Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN TIPE PENGASUHAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU SOSIAL REMAJA USIA SEKOLAH DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY DI SALATIGA Rosdeliartha Samosir; Yulius Yusak Ranimpi; Dary Mariana
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 9, No 1 (2018): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v9i1.299

Abstract

Abstrak Intellectual disability adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya tingkat kecerdasan (memiliki nilai IQ di bawah 70), tidak cakap dalam mengolah kata dan sulit beradaptasi dalam beraktivitas di kehidupan sehari-hari. Keadaan tersebut akan mempengaruhi mereka ketika berperilaku dalam lingkungan sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tipe pengasuhan orang tua terhadap perilaku sosial remaja usia sekolah  dengan  intellectual disability. Metode dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasi.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi yang kemudian dianalisa menggunakan uji Pearson. Hasil uji Pearson diperoleh nilai signifikan antara tipe pengasuhan orangtua terhadap perilaku remaja di sekolah sebesar 0,885 sedangkan nilai signifikan antara tipe pengasuhan orangtua terhadap perilaku remaja anak di lingkungan rumah sebesar 0,532. Penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan antara tipe pengasuhan orang tua terhadap perilaku sosial anak dengan intellectual disability di Salatiga.Kata kunci: intellectual disability, tipe pengasuhan, perilaku sosial Abstract Intellectual disability is a condition before the age of 18 years characterized by a low level of intelligence (has an IQ score below 70), not proficient in word processing and difficult to adapt in activities in everyday life. The situation will affect them when behaving in their social environment. The purpose of this study was to determine the relationship between parenting type of social behavior of school age teenagers with intellectual disability. Methods in this study using the type of quantitative research with the type of descriptive correlation research. Data collection techniques conducted by using questionnaires and observations are then analyzed using Pearson test. Pearson test results obtained significant value between the types of parenting to the behavior of teenagers in school by 0.885 while the significant value between the types of parenting to the behavior of teenagers in the home environment of 0.532. This study showed no relationship between parenting type of social behavior of children with intellectual disability in Salatiga. Keywords: intellectual disability, nurture type, social behavior 
The relevance of family caregiver support to the resilience and spirituality of advanced breast cancer patients through the perspective of religious psychology Sihombing, Sarah Natasya; Ranimpi, Yulius Yusak; Harisantoso, Imanuel Teguh
Indonesian Journal of Cancer Vol 19, No 4 (2025): December
Publisher : http://dharmais.co.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v19i4.1351

Abstract

Introduction: Based on the type of disease, breast cancer is the most common. Individuals who suffer from this disease will experience several changes, including physiological, psychological, social, and spiritual aspects. In the psychological aspect, it can be seen from changes in attitude and behavior, such as depression, anxiety, and emotional instability. Regarding this matter, breast cancer patients who are already in the advanced stage and need help and support from family members to have spirituality and resilience to live well. The research aims to describe and analyze the relevance of family caregiver support for the resilience and spirituality of advanced breast cancer sufferers from the perspective of religious psychology.Method: This research uses qualitative research methods with a case study research design. The data collection technique used in this research was by interviewing the participants involved, namely two women aged 59 years and 60 years who had advanced-stage breast cancer and two family caregivers.Results: The results of the research stated that the support of a family caregiver who always provides support, both spiritually and emotionally, has a great influence on the spirituality and resilience of breast cancer sufferers. This can be seen from the lower level of pain in breast cancer sufferers who have strong resilience and a better ability to overcome the problems faced by breast cancer sufferers who have high spirituality.Conclusion: Support from family caregivers emotionally, practically, and financially provides encouragement and comfort for patients with advanced breast cancer, which reduces anxiety in patients and increases the resilience and spirituality of patients. The resilience of patients with advanced breast cancer can be formed because there is reinforcement that fosters hope for survival and fight from family caregivers.
Konflik Sosial dan Gangguan Stres Pasca-trauma: Suatu Pendekatan Teoretis Yulius Yusak Ranimpi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v18i2.8270

Abstract

-
Pergumulan Spiritualitas dan Regulasi Emosi Elia dalam 1 Raja-Raja 19:3-4 Menurut James Gross Semua Anugerah Hansela Neolaka; Merry Kristina Rungkat; Yulius Yusak Ranimpi
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i1.341

