cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Status kebersihan rongga mulut dan kesehatan jaringan periodontal pada ibu hamil di pesisir pantai: cross-sectional study Putri, Normalita Sari Aulia Harwidyanti; Pujiastuti, Peni; Prasetya, Rendra Chriestedy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.58845

Abstract

Pendahuluan: Kehidupan masyarakat pesisir tidak dapat terlepas dari nelayan. Salah satu sasaran dalam pemasaran hasil tangkapan nelayan berupa ikan adalah ibu hamil di lingkungan tersebut. Ikan memiliki kandungan berupa omega-3. Asam lemak  pada omega-3 menyebabkan perbaikan yang bermakna pada kondisi periodontal dan memproduksi resolvin dan dokosatrien. Senyawa ini memiliki anti inflamasi. Di dalam masa kehamilan, terjadi perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron sehingga mempengaruhi kesehatan gingiva. Hasilnya adalah respon peradangan berlebih walaupun jumlah plak sebagai faktor iritan lokal tidak terlalu banyak. Kondisi jaringan periodontal dapat mempengaruhi kesehatan janin dan kondisi kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status kebersihan rongga mulut dan kesehatan jaringan periodontal pada ibu hamil di Pesisir pantai. Metode: Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang ada di Desa Sumberejo. Kriteria inklusi penelitian adalah ibu hamil yang menjadi penduduk di Desa Sumberejo, Ambulu, Jember yang bersedia dan sukarela untuk menjadi subyek penelitian dengan mengisi informed consent, serta memiliki gigi indeks di setiap sektan. Kriteria eksklusi penelitian adalah ibu hamil yang menolak untuk menjadi subjek penelitian, ibu hamil dengan full edentulous pada rahang atas dan bawah, serta ibu hamil yang memiliki penyakit sistemik. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling dengan subjek penelitian sebanyak 72 orang menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data diperoleh dengan pemeriksaan indeks OHIS (Oral Hygiene Index-simplified) dan CPITN (Community Periodontal Index of Treatment Needs). Hasil: Ibu hamil di Pesisir pantai memiliki kriteria skor OHI-S buruk. Hasil CPITN ibu hamil yaitu periodontal sehat 1,4%; kalkulus 81,9%; poket 4-5 mm 9,7%; poket 6 mm 6,9%. Simpulan: Status kebersihan rongga mulut ibu hamil di wilayah Pesisir pantai  mayoritas tergolong buruk. Status kesehatan jaringan periodontal ibu hamil di wilayah Pesisir Payangan, Kabupaten Jember mayoritas adalah skor 2 yakni terdapat kalkulus supragingiva atau subgingiva, bleeding on probing, dan probing depth kurang dari 3 mm.Oral hygiene and periodontal health status in pregnant women in coastal: a cross-sectional studyIntroduction: The lives of coastal communities are closely intertwined with those of fishermen. A key target in marketing fishermen's catch, primarily fish, is pregnant women, as fish is rich in omega-3 fatty acids. These fatty acids contribute significantly to improved periodontal health and lead to the production of resolvins and docosatrienes, compounds known for their anti-inflammatory properties. During pregnancy, fluctuations in estrogen and progesterone levels affect gingival health, often triggering an exaggerated inflammatory response, even when plaque levels, a common local irritant, are low. The condition of the periodontal tissues can influence both fetal health and pregnancy outcomes. This study aims to assess the  oral hygiene and periodontal health status of pregnant women in coastal areas. Methods: This descriptive study used a cross-sectional approach. The research population consisted of pregnant women in Sumberejo Village. A simple random sampling technique was applied, involving 72 participants. Data were collected by assessing the Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) and Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN). Results: The majority of pregnant women in Pesisir Payangan demonstrated poor OHI-S scores. CPITN results were distributed as follows: 1.4% had healthy periodontium, 81.9% had calculus, 9.7% had 4-5 mm periodontal pockets, and 6.9% had 6 mm pockets. Conclusion: Most pregnant women in the studied coastal area exhibited poor oral hygiene. The predominant periodontal health status among pregnant women in Pesisir Payangan, Jember Regency, corresponded to a CPITN score of 2, indicating the presence of supragingival or subgingival calculus, bleeding on probing, and a probing depth of less than 3 mm.
Pengaruh perilaku ibu terkait pemberian botol susu (dot) kepada balita terhadap ECC di sekolah orangtua hebat mojokerto Afandi, Salma Farichah; Wididorini, Trining; Palupi Pratamawari, Dyah Nawang; Irianti, Amaliyah Nur
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.60310

