Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Correlation between Platelet to Lymphocyte Ratio with C-Reactive Protein in COVID-19 Patients Novianti Anggie Lestari; Dwi Retnoningrum
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 28, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v28i1.1750

Abstract

Coronavirus 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Inflammation occurs when the body is infected with the virus. Platelets play a role in immune response and immunomodulation by activating P-Selectin Glycoprotein (PSGL) to the site of inflammation. Lymphocytes play a role through CD4 T-cells, B-cells producing specific viral antibodies, and CD8 cytotoxic T-cells by directly killing the virus in infected cells. This study aimed to prove the correlation between PLR and CRP as inflammation markers in COVID-19 patients. This study was a retrospective observational study with the cross-sectional approach at Dr. Kariadi Hospital, Semarang, for the period March-August 2020. Spearman test performed for analyzing data with p<0.05 was significant. Thirty-three confirmed COVID-19 patients with median value of PLR 218 (103-1609) and CRP 15.94 (1.24-200) mg/L were tested for correlation with a value of p=0.013 and r=0.427. The increase of PLR and CRP in COVID-19 patients was caused by an inflammatory process mediated by the immune response. High values in the blood were associated with disease severity and poor prognosis. There was a statistically significant moderate positive correlation between PLR and CRP in COVID-19 patients.
SERUM ZINC AND C-REACTIVE PROTEIN LEVELS AS RISK FACTORS FOR MORTALITY IN SYSTEMIC INFLAMMATORY RESPONSE SYNDROME Dwi Retnoningrum; Banundari Rachmawati; Dian Widyaningrum
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 24, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v24i1.1147

Abstract

Kondisi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) berkebahyaan terjadinya sepsis dan kegagalan multi organ. Inflamasidapat menyebabkan terjadinya redistribusi zinc ke jaringan sehingga terjadi penurunan kadar zinc plasma. Kadar CRP pada SIRSmeningkat sebagai respons peningkatan protein tahap akut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah kadar zinc dan CRP serummerupakan faktor kebahayaan kematian di pasien SIRS. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan kohort prospektif di 30pasien SIRS berusia 27–64 tahun. Kadar zinc serum diperiksa dengan metode atomic absorbance spectrophotometer (AAS) dan CRPserum dengan metode latex agglutination immunoassay menggunakan alat autoanaliser. Kejadian kematian subjek dinilai setelah 28hari perawatan. Data dilakukan uji statistik Chi-Kwadrat, bila tidak memenuhi maka dilakukan uji alternatif Fisher. Besarnya nilaifaktor kebahyaan dilakukan perhitungan kebahayaan relatif. Rerata kadar zinc dan CRP berturut-turut 81,24 ± 8,72 μg/dL, dan 8,13± 8,12 mg/dL. Kematian dalam 28 hari adalah 33,3%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar zinc plasma < 80 μg/dL bukanmerupakan faktor kebahayaan terjadinya kematian (p=0,114), sedangkan kadar CRP ≥ 10 mg/dL merupakan faktor kebahayaanterjadinya kematian di pasien SIRS (RR=3,28, 95% CI 1,33-8,13, p=0,015). Kadar zinc plasma bukan merupakan faktor kebahayaanterjadinya kematian pada SIRS, sedangkan kadar CRP merupakan faktor kebahayaan terjadinya kematian di pasien SIRS.
MONOCYTE LYMPHOCYTE RATIO IN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER Dwi Retnoningrum; Purwanto AP
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v23i2.1130

