cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Prevalence of systemic risk factors in chronic periodontitis patients at Haji regional public hospital in East Java Province: a cross-sectional study Nilawati, Nina; Sumekar, Henu; Nafiah, Nafiah; Rizal, Moh. Basroni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.64891

Abstract

Introduction: Periodontal disease is a chronic inflammatory disease that affects the tooth-supporting tissues  and is often associated with various systemic disorders. Understanding this relationship is essential for comprehensive dental management. The aim of this study was to determine the prevalence of systemic risk factors among patients with chronic periodontitis at Haji Regional Public Hospital, East Java Province. Methods: A descriptive observational study with a cross-sectional design involving 108 patients diagnosed with chronic periodontitis. Data were collected from electronic medical records and analyzed descriptively using cross-tabulation. Results: The majority of patients were older adults (51.9%) and female (59.3%). A total of 78.7% had systemic conditions, the most common being hypertension and diabetes mellitus. Conclusion: Most chronic periodontitis patients had systemic conditions, particularly among older adults. These findings emphasize the importance of an interdisciplinary approach in periodontal care.Prevalensi faktor risiko sistemik pada pasien periodontitis kronis di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Provinsi Jawa Timur: Studi cross sectional Pendahuluan: Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi jaringan penyangga gigi dan sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan sistemik. Memahami hubungan ini sangat penting untuk penatalaksanaan kedokteran gigi yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi faktor risiko sistemik pada pasien dengan periodontitis kronis di Rumah sakit Umum Daerah Haji Provinsi Jawa Timur. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain potong lintang yang melibatkan 108 pasien yang didiagnosis dengan periodontitis kronis. Data dikumpulkan dari dokumentasi medis elektronik dan dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel krostab. Hasil: Mayoritas pasien berusia lanjut (51,9%) dan berjenis kelamin perempuan (59,3%). Sebanyak 78,7% memiliki kondisi sistemik, yang paling umum adalah hipertensi dan diabetes melitus. Simpulan: Sebagian besar pasien dengan periodontitis kronis memiliki kondisi sistemik, terutama pada kelompok usia lanjut. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam perawatan periodontal.
Analisis cemaran logam berat dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta Pujiastuti, Peni; Arina, Yuliana Mahdiyah Da'at; Praharani, Depi; Wahyukundari, Melok Aris; Sakinah, Neira Najatus; Sari, Desi Sandra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61265

