Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Penentuan Sudut Kemiringan Optimal Instalasi Panel Surya Untuk Memaksimalkan Energi Output: Sistematic Literatur Review T. M. Azis Pandria; Teuku Mizan Sya'rani Denk; Bambang Tripoli; Ary Firnanda; Herdian Saputra; Lissa Opirina
VOCATECH: Vocational Education and Technology Journal Vol 7, No 2 (2025): December
Publisher : Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38038/vocatech.v7i2.273

Abstract

AbstractThis paper presents a systematic literature review on determining the optimal tilt angle (OTA) for photovoltaic solar panel installation. The research method uses a systematic literature review approach by analyzing 30 scientific articles published between 2013 and 2025 from the IEEE Xplore, ScienceDirect, MDPI, and Springer databases. The analysis results show that geographic latitude is the dominant factor in determining OTA, with tropical regions requiring an angle of 5°-15° and mid-high latitude regions requiring 30°-60°. The research methodology has evolved from a simple empirical approach to the use of machine learning and artificial intelligence with a prediction accuracy of R² 0.95. For equatorial regions such as Indonesia, the optimal angle ranges from local latitude ± 5° with low sensitivity to deviation (±5° only affects output 3%). The study also identified that seasonal adjustment provides a 6-15% increase in output for mid-latitude regions, but is not cost-effective for tropical regions. The conclusions of this study provide practical recommendations based on geographic zones and identify research gaps related to climate change impacts, optimization for bifacial technology, and development of economically adaptive systems. Keywords:Solar panels; optimal tilt angle; energy optimization; systematic literature review AbstrakNaskah ini menyajikan tinjauan literatur sistematis tentang penentuan sudut kemiringan optimal (optimal tilt angle/OTA) untuk instalasi panel surya fotovoltaik. Metode penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review dengan menganalisis 30 artikel ilmiah yang dipublikasikan antara tahun 2013 hingga 2025 dari database IEEE Xplore, ScienceDirect, MDPI, dan Springer. Hasil analisis menunjukkan bahwa lintang geografis merupakan faktor dominan dalam penentuan OTA, dengan wilayah tropis memerlukan sudut 5°-15° dan wilayah lintang menengah-tinggi memerlukan 30°-60°. Metodologi penelitian telah berkembang dari pendekatan empiris sederhana menuju penggunaan machine learning dan artificial intelligence dengan akurasi prediksi R² 0.95. Untuk wilayah ekuatorial seperti Indonesia, sudut optimal berkisar antara lintang lokal ± 5° dengan sensitivitas rendah terhadap deviasi (±5° hanya mempengaruhi output 3%). Penelitian juga mengidentifikasi bahwa penyesuaian musiman memberikan peningkatan output 6-15% untuk wilayah lintang menengah, namun tidak cost-effective untuk wilayah tropis. Simpulan penelitian ini memberikan rekomendasi praktis berbasis zona geografis dan mengidentifikasi gap penelitian terkait dampak perubahan iklim, optimalisasi untuk teknologi bifacial, dan pengembangan sistem adaptif yang ekonomis.Kata Kunci:             Panel surya; sudut kemiringan optimal; optimalisasi energi; Sistematic Literature Review
Tantangan dan Peluang Penerapan Building-Integrated Photovoltaics (BIPV) di Indonesia: Kajian Literatur Sistematis Sya'rani Denk, Teuku Mizan; Pandria, T.M. Azis; Mawardi, Edi; Tripoli, Bambang; Djamaluddin, Rahmat; Ajunda, Ajunda
Aceh Journal of Electrical Engineering and Technology Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Iskandarmuda Jl. Kampus Unida No.15, Surien, Kec. Meuraxa, Kota Banda Aceh, Aceh 23234 Propinsi Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55616/ajeetech.v6i1.1175

