Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAN SERBUK DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH Yola Eka Putri Kurniasari; Dwi Retnoningrum; Prasetyowati Subchan
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.092 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23400

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi penderita diabetes melitus di seluruh dunia sangat tinggi dan cenderung meningkat setiap tahun termasuk di Indonesia. Penggunaan obat tradisional menjadi alternatif dan di rekomendasikan WHO mengingat obat-obat sintetik memiliki berbagai efek samping. Daun pepaya mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, komponenfenol, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid yang memiliki efek sebagai antidiabetes. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak dan serbuk daun pepaya terhadap kadar glukosa darah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan post-test only control group design. Sampel adalah 15 ekor tikus wistar dibagi secara acak menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian ekstrak daun pepaya 200 mg/kgBB dan kelompok pemberian serbuk daun pepaya 200 mg/kgBB. Pemberian diberikan secara oral dengan sonde lambung sebanyak 1 kali sehari selama 14 hari. Hari ke 7 dan 14, dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah dengan glukometer. Uji statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Hasil: Kadar glukosa terendah pada pemberian ekstrak hari ke 14. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak dan serbuk daun pepaya pada hari ke 7 (p=0,009) dan antara kelompok kontrol dan esktrak serta kelompok ekstrak dan serbuk pada hari ke 14 (p=0.009). Simpulan: Terdapat penurunan glukosa yang bermakna pada pemberian ekstrak daun pepaya dengan dosis 200 mg/kgBB pada hari ke 7 dan 14,Kata Kunci: ekstrak daun pepaya, serbuk daun pepaya, flavonoid, alkaloid, kadar glukosa darah
HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG DAN VISCERAL FAT DENGAN KADAR FERRITIN SERUM PADA OBESITAS Fitrianita Reghita Syari; Meita Hendrianingtyas; Dwi Retnoningrum
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.727 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23789

Abstract

Latar Belakang : Inflamasi terjadi di dalam tubuh obesitas dan menyebabkan kadar besi pada obesitas cenderung menurun, sedangkan peningkatan asam lemak bebas pada individu obesitas justru meningkatkan sitokin pro-inflamasi yang selanjutnya meningkatkan protein fase akut, yaitu ferritin. Ferritin lebih cenderung menjadi petanda inflamasi dibandingkan menjadi petanda status besi pada individu obesitas. Peningkatan sekresi mediator inflamasi pada lemak viseral mencerminkan inflamasi kronis yang sedang berlangsung. Lingkar pinggang (LP) merupakan parameter antropometrik sederhana yang berhubungan dengan jumlah lemak viseral. Tujuan : Menganalisis hubungan lingkar pinggang dan visceral fat dengan kadar ferritin serum pada obesitas. Metode Penelitian : Penelitian merupakan observasional analitik dengan 36 subyek yang memenuhi kriteria inkulsi dan eksklusi selama bulan April 2018 hingga September 2018 di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Laboratorium Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND). Kadar ferritin serum diperiksa dengan menggunakan metode enzyme linked fluorescence assay (ELFA), ukuran LP periksa secara manual, dan visceral fat diperiksa dengan alat Omron Karada Scan Body Composition. Analisis data menggunakan uji Spearman. Signifikansi dicapai jika p<0,05. Hasil : Median(Min-Maks) LP, Visceral fat, dan Ferritin berturut-turut yaitu 96,5(79,5-114) cm, 13,5(7-30), dan 44,1(10-307,4). Hubungan LP dan kadar ferritin serum signifikan  (p=0,001; r=0,55) dan hubungan visceral fat dengan kadar ferritin serum juga signifikan (p=0,012; r=0,416). Simpulan : Terdapat hubungan positif sedang antara LP dan visceral fat dengan kadar ferritin serum pada obesitas.Kata Kunci : LP, Visceral fat, Ferritin, Obesitas
PENGARUH PIJAT AKUPUNTUR (ACCUPRESSURE) TELINGA TERHADAP KADAR LEPTIN PADA OBESITAS Ariosta Ariosta; Dwi Retnoningrum; Aryu Candra; Darmawati Ayu Indraswari; Salma S Salma S; Vonny Folanda; Josevaldo Bagus P; Jessica Christanti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.214 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i4.27674

