cover
Contact Name
Arief Rakhman Affandi
Contact Email
arieftmin@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
adminjiphp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian
ISSN : 2581088X     EISSN : 2581110X     DOI : -
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian is a scientific journal that published in PGRI Semarang University. The Scope of reasearch articles are some topics that related with : 1.Food Microbiology 2.Food Biochemistry 3.Food Chemical, 4.Food Engineering, 5.Food waste industry Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian will be published 2 (two) volumes in a year on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2022)" : 10 Documents clear
Karakteristik Biskuit Tepung Mocaf dan Tepung Kulit Biji Kedelai Kuning (Glycine max) Wardani, Marisa Kusuma; Jariyah, Jariyah; Anggreini, Riski Ayu
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11934

Abstract

Kulit biji kedelai kuning merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dari produksi tempe yang belum digunakan secara maksimal, selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak padahal masih memiliki kandungan zat gizi yang banyak salah satunya adalah serat pangan. Kandungan serat pangan yang tinggi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam pembuatan biskuit (dengan cara diolah menjadi tepung) bersama dengan tepung mocaf (pengganti tepung terigu) dan bahan pendukung lainnya seperti kuning telur sebagai sumber lemak, stevia dan sukralosa sebagai pemanis rendah kalori. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Faktor pertama yaitu perbandingan proporsi tepung mocaf dan tepung kulit biji kedelai kuning (90:10%, 80:20%, 70:30%, 60:40%, 50:50% dan 40:60%) dan faktor kedua yaitu penambahan kuning telur (4%,6% dan 8%). Data yang diperoleh di analisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan uji lanjut Duncans Multiple Range Test (DMRT) taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biskuit terbaik diperoleh pada perlakuan perbandingan proporsi tepung mocaf : tepung kulit biji kedelai kuning (40:60) dan kuning telur 8% dengan kadar air 6,92%, abu 1,65%, lemak 11,83%, protein 7,46%, karbohidrat 72,15%, memiliki nilai skoring organoleptik warna 3,04 (sedikit coklat), aroma 3,48 (kuat khas kulit biji kedelai kuning), rasa 2,76 (tidak berasa kulit biji kedelai kuning) dan tekstur 2,92 (sedikit renyah). 
Karakteristik Infused Water Nanas, Mentimun, dan Jahe dengan Variasi Waktu Perendaman Maherawati, Maherawati; Sari, Bella Puspita; Hartanti, Lucky
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.10631

Abstract

Infused water adalah minuman dengan tambahan potongan buah, sayur, atau herbal yang direndam selama waktu tertentu sehingga memberikan cita rasa pada air sekaligus mempunyai manfaat untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik infused water yang dibuat dari nanas, mentimun, dan jahe selama perendaman dan menentukan waktu perendaman terbaik infused water dari ketiga bahan tersebut. Parameter yang diamati adalah total padatan terlarut, pH, kadar vitamin C, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infused water yang dibuat dari nanas, mentimun, dan jahe menunjukkan peningkatan total padatan terlarut, penurunan pH, perubahan kadar vitamin C dan aktivitas antioksidan. Kecenderungan perubahan karakteristik pada infused water sesuai dengan karakteristik bahan dasarnya. Kadar vitamin C dan aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh pada waktu perendaman 9 jam pada semua bahan. Waktu perendaman yang menghasilkan karakteristik terbaik pada infused water nanas, mentimun, dan jahe adalah 9 jam. Karakteristik terbaik infused water nanas mempunyai pH 4,74, TPT 3,33°Brix, vitamin C 13,79 mg/100g, dan antioksidan 20,62%. Infused water mentimun mempunyai pH 6,63, TPT 0,97°Brix, vitamin C 7,63 mg/100g, dan antioksidan 25,11%. Infused water jahe mempunyai pH 6,68, TPT 1,23°Brix, vitamin C 7,29 mg/100g, dan antioksidan 28,65%.
Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Senyawa Bioaktif Sorgum dan Potensinya terhadap Kesehatan Anggreini, Riski Ayu; Choiriyah, Nurul Azizah
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11980