Abstract

Hubungan perilaku ibu terkait pemberian susu dalam botol pada balita terhadap Early Childhood Caries: studi cross-sectional ABSTRAK Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut dapat dilihat dari ada atau tidaknya penyakit yang terdapat di rongga mulut, salah satunya karies gigi. Karies pada gigi sulung dapat dikenal dengan istilah Early Childhood Caries (ECC). ECC memiliki kaitan dengan tumbuh kembang anak, sehingga ECC dapat memengaruhi perkembangan anak apabila tidak dihindari. Early Childhood Caries memiliki faktor risiko yang salah satunya yaitu pemberian susu dalam botol. Hal tersebut tidak terlepas dari perilaku ibu terhadap kesehatan gigi dan mulut anak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan perilaku ibu terkait pemberian susu dalam botol pada balita terhadap early childhood caries. Metode: Penelitian ini melibatkan 60 subjek bertempat di Sekolah Orang tua Hebat Kota Mojokerto dengan metode penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan  teknik non-probability sampling. Peneliti menggunakan teknik sampling total atau sensus dengan jumlah sampel adalah 60 sampel. Data diperoleh dari kuesioner dan pemeriksaan gigi pada anak dengan indeks dmf-t. Uji statistik menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan perilaku ibu nilai p=0,035 (p<0,05) terkait pemberian susu dalam botol/dot terhadap early childhood caries. Penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan arah hubungan (B=-0,437) bernilai negatif yang artinya adanya hubungan negatif signifikan secara statistik yang memiliki arti semakin naik variabel satu, maka akan menurunkan variabel lainnya. Simpulan: Terdapat hubungan antara perilaku ibu terkait pemberian susu dalam botol (dot) pada balita terhadap ECC melalui pemeriksaan dmf-t dengan arah hubungan negatif yang artinya semakin baik perilaku ibu dalam memberikan susu formula menggunakan botol, semakin rendah indeks dmf-t. Kata kunciperilaku ibu, susu dalam botol, indeks dmf-t The effect of maternal behavior related to bottle feeding in toddlers on ecc at the sekolah orangtua hebat in mojokerto: cross-sectional study ABSTRACT Introduction: Oral and dental health can be observed through the presence or absence of diseases in the oral cavity, one of which is dental caries. Caries in primary teeth is referred to as Early Childhood Caries (ECC). ECC is closely related to children’s growth and development and may negatively affect it if not prevented. One of the risk factors for ECC is bottle feeding, which is strongly influenced by the mother's behavior regarding the child's oral and dental health. The aim of this study was to analyze the relationship between maternal behavior related to bottle feeding and early childhood caries. Methods: This study involved 60 subjects at the "Sekolah Orang Tua Hebat" in Mojokerto City using a cross-sectional study design. Sampling was carried out using a non-probability sampling technique. The researchers applied a total sampling (census) technique, yielding 60 samples. Data were collected through questionnaires and dental examinations of the children using the dmft index. Statistical analysis was conducted using simple linear regression. Results: This study showed a significant relationship between maternal behavior and bottle feeding, in relation to ECC (p = 0.035; p < 0.05). The results indicated a statistically significant negative relationship (B = -0.437), meaning that as one variable increases, the other decreases. In this context, improved maternal behavior in bottle feeding was associated with a lower incidence of ECC. Conclusion: There was a relationship between maternal behavior regarding bottle feeding and ECC, as assessed through the dmft index. The direction of the relationship was negative, indicating that the better the mother's behavior in giving formula milk using a bottle, the lower the dmft index. Keywords maternal behavior, bottle feeding, dmft index 
Perawatan revaskularisasi pada gigi permanen muda dengan apikal terbuka dengan waktu evaluasi 13 bulan setelah perawatan: laporan kasus Hidayat, Akbar Aulia; Wardani Mahendra, Putri Kusuma; Utomo, Rinaldi Budi; Triani, Maulina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.48600

