Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PELESTARIAN TRADISI LISAN DOLA BOLOLO OLEH MASYARAKAT KECAMATAN PULAU HIRI (STUDI KASUS DI SOA DORARI ISA) Wahab, Irfan; Muhammad, Syahril; Yusuf, Mukhtar
Jurnal GeoCivic Vol 6, No 2 (2023): EDISI OKTOBER
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v6i2.7429

Abstract

The main problem of this research is the erosion of the Dola Bololo oral tradition which is a characteristic of the social life values of the Hiri people, especially in Soa Dorari Isa. The formulation of the problem is (1) How is the preservation of the Dola Bololo oral tradition by the people of Pulau Hiri Subdistrict, (2) What are the values and moral messages contained in the Dola Bololo oral tradition of the people of Hiri Island District, and (3) What are the supporting and inhibiting factors for the preservation the oral tradition of Dola Bololo, the people of Hiri Island District. The purpose of this study was to get an overview of the forms of preservation, values and messages, as well as supporting and inhibiting factors for the preservation of Dola Bololo in Pulau Hiri District. This study used descriptive qualitative method. Located in Soa Dorari Isa. Data was collected using observation, interviews, and documentation. Data analysis used reduction, presentation, and conclusion techniques. The results of the study show that (1) the preservation of the Dola Bololo oral tradition by the Hiri people through (a) traditional ceremonies, (b) rituals, (c) communication of elders, (d) youth communities, and (e) social media; (2) The values and messages in the Dola Bololo oral tradition of the Hiri people are (a) Knowing one's own limits, (b) Learning to let go, (c) Keeping one's speech, (d) Introspective, (e) Understanding the purpose of life; (3) The supporting and inhibiting factors for the preservation of the Dola Bololo oral tradition by the people of Hiri Island District are, (a) The supporting factors are traditional ceremonies, rituals, the youth community; (b) Inhibiting factors are facilities, government, schools, and the community.Keywords: Preservation, Oral Tradition, Dola Bololo
The difference in leaves production, protein and calcium of Moringa oleifera under modification planting media, application of PGR and nitrogen SULISTIANI, RINI; YUSUF, MUKHTAR; SARAGIH, SYAIFUL AMRI
Jurnal Natural Volume 24 Number 1, February 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v24i1.32403

Abstract

Moringa has many ingredients of nutrients that are beneficial for food sources and nutrients that have not been widely cultivated. The nutritional content, benefits and high demand for Moringa abroad will open large opportunities for exporting Moringa flour. Foods full of nutrition will support the maintenance of good public health. For this reason, it is necessary to study and research cultivation techniques that produce high Moringa leaves and can be available sustainably. Production of Moringa leaves as a source of secondary metabolites can be increased by modifying the planting media and applying Plant Growth Regulator (PGR) and Nitrogen. The study used Split Split Plot Design with the main plot immersion by PGR, consisting of 3 types, namely: G1 (Fresh water), G2 (Coconut water), and G3 (GA3). The subplot was the treatment of planting media with two types: M (soil: sand: manure = 1:1:2); M (soil: sand: manure = 1:2:1). The sub subplots were N (urea) fertilizer, with four levels: N0 (0 g/plant); N1 (5 g/plant); N (10 g/plant); and N (15 g/plant). Each treatment combination goes over three times. The agronomic parameters observed were plant height, the number of leaves, fresh crop weight, and root volume, and the biochemical parameters observed were chlorophyll, protein, and calcium levels. The composition of the planting media caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 weeks after planting (WAP), the number of leaves at 4 WAP, and root length at 10 WAP. Growth Regulators significantly affected plant height at 4, 6, and 10 WAP, the number of leaves at 4 WAP, and root length at harvest. Nitrogen fertilization caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 WAP, volume, and root length at harvest (10 WAP). The combination of Planting media, PGR, and Nitrogen treatments caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 WAP and the number of leaves at 6 WAP. Laboratory analysis in this study showed high calcium and protein in Moringa leaves.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PETANI SAYUR PADA KELOMPOK TANI MAKMUR SEJAHTERA DI KELURAHAN DENAI KOTA MEDAN Br Kabeakan, Nana Trisna Mei; Alqamari, Muhammad; Susanti, Rini; Yusuf, Mukhtar
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 8 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i8.2953-2958

