Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Body Image terhadap Psychological Well- Being pada Penggemar K-Pop Generasi Z di Kota Karawang Rafidatul Fitria Nurohmah; Wina Lova Riza; Ananda Saadatul Maulidia
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 4 (2024): Desember: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v4i4.8053

Abstract

This study aims to examine the influence of body image on psychological well-being among Generation Z K-pop fans in Karawang. Using a quantitative approach and a causal associative research design, the study involved 351 respondents who are K-pop fans residing in Karawang. The sampling technique employed was convenience sampling, which allows for the selection of respondents based on accessibility. The measurement tool used for assessing psychological well-being is a scale based on the dimensions proposed by Ryff, which includes self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. This scale is designed to assess an individual’s psychological well-being comprehensively. Meanwhile, body image was measured using the Multidimensional Body Self-Relation Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) developed by Cash and Pruzinsky. This scale evaluates how individuals perceive their bodies, including aspects of body satisfaction and physical appearance. The data were analyzed using normality tests, linearity tests, and simple linear regression tests to examine the relationship between body image and psychological well-being. The results showed a significance value of 0.000, which is smaller than 0.05. This indicates that the alternative hypothesis (Ha) is accepted, and the null hypothesis (H0) is rejected, meaning there is a significant effect of body image on psychological well-being among Generation Z K-pop fans in Karawang. Additionally, the coefficient of determination test revealed that body image contributes 40.8% to psychological well-being among K-pop fans. This finding suggests that a positive body image can improve psychological well-being, highlighting the importance of maintaining a healthy body image for supporting mental health among Generation Z. The findings offer valuable insights into the relationship between body image and mental health among K-pop fans in Karawang.
ATTACHMENT DAN SELF-DISCLOSURE SEBAGAI PREDIKTOR DARI KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PASANGAN YANG MENIKAH SECARA TA’ARUF Wina Lova Riza; Puspa Rahayu Utami Rahman; Dimas Tri Fajri
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 6 No. 2 (2021): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v6i2.2018

Abstract

Get to know each other in short time with ta’aruf married considered to increase dissatisfaction in one marriage. Dissatisfaction in marriage can caused by insecure attachment and not able to self-disclosure to each other as a spouse. The purpose of this nonexperimental quantitative study was to determine attachment and self-disclosure as predictors of marital satisfaction in ta’aruf married couples, with 101 respondents have been ta’aruf married. Sampling in this study used non-probability sampling with snowball sampling. The analysis technique used is multiple regression. From the results of the analysis using SPSS version 25, a significant value of the two independent variables is 0.000 <0.05, then Ha is accepted and H0 is rejected, which means that attachment and selfdisclosure are simultaneously predictors of marital satisfaction in married couples ta'aruf. Out of 101 respondents, 77 people or 69.3% had high marital satisfaction, 22 people or 21.8% had marital satisfaction in the medium category, while 2 people had low marital satisfaction.Keywords: Attachment, self-disclosure, marriage satisfaction, ta'aruf Waktu yang sebentar untuk mengenal pasangan pada mereka yang menikah secara ta’aruf dianggap akan meningkatkan ketidakpuasan dalam pernikahannya, hal ini disebabkan karena tipe kelekatan tidak aman dan individu tidak mampu membuka diri kepada pasangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui attachment dan selfdisclosure sebagai prediktor terhadap kepuasan pernikahan pada pasangan yang menikah secara ta’aruf. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan bentuk penelitian kausal dengan melibatkan 101 responden dari individu dalam rentang usia dewasa awal yang telah menikah secara ta’aruf. Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan non-probability sampling dengan snowball sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Dari hasil analisis menggunakan bantuan SPSS versi 25 diperoleh nilai signifikan dari kedua variabel independen sebesar 0.000<0.05, maka Ha diterima dan H0 ditolak yang artinya attachment dan self-disclosuresecara simultan merupakan prediktor terhadap kepuasan pernikahan pada pasangan yang menikah secara ta’aruf. Dari 101 responden, 77 orang atau 69.3% memiliki kepuasan pernikahan yang tinggi, 22 orang atau 21.8% memiliki kepuasan pernikahan dalam kategori sedang, sedangkan 2 orang dalam kepuasan pernikahan yang rendah.Kata Kunci: Attachment, self-disclosure, kepuasan pernikahan, ta’aruf.
PARENT DAN PEER ATTACHMENT SEBAGAI PREDIKTOR DARI KECENDERUNGAN INTERNET ADDICTION PADA REMAJA PENGGUNA SMARTPHONE Puspa Rahayu Utami Rahman; Wina Lova Riza; Ryan Gunawan
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 7 No. 1 (2022): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v7i1.2369