Abstract

Pendahuluan: Pasta gigi bermanfaat dalam upaya kontrol plak secara mekanis sehingga berperan dalam mencegah penyakit periodontal. Produk pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dalam pasta gigi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 8861:2020, diantaranya cemaran logam berat, Timbal (Pb), Cadmium (Cd), Raksa (Hg) dan Arsen (As)  dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Belum ada informasi tentang adanya cemaran logam berat dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta. Tujuan penelitian mengkaji kesesuaian cemaran Pb, Cd, Hg dan As dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan standar SNI 8861:2020. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental laboratoris dengan sampel pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan konsentrasi 0,0625%, 0,125%, 0,25%, dan 0,5% serta plasebo. Pembuatan ekstrak biji kopi robusta menggunakan metode maserasi. Pembuatan pasta gigi plasebo dengan kandungan magnesium karbonat, kalsium karbonat, gliserin, propilen glikol, trietanolamin, oleum menthae piperithae, dan aquades steril. Pembuatan pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan cara mencampur bahan pasta gigi plasebo dengan ekstrak biji kopi robusta 0,0625%, 0,125%, 0,25%, dan 0,5%. Selanjutnya dilakukan uji Pb, Cd, Hg dan As dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Hasil: Kadar Pb pada kontrol negatif 1,382 dan  perlakuan 1,687–1,846. Kadar Cd pada kontrol negatif 0,240 dan perlakuan 0,216–0,239. Kadar Hg dan As pada semua kelompok 0. Seluruh kadar logam masih di bawah batas cemaran. Simpulan: Terdapat cemaran logam berat Pb dan Cd pada pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dibawah batas maksimal berdasarkan SNI 8861:2020.Analysis of the compliance of heavy metal contamination in robusta coffee bean extract toothpaste based on the Indonesian National Standard (SNI) 8861:2020: an experimental laboratory studyIntroduction: Toothpaste plays an important role in mechanical plaque control and in preventing periodontal disease. Natural ingredients, including robusta coffee beans, have been used in toothpaste formulations. Toothpaste products containing robusta coffee bean extract must meet the Indonesian National Standard (SNI) 8861:2020, which includes provisions on heavy metal contamination (Pb, Cd, Hg, and As) that can affect human health. To date, there is no information available regarding the presence of heavy metal contamination in robusta coffee bean extract toothpaste. The purpose of the study was to evaluate the compliance of Pb, Cd, Hg and As contamination levels in robusta coffee bean extract toothpaste with the SNI 8861:2020 standard. Method: This study employed an experimental laboratory design using samples of robusta coffee bean extract toothpaste with concentrations of 0.0625%, 0.125%, 0.25%, and 0.5%, as well as a placebo. The robusta coffee bean extract was prepared using the maceration method. The placebo toothpaste was composed of magnesium carbonate, calcium carbonate, glycerin, propylene glycol, triethanolamine, oleum menthae piperitae, and sterile distilled water. The robusta coffee bean extract toothpaste was made by mixing the placebo base with the extract at concentrations of 0.0625%, 0.125%, 0.25%, and 0.5%. Subsequently, tests for Pb, Cd, Hg, and As contamination were carried out using atomic absorption spectrophotometry (AAS). Result: Pb levels in the negative control  group were 1.382,  while those in treatment groups ranged from 1.687 to 1.846. Cd levels in the negative control were 0.240, and in the treatment groups ranged from 0.216 to 0.239. Hg and As levels in all groups were 0. All measured levels of heavy metals remained below the contamination limits set by SNI 8861:2020. Conclusion: The findings showed the presence of Pb and Cd contamination in robusta coffee bean extract toothpaste. However, all concentrations were below the maximum permissible limits established in SNI 8861:2020.
Diabetes mellitus dengan komplikasi periodontitis kronis: laporan kasus Agustin, Nandita Putri; Kurniasari, Annisa; Herawati, Rezki; Mashuda, Mashuda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.56365

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis kronis adalah penyakit radang kronis yang mempengaruhi jaringan yang mengelilingi dan menyokong gigi, termasuk gingiva, ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar. Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang mempengaruhi kadar gula darah dan dapat memperburuk jaringan periodontal. Data epidemiologi menegaskan bahwa diabetes mellitus merupakan faktor risiko utama periodontitis. Laporan kasus ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kesehatan rongga mulut khususnya jaringan periodontal harus menjadi bagian integral dari manajemen diabetes mellitus. Laporan kasus: Seorang pria berusia 65 tahun yang datang ke Departemen Periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman, Banjarmasin, Indonesia, dengan riwayat pembengkakan gusi berulang selama 1 tahun. Pasien juga mengeluhkan gigi goyang dan kadar gula darah yang tidak terkontrol. Pasien diberikan terapi antibiotik dan analgesik untuk mengatasi infeksi dan rasa sakitnya. Lalu, pasien juga diedukasi mengenai perawatan gigi dan kontrol gula darah secara teratur. Setelah 6 bulan, pasien mengalami perbaikan gejala dan kadar gula darah terkontrol dengan baik. Simpulan: Manajemen kasus gigi dan mulut yang tepat apabila disertai dengan manajemen diabetes mellitus yang cermat tidak hanya mencegah komplikasi yang lebih serius, namun juga menghasilkan prognosis yang baik. Kasus ini menunjukkan pentingnya perawatan gigi yang tepat pada pasien periodontitis dengan diabetes mellitus untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Diabetes mellitus with complication of chronic periodontitis: a case reportIntroduction: Chronic periodontitis is a chronic inflammatory disease that affects the tissues surrounding and supporting the teeth, including the gingiva, periodontal ligament, cementum, and alveolar bone. Diabetes mellitus is a metabolic disease that affects blood sugar levels and can exacerbate periodontal tissue destruction. . Epidemiological data confirm that diabetes mellitus is a major risk factor for periodontitis. This case report aims to highlight that maintaining oral health, particularly periodontal tissue, should be an integral part of diabetes mellitus management. Case report: A 65-year-old man presented to the Department of Periodontology, Gusti Hasan Aman Dental and Oral Hospital, Banjarmasin, Indonesia, with a one-year history of recurrent gum swelling. The patient also complained of tooth mobility and uncontrolled blood glucose levels. The patient was given antibiotic and analgesic therapy to manage infection and pain. He was also educated about proper oral hygiene and the importance of maintaining regular blood glucose control. After six months, the patient showed significant improvement in symptoms and his blood glucose levels were well controlled. Conclusion: Appropriate dental and oral management, accompanied by careful diabetes control, not only prevents more severe complications but also improves prognosis. This case emphasizes the importance of proper dental care in periodontitis patients with diabetes mellitus to prevent further complications.
Factors affecting delayed tooth eruption among children aged 6-24 Months: a cross-sectional study Umniyati, Helwiah; Prasonto, Djuned; Pramigi, Ufo; Suriyah, Wastuti Hidayati; Mohd Dom, Tuti Ningseh
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.67954