Abstract

Tanah yang subur dan terpenuhi unsur hara merupakan bagian penting dalam proses budidaya tanaman sayur, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi unsur hara pada tanah adalah proses pemupukan. Selama ini pupuk yang digunakan oleh petani merupakan pupuk kimia yang memiliki dampak kurang baik bagi lingkungan dan kesehatan, mengingat tanaman sayuran merupakan tanaman yang sehari-hari dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karena itu pada kegiatan PKM (Program Kemitraan Masyarakat) ini, solusi yang ditawarkan adalah melakukan kegiatan sosialisasi cara pembuatan dan juga menjelasakan pengaplikasian MOL (Mikroorganisme Lokal) dan pupuk organik dalam hal ini adalah pupuk bokashi  sehingga petani lebih memahami tentang Mikroorganisme Lokal dan pupuk organik dan melakukan kegiatan pertanian yang lebih ramah lingkungan.  Kegiatan yang dilakukan adalah dengan cara sosialisasi dilanjutkan dengan praktik cara pembuatan MOL dan pupuk bokashi dan juga menjelaskan cara pengaplikasian MOL dan pupuk bokashi selanjutnya pemberian sprayer yang dapat digunakan secara elektrik dan manual untuk mempermudah petani dalam melakukan kegiatan penyemprotan guna pengendalian hama pada tanaman dan juga memberikan benih tanaman sayuran kepada petani.
PEMANFAATAN TANAMAN BUAH-BUAHAN SEBAGAI PENAHAN TANAH DARI EROSI DI BANTARAN SUNGAI DI DESA PERTUMBUKAN KECAMATAN WAMPU KABUPATEN LANGKAT Rahmadani Manik, Juita; Yusuf, Mukhtar; Harahap, Mailina
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 10 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i10.3561-3564

Abstract

Permasalahan saat ini yang dihadapi masyarakat bantaran sungai adalah erosi pada daerah sungai. Erosi dapat terjadi dan bergerak secara cepat di pengaruhi dan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor iklim, struktur dan jenis tanah, pengolahan lahan, vegetasi sekitar sungai dan topografi. Menurut Kironoto dalam jurnal I wayan Mustapa(Sutapa, 2010) mengakatakan Faktor iklim merupakan faktor utama dimana curah hujan yang tinggi yang secara sadar atau tidak sadar, langsung atau todak langsung mengikis permukaan tanah sehingga secara perlahan-lahan akan menghasilkan erosi. Dari adanya erosi sungai maka ekosistem sungai dan di bantaran sungai terganggu. Banyak ikan-ikan kecil, ular, dan jenis hewan air tawar lainnya mati. Serta membawa perubahan kepada warna air sungai yang kian keruh dan berwarna coklat kehitaman. Maka dari itu tim pengabdian masyarakat dari universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Khususnya Fakultas Pertanian Prodi Agribisnis memberikan solusi kepada masyarakat mitra di Pertumbukan kecamatan Wampu Kabupaten Langkat untuk memanfaatkan tanaman buah-buahan sebagai penahan tanah dari erosi. Sehingga Lapisan tanah atau jalan tidak menipis, agar jalan di sekitar sungai tidak retak, selanjutnya tidak terjadi lagi banjir karena daya serap air ke tanah semakin membaik, tidak terjadi lagi sedimentasi sungai/pendangkalan sungai, kualitas air tidak lagi  buruk karena semakin banyak vegetasi yang menyokong tanah  atas sungai dengan ditanaminya pohon buah-buahan ini, sehingga laju erosi semakin lambat bahkan tidak akan erosi lagi.
SOSIALISASI PENGENDALIAN HAMA KUTU PUTIH (PARACOCCUS MARGINATUS) PADA TANAMAN PEPAYA DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH PUNTUNG ROKOK YANG EKONOMIS DAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA STUNGKIT KECAMATAN WAMPU KABUPATEN LANGKAT Susanti, Rini; Yusuf, Mukhtar; Br Kabeakan, Nana Trisna Mei
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 10 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i10.3493-3497

