Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Growth Studies of Cucumber (Cucumis sativus L.) Varieties Plants by Bamboo (Dendrocalamus asper) Flour Organic Fertilizer Zahanis, Zahanis; Ernita, Milda; Kardila, Evi; Herman, Welly; Resigia, Elara
EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA Vol. 22 No. 1 (2021): Eksakta : Berkala Ilmiah Bidang MIPA (E-ISSN : 2549-7464)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA), Universitas Negeri Padang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.401 KB) | DOI: 10.24036/eksakta/vol22-iss1/259

Abstract

The aim of the study was to analyze the interaction between the concentration of bamboo shoots of liquid organic fertilizer and cucumber plant varieties on the growth and yield of cucumber plants. This experiment used a Completely Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor is the type of cucumber plant varieties, Wulan F1 variety and Mercy F1 variety. The second factor is the addition of Bamboo Shoots POC which consists of 4 levels, 0, 50, 75 and 100 ml/liter of water. The parameters observed were stem length, age of first flower appearance, age of first harvest, number of planting fruit, fruit diameter, fruit length, fruit weight of crop, fruit weight per plot and per hectare. Based on the results of the experiment, it can be concluded that giving bamboo shoots POC 100 ml/liter of water can increase the growth and yield of cucumber plants reaching 47.31 tons/ha.
Evaluation of the Fertility Status of Rice Fields in Giri Jaya Village, Nagrak District, Sukabumi Regency Rahmayuni, Erlina; Elfarisna; Herman, Welly; Putri, Elsa Lolita; Kurniati
TERRA : Journal of Land Restoration Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/terra.7.1.42-47

Abstract

The research comprises three stages, which include: Field research, Laboratory research, encompassing the analysis of soil chemical properties. Data analysis, conducted both descriptively and quantitatively. Composite soil samples from rice fields were collected at three different elevations (top, middle, and bottom) at a depth of 1-20 cm in the surface layer of the rice field soil. Analysis of paddy soil samples involved measuring pH H2O using the electrometric method, total N, and cation exchange capacity (CEC) using the titrimetric method, potential K2O using the flame photometric method, potential P2O5 and organic C using the spectrophotometric method, K exchangeability and Na exchangeability using the flame photometric method, and Ca exchangeability and Mg exchangeability using the AAS method. Data obtained from soil analysis at different elevations were compared based on soil type for each observed parameter. The research results indicate that the evaluation of nutrient status is influenced by altitude. Land situated at lower elevations exhibits better soil fertility status, followed by land at the upper and middle elevations.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK CAIR ALGA MERAH EUCHEUMA SPINOSUM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG PADA TANAH ASAL KECAMATAN TAMANREA MAKASSAR kurniati, Kurniati; Herman, welly
PLANTKLOPEDIA: Jurnal Sains dan Teknologi Pertanian Vol 3 No 1 (2023): Maret
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Siddenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/plantklopedia.v3i1.892

Abstract

Terdapat lebih dari 600 spesies rumput laut yang tersebar di perairan Indonesia. Spesies-spesies rumput laut itu digolongkan ke dalam empat kelas, yaitu ganggang merah (Rhodophyceae), ganggang cokelat (Phaeophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), dan ganggang hijau-biru (Cyanophyceae). Sebagian besar rumput laut itu belum diteliti dengan lebih mendalam mengenai kandungan zat-zatnya, oleh sebab itu beberapa jenis rumput laut dianggap memiliki nilai ekonomi yang rendah. Kebanyakan rumput laut yang kurang prospektif itu hidup liar di wilayah perairan Indonesia Timur, terutama di sekitar Pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua. Jumlah rumput laut yang dianggap bernilai ekonomi rendah itu sebenarnya berpeluang untuk dijadikan pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro cukup tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk cair yang terbaik pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays). Penelitian ini disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dosis. Setiap perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali sehingga seluruhnya terdapat 18 pot percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa perlakuan yang terbaik untuk rata-rata berat kering, serapan N, serapan P, dan serapan K tanaman jagung adalah perlakuan dengan dosis 12.5 ton/ha atau setara dengan 31,25 g/pot. Berdasarkan hasil tersebut dapat di simpulkan bahwa perlakuan dengan dosis 12.5 ton/ha mampu memberikan pengaruh yang nyata dan hasil yang terbaik untuk berat kering tanaman jagung serta serapan N, P, dan K.
Dosis Frass Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Pupuk Organik: Implikasinya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Pagoda (Brassica Narinosa L.) Rahmayuni, Erlina; Ferdian, Felik; Elfarisna, Elfarisna; Herman, Welly
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 19, No 2 (2025): Vol 19 No. 02 JULI 2025
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v19i2.6905