Abstract

Pendahuluan: Nekrosis yang terjadi pada gigi permanen muda mengakibatkan proses pertumbuhan dan perkembangan gigi terhenti. Perawatan pada gigi dengan kondisi apikal terbuka bertujuan untuk mencegah atau menghilangkan lesi ataupun peradangan pada bagian apikal, merangsang kelanjutan perkembangan akar, mengembalikan fungsi jaringan pulpa secara perspektif imunologi dan sensorik. Revaskularisasi merupakan alternatif perawatan endodontik untuk gigi nekrosis dengan apikal terbuka yang memungkinkan terjadinya penutupan pada bagian apikal. Tujuan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil perawatan revaskularisasi pada gigi permanen muda dengan apikal yang terbuka dengan waktu evaluasi 13 bulan setelah perawatan. Laporan Kasus: Laki-laki berusia 12 tahun datang ke klinik Kedokteran Gigi Anak Universitas Gadjah Mada dengan keluhan gigi belakang kiri bawah berlubang, pernah sakit hingga tidak bisa tidur dan memiliki riwayat bengkak berulang sejak 1 tahun terakhir pada gusi sekitarnya. Gigi belum pernah diobati sebelumnya. Hasil pemeriksaan intra oral menunjukkan gigi 36 nekrosis. Pemeriksaan radiografi menunjukkan apikal gigi 36 masih dalam terbuka. Rencana perawatan gigi 36 adalah revaskularisasi. Hasil evaluasi selama 13 bulan menunjukkan terjadi penutupan daerah apikal dan pemanjangan pada akar gigi 36 serta tidak terjadi resorpsi patologis pada gigi 36. Simpulan: Perawatan revaskularisasi dapat dijadikan sebagai salah satu perawatan pada gigi yang mengalami nekrosis pulpa dengan bagian apikal yang masih terbuka. Keterampilan operator, pasien yang kooperatif dan kerjasama dengan orang tua pasien sehingga meningkatkan keberhasilan perawatan pada kasus ini.Revascularization treatment of young  permanent teeth with open apices with 13-month evaluation: Case reportIntroduction: Necrosis that occurs in young permanent teeth causes the growth and development process to stop. Treatment of teeth with open apical conditions aims to prevent or eliminate lesions or inflammation in the apical part, stimulate the continuation of root development, restore pulp tissue function from an immunological and sensory perspective. Revascularization is an alternative endodontic treatment for necrotizing teeth with open apicals that allows closure of the apical part. The purpose of this case report is to report the results of revascularization treatment on a young permanent tooth with an open apical with an evaluation time of 13 months after treatment. Case Report: A 12- year-old male came to the Pediatric Dentistry clinic of Gadjah Mada University with complaints of a cavity in the lower left back tooth, had been in pain until he could not sleep and had a history of recurrent swelling since the last 1 year on the surrounding gums. The tooth has never been treated before. Intra oral examination results showed tooth 36 necrosis. Radiographic examination showed the apex of tooth 36 was still open. The treatment plan for tooth 36 was revascularization. Evaluation results for 13 months showed closure of the apical area and lengthening of the root of tooth 36 and no pathological resorption of tooth 36. Conclusion: Revascularization treatment can be used as a treatment for teeth that have pulp necrosis with the apical part still open. The operator's skills, cooperative patient and cooperation with the patient's parents increased the success of treatment in this case.
Pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack) terhadap jumlah Candida albicans dan kekuatan transversal: studi eksperimental laboratoris Badrul Sham, Nur Yasmeen Amelin; Z. Tamin, Haslinda; Angelia, Veronica
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.60403

