Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tentang Infeksi Tuberkulosis Paru Pasca Covid-19 Suriyani Tan; Rina K. Kusumaratna; Yuliana Yuliana; Machrumnizar Machrumnizar
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 : April (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonary tuberculosis, often called TB, is a bacterial infection caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia is one of eight countries that accounts for 2/3 of TB cases worldwide. This disease usually affects the lungs, but can also attack other organs in the body. TB symptoms can vary depending on the type of infection and the organs affected. During the COVID-19 pandemic, attention to other diseases, such as TB has decreased. The increasing risk of spreading TB after COVID-19 is a public health concern. Restrictions on social movement implemented during the COVID-19 pandemic may result in an increased risk of TB transmission among close contacts of TB sufferers. People who have had COVID-19, especially those who have had lung damage due to COVID-19 infection, may have a higher risk of developing TB due to a weakened immune system. This Community Service is carried out to increase public awareness of the dangers of TB that continue to lurk after COVID-19 and it is hoped that through this outreach and education, the public will become more aware of the symptoms of TB so they can check themselves at Primary Health Care.
Peningkatan Pengetahuan Tentang Infeksi Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Yuliana Yuliana; Suriyani Tan; Jipri Suyanto; Machrumnizar Machrumnizar
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 5 : Juni (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infestation with intestinal worms is a disease caused by parasitic worms, transmitted through the eggs present in the feces of infected individuals and contaminating the soil in environments with poor sanitation. It is estimated that around 1.5 billion people, or approximately 24% of the world's population, are affected by this disease. In Indonesia alone, there were 73,108,392 preschool and school-age children requiring preventive treatment for worm infestations in 2021. Worm infections are often overlooked due to the indirect nature of their effects, even though they can lead to long-term consequences, especially for young children, predominantly those in preschool and school-age. Preventive treatment measures implemented in Indonesia involve administering large-scale anthelmintic drugs to at-risk populations, which can reduce the number of worms infecting individuals. This intervention has the potential to decrease the morbidity associated with severe worm infestations. Furthermore, preventive measures to lower the prevalence of worm infections include educational campaigns on preventing worm infestations. With adequate knowledge of prevention methods, then communities can take steps to prevent the spread of these worm infections.
Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pasca Covid-19 Machrumnizar Machrumnizar; Rina K. Kusumaratna; Hendra Kurniawan; Suriyani Tan
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 5 : Juni (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The COVID-19 pandemic has become one of the most significant events in history, impacting the global health system, as reported by the World Health Statistics by the World Health Organization (WHO) in 2020. While its focus is on COVID-19, the pandemic has underscored the importance of respiratory health in everyday life. Throughout the pandemic, communities worldwide have learned more about the significance of maintaining a healthy respiratory system. However, with the end of the acute phase of the pandemic, attention to other acute respiratory infections (ARI) may have decreased. Diseases such as tuberculosis, influenza, pneumonia, bronchitis, and others remain serious threats to public health. Therefore, this Community Service (PKM) aims to provide comprehensive education to the public, reminding them of the importance of maintaining respiratory health, recognizing ARI symptoms, and implementing appropriate preventive measures. This community service activity is expected to provide a deeper understanding of ARI and explain how simple actions can help prevent ARI, enhancing knowledge and awareness of respiratory infections.
Penyuluhan dan Pelatihan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS): Mengajarkan Anak TK Hidup Sehat dan Bersih Sejak Dini Endrico Xavierees Tungka; David David; Suriyani Suriyani; Alfred Pakpahan; John Steward Castellano; Sisca Sisca
Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas
Publisher : Universitas Ekuitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52250/dbe.v10i1.1011