Abstract

Latar Belakang: Obesitas merupakan suatu kelainan metabolik yang disebabkan banyak faktor, salah satu diantranya adalah pola makan dan kadar leptin yang menghambat nafsu makan. Pijat akupunktur pada telinga (acupressure) merupakan salah satu traditional chinese medicine yang dapat mengurangi nafsu makan sehingga berat badan menurun. Penelitian ini berfungsi untuk melihat apakah terdapat pengaruh acupressure terhadap kadar leptin, dan food frequency questionnaire. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan desain one  group pre and post test design. Sampel penelitian berjumlah 31 sampel pasien obesitas sesuai kriteria BMI menurut Asia. Kadar leptin dan asupan makanan karbohidrat, protein dan lemak sebelum dan sesudah acupressure dihitung dengan menggunakan food frequency questionnaire. Uji normalitas menggunakan uji saphiro wilk. Sampel penelitian adalah pasien obesitas. Uji beda antara kadar leptin sebelum dan sesudah dialkukan acupressure menggunakan uji wilcoxon. Uji beda asupan karbohidrat dan asupan lemak sebelum dan sesudah acupressure menggunakan paired t test, sedangkan asupan protein sebelum dan sesudah acupressure menggunakan uji wilcoxoon. Hasil: Didapatkan penurunan kadar leptin secara bermakna sebelum dan sesudah acupressure sebesar -4,67 ± 6,12 ng/ml dimana p<0,05 dengan uji wilcoxon. Didapatkan perbedaan bermakna asupan karbohidrat dan protein dimana p<0,05, namun tidak didapatkan perbedaan bermakna asupan lemak sebelum dan sesudah acupressure p>0,05. Kesimpulan: Acupresure akan menurunkan kadar leptin seiring dengan penurunan berat badan selain itu akan menurunkan asupan karbohidrat dan protein namun tidak mempengaruhi asupan lemak.
THE EFFECT OF THE ACIDITY OF FERMENTED MILK AGAINST THE HARDNESS OF NANOHYBRID COMPOSITE RESIN Hanny Tiara A Sinaga; Diah Ajeng Purbaningrum; Ariosta Ariosta; Dwi Retnoningrum
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro)
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v9i6.29336

Abstract

Background : The hardness of nanohybrid composite resin can decrease due to the acidic condition of the oral cavity. The acidic condition of the oral cavity can cause continuous degradation in composite resin. Fermented milk is a beverage that is widely sold in the market and is good for consumption however this beverage has the acid potential of hydrogen (pH) which can reduce the composite resin toughness. Aim : To determine the acidity effect of fermented milk on the hardness of nanohybrid composite resin. Method: Experimental study with a post test control group design. There were 27 samples of nanohybrid composite resin. One time immersion for three seconds in each group of beverages namely Milk, Cimory, and Yakult. After 15 days, a composite resin hardness test was performed using a Micro Vickers Hardness Tester with a load of 100 grams for 10 seconds. Statistical tests using One Way ANOVA. Results: The nanohybrid composite resin exhibited significant reduction in hardness between three beverage groups. Post hoc LSD test showed that there were significant differences between Milk with Yakult (p = 0.006) and Cimory with Yakult (p = 0.008) while Milk with Cimory (p = 0.907) did not have significant. Conclusions : There is a effect of fermented milk influences the hardness. There is a significant difference between Milk and Yakult and between Cimory and Yakult and there is no significant difference between Milk and Cimory.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANI) TERHADAP AKTIVITAS DAN KAPASITAS FAGOSITOSIS STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS WISTAR YANG DIPAPAR STAPHYLOCOCCUS AUREUS Luthfi Fathin Faishal; Astika Widy Utomo; Dwi Retnoningrum
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.207 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18594

Abstract

Latar belakangCinnamomum burmanii merupakan tanaman yang diketahui memililki berbagai potensi termasuk sebagai imunostimulan. Namun, beberapa penelitian masih menunjukkan hasil yang kontradiktif. Fagositosis merupakan mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi. Aktivitas dan kapasitas fagositosis dapat menunjukkan kemampuan sistem imun tubuh dalam menghadapi infeksi.TujuanMembuktikan aktivitas dan kapasitas fagositosis pada tikus wistar jantan yang diinduksi Staphylococcus aureus dengan pemberian ekstrak kulit batang C. burmanii.MetodePenelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Sejumlah 25 ekor tikus dibagi ke dalam 5 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol negatif (K1) diberi diet standar, kelompok kontrol positif (K2) diberi diet standar  dan obat imunostimulan (levamisol), kelompok perlakuan 1 (P1) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 100 mg/kgBB, kelompok perlakuan 2 (P2) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 200 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan 3 (P3) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 400 mg/kgBB selama 7 hari. Pada hari ke-8, dilakukan injeksi suspensi S. aureus 108 secara intraperitoneal sebanyak 0,2 mL/tikus. Hari ke-9 dilakukan terminasi menggunakan overdosis ether lalu dilakukan pembedahan dan pengambilan cairan intraperitoneal. Cairan intraperitoneal dibuat preparat apus menggunakan pengecatan Giemsa. Preparat dibaca dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000x dan menggunakan minyak emersi untuk dihitung aktivitas dan kapasitas fagositosis.HasilAktivitas dan kapasitas fagositosis tertinggi didapat pada pemberian dosis 100 mg/kgBB. Kelompok P1 dan P2 pada kedua variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok K1 dan P3. Antar P1, P2, dan K2 menunjukkan perbedaan tetapi tidak bermakna dengan nilai P1>P2>K2.KesimpulanTerdapat peningkatan aktivitas dan kapasitas fagositosis yang bermakna pada pemberian ekstrak kulit batang C. burmanii 100 dan 200 mg/kgBB. Kesimpulan, ekstrak kulit batang C. burmanii memiliki potensi sebagai imunostimulan. 
PERBEDAAN JUMLAH LEUKOSIT, NEUTROFIL DAN LIMFOSIT ABSOLUT PADA PENDERITA DM TIPE 2 TERKONTROL DAN TIDAK TERKONTROL Sanjaya Santoso; Banundari Rachmawati; Dwi Retnoningrum
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.651 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20756