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas memiliki kekurangan yaitu bersifat menyerap air. Daun sungkai (Peronema canescens Jack) dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk membersih gigi tiruan karena memiliki zat aktif yang bersifat bakterisida dan fungisida namun harus dipastikan tidak merubah sifat fisik dan mekanis basis gigi tiruan karena resin akrilik bersifat menyerap air atau larutan salah satunya kekuatan transversal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai 30%, 40%, dan 50% terhadap jumlah Candida albicans dan kekuatan transversal. Metode : Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini berjumlah 80 sampel dengan 40 sampel berukuran 10 x 10 x 1 mm untuk perhitungan Candida albicans dan 40 sampel dengan diameter 65 x 10 x 2,5 mm untuk pengujian kekuatan transversal. Pada setiap uji sampel dibagi atas 4 kelompok yang terdiri dari kelompok ekstrak daun sungkai 30%, 40%, dan 50% dan kelompok kontrol yang direndam selama 15 menit bagi perhitungan Candida albicans dan selama 15 menit setiap hari selama 1 tahun untuk pengujian kekuatan transversal. Hasil : Hasil penelitian menujukkan ada pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai 30%, 40%, dan 50% terhadap jumlah Candida albicans dan kekuatan transversal dengan masing-masing memiliki nilai p = 0,0001. Simpulan : Perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai 40% dapat digunakan untuk membersihkan gigi tiruan karena efektif menghambat pertumbuhan Candida albicans dan secara klinis tidak memengaruhi kekuatan transversal basis gigi tiruan RAPP.
Penyembuhan abses periapikal setelah dilakukan perawatan endodontik : laporan kasus Nabila, Amira Khansa; Widyastuti, Noor Hafida
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.50459

Abstract

 Penyembuhan abses periapikal berukuran besar  setelah dilakukan perawatan saluran akar: laporan kasus   ABSTRAK  Pendahuluan: Perawatan saluran akar merupakan perawatan yang dapat dilakukan untuk mempertahankan gigi yang telah mengalami nekrosis pulpa. Kasus ini menjelaskan tentang nekrosis pulpa pada gigi insisivus sentral maksila disertai adanya abses periapikal. Kasus ini merupakan kasus unik karena ukuran  abses >10 mm. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui penyembuhan abses periapikal >10 mm setelah dilakukan perawatan saluran akar. Laporan Kasus: pasien laki-laki berusia 26 tahun datang ke RSGM Soelastri untuk dilakukan perawatan saluran akar pada gigi incisivus sentral maksila dengan diagnosis nekrosis pulpa disertai abses periapikal. Perawatan saluran akar diawali dengan debridemen jaringan pulpa, kemudian dilakukan preparasi saluran akar dengan teknik step back, preparasi diawali menggunakan Initial Apical File #70, kemudian dilanjutkan aplikasi bahan medikamen menggunakan kalsium hidroksida dan dilakukan penutupan kavitasmenggunakan semen seng fosfat serta pasien diinstruksikan kembali 7 hari kemudian. Setelah 7 hari pasien datang kembali, kemudian dilakukan tes perhidrol dengan hasil negatif dan dilanjutkan obturasi menggunakan gutta percha dengan Master Apical File #120 serta dilakukan restorasi sementara menggunakan semen seng fosfat. Pasien melakukan kontrol 7 hari setelah obturasi dan dilanjutkan pembuatan mahkota jaket bahan porcelain fusi metal dengan inti pasak fiber. Simpulan: Luas lesi pada kunjungan pertama yaitu 10,2 mm kemudian dilakukan evaluasi 1 bulan setelah obturasi lesi mengecil yaitu berukuran 9,3 mm dan pengukuran lesi terakhir yaitu setelah dilakukannya sementasi mahkota jaket tampak lesi memiliki ukuran 7,9 mm kontrol 2 bulan setelah obturasi. Laporan kasus ini memperlihatkan mengecilnya luas lesi abses periapikal setelah dilakukan perawatan saluran akar.     Kata kunci  abses periapikal, perawatan saluran akar, nekrosis pulpa, endodontik, penyembuhan   Healing of a large periapical abscess after endodontic treatment: Case Report   ABSTRACT Introduction: Root canal treatment can be performed to preserve teeth affected by pulpal necrosis. This case describes pulpal necrosis in a maxillary central incisor accompanied by a large periapical abscess (>10mm). The purpose of this case report was to evaluate the healing of a periapical abscess following root canal treatment. Case Report: A 26-year-old male patient presented to Soelastri Dental Hospital with a diagnosis of pulpal necrosis accompanied by a periapical abscess on the maxillary central incisor. The root canal treatment was initiated with pulp tissue debridement, followed by root canal preparation using the step-back technique. The preparation began with an Initial Apical File #70, after which calcium hydroxide was placed as an intracanal medicament, and the cavity was sealed with zinc phosphate cement. The patient was instructed to return after 7 days. Upon follow-up visit, a perhydrol test yielded negative results, and obturation was performed using gutta-percha with a Master Apical File #120. A temporary restoration was placed with zinc phosphate cement. The patient returned for follow-up after 7 days post-obturation, and fabrication of a porcelain-fused-to-metal crown with a fiber post core was initiated. Conclusion: At the first visit, the lesion measured 10.2 mm. One month after obturation, the lesion had decreased to 9.3 mm, and after crown cementation the final measurement was 7.9 mm at the 2-month follow-up. This case report demonstrates reduction in the size of a large periapical abscess following root canal treatment.   Keywords  periapical abscess, endodontic treatment, pulpal necrosis, endodontic, treatment 
Perawatan saluran akar J-shaped pada premolar pertama mandibula: laporan kasus Farasdhita, Felly; Fibryanto, Eko; Widyastuti, Wiena
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.49843