Abstract

Sorgum sebagai salah satu bahan pangan dari golongan serealia, sangat potensial digunakan sebagai pangan fungsional yang nantinya digunakan untuk pencegahan penyakit kronis. Beberapa penelitian menyampaikan bahwa sorgum memiliki senyawa bioaktif diantaranya adalah senyawa fenolik yang terdiri dari asam fenolik, flavonoid, dan tanin. Kandungan senyawa bioaktif tersebut diduga berpotensi terhadap kesehatan, namun demikian jumlahnya dapat mengalami perubahan akibat proses pengolahan. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait manfaat sorgum khususnya pada kandungan senyawa bioaktifnya. Pengaruh proses pengolahan sorgum terhadap kandungan senyawa bioaktif dan potensinya bagi kesehatan. Perendaman, pengukusan, peerebusan, pemanasan kering menggunakan microwave, dan perkecambahan secara signifikan dapat menurunkan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan sorgum. Sementara, proses fermentasi dan iradiasi sinar gama dosis 2,0 kGy mampu meningkatkan kadar senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan sorgum. Senyawa fenolik merupakan senyawa berkontontribusi untuk kesehatan tubuh manusia diantaranya untuk mencegah stres oksidatif, antidiabetes, antiobesitas, dan memiliki efek positif terhadap mikrobiota usus.
Pengaruh Perbedaan Jenis Kemasan Terhadap Aktivitas Antioksidan Produk (Dark Dan Milk) Cokelat Dengan Metode DPPH Lubis, Novriyanti; Humairah, Annisa Umi; Purnamasari, Resty; Prasetiawati, Riska; Junaedi, Effan Cahyati
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11589

Abstract

Cokelat yang dikonsumsi sehari-hari memiliki kandungan yang beragam, antara lain protein, lemak, karbohidrat, senyawa polifenol, flavonoid serta metilxantin. Polifenol kakao utamanya flavonoid mempunyai potensi sebagai bahan antioksidan alami. Produk cokelat yang beredar di pasaran memilki perbedaan pada kemasannya, yaitu ada yang dikemas dengan aluminium foil dan ada yang dikemas dengan plastik. Untuk mengetahui adanya pengaruh yang diberikan dari perbedaan kemasan terhadap aktivitas antioksidan yang terdapat pada produk (dark dan milk) cokelat. Dengan metode DPPH. Produk (dark dan milk) cokelat diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% selama 3x24 jam. Terjadi penurunan aktivitas antioksidan setelah disimpan selama 14 hari pada suhu kamar. Kemasan plastik memberikan persentase penurunan lebih besar dibanding dengan kemasan aluminium foil. Pada dark cokelat sampel kemasan aluminium foil terjadi penurunan sebesar 10,191%, sedangkan kemasan plastik sebesar 14,931%. Pada milk cokelat sampel kemasan aluminium foil terjadi penurunan sebesar 9,861%, sedangkan kemasan plastik sebesar 15,455%. Perbedaan jenis kemasan dapat mempengaruhi tingkat aktivitas antioksidan pada produk dark dan milk cokelat. Produk cokelat dengan kemasan plastik mengalami penurunan aktivitas antioksidan yang lebih besar daripada produk cokelat dengan kemasan aluminium foil
Substitusi Tepung Tempe Sebagai Sumber Zat Besi Terhadap Karakteristik Organoleptik Sosis Ikan Teri Siti Sania Bilqis; Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Muhammad Nur Hasan Syah; Nanang Nasrullah
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022): .
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.12473

