Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh Bleaching Terhadap Sifat Fisis Dan Perubahan Warna Kayu Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) Terserang Blue Stain: The Effect of Bleaching on Physical Properties and Color Change of Blue Stain-Infected Pine Wood Anggiriani, Siska; Wijayanto, Arip; Nurhanifah, Nurhanifah; Muhamad, Soleh; Mulyosari, Desy; Widiyanto, Wahyu; Fitrianto, Taufik Ramadhan
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44803

Abstract

ABSTRACT Pine is one of wood species that widely used as raw material for furniture making. Pine is easy to obtain, easy to work with, and has distinctive colors and patterns. However, pine is susceptible to being attacked by contaminating fungi (blue stain) on its surface. Blue stain attack wood surface is a problem that must be solved due to its effect on wood appearance. The idea to restrain this problem is bleaching process. Bleaching process carried out in this study used 25% sodium hypochlorite which was dissolved in water in a ratio of 1:2 (w/w). The bleaching process carried out has a significant effect on  moisture content (MC) of pine wood, but does not have a significant effect on its density. The MC value of pine wood after bleaching tends to increase compared to the untreated wood. The color change of pine wood after bleaching is indicated by the ΔE value (3.0 < ΔE < 6.0) which is classified as a moderate effect. The color of the control pine wood was originally slightly desaturated orange and after bleaching it became slightly desaturated orange   Keywords: bleaching, color change, finishing, furniture, pine.   ABSTRAK Pinus merupakan salah satu jenis kayu yang banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan furnitur. Hal ini karena Pinus  mudah mudah didapatkan, mudah dikerjakan, dan memiliki warna dan corak yang khas. Namun, Pinus rentan terserang jamur pengotor (blue stain) pada permukaannya. Serangan blue stain pada permukaan kayu merupakan permasalahan yang harus diatasi karena adanya seranagn blue stain dapat mempengaruhi penampilan kayu. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melakukan proses bleaching. Proses bleaching yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan sodium hipoklorit 25% yang dilarutkan menggunakan air dengan perbandingan 1:2 (b/b). Proses bleaching yang dilakukan berpengaruh nyata terhadap kadar air (KA) kayu pinus, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kerapatannya. Nilai KA kayu pinus setelah bleaching cenderung meningkat dibanding kontrolnya. Perubahan warna kayu Pinus setelah bleaching ditunjukkan dengan nilai ΔE (3,0 < ΔE < 6,0) yang tergolong pengaruhnya sedang. Warna pada kayu pinus control semula berwarna slightly desaturated orange dan setelah bleaching menjadi slightly desaturated orange.   Kata kunci: bleaching, finishing, furnitur, perubahan warna, pinus.
Redesain Kursi Kerja Pegawai berdasar Antropometri Pengguna Guna Meningkatkan Kenyamanan dan Produktivitas Fitrianto, Taufik Ramadhan; Prakoso, Galih; Nugroho, Alfani Risman; Afifah, Anshah Silmi; Anggiriani, Siska; Widiastuti, Retno
Integrasi: Jurnal Ilmiah Teknik Industri Vol 10 No 2 (2025): Integrasi : Jurnal Ilmiah Teknik Industri
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/integrasi.v10i2.434