Abstract

Perawatan saluran akar J-shaped pada premolar pertama mandibula: laporan kasus ABSTRAKPendahuluan: Klinisi harus waspada dengan adanya kelainan pada anatomi internal saluran akar. Pemilihan instrumentasi yang tepat diperlukan untuk preparasi saluran akar melengkung. Kesalahan iatrogenik pada saluran akar melengkung dapat terjadi seperti ledge, separasi instrumen, penyumbatan saluran akar, perforasi, dan transportasi apikal tear-drop. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyajikan perawatan endodontik dengan bentuk anatomi saluran akar berbentuk J-shaped. Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 52 tahun memiliki keluhan tidak nyaman saat makan. Gigi #34 didiagnosis sebagai nekrosis pulpa. Radiografi awal mengungkapkan lengkungan akar (J-shaped). Preparasi saluran akar dimulai dengan file #8 yang telah dilengkungkan sebagai file awal dan dilanjutkan dengan file rotari gold NiTi (M3-Pro Gold, UDG, Cina) hingga #25/.06 mengikuti kelengkungan saluran akar. Saluran akar J-Shaped dalam klasifikasi Schneider menunjukkan severly curve (29°). Manajemennya dimulai dengan akses lurus ke saluran akar, preparasi dengan k-file kecil dan precurved #08, #10, #15 dengan gerakan push and pull, dilanjutkan dengan file rotary berurutan, bahan kelasi (Ethylenediaminetetraacetic acid/EDTA) digunakan, dan irigasi berulang dengan Natrium hipoklorit (NaOCl). Apikal patensi dilakukan selama cleaning dan shaping untuk menjaga panjang kerja dan mencegah penyumbatan saluran akar. Simpulan: Variasi anatomi saluran akar, teknik instrumentasi, dan obturasi saluran akar penting dipahami guna mencapai keberhasilan perawatan saluran akar pada saluran akar J-Shaped. Kata kunciJ-shaped canal, perawatan saluran akar, glide path, gold nickel-titanium Root canal treatment of a J-shaped canal mandibular first premolar: a case report ABSTRACTIntroduction: Clinicians should be aware of internal anatomical variations. Appropriate selection of instrumentation is essential for preparing curved canals. Iatrogenic errors in curved canals may occur, such as ledge formation, instrument separation, canal blockage, perforation, and tear-shaped apical transportation. The aim of this case report is to present the challenging endodontic management of a mandibular first premolar with a J-shaped canal. Case report: A 52 year-old female patient presented with discomfort while eating. Tooth #34 was diagnosed with pulp necrosis. A pre-operative radiograph revealed root curvature consistent with a J-shaped configuration. Root canal preparation was initiated with precurved file #8 (Dentsply, Switzerland) as initial file, followed by gold NiTi rotary instrumentation (M3-Pro Gold, UDG, China) up to #25/.06, respecting the canal curvature. According to Schneider’s classification, the J-shaped canal showed a severe curvature (29°). Management began with straight access into the canal then prepared with small and precurved k-file #08, #10, #15 with push and pull motion. This was followed by rotary file sequencing. A chelating agent (EDTA) and copious irrigation with sodium hypochlorite were employed. Apical patency was maintained throughout cleaning and shaping to preserve the working length and prevent canal blockage. Conclusion: Knowledge of root canal anatomy, together with appropriate instrumentation materials and techniques, is crucial to achieving successful root canal treatment.  KeywordsJ-shaped canal, endodontic treatment, glide path, gold nickel-titanium
Perbedaan pengalaman karies pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan diet: studi cross-sectional Rahmi, Dwi Aulia; Salmiah, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.59023

