Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Suar Betang

PENGUASAAN PERIBAHASA SUNDA OLEH PENUTUR SUNDA DI KECAMATAN LURAGUNG, KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT Riyanto, Sugeng; Suparman, Tatang; Wagiati, Wagiati
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Suar Bétang, Vol.13, No.1, Edisi Juni, 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.501 KB) | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.73

Abstract

Peribahasa Sunda merupakan kumpulan kearifan lokal yang tersimpan rapi dalam bahasa, terutama berisi nasihat dan contoh pekerti yang baik. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan membuktikan bahwa bahasa Sunda, melalui peribahasa, berperan penting dalam menyumbang kearifan bangsa. Penelitian ini berancangan kualitatif dengan data yang dikuantifikasi. Penelitiannya berupa penelitian lapangan. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Data dikumpulkan dari dua belas pembahan yang berbahasa pertama Sunda dan berumur antara 13 tahun dan 47 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan muda jauh lebih sedikit menguasai peribahasa daripada informan dewasa. Semua informan menganggap penting untuk mengetahui peribahasa Sunda, tetapi disayangkan bahwa generasi muda kurang memiliki kesempatan untuk mempelajarinya dan antara lain juga terdesak oleh bahasa Indonesia. Semua informan bangga pada bahasa Sunda sebagai bahasa daerah dan sebagai penyimpan kebudayaan(The Mastery of Sundanese Proverbs by Sundanese Speakers in Luragung Sub-district, Kuningan District, West Java Province)Sundanese proverb is a collection of local wisdom stored neatly in the language, especially containing advice and examples of good character. This research aims to prove that Sundanese language, through proverbs, plays an important role in contributing to the wisdom of the nation. This qualitative research is a field research. The research location is in Luragung District, Kuningan Regency, West Java Province. The data were collected from twelve first language speakers of Sundanese language between 13 years and 47 years old. The results show that younger informants fewer master proverbs than adult informants. All informants considered it is important to know the Sundanese proverb but regretted that the younger generation lacked the opportunity to learn it and among other things also pressed by the Indonesian language. All informants are proud of Sundanese as a regional language and as a cultural store.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI OLEH PENUTUR SUNDA DI KOMPLEKS PERUMAHAN DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati, NFN; Zein, Duddy
SUAR BETANG Vol 12, No 1 (2017): Suar Betang, Vol. 12, Nomor 1, Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v12i1.14

Abstract

This study describes the maintenance of the Sundanese language as a means of communication by speakers living in residences in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into six domains of communication, namely kinship, neighborhood, intimacy, education, transaction, and government. The result of the research shows that (1) Sundanese is often used by Sundanese speakers in residential complex in Bandung in four communication domains, namely kinship, intimacy, neighborhood, and transaction. It means that the maintenance of Sundanese language in all four domains is still quite strong. In the realm of education and government, the maintenance of Sundanese language is very weak. (2) The interlocutor factor is crucial to the decision of the use of Sundanese language in the realm of communication. In the realm of education, there are non-Sundanese students who still maintain their mother tongue. This condition continues to grow until finally the number of students speaking Sundanese as their mother tongue decrease in number. In the realm of transaction, the interlocutor factor is also crucial. Sundanese is used by Sundanese speakers if the interlocutor is clearly identified as Sundanese. If it is not recognized, the Indonesian language will be used. Younger speakers also use Indonesian more when dealing with officials in government offices, including village head offices, some of whom are Sundanese and speak one
KALIMAT INVERSI DENGAN SUBJEK KOMPLEKS DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM JURNALISTIK Wagiati, NFN; Zein, Duddy
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Suar Bétang, Vol.13, No.1, Edisi Juni, 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.70

