor yang signifikan secara statistik terhadap tingkat pengetahuan orangtua anak usia 6-12 tahun mengenai COVID-19. Tidak terdapat faktor yang signifikan secara statistik terhadap vaccine hesitancy pada orangtua anak usia 6-12 tahun.
Pemberian Suplementasi Besi dalam Upaya Mencegah Defisiensi Besi pada Bayi Prematur atau Berat Badan Lahir Rendah Aprilia, Yonita; Andriastuti, Murti
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.333-40

Abstract

Latar belakang. Besi merupakan mineral esensial yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi fisiologis. Defisiensi besi didefinisikan sebagai penurunan total kandungan besi dalam tubuh yang ditandai dengan turunnya kadar feritin atau saturasi transferin. Bayi prematur termasuk ke dalam kelompok berisiko untuk terjadinya defisiensi besi.Tujuan. Memberikan bukti ilmiah pemberian suplementasi besi pada bayi prematur atau berat badan lahir rendah untuk mencegah defisiensi besi.Metode. Pencarian literatur dengan instrumen pencari Pubmed dan Cochrane Library pada bulan Juli 2020.Hasil. Studi oleh McCarthy dkk menggunakan metode telaah sistematis dengan melibatkan tiga studi dengan luaran menurunnya defisiensi besi. Salah satunya oleh Lundstorm dkk yang menyatakan bahwa bulan ketiga seluruh subyek di kelompok uji mencapai kadar serum feritin rata-rata 32 ng/ml ml dan kelompok kontrol mencapai kadar serum ferritin rata-rata 17 ng/ml (p<0,05). Kadar serum ferritin pada bulan keenam pemantauan kelompok uji adalah rata-rata 29 ng/ml dan kelompok kontrol adalah rata-rata <10 ng/ml (p<0,001). Pada studi Berglund dkk menyatakan terdapat peningkatan kadar serum ferritin dan saturasi transferin pada kelompok uji dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa suplementasi besi (nilai p<0,001).Kesimpulan. Suplementasi besi jangka panjang terbukti mencegah defisiensi besi pada bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah.
Pengaruh Terapi Oksigen Hiperbarik terhadap Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Nugraheni, Pramita Anindya; Untari, Ni Komang Sri Dewi; Agustin, Renny; Oktavia, Reza Mardiana Ayu; Rantika, Rheina Hasna; Hadi, Rifqi Athaya Vinanta; Utami, Rina Mega
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.316-21

Abstract

Latar belakang. Gangguan Spektrum Autisme merupakan kelainan perkembangan saraf dengan ciri-ciri gangguan komunikasi sosial, interaksi sosial yang terbatas, dan pola perilaku yang berulang, sesuai dengan klasifikasi DSM V. Terapi yang umum digunakan adalah Applied Behaviour Analysis, tetapi Terapi Oksigen Hiperbarik menjadi fokus studi terkini yang melibatkan pemberian oksigen 100% pada tekanan atmosfer yang lebih tinggi, menjadi opsi non-invasif yang dapat menyediakan oksigen optimal untuk organ tubuh.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh TOHB pada anak ASD melalui Childhood Autism Rating Scale.Metode. Studi analitik dilakukan dengan desain pra-eksperimental one group pretest-posttest, melibatkan 15 pasien ASD dari Lakesla Drs. Med. R. Rijadi S.,Phys. Data dikumpulkan dari Januari hingga Agustus 2023.Hasil. Analisis data pre-test dan post-test menunjukkan signifikansi (p=0.001). Evaluasi aspek hubungan dengan orang lain (p=0.004), imitasi (p=0.011), respon emosional (p=0.001), penggunaan objek (p=0.008), adaptasi (p=0.007), respon mendengar (p=0.014), rasa, bau, sentuh (p=0.034), ketakutan atau gugup (p=0.009), komunikasi verbal (p=0.059 dan p=0.157), tingkat aktivitas (p=0.004), level dan konsistensi respon intelektual (p=0.025), serta kesan umum (p=0.025).Kesimpulan. Pemberian TOHB pada anak ASD dapat meningkatkan berbagai aspek fungsi sosial dan menurunkan tingkat aktivitas, rasa takut, serta gugup. Penelitian ini memberikan dasar untuk lebih memahami peran TOHB dalam manajemen ASD.
Hubungan Jenis, Jumlah, dan Lama Pemberian Obat Anti Epilepsi dengan Kadar 25-Hidroksi Vitamin D pada Anak Epilepsi Wijaya, Aji Kristianto; Salendu, Praevilia Margareth; Mandei, Jose Meky
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.328-32