Abstract

Introduction: Nutritional status is one of the most important things that parents must pay attention to, especially when the child is in the golden period of growth, which consists of the period of growth and development, including tooth eruption. Tooth eruption is influenced by various factors, one of which is nutritional factors. Mothers' health status may then determine their children's primary dentition status, and also the child's status itself. This study aims to analyze factors related to delayed tooth eruption in children aged 6–24 months. Methods: This research was a cross-sectional study conducted among 464 children aged 6–24 months. The sampling method employed was a total sampling technique undertaken in 10 villages within the Pandeglang district, West Java. Tooth eruption time used the Primary Tooth Development figure by the American Dental Association (ADA). Statistical analysis was performed using chi-square and logistic regression. Research ethics were obtained from YARSI University. Results: There was a significant relationship between delayed tooth eruption and mother’s Body Mass Index (BMI), nutritional status of children, and gender, with a value of ρ<0.05. Female sex (AOR=1.51), stunting (AOR=1.86), and underweight (AOR=1.78) increased the odds of delayed eruption. Conclusion: Nutritional status influences eruption timing. Integrating oral assessments into routine child growth monitoring could improve early detection of developmental risks in children aged 6 – 24 months.  Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6-24 bulan: studi cross-sectionalPendahuluan: Status gizi merupakan faktor krusial yang perlu diperhatikan oleh orang tua, terutama pada masa perkembangan awal anak, yang meliputi periode pertumbuhan pesat, perkembangan fisiologis, serta erupsi gigi. Erupsi gigi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor gizi. Status kesehatan ibu menentukan status gigi sulung anak-anak mereka, demikian pula status anak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6 - 24 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di antara 464 anak usia 6 - 24 bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total sampling yang dilakukan di 10 desa di kabupaten Pandeglang, Jawa Barat. Waktu erupsi gigi menggunakan angka Perkembangan Gigi Sulung oleh American Dental Association (ADA). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan chi-square dan regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara keterlambatan erupsi gigi dengan IMT ibu, status gizi anak, dan jenis kelamin, diperoleh nilai p=0,05. Jenis kelamin perempuan (AOR=1,51), stunting (AOR=1,86), dan berat badan kurang (AOR=1,78) meningkatkan kemungkinan erupsi tertunda. Simpulan: Status gizi secara memengaruhi waktu erupsi. Mengintegrasikan pemeriksaan gigi ke dalam pemantauan pertumbuhan anak secara rutin dapat meningkatkan deteksi dini risiko pada anak usia 6-24 bulan. 
PENGARUH LAMA PEMANASAN DAN JENIS PREHEATED RESIN KOMPOSIT SEBAGAI BAHAN SEMENTASI TERHADAP KEKUATAN GESER PELEKATAN VINIR LITHIUM DISILICATE Mayasari, Rena; Untara, Tri Endra; Kristanti, Yulita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61896

