Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Peran Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Status Gizi Balita melalui Pelatihan Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Pangan Fungsional Misriyani, Misriyani; Jumardin, Jumardin; Spetriani, Spetriani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.1133

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia, terutama pada kelompok balita. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung upaya pencegahan stunting melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis edukasi dan pemanfaatan pangan lokal. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam memanfaatkan daun kelor (Moringa oleifera) sebagai pangan fungsional untuk mendukung peningkatan status gizi balita di Desa Walatana. Metode pelaksanaan pengabdian meliputi edukasi gizi, pelatihan pengolahan daun kelor menjadi bubuk dan produk pangan sederhana, serta pendampingan penerapan dalam konsumsi sehari-hari. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan ibu balita dan kader kesehatan setempat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai manfaat gizi daun kelor, kemampuan mengolah daun kelor secara mandiri, serta peningkatan kesadaran pentingnya pemenuhan gizi balita sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan ini juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam pengembangan solusi berbasis potensi lokal. Kesimpulan dari pengabdian ini adalah bahwa pelatihan pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional merupakan intervensi edukatif yang efektif dan berkelanjutan dalam mendukung peningkatan status gizi balita dan pencegahan stunting di tingkat desa.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIAWI DAN DAYA SIMPAN PEWARNA BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) PENGARUHNYA TERHADAP ANTIOKSIDAN ANTOSIANIN DENGAN METODE MASERASI Spetriani; Sabariyah, Sitti; Fathurahmi, Siti; Kadir, Syahraeni; Bisinda, Sultan Nasyirah
Jurnal Pengolahan Pangan Vol. 10 No. 1 (2025): Sedang Proses
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/pangan.v10i1.260

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi pewarna alami dari daun dan batang bayam merah (Amaranthus tricolor L.) berdasarkan kandungan antosianin dan stabilitasnya selama penyimpanan. Pewarna alami ini diharapkan tidak hanya memberikan warna pada makanan tetapi juga menambah manfaat kesehatan melalui kandungan antioksidannya. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor: jenis jaringan daun dan batang (D dan B) dan waktu penyimpanan. Analisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan rotary vacuum evaporator. Hasil menunjukkan bahwa pewarna dari daun memiliki kandungan antosianin tertinggi (8,46 mg/100g), jauh lebih tinggi dibanding batang (2,49 mg/100g). Stabilitas antosianin pada daun juga lebih baik selama penyimpanan (penurunan 31%) dibandingkan batang (penurunan 72%) setelah dua minggu pada suhu ruang. Penurunan kandungan antosianin dipengaruhi oleh aktivitas enzim polifenol oksidase, paparan cahaya, suhu, dan pH. Struktur daun yang lebih kompleks mendukung stabilitas pewarna alami ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pewarna alami dari daun bayam merah berpotensi digunakan sebagai bahan pewarna pangan yang aman, stabil, dan bermanfaat bagi kesehatan.
PENINGKATAN PENGETAHUAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) MELALUI EDUKASI PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI BOMBA Spetriani; Janwar Rahman; Rachmat Abdilla; Nur Faizah; Nursiam; Nurjihan Triani; Qonitah Qobizat; Diah Ayu Widiani; Sri Mulyanti; Buktar Pandi; Rifna; Atviani; Naldratunnaim
Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 1 (2026): Amaliah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPI UMN AL WASHLIYAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/ajpkm.v10i1.6237

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan indikator penting dalam upaya pencegahan penyakit menular di lingkungan sekolah dasar, sehingga edukasi terstruktur diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan siswa sejak usia dini. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit berbasis perilaku, sehingga intervensi pendidikan kesehatan memiliki dampak signifikan dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan PHBS pada siswa Sekolah Dasar Negeri Bomba melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung sebagai bentuk metode edukasi aktif. Pengukuran dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan siswa setelah intervensi edukatif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman siswa mengenai PHBS setelah mendapatkan intervensi, yang ditunjukkan oleh perubahan perilaku sehat dalam aktivitas harian. Program edukasi ini terbukti efektif untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, terutama pada aspek kebersihan diri, kebersihan lingkungan, dan pencegahan penyakit menular, serta mendorong terciptanya budaya hidup sehat yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Pemanfaatan Rompong Tenaga Surya melalui Program Kosabangsa di Desa Pomolulu Spetriani; Sitti Sabariyah; Taufik Ihsan; Bakhrani A Rauf; Darmawang; Faizal Amir
Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 1 (2026): Amaliah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPI UMN AL WASHLIYAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/ajpkm.v10i1.6466