Abstract

Latar belakang. Penggunaan obat anti epilepsi diduga dapat menyebabkan defisiensi vitamin D.Tujuan. Mengetahui adanya hubungan jenis, jumlah, dan lama pemberian obat anti epilepsi terhadap kadar 25-hidroksi vitamin D pada anak epilepsi.Metode. Penelitian observasional analitik secara potong lintang pada anak epilepsi usia 7 bulan-18 tahun di poli neurologi anak RSUP Prof. R. D. Kandou Manado antara 1 Agustus 2022 - 31 Desember 2022. Hasil. Dari total 66 anak epilepsi ditemukan 19 anak defisiensi vitamin D (28,8%), 20 anak insufisiensi (30,3%), dan 27 anak status vitamin D normal (40,9%). Anak yang mendapat obat asam valproat, fenitoin, dan karbamazepin memiliki kadar 25(OH)D sebesar 27,66 (15,45 – 58,10), 25,17 (21,44 – 33,50), dan 29,49 (17,89 – 41,10) dengan nilai p = 0,991. Anak yang mendapat pengobatan monoterapi memiliki kadar 25(OH)D lebih tinggi yaitu 28,09 (16,20 – 58,10) dibandingkan pengobatan politerapi yaitu 18,94 (15,45 – 35,10) dengan nilai p=0,036. Lama pemberian obat monoterapi dan politerapi dengan kadar 25(OH)D diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (sig < 0.05) dengan koefisien korelasi sebesar -0,528 (0,41 – 0,60). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara jenis OAE dengan kadar vitamin D. Terdapat hubungan antara jumlah OAE dan lama pemberian OAE dengan kadar vitamin D.
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kematian Neonatus: Studi Retrospektif di Rumah Sakit Wangaya Denpasar Predani, Ni Luh Putu Diaswari; Bikin Suryawan, I Wayan; Suryaningsih, Putu Siska
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.322-7

Abstract

Latar belakang. Kematian pada masa neonatal masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada bayi dan balita di Indonesia pada tahun 2021 dengan angka kematian bayi di Indonesia 12 dari 1000 bayi lahir hidup. Upaya untuk menurunkan angka kematian neonatus di Indonesia terus dilakukan dengan target 9 per 1000 kelahiran pada tahun 2025. Berat badan lahir rendah, asfiksia, prematuritas, kelainan kongenital serta sepsis menjadi faktor risiko tertinggi kejadian kematian neonatus. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatus di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya, Denpasar.Metode. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional cross-sectional dengan data sekunder menggunakan rekam medis. Teknik pengambilan sampel adalah dengan consecutive sampling dengan total sampel 114 neonatus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti adalah berat badan lahir rendah, asfiksia, prematuritas, kelainan kongenital dan infeksi. Data dianalisis dengan SPSS versi 23 mengunakan uji Chi-square. Hubungan antar variabel dikatakan signifikan apabila nilai p<0,05 dengan interval kepercayaan 95%.Hasil. Faktor yang berhubungan dengan kematian neonatus adalah berat badan lahir rendah (p=0,001 dan RP 2,02 dengan IK 95%: 1,18-3,07), asfiksia (p=0,000 dan RP 2,56 dengan IK 95%: 1,7-3,85) dan usia kehamilan kurang bulan (p=0,000 dan RP 2,52 dengan IK 95%: 1,68-3,89). Sedangkan kelainan kongenital dan infeksi tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian kematian neonatus (p=0,1 RP 1,6; 95%; IK 95%: 1,09-2,44 dan p=0,5 RP 1,14; IK 95%: 0,7-1,68)Kesimpulan. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara berat badan lahir rendah, asfiksia dan usia kehamilan kurang bulan dengan kematian neonatus di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya, Denpasar.
Perbedaan Kadar Vitamin 25-Oh-D antara Nefritis Lupus dengan Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak Putri, Elita Verina Adikara; Subandijah, Krisni; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.305-9

Abstract

Latar belakang. Lupus eritematosus sistemik adalah penyakit autoimun yang bisa berdampak pada manifestasi klinis di beberapa organ tubuh. Nefritis lupus termasuk salah satu konsekuensi manifestasi klinis LES derajat berat pada ginjal. Kadar vitamin D dalam tubuh dapat turun pada LES dan nefritis lupus karena faktor insufisiensi ginjal dan penggunaan obat-obatan kortikosteroid. Di Indonesia, belum terdapat penelitian yang melihat perbandingan kadar vitamin D antara nefritis lupus dan LES pada anak. Tujuan. Untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin 25-OH-D antara nefritis lupus dengan lupus eritematosus sistemik pada anak. Metode. Penelitian analitik observasional ini menggunakan metode cross sectional pada subjek penelitian 17 pasien LES anak dan 17 pasien nefritis lupus anak di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang. Data hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin 25-OH-D pada pasien LES anak maupun nefritis lupus anak paling banyak tergolong insufisiensi. Analisis data dengan uji komparatif Mann Whitney.Hasil. Perbedaan signifikan didapatkan pada kadar vitamin 25-OH-D antara nefritis lupus dengan LES (p=0,004). Analisis data dengan uji korelatif Spearman menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara klasifikasi kadar vitamin 25-OH-D dengan peningkatan keparahan LES pada terjadinya nefritis lupus (p=0,003). Kesimpulan. Kadar vitamin 25-OH-D pasien nefritis lupus anak lebih rendah dibandingkan dengan pasien LES anak, serta klasifikasi kadar vitamin 25-OH-D berkolerasi negatif dengan keparahan penyakit LES pada anak dengan terjadinya nefritis lupus.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue