Anggarani Budi Ribowo
Institut Teknologi Sumatera

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH VARIASI KADAR SERAT BAJA TERHADAP WORKABILITY DAN KARAKTERISTIK MEKANIK BETON FC' 30 MPA Siska Apriwelni; Kirtinanda P; Ayu Sinta Aprilia; Anggarani Budi Ribowo; Kevin Chandra Nurwadji; Fadillah Anisa Pandia
Racic : Rab Construction Research Vol. 11 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v11i1.8116

Abstract

This study analyzes the effect of steel fiber addition on the workability, compressive strength, and split tensile strength of f’c 30 MPa concrete. Steel fiber contents of 0%, 5%, and 7% by total weight of concrete mix materials (equivalent to 0, ±112.4, and ±157.4 kg/m³, respectively) were investigated. Thirty-six cylindrical specimens (Ø15 cm × 30 cm) were tested at 7 and 28 days per SNI 7656:2012. Steel fiber addition significantly reduced slump values (7.5, 5.0, and 3.0 cm), decreased 28-day compressive strength from 31.97 MPa to 26.79 MPa (5%) and 23.39 MPa (7%), and increased split tensile strength from 2.45 MPa to 4.29 MPa (5%) and 4.20 MPa (7%). One-way ANOVA confirmed significant differences among variations (compressive strength: F = 34.86 > Fₜₐₕₑ = 5.14, α = 0.05; split tensile strength: F = 12.97 > Fₜₐₕₑ = 5.14, α = 0.05). The 5% steel fiber variation proved most effective, delivering the highest tensile strength improvement while maintaining acceptable workability.
STUDI KOMPREHENSIF PARAMETER INDEKS TANAH (SPECIFIC GRAVITY, ATTERBERG LIMIT) TERHADAP PERILAKU MEKANIK (CBR DAN BERAT VOLUME) Arif Sitepu; Kirtinanda P; Anggarani Budi Ribowo; Cahyo Agung Saputra; Ayu Kamila Khanza
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2025): STATIKA: JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v11i2.1220

Abstract

Karakteristik tanah memegang peran penting dalam penentuan daya dukung dan kestabilan suatu konstruksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji keterkaitan antara parameter indeks tanah, seperti specific gravity dan atterberg limit, terhadap sifat mekanik tanah yang diukur melalui nilai CBR (California Bearing Ratio) menggunakan uji DCP (Dynamic Cone Penetrometer) serta berat volume. Sampel diambil dari kawasan belum terbangun di lingkungan ITERA. Seluruh pengujian laboratorium dan lapangan mengacu pada standar ASTM. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan korelasi antara nilai DCP dan berat volume. Tanah dengan plastisitas lebih rendah cenderung memiliki nilai penetrasi DCP lebih tinggi namun berat volume yang lebih rendah.
PENGARUH CURAH HUJAN, KEMIRINGAN LERENG SERTA BEBAN GEMPA TERHADAP STABILITAS LERENG DENGAN METODE KESETIMBANGAN BATAS Arif Rahman Hakim Sitepu; Agnes Dallis Evalinesuri; Julita Hayati; Syahidus Syuhada; Andry Yuliyanto; Elian Zhafira; Anggarani Budi Ribowo
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 1 (2024): STATIKA JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i1.576

Abstract

Lereng saat hujan sering mengalami kelongsoran, maka dilakukan penelitian menggunakan metode kesetimbangan batas yaitu metode bishop untuk mencari nilai faktor of safety (FOS) lereng dengan kemiringan lereng 30,45, dan 60. Intensitas hujan yang digunakan yaitu 20 mm/jam, 50 mm/jam, dan 100 mm/jam. Longsor juga disebabkan oleh gempa, pada pemodelan digunakan percepatan gempa sebesar 0,304. Berdasarkan hasil analisis, pengaruh dari curah hujan dan percepatan gempa mengakibatkan nilai FOS menurun. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai FOS tereduksi rata-rata 1,4% terhadap hujan, 18% terhadap kemiringan, dan 37% terhadap gempa. Hal ini menunjukkan bahwa lereng yang tidak stabil akibat dari adanya gaya gravitasi yang mendoorng material terjatuh kebawah serta adanya infiltrasi air hujan dan menambah berat tanah karena kenaikan air pori tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng pada kondisi stabil pada kemiringan 30 karena FOS>1,5 dalam kondisi statik dan FOS>1 dalam kondisi dinamik.
ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PENGGUNAAN BEKISTING KONVENSIONAL DAN BEKISTING ALUMINIUM FORMWORK : ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PENGGUNAAN BEKISTING KONVENSIONAL DAN BEKISTING ALUMINIUM FORMWORK Mutiara Maharani Wijaya; Elian Zhafira; Galih Rio Prayogi; Putri Ayu Dwiyana; Anggarani Budi Ribowo; Ayu Kamila Khanza; Evan Febri Miranda; Fahira Rhomianti Putri; Raden Gunawan
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 2 (2024): STATIKA : JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i2.706

