cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
FIKRI : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
ISSN : 25274430     EISSN : 25487620     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL FIKRI adalah jurnal berkala Ilmiah yang diterbitkan oleh Institut Agama Islam (IAIMNU) Metro Lampung. Jurnal Fikri memuat artikel hasil penelitian maupun artikel konseptual (baik kualitatif lapangan atau kualitatif pustaka) dengan fokus kajian di bidang “Kajian Agama, Sosial dan Budaya”. Pengelola (Redaksi) mengundang para ilmuan, sarjana, peneliti, LSM maupun mahasiswa untuk mengembangkan keilmuan dan mempublikasi hasil penelitiannya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bestari, dan proses penyuntingan. Jurnal Fikri terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember). Jurnal Fikri telah menggunakan Open Journal System (OJS). P-ISSN: 2527-4430 dan E-ISSN: 2548-7620.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
SIMBOL AGAMA DAN ORGANISASI TRANSNASIONAL: LIWA’ DAN RAYAH DALAM BENDERA HIZBUT TAHRIR INDONESIA Dani Habibi
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.404

Abstract

This article aims to reveal the hermeneutical meaning behind the flags Liwa and Rayah. The two flags by Hizbu Tahrir Indonesia (HTI) are seen as the flag of the Prophet. However, this view was denied by other Islamic groups because the flags of Liwa and Rayah were the flags used by Taqiyyudin An-Nabhani when declaring the government of Khilfah Islamiyah. Flags Liwa and Rayah black and white, which Black called Rayah and white called Liwa'. The two flags read Laa illaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah. In making interpretations, the author uses Paul Ricoeur's hermeneutical theory. The interpretation debate is heating up when Hizbu Tahrir wants to replace the Pancasila ideology into the ideology of the Caliphate. The difference in interpretation, point of view and context of hadith is the main problem why researchers want to reinterpret. The hermeneutic approach according to researchers is appropriate if it is used for the method of interpreting hadith texts and religious symbols. This research includes qualitative research. Qualitative research is a type of library research that collects data from books, books, and journals. The results of this study are symbols in the HTI flag that have ideological and political movements. In this study, the flag symbol turned out to be a symbol of identity which led to the Islamic political movement. the movements and practices carried out by HTI are nothing but the change of the democratic system and the ideology of the Pancasila into the ideology of the Islamic Shari'a with the Khilafah Islamiyah system Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna hermeneutis di balik bendera Liwa dan Rayah. Kedua bendera tersebut oleh Hizbut Tahrir Indonesia dipandang sebagai bendera rasulullah. Namun pandangan tersebut dibantah oleh kelompok Islam lainya karena bendera liwa dan rayah adalah bendera yang digunakan oleh Taqiyyudin An-Nabhani ketika mendeklarasikan sistem pemerintahan Khilfah Islamiyah. Bendera liwa dan rayah berwarna hitam dan putih, yang Hitam dinamakan Rayah dan putih dinamakan Liwa’. Kedua bendera tersebut bertulisan Laa illaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah. Dalam melakukan interpretasi, penulis menggunakan teori hermeneutika Paul Ricoeur.. Perbedaan penafsiran, sudut pandang dan konteks hadis menjadi masalah utama kenapa peneliti ingin menafsirkan kembali. Pendekatan hermeneutika menurut peneliti sesuai jika digunakan untuk metode menafsirakan teks hadis dan simbol-simbol keagamaan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif jenis penelitian pustaka yang mengumpulkan data-data dari kitab, buku, dan jurnal. Adapun hasil dari penelitian ini adalah simbol dalam bendera HTI mempunyai makna ideologi dan gerakan politik. Dalam penelitian ini, simbol bendera tersebut ternyata sebagai lambang identitas yang berujung pada gerakan politik Islam. gerakan dan praktek yang dilakukan oleh HTI tidak lain adalah mengangganti sistem demokrasi dan ideologi Pancasila menjadi ideologi syari’at Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah
STRATEGI PENGUATAN INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM INDONESIA: TELAAH HISTORIS TRANSFORMASI FA-UII KE PTAIN ERA MENTERI AGAMA K.H. A. WAHID HASYIM Darul Abror
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.406