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kalimat Inversi dengan Subjek Kompleks dalam Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik”.  Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji konstruksi predikat dan konstruksi subjek pada kalimat inversi dengan subjek kompleks dan (2) mengkaji perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik banyak ditemukan kalimat inversi dengan subjek kompleks. Bentuk verba yang menjadi predikat pada umumnya berupa verba pasif berawalan {ter-} atau {di-}. Konstituen pengisi predikatnya ada yang berupa kata, yakni verba saja, dan ada pula yang berupa verba + adverbia dan membentuk frasa verbal. Subjek kompleks berdasarkan konstruksinya dapat berupa frasa dan dapat pula berupa klausa. Perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks pada umumnya bergantung pada konstituen pengisi predikat. Jika predikat berupa verba saja, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang kurang lazim. Namun, jika predikat berupa verba + adverbia sehingga membentuk frasa verbal, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang lazim(Inversion Sentences with Complex Subject in Indonesian Language of Journalistic Variety)This research titled “Inversion Sentences with Complex Subjects in Journalistic Style-Indonesian Language.” The purposes of this study are (1) to study the construction of predicate and subject construction in inversion sentences with a complex subject, and (2) to study the change of structure of predicate-subject to subject-predicate in inversion sentence with a complex subject. The result of the research shows that sentences inversion with the complex subject is found frequently used in Journalistic Style-Indonesian Language. The form of verbs that become the predicate is generally a passive verb which beginning with {ter-} or {di-}. The constituents of predicate filler are found in the form of a word, which is verb only and also found in the form of verb + adverbs which forms verbal phrases. The complex subject based on the construction can be whether a phrase or a clause. The structural changes from predicate-subject to subject-predicate in inversion sentences with complex subjects generally depend on the constituents of predicate filler. If the predicate is only a verb, the reversal of the structure from predicate- subject to subject-predicate will form less common sentences. However, if the predicate form is verb + adverbial and creates a verbal phrase, the reversal of the structure from subject-predicate to subject-predicate will form a common sentence
PENGUASAAN PERIBAHASA SUNDA OLEH PENUTUR SUNDA DI KECAMATAN LURAGUNG, KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT Sugeng Riyanto; Tatang Suparman; Wagiati Wagiati
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.73

Abstract

Peribahasa Sunda merupakan kumpulan kearifan lokal yang tersimpan rapi dalam bahasa, terutama berisi nasihat dan contoh pekerti yang baik. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan membuktikan bahwa bahasa Sunda, melalui peribahasa, berperan penting dalam menyumbang kearifan bangsa. Penelitian ini berancangan kualitatif dengan data yang dikuantifikasi. Penelitiannya berupa penelitian lapangan. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Data dikumpulkan dari dua belas pembahan yang berbahasa pertama Sunda dan berumur antara 13 tahun dan 47 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan muda jauh lebih sedikit menguasai peribahasa daripada informan dewasa. Semua informan menganggap penting untuk mengetahui peribahasa Sunda, tetapi disayangkan bahwa generasi muda kurang memiliki kesempatan untuk mempelajarinya dan antara lain juga terdesak oleh bahasa Indonesia. Semua informan bangga pada bahasa Sunda sebagai bahasa daerah dan sebagai penyimpan kebudayaan(The Mastery of Sundanese Proverbs by Sundanese Speakers in Luragung Sub-district, Kuningan District, West Java Province)Sundanese proverb is a collection of local wisdom stored neatly in the language, especially containing advice and examples of good character. This research aims to prove that Sundanese language, through proverbs, plays an important role in contributing to the wisdom of the nation. This qualitative research is a field research. The research location is in Luragung District, Kuningan Regency, West Java Province. The data were collected from twelve first language speakers of Sundanese language between 13 years and 47 years old. The results show that younger informants fewer master proverbs than adult informants. All informants considered it is important to know the Sundanese proverb but regretted that the younger generation lacked the opportunity to learn it and among other things also pressed by the Indonesian language. All informants are proud of Sundanese as a regional language and as a cultural store.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI OLEH PENUTUR SUNDA DI KOMPLEKS PERUMAHAN DI KABUPATEN BANDUNG NFN Wagiati; Duddy Zein
SUAR BETANG Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v12i1.14

Abstract

This study describes the maintenance of the Sundanese language as a means of communication by speakers living in residences in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into six domains of communication, namely kinship, neighborhood, intimacy, education, transaction, and government. The result of the research shows that (1) Sundanese is often used by Sundanese speakers in residential complex in Bandung in four communication domains, namely kinship, intimacy, neighborhood, and transaction. It means that the maintenance of Sundanese language in all four domains is still quite strong. In the realm of education and government, the maintenance of Sundanese language is very weak. (2) The interlocutor factor is crucial to the decision of the use of Sundanese language in the realm of communication. In the realm of education, there are non-Sundanese students who still maintain their mother tongue. This condition continues to grow until finally the number of students speaking Sundanese as their mother tongue decrease in number. In the realm of transaction, the interlocutor factor is also crucial. Sundanese is used by Sundanese speakers if the interlocutor is clearly identified as Sundanese. If it is not recognized, the Indonesian language will be used. Younger speakers also use Indonesian more when dealing with officials in government offices, including village head offices, some of whom are Sundanese and speak one
KALIMAT INVERSI DENGAN SUBJEK KOMPLEKS DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM JURNALISTIK NFN Wagiati; Duddy Zein
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.70

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kalimat Inversi dengan Subjek Kompleks dalam Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik”.  Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji konstruksi predikat dan konstruksi subjek pada kalimat inversi dengan subjek kompleks dan (2) mengkaji perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik banyak ditemukan kalimat inversi dengan subjek kompleks. Bentuk verba yang menjadi predikat pada umumnya berupa verba pasif berawalan {ter-} atau {di-}. Konstituen pengisi predikatnya ada yang berupa kata, yakni verba saja, dan ada pula yang berupa verba + adverbia dan membentuk frasa verbal. Subjek kompleks berdasarkan konstruksinya dapat berupa frasa dan dapat pula berupa klausa. Perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks pada umumnya bergantung pada konstituen pengisi predikat. Jika predikat berupa verba saja, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang kurang lazim. Namun, jika predikat berupa verba + adverbia sehingga membentuk frasa verbal, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang lazim(Inversion Sentences with Complex Subject in Indonesian Language of Journalistic Variety)This research titled “Inversion Sentences with Complex Subjects in Journalistic Style-Indonesian Language.” The purposes of this study are (1) to study the construction of predicate and subject construction in inversion sentences with a complex subject, and (2) to study the change of structure of predicate-subject to subject-predicate in inversion sentence with a complex subject. The result of the research shows that sentences inversion with the complex subject is found frequently used in Journalistic Style-Indonesian Language. The form of verbs that become the predicate is generally a passive verb which beginning with {ter-} or {di-}. The constituents of predicate filler are found in the form of a word, which is verb only and also found in the form of verb + adverbs which forms verbal phrases. The complex subject based on the construction can be whether a phrase or a clause. The structural changes from predicate-subject to subject-predicate in inversion sentences with complex subjects generally depend on the constituents of predicate filler. If the predicate is only a verb, the reversal of the structure from predicate- subject to subject-predicate will form less common sentences. However, if the predicate form is verb + adverbial and creates a verbal phrase, the reversal of the structure from subject-predicate to subject-predicate will form a common sentence
Kekerasan Verbal dalam Merespons Status dan Komentar Politik di Media Sosial dan Implikasinya terhadap Kesantunan Berbahasa Duddy Zein; NFN Wagiati
SUAR BETANG Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v16i1.231

Abstract

This paper is entitled "Verbal Violence in Responding to Status and Political Comments on Social Media and Its Implications to Language Politeness". This study examines patterns of verbal violence displayed by supporters of candidate pairs in responding to political discourse on the 2019 presidential election. The focus of the study is about mass communication which shows the existence of verbal violence and its implications for language politeness. This research uses a descriptive method. The data analyzed in this research are comments, status, and tweets as response from netizens who support presidential candidate pairs in the 2019 presidential election. Data is taken from several social media, such as Facebook, Twitter, Instagram, Line, and Whatsapp. Determination of the research object is done with purposive considerations. The results showed that (1) on various occasions on social media, supporters of each pair of candidates dominantly use expressive speech acts; (2) supporters of candidate pairs often violate the principles of politeness, namely violating the maxims of wisdom, generosity, praise, humility, agreement, and sympathy; (3) the existence of verbal violence is caused by messages conveyed through social media which tend to be free, without having to go through the gate keeper process.AbstrakTulisan ini berjudul “Kekerasan Verbal dalam Merespons Status dan Komentar Politik di Media Sosial dan Implikasinya terhadap Kesantunan Berbahasa”. Penelitian ini mengkaji pola-pola kekerasan verbal yang ditampilkan oleh para pendukung pasangan calon dalam merespons wacana politik pemilihan presiden pada tahun 2019. Fokus kajian pada penelitian ini adalah komunikasi massa yang memperlihatkan adanya kekerasan verbal dan implikasinya terhadap kesantunan berbahasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data yang dianalisis dalam penelitin ini berupa komentar, status, dan tweet sebagai respons dari netizen pendukung pasangan calon presiden pada pemilihan presiden tahun 2019 terhadap wacana politik pilpres tersebut. Data diambil dari beberapa media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, dan Whatsapp. Penentuan objek penelitian dilakukan dengan pertimbangan purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dalam berbagai kesempatan di media sosial, para pendukung setiap pasangan calon secara dominan menggunakan tindak tutur ekspresif; (2) para pendukung paslon kerap kali melanggar prinsip-prinsip kesantunan, yaitu pelanggaran terhadap maksim kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan kesimpatian; (3) adanya kekerasan verbal disebabkan oleh pesan yang disampaikan lewat media sosial cenderung bebas, tanpa harus melalui proses gate keeper.
Transformasi Makna Leksikal dalam Bahasa Indonesia Mutakhir: Analisis Wacana Termediasi Komputer Duddy Zein; NFN Wagiati; Nani Darmayanti
SUAR BETANG Vol 17, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i2.356

Abstract

The complex interactions between different social and cultural groups have a significant impact on language. These changes can affect various aspects of language, from those phonetics, lexical, and semantics, to syntax. This paper aims to analyze and reveal various semantic changes that occur in the Indonesian language caused by the development of technology and information. Several lexical units, surf, roam, home, tablet, google, zoom, status, crispy, and organic are several of many examples. Overall, these types of language change can be characterized by the emergence of new concepts in various fields. Semantic changes can be classified into various types, including metaphorical transfers, metonymic transfers, and semantic transformations. All these phenomena are examined in the framework of computer-mediated discourse. This study uses a structural research method of meaning analysis and involves a comparative study between the lexical meaning and the contextual meaning of the lexical unit being analyzed. This study concludes that there is a semantic shift in the Indonesian language-its quality and the impact on Indonesian language and culture, in general, requires further research and a more detailed linguistic description. AbstrakInteraksi yang kompleks antara kelompok sosial dan budaya yang berbeda berdampak signifikan terhadap bahasa. Perubahan-perubahan tersebut dapat berpengaruh pada berbagai aspek bahasa, mulai dari fonetik, leksikal, semantik, hingga sintaksis. Tulisan ini bertujuan menganalisis dan mengungkapkan beragam perubahan semantis yang terjadi pada bahasa Indonesia yang disebabkan oleh perkembangan teknologi dan informasi. Beberapa unit leksikal, selancar, jelajah, beranda, tablet, google, zoom, status, garing, dan organik, dijadikan sebagai percontoh. Secara keseluruhan, jenis perubahan bahasa itu dapat ditandai dengan munculnya konsep-konsep baru di berbagai bidang. Perubahan semantik dapat diklasifikasikan atas berbagai jenis, di antaranya transfer metaforis, transfer metonimis, dan transformasi semantis. Semua gejala tersebut dikaji dalam kerangka wacana termediasi komputer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian struktural analisis makna dan melibatkan studi perbandingan antara makna leksikal dan makna kontekstual dari unit leksikal yang dianalisis. Penulis menyimpulkan adanya pergeseran semantik dalam bahasa Indonesia yang penilaian dan pengaruhnya terhadap bahasa dan budaya Indonesia secara umum memerlukan penelitian lebih lanjut dan deskripsi linguistik yang lebih terperinci.
Affixation in the Album Kalangkang by Nining Meida Nurulita, Dwi Hasna; Kadir, Puspa Mirani; Wagiati, NFN
SUAR BETANG Vol 19, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v19i1.14762

