Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Pembacaan Ulang Nana Karya Zola dan Anna Karya Tolstoy : Re-Interpretasi Sosok Perempuan Feminis Abad-19 Mega Subekti; Hilman Fauzia Khoeruman
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18845

Abstract

Dalam sejarah perkembangan ideologi feminisme, Abad ke-19 sering dianggapsebagai momen penting munculnya ide-ide baru tentang feminisme dan pergerakan yangmemperjuangkan hak-hak perempuan. Beberapa ide tersebut tercermin dari banyaknyakarya sastra yang mengangkat isu tentang perempuan dalam tradisi patriarkal, seperti yangdilakukan Emile Zola di Perancis dengan karyanya yang berjudul Nana dan Leo Tolstoy diRusia dengan Anna Karenina-nya. Dalam dua novel itu, perempuan digambarkan sebagaitokoh yang tidak cukup beruntung terkait dengan peran sosial dan relasi mereka dengan lakilaki.Meski demikian, perjuangan yang dilakukan terkait dengan opresi yang mereka terimabisa dianggap sebagai representasi dari perlawanan mereka sebagai perempuan. Denganmenggunakan metode deskriptif analitis yang didukung dengan pendekatan feminsime dangender, tulisan ini ditujukan untuk mendeskripsikan perlawanan atau setidaknya kesadarantokoh Nana maupun Anna dan menginterpretasikannya sebagai perwujudan feminismemereka sebagai perempuan. Meskipun berakhir tragis (dimatikan oleh narator), resistensiyang dilakukan Nana dan Anna terkait dengan status mereka sebagai perempuan sekiranyadapat membuktikan bahwa mereka tetap mampu merepresentasikan ide-ide feminisme.Alih-alih sebagai korban yang didominasi oleh laki-laki, Nana mampu memanfaatkansensualitas tubuhnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sementara itu, pilihan Annauntuk bunuh diri dilakukannya dengan penuh kesadaran dapat dianggap sebagai puncakperlawanannya terkait opresi yang ia terima karena perzinahannya dengan Vronsky.Kata kunci: Perempuan, feminisme, abad ke-19AbstRactIn the history of the development of feminist ideology, nineteenth century isregarded as an important moment of the emergence of ideas on feminism and women’smovement. Some of these ideas are reflected from the many literary works that raise thewomen’s issues in the patriarchal tradition, as Emile Zola did in France with Nana andLeo Tolstoy in Russia with Anna Karenina. In the two novels, women are portrayed asunfavourable figures associated with their status and relationships with men. Nevertheless,the fight related with the oppression they receive can be regarded as a representationof their resistance as women. By using an analytical descriptive method supported byfeministic and gender approaches, this paper is intended to describe resistance or at leastawareness of Nana and Anna figures and read it as the embodiment of their feminismperspective. Though ending tragically (killed by the narrator), Nana and Anna’s resistancecould prove that they were capable to represent their feminist perspectives. Instead of beinga victim who was dominated by men, Nana is able to take advantage of her sensual body to
MEMBACA SASTRA, MENYOAL REALITAS POLITIK PADA TAHUN 2005 MELALUI CERPEN ROKOK MBAH GIMUN KARYA F RAHARDI Trisna Gumilar; Baban Banita; Mega Subekti; Rasus Budhyono
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.36953

Abstract

Cerpen Rokok Mbah Gimun karya F. Rahardi yang dimuat di harian Kompas pada tanggal 10 Juli 2005 merupakan sebuah karya sastra yang kontekstual dengan realitas politik yang terjadi pada tahun itu, yaitu pilkada (pemilihan kepala daerah). Tulisan ini mencoba mengungkapkan sisi lain dari masyarakat yang terlibat secara langsung dalam peristiwa politik yang baru pertama dilangsungkan dalam sejarah Indonesia merdeka. Utamanya, masyarakat yang direpresentasikan melalui sosok bernama Mbah Gimun dalam merespon praktik-praktik kotor terkait dengan pemilihan bupati di sebuah daerah di pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika dan argumentasi Lotman (1990) yang menganggap cerpen tidak saja sebagai sebuah karya sastra tetapi juga dokumen budaya yang memotret realitas sosial masyarakat. Cerpen ini terlihat mencoba menawarkan sebuah gagasan cerdas  melalui suara Mbah Gimun sebagai representasi masyarakat kelas bawah dalam menghadapi suatu situasi politik yang carut-marut dalam pilkada, yaitu menghadapinya dengan keluguan sekaligus di saat yang sama menunjukkan resistensi dan kemandiriannya.