Abstract

Anemia is a global health problem that affects a third of the world's population, one of which is the lack of iron-containing food sources. The aim of this study was to analyze the nutritional content, iron content, and organoleptic properties of the selected formulation of anchovy sausage substituted with tempeh flour as an iron-rich snack. This study used a one-factor Completely Randomized Design (CRD) method with three different treatments and two repetitions. The proportions of tempeh flour with anchovy are F1 (35:45), F2 (40:40), and F3 (45:35). The results of the ANOVA test showed that there was no significant effect (P>0.05) on water content, ash content, protein content, fat content, carbohydrate content, and iron content. The results of the Kruskal-Wallis test showed that there was no significant effect (p>0.05) on the panelists' preference for color, aroma, taste, and texture characteristics. The sausage formula was selected through the exponential comparison method (MPE), namely the F3 formula. The serving dose of the selected formula sausage has an energy content of 228 kcal; protein 16.4 g; fat 11.3 g; carbohydrates 15 g; 2.4 mg of iron in one serving, which is 100 grams.
Pengaruh Suhu Pengeringan terhadap Karakteristik Pengeringan Pasta Spaghetti Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Siqhny, Zulhaq Dahri; Putri, Soraya Kusuma
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11596

Abstract

Pemanfaatan umbi gadung masih terbatas karena adanya senyawa antinutrisi seperti sianida. Setelah penghilangan senyawa sianida, umbi gadung dapat diolah menjadi produk pangan alternatif yang kaya karbohidrat seperti pasta spaghetti. Pada produksi pasta spaghetti umbi gadung, pengeringan memegang peranan penting untuk mengurangi kadar air produk dan meningkatkan masa simpan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kondisi operasi pengeringan (suhu pengeringan dan formulasi) terhadap kecepatan pengeringan pasta spaghetti umbi gadung. Pasta spaghetti umbi gadung dicetak dengan alat extruder (formulasi protein tepung tinggi, sedang, dan rendah) kemudian dikeringkan dalam alat pengering selama 180 menit. Setiap 15 menit, dilakukan pengujian kadar air secara gravimetri. Pengeringan dilakukan pada suhu 30,50, dan 70℃. Sebagai hasilnya, kenaikan suhu mempercepat proses pengeringan. Formulasi tepung umbi gadung dengan tepung terigu protein rendah memiliki kecepatan pengeringan paling tinggi. Dibutuhkan waktu 6-7 jam untuk memperoduksi pasta spaghetti umbi gadung dengan kadar air rendah.
Karakteristik Minuman Sinbiotik Soyghurt Kedelai ( Glycine Max ) Dan Edamame ( Glycine Max (L) Merill ) Dengan Penambahan Inulin Pada Konsentrasi Yang Berbeda Santosa, Arif Prashadi; Purnawanto, Agus Mulyadi; Salsabilah, Anggi Maulida
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11822

Abstract

Minuman sinbiotik merupakan minuman yang mengandung bakteri probiotik sekaligus prebiotik sebagai bahan pangan bakteri probiotik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis kedelai, konsentrasi inulin dan interaksinya terhadap kandungan proksimat dan organoleptik minuman sinbiotik soyghurt. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agroteknologi dasar Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto mulai bulan Oktober hingga November 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama jenis kedelai: Kedelai ( Glycine max ) (K1) dan Edamame ( Glycine max L. Merill ) (K2). Faktor kedua konsentrasi Inulin: 0% (I0), 3% (I1), 5% (I2), dan 7% (I3). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jenis kedelai (K) berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak, karbohidrat, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan warna soyghurt. Variasi konsentrasi inulin (I) berpengaruh nyata terhadap kadar air, pH, kadar protein, karbohidrat, viabilitas bakteri asam laktat (BAL), dan tingkat kesukaan warna, aroma, rasa, kekentalan, dan kesukaan keseluruhan. Interaksi K dan I berpengaruh nyata terhadap analisis proksimat pada variabel kadar air, pH, kadar protein, kadar lemak, karbohidrat dan viabilitas bakteri asam laktat. Sedangkan terhadap analisis sensoris berpengaruh nyata terhadap variabel warna, aroma, rasa, kekentalan dan kesukaan. Perlakuan terbaik berdasarkan uji proksimat dan sensoris adalah perlakuan kedelai edamame dengan penambahan konsentrasi inulin 3% ( K2I1 ) dengan kadar air 85,2%, pH 4,45%, kadar abu 0,32%, kadar protein 3,14%, kadar lemak 2,78%, kadar serat 0,021%, karbohidrat 8,55% dan viabilitas BAL 4,2x108 CFU/ml. Warna 4.35 ( Netral ), aroma 4,05 ( Netral ), rasa 3,6 ( Netral ), kekentalan 4,25 ( Netral ) dan kesukaan keseluruhan 3,95 ( Netral ).
KAJIAN SIFAT FISIK, KIMIA, DAN SENSORI FRUIT LEATHER BELIMBING WULUH (Averrhoa billimbi L) DENGAN PENAMBAHAN PEMANIS RENDAH KALORI STEVIA (Stevia rebaudiana) Nopiani, Yanti; Purwaningtyas, Ratna Yuniar; Mursyid, Harsanto; Pramana, Angga
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11959