Abstract

This paper aims to discuss the politics of strengthening Islamic higher education institutions Era Minister of Religion K.H. A Wahid Hasyim which has never been studied by anyone. So this study becomes important to do. This paper uses "Interest Groups Theory" which has been incorporated in The Politics of Education Association (PEA) as its analytical tool so that it is relevant to the context of the discussion. The researcher uses the qualitative method "Library Research" with an educational political approach with a historical style. In this paper there are two important findings, First, the emergence of programs to strengthen Islamic higher education institutions in Indonesia on the basis of the construction of internal and external factors, namely the existence of praxis "Draw Motives" by using a rational and spiritual approach that is emphasized in the concept and practice. Second, in practice, is that the interaction pattern used by the Ministry of Religion KHA Wahid Hasyim in the process of strengthening Islamic higher education institutions in Indonesia is an interaction pattern of "Accommodative Compromising Associative". Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang politik penguatan institusi pendidikan tinggi Islam Era Menteri Agama K.H.A. Wahid Hasyim yang belum pernah diteliti oleh siapapun. Sehingga kajian ini menjadi penting untuk dilakukan. Tulisan ini menggunakan “Interest Groups Theory” yang sudah tergabung dalam The Politics of Education Association (PEA) sebagai pisau analisisnya sehingga relevan dengan konteks pembahasan. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif “Library Reseach” dengan pendekatan politik pendidikan dengan corak historis. Sedangkan dalam pengumpulan data diperoleh melakukan studi dokumentasi dan wawancara, dan teknik analisa data yang digunakan dengan teknik analisis kualitatif melingkar dengan memerikan, menggolongkan dan menggabungkan. Dalam tulisan ini terdapat dua temuan penting, Pertama, munculnya program penguatan institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia atas dasar konstruksi faktor internal dan eksternalnya adalah adanya praksis “Motif Imbang” dengan menggunakan pendekatan rasional dengan spiritual yang ditegaskan dalam konsep dan praksisnya. Temuan kedua, pada praksisnya, pola interaksi yang digunakan era Menteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim dalam proses penguatan institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia adalah pola interaksi “Asosiatif Akomodatif Kompromistis”.
ORIENTASI SEKSUAL KOMUNITAS GAY MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Harpan Reski Mulia
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.411

Abstract

This article aims to explore gay sexual orientation which is clashed with Islam and Psychology. In Islamic teachings, gay behavior that refers to acts of liwat} is an act that is forbidden. Even the death penalty is a threat to people who have a sexual orientation to the same sex. Based on this matter, this paper explores the case, where religious translations appear to meet irreconcilable needs, namely between gay and Islam. The research method used in this paper is qualitative with an approach Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The formal object used is the lens of the Vaillant version of the self-defense mechanisms theory. The results found in this study show that gays admit that their sexual orientation is a sin. They are aware of this as a whole, but none of the subjects of this study wish to leave Islam. The methods of gay in reconciling the conflict are: First, Islam is seen as a forgiving religion: Secondly, it is sinful to have sex outside marriage either homo or hetero and Third, sexual orientation is considered as the nature of God. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengeksplore orientasi seksual kaum gay yang dibenturkan dengan Agama Islam dan Psikologi. Di dalam Ajaran Islam, perilaku gay yang merujuk pada perbuatan liwath merupakan perbuatan yang diharamkan. Bahkan hukuman mati menjadi ancaman bagi orang yang memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis. Berdasarkan hal tersebut tulisan ini mengeksplorasi kasus, dimana terjemah agama muncul untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa didamaikan, yaitu antara gay dan Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif dengan pendekatan Interpretatif Phenomenological Analisis (IPA). Objek formal yang digunakan adalah lensa teori mekanisme pertahan diri versi Vailant. Adapun hasil yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa, gay mengakui bahwa orientasi seksual yang mereka miliki adalah dosa. Mereka menyadari hal tersebut secara utuh, namun tidak ada satupun dari subjek penelitian ini berkeinginan untuk meninggalkan Islam. Adapun cara-cara yang dilakukan gay dalam mendamaikan konflik tersebut, adalah: Pertama, Islam dipandang sebagai agama pengampun: Kedua, berdosa jika melakukan seks diluar nikah baik homo maupun hetero; dan Ketiga, orientasi seksual dianggap sebagai fitrah dari Tuhan.
HAK DAN KEWAJIBAN SEBAGAI DASAR NILAI INTRINSIK WARGA NEGARA DALAM MEMBENTUK MASYARAKAT SIPIL Fahdian Rahmandani; Samsuri Samsuri
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.426

