FIKRI : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
JURNAL FIKRI adalah jurnal berkala Ilmiah yang diterbitkan oleh Institut Agama Islam (IAIMNU) Metro Lampung. Jurnal Fikri memuat artikel hasil penelitian maupun artikel konseptual (baik kualitatif lapangan atau kualitatif pustaka) dengan fokus kajian di bidang “Kajian Agama, Sosial dan Budayaâ€. Pengelola (Redaksi) mengundang para ilmuan, sarjana, peneliti, LSM maupun mahasiswa untuk mengembangkan keilmuan dan mempublikasi hasil penelitiannya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bestari, dan proses penyuntingan. Jurnal Fikri terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember). Jurnal Fikri telah menggunakan Open Journal System (OJS). P-ISSN: 2527-4430 dan E-ISSN: 2548-7620.
Articles
352 Documents
ESENSI TRADISI MANTU KUCING DI KABUPATEN PACITAN (PERSPEKTIF NILAI-NILAI AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN)
Efi Tri Astuti;
Septian Kurnia Sari;
Rahmad Alim Witari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1888
Budaya dan tradisi merupakan wujud keberagaman Indonesia yang dibingkai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Upacara adat mantu Kucing merupakan upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang. Upacara tersebut dilakukan oleh warga di Dusun Njati,Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan sejak tahun 1960an. Terjadi pro dan kontra ditengah masyarakat ketika upacara ini dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang sejarah dan rangkaian proses, bentuk dan makna ritual, dan menelaah esensi dari tradisi Mantu Kucing di Kabupaten Pacitan perspektif nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif – fenomenologi, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring perkembangan IPTEKS dan terinternalisasinya nilai keagamaan dalam masyarkat menjadikan upacara tersebut mengalami pergeseran peran dari upacara sakral menjadi pameran budaya. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengikis tindakan yang mengarah pada perbuatan syirik, tanpa mengubah tahapan prosesi maupun makna simbolisnya. Dalam perspektif nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, esensi dari upacara adat mantu kucing terdiri atas: (1) Nilai Ketauhidan; (2) Nilai Kepribadian; (3) Nilai Sosial Kemasyarakatan; (4) Nilai kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam hidup bermasyarakat, agama dan budaya dapat hidup berdampingan, diperlukan keluasan berpikir dan sikap saling menghargai.
HUBUNGAN SEJARAH PERKEMBANGAN NAHDLATUL ULAMA DENGAN MASYARAKAT DAERAH TRANSMIGRASI DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI (1981-2019)
Ahmad Faujiyanto;
Isjoni Isjoni;
Yuliantoro Yuliantoro;
Bedriati Ibrahim
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1895
Nahdlatul Ulama merupakan salah satu Ormas Islam terbesar yang ada di Indonesia, berdiri pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Penelitian ini membahas hubungan antara perkembangan Nahdlatul Ulama dengan peran masyarakat transmigrasi di Kabupaten Kuantan Singingi, yang merupakan salah satu bagian dari Provinsi Riau di Pulau Sumatera.. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian ini adalah awal mula masyarakat mengenal transmigrasi mengenal Nahdlatul Ulama adalah ketika masih di Pulau Jawa, hal ini ditandai dengan pelaksanaan amaliyah yang sesuai dengan kebiasaan warga Nahdliyin. Peran masyarakat terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama adalah dalam proses pembentukkan Nahdlatul Ulama sebagai sebuah organisasi, peran lainnya yaitu dalam dakwah dan pendirian lembaga pendidikan. Perkembangan Nahdlatul Ulama dari tahun 1981 hingga 2019 cukup pesat, hal ini dapat dilihat dari kegiatan dan program yang ada. Tantangan dalam perkembangan Nahdlatul Ulama adalah dalam hal administrasi, dan pengaruh globalisasi. Dampak dengan adanya Nahdlatul Ulama di daerah transmigrasi terhadap masyarakat yaitu dalam bidang pendidikan, sosial budaya, dan kepemudaan.