Abstract

Smartphones have the ability to be used in various kinds of activities related to the internet, not only looking for entertainment, but also like computers, namely accessing various information in the world. High intensity of smartphone use can result in internet addiction which is characterized by spending a lot of time (uncontrolled) in using internet-related activities such as social media, pornography, online gambling, online games, chatting and others to disrupt social relationships at real world. The purpose of this study was to find out that parent and peer attachment can be predictors of internet addiction tendencies in smartphone users. This study uses a quantitative method involving 254 male and female adolescent respondents aged 12 to 19 years, junior and senior high school students, who actively use smartphones with internet access for academic and daily needs. The sampling method uses non-probability with the quota technique. The data analysis technique used is multiple regression test. The results of the study prove that parent and peer attachment can be predictors of internet addiction tendencies in smartphone users. The magnitude of the influence of parent attachment and peer attachment on internet addiction is 11.5% while the rest is influenced by other variables that have not been studied. Keywords: Parent attachment, peer attachment, internet addiction, smartphone. Smartphone memiliki kemampuan untuk digunakan pada berbagai macam aktivitas yang berhubungan dengan internet, bukan hanya mencari hiburan, tetapi juga layaknya komputer yaitu akses berbagai informasi di dunia. Intensitas yang tinggi dalam penggunaan smartphone dapat menghasilkan adiksi internet yang ditandai dengan menghabiskan waktu yang banyak (tak terkendali) dalam menggunakan kegiatan yang berhubungan dengan internet seperti media sosial, pornografi, perjudian online, game online, chatting dan lain-lain hingga mengganggu hubungan sosialnya di dunia nyata. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui parent dan peer attachment dapat sebagai prediktor dari kecenderungan internet addiction pada remaja pengguna smartphone. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 254 responden remaja laki-laki dan perempuan yang berusia 12 hingga 19 tahun, berpendidikan SMP-SMA, yang secara aktif menggunakan smartphone dengan akses internet untuk kebutuhan akademik maupun sehari-hari. Metode pengambilan sampel menggunakan nonprobability dengan teknik kuota. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi berganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa parent dan peer attachment dapat sebagai prediktor dari kecenderungan internet addiction pada remaja pengguna smartphone. Besaran pengaruh parent attachment dan peer attachment terhadap internet addcition sebesar 11.5% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya yang belum diteliti. Kata Kunci: Kelekatan orang tua, kelekatan teman sebaya, adiksi internet, gawai.
KELEKATAN DAN ALEXITHYMIA SEBAGAI PREDIKTOR TERHADAP NOMOPHOBIA PADA DEWASA AWAL Wina Lova Riza; Dinda Aisha; Shenni Rahma Sari
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 9 No. 2 (2024): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v9i2.8313