Abstract

This paper examines Elijah's spiritual struggles and emotional regulation using an interdisciplinary hermeneutic approach and literature review. Elijah struggled with fear due to the conflict with Jezebel and the Israelites about the spread of Baal worship (interpersonal struggles). The situation shook Elijah's spirituality and led to his disappointment with God (divine struggles). The pressure on his mind showed intrapersonal struggles, which culminated in a desire to die. Elijah's emotion regulation process can be seen since he chose to flee as a form of situation selection. To relieve emotional pressure, he modifies the situation by resting and sleeping (situation modification). Eating and drinking in response to the angel's gift reflects attentional deployment. Elijah's cognitive change occurred through God's intervention in the form of a divine encounter and reinforcement. This process reached its final stage in response modulation, where Elijah forgot his desire to die and chose to continue his prophetic duties.
Pergumulan Spiritual dan Strategi Koping Religius Raja Hizkia dalam II Raja-Raja 20:1-6 Ezra Tanamal; Merry Kristina Rungkat; Yulius Yusak Ranimpi
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pergumulan spiritual dan strategi koping religius Raja Hizkia berdasarkan teks 2 Raja-raja 20:1-6, yang memuat kisah Raja Hizkia ketika mengalami sakit bahkan dinubuatkan akan mati oleh Nabi Yesaya. Hizkia digambarkan sangat putus asa yang nampak dalam tangisan dan sikapnya ketika mendengar nubuatan tentang kematiannya dan dalam keputusasaan tersebut Hizkia memilih untuk menaikkan doa kepada Allah sebagai wujud penyerahan diri karena dia menyadari bahwa pergumulan yang dialami terjadi di luar kendalinya sebagai manusia yang terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik interdisipliner dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi kepustakaan dari buku maupun jurnal yang membahas tentang Kitab 2 Raja-raja 20:1-6, kehidupan Raja Hizkia, serta berbagai tulisan mengenai pergumulan spiritual dan strategi koping religius. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa pergumulan spiritual yang dialami Hizkia termasuk dalam divine struggle yang seringkali muncul pada kasus yang terjadi di luar keterbatasan manusia seperti kematian dan dalam konteks pergumulan Hizkia, dia meyakini Tuhan sebagai yang Mahakuasa. Mengatasi pergumulan tersebut, Hizkia menggunakan koping religius positif dengan pendekatan deferring yang nampak dalam sikap Hizkia ketika menghadapi pergumulan tersebut, yakni memilih untuk berpaling kepada Tuhan sebagai satu-satunya sosok yang dapat menolongnya untuk mengatasi pergumulan yang dia alami.   Kata kunci: Raja Hizkia; pergumulan spiritual; strategi koping religius.
AKTUALISASI SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI OLEH NAMAPOSO GKPS SEMARANG: ANALISIS TINDAKAN RASIONAL NILAI Sinaga, Vera Astriyani; Adi, Suwarto; Ranimpi, Yulius Yusak
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1385

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemaknaan dan aktualisasi falsafah Sapangambei Manoktok Hitei dalam kehidupan sosial Namaposo GKPS Semarang dengan menggunakan kerangka tindakan rasional nilai Max Weber. Sapangambei Manoktok Hitei merupakan falsafah Masyarakat Simalungun yang menekankan kebersamaan, persatuan, kerelaan berkorban, dan semangat tolong-menolong yang dalam penelitian ini dipahami sebagai orientasi nilai dalam praktik sosial Namaposo. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sapangambei Manoktok Hitei dipahami sebagai kerja sama tanpa pamrih, solidaritas, dan rasa kekeluargaan yang membentuk identitas kebersamaan di lingkungan GKPS Semarang. Aktualisasi nilai ini terlihat pada kegiatan Penyambutan Anggota Baru (PAB), kepanitiaan Natal, penggalangan dana, inisiatif gotong-royong, dan dukungan terhadap anggota baru. Namun, penerapan nilai tersebut tidak selalu konsisten karena pengaruh kesibukan, jarak tempat tinggal, dan perbedaan pemahaman antaranggota. Analisis dengan kerangka Weber menunjukkan bahwa tindakan kebersamaan Namaposo merupakan bentuk tindakan rasional nilai yang berlandaskan keyakinan moral terhadap nilai budaya, bukan pertimbangan keuntungan pribadi. Penelitian ini menegaskan bahwa, dalam konteks Namaposo GKPS Semarang, nilai budaya tetap menjadi orientasi penting dalam kehidupan perantauan, meskipun penerapannya mengalami penyesuaian sesuai dinamika kehidupan perantauan.
Tinjauan Psiko-Teologis Terhadap Pengalaman Traumatik Seksual dan Panggilan Menjadi Pendeta Pascalin Dwi Aprilia; Yulius Yusak Ranimpi; Handri Yonathan
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2021.62.675

Abstract

AbstractSexual harassment causes feelings of inferiority and humiliation, and even trauma for the individual who experiences it. This research examines traumatic experience resulted from sexual harassment underwent by a minister. The method employed is case study that is analysed phenomenologically. The data were collected through interview with the participant who is a minister with an experience of sexual harassment. The finding shows that sexual abuse experienced by the participant during the childhood period resulted in traumatic experiences. This affects various aspects of the participant's life including her decision to become a minister. Trust in God and support from parents as well as the surrounding environment allow the participant to overcome her traumatic experiences and make these experiences a source of energy to strengthen the congregation. AbstrakPada umumnya, pelecehan seksual mengakibatkan perasaan rendah diri dan terhina bahkan trauma bagi individu yang mengalaminya. Penelitian ini memeriksa pengalaman traumatik akibat pelecehan seksual yang dialami oleh pendeta. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang dianalisis secara fenomenologis. Data diambil melalui teknik wawancara terhadap partisipan yang merupakan seorang pendeta yang mengalami pelecehan seksual. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelecehan seksual yang dialami oleh partisipan pada periode anak-anak mengakibatkan pengalaman traumatik. Hal ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan partisipan termasuk keputusan untuk menjadi seorang pendeta. Kepercayaan kepada Tuhan serta dukungan dari orangtua dan lingkungan sekitarnya membuat partisipan dapat menyelesaikan pengalaman traumatiknya dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai sumber kekuatannya untuk menguatkan jemaat.