KANDUNGAN TEOLOGIS DALAM BARAPAN KEBO PERMAINAN TRADISIONAL TAU SAMAWA DI PULAU SUMBAWA
Amir Ma'ruf
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1898
Pemajuan budaya merupakan amanat undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya yang memungkinkan pemanfaatan objek pemajuan budaya untuk membangun karakter bangsa, meningkatkan ketahanan budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan peran aktif dan pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional melalui internalisasi nilai budaya. Dalam hal ini Barapan Kebo merupakan objek pemajuan budaya yang potensial untuk menarik wisatawan mancanegara. Berdasarkan teori bahwa ajaran agama yang dianut oleh suatu masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembentukan budaya masyarakat, maka internalisasi ajaran agama dalam Barapan Kebo perlu ditelusuri untuk dipahami dan dipertahankan oleh masyarakat Sumbawa khususnya dan untuk dikenal oleh masyarakat dunia umumnya. Penelusuran tersebut dilakukan melalui observasi terhadap even barapan kebo yang diselenggarakan secara rutin dan wawancara yang mendalam kepada para pakar budaya dan agama. Dengan analisis kualitatif ditemukan bahwa Barapan Kebo sangat sarat dengan ajaran agama Islam, baik dalam aturan maupun dalam proses permainannya. Nilai-nilai teologis yang ditemukan mencakup seluruh fase kehidupan manusia, semenjak fase kelahiran sehingga fase kematian.
PROSES TRANSMISI DAN SOSIALISASI AJARAN KHALWATIYAH DI KABUPATEN TOLITOLI
Kasmiati kasmiati
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1117
Bertahannya ajaran Khalwatiyah di masyarakat Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Selatan karena adanya proses transmisi dan sosialisasi. Proses transmisi dan sosialisasi ini dapat diidentifikasi dalam konteks historisnya. Sejarah ajaran Khalwatiyah dalam proses sosialisasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat dapat menerima ajaran ini. Dari sini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses transmisi dan sosialisasi ajaran Khalwatiyah kepada masyarakat Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah yang dikaji dengan pendekatan sosio-kultural-historis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa proses penyampaian ajaran Khalwatiyah di masyarakat pada umumnya berlangsung secara lisan, meskipun transmisi tertulis juga dilakukan. Upaya mensosialisasikan ajaran ini, jemaah menggunakan pendekatan kekeluargaan dan kesukuan. Melalui pendekatan ini, proses transmisi dan sosialisasi dapat diterima masyarakat dengan baik sehingga ajaran Khalwatiyah dapat hidup di masyarakat Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Selatan.
PROBLEMATIKA ALIRAN KEPERCAYAAN DAN KEBATINAN SEBAGAI AGAMA ASLI INDONESIA
Jarman Arroisi;
Syamsul Badi;
Martin Putra Perdana;
Ahmad Tauhid Mafaza
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1739
Penghayat Aliran Kepercayaan dan Kebatinan (AKK) akhir-akhir ini mendapatkan kehormatan sangat tinggi. Pasalnya, dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 07 November 2017, AKK yang semula tidak termasuk dalam agama, saat itu setara dengan agama. Padahal AKK yang mereka klaim sebagai agama asli Indonesia memiliki banyak persoalan. Bukan hanya esensi kepercayaan yang bermasalah, tetapi juga sumber kepercayaan dan pelaksanaan ritualnya yang masalah. Makalah ini betujuan untuk mengkaji problem AKK sebagai agama asli Indonesia. Dengan metode deskriptif-kritis kajian ini menemukan beberapa poin penting. Pertama, konsep kepercayaan beberapa AKK memiliki perbedaan yang tinggi dan mempunyai kesamaan dengan ajaran agama resmi yang diakui negara. Kedua, sumber ajarannya berasal dari ide dan gagasan para pendiri AKK setelah berinteraksi dengan kekuatan gaib. Ketiga, ritual yang dijalankan pun tidak hanya menyembah Tuhan, melainkan juga untuk mendapatkan wahyu dari Tuhan seperti para pendirinya. Perbedaan dalam keyakinan, ajaran dan ritual dari setiap aliran tersebut yang membuat AKK tidak layak disebut sebagai Agama, selain itu, terdapat usaha sinkretisasi dengan ajaran agama resmi membuatnya tidak lagi dikatakan asli atau murni. Untuk penjelasan lebih lanjutnya, makalah ini menarik untuk dibaca.
