Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Isolation and Identification of Lactic Acid Bacteria from Channa sp. as Potential Probiotic Bayu, Hendi Hendra; Irwanto, Riko; Dalimunthe, Nurzaidah Putri; Lingga, Rahmad
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 9, No 1: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus March 2023
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v9i1.3551

Abstract

Lactic acid bacteria (LAB) are a group of bacteria that are naturally present in the digestive tract of vertebrates, including fish such as Channa sp. Lactic acid bacteria are considered the most suitable microbes for use as probiotics. Probiotics can produce antimicrobial metabolites so that can improve the microbial balance in the digestive tract. It is believed that Channa sp. harbors LAB in its digestive tract, which may have probiotic potential and produce antimicrobial metabolites that can inhibit pathogenic bacteria. The aim of this study was to isolate and identify LAB from the intestines of Channa sp. The research involved several steps, including sample preparation, LAB isolation, characterization, and purification of bacterial isolates, biochemical tests, temperature resistance tests, antimicrobial tests, haemolysis tests, lactic acid production tests, and cholesterol-lowering activity tests. Eight LAB isolates with potential probiotic characteristics were isolated and identified as the genus Lactobacillus, which are gram-positive bacteria that produce lactic acid during culture
Identifikasi Keanekaragaman dan Sebaran Jenis Burung untuk Pengembangan Ekowisata Birdwatching di TWA Jering Menduyung Sonia, Anna; Jeniver, Jely; Milah, Siti Ade Nur; Irwanto, Riko
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6651

Abstract

Taman Wisata Alam Jering Menduyung memiliki potensi kenaekaragaman jenis burung yang tinggi dan dapat dikembangkan sebagai salah satu ekowisata birdwatching. Namun, data mengenai keanekaragaman dan sebaran jenis burung di kawasan ini masih sangat sedikit dan belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan sebaran jenis burung, serta jalur yang potensial untuk dikembangkan sebagai ekowisata birdwatching. Penelitian dilaksanakan pada Agustus sampai Oktober 2022. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi pada jalur 1 (hutan dataran rendah) dan jalur 2 (mangrove), serta metode IPA (Index Point of Abundance) pada jalur 3 (pantai). Hasil menunjukkan terdapat 39 spesies burung dari 11 ordo dan 24 famili, dengan nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener 2,981. Jalur 1 (hutan dataran rendah) sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi birdwatching dengan jumlah spesies burung sebanyak 30 jenis, sedangkan jalur 2 (mangrove) dan jalur 3 (pantai) dengan jumlah spesies burung sebanyak 13 jenis termasuk jalur berpotensi untuk pengamatan burung. 
Etnobotani Tumbuhan Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr) pada Suku Melayu Bangka Desa Sungkap, Bangka Tengah Fitri, Gita; Irwanto, Riko; Akbarini, Dian; Henri, Henri
BIOMA: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol 7 No 1 (2025): BIOMA : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/bioma.v7i1.4831

Abstract

Arenga pinnata atau dikenal dengan nama aren atau enau merupakan tanaman multifungsi yang dimanfaatkan oleh berbagai suku di Indonesia, termasuk suku Melayu Bangka. Kajian etnobotani merupakan salah satu cara untuk mengetahui pengetahuan lokal dan pemanfaatan A. pinnata secara berkelanjutan. Masyarakat Melayu di Desa Sungkap, Kabupaten Bangka Tengah memanfaatkan dan membudidayakan A. pinnata. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kearifan lokal dan upaya konservasi A. Pinnata. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan etnobotani melalui observasi dan wawancara terhadap 14 informan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dengan mentabulasikan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat mengenal A. Pinnata dengan nama enau dan air nira dari A. pinnata dengan nama kabung. Bagian A. pinnata dan pemanfaatannya oleh masyarakat yaitu akar (obat tradisional), batang (gagang cangkul/kapak, junjung sahang, kayu bakar), bunga (nira), tulang daun (batang), dan ijuk (ijuk sapu, septic tank). Sari enau digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula aren untuk dijual. Masyarakat lokal memiliki kearifan yang disebut “Pepatah sel” yang diyakini masyarakat Desa Sungkap secara turun temurun yang dibacakan selama proses pengambilan air nira. Masyarakat Melayu Desa Sungkap melakukan konservasi dengan cara melakukan penaburan benih aren secara pribadi dan dibuatkan desa konservasi aren oleh pihak desa sebagai bentuk konservasi A. pinnata.
KERAGAMAN DAN DISTRIBUSI GASTROPODA PADA EKOSISTEM MANGROVE DESA PENAGAN PULAU BANGKA Febriyanti, Ade; Irwanto, Riko; Supratman, Okto
Berita Biologi Vol 24 No 2 (2025): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2025.973