Abstract

Rights and obligations are one of the important elements that need to be cared for by the state. In the context of citizenship, rights and obligations become intrinsically basic values of citizens in building a civil society. Almost everyone has understood between rights and obligations as citizens, but because everyone does various activities, their rights and obligations are often forgotten. In state life, sometimes the rights of citizens face each other's obligations. So the writing of this article aims to find out the mapping of citizenship rights and obligations broadly which can be the basis of an intrinsic study by citizens in shaping civil society. Writing this article uses the library study method. The results of this study are theoretical explanations about (1) Overview of citizenship. (2)The mapping between complex rights and obligations of citizens. (3) Citizenship Education as an instrument to strengthen the intrinsic value of citizens' rights and obligations. (4) Establishment of civil society. And (5) Discussion. Abstrak Hak dan kewajiban merupakan salah satu elemen penting yang perlu di rawat oleh negara. Dalam konteks kewarganegaraan, hak dan kewajiban menjadi nilai dasar secara intrinsik warga negara dalam membangun sebuah masyarakat sipil. Hampir semua orang telah memahami antara hak dan kewajiban sebagai warga negara, akan tetapi karena setiap orang melakukan aktivitas yang beragam maka apa yang menjadi hak dan kewajibannya seringkali terlupakan. Dalam kehidupan kenegaraan kadang hak warga negara saling berhadapan dengan kewajibannya. Maka penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan hak dan kewajiban kewarganegaraan secara luas yang dapat menjadi dasar kajian secara intrinsik oleh warga negara dalam membentuk masyarakat sipil. Penulisan artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian ini berupa penjelasan secara teoretis tentang (1) Sekilas tentang kewarganegaraan. (2) Pemetaan antara hak dan kewajiban warga negara secara kompleks. (3) Pendidikan Kewarganegaraan sebagai instrumen penguatan nilai intrinsik hak dan kewajiban warga negara. (4) Terbentuknya masyarakat sipil. Dan (5) Diskusi.
KONSTRUKSI IDEOLOGIS ISLAM MODERAT DI LINGKUNGAN KAMPUS: STUDI KASUS MA’HAD AL-JAMI’AH UIN SUNAN AMPEL SURABAYA DAN UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Haris Shofiyuddin
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.441

Abstract

The purpose of this article is to find out the position and role of Ma’had al-Ja>mi’ah at The State Islamic University of Sunan Ampel Surabaya and The State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang in strengthening the importance of Moderate Islam. In the context of this goal, this paper is expected to contribute to formulating a philosophical frame of mind and its application of Ma'had al-Ja>mi’ah's strategic position as an institution that takes part in strengthening the ideology of Moderate Islam. Practically, this research can be a basis and guideline for all campus stakeholders, both at the State Islamic University of Sunan Ampel Surabaya and the State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang, or other campuses regarding the importance of Ma'had al-Ja>mi’ah as a guarded front in supporting the mainstreaming of moderate Islam in the campus environment. In reviewing this matter, researchers used a type of qualitative research with a phenomenological approach. The results of this study are Ma'had al-Ja>mi’ah has played a role in strengthening the ideology of Moderate Islam on campus reflected in daily activities. These activities aim as habituation and also as a strategy, exemplary, and also fosters discipline and build a tolerant character. Besides that there are several activities to realize moderate Muslim attitudes in Ma'had al-Ja>mi'ah, cultural tolerance through fostering tolerant student life, understanding cultural diversity and moreover gaining human nature regardless of social or economic status. Abstrak Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui posisi dan peran Ma'had al-Ja>mi’ah UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperkuat pentingnya Islam Moderat. Dalam konteks tujuan ini, tulisan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam merumuskan kerangka berpikir filosofis dan penerapannya tentang posisi strategis Ma'had al-Ja>mi’ah sebagai lembaga yang mengambil bagian dalam memperkuat ideologi Islam Moderat. Secara Praktis, penelitian ini dapat menjadi pijakan dan pedoman bagi semua pemangku kepentingan kampus, baik di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, atau kampus lain mengenai pentingnya Ma'had al-Ja>mi’ah sebagai penjaga depan dalam mendukung pengarusutamaan Islam moderat di lingkungan kampus. Dalam mengkaji hal tersebut peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Ma'had al-Ja>mi’ah berperan dalam memperkuat ideologi Islam Moderat di kampus yang tercermin dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan sebagai pembiasaan dan juga sebagai strategi, keteladanan, dan juga menumbuhkan disiplin dan membangun karakter yang toleran. Selain itu ada beberapa kegiatan untuk mewujudkan sikap Muslim moderat di Ma'had al-Ja>mi’ah toleransi budaya melalui menumbuhkan kehidupan mahasiswa yang toleran, memahami keragaman budaya dan juga memahami sifat manusia terlepas dari status sosial atau ekonomi.
KONSEP POLIGAMI DALAM ALQURAN: STUDI TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB Siti Asiyah; Muhammad Irsad; Eka Prasetiawati; Ikhwanudin Ikhwanudin
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.443