STATUM AGAMA DALAM SEJARAH SAINS ISLAM DAN SAINS MODERN
Mohammad Muslih;
Amir Reza Kusuma;
Sofian Hadi;
Abdul Rohman;
Adrian Syahidu
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1845
Agama Islam berlandaskan wahyu berupa kitab suci al-Qur’an. Bagi saintis Muslim, al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang darinya dikembangkan segala macam disiplin ilmu. Ilmu syari’ah seperti, akidah, fikih, kalam, filsafat tanpa menafikan disiplin ilmu umum seperti astronomi, kedokteran, fisika, kimia dan sebaginya. Pada sisi yang berbeda, sains Modern menafikan peran agama dalam kajian keilmuan. Hingga pada akhirnya, sains Modern menjauhkan diri dari doktrin agama. Makalah ini terfokus mengkaji statum (posisi) agama dalam perspektif sains Islam dan sains Modern (Barat) dengan kajian kepustakaan yang menekankan pada aspek tekstual. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa agama adalah inheren tidak dapat dipisahkan dengan sains. Sains Islam berpegang kepada dîn atau agama, sedang sains Modern tidak lagi berpijak pada agama, hingga berakumulasi pada kerusakan yang ditimbulkan. Hal ini memicu saintis Muslim mengambil sikap tanggap yaitu dengan menyodorkan solusi gagasan Islamisasi terhadap sains Modern. Langkah tersebut sebagai respon atas dampak yang dirasakan oleh umat Islam. Islamisasi terhadap sains Modern selayaknya mampu menjadi solusi terhadap kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkan oleh para saintis Modern.
PENGEMBANGAN BUDAYA ISLAM PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA MENUJU CULTURAL WELLBEING
Sri Dewi Wulandari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1857
Di era globalisasi, upaya pengembangan masyarakat Islam untuk mengatasi persoalan sosial masyarakat perlu diiringi usaha pengembangan budaya untuk membentuk sistem berperilaku yang mapan dan identitas diri masyarakat yang kuat. Penelitian mengenai topik pengembangan budaya (culture development) masih belum banyak dilakukan, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia. Penelitian ini berupaya mengembangkan komponen pengembangan budaya menuju cultural wellbeing sebagai bagian dari pengembangan masyarakat pada konteks masyarakat Indonesia dengan kekhasan multikulturalismenya. Dalam penelitian kualitatif ini, penulis menggunakan strategi penelitian grounded theory, sehingga memungkinkan peneliti untuk “memproduksi” teori umum mengenai pengembangan budaya pada masyarakat multikulturalisme di Indonesia. Dari penelitian didapatkan kesimpulan yakni, untuk mencapai kesejahteraan budaya pada konteks pengembangan masyarakat Indonesia, ada empat komponen pembangunan budaya yang perlu diperhatikan yakni antara lain: 1) pengembangan budaya lokal; 2) pengembangan budaya nasional dalam lingkup kehidupan komunitas lokal; 3) pengembangan multikulturalisme budaya dalam interaksi antar budaya-budaya lokal lainnya; dan 4) pengembangan budaya-budaya baru berbasis nilai-nilai universal yang menunjang pengembangan masyarakat. Keempat komponen tersebut bersifat saling pengaruh mempengaruhi untuk membentuk cultural wellbeing.