Abstract

Pendahuluan: Vinir Lithium disilicate banyak diminati sebagai kebutuhan estetik gigi anterior. Pemilihan bahan sementasi penting diperhatikan untuk mencapai keberhasilan vinir. Pemanasan resin komposit untuk meningkatkan sifat fisik dan mekaniknya menjadikan preheated resin komposit sebagai alternatif semen resin yang banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis resin komposit dan lama pemanasan preheated resin komposit sebagai bahan sementasi vinir lithium disilicate. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris menggunakan 48 sampel gigi premolar maksila yang dibagi menjadi enam kelompok yaitu jenis resin komposit microhybrid dengan lama pemanasan 10, 20, dan 30 menit dan resin komposit nanohybrid dengan lama pemanasan 10, 20, dan 30 menit  yang dipanaskan pada suhu 55ºC sebagai bahan sementasi lithium disilicate. Sampel disimpan dalam inkubator suhu 37º selama 24 jam, lalu diuji kekuatan geser pelekatan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) kecepatan 0,5 mm/menit. Pengamatan tambahan dilakukan dengan mikroskop stereo untuk mengidentifikasi tipe kegagalan pelekatan. Hasil: Uji ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa jenis preheated resin komposit memiliki nilai p=0,001 (p<0,05) artinya terdapat pengaruh signifikan jenis resin komposit nanohybrid dan microhybrid terhadap kekuatan geser pelekatan, sedangkan variabel lama pemanasan diperoleh nilai  p=0,058 (p>0,05) artinya tidak ada pengaruh antar kelompok lama pemanasan resin komposit nanohybrid dan microhybrid terhadap kekuatan geser pelekatan. Simpulan: preheated resin komposit microhybrid sebahai bahan sementasi lithium disilicate menghasilkan kekuatan geser lebih baik dibandingkan nanohybrid. Lama pemanasan resin komposit  suhu 55° selama 10, 20, dan, 30 menit tidak berpengaruh signifikan terhadap kekuatan geser pelekatan.
Fiber-reinforced stress reduced direct composites for endodontic treated tooth: a serial case report Erwidawan, Mahar rosa; Satrio, Fajar; Rinastiti, Margareta; Enggardipta, Raras Ajeng
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.58363