Abstract

Counseling on clean and healthy living behavior among kindergarten children is highly urgent, considering that early childhood is a golden age in the formation of healthy living habits that will extend into adulthood. At this stage of development, children begin to absorb various information and form routines, so early healthy living behaviour education has the potential to create a sustainable healthy lifestyle. One important aspect clean and healthy living that is the main focus is the habit of washing hands properly according to the WHO six-step standard. This activity aims not only to provide direct education to kindergarten children, but also to raise awareness of teachers and parents as important figures in the process of mentoring and reinforcing healthy behaviors. The methods used in the educating are designed to be interactive and engaging for 30 children, including educational games, fun animated videos, and hands-on handwashing practice sessions under the supervision of health workers and educators. Post-activity evaluations showed that approximately 90% of children actively participated, and 80% of them were able to correctly state the six steps of handwashing. Furthermore, children demonstrated increased independence in handwashing, including using soap, rubbing palms, backs of hands, between fingers, and nails, and rinsing with clean water. This ability is a key indicator of the intervention's success. By collaboratively involving schools and families, this outreach program has proven effective in instilling a culture of clean living from an early age.Keywords: clean and healthy habits, early childhood, training   Abstrak Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan anak Taman Kanak-kanak (TK) memiliki urgensi yang sangat tinggi, mengingat usia dini merupakan masa emas dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat yang akan membentang hingga masa dewasa. Pada tahap perkembangan ini, anak mulai menyerap berbagai informasi dan membentuk rutinitas, sehingga edukasi PHBS yang diberikan secara dini berpotensi menciptakan pola hidup sehat yang berkelanjutan. Salah satu aspek penting dari PHBS yang menjadi fokus utama adalah kebiasaan mencuci tangan dengan benar menurut standar enam langkah WHO. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk memberikan edukasi langsung kepada anak-anak TK, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran guru dan orang tua sebagai figur penting dalam proses pendampingan dan penguatan perilaku sehat. Metode yang digunakan dalam penyuluhan dirancang secara interaktif dan menarik bagi 30 anak-anak TK dan orang tua, meliputi permainan edukatif, tayangan video animasi yang menyenangkan, serta sesi praktik langsung mencuci tangan di bawah pengawasan tenaga kesehatan dan pendidik. Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan bahwa sekitar 90% anak aktif berpartisipasi, dan 80% di antaranya mampu menyebutkan keenam langkah mencuci tangan secara tepat. Lebih lanjut, anak-anak menunjukkan peningkatan kemandirian dalam melakukan cuci tangan, termasuk penggunaan sabun, menggosok telapak tangan, punggung tangan, sela jari, kuku, hingga membilas dengan air bersih. Kemandirian ini menjadi indikator keberhasilan utama dari intervensi. Dengan melibatkan sekolah dan keluarga secara kolaboratif, penyuluhan ini terbukti efektif dalam menanamkan budaya hidup bersih sejak dini.Kata kunci: PHBS, anak usia dini, penyuluhan
DETERMINAN SOSIAL KESEHATAN PADA ANAK INFEKSI KECACINGAN DERAJAT RINGAN KARLINA MAHARDIENI; JULIAN CHENDRASARI; IMELDA YUNITRA; SURIYANI SURIYANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 14 No 1 (2026)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v14i1.11497

Abstract

Pendahuluan: Infeksi kecacingan atau Soil-Transmitted Helminth (STH) merupakan salah satu penyakit infeksi tropis yang terabaikan dan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat global. Pengalaman berbagai studi menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian kecacingan sangat bergantung pada Determinan Sosial Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan profil Determinan Sosial Kesehatan pada anak dengan infeksi kecacingan derajat ringan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain studi crossectional. Sebanyak 36 responden terlibat dalam penelitian ini merupakan anak usia prasekolah dan sekoah. Pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling. Data informasi responden berupa usia, jenis kelamin, dan Determinan Sosial Kesehatan yang dikumpulkan melalui peoses wawancara dan pengisian kuesioner. Sedangkan untuk mengetahui infeksi kecacingan dilakukan uji sampel tinja di Laboratorium Klinik dengan memakai teknik Kato-Katz. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk melihat gambaran setiap variabel dengan infeksi kecacinga. Hasil dan Pembahasan: Hasil Kato-Katz menunjukkan bahwa infeksi kecacingan ada seluruh responden berada pada derajat ringan. Terdapat sebesar 25% responden dengan kategori Determinan Sosial Kesehatan yang rendah, dan sebesar 75% rensponden dengan kategori sedang. Dampak infeksi kecacingan tidak hanya menimbulkan gejala klinis ringan hingga berat seperti anemia, malnutrisi, dan gangguan tumbuh kembang, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas, prestasi belajar, dan kualitas hidup individu yang terinfeksi. Kerangka Determinan Sosial Kesehtan yang dikemukakan WHO menegaskan bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, tetapi juga oleh kondisi sosial tempat individu lahir, tumbuh, bekerja, dan hidup. Faktor-faktor sosial ini berinteraksi dengan determinan lingkungan dan perilaku untuk memengaruhi status kesehatan, termasuk penyakit menular. Dalam kasus kecacingan, rendahnya pendidikan menghambat pemahaman perilaku hidup bersih dan sehat, sementara keterbatasan ekonomi membatasi akses terhadap sanitasi dan air bersih. Akibatnya, kelompok dengan determinan sosial yang kurang menguntungkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi berat dan reinfeksi berulang. Kesimpulan: Determinan Sosial Kesehatan responden hanya pada tingkat rendah-sedang mengindikasikan bahwa kondisi pengetahuan, sanitasi, higienitas, dan ketersediaan air bersih pada populasi anak yang diteliti masih belum optimal. menjadi perhatian bahwa edukasi. Dengan demikian, maka diperlukan suatu tindakan integrasi untuk meningkatkan pengetahuan dan prilaku masyarakat dalam perbaikan Deteminan Sosial Kesehatan.
Penyuluhan dan Pelatihan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS): Mengajarkan Anak TK Hidup Sehat dan Bersih Sejak Dini Endrico Xavierees Tungka; David David; Suriyani Suriyani; Alfred Pakpahan; John Steward Castellano; Sisca Sisca
Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas
Publisher : Universitas Ekuitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52250/dbe.v10i1.1011