Abstract

Frass larva Black Soldier Fly (BSF) merupakan amandemen organik potensial untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh berbagai dosis frass BSF yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pagoda (Brassica narinosa L.). Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor dengan lima perlakuan dosis frass (0–150 g/tanaman). Parameter yang diamati, meliputi pH tanah, pertumbuhan vegetatif (jumlah daun, lebar daun, diameter, panjang akar), dan hasil tanaman (bobot basah, bobot konsumsi, bobot akar, dan konversi/ha). Hasil menunjukkan bahwa meskipun secara statistik tidak signifikan, aplikasi frass BSF memberikan pengaruh biologis positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Dosis 125 g/tanaman menghasilkan nilai tertinggi pada bobot konsumsi (97,27 g) dan hasil panen (6,08 ton/ha), serta pH tanah tertinggi (6,39). Sebaliknya, dosis tertinggi (150 g/tanaman) menurunkan hasil, diduga akibat peningkatan salinitas. Frass juga terbukti memperbaiki pH tanah dan mendukung aktivitas mikroba. Dapat disimpulkan bahwa frass BSF berpotensi sebagai pupuk organik berkelanjutan jika diberikan dengan dosis optimal. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efisiensi jangka panjang dan interaksi frass dengan tanah. Kata Kunci: frass larva BSF, pertumbuhan tanaman, pupuk organik, sawi pagoda 
The contribution of vegetation stratification and soil quality index in post-coal mining lands Herman, Welly; Iskandar, Iskandar; Budi, Sri Wilarso; Pulunggono, Heru Bagus; Kurniati, Kurniati; Rahmayuni, Erlina
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 12 No. 5 (2025)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2025.125.8647

Abstract

Open-pit coal mining causes environmental degradation, disrupting ecosystem functions and reducing soil quality. This study evaluated the contribution of vegetation stratification and the Soil Quality Index (SQI) in supporting the recovery of post-coal mining land. The research was conducted on revegetated sites of varying ages (2006-2022) within the PT Allied Indo Coal Jaya mining area in Sawahlunto, West Sumatra. Vegetation structure was analyzed based on five vertical strata: trees, poles, saplings, seedlings, and understory. Concurrently, soil quality was assessed using the SQI, which incorporates physical, chemical, and biological soil parameters. They showed that revegetated sites older than 10 years exhibited more complex vegetation structures and significantly higher SQI values. Among the strata, understory frequency showed the strongest correlation with SQI (r = 0.907), followed by tree density (r = 0.530), reflecting the crucial role of these two layers in enhancing organic matter, microbial activity, and soil stability. Principal Component Analysis (PCA) identified soil pH, organic carbon, total nitrogen, microbial biomass, and soil permeability as the key indicators contributing to SQI formation. These findings confirm that the interaction between vegetation stratification and soil quality plays a central role in accelerating ecosystem recovery and supporting the long-term sustainability of post-mining land revegetation.
PENDAMPINGAN APLIKASI PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN KESUBURAN TANAH DI DESA MALANGNENGAH KECAMATAN PAGEDANGAN KABUPATEN TANGERANG Rahmayuni, Erlina; Elfarisna, Elfarisna; Herman, Welly; Nauly, Dahlia; Ramadona, Lola; Diani Tanjung, Dian; Sumiahadi, Ade; Sularno, Sularno; Litdia, Litdia
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1794-1801