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, virus yang dapat ditularkan melalui gigitannyamuk. Dengue hemorrhagic fever merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian terbanyak di dunia termasuk di Asia.Patogenesis infeksi DHF diduga melibatkan monosit dan limfosit akibat dari respons imun terhadap infeksi. Monocyte Lymphocyte Ratio(MLR) sebelumnya digunakan dalam menggambarkan respons imun di infeksi malaria, tuberkulosis dan HIV. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui apakah terdapat perbedaan MLR di infeksi DHF derajat ringan dan berat. Metode penelitian ini observasional analitikdengan desain potong lintang di pasien DHF di RS Dr. Kariadi Semarang masa waktu Januari-Desember 2013. Nilai MLR didapat dariperhitungan jumlah monosit dibagi jumlah limfosit dari hitung jenis lekosit. Derajat DHF ditentukan sesuai dengan patokan WHO, yaituderajat I-II masuk dalam derajat ringan, derajat III-IV adalah derajat berat. Analisis statistik dengan Student t test. Kelompok I terdiridari 40 pasien DHF derajat ringan dan kelompok II terdiri dari 40 pasien DHF derajat berat. Subjek terdiri dari 41 laki-laki (51,2%)dan 39 perempuan (48,8%). Rentang nilai MLR di DHF derajat ringan ditemukan dari 0,03–0,33 (median 0,11) sedangkan di DHFderajat berat dari 0,03–0,59 (median 0,16). Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan nilai MLR antara kelompok I(derajat ringan) dan kelompok II (derajat berat) (p=0,08). Tidak didapatkan perbedaan nilai MLR di infeksi DHF derajat ringan danberat.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS HATHA YOGA DAN TAI CHI TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRASI DAN KONDISI INFLAMASI PADA PENDERITA PPOK Meita Hendrianingtyas; Erna Setiawati; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Gangguan kebugaran kardiorespirasi penderita PPOK dan meningkatnya keadaan inflamasi pada penderita PPOK akan menyebabkan penurunan kualitas hidup bagi penderita PPOK. Latihan pernafasan berupa Hatha Yoga dan Tai Chi merupakan bentuk latihan pernafasan yang terbukti manfaatnya pada penderita gangguan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada penderita PPOK.Metode: Penelitian berdesain randomized controlled pre and post experimental, dilakukan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang, dengan subyek 11 penderita PPOK di BKPM Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berjumlah 5 orang diberi intervensi latihan Hatha Yoga 3 kali/ minggu selama 6 minggu, kelompok II berjumlah 6 orang diberi intervensi latihan Tai Chi 3 kali/ minggu selama 6 minggu. Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan uji jalan 6 menit/ 6 MWT (6 minute walk test) dan pemeriksaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah 6 minggu perlakuan.Hasil: Rerata VO2 max kelompok I dan II adalah 8,22± 1,24 dan 9,12 ± 1,62. Tidak didapatkan perbedaan VO2 max sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,33 dan p=0,78. Rerata jumlah leukosit dan neutrofil pada kelompok I dan II adalah 7.700 ± 2.137, 8.400 ± 2.520, 4.561 ± 2.069 dan 6.079 ± 1.823/ mm3. Tidak didapatkan perbedaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,63 dan p=0,097.Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada pasien PPOK. Kata kunci: Hatha Yoga, Leukosit, Neutrofil, PPOK, Tai Chi, Uji jalan 6 menit
HUBUNGAN KADAR THYROID STIMULATING HORMONE DENGAN PARAMETER ERITROSIT Emi Setianingsih; Meita Hendrianingtyas; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.706 KB)

Abstract

Latar belakang: Anemia merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan hemodialisis. Penyebab utama anemia pada PGK adalah defisiensi dari eritropoetin (EPO) yang diproduksi di ginjal. Penurunan kadar EPO menyebabkan gangguan eritropoiesis, sehingga produksi eritrosit menurun. Kondisi kronis pada PGK sering dihubungkan dengan penyakit komorbid pada beberapa organ, diantaranya disfungsi tiroid. Disfungsi hormon tiroid juga dapat mempengaruhi parameter eritrosit yang meliputi MCV, MCH, MCHC, dan RDW. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan TSH dan parameter eritrosit pada penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis.Metode: Penelitian belah lintang pada 30 pasien PGK dengan hemodialisis di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama Agustus – September 2017. Pemeriksaan Parameter eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC dan RDW) dengan hematology analyzer. TSH diperiksa dengan metoda ELISA. Uji analisis dengan Korelasi Spearman.Hasil: Terdapat peningkatan kadar TSH pada 6 (20%) pasien PGK dengan hemodialisis. Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan MCV (p=0,927), MCH (p=0,958), MCHC (p=0,990) dan RDW (p=0,645). Variasi pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh terapi, diet pasien sebelum pemeriksaan.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan parameter Eritrosit dan RDW pada penelitian ini. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan diet dan terapi pasien.
HUBUNGAN HEMOGLOBIN TERGLIKOSILASI (HbA1c) DENGAN RISIKO KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Hadian Widyatmojo; Lisyani B Suromo; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.752 KB)

Abstract

Latar belakang: Diabetes Mellitus (DM) dengan kondisi hiperglikemik kronik dapat mengakibatkan gangguan sistem kardiovaskular dan peningkatan mortalitas. Hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) merupakan salah satu parameter untuk pengendalian DM. Tujuan penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara kadar HbA1c serum dengan risiko kardiovaskular pada pasien DM.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan pada 42 penderita DM yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Agustus – September 2017. Diagnosis DM didapatkan melalui rekam medis. Dilakukan pemeriksaan HbA1c dan dinilai faktor risiko yang terdapat pada rekam medis menggunakan skor interheart (IHR).Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Terdapat hubungan antara HbA1c dengan skor IHR dengan nilai r=0,887, p=0,001. Pasien dengan kategori risiko kardiovaskular tinggi memiliki nilai HbA1c dengan rerata 10,12 ± 2,29, skor kategori sedang 6,62 ± 1,67 dan skor kategori rendah 5,75 ± 0,78.Simpulan: Terdapat hubungan positif kuat antara HbA1c dengan risiko kardiovaskular pada pasien DM. Perlu dilakukan penelitian prospektif dengan sampel yang lebih besar.
HUBUNGAN ANTARA NEUTROPHIL/LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DANHIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA SINDROM KORONER AKUT Dwi Retnoningrum; Nyoman Suci Widyastiti; Ardhea Jaludamascena
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.555 KB)

Abstract

Latar belakang: Sindrom koroner akut (SKA) merupakan 80 % penyebab kematian akibat penyakit jantung. SKA disebabkan penurunan aliran darah ke jantung sehingga terjadi iskemik dari miokard. Neutrophil/lymphocyte ratio (NLR) merupakan pemeriksaan laboratorium yang akhir-akhir ini terbukti sebagai petanda untuk inflamasi sistemik. High density lipoprotein (HDL) merupakan lipoprotein yang berfungsi sebagai anti aterogenik dan  kardio proteksi. Studi sebelumnya menunjukkan terdapat hubungan NLR dengan keparahan SKA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganNLR dan HDL pada sindrom koroner akut.Metode: Penelitian belah lintang pada penderita sindrom koroner akut di RS Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Desember 2014. NLR diperoleh dengan membagi jumlah netrofil dengan jumlah limfosit. Kadar HDL serum ditetapkan dengan alat kimia klinik otomatik. Analisis statistik dengan Spearman Rank Correlation Test.Hasil: Lima puluh enam pasien dengan sindrom koroner akut (41 laki-laki dan15 perempuan) dengan usia antara 32-83 tahun. Nilai tengah NLR 3,55 (1,1-17,6) dan HDL 34 (16-71) mg/dL. Analisisstatistikmenunjukkanterdapathubungan yang bermaknaantaraNLR dan HDL (p = 0,001;  r =-0,44).Simpulan: Terdapat hubungan negatif sedang yang bermakna antara NLR dan HDL pada sindrom koroner akut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai NLR perlu diperhatikan pada pasien dengan HDL yang rendah. Kata kunci: Sindrom koroner akut, NLR, HDL
Correlation between Prolactin Serum with Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) in Systemic Inflammatory Response Syndrome Dwi Retnoningrum; Meita Hendrianingtyas; Hermawan Istiadi; Ardhea Jaludamascena
Diponegoro International Medical Journal Vol 2, No 1 (2021): July
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dimj.v2i1.9546