Abstract

This paper aims to understand the interpretation of the polygamy verse from the perspective of contemporary Indonesian interpreters represented by M.Quraish Shihab as a problem solving for the rampant practice of polygamy in society. The discourse of polygamy in Islamic thought is an interesting controversy discussed. As offered by M. Quraish Shihab in his interpretation that polygamy in Islamic teachings is permissible not as a recommendation or as a mandatory thing, even then on fair terms. The existence of differences in each argument has the same basis of the Qur'anic text, namely Surat an-Nisa 'verse 3. The practice of polygamy sometimes has an impact on family relations that are not harmonious and unfair, on this basis polygamy needs to be reviewed with other approaches. To limit the study in this paper, this research uses a qualitative approach by applying a thematic interpretation method to obtain a comprehensive understanding of polygamy in the Qur'an. Polygamy in al-Misbah's interpretation is said to be fair, just here is not only immaterial (love and affection) but justice in measured material is not only obeying lust. Abstrak Tulisan ini bertujuan memahami tafsir ayat poligami perspektif mufassir Indonesia kontemporer yang diwakili oleh M.Quraish Shihab sebagai problem solving atas maraknya praktek poligami di masyarakat. Wacana poligami dalam pemikiran Islam menjadi kontroversi yang menarik dibahas. Sebagaimana ditawarkan M. Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwasanya poligami dalam ajaran Islam diperbolehkan bukan bersifat anjuran atau hal yang wajib, itupun dengan syarat adil. Adanya perbedaan setiap argumen mempunyai dasar yang sama dari teks al-Qur’an yaitu surat an-Nisa’ ayat 3. Praktik poligami terkadang berdampak pada hubungan keluarga yang tidak harmonis dan kurang adil, atas dasar ini poligami perlu dikaji ulang dengan pendekatan-pendekatan lain. Untuk membatasi kajian dalam tulisan ini maka, Penelitan ini menggunaan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode tafsir tematik (maud}u>’i) untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang poligami dalam al-Qur’an. Poligami dalam tafsir al-Misbah dikatakan boleh dengan syarat adil, adil di sini bukan hanya bersifat immaterial (cinta dan kasih sayang) melainkan keadilan pada materi yang terukur bukan hanya menuruti hawa nafsu.
ISLAM IN DIGITAL AGE: THE APPLICATION OF MAQĀSID AS-SYARI’AH ON DIGITAL ZAKAT umi cholifah
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.445