Abstract

Introduction: Endodontically treated teeth (ETT) become more fragile due to the loss of tooth structural integrity as a result of caries, access preparation, decreased moisture content, and/or tooth fracture. These conditions influence the choice of restorative materials and techniques for ETT. Fiber-reinforced, stress-reduced direct composite (FR-SRDC) is a promising approach for restoring ETT because it preserves the remaining tooth structure and enhances fracture resistance. This case report evaluates the use of FR-SRDC in Class II cavities of ETT first maxillary molars with a six-month follow-up. Case Report: Case 1: A 35-year-old woman presented with a complaint of decay under an old filling placed two years ago in the left first maxillary molar, without pain on biting. Radiographic examination revealed a radiopaque filling on the mesio-occlusal surface and leakage marked by radiolucency between the restoration and the tooth structure extending toward the pulp. The diagnosis was pulp necrosis with asymptomatic apical periodontitis. The prognosis was good, considering the absence of pain and asymptomatic presentation. Case 2: A 29-year-old male complaining of decay in the left first maxillary molar and pain on biting for a week. The diagnosis was pulp necrosis with symptomatic apical periodontitis. The prognosis was fairly good, but required attention due to pain. Treatment for both cases consisted of root canal treatment (RCT) followed by restoration with FR-SRDC. The six-month follow-up showed good results for both cases, demonstrating the effectiveness and durability of fiber-reinforced, stress-reduced direct composite restorations. Conclusion: Fiber-reinforced, stress-reduced direct composites appear to be an effective restorative option for class II cavities in endodontically treated first maxillary molars, yielding favorable results over a six-month follow up period.Restorasi direk komposit dengan penguat fiber pada gigi pasca perawatan saluran akar: laporan kasus berserialPendahuluan: Gigi yang telah dirawat endodontik (ETT) menjadi lebih rapuh karena hilangnya integritas struktur gigi akibat karies, preparasi akses, berkurangnya kadar air, dan/atau fraktur gigi. Kondisi ini menentukan pilihan bahan dan teknik restorasi ETT. Komposit direk pengurangan stres yang diperkuat fiber (FR SRDC) adalah pendekatan yang baik untuk ETT karena akan mempertahankan struktur gigi yang tersisa dan meningkatkan ketahanan fraktur. Laporan kasus ini mengevaluasi penggunaan FR SRDC pada kavitas kelas II ETT molar pertama rahang atas dengan tindak lanjut 6 bulan. Laporan Kasus: Kasus 1: Wanita 35 tahun mengeluhkan kerusakan di bawah tambalan lama 2 tahun yang lalu pada molar pertama rahang atas kiri, tanpa rasa sakit saat menggigit. Pemeriksaan radiografi menunjukkan tambalan radiopak pada mesio-oklusal dan kebocoran tambalan yang ditandai dengan radiolusensi antara tambalan dan gigi hingga ke pulpa. Diagnosis: nekrosis pulpa, periodontitis apikal asimptomatik. Prognosis: Baik, mengingat tidak adanya rasa sakit dan kondisi asimptomatik. Kasus 2: Pria 29 tahun mengeluhkan kerusakan pada molar pertama rahang atas kiri dan rasa sakit saat menggigit selama seminggu. Diagnosis nekrosis pulpa, periodontitis apikal simptomatik. Prognosis cukup baik, namun memerlukan perhatian karena adanya rasa sakit. Indikasi perawatan untuk kedua kasus: Perawatan saluran akar (PSA) diikuti dengan FR SRDC. Tindak lanjut 6 bulan menunjukkan hasil yang baik untuk kedua kasus, mendemonstrasikan efektivitas komposit langsung pengurangan stres yang diperkuat serat. Simpulan: Komposit direk pengurangan stres yang diperkuat fiber dapat menjadi pilihan yang efektif pada kavitas kelas II gigi yang telah dirawat endodontik pada molar pertama rahang atas dengan hasil yang baik selama periode 6 bulan
Hubungan karies gigi dengan kualitas hidup pada anak usia Sekolah Dasar: studi cross-sectional Nanda, Lisa May; Endriani, Rita; Anggraini, Dewi; Prakoso, Agung Tri; Rafni, Elita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60135