Abstract

The Kosabangsa Program in Pomolulu Village was implemented to address the low productivity and income of fishers due to traditional fishing methods. This program aimed to improve the capacity and welfare of fishers through the application of solar-powered fish aggregating devices (FADs). The method used was participatory training consisting of counseling and hands-on practice, including the introduction of FAD concepts, solar energy systems, and training on assembly, installation, and operation in the field. The results showed an implementation of FAD technology significantly improved fish catches, increasing fishers’ income from approximately IDR 3,000,000 per month to more than IDR 6,750,000 within a 10-day group harvest period. The program also enhanced technical skills and group collaboration in managing the technology. Therefore, the application of solar-powered FADs through a training-based approach proved effective in improving productivity, capacity, and welfare of fishers. This program is expected to be sustainable through institutional strengthening and continuous assistance.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI MELALUI PELATIHAN FERMENTASI BIJI KAKAO UNTUK MENINGKATKAN MUTU DAN NILAI TAMBAH KAKAO Flora Pasaru; Asrul Asrul; Dance Tangkesalu; Spetriani Spetriani; Hasriyanty Hasriyanty; Sri Anjar Lasmini; Burhanuddin Nasir; Idham Idham
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung Vol. 6 No. 01 (2026): Prosiding SENAM 2026: Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Ch
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kakao merupakan komoditas perkebunan unggulan yang berperan penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah memiliki potensi pengembangan kakao yang cukup besar, namun mutu biji kakao yang dihasilkan petani masih rendah karena sebagian besar petani belum menerapkan fermentasi pada proses pascapanen. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas dan nilai jual kakao menjadi kurang optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat Skema PDB ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok tani dalam melakukan fermentasi biji kakao guna menghasilkan kakao bermutu dan bernilai tambah ekonomi. Metode yang digunakan yaitu partisipatif berupa penyuluhan, pelatihan, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan kepada kelompok tani kakao di Desa Sejahtera Kecamatan Palolo. Materi pelatihan meliputi pentingnya fermentasi, tahapan fermentasi yang benar, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan fermentasi, serta teknik pengeringan pascafermentasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan fermentasi biji kakao. Petani mampu memahami dan menerapkan teknik fermentasi dengan baik sehingga menghasilkan biji kakao dengan warna lebih merata, aroma khas kakao fermentasi, dan kualitas fisik yang lebih baik dibandingkan kakao nonfermentasi. Kegiatan pengabdian juga meningkatkan kesadaran petani terhadap pentingnya mutu hasil pascapanen dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah kakao. Pelatihan fermentasi biji kakao menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang efektif dalam mendukung peningkatan kualitas dan nilai ekonomi kakao rakyat secara berkelanjutan
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembuatan Nugget Ikan Sebagai Diversifikasi Olahan Ikan untuk Meningkatkan Pendapatan Mitra Sitti Sabariyah; Muh. Jufri; Spetriani Spetriani; Marjun Marjun; Asrawaty Asrawaty
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 7, No 4 (2023): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (PAMAS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/pamas.v7i4.2474

Abstract

Salubomba Village, Donggala Regency is a coastal village whose residents are mostly fishermen and farmers. Fish caught by fishermen are still sold in raw form. The training activity aims to train the Salubomba Village community who are members of partner groups to process fish so that it has relatively high economic added value. In addition, encouraging the partner group to start and own a fish nugget business. The implementation method starts from the discussion stage and preparation of training between the team and partner groups. The service was then continued with technical training in the form of fish nugget processing demonstrations and non-technical training in the form of presenting material on product marketing strategies through online media, recording cash bookkeeping and institutional strengthening. The results of the activities assessed have increased the knowledge of partner groups regarding good fish nugget processing. In addition, the partner group also offered to develop the potential of marine fishery products in Salubomba Village. This can be seen from the enthusiasm of the partner groups in participating in all service activities. Post-training assistance is also carried out, especially in relation to business bookkeeping and the process of obtaining product distribution permits or P-IRT. Keywords: community service, processed fish, fish nuggets, salubomba village
Montong Durian Farmers' Behavior in Control of Bangkalan Disease in Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi Kasman Jaya; Ratnawati Ratnawati; Sri Sudewi; Spetriani Spetriani
Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 3 No. 7 (2025): Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/enrichment.v3i7.495

Abstract

The presence of bangkalan disease has proven detrimental to Montong durian farmers in Parigi Moutong. Various control efforts have been made but have yielded no significant results. This study aims to determine the behavior of Montong durian farmers in controlling the attack of bangkalan disease. The study was conducted in Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi, specifically in Tolai Village (Torue District), Buranga Village (Ampibabo District), and Sumber Sari Village (South Parigi District), using quantitative methods and survey techniques with structured questionnaires and in-depth interviews involving 10 farmers from each village, totaling 30 respondents. The findings indicate that farmers’ knowledge about the causes of bangkalan disease falls into the low category. Adequate levels of education and years of farming experience have not provided effective solutions to overcome the problem. Farmers generally expressed dissatisfaction with pesticide-based control methods, even though they have had to increase both the frequency and dosage of application. Because the causative agent of bangkalan disease has not yet been identified, many Montong durian farmers have chosen to cease treatment and harvesting, as the risk of loss is too great. This phenomenon reflects a strong relationship between uncontrollable biotic factors and the social as well as psychological dynamics of the farmers. Plant diseases not only threaten productivity but also erode farmers’ hopes for successful harvests. Consequently, their impacts extend to the behavioral and mental well-being of Montong durian farmers, which may eventually endanger the sustainability of the agricultural production system in affected regions—in this case, the future potential of Montong durian cultivation in Parigi Moutong Regency.