Abstract

 Perbedaan pengalaman karies pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan diet: studi cross-sectional   ABSTRAK Pendahuluan: Anak Berkebutuhan Khusus memiliki risiko lebih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut dibandingkan anak normal, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan mental maupun fisik dalam menjaga kebersihan mulut. Pengetahuan orang tua yang rendah tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan pola diet menyebabkan tingginya angka karies gigi pada anak, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan  pengalaman karies pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan diet anak. Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 60 anak (30 anak laki-laki dan 30 anak Perempuan) yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan karies. Data diolah secara univariat dan bivariat menggunakan uji Kruskal wallis. Hasil: Rerata pengalaman karies sebanyak 33 anak berusia 6-12 tahun kategori rendah dengan rerata deft 1,55±1,872 dan rerata DMFT 2,24±1,985, anak berusia 13-17 tahun kategori sedang dengan rerata DMFT 4,37±3,764. Uji Kruskal wallis menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pengalaman karies pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan tingkat pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan diet (p=0,001) pada kedua kelompok usia. Simpulan: Terdapat perbedaan pengalaman karies pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan tingkat pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan mulut dan diet anak.   Kata kunci  anak berkebutuhan khusus, pengetahuan orang tua, kebersihan mulut, diet anak, karies   Differences in caries experience among children with special needs based on parental knowledge of oral hygiene maintenance and dietary habits: a cross-sectional study     ABSTRACT Introduction: Children with special needs have a higher risk of oral health problems than typically developing children, partly due to mental and physical limitations in maintaining proper oral hygiene. Low parental knowledge of oral hygiene practices and dietary habits is a contributing factor to the high prevalence of dental caries. This study aimed to analyze differences in caries experience among children with special needs based on parental knowledge of oral hygiene maintenance and children’s dietary habits at the Arnhemia Special Needs Institution. Methods: This was an analytical observational study with a cross-sectional design. The sample consisted of 60 children (30 boys and 30 girls) selected through a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and dental caries examinations. Data were analyzed using univariate and bivariate methods.. Results: Among the participants, 33 children aged 6–12 years showed a low caries experience, with a mean deft score of 1.55 ± 1.872 and a mean DMFT score of 2.24 ± 1.985. In contrast, children aged 13–17 years demonstrated a moderate caries experience, with a mean DMFT score of 4.37 ± 3.764. The Kruskal-Wallis test revealed a significant difference in caries experience among children with special needs based on parental knowledge of oral hygiene maintenance and diet (p=0.001) in both age groups.Conclusions: There was a difference in caries experience among children with special needs based on parental knowledge of oral hygiene maintenance and dietary habits.   Keywords special needs children, parental knowledge, oral hygiene, diet, dental caries 
Single visit root canal treatment of a third lower molar with curved canal and Class II disto-occlusal caries: Case report Tsanie, Maria Latifa; Junaidi, Achmad; Kristanti, Yulita; Nugraheni, Tunjung; Untara, Tri Endra; Santosa, Pribadi; Enggardipta, Raras Ajeng
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.58361