Abstract

Background: Systemic inflammatory response syndrome (SIRS) is a state of systemic inflammatory activation by various causes. SIRS have a high mortality rate. Prolactin is known to regulate cellular function of immune system.  Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is simple, cost effective and easy parameter that currently used as inflammation marker.Objective: The aims of this study is to determine the correlation between prolactin serum with NLR in SIRS patients.Methods: A cross sectional study was conducted on 50 clinically SIRS patients. Prolactin serum was measured by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) and NLR was calculated manually from absolute neutrophil and lymphocyte count measured by automatic hematology analyzer. Non-parametric Spearman test was used to analyze the correlation between prolactin with NLR.Results: Median value of serum prolactin level was 11.32 ng/mL (2.76-194.81), whereas the mean value NLR was 16.36 ± 11.58. The correlation between prolactin levels with NLR was r = 0.345, p = 0.014.Conclusion: There is a weak positive significant correlation between prolactin with neutrophil lymphocyte ratio in SIRS
Pemeriksaan Bone Mineral Density dan Pelatihan Senam Osteoporosis Sebagai Upaya Peningkatan Kewaspadaan Osteoporosis pada Penderita Talasemia Mayor Nyoman Suci Widyastiti; Edward Kurnia Setiawan Limijadi; Meita Hendrianingtyas; Ariosta Ariosta; Dwi Retnoningrum; Dwi Ngestiningsih; Yetty Movieta Nency
Journal of Dedicators Community Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdc.v5i2.1348

Abstract

Thalassemia major patients with routine transfusions are at risk of experiencing iron overload and bone turn over disorders which will increase the risk of osteoporosis. Community training activities with BMD examinations and osteoporosis exercise training in thalassemia major patients are expected to identify the prevalence of bone fragility in thalassemia major patients, increase the awareness of thalassemia major patients and their families to the risk of osteoporosis in thalassemia major patients and osteoporosis exercise training as an effort to prevent osteroporosis. The results of BMD on the spine showed 57.1% osteoporosis, 28.6% normal and 14.3% osteopenia. The results of BMD examination on the cervical spine showed 71.4% osteopenia, 21.4% normal and 7.2% osteoporosis. The results of BMD examination on the femur found 50% normal, 42.8% osteopenia and 7.2% osteoporosis. The bone location with the highest percentage of osteoporosis was the spine (57%), and the bone location with the highest percentage of osteopenia was the neck bone (71.4%). The high percentage of osteopenia locations in the cervical spine of thalassemia major patients with repeated transfusions should be become a concern. Based on these findings, we held education and counselling on the risk of osteoporosis in thalassemia patients with repeated transfusions, osteoporosis exercise training and distribution of osteoporosis exercise compact disk (CD) for at home osteoporosis exercise training.
CASE PRESENTATION OF 55-YEAR-OLD MAN WITH ACUTE MYELOID LEUKEMIA AND COVID 19 Novita Fajar Sari; Herniah Asti Wulanjani; Ardhea Jaludamascena; Dwi Retnoningrum
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v11i3.33926

Abstract

Background: Acute myeloid leukemia (AML) is a malignancy originating from multipotential hematopoietic cells, which is characterized by clonal proliferation of abnormal blast cells in the bone marrow and failure of normal cell production. Coronavirus disease-19 (COVID-19) is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 virus. COVID-19 infection in AML patients will affect laboratory examinations to support the diagnosis of COVID-19 and the patient's prognosis. Case presentation: A 55-year- old man went to the hospital for chemotherapy and diagnosed of acute myelomonocytic leukemia. Patient complains of his gingival bleeding. The results of the routine haematological examination showed pancytopenia and the patient requires blood transfusion before chemotherapy. On the third day of treatment, the patient complained of fever, after several day patient complained cough, and shortness of breath. Physical examination showed pulse 100x/minutes, respiratory rate 26x/minutes, temperature 39.8˚C, crackles of the lungs. RT-PCR examination from nasopharyngeal swab showed a positive SARS-CoV-2. During treatment, the laboratory tests showed pancytopenia, increased D-Dimer, C-reactive protein, ferritin and procalcitonin. After the 42th day of treatment, the patient had clinical improvement, the fifth evaluation swab showed a negative RT-PCR result. Conclusion: AML patients have a higher risk of infection, especially COVID-19 infection. Correct laboratory examinations and treatment will promote a better prognosis. It is necessary to educate leukemic patients so that they always take precautions against infection, especially the prevention of COVID-19.