Abstract

This study aims to analyze the influence of attachment and alexithymia on nomophobia in early adults in Karawang. Using a quantitative approach with a correlational design, data were collected from 150 early adult respondents (aged 20-40 years) through convenience sampling. Research instruments included the Nomophobia Questionnaire Scale (NMP-Q), Revised Adult Attachment Scale (RAAS), and Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20). Multiple regression analysis revealed that attachment (p < 0.05) and alexithymia (p < 0.05) significantly influenced nomophobia both partially and simultaneously, contributing 40% (R² = 0.40). Individually, attachment contributed 13% and alexithymia contributed 27%. This study concludes that attachment and alexithymia are significant predictors of nomophobia. he implications include developing psychological interventions to manage emotional relationships and health technology usage. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kelekatan dan alexithymia terhadap nomophobia pada dewasa awal di Karawang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional, data dikumpulkan dari 150 responden dewasa awal (usia 20-40 tahun) melalui convenience sampling. Instrumen penelitian meliputi Nomophobia Questionnaire Scale (NMP-Q), Revised Adult Attachment Scale (RAAS), dan Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20). Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa kelekatan memiliki nilai p < 0,05) dan alexithymia memiliki nilai p < 0,05) secara parsial maupun simultan signifikan memengaruhi nomophobia, dengan kontribusi sebesar 40% (R² = 0,40). Secara individu, kelekatan memberikan sumbangan efektif sebesar 13% dan alexithymia sebesar 27%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelekatan dan alexithymia adalah prediktor penting untuk memahami nomophobia. Implikasi penelitian mencakup pengembangan intervensi psikologis untuk mengelola hubungan emosional dan penggunaan teknologi secara sehat.
Fenomena Fatherless: Apakah ada Pengaruh Father Involvement Terhadap Self-Esteem Individu Dewasa Awal Fatherless di Kabupaten Karawang? Salma Khonsya Assyfa; Wina Lova Riza; Dinda Aisha
As-Syar i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga  Vol. 6 No. 4 (2024): As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga
Publisher : Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/as.v6i4.5509

Abstract

This research aims to determine the influence of father involvement on the self-esteem of early adult individuals in Karawang Regency. The method used in this research is a quantitative method, with a causality research design. The population in this study were early adults with an age range of 20-40 years according to the research criteria. The sampling technique used was convenience sampling technique and the number of respondents in this study was 141 respondents. The measuring instruments in this study used two psychological scales and a scale to measure father involvement using the Father Involvement Scale (FIS), and a self-esteem scale using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). The data analysis techniques used in this research are the normality test, linearity test, simple linear regression hypothesis test and additional tests, namely the coefficient of determination and categorization test. Based on the results of research that has been conducted, there is an influence of father involvement on the self-esteem of fatherless early adult individuals in Karawang Regency, with a regression significance value of 0.00. The coefficient of determination of father involvement on self-esteem is (R Square) 0.849 or 84.9%. So it can be said that the influence of father involvement on the self-esteem of fatherless early adult individuals in Karawang district is 84.9%, the rest is influenced by other variables which were not examined in this research.
PENGARUH HARGA DIRI TERHADAP KECERDASAN MORAL PADA SISWA SMP DI KARAWANG Citra Cartika; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 5 No. 2 (2025): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v5i2.1585

Abstract

Moral intelligence is the ability that helps adolescents distinguish right from wrong and act according to moral values ​​amidst the rampant moral degradation. This study aims to determine the effect of self-esteem on moral intelligence in junior high school students in Karawang. The method used is a quantitative approach with a causal design. The sample of 205 junior high school students in Karawang was obtained using the Cohen formula with an effect size of 0.1 and an error rate (α) of 1%, through an incidental sampling technique. The research instrument was a self-esteem scale constructed based on the theory of Heatherton and Polivy, and a moral intelligence scale using the Moral Competency Inventory (MCI) from Lennick and Kiel. Data analysis shows that self-esteem has a significant value of 0.000 <0.05, so Ha is accepted and H0 is rejected. This means that there is an effect of self-esteem on the moral intelligence of junior high school students in Karawang. The results of the determination test showed an R square value of 0.193, so that self-esteem has a 19.3% effect on moral intelligence, while the remaining 80.7% is influenced by other factors not examined. Kecerdasan moral adalah kemampuan yang membantu remaja membedakan benar dan salah serta bertindak sesuai nilai moral di tengah maraknya degradasi moral. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh harga diri terhadap kecerdasan moral pada siswa SMP di Karawang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Sampel berjumlah 205 siswa SMP di Karawang yang diperoleh menggunakan rumus Cohen dengan effect size 0,1 dan tingkat kesalahan (α) 1%, melalui teknik incidental sampling. Instrumen penelitian berupa skala harga diri yang dikonstruksikan berdasarkan teori Heatherton dan Polivy, serta skala kecerdasan moral menggunakan Moral Competency Inventory (MCI) dari Lennick dan Kiel. Analisis data menunjukkan harga diri memiliki nilai signifikan 0,000 < 0,05, sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Hal ini berarti terdapat pengaruh harga diri terhadap kecerdasan moral siswa SMP di Karawang. Hasil uji determinasi menunjukkan nilai R square sebesar 0,193, sehingga harga diri berpengaruh 19,3% terhadap kecerdasan moral, sedangkan 80,7% sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti.
Pengaruh Kontrol Diri Terhadap Perilaku Konsumtif Pada Pembelian Merchandise K-Pop NCT Di Kabupaten Karawang Rachenysa Sahanaya Hutomo; Wina Lova Riza; Dinda Aisha
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 4 No 01 (2026): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v4i01.2585