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Root canal treatment (RCT) of mandibular third molars is often considered challenging due to anatomical variability, limited accessibility, and difficulty achieving proper isolation. As a result, extraction is frequently chosen. This case report outlines a successful single-visit RCT on a right mandibular third molar with a curved canal and Class II disto-occlusal caries. Case Report: A 30-year-old female presented with a large cavity on her right lower molar and requested a restorative treatment. Three weeks earlier, devitalization and temporary restoration had been performed by another dentist. Clinical examination revealed no periapical lesion, and percussion testing was negative. Radiographic analysis showed a slight curvature in the distal canal. A pre-curved K-File and the One Curve System were used for instrumentation. The canal was obturated in a single visit, followed by restoration using direct composite and short fiber-reinforced composite. Matrix and PTFE tape were utilized for proper adaptation in the distal area. Conclusion: With accurate diagnosis, understanding of anatomical complexity, and appropriate technique, single-visit RCT on mandibular third molars is achievable. This case supports the viability of conservative treatment for necrotic third molars with asymptomatic apical periodontitis, avoiding unnecessary extraction.Keywords single visit, root canal treatment, third lower molar, curved canal, composite restoration. ABSTRAKPendahuluan: Perawatan saluran akar (RCT) pada molar ketiga mandibula menantang karena variasi konfigurasi saluran, kesulitan akses ke area posterior, dan tantangan dalam isolasi. Akibatnya, pencabutan sering menjadi pilihan. Laporan kasus ini mendeskripsikan protokol RCT kunjungan tunggal pada molar ketiga kanan mandibula dengan saluran melengkung dan karies disto-oklusal kelas II. Laporan Kasus: Seorang wanita 30 tahun datang dengan kavitas besar pada molar ketiga kanan bawah dan menginginkan perawatan tanpa pencabutan. Tiga minggu sebelumnya, dokter lain telah melakukan devitalisasi dan restorasi sementara. Pemeriksaan klinis menunjukkan tidak ada lesi periapikal dan uji perkusi negatif. Radiograf menunjukkan kelengkungan ringan pada saluran distal. RCT dilakukan menggunakan K-file pra-lengkung dengan sistem One Curve. Obturasi dilakukan dalam satu kunjungan, diikuti restorasi komposit langsung yang diperkuat dengan komposit serat pendek. Area distal direstorasi menggunakan matriks dan pita PTFE. Simpulan: RCT kunjungan tunggal pada molar ketiga mandibula dengan pulpa nekrotik dan periodontitis apikal asimptomatik dapat berhasil dilakukan dengan diagnosis akurat dan teknik yang tepat. Pendekatan konservatif ini menunjukkan bahwa pencabutan bukan satu-satunya pilihan.Kata kunci sekali kunjungan, perawatan saluran akar, molar ketiga, saluran melengkung, restorasi komposit.
Differences in denture brush fibers made of apus bamboo (Gigantochloa apus) and nylon based on the level of Streptococcus mutans contamination: an experimental study Maulani, Alia Fatimah; Nawawi, Azkya Patria; Himawati, Marlin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61197

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Streptococcus mutans bacteria is one of the microorganisms that form plaque on the denture. Plaque can be cleaned using nylon denture brush fibers, which have no antibacterial effect and are at risk of becoming a medium for contamination. Nylon fibers can be replaced by natural fibers, namely apus bamboo (Gigantochloa apus). The purpose of the study was to analyze the difference between apus bamboo and nylon denture brush fibers based on the level of Streptococcus mutans contamination. Methods: The type of research was laboratory experimental with pre-test and post-test with control group design. Sampling using the unpaired numerical comparative test sample size formula. The treatment group with apus bamboo fibers was 10 samples while the control group with nylon fibers was 10 samples. Each sample was soaked for 3 minutes in a bacterial suspension, followed by dilution to 10-5, and counted by the total plate count (TPC) method. Variable measurements were taken before and after 24 hours of standing, then the amount of Streptococcus mutans contamination was compared between bamboo and nylon. Results: The mean number of Streptococcus mutans contamination after 24 hours of standing on the bamboo fibers was 7.6x106 and nylon fibers 1.7x105, then tested using the Mann-Whitney and obtained a value of p=0.009 (p<0.05). Conclusion: There is a difference between apus bamboo and nylon denture brush fibers based on the contamination level of Streptococcus mutans after standing for 24 hours. Keywords: brush fiber, dentures, bamboo apus, nylon, streptococcus mutans. Perbedaan serat sikat gigi tiruan berbahan bambu apus (Gigantochloa apus) dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans: eksperimental laboratoris ABSTRAKPendahuluan: Bakteri Streptococcus mutans merupakan salah satu mikroorganisme pembentuk plak pada gigi tiruan. Plak umumnya dapat dibersihkan menggunakan serat sikat gigi tiruan berbahan nilon, yang tidak memiliki efek antibakteri dan beresiko menjadi media kontaminasi. Serat nilon pada sikat gigi tiruan dapat digantikan oleh serat alam, yaitu bambu apus (Gigantochloa apus). Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan antara serat sikat gigi tiruan bambu apus dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis penelitian yaitu eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-test and post-test with control group design. Pengambilan sampel menggunakan rumus besar sampel uji komparatif numerik tidak berpasangan. Kelompok perlakuan dengan serat bambu apus sebanyak 10 sampel sedangkan kelompok kontrol dengan serat nilon sebanyak 10 sampel. Setiap sampel direndam selama 3 menit di dalam suspensi bakteri, dilanjutkan dengan pengenceran hingga 10-5, dan dihitung dengan metode total plate count (TPC). Pengukuran variabel dilakukan sebelum dan setelah didiamkan 24 jam, kemudian jumlah kontaminasi bakteri Streptococcus mutans dibandingkan antara serat bambu apus dan serat nilon. Hasil: Rerata jumlah kontaminasi bakteri Streptococcus mutans setelah didiamkan 24 jam pada serat bambu apus adalah 7.6x106 dan serat nilon 1.7x105, kemudian dilakukan pengujian menggunakan uji Mann-Whitney dan didapatkan nilai p=0,009 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan antara serat sikat gigi tiruan bambu apus dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans setelah didiamkan 24 jam. Kata Kunci : serat sikat gigi, gigi tiruan, bambu apus, nilon, streptococcus mutans
Pengaruh berkumur dengan jus jeruk lemon terhadap penurunan skor halitosis pada siswa usia sekolah menengah atas: studi eksperimental klinis Sitompul, Daniel Rexi; Pintauli, Sondang; Siregar, Darmayanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.57745