Abstract

Gedung kampus merupakan salah satu konsumen energi terbesar di sektor pendidikan, dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring perkembangan infrastruktur perguruan tinggi di Indonesia. Building-Integrated Photovoltaics (BIPV) hadir sebagai solusi inovatif yang mengintegrasikan modul fotovoltaik ke dalam elemen bangunan secara struktural, sehingga memiliki fungsi ganda sebagai material bangunan sekaligus pembangkit energi terbarukan. Artikel ini bertujuan mengkaji tantangan dan peluang penerapan teknologi BIPV pada gedung kampus di Indonesia melalui pendekatan studi literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi iradiasi surya rata-rata 4,8 kWh/m²/hari yang sangat potensial untuk penerapan BIPV pada gedung kampus beriklim tropis. Tantangan utama meliputi biaya investasi awal yang tinggi, keterbatasan sumber daya manusia terlatih, serta belum optimalnya regulasi yang spesifik untuk sektor pendidikan. Di sisi lain, peluang yang signifikan ditunjukkan oleh meningkatnya komitmen green campus, dukungan Permen ESDM No. 2 Tahun 2024, pertumbuhan pasar BIPV global hingga USD 89,8 miliar pada 2030, serta potensi kampus sebagai living laboratory energi terbarukan. Kajian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan kebijakan dan perancangan BIPV pada gedung pendidikan tinggi di Indonesia.
Penerapan Lean Manufacturing untuk Peningkatan Efisiensi Produksi Kue Karah Aceh (Studi Kasus: UD. Langganan Abar Nara) Muzakir; Afni Siti Fatimah; T.M Azis Pandria; Iing Pamungkas; Khairul Hadi
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi Vol. 9 No. 4 (2026): Agustus, 2026
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/0atbdt57

Abstract

Abstrak - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan tradisional seperti Kue Karah memiliki peran penting bagi perekonomian lokal Aceh. UD. Langganan Abar Nara sebagai salah satu pelaku usaha pembuatan Kue Karah masih menerapkan proses produksi secara manual, sehingga menimbulkan pemborosan waktu, bahan, dan tenaga kerja yang cukup berarti. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aktivitas tidak bernilai tambah (non-value added) pada proses produksi Kue Karah sekaligus menganalisis penerapan Lean Manufacturing dalam menekan aktivitas tersebut guna meningkatkan efisiensi produksi. Metode yang digunakan adalah Value Stream Mapping (VSM), dikombinasikan dengan Process Activity Mapping, identifikasi seven waste, analisis akar masalah 5 Why, serta usulan perbaikan Kaizen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total waktu siklus produksi 3.086,4 detik, hanya 1.363 detik (44,16%) merupakan aktivitas bernilai tambah, sedangkan 1.723,4 detik (55,84%) adalah aktivitas non-value added, dengan pemborosan berupa delay (waiting) sebagai kontributor terbesar yakni 963 detik (66,26% dari total NVA). Berdasarkan analisis 5 Why, akar permasalahan utama adalah ketiadaan standar operasional prosedur pada proses persiapan alat. Usulan perbaikan Kaizen melalui penerapan 5S, Single Minute Exchange of Die (SMED), perbaikan layout produksi, dan Quality at Source berhasil menurunkan total lead time dari 3.086,4 detik menjadi 2.713 detik (turun 12,10%) serta meningkatkan Process Cycle Efficiency (PCE) dari 44,16% menjadi 50,24%. Hasil ini membuktikan bahwa penerapan Lean Manufacturing dengan VSM efektif meningkatkan efisiensi proses produksi Kue Karah pada UMKM. Kata Kunci: Lean Manufacturing; Value Stream Mapping; Efisiensi Produksi; UMKM; Kue Karah; Abstract - Micro, small, and medium enterprises (MSMEs) engaged in traditional food production, such as Kue Karah, hold a significant role in sustaining the local economy of Aceh. UD. Langganan Abar Nara, one of the producers of Kue Karah, continues to rely on manual production processes, resulting in considerable waste of time, materials, and labor. This study aimed to identify non-value-added activities in the Kue Karah production process and to analyze the application of Lean Manufacturing in reducing such waste to improve production efficiency. The method employed was Value Stream Mapping (VSM), integrated with Process Activity Mapping, seven waste identification, 5 Why root cause analysis, and Kaizen improvement proposals. The findings revealed that of the total production cycle time of 3,086.4 seconds, only 1,363 seconds (44.16%) constituted value-added activities, while the remaining 1,723.4 seconds (55.84%) were non-value-added. Delay (waiting) emerged as the dominant waste contributor at 963 seconds (66.26% of total NVA). Root cause analysis through 5 Why indicated that the primary issue was the absence of standard operating procedures in equipment preparation. The proposed Kaizen improvements incorporating 5S, Single Minute Exchange of Die (SMED), production layout redesign, and Quality at Source successfully reduced total lead time from 3,086.4 seconds to 2,713 seconds (a 12.10% reduction) and increased Process Cycle Efficiency (PCE) from 44.16% to 50.24%. These results affirm that the application of Lean Manufacturing with VSM effectively enhances production efficiency in traditional food MSMEs. Keywords: Lean Manufacturing; Value Stream Mapping; Production Efficiency; MSME; Kue Karah;