Abstract

Counseling on clean and healthy living behavior among kindergarten children is highly urgent, considering that early childhood is a golden age in the formation of healthy living habits that will extend into adulthood. At this stage of development, children begin to absorb various information and form routines, so early healthy living behaviour education has the potential to create a sustainable healthy lifestyle. One important aspect clean and healthy living that is the main focus is the habit of washing hands properly according to the WHO six-step standard. This activity aims not only to provide direct education to kindergarten children, but also to raise awareness of teachers and parents as important figures in the process of mentoring and reinforcing healthy behaviors. The methods used in the educating are designed to be interactive and engaging for 30 children, including educational games, fun animated videos, and hands-on handwashing practice sessions under the supervision of health workers and educators. Post-activity evaluations showed that approximately 90% of children actively participated, and 80% of them were able to correctly state the six steps of handwashing. Furthermore, children demonstrated increased independence in handwashing, including using soap, rubbing palms, backs of hands, between fingers, and nails, and rinsing with clean water. This ability is a key indicator of the intervention's success. By collaboratively involving schools and families, this outreach program has proven effective in instilling a culture of clean living from an early age.Keywords: clean and healthy habits, early childhood, training   Abstrak Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan anak Taman Kanak-kanak (TK) memiliki urgensi yang sangat tinggi, mengingat usia dini merupakan masa emas dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat yang akan membentang hingga masa dewasa. Pada tahap perkembangan ini, anak mulai menyerap berbagai informasi dan membentuk rutinitas, sehingga edukasi PHBS yang diberikan secara dini berpotensi menciptakan pola hidup sehat yang berkelanjutan. Salah satu aspek penting dari PHBS yang menjadi fokus utama adalah kebiasaan mencuci tangan dengan benar menurut standar enam langkah WHO. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk memberikan edukasi langsung kepada anak-anak TK, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran guru dan orang tua sebagai figur penting dalam proses pendampingan dan penguatan perilaku sehat. Metode yang digunakan dalam penyuluhan dirancang secara interaktif dan menarik bagi 30 anak-anak TK dan orang tua, meliputi permainan edukatif, tayangan video animasi yang menyenangkan, serta sesi praktik langsung mencuci tangan di bawah pengawasan tenaga kesehatan dan pendidik. Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan bahwa sekitar 90% anak aktif berpartisipasi, dan 80% di antaranya mampu menyebutkan keenam langkah mencuci tangan secara tepat. Lebih lanjut, anak-anak menunjukkan peningkatan kemandirian dalam melakukan cuci tangan, termasuk penggunaan sabun, menggosok telapak tangan, punggung tangan, sela jari, kuku, hingga membilas dengan air bersih. Kemandirian ini menjadi indikator keberhasilan utama dari intervensi. Dengan melibatkan sekolah dan keluarga secara kolaboratif, penyuluhan ini terbukti efektif dalam menanamkan budaya hidup bersih sejak dini.Kata kunci: PHBS, anak usia dini, penyuluhan
Fasciolopsis buski sebagai Penyakit Tropis Terabaikan: Perspektif Pendekatan One Health dalam Pencegahan dan Pengendalian Suriyani Suriyani; Sisca Sisca; Yani Kurniawan; Monica Dwi Hartanti; Triasti Khusfiani
Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE) Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : LPPJPHKI Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/mude.v5i3.11317