Abstract

Latar Belakang : Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius dan merupakan 1 dari 4 penyakit tidak menular yang angka kejadiannya terus bertambah yang ditandai dengan inflamasi kronik karena terjadi resistensi insulin sehingga kadar glukosa darah meningkat. Kondisi glukosa darah yang tinggi menyebabkan pembentukan radikal bebas sehingga timbul stres oksidatif  dan memicu proses inflamasi. Proses inflamasi yang terjadi dapat meningkatkan sitokin proinflamasi yang dapat mempengaruhi kadar leukosit, neutrofil dan limfosit dalam darah.Tujuan : Membuktikan perbedaan jumlah leukosit, neutrofil dan limfosit absolut pada penderita DM tipe 2 terkontrol dan tidak terkontrolMetode :  Jenis penelitian observasional dengan pendekatan crossectional.  Total sampel  adalah 60 responden yang terdiri dari 30  subyek DM tipe 2 terkontrol dan 30 subyek DM tipe 2 tidak terkontrol. Sampel merupakan pasien RSUP dr.Kariadi Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis yang digunakan adalah uji - Independent T Test.Hasil :  Rerata jumlah leukosit, neutrofil dan limfosit absolut pada penderita DM tipe 2 terkontrol adalah   11,47 ± 1,63 x103/µl ; 9,15 ± 1,67  x103/µl ; 1,37 ± 0,23 x103/µl. Rerata jumlah leukosit, neutrofil dan limfosit absolut pada penderita DM tipe 2 tidak terkontrol adalah   10,02 ± 1,36 x103/µl ; 7,41 ± 1,31  x103/µl ; 1,74 ± 0,24 x103/µl. Penderita DM tipe 2 tidak terkontrol memiliki jumlah limfosit absolut yang lebih tinggi secara bermakna (p<0,05) tetapi memiliki jumlah leukosit dan neutrofil absolut yang lebih rendah namun tidak bermakna (p>0,05)  dibanding  penderita DM tipe 2 terkontrol.Kesimpulan :  Terdapat perbedaan jumlah limfosit absolut pada penderita DM tipe 2 terkontrol.
HUBUNGAN GULA DARAH PUASA DAN HBA1C DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Nina Dorothea Budiamal; Indranilla K. Samsuria; Dwi Retnoningrum; Ariosta Ariosta
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.222 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i2.27143

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit yang dapat  menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat memicu terjadinya beberapa penyakit seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke. Status glikemik memiliki pengaruh terhadap IMT pada pasien dengan Diabetes Melitus tipe 2. Tujuan : Membuktikan hubungan antara GDP dan HbA1c dengan IMT pada pasien Diabetes Melitus tipe 2. Metode : Penelitian cross-sectional dengan 30 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Responden dilakukan pengukuran GDP, HbA1c, dan IMT. Analisis data dilakukan menggunakan Spearman’s sebagai uji hipotesis. Hasil : Rerata IMT subjek yaitu 24,35 ± 0,69. Sedangkan rerata untuk kadar GDP dan nilai HbA1c, yaitu 178,73 ± 11,54 mg/dl dan 7,92 ± 0,28%.Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara GDP dengan IMT (p=0,627) dan HbA1c dengan IMT (p=0,987). Simpulan : Tidak ada hubungan antara GDP dan HbA1c dengan IMT pada penderita Diabetes Melitus tipe 2.Kata Kunci : GDP, HbA1c, IMT, Diabetes Melitus tipe 2.
Association of 25-hydroxyvitamin D, Cyclooxygenase-2 and Prostaglandin E2 Serum Levels in Breast Cancer Patients Theresia Ilyan; Dwi Retnoningrum; Meita Hendrianingtyas; Dian Widyaningrum; Banundari Rachmawati
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 4 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i4.1684