Abstract

Kontrol diri yaitu kapasitas individu untuk mengatur pikiran, emosional, dan tindakan yang diarahkan untuk meraih tujuan jangka panjang, meskipun harus mengorbankan kesenangan sesaat. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengenalisis pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif pada penggemar K-pop di Kabupaten Karawang. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif. Responden dalam penelitian ini sebanyak 109 responden. Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala (BSCS)  berdasarkan teori De Ridder dkk (2012), dan skala berdasarkan teori Sumartono (2002). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,000, yang mengindikasikan bahwa (Ha) diterima dan (Ho) ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kontrol diri dan perilaku konsumtif pada penggemar K-pop di Kabupaten Karawang.
Kesepian sebagai prediktor agresi verbal di media sosial pada dewasa awal Putri Amaliah Putri Amaliah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 1 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036123000

Abstract

Kasus agresi verbal di media sosial semakin, ditunjukkan oleh berbagai komentar bernada kasar, hinaan, serta ujaran kebencian yang ditujukan kepada figur publik maupun pengguna lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesepian terhadap perilaku agresi verbal di media sosial pada dewasa awal di wilayah Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas dengan sampel 385 dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di Kabupaten Karawang. Metode pengambilan sampel adalah non-probability sampling dengan teknik snowball sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan skala psikologi jenis likert yaitu skala Verbal Aggressiveness Scale (VAS) dari Infante & Wigley dan skala UCLA Loneliness Scale (versi 3 ) dari Russell. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya ada pengaruh antara kesepian terhadap agresi verbal pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Kesepian memengaruhi agresi verbal sebesar 54,2%.
Resiliensi Remaja di Karawang dengan Orang Tua Bercerai: Ditinjau dari Self-Esteem dan Religiusitas Hanan Triatusholihah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 12 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i12.9989

Abstract

The high divorce rate in Karawang has a significant impact on the psychological condition of adolescents, particularly in relation to their ability to adapt positively, or what is known as resilience. This study aims to determine the influence of self-esteem and religiosity on resilience in adolescents with divorced parents. Using a quantitative approach with a causal associative design, this study involved 395 respondents aged 10–21 years in Karawang with divorced family backgrounds. This study used the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) to measure self-esteem, the Centrality of Religiosity Scale (CRS) to measure religiosity, and the Resilience Quotient Scale (RQ) to measure resilience. Simultaneously, self-esteem and religiosity contributed 12.4% to resilience, with religiosity playing a more dominant role than self-esteem. The results of this study also showed that self-esteem had a positive and significant effect on adolescent resilience (t = 2.257; p = 0.025). Religiosity also has a positive and significant effect on adolescent resilience (t = 6.020; p = 0.000). The findings of this study confirm that higher levels of self-esteem and religiosity contribute to increased resilience in adolescents in coping with the impact of parental divorce.