Abstract

This research examines affixations in the album Kalangkang using qualitative methods. The data used was taken from the lyrics of Nining Meida's song on the album Kalangkang on the internet site. The results of the research show that from 110 data, 36 prefixes were found, namely the prefixes di-, ka-, mi-, nga-, pa-, nasal (n-, ng-, ny-) predominantly indicating adjectives, 6 data infixes, namely The infixes -um-, -ar-, -al-, predominantly indicate adjectives and plurals. There are 26 data suffixes, namely the suffixes -na, -an, -eun, which are often found in remake songs because the lyrics are in the form of sampirans, pantuns and old poetry, so the suffixes play an important role in adapting the rhyme. There are 24 affix combinations of data, namely prefix+infix, prefix+suffix predominantly indicating adjectives. The affixed and nasal reduplications of 12 data consisting of affixed dwipure, affixed dwipurwa, and affixed dwipurwa predominantly form verbs. There are typical characteristics of Sundanese affixations, including: The prefix ka- has the function of indicating adjectives and verbs and predominantly has an accidental meaning. Apart from that, infixes in Sundanese predominantly indicate plural numbers. The combination of the affix in Sundanese forms its own meaning, namely 'most', reduplication in Sundanese for example, dwipurwa with the affix is a partial repetition where the word being repeated is the first syllable of the word.AbstrakPenelitian ini mengkaji afiks dalam album Kalangkang dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan diambil dari lirik lagu Nining Meida pada album Kalangkang pada situs internet. Hasil penelitian menunjukkan dari 110 data, ditemukan prefiks sebanyak 36 data yaitu prefiks  di-, ka-, mi-, nga-, pa-, nasal (n-, ng-, ny-) didominasi menunjukkan kata sifat, Infiks sebanyak 6 data, yaitu infiks -um-, -ar-, -al-, didominasi menunjukkan kata sifat dan jamak. Sufiks sebanyak 26 data, yaitu sufiks -na, -an, -eun, banyak ditemukan dalam lagu remake karena liriknya berupa sampiran, pantun, dan puisi lama., sehingga sufiks berperan penting untuk menyesuaikan rima. Kombinasi afiks sebanyak 24 data, yaitu prefiks+infiks, prefiks+sufiks didominasi menunjukkan kata sifat. Reduplikasi berafiks dan bernasal sebanyak 12 data yang terdiri atas dwimurni berafiks, dwireka berafiks, dan dwipurwa berafiks didominasi membentuk kata kerja. Terdapat ciri khas afiksasi bahasa Sunda, di antaranya prefiks ka- memiliki fungsi menunjukkan adjektiva dan kata kerja dan didominasi memiliki makna ketidaksengajaan. Selain itu, infiks dalam bahasa Sunda didominasi jumlah jamak. Kombinasi afiks pang- + -na dalam bahasa Sunda membentuk makna tersendiri, yaitu ‘paling’, reduplikasi bahasa Sunda misalnya, dwipurwa berafiks merupakan pengulangan sebagian dan kata yang diulang merupakan suku kata pertama kata tersebut.