Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT JENGKOL (Pithecellobiumjiringa Benth.) DAN HERBISIDA GLIFOSAT DALAM PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) anggraini, sari
Agroprimatech Vol. 3 No. 1 (2019): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Efektivitas Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium jirinnga) Dan Herbisida Glifosat Dalam Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq). Penelitian ini di laksanakan pada perkebunan rakyat di Desa Lengau Seprang, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli serdang dari Februari – Mei 2018 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Faktor pertama adalah ekstrak kulit jengkol dengan konsentrasi Kontrol (J0), 2,5 ml/l (J1), 3,75 ml/l (J2), 5 ml/l (J3) dan faktor kedua adalah glifosat dengan konsentrasi Kontrol (G0), 2 ml/l (G1), 3 ml/l (G2), 4 ml/l (G3) sehingga di peroleh 16 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunujukan bahwa J2 (ekstrak jengkol 3,75ml/l) sangat tinggi tingkat kematian pada 1 MSA dan G2 (glifosat 4 ml/l) sangat tinggi tingkat kematian pada 1 MSA. Interaksi J2G2 (ekstrak jengkol 3,75 ml/l dan glifosat 4 ml/l) sangat tinggi pada tingkat kematian gulma pada 1 MSA.
ESTIMASI CADANGAN KARBON KELAPA SAWIT BIBIT BERSERTIFIKAT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA anggraini, sari
Agroprimatech Vol. 3 No. 2 (2019): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan konsentrasi CO2 ke atmosfer menjadi salah satu penyebab pemanasan global akibat efek gas rumah kaca, Perluasan perkebunan kelapa sawit, terutama bila mengonversi hutan, berpotensi menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan yang berpotensi dalam penyerapan emisi karbon. Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit PTPN IV Adolina (tipe bibit bersertifikat) dan kebun masyarakat (bibit non sertifikat) di Kabupaten Serdang Bedagai, Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling) untuk pengukuran biomassa pohon hidup, pohon mati, dan kayu mati dan metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) untuk pengukuran biomassa tumbuhan bawah dan serasah. Pengamatan pada plot-plot contoh sesuai dengan asal tipe bibit kelapa sawit bersertifikat. Penelitian akan dilaksanakan pada Juli - Agustus 2019, Dengan plot ukuran 20 m x 60 m sebanyak dua kali ulangan. Biomassa tanaman kelapa sawit bersertifikat yaitu 26,973 Ton/Ha, biomassa tumbuhan bawah pada kelapa sawit yaitu 0,03123 Ton/Ha, karbon tersimpan pada kelapa sawit bersertifikat yaitu 12,40758 Ton C/Ha, Dapat di simpulkan bahwa cadangan karbon pada tanaman kelapa sawit bersertifikat memiliki nilai rata-rata yang tinggi karena memiliki mekanisme produksi dan areal yang dikelola dengan baik.
EFEKTIVITAS EKSTRAK BABADOTAN (Ageratum conyzoides L) DALAM PENGENDALIAN GULMA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT anggraini, sari
Agroprimatech Vol. 4 No. 1 (2020): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v3i2.918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak babadotan (Ageratum conyzoides L.) dalam pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit dan untuk mengetahui kosentrasi ekstrak babadotan (Ageratum conyzoides L.) yang paling efektif dalam pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok non Faktorial dengan menggunakan uji ANAVA terdiri dari 11 variasi konsentrasi yaitu kontrol, 10 %, 20 %, 30 %, 40 %, 50 %, 60 %, 70 %, 80 %, 90 %, 100 %. Hasil vegetasi menunjukkan bahwa gulma yang di temukan terdapat 10 jenis spesies gulma yang terdiri dari Ottochloa nodusa, Boeraria alata, Ageratum conyzoides, Asystasia intrusa, Setaria barbata, Melastoma malabathricum, Diplazium esculentum, Mimosa pudica, Licopodium seanum, Cyclosorus aridus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi pemberian ekstrak babadotan tidak memperlihatkan ciri fisik keracunan pada gulma di perkebunan kelapa sawit.
Inovasi Cascara Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Desa Kutambaru Faris, Salman; Anggraini, Sari; Saprida, Saprida
Pelita Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Pelita Masyarakat Maret
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/pelitamasyarakat.v7i2.17285

Abstract

This Community Service Program (PKM) aims to empower coffee farmers in Kutambaru Village, Munte District, Karo Regency, by valorizing coffee husk waste into economically valuable cascara products. The problems faced by the partners include the underutilization of coffee waste, limited knowledge of product diversification, and inadequate managerial and marketing capacities. The program was implemented using a participatory approach through socialization, cascara production training, basic business management training, and digital marketing assistance. The evaluation results indicate an improvement in participants’ capacity. At the initial stage, 60% of participants had no prior knowledge of coffee husk valorization and cascara products. After the program, 100% understood the processing stages, and 70% were able to independently practice production. In addition, around 60% of participants demonstrated initial understanding of agroindustry management and digital marketing. The program produced pure and spiced cascara products, along with outputs including a simple business plan, product branding, and digital marketing accounts to support the development of a sustainable community-based agroindustry.