Abstract

Pendahuluan: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang umum terjadi di dunia dan dapat memengaruhi kualitas hidup anak. Berdasarkan data WHO melaporkan prevalensi karies gigi pada anak sekolah di dunia mencapai 60–90%. Prevalensi karies gigi di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dilaporkan mencapai 82,8%. Sementara itu Riskesdas 2018 melaporkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak di Indonesia mencapai 88,8% dengan tingkat karies tertinggi pada kelompok usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara karies gigi dengan kualitas hidup pada anak di SDN 004 Teratak Buluh. Metode: jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 55 orang. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Juli–Desember 2024. Kuesioner yang digunakan adalah Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14). Skala OHIP-14 digunakan untuk mengukur kualitas hidup, sedangkan indeks DMF-T/def-t digunakan untuk mengukur status karies. Data yang digunakan merupakan data primer yang diambil dari formulir hasil pemeriksaan karies gigi siswa SDN 004 Teratak Buluh dan data penilaian kualitas hidup diambil dari hasil penilaian kuesioner OHIP-14. Uji analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil:  Sebagian besar responden mengalami karies gigi sebanyak 80%, status kualitas hidup responden berkategori buruk sebanyak 67,3%. Uji statistik hubungan karies gigi dengan kualitas hidup menunjukkan hubungan signifikan dengan nilai p<0.001 Simpulan: Peningkatan kejadian karies gigi berhubungan dengan penurunan kualitas hidup pada anak usia sekolah dasar.      Relationship between dental caries and quality of life among elementary school aged children : a cross-sectional studyIntroduction: Dental caries is a common oral health problem worldwide and can significantly affect quality of life among children. According to the World Health Organization (WHO), the prevalence of dental caries in school-aged children worldwide ranges from 60% to 90%. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of dental caries in Indonesia was reported to reach 82.8%. Meanwhile, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) report showed that the prevalence of dental caries in Indonesian children reached 88.8%, with the highest incidence observed among those aged 5–9 years and 10–14 years. This study aimed to analyze the relationship between dental caries and quality of life among children at SDN 004 Teratak Buluh. Methods: This study was an analytical observational study with a cross-sectional approach. The sampling technique used was stratified random sampling, with a total sample of 55 participants. Data collection was carried out from July to December 2024. The questionnaire was Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14), which was used to measure quality of life, while the DMF-T/def-t index was used to measure caries status. Data analysis was conducted using the Chi-square test. Results: The majority of respondents experienced dental caries 80%, while 67.3% were categorized as having poor quality of life. Statistical analysis of the relationship between dental caries and quality of life showed a significant relationship (p <0.001) Conclusion: An increased incidence of dental caries was significantly associated with a decrease in quality of life among elementary school–aged children.
Efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur (Cymbopogon citratus (DC)Stapf.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi: studi eksperimental Kamlau, Raisha Suci; Bakhtiar, Amri; Sari, Widya Puspita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61488

Abstract

Pendahuluan : Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tertinggi di Indonesia yang disebabkan oleh Streptococcus mutans. Penggunaan antibiotik masih menjadi perawatan utama, namun beresiko menimbulkan alergi dan resistensi bakteri apabila tidak diberikan secara tepat. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif antibakteri, salah satunya serai dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.) yang mengandung minyak atsiri dengan senyawa antibakteri seperti sitral, geraniol, dan neral. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian ini Streptococcus mutans  ATCC 25175. Minyak atsiri serai dapur daun dan batang semu didapatkan dari destilasi air-uap kemudian diuji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram menggunakan media Nutrient Agar (NA) terhadap konsentrasi 5%, 10%, 15% dan kontrol positif (Amoksisilin 32 µg), serta kontrol negatif (DMSO). Analisis statistik menggunakan uji two way ANOVA yang dilanjutkan uji LSD. Hasil: Terdapat zona hambat minyak atsiri daun dan batang semu terhadap Streptococcus mutans. Minyak atsiri daun serai dapur konsentrasi 5% (2,86 mm), 10% (9,78 mm) dan 15% (14,96 mm), sedangkan minyak atsiri batang semu serai dapur konsentrasi 5% (1,23 mm), 10% (7,58 mm) dan 15% (13,55 mm). Uji two way ANOVA dan uji LSD diperoleh hasil yang signifikan dengan p=0,001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 15% dengan kategori kuat.The effectiveness of essential oil from lemongrass leaves and pseudostems on the growth Of Streptococcus mutans: an experimental studyIntroduction: Dental caries is the most prevalent oral health problem in Indonesia, primarily caused by the bacterium Streptococcus mutans. Antibiotics remain the main treatment, but they carry the risk of causing allergies and bacterial resistance if not administered properly. This problem can be addressed by utilizing medicinal plants as alternative antibacterial agents, one of which is lemongrass (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.), which contains essential oils with antibacterial compounds such as citral, geraniol, and neral. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of essential oils from lemongrass leaves and pseudostems on the growth of Streptococcus mutans. Methods: This study was a laboratory experimental study with a post-test only control group design. The research sample was Streptococcus mutans ATCC 25175. Essential oils from lemongrass leaves and pseudostems were obtained from steam distillation and then tested for antibacterial activity using the disc diffusion method with Nutrient Agar (NA) medium at concentrations of 5%, 10%, 15%, and a positive control (Amoxicillin 32 µg) as well as a negative control (DMSO). Statistical analysis was performed using a two-way ANOVA test followed by an LSD test. Results: There was an inhibition zone formed by essential oils from lemongrass leaves and pseudostems against Streptococcus mutans. Essential oil from lemongrass leaves at concentrations of 5% (2.86 mm), 10% (9.78 mm), and 15% (14.96 mm), while lemongrass pseudostem essential oil at concentrations of 5% (1.23 mm), 10% (7.58 mm) and 15% (13.55 mm). The two-way ANOVA and LSD tests yielded significant results with p=0.001 (p<0.05). Conclusion: There was significant antibacterial activity in essential oil from the leaves and pseudostems of lemongrass against the growth of Streptococcus mutans at a concentration of 15%,indicating strong antibacterial strength.
Effect of adding durian seed flour (Durio zibethinus Murr.) on the setting time of alginate impression material: an experimental laboratory study Fransiska, Aria; Isnain, Zahrotus Shobah; Ramayanti, Sri; Yohana, Nelvi; Cahyanto, Arief
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.62817