Abstract

Pendahuluan: Halitosis adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan keadaan bau nafas tak sedap yang keluar dari mulut serta melibatkan kesehatan dan kehidupan sosial seseorang. Salah satu terapi untuk mengatasi halitosis yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan obat kumur. Jeruk lemon (Citrus limon) sudah lama dikenal sebagai obat dan bahan untuk membuat minuman, penyedap masakan, karena memiliki daya antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas berkumur jus jeruk lemon terhadap penurunan skor halitosis. Metode: Jenis Penelitian ini adalah eksperimental klinis dengan rancangan pre dan post tes control group design. Subjek berjumlah 30 orang, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok berkumur jus jeruk lemon dan betadine. Pengukuran skor halitosis menggunakan Tanita breath checker. Tanita breath checker adalah monitor seukuran telapak tangan yang dapat mendeteksi dan mengukur keberadaan senyawa volatile sulfur compound (VSC) dengan menampilkan skor halitosis. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah berkumur hari pertama dan hari ketujuh. Hasil: Terdapat penurunan skor halitosis yang signifikan pada kelompok berkumur jus jeruk lemon yaitu; sebelum perlakuan 4,13±0,63, sesudah berkumur hari pertama 3,06±0,70 dan hari ketujuh 0,60±0,50 sedangkan pada kelompok obat kumur betadine yaitu sebelum perlakuan 3,86±0,74, sesudah berkumur hari pertama 2,80±0,67 dan hari ketujuh 0,80±0,56. Skor halitosis Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor halitosis kelompok perlakuan dan kontrol (p>0,05). Simpulan: Berkumur jus jeruk lemon sama efektif dengan obat kumur betadine dalam mengatasi masalah halitosis.  Effect of gargling with lemon juice on the reduction of halitosis scores in high school students: a clinical experimental studyIntroduction: Halitosis is a general term used to describe the condition of unpleasant breath odor originating from the oral cavity, which can affect an individual’s health and social life. One of the most common treatments for halitosis is the use of mouthwash. Lemon (Citrus limon) has long been known for its medicinal properties and use as a beverage ingredient and flavoring agent due to its antibacterial and antioxidant activities. This study aims to analyze the effectiveness of gargling with lemon juice in reducing halitosis scores. Method: This clinical experimental study used a pre- and post-test control group design involving 30 subjects divided into two groups: the lemon juice group and betadine mouthwash group. Halitosis scores were measured using the Tanita breath checker, a palm-sized monitor that detects and measures volatile sulfur compounds (VSCs) by displaying a halitosis score. Measurements were conducted before and after gargling on day one and day seven. Results: There was a significant decrease in halitosis scores in the lemon juice gargle group, before treatment 4.13 ± 0.63, after the first day 3.06 ± 0.70 and after the seventh day 0.60 ± 0.50. Similarly, in the betadine mouthwash group, halitosis scores were 3.86 ± 0.74 before treatment, 2.80 ± 0.67 after the first day and 0.80 ± 0.56 after the seventh day. Statistical analysis showed no significant difference (p>0.05) between the changes in halitosis scores in the two groups. Conclusion: Gargling with lemon juice is as effective as betadine mouthwash in reducing halitosis problems.