Abstract

Fasciolopsiasis is a parasitic disease caused by Fasciolopsis buski and remains a public health concern in several Asian regions, particularly in areas with poor sanitation and inadequate environmental conditions. This study aimed to examine fasciolopsiasis from a One Health perspective by highlighting its epidemiology, risk factors, public health impacts, and disease control strategies. This study employed a literature review approach by collecting scientific articles from PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar published between 2020 and 2025. The selected literature was analyzed descriptively and qualitatively using a thematic approach based on human, animal, and environmental components within the One Health framework. The findings indicate that the transmission of F. buski is influenced by the consumption of raw aquatic plants, poor personal hygiene, inadequate environmental sanitation, the presence of snails as intermediate hosts, and pigs as animal reservoirs. Chronic infection not only causes gastrointestinal disorders but also affects nutritional status, quality of life, and community productivity. Control strategies focusing solely on individual treatment are considered insufficient to interrupt disease transmission effectively. The One Health approach provides a more comprehensive framework through the integration of human health, animal health, and environmental management. Therefore, fasciolopsiasis control should be implemented through integrated strategies, including sanitation improvement, health education, monitoring of animal reservoirs, and aquatic environmental management to achieve more effective and sustainable disease control.
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KOPI DAN KEJADIAN REFLUKS GASTROESOFAGEAL (GERD) PADA DEWASA MUDA Suriyani Tan; Putri Aliyah Denizar
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i1.24561

Abstract

Konsumsi kopi merupakan bagian dari gaya hidup yang umum di kalangan dewasa muda, termasuk Generasi Z. Kandungan kafein dalam kopi diketahui dapat meningkatkan produksi asam lambung dan berpotensi memicu gejala GERD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian GERD pada usia 18–24 tahun di Jakarta Utara. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan podan melibatkan 177 responden yang dipilih melalui metode consecutive non-random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner konsumsi kopi dan GERD-Q, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Kolmogorov-Smirnov. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (70,6%) dan sebanyak 27,7% berisiko mengalami GERD. Namun, tidak ditemukan hubungan bermakna antara frekuensi konsumsi kopi, jenis kopi, volume, waktu konsumsi dengan kemungkinan mengalami GERD (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa konsumsi kopi tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian GERD pada dewasa muda usia 18–24 tahun.
KOMBINASI TERAPI SEMAGLUTIDE INJEKSI DAN DIETHYLPROPION HCL ORAL PADA PASIEN OBESITAS: LAPORAN KASUS Yani Kurniawan; Sisca Sisca; Monica Dwi Hartati; Triasti Kusfiani; Suriyani Suriyani
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i1.24604

Abstract

Obesitas merupakan penyakit metabolik kronis multifaktorial dengan prevalensi yang meningkat pesat secara global. Terapi farmakologis menjadi alternatif penting bagi pasien yang gagal mencapai target penurunan berat badan melalui modifikasi gaya hidup. Semaglutide, agonis reseptor GLP-1, dan diethylpropion, agen simpatomimetik anorektik, bekerja melalui mekanisme berbeda dan berpotensi memberikan efek sinergis bila dikombinasikan. Deskripsi kasus: Seorang wanita 37 tahun dengan obesitas (IMT 27,48 kg/m²) menjalani terapi semaglutide 0,25 mg/minggu yang ditingkatkan menjadi 0,5 mg/minggu pada minggu ke-6, dikombinasikan dengan diethylpropion oral 1x/hari. Dalam delapan minggu, berat badan pasien menurun dari 73,9 kg menjadi 62,9 kg (−14,9%), IMT menjadi 23,4 kg/m², dan massa lemak tubuh berkurang dari 27,5 kg menjadi 20,6 kg. Tidak ditemukan efek samping bermakna.Diskusi: Penurunan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat menunjukkan efek sinergis antara semaglutide dan diethylpropion. Semaglutide meningkatkan rasa kenyang dan memperlambat pengosongan lambung, sedangkan diethylpropion menekan nafsu makan melalui stimulasi norepinefrin di sistem saraf pusat. Kombinasi keduanya memperkuat efek anorektik dan menurunkan massa lemak tubuh tanpa menimbulkan efek kardiovaskular.. Kesimpulan: Kombinasi semaglutide dosis rendah dan diethylpropion oral memberikan hasil efektif dan ditoleransi baik pada pasien obesitas refrakter, dengan potensi menjadi alternatif terapi multimodal yang efisien dan aman., namun memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai keamanan jangka panjang