Abstract

Introduction: Alginate is one of the most commonly used impression materials in dentistry to obtain a negative reproduction of teeth and surrounding tissues. To achieve an accurate impression, alginate must have an adequate setting time. However, its tendency to set too quickly is one of the material’s main weaknesses in clinical use. Modification of alginate with durian seed flour (Durio zibethinus Murr.), which contains amylose and amylopectin, may alter its setting time. This study aimed to analyze the effect of adding durian seed flour on the setting time of alginate impression material. Methods: This was an experimental laboratory study using a post-test only control group design. The samples consisted of pure alginate and alginate mixed with 20% and 40% durian seed flour, for a total of 30 samples. The setting time was measured using a cylinder rod tip and recorded with a stopwatch. Data were analyzed using One-way ANOVA followed by Post Hoc LSD tests. Results: The mean setting times of pure alginate, alginate 80% + durian seed flour 20%, and alginate 60% + durian seed flour 40% were 132.2 ± 3.495 s; 212.3 ± 3.742 s; and 266.8±3.369 s, respectively. The addition of durian seed flour significantly affected the setting time of alginate impression material (p<0.05). Conclusion: Alginate with 40% durian seed flour addition exhibited the longest setting time compared with other sample groups. However, alginate with 20% and 40% durian seed flour additions still met the American Dental Association (ADA) Specification No. 18 for acceptable setting time.Pengaruh penambahan tepung biji durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap setting time bahan cetak alginat: eksperimental laboratorisPendahuluan: Bahan cetak alginat merupakan bahan cetak yang paling sering digunakan di kedokteran gigi untuk mendapatkan reproduksi negatif gigi dan jaringan disekitarnya. Alginat harus memiliki setting time yang cukup agar dapat menghasilkan cetakan yang baik. Setting time yang cenderung terlalu cepat menjadi salah satu kelemahan alginat dalam keadaan klinis. Modifikasi alginate dengan penambahan tepung biji durian yang memiliki kandungan amilosa dan amilopektin dapat mempengaruhi setting time alginat. Tujuan menganalisis pengaruh penambahan tepung biji durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap setting time bahan cetak alginat. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian experimental laboratory dengan desain penelitian post-test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan cetak alginat murni serta alginat dengan penambahan tepung biji durian 20% dan 40%. Total sampel keseluruhan sebanyak 30 sampel. Setting time diukur dengan ujung batang silinder dan dihitung menggunakan stopwatch. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA dan Post Hoc LSD. Hasil: Rata-rata hasil pengukuran setting time alginat murni, alginat 80%+tepung biji durian 20%, alginat 60%+tepung biji durian 40% berturut-turut adalah: 132,2±3,495; 212,3±3,742; 266,8±3,369. Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung biji durian berpengaruh terhadap setting time bahan cetak alginat (p<0,05). Kesimpulan: Alginat dengan penambahan tepung biji durian 40% memiliki setting time yang paling lama dibandingkan dengan kelompok sampel lainnya pada penelitian ini. Alginat dengan penambahan tepung biji durian 20% dan 40% memiliki setting time yang masih sesuai dengan standar American Dental Association (ADA) No. 18.
Pengaruh aplikasi ekstrak cangkang kerang hijau (Perna Viridis) konsentrasi 20% dalam sediaan mousse terhadap kadar kalsium email gigi sulung: studi eksperimental Wardani, Sito Resmi Hayuning; Mahendra, Putri Kusuma Wardani; Bramanti, Indra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60956