Abstract

Fruit leather is made from a mixture of crushed fruit (puree) were dried at 70°C for 8 until 15 hours with a thickness ranging from 2-3mm and commonly being consumed directly as a snacks. Belimbing wuluh contains 25mg of vitamin C and several nutrient contains, but it consumption is  still low because of the sour taste. Belimbing wuluh is only used as an additional ingredient for cooking. Belimbing wuluh can be used as raw material of fruit leather as a snack to increase the consumption and economic value. The stevioside extract is being added to cover the sour taste and the alternative low calorie sweetener.The purpose of the study was to determine the effect of the concentration of stevioside as a sweetener in low calorie (0%; 0.05%; 0.10% and 0.15%) based on the characteristics of the physical, chemical, and sensory fruit leather. The research uses one factor of Completely Randomized Design (CRD) wich is variation increasing of stevioside extract (0%; 0,05%; 0,10%; 0,15%). The result showed that steviosie extract has no effect on the texture (hardness), water content, and vitamin C, but it influences to the total dietary fiber and total calorie. The addition of extracy stevioside does not influence to the color, aroma, texture but influential the taste. The higher the concentration of extract stevioside given the fruit flavors are increasingly favored leather panelists however leave a bitter aftertaste. Samples of fruit leather is most preferred by consumers is fruit leather belimbing wuluh with the addition of stevia 0.15% (hardness = 1592gf; water content = 21%; vitamin C = 18.040; total calories = 3.612 kcal / g; total dietary fiber = 10.490%) is a formulation that has the potential to make Averrhoa billimbi L fruit leather. 
Nilai Gizi Dan Uji Sensois Mi BasahTepung Garut (Maranta Arundinacea L) Sebagai Alternatif Makanan Bagi Penderita Diabetes Melitus Nutritional Value and Sensory Test of Garut Flour Wet Noodles (Maranta Arundinacea L) as an Alternative Food for People with Diabetes Mellitus Maylanti, Dina; Rahmawati, Yuniarti Dewi; Masrikhiyah, Rifatul
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.12610