Abstract

Seiring dengan pesatnya perkembangan industri konstruksi, berbagai material berkualitas tinggi mulai banyak digunakan dalam proyek-proyek konstruksi, terutama untuk pekerjaan bekisting pada gedung bertingkat. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap jenis material yang akan digunakan untuk mencapai efisiensi biaya dan waktu. Pembangunan proyek XYZ memiliki podium 5 lantai yang menggunakan bekisting konvensional, serta tower 43 lantai yang menggunakan bekisting aluminium. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya dan waktu antara penggunaan bekisting konvensional, aluminium, serta kombinasi keduanya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif komparatif. Berdasarkan hasil analisis, anggaran yang dibutuhkan untuk bekisting konvensional adalah Rp27.149.858.086, atau 22% lebih mahal dibandingkan bekisting campuran, dengan durasi pekerjaan 497 hari. Sementara itu, anggaran untuk bekisting aluminium adalah Rp24.251.496, atau 9% lebih mahal dibandingkan bekisting campuran, dengan durasi pekerjaan 126 hari. Durasi pekerjaan dengan bekisting campuran adalah 337 hari. Dengan demikian, penggunaan bekisting campuran lebih hemat biaya dibandingkan bekisting konvensional atau aluminium, dan waktu pengerjaan lebih cepat dibandingkan bekisting konvensional, meskipun tidak secepat aluminium. Hal ini disebabkan oleh kemudahan pemasangan pada metode bekisting aluminium. Sehingga peningkatan kualitas material bekisting dapat meningkatkan efisiensi biaya dan waktu, terutama dalam konstruksi gedung bertingkat.
ANALISIS PEMANFAATAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI AGREGAT HALUS PADA BETON GEOPOLIMER BERBASIS FLY ASH: ANALISIS PEMANFAATAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI AGREGAT HALUS PADA BETON GEOPOLIMER BERBASIS FLY ASH Ahmad Yudi; Sephia Melanie Syahri; Kirtinanda P; Ayu Sinta Aprilia; Anggarani Budi Ribowo
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 2 (2024): STATIKA : JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i2.710

Abstract

Beton sebagai material konstruksi mengalami peningkatan permintaan dan pada daerah tertentu yang memiliki keterbatasan material untuk mendapatkan material seperti pasir dan semen. Untuk itu limbah tempurung kelapa dapat digunakan sebagai alternatif bahan material untuk campuran beton, karena produksi dari perkebunan kelapa nasional mencapai 2,85 juta ton lebih serta konsumsi kelapa terus meningkat tiap tahunnya. Selain itu dapat memanfaatkan abu terbang (fly ash) sebagai pengganti semen,yang merupakan limbah dari pembakaran batu bara. Tempurung kelapa dapat dimanfaatakan sebagai bahan tambah pada campuran beton dengan harapan menghasilkan beton yang memiliki kuat tekan yang diinginkan dengan cara tempurung kelapa yang sudah melalui pembakaran menjadi arang kemudian dihaluskan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh tempurung kelapa sebagai agregat halus pada beton geopolimer berbasis abu terbang (fly ash). Metode penelitian pada penelitian ini yaitu eksperimental dalam data kuantitatif. Variasi substitusi tempurung kelapa sebagai agregat halus sebesar 0%, 3%, 5%, dan 7% dari berat agregat serta penggunaan alkali aktivator yaitu NaOH dan Na2SiO3 pada campuran beton geopolimer dengan perbandingan 1:2,5. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan ukuran diameter 100 mm dan tinggi 200 mm. Sampel pada tiap variasi berjumlah 3 sampel. Metode curing dilakukan dengan oven yang memiliki suhu sebesar 90°C dalam waktu 24 jam kemudian dengan suhu ruang dan pada umur beton 7 hari akan dilakukan pengujian kuat tekan. Hasil pengujian yang didapatkan yaitu nilai slump 0 mm pada tiap variasi, berat volume optimum didapatkan pada variasi 3% sebesar 2069,43 kg/m3 serta kuat tekan optimum pada variasi 0% sebesar 18,37 MPa.
ANALISIS RISIKO KECELAKAAN KERJA PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN METODE BOW TIE ANALYSIS (STUDI KASUS: PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL AZANA BANDAR LAMPUNG): ANALISIS RISIKO KECELAKAAN KERJA PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN METODE BOW TIE ANALYSIS Fajri Dharmais; Anggarani Budi Ribowo; Rajiman; Putri Ayu Dwiyana
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 1 (2025): Statika: Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek pembangunan Hotel Azana Bandar Lampung merupakan proyek gedung berlantai 11 yang memiliki potensi risiko kecelakaan kerja tinggi. Identifikasi risiko dilakukan terhadap beberapa faktor, seperti kurang fokusnya pekerja, penggunaan alat berat, area proyek yang tidak bersih, dan rendahnya kesadaran penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko kecelakaan melalui identifikasi risiko, survei lapangan, penilaian tingkat kecelakaan (likelihood index dan severity index), serta penentuan peringkat risiko. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko paling dominan adalah pekerja terjatuh dari ketinggian dengan likelihood index 21% dan severity index 64%, serta putusnya sling crane dengan likelihood index 7% dan severity index 61%. Analisis risiko menggunakan diagram Bow Tie mengungkap bahwa risiko pekerja terjatuh disebabkan oleh kecerobohan pekerja, tidak adanya alat pengaman, fasilitas yang tidak memadai, dan kebersihan lokasi yang buruk, dengan konsekuensi berupa luka ringan, luka berat, atau kematian. Sementara itu, risiko putusnya sling crane dipicu oleh usia alat yang sudah tua, kondisi sling tidak aman, kelebihan beban, cuaca ekstrem, kurang fokusnya operator, dan tidak adanya rambu pengaman, yang berakibat pada luka berat, kematian, atau kerusakan alat berat. Kontrol peristiwa dan faktor eskalasi juga dianalisis untuk memitigasi risiko yang mungkin terjadi.