Abstract

Kegiatan pendampingan aplikasi pupuk organik dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi di Desa Malangnengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkenalkan pupuk organik padat dan cair serta cara pengaplikasiannya sebagai alternatif pupuk ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah serta produktivitas pertanian. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi pengenalan pupuk organik (padat dan cair), demonstrasi aplikasinya, serta sesi diskusi dan tanya jawab. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pemahaman sebelum dan setelah kegiatan melalui kuesioner. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta, dengan rata-rata tingkat pemahaman meningkat dari 10%-95% sebelum kegiatan menjadi 90%-100% setelahnya. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh, baik dalam memanfaatkan limbah organik untuk pembuatan pupuk maupun dalam aplikasinya di lahan pertanian. Kegiatan ini berhasil memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran petani terhadap pentingnya pertanian berkelanjutan dan aplikasi pupuk organik padat dan cair yang berasal dari biomassa pertanian secara optimal.
PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS DAN MIKROORGANISME LOKAL DARI SAMPAH ORGANIK PADA KELOMPOK WANITA TANI DESA MALANG NENGAH, KECAMATAN PAGEDANGAN Elfarisna, Elfarisna; Rahmayuni, Erlina; Kurniati, Kurniati; Herman, Welly; Nauly, Dahlia; Ramadona, Lola
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1802-1808

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang pesat berdampak pada peningkatan volume sampah, khususnya sampah organik yang mencapai 50-70% dari total sampah di Indonesia. Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, dilakukan pelatihan pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk meningkatkan pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang bermanfaat.  Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi melalui metode sosialisasi dan praktik langsung. Sosialisasi bertujuan memberikan pemahaman tentang manfaat kompos dan MOL, sedangkan praktik langsung memfasilitasi peserta untuk mengolah sampah organik. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu KWT dalam mengolah limbah organik menjadi kompos dan MOL yang bermanfaat bagi kesuburan tanah serta ramah lingkungan. Program ini memberikan solusi praktis untuk mengurangi pencemaran lingkungan, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mendukung kemandirian petani di Desa Malangnengah.
Optimalisasi Pemanfaatan Pupuk Kandang Sapi terhadap BudidayaJagung Ungu (Zea mays L. ceratina Kulesh) / Optimization of Cow Manure Utilization for Purple Corn Cultivation(Zea mays L. ceratina Kulesh) Rahmayuni, Erlina; Herman, Welly; risna, Elfa
JURNAL PANGAN Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v34i2.893

Abstract

Indonesia berpotensi dalam pengembangan pertanian melalui pemanfaatan tanaman lokal bernilai ekonomi tinggi, salah satunya adalah jagung ungu (Zea mays L. ceratina Kulesh). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan pupuk kandang sapi terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan, dan hasil produksi jagung ungu. Penggunaan pupuk kandang sapi terbukti meningkatkan pH tanah dari 4,95 menjadi 5,59, menurunkan kadar Al-dd hingga 0,00 me/100 g, serta meningkatkan kadar fosfor tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), dan kandungan karbon organik tanah. Sementara itu, kadar nitrogen total tidak mengalami perubahan berarti. Pemberian pupuk kandang sapi sebanyak 150 g per tanaman menghasilkan pertumbuhan terbaik, dengan tinggi tanaman mencapai 197,48 cm, jumlah daun 12,24 helai, dan diameter batang 2,65 cm. Pemanenan menunjukkan adanya peningkatan panjang dan diameter tongkol tanpa kelobot, dengan dosis optimal antara 150 hingga 200 g. Secara keseluruhan, pupuk kandang sapi terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan hasil jagung ungu, serta menawarkan solusi berkelanjutan sebagai alternatif pupuk anorganik.   Indonesia has the potential for agricultural development by utilizing local plants with high economic value, including purple corn (Zea mays L. ceratina Kulesh). This study aimed to evaluate the effect of cow manure on soil chemical properties, growth, and yield of purple corn. The use of cow manure was proven to increase soil pH from 4.95 to 5.59, reduce Al-dd levels to 0.00 me/100 g, and increase available phosphorus levels, cation exchange capacity (CEC), and soil organic carbon content. Meanwhile, total nitrogen levels did not change significantly. Application of 150 g of cow manure per plant resulted in the best growth, with plant height reaching 197.48 cm, having 12.24 leaves, and a stem diameter of 2.65 cm.. Harvesting showed an increase in the length and diameter of the cob without husk, with an optimal dose between 150 and 200 g. Overall, cow manure has proven effective in improving soil quality and increasing purple corn yields, and it offers a sustainable alternative to inorganic fertilizers.
Limbah Rumah Tangga sebagai Pupuk Organik untuk Meningkatkan Produksi Jagung Manis di Kawasan Pesisir Bengkulu Herman, Welly
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i3.882