Abstract

Pendahuluan: Cangkang kerang hijau (Perna viridis) mengandung 95% kalsium karbonat amorf murni yang berfungsi sebagai prekursor hidroksiapatit. Hidroksiapatit berperan dalam proses remineralisasi gigi.  Efektifitas penggunaan sintesis hidroksiapatit sangat dipengaruhi oleh bentuk sediaan yang diberikan. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh aplikasi ekstrak cangkang kerang hijau (Perna Viridis) konsentrasi 20% dalam sediaan mousse terhadap kadar kalsium email gigi sulung. Metode: penelitian eksperimental semu dengan menggunakan 16 gigi insisivus desidui anterior yang dibagi menjadi 4 kelompok penelitian. Sebelum diberikan perlakuan, dilakukan demineralisasi menggunakan asam fosfat 37%. Kelompok perlakuan diaplikasikan mousse cangkang kerang hijau konsentrasi 20%, kelompok kontrol positif diaplikasikan CPP-ACP, kelompok kontrol negatif tidak diberikan perlakuan dan kelompok basis diaplikasikan mousse ke permukaan labial gigi. Keseluruhan sampel dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 37˚C dan diambil sesuai dengan waktu retensinya yaitu 30 menit, setelah pemaparan bahan remineralisasi. Pengukuran kadar kalsium gigi dilakukan menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Anova dan post hoc.  Hasil: Kelompok mousse cangkang kerang hijau memiliki kadar kalsium tertinggi, diikuti dengan kelompok kontrol positif, basis mousse dan kelompok kontrol negatif. Hasil One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan kadar kalsium yang bermakna antara kelompok perlakuan (p=0,001). Hasil uji Post Hoc LSD menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif (p=0,001) dan kelompok mousse kerang hijau (p=0,001). Simpulan: Pemberian aplikasi mousse ekstrak cangkang kerang hijau konsentrasi 20% dapat meningkatkan kadar kalsium email gigi sulung.Effect of 20% green mussel (Perna viridis) shell extract in mousse formulation on the calcium content of deciduous tooth enamel: an experimental studyIntroduction: Green mussel shells (Perna viridis) contain 95% amorphous calcium carbonate (CACO3), which serves as a precursor for hydroxyapatite, which plays an important role in the tooth remineralization process. The effectiveness of hydroxyapatite synthesis application is greatly influenced by the formulation and form of the preparation. This study aimed to determine the effect of a 20% green mussel shell extract in mousse formulation on the calcium content of deciduous tooth enamel. Methods: This was a quasi-experimental study using 16 anterior deciduous incisor teeth divided into four experimental groups. Before treatment, demineralization was performed using 37% phosphoric acid. The treatment group received mousse containing 20% green mussel shell extract, the positive control group received CPP-ACP, the negative control group received no treatment, and the base group received plain mousse applied to the labial tooth surface. All samples were placed in an incubator at a temperature of 37˚C and collected according to their retention time, i.e., 30 minutes after exposure to the remineralizing agents. Measurement of enamel calcium levels was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed using one-way ANOVA followed by a post hoc LSD test. Results: The group treated with 20% green mussel shell mousse showed the highest calcium levels followed by the positive control group, mousse base group, and negative control group. The one-way ANOVA results showed a significant difference in calcium levels between treatment groups (p=0.001). The Post Hoc LSD test results showed a significant difference (p<0.05) between the negative control group and both the positive control (p=0.001) and green mussel mousse group (p=0.001). Conclusion: Application of 20% green mussel shell extract mousse effectively increases the calcium content of deciduous tooth enamel.