Abstract

Duduk dalam waktu lama dan penggunaan kursi dengan desain yang kurang memadai menjadi penyebab utama ketidaknyamanan fisik dan gangguan muskuloskeletal (MSDs) di lingkungan kerja. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas ergonomis kursi karyawan yang telah didesain ulang di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Kendal, dengan menyesuaikan data antropometri spesifik tenaga kerja. Desain ulang berfokus pada dimensi utama, seperti tinggi dudukan, kedalaman dudukan, dan sudut sandaran, untuk meningkatkan kenyamanan dan postur selama penggunaan yang berkepanjangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner, dan wawancara terhadap 32 responden. Rapid Office Strain Assessment (ROSA) menunjukkan penurunan signifikan pada skor risiko ergonomis dengan rata-rata perbaikan hingga 3 poin, menandakan desain kursi baru secara efektif mengurangi potensi ketegangan muskuloskeletal. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi ergonomis dalam meningkatkan kenyamanan dan produktivitas karyawan. Selain itu, hasil kuesioner menunjukkan bahwa kursi yang didesain ulang secara signifikan meningkatkan dukungan punggung (rata-rata skor 4,72) dan kenyamanan keseluruhan (4,09). Namun, beberapa aspek, seperti kedalaman dudukan (3,69), memerlukan penyempurnaan lebih lanjut untuk mengakomodasi dimensi tubuh yang beragam. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan negatif antara tinggi badan dan kepuasan (-0,603), menekankan pentingnya desain yang memperhatikan variabilitas antropometri.
Pembuatan Bench Storage Menggunakan Material Kayu Olahan yang Dipadukan dengan Engsel Hidrolik Regita Ayu Irsandi; Taufik Ramadhan Fitrianto
Jurnal Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Vol 3 No 1 (2025): JIFKA Juni 2025
Publisher : Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67302/jifka.v3i1.308

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan memproduksi produk furnitur multifungsi berupa bench sepatu berbahan kayu jati yang mengintegrasikan nilai estetika, fungsionalitas ruang, dan kenyamanan pengguna. Proses perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan data antropometri pengguna, konsep ergonomi, serta optimalisasi ruang dalam hunian minimalis. Prototipe diuji melalui serangkaian tahapan mulai dari pembahanan, perakitan, finishing, hingga pengujian kekuatan dudukan dan laci menggunakan pendekatan beban statis. Penggunaan teknik veneer dan sambungan kayu yang tepat berperan penting dalam menjaga kualitas permukaan serta kekuatan struktural produk. Hasil uji kekuatan menunjukkan bahwa produk mampu menahan beban duduk dan tarik yang melebihi standar minimum ISO 7173. Dari segi desain, respons pengguna menunjukkan tingkat kenyamanan dan kemudahan penggunaan yang tinggi. Studi ini juga menekankan pentingnya integrasi antara proses manufaktur yang efisien dengan pendekatan desain berbasis kebutuhan pengguna untuk menghasilkan produk furnitur fungsional yang layak diproduksi secara massal maupun skala industri kecil-menengah.
Design of student chair using local wood with ergonomic approach and finite element-based structural validation Taufik Ramadhan Fitrianto; Bahtiar Rahmat; Siska Anggiriani; Desy Mulyosari; Nurhanifah Nurhanifah; Alfani Risman Nugroho; Muhammad Afif Affandi
Productum: Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/productum.v9i1.17625

Abstract

This study presents the design and structural validation of an ergonomic student chair using locally sourced Indonesian wood species. The research integrates anthropometric analysis, computer-aided design, and Finite Element Method (FEM) simulations to ensure both comfort and mechanical reliability. Anthropometric data from Indonesian students determined key seating dimensions, while FEM analysis evaluated structural performance under static loading conditions. Four wood species—teak (Tectona grandis), mahogany (Swietenia macrophylla), pine (Pinus merkusii), and sonokeling (Dalbergia latifolia)—were compared based on stress distribution, total deformation, and factor of safety (FoS). All materials satisfied the minimum safety factor of 1.5, confirming adequate strength for classroom use. Sonokeling achieved the highest FoS (2.47), while pine offered the best efficiency index (22.6) when performance was normalized by cost. The results demonstrate that locally available wood can provide safe, ergonomic, and economically feasible alternatives to imported materials. This integrated ergonomic–engineering approach supports sustainable, affordable, and human-centered furniture design for educational environments.
Evaluasi Desain Struktur Kursi Kerja Kayu Menggunakan Simulasi Finite element method (FEM) Taufik Ramadhan Fitrianto; Atdfal Muhammad; Galih Prakoso
Infotekmesin Vol 17 No 1 (2026): Infotekmesin: Januari 2026
Publisher : P3M Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/infotekmesin.v17i1.2998