Abstract

      Kawasan pesisir Kota Bengkulu memiliki potensi besar untuk dioptimalkan sebagai lokasi budidaya tanaman. Penelitian ini mengkaji efektivitas kompos limbah rumah tangga dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima dosis kompos, yaitu 0 ton/ha, 2,5 ton/ha, 5 ton/ha, 7,5 ton/ha, dan 10 ton/ha. Parameter yang diukur meliputi analisis kompos, sifat kimia tanah (pH, N-total, P-tersedia, K-dapat dipertukarkan, dan C-organik), serta pertumbuhan dan hasil jagung manis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos memiliki kualitas yang baik dengan pH netral (7,15), kadar air 29,20 persen, dan kandungan C-organik tinggi (27,25 persen), yang mendukung perbaikan struktur tanah dan retensi air. Kandungan N-total yang tinggi (2,15 persen) mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman, sedangkan rasio C/N yang ideal (12,67) cukup sesuai, meskipun kandungan kalium sedikit lebih rendah dari standar minimum (0,17 persen). Dosis kompos 5 ton/ha mampu mengurangi penggunaan pupuk buatan hingga 50 persen dengan memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan semua parameter pertumbuhan dan hasil, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, diameter batang, dan panjang tongkol. Peningkatan dosis kompos cenderung meningkatkan hasil jagung manis, tetapi tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan dosis 5 ton/ha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pencerahan praktis bagi petani dan peneliti mengenai teknologi tepat guna untuk pertanian berkelanjutan.          The coastal area of Bengkulu City has a significant potential for optimization in plant cultivation. This study examines the effectiveness of household waste compost in enhancing the growth and yield of sweet corn. The research employed a completely randomized design with five compost dose treatments: 0 tons/ ha, 2.5 tons/ha, 5 tons/ha, 7.5 tons/ha, and 10 tons/ha. Parameters measured included compost analysis, soil chemical properties (pH, total nitrogen, available phosphorus, exchangeable potassium, and organic carbon), as well as the growth and yield of sweet corn. The results indicated that the compost was of high quality, with a neutral pH of 7.15, a moisture content of 29.20 percent, and a high organic carbon content (27.25 percent), which supports improved soil structure and water retention. The compost also had a high total nitrogen content (2.15 percent), which enhanced vegetative growth, and an ideal C/N ratio (12.67), although the potassium content was slightly below the minimum standard (0.17 percent). A compost dose of 5 tons/ha reduced the need for synthetic fertilizers by 50 percent while achieving optimal results for all growth and yield parameters, including plant height, number of leaves, leaf width, leaf length, stem diameter, and cob length. Increasing the compost dose further improved sweet corn yield but did not show significant differences compared to the 5 tons/ha dose. The findings are expected to provide practical insights for farmers and researchers on appropriate technology for sustainable agriculture.
Pola Frekuensi Kebutuhan Air Irigasi pada beberapa Penggunaan Lahan dengan Teknologi Otomatisasi Monitoring Pengendalian Kelembaban Tanah berbasis Sensor Dielektrik Putri, Elsa Lolita; Fitriani, Nur; Hermawan, Bandi; Herman, Welly
Jurnal Solum Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsolum.19.2.53-61.2022

Abstract

Indonesia is an agrarian country and requires the development of improvements in soil productivity. The decline in soil productivity for agriculture is currently caused by several factors, namely land conversion to a decrease in the quantity of ground water. The actual frequency pattern of irrigation water needs with the application of dielectric sensor technology is carried out in cultivation in order to create efficiency in the provision of irrigation water. This research was conducted using a single factor experimental method with repeated measurements on three types of land use, namely land without vegetation, soil with grass vegetation, and soil with tomato cultivation. Measurements were carried out using an automated application of soil moisture monitoring based on dielectric technology with two measuring periods. Each measuring period consists of two weeks or fourteen days. Soil sample analysis was carried out at the Bengkulu University soil laboratory. The results of the observations were analyzed using variance (ANOVA) on the 5% F test table, the BNT test was carried out at the 5% level on data that had a significant effect. The results showed that the frequency of giving irrigation water on the 1st day to the 14th day in the 2 observation periods on the Bera land was the most common compared to the use of grass vegetated land and the use of tomato cultivation land, which was 5 times in the 1st and 4th periods. times in the 2nd period with 14 days each. Provision of irrigation water will stop automatically when the dielectrometer shows the field capacity so that it can show the frequency of giving different water to each field.Key words : Dielectric; Frequency; Irrigation water