Abstract

Penagan Village's mangrove area has high ecological and economic value. Aquatic biota such as gastropod groups inhabit the mangrove ecosystem here. The community makes extensive use of these animals for consumption and trade. The purpose of this research is to identify species, analyze the diversity, density, and distribution patterns of gastropods in the Penagan Village mangrove area. In addition, the species and density of mangroves will be identified, as will the relationship between gastropods and environmental factors in the area. This study was carried out between September 2020 and January 2021. Purposive sampling of mangrove vegetation was used to collect data at three different stations. The gastropods found were 1989 individuals from eight families: Cerithiidae, Ellobiidae, Littorinidae, Muricidae, Nassariidae, Neritidae, Potamididae, and Thiaridae. The highest diversity index value, 2.13, was discovered at station II, while the lowest value, 1.08, was discovered at station I. Station 3 had the highest species density and relative density of gastropods, which was 7.70 (individual/m2). Gastropods are distributed uniformly at each observation station. Rhizophora apiculata, Avicennia alba, Ceriops decandra, and Lumnitzera racemosa are the four mangrove species. The last species has the greatest density of mangroves.
KEANEKARAGAMAN DAN STATUS KONSERVASI BURUNG YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA PANGKALPINANG, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Irwanto, Riko; Afriyansyah, Budi; Qomariah, Ismi Shanti; Junita, Junita; Fadhilah, Yulisty Soraya
Berita Biologi Vol 22 No 2 (2023): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/beritabiologi.2023.1976

Abstract

Maraknya perdagangan satwa liar utamanya disebabkan oleh tingginya minat konsumen untuk mengoleksi dan memelihara satwa, khususnya jenis burung. Perdagangan burung diketahui tidak hanya memperjualbelikan jenis burung yang tidak dilindungi saja, melainkan terkadang juga jenis burung yang dilindungi. Banyaknya kasus perdagangan burung ilegal dapat berdampak pada kepunahan satwa jenis burung yang dilindungi. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman jenis burung dan mengetahui status konservasi jenis burung yang diperjualbelikan di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian dilakukan menggunakan metode pengamatan langsung dan wawancara dengan pemilik atau pekerja toko burung dan pasar burung untuk mendapatkan data jenis burung. Data hasil penelitian kemudian dianalisis secara deskriptif, dan penentuan status konservasinya mengacu pada CITES, IUCN dan Peraturan Pemerintah Nomor 106 tahun 2018, serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1.357 ekor burung yang diamati, terdapat 65 jenis burung (22 famili, 6 ordo) yang diperdagangkan di Kota Pangkalpinang. Keenam ordo tersebut adalah Psittaciformes (4 spesies), Passeriformes (39 spesies), Strigiformes (1 spesies), Columbiformes (9 spesies), Anseriformes (3 spesies), dan Galliformes (9 spesies). Empat jenis burung yang termasuk dalam kategori ‘terancam’ (Endangered) adalah Chloropsis sonnerati (cica-daun besar), C. cochinchinensis (cica-daun sayap-biru), Lonchura oryzivora (gelatik jawa) dan Alophoixus bres (empuloh janggut). Sedangkan tiga spesies yang termasuk dalam Apendiks II yaitu Tyto alba (serak jawa), Agapornis fischer (love bird/burung cinta) dan L. oryzivora (gelatik jawa). Data jenis dan jumlah burung yang diperjualbelikan di Kota Pangkalpinang diharapkan dapat menjadi informasi awal dalam upaya mengatur perdagangan burung dan menjaga keberlangsungan hidup satwa tersebut pada habitat aslinya.
Utilization of post-tin mining land for porang (Amorphaphillus oncophyllus) cultivation by application of cow manure compost Inonu, Ismed; Pratama, Deni; Irwanto, Riko; Ningsih, Kurniahayati Utami
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2023.111.4979

Abstract

Tailing post-tin mining land has a sandy textured and loose structure. Those physical properties can affect the efficiency of fertilization and cause inefficiency of nutrient absorption in plants. That issue can be corrected by the application of organic material such as cow manure compost which has the potential for plant cultivation, especially for “porang” (Amorphaphillus oncophyllus Prain). This study aimed to examine the cultivation of porang plants in post-tin mining tailings by applying cow manure compost and to determine the best dose of cow manure compost for porang cultivation in artificial ex-tin mining land. This study used a single-group randomized design method with the treatment factor being the dose of cow manure compost consisting of five dose levels (5 t ha-1, 10 t ha-1, 15 t ha-1, 20 t ha-1, and 25 t ha-1). Each treatment level was replicated with five replications, and each replication consisted of five populations so the total population was 125 plants. The results showed that the application of various doses of cow manure compost to artificial post-tin mining land affected the growth and yield of porang plants. The treatment of cow manure compost at a dose of 25 t ha-1 gave the best growth and yield of porang plants. Heavy metal (Pb) analysis on porang tubers showed that all doses of cow manure compost had a Pb content value of <0.059%, which means that cow manure compost can reduce heavy metal uptake in porang tubers. Porang planted in artificial post-tin mining land is safe for consumption because lead (Pb) content was below the threshold of Indonesia National Standard (SNI) for food.