Abstract

Existing office chair designs often inadequately consider user anthropometry and structural strength, which may reduce comfort and compromise user safety. This study aims to redesign an office chair based on employees’ anthropometric data and to validate improvements in its structural performance using the Finite Element Method (FEM). Numerical simulations were conducted in Autodesk Inventor under incremental static loads ranging from 500 to 2000 N applied to the seat, with an additional backrest load equal to 40% of the seat load. The results indicate that the original chair design could withstand a maximum load of approximately 2,038 N, with a maximum deformation of 3.91 mm and a minimum factor of safety of 1.02. In contrast, the redesigned chair sustained loads up to approximately 7,651 N, with a maximum deformation of 4.21 mm and a factor of safety of 3.83. This represents an improvement in load-bearing capacity of about 3.7 times. The enhancement was primarily achieved through structural optimization, including increased wooden cross-sections and fewer joints. The findings demonstrate that integrating ergonomic design with FEM-based structural analysis provides a reliable engineering approach to improve the performance of wooden office chairs prior to fabrication.
Numerical Analysis of Seat Inclination Effect on Student Chair Structural Performance Using Finite Element Method Taufik Ramadhan Fitrianto; Bahtiar Rahmat; Nurhanifah Nurhanifah; Siska Anggiriani; Desy Mulyosari; Alfani Risman Nugroho
Infotekmesin Vol 17 No 2 (2026): Infotekmesin: Juli 2026
Publisher : P3M Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/

Abstract

Student chairs are commonly designed based on ergonomic dimensions without considering the structural implications of seat configuration. This study investigates the effect of seat inclination on the structural response of a mahogany student chair using the Finite Element Method (FEM). Two anthropometrically derived chair models—a flat seat and a 4° inclined seat—were developed based on student anthropometric data from the Polytechnic of Furniture and Wood Processing Industry Kendal. Static simulations were performed in Autodesk Inventor 2022 under a 2000 N vertical seat load and an additional backrest load equivalent to 40% of the seat load. Structural performance was evaluated using Von Mises stress, total deformation, and Factor of Safety (FoS). The flat-seat model produced a maximum stress of 16.94 MPa, a deformation of 1.118 mm, and a FoS of 2.755, whereas the 4° inclined-seat model yielded 23.25 MPa, 1.501 mm, and 2.007, respectively. Although the inclined seat increased stress concentration and deformation, both configurations remained structurally safe, indicating that a 4° seat inclination represents an acceptable trade-off between ergonomic improvement and structural reliability.
Value upgrading kayu jati apkir menjadi nightstand melalui model integratif laminasi, CNC, dan design thinking Taufik Ramadhan Fitrianto; Khayla Gladis Puti Salma
Jurnal Desain Vol 13 No 3 (2026): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i3.2266

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan model integratif value upgrading kayu jati (Tectona grandis) kategori apkir (reject) melalui kombinasi teknik laminasi, pemesinan presisi berbasis Computer Numerical Control (CNC), dan pendekatan design thinking dalam perancangan furnitur. Latar belakang penelitian didasarkan pada tingginya selektivitas industri terhadap mutu visual dan dimensional kayu jati, yang menyebabkan sebagian material dengan sifat mekanis memadai dikategorikan sebagai apkir dan berpotensi mengalami downcycling. Metode penelitian menggunakan tahapan design thinking yang meliputi empathize, define, ideate, prototype, dan test, dengan produk nightstand sebagai media eksplorasi. Purwarupa dikembangkan melalui laminasi panel untuk homogenisasi dimensi material, integrasi CAD–CAM dalam pemesinan CNC untuk presisi bentuk, serta konstruksi furnitur konvensional. Pengujian dilakukan melalui evaluasi pengguna terhadap lima aspek—fungsional, mobilitas, estetika, persepsi nilai, dan keberlanjutan—dengan melibatkan 52 responden. Hasil menunjukkan bahwa evaluasi pengguna menghasilkan skor rata-rata sebesar 3,97–4,04 dari skala 5 pada seluruh aspek, yang mencerminkan tingkat penerimaan yang konsisten tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa model integratif yang dikembangkan mampu mentransformasikan keterbatasan material menjadi nilai desain, serta memperkuat potensi kayu jati apkir sebagai material furnitur dalam kerangka circular design.