Abstract

BACKGROUND: Serum levels of 25-hydroxyvitamin D (25(OH)D), prostaglandin E2 (PGE2), and cyclooxygenase 2 (COX2) expression differ between breast cancer stages. Since, previous studies showed mixed results, in this study, we aimed to analyze vitamin D levels related to breast cancer stages and serum levels of COX2 and PGE2 in Indonesia.METHODS: This was a cross sectional study involving 75 breast cancer patients. Subjects were divided into 3 groups, namely operable early stage (K1), locally advanced stage (K2), and advanced stage (K3). Venous blood samples were taken from each subject, then were analyzed for the 25(OH)D, COX2, and PGE2 serum levels by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method.RESULTS: There were significant differences in 25(OH)D among groups (p=0.012); between K1 and K2 (p=0.009) and between K1 and K3 (p=0.023). However, there was no significant difference in serum COX2 level (p=0.328). There were significant differences of PGE2 among groups (p=0.002); between K1 and K2 (p=0.036) and between K1 and K3 (p=0.001). Correlation test showed that there were differences between 25(OH)D serum levels and PGE2 serum level (r=0.306, p=0.008) and also between 25(OH)D serum level and breast cancer stage (r=-0.229; p=0.048).CONCLUSION: There were differences in serum Vitamin D and PGE2 levels at various stages of breast cancer. Serum 25(OH)D levels had weak correlation with breast cancer stage and PGE2 serum level. Serum vitamin D level in advanced breast cancer were lower than early stage breast cancer and indicate a poor prognosis.KEYWORDS: breast cancer, 25-hydroxyvitamin D, cyclooxygenase 2, prostaglandin E2
B- Acute Lymphoblastic Leukemia L2 In Second Trimester of Pregnancy Iraisa rosaria; Dwi Retnoningrum
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 7, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbtr.v7i1.9542

Abstract

Background: Acute lymphoblastic leukemia (ALL) in adults tends to have a poor prognosis and even more challenging to treat during pregnancy due to the mother and the fetus’s safety issue. Despite commonly found in 2nd and 3rd trimester, ALL found during 2nd trimester needs more comprehensive management on maintaining the pregnancy while chemotherapy cannot be delayed.Case Presentation: A 36-year-old woman at 27 weeks of gestation visited the hospital with multiple cervical lymphadenopathy and major weight loss for the last six months. Bicytopenia with leukocytosis is found, along with an increase in LDH, Ferritin, and low albumin level. Bone marrow biopsy had confirmed the diagnosis of ALL-L2. Positive immunophenotyping results on HLA-DR, CD10, CD19, CD20, which support the lymphoid Line-B subtype. The patient was treated with Vincristine 2 mg/IV weekly and 100 mg of oral prednisone for six weeks and maintain the pregnancy. Successful delivery was carried out at 32 weeks of gestational age by lower segment cesarean section due to premature rupture of the membrane. A baby girl was born weighed 1700 gram, APGAR Score 8/9/9, and has no disability on clinical or hematological features at the moment.Conclusion: ALL in pregnancy is very rare and extremely aggressive disease unless promptly treated. In this case report, it was a first pregnancy in advanced maternal age mother with high social value baby and can be treated succesfully using single regimen of chemoteraphy during pregnancy even though at the first time administered to hospital the mother come with critical clinical presentation. Leukemia in pregnancy is challenging and still need further study to increase the safety and better treatment outcome.Keywords: ALL in pregnancy, ALL-L2, Line-B Lymphoid, Immunophenotyping ALL
The Differences of Lipoprotein-Associated Phospholipase A2, Apolipoprotein B and Low Density Lipoprotein In Obese and Lean Men Yuliana Yuliana; Purwanto Adipireno; Edward Kurnia Setiawan Limijadi; Nyoman Suci Widyastiti; Dwi Retnoningrum
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 7, No 3 (2021): December 2021
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbtr.v7i3.11909

Abstract

ABSTRACT Background: An increase in fat accumulation in obesity has been suggested to link with an increase in inflammation. This inflammation may be associated with an elevated of Lipoprotein-Associated Phospholipase A2 (Lp-PLA2), Apolipoprotein B (Apo B), and Low-Density Lipoprotein (LDL), thereby associated with the risk of atherosclerosis.Objective: To investigate the differences between Lp-PLA2, Apo B, and LDL levels in obese and lean men.Methods: A cross-sectional study was conducted on 74 men (obese and lean) at the Faculty of Medicine, Diponegoro University, Indonesia, in 2020. The concentration of LDL was measured using the homogenous enzymatic colourimetric method, whereas the levels of Lp-PLA2 and Apo B were determined using the ELISA method. Data were analyzed using an Independent t-test, setting statistical significance at p <0.05.Results: This study showed that Lp-PLA2 levels were significantly different between obese and lean men (p = 0.039). Furthermore, LDL levels were also significantly different between obese and lean men (p = 0.002). However, we did not find any differences in Apo B between obese and lean men (p = 0.640).Conclusion: Lp-PLA2 and LDL levels were slightly higher in obese compared to lean men, but no difference of Apo B.