Abstract

The digital era is utilized by many institutions in facilitating consumers to transact. One of them is transaction for zakat. However, zakat is a worship commanded by Allah. Then, the use of digitizing zakat should also be submissive and obedient to the rules established by Allah. On the other hand, in the Islamic rules there is something very important which can be used to approach contemporary issues comprehensively. It is also the objectives of Islamic law contained in each rule. It is namely maqāsid as-syari’ah. Through descriptive normative study, this paper will offer concepts of maqāsid as-syari’ah which can be applied in zakat on digital finance. Finally, this study aims to explore the concepts of legality and strengthening strategies for zakat on digital finance based on maqāsid as-syari’ah. The results of this study is some verses that have the basic word zakat are in the first reference to explore the legal content of zakat on digital finance. From the legal basis, it appears that in legal concept, the provisions that exist in zakat on digital finance must be in accordance with the rules of zakat in Islam. As for steps to strengthen zakat in terms of two aspects, there are the scope of legal objectives and the subject. Abstrak Era digital dimanfaatkan oleh banyak lembaga dalam memfasilitasi konsumen untuk bertransaksi. Salah satunya adalah transaksi zakat. Namun, zakat merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Oleh karenaitu, penggunaan digitalisasi zakat juga harus tunduk dan patuh pada aturan yang ditetapkan oleh Allah. Di sisi lain, di dalam aturan Islam terdapat sesuatu yang sangat penting yang biasa digunakan untuk mendekati masalah kontemporer secara komprehensif. Hal ini juga merupakan suatu tujuan hukum Islam yang terkandung dalam setiap aturan, yang disebut dengan maqāsid as-syari'ah. Melalui studi normative deskriptif, tulisan ini menawarkan konsep maqāsid as-syari'ah yang dapat diterapkan dalam zakat pada keuangan digital. Akhirnya, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep legalitas dan memperkuat strategi zakat pada keuangan digital berdasarkan maqāsid as-syari'ah. Adapun hasil dari penelitian ini adalah beberapa ayat yang memiliki kata dasar zakat ada dalam referensi pertama untuk mengeksplorasi konten hukum zakat pada keuangan digital. Dari dasar hukum, tampak bahwa dalam konsep hukum, ketentuan yang ada dalam zakat pada keuangan digital harus sesuai dengan aturan zakat dalam Islam. Adapun langkah-langkah untuk memperkuat zakat dalam dua aspek yaitu ruang lingkup tujuan hukum objek dan subjek.
SOSIO-RELIGIUS PESANTREN: AKTUALISASI NILAI-NILAI AGAMA DALAM RUANG SOSIAL KEMASYARAKATAN DI LOMBOK TIMUR Muhammad War'i
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.470

Abstract

This paper discusses the socio-religious attitude of the pesantren which is manifested by the Islamic Boarding School Ma'had Darul Quran wal Hadith Al-Majidiyah As-Syafi'iyah Nahdlatul Wathan in a social context. Through the phenomenology approach, this research will elaborate on this. Islamic boarding schools are often represented by santri learning places with strict pesantren regulations. The santri stayed in certain locations (dormitories) with 24-hour caregiver supervision. This fact often leaves “empty spaces” in the form of "gaps" that occur between pesantren and society in general. Therefore a pesantren management model is needed which emphasizes the process of social interaction in its existence. The conclusion of this paper is the socio-religious attitude of the pesantren which is manifested in the form of intense social interaction between santri and society. This is because santri lodgings are scattered throughout the community houses in Pancor Village which is the location of the Islamic boarding schools. These socio-religious attitudes can be seen from the concern of santri to the community in helping people around to study the religious sciences and help them in matters of daily living. Abstrak Tulisan ini membicarakan sikap sosio-religius pesantren yang termanifestasikan dalam orientasi Pesantren Ma’had Darul Quran wal Hadits Al-Majidiyah As-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan dalam konteks sosial kemasyarakatan. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini mengelaborasi hal tersebut. Pesantren sering kali direpresentasikan dengan tempat belajar santri yang cenderung ketat secara pemondokan. Diinapkan di lokasi tertentu (asrama) dengan pengawasan pengasuh selama 24 jam. Kenyataan tersebut sering kali meninggalkan ruang kosong berupa “gap” yang terjadi antara pesantren dan masyarakat secara umum. Oleh karena itu dibutuhkan model pengelolaan pesantren yang memuat bahkan menekankan proses interaksi sosial dalam eksistensinya. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sikap sosio-religius pesantren yang termanifestasi dari bentuk interaksi sosial yang intens antara santri dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemondokan santri disebar di seluruh rumah masyarakat di Kelurahan Pancor yang merupakan lokasi pondok pesantren. Sikap sosio-religius tersebut tampak dari kepedulian santri kepada masyarakat dalam membantu masyarakat sekitar mempelajari ilmu-ilmu agama serta membantu mereka dalam urusan hidup sehari-hari.
AKULTURASI ISLAM DENGAN BUDAYA JAWA: STUDI FOLKLORIS TRADISI TELONAN DAN TINGKEBAN DI KEDIRI JAWA TIMUR Septiana Purwaningrum; Habib Ismail
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.476