Abstract

ABSTRAKDiabetes Melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa di dalam darah (hiperglikemia), Umbi garut (Maranta Arundinacea L) memiliki kemampuan yang dapat menurunkan gula darah 24% sampai dengan 33% dengan nilai indeks glikemik terendah yaitu 14 dibandingkan umbi-umbian lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung garut terhadap kandungan serat pangan, mutu sensoris mi basah, serta mengetahui hasil uji proksimat. Metode penelitian yang digunakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor yang dicoba yaitu proporsi tepung garut dan tepung terigu yang terdiri dari 5 taraf (G1 0%:100%; G2 15%:85%; G3 30%:70%; G4 45%:55% dan G5 60%:40%) dengan 3 kali ulangan. Pengujian hipotesis menggunakan uji ANOVA untuk mengetahui pengaruh nyata penambahan tepung garut dalam pembuatan mi basah terhadap kandungan serat pangan dan mutu sensoris. Hasil uji sensoris warna pada mi basah tepung garut berkisar antara 2,60 – 3,24 (kuning) dengan nilai P = 0,038. Aroma mi basah tepung garut berkisar antara 2,60 – 3,16 (harum) dengan nilai P = 0,151. Rasa mi basah tepung garut berkisar antara 2,48 – 3,04 (gurih) dengan nilai P = 0,145. Tekstur mi basah tepung garut berkisar antara 2,80 – 3,40 (kenyal) dengan nilai P = 0,043. Kandungan serat pangan mi basah tepung garut berkisar antara 3,74% - 8,55% dengan nilai P = 0,000. Hasil uji proksimat diperoleh mi basah dengan proporsi tepung garut mengandung kadar karbohidrat sebesar 52,84%, kadar protein 10,3%, kadar lemak 1,27%, kadar abu 1,2%, dan kadar air 34,39. Proporsi tepung garut dengan tepung terigu tidak berpengaruh terhadap aroma dan rasa mi basah. Proporsi tepung garut dan tepung terigu berpengaruh nyata terhadap warna, tekstur dan kadar serat pangan. ABSTRACTDiabetes Mellitus is a disease characterized by an increase in glucose levels in the blood (hyperglycemia), arrowroot tubers (Maranta Arundinacea L) have the ability to lower blood sugar by 24% to 33% with the lowest glycemic index value of 14 compared to other tubers. This study aims to determine the effect of the addition of arrowroot flour on the dietary fiber content, sensory quality of wet noodles, and find out the results of proximate tests. The research method used used a complete randomized design (RAL) with one factor tried, namely the proportion of arrowroot flour and wheat flour consisting of 5 levels (G1 0%: 100%; G2 15%:85%; G3 30%:70%; G4 45%:55% and G5 60%:40%) with 3 repeats. Hypothesis testing uses the ANOVA test to determine the real effect of the addition of arrowroot flour in the manufacture of wet noodles on dietary fiber content and sensory quality. The results of the color sensory test on wet noodles of arrowroot flour range from 2.60 – 3.24 (yellow) with a value of P = 0.038. The aroma of arrowroot flour wet noodles ranges from 2.60 – 3.16 (fragrant) with a value of P = 0.151. The taste of arrowroot flour wet noodles ranges from 2.48 – 3.04 (savory) with a value of P = 0.145. The texture of wet noodles of arrowroot flour ranges from 2.80 – 3.40 (chewy) with a value of P = 0.043. The dietary fiber content of wet noodles of arrowroot flour ranges from 3.74% - 8.55% with a value of P = 0.000. The results of the proximate test obtained wet noodles with the proportion of arrowroot flour containing carbohydrate content of 52.84%, protein content of 10.3%, fat content of 1.27%, ash content of 1.2%, and water content of 34.39. The proportion of arrowroot flour with wheat flour has no effect on the aroma and taste of wet noodles. The proportion of arrowroot flour and wheat flour has a significant effect on the color, texture and fiber content of the diet.
KARAKTERISTIK MUTU KIMIA MADU HUTAN LEBAH Apis dorsata DI KECAMATAN LUNYUK Pathiassana, Mega Trishuta
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.12430

Abstract

Apis dorsata forest honey is one of the superior products of communities bordering forest areas such as people in Lunyuk District. One of the important things to know the quality of forest honey is chemical quality testing. This study aims to analyze the chemical quality characteristics of forest honey originating from Lunyuk District in terms of pH value, sugar content, water content, and ash content. The method used in this study is a laboratory test. The test of each parameter was repeated 3 times to ensure the stability and average of each test of these parameters. The results of this study showed a pH value of 3.44; total sugar content 68obrix; water content 32%; and 0.4% ash content.

Page 1 of 1 | Total Record : 10