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat ini bertujuan meningkatkan produktivitas hasil tanaman pepaya dan meningkatkan pendapatan petani dengan pemanfaatkan limbah puntung rokok sebagai biopestisida dalam mengendalikan hama kutu putih Paracoccus marginatus, dengan mitra Kelompok Tani berkah bertujuan agar kelompok tani yang ada di desa Situngkit Kecamatam Wampu kabupaten langkat dapat memanfaatkan dan mengelola limbah puntung rokok menjadi biopestisida dari serangan hama Paracoccus marginatus yang dapat mematikan tanaman dan merugikan petani, serta tingginya harga Pestisida kimiawi untuk mengendalikan hama tersebut, Kondisi saat ini  yang yang terjadi pada petani pepaya yaitu  pengetahuan limbah puntung rokok sebagai biopestisida yang sangat minim, ketrampilan dalam pemanfaatan puntung rokok menjadi biopestisida bagi Paracoccus marginatus belum didapatkan, Tingkat Pendidikan sumber daya manusia Desa Situngkit masih tergolong rendah; sehingga perlu memberi pengetahuan dan pelatihan cara.membuat biopestisida hama yang ekonomis dan ramah lingkungan dengan menggunakan limbah puntung rokok sebagai biopestisda untuk mengendalikan hama kutu putih Paracoccus marginatus pada tanaman pepaya
PENGAMATAN GEJALA GULMA YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR DI BUKIT KOR, TERENGGANU Lubis, Riszky Ardyansyah; Yusuf, Mukhtar; Sidique, Siti Nordahliawate Mohammed
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3758

Abstract

Observation of weed symptoms caused by fungi in Bukit Kor, Marang, Terengganu, Malaysia which was conducted in September 2023 in the agricultural land of Bukit Kor, Marang, Terengganu. The research was conducted using descriptive methods by making direct observations to the field taking direct weed samples and identifying fungi that cause disease in weeds. Sampling was done using quadrats, 1x1 quadrat size. The results showed that there were 5 types of weeds that had disease symptoms, namely Alang-alang (Imperata cylindrica), Leunca (Solanum americanum), Buffalo grass (Paspalum conjugatum), Goletrak (Boreria alata) and Jelumpang grass (Melochia chortoriafolia). The fungi found in the study were Bipolaris sp, Exserohilum sp, Culvularia sp, Cylidrocarpon sp and Culvularia sp. Of the five fungi, the dominant disease carrier was Culvularia sp. Keywords: weeds, Bukit Lor, symptoms. INTISARIPengamatan gejala gulma yang disebabkan oleh jamur di Bukit Kor, Marang, Terengganu, Malaysia yang dilakukan pada bulan September 2023 di lahan pertanian Bukit Kor, Marang, Terengganu. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan mengambil langsung sampel gulma dan mengidentifikasi jamur penyebab penyakit pada gulma. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan kuadrat, ukuran kuadrat 1x1. Hasil penelitian menunjukkan ada 5 jenis gulma yang memperlihatkan gejala penyakit, yaitu Alang-alang (Imperata cylindrica), Leunca (Solanum americanum), Rumput kerbau (Paspalum conjugatum), Goletrak (Boreria alata) dan Rumput jelumpang (Melochia chortoriafolia . Jamur yang ditemukan pada penelitian adalah Bipolaris sp, Exserohilum sp, Culvularia sp, Cylidrocarpon sp dan Culvularia sp. Dari kelima jamur tersebut yang dominan sebagai pembawa penyakit adalah Culvularia sp. Kata kunci:  gulma, Bukit Lor, gejala