Abstract

This article aims to describe the symbolic meaning of the acculturation Telonan and Tingkeban which is believed and preserved by the people of Kunti-Mranggen Village, Kediri, Indonesia. This study uses a type of qualitative research with a folklore approach. This research was conducted for one year using the method of collecting data through interviews, observation, and documentation. In addition to being a research instrument, researchers also participated in the telonan and tingkeban culture with the aim of finding the comprehensive meaning of the object under study. Data analysis in this study uses the deductive method with source triangulation as the checker of the data validity. The results of this study are: 1) Telonan is an activity of praying for pregnant women and their babies during the age of the womb-reaching 3 months into 4 months. While Tingkeban is carried out when the womb reaches 7 months. This activity is carried out with the aim that mothers and babies are always given safety and health by God, as well as fluency in the process of giving birth to the fetus later; 2) In carrying out the telonan and tingkeban several Javanese foods such as jenang abang, jenang putih, buceng ketan, keleman, cucumber, sego golong, sego semaron, sego rogoh, gedhang setangkep, dawet, and rujak are each of these ingredients has symbolic meaning; 3) The values ​​that emerge from the telonan and tingkeban traditions include the value of helping, harmony, friendship, hablumminallah and hablumminannas. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik dari akulturasi “Telonan dan Tingkeban” yang diyakini dan dilestarikan oleh masyarakat Dusun Kunti, Mranggen Kediri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan folklor. Selain menjadi instrumen penelitian, peneliti juga berpartisipasi dalam budaya telonan dan tingkeban tersebut dengan tujuan menemukan makna yang komprehensif dari obyek yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deduktif dengan triangulasi sumber sebagai pengecek keabsahan datanya. Hasil penelitian ini adalah: 1) Telonan adalah kegiatan mendoakan ibu yang sedang hamil beserta bayi yang dikandungnya saat usia kandungan mencapai 3 bulan memasuki 4 bulan. Sedangkan Tingkeban dilaksanakan pada saat usia kandungan mencapai 7 bulan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan agar ibu dan bayi senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan oleh Allah, serta kelancaran dalam proses melahirkan janinnya nanti; 2) Dalam pelaksanaan telonan & tingkeban ini dihidangkan beberapa jenis makanan khas Jawa seperti jenang merah, jenang putih, buceng ketan, keleman, timun, sego golong, sego semaron, sego rogoh, gedhang setangkep, dawet, dan rujak yang masing-masing bahan tersebut memiliki makna simbolik; 3) Nilai-nilai yang muncul dari tradisi telonan dan tingkeban di antaranya nilai tolong-menolong, kerukunan, silaturrahim, hablumminallah dan hablumminannas.
PELAKSANAAN PROGRAM INSEMINASI BUATAN BAYI TABUNG MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF INDONESIA Fuadi Isnawan
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 2 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i2.558

Abstract

This paper aims to examine the In Vitro Fertilization (IVF) program in the perspective of Islamic Law, and positive law in Indonesia, so that it is clear whether or not IVF practice is religiously or legally Indonesian. In conducting the analysis, the authors used a qualitative type of library research with a normative approach. The results of this paper are: (1) IVF artificial insemination program is allowed in Islamic Law, with the condition that the sperm must be from the husband himself. In vitro insemination with the uterine rental model Surrogate Mother, there are two opinions. The first opinion states that the Surrogate Mother is prohibited because it creates a mixture of lineage which is also related to mahram and inheritance. The second opinion states that Surrogate Mother was allowed on emergency grounds. (2) The implementation of IVF in Indonesia is regulated in Law Number 36 of 2009 concerning health. The Law stipulates how the requirements and procedures must be fulfilled in order to participate in the program so that the babies made in the program do not violate the ethics in society and religion

Page 8 of 36 | Total Record : 352


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 1 (2026): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 10 No. 2 (2025): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 9 No. 2 (2024): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 9 No. 1 (2024): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 8 No. 2 (2023): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2023): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 7 No. 2 (2022): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 7 No. 1 (2022): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 1 (2021): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 5 No 2 (2020): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2020): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 5 No 1 (2020): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 2 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 3 No 2 (2018): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 3 No 1 (2018): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 2 No 2 (2017): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 2 No 1 (2017): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 1 No 2 (2016): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 1 No 1 (2016): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya More Issue