ESENSI TRADISI MANTU KUCING DI KABUPATEN PACITAN (PERSPEKTIF NILAI-NILAI AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN)
Efi Tri Astuti;
Septian Kurnia Sari;
Rahmad Alim Witari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1888
Budaya dan tradisi merupakan wujud keberagaman Indonesia yang dibingkai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Upacara adat mantu Kucing merupakan upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang. Upacara tersebut dilakukan oleh warga di Dusun Njati,Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan sejak tahun 1960an. Terjadi pro dan kontra ditengah masyarakat ketika upacara ini dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang sejarah dan rangkaian proses, bentuk dan makna ritual, dan menelaah esensi dari tradisi Mantu Kucing di Kabupaten Pacitan perspektif nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif – fenomenologi, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring perkembangan IPTEKS dan terinternalisasinya nilai keagamaan dalam masyarkat menjadikan upacara tersebut mengalami pergeseran peran dari upacara sakral menjadi pameran budaya. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengikis tindakan yang mengarah pada perbuatan syirik, tanpa mengubah tahapan prosesi maupun makna simbolisnya. Dalam perspektif nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, esensi dari upacara adat mantu kucing terdiri atas: (1) Nilai Ketauhidan; (2) Nilai Kepribadian; (3) Nilai Sosial Kemasyarakatan; (4) Nilai kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam hidup bermasyarakat, agama dan budaya dapat hidup berdampingan, diperlukan keluasan berpikir dan sikap saling menghargai.
HUBUNGAN SEJARAH PERKEMBANGAN NAHDLATUL ULAMA DENGAN MASYARAKAT DAERAH TRANSMIGRASI DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI (1981-2019)
Ahmad Faujiyanto;
Isjoni Isjoni;
Yuliantoro Yuliantoro;
Bedriati Ibrahim
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1895
Nahdlatul Ulama merupakan salah satu Ormas Islam terbesar yang ada di Indonesia, berdiri pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Penelitian ini membahas hubungan antara perkembangan Nahdlatul Ulama dengan peran masyarakat transmigrasi di Kabupaten Kuantan Singingi, yang merupakan salah satu bagian dari Provinsi Riau di Pulau Sumatera.. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian ini adalah awal mula masyarakat mengenal transmigrasi mengenal Nahdlatul Ulama adalah ketika masih di Pulau Jawa, hal ini ditandai dengan pelaksanaan amaliyah yang sesuai dengan kebiasaan warga Nahdliyin. Peran masyarakat terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama adalah dalam proses pembentukkan Nahdlatul Ulama sebagai sebuah organisasi, peran lainnya yaitu dalam dakwah dan pendirian lembaga pendidikan. Perkembangan Nahdlatul Ulama dari tahun 1981 hingga 2019 cukup pesat, hal ini dapat dilihat dari kegiatan dan program yang ada. Tantangan dalam perkembangan Nahdlatul Ulama adalah dalam hal administrasi, dan pengaruh globalisasi. Dampak dengan adanya Nahdlatul Ulama di daerah transmigrasi terhadap masyarakat yaitu dalam bidang pendidikan, sosial budaya, dan kepemudaan.
KANDUNGAN TEOLOGIS DALAM BARAPAN KEBO PERMAINAN TRADISIONAL TAU SAMAWA DI PULAU SUMBAWA
Amir Ma'ruf
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25217/jf.v6i2.1898
Pemajuan budaya merupakan amanat undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya yang memungkinkan pemanfaatan objek pemajuan budaya untuk membangun karakter bangsa, meningkatkan ketahanan budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan peran aktif dan pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional melalui internalisasi nilai budaya. Dalam hal ini Barapan Kebo merupakan objek pemajuan budaya yang potensial untuk menarik wisatawan mancanegara. Berdasarkan teori bahwa ajaran agama yang dianut oleh suatu masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembentukan budaya masyarakat, maka internalisasi ajaran agama dalam Barapan Kebo perlu ditelusuri untuk dipahami dan dipertahankan oleh masyarakat Sumbawa khususnya dan untuk dikenal oleh masyarakat dunia umumnya. Penelusuran tersebut dilakukan melalui observasi terhadap even barapan kebo yang diselenggarakan secara rutin dan wawancara yang mendalam kepada para pakar budaya dan agama. Dengan analisis kualitatif ditemukan bahwa Barapan Kebo sangat sarat dengan ajaran agama Islam, baik dalam aturan maupun dalam proses permainannya. Nilai-nilai teologis yang ditemukan mencakup seluruh fase kehidupan manusia, semenjak fase kelahiran sehingga fase kematian.