Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Panggung

Simbol Komunikasi Pada Tari Salonreng dalam Ritual Ajjaga Masyarakat Gowa Linda, Johar; Saputra, Andi Taslim; Faisal
PANGGUNG Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i1.3691

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fenomena Tari Salonreng sebagai sistem simbol budaya masyarakat Gowa. Pelaksanaan tari Salonreng dalam upacara ritual yang dilakukan turun temurun berhubungan dengan hewan persembahan yang mengandung simbol dan makna. Penelitian ini bertujuan menganalisis simbol dan makna yang terkandung di dalam tari Salonreng dengan menggunakan teori simbol seni oleh Sumandiyo Hadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang tergolong penelitian kualitatif dengan menggunakan data dari studi pustaka, observasi partisipan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Salonreng masih dipertahankan oleh masyarakat Gowa, yang diyakini sebagai simbol kesuburan, status sosial dan media untuk mendapatkan kasannangngang pakmai (ketenangan jiwa). Tari Salonreng yang disajikan bersamaan dengan kerbau persembahan, diyakini sebagai sarana komunikasi antara pemilik hajat dengan Tuhan, arwah leluhur, dan masyarakat. Tari Salonreng sebagai bentuk penyerahan diri secara totalitas untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Tari Salonreng sebagai simbol budaya terkait dengan konsep sulapa’ appa’ sebagai pedoman Masyarakat Makassar.
Peristiwa Teater Tu(M)Buh Sebagai Konstruksi Politik Tubuh Saputra, Andi Taslim; Murtana, I Nyoman
PANGGUNG Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.904

Abstract

ABSTRACT Body politics is often stigmatized in the context of community and government institutions, such as the military, hospitals, prisons, etc. This study shows the body politics in different contexts. This study reads the theater phenomenon that gave birth to the body's political form in the context of theater with the focus of case studies of process Tu(m)buh by Tony Broer's. The application of Tony Broer's theater work differs from that of other theaters, the idea of the body's political construction. To read the question of Tony Broer's political practice using Foucault's disciplinary power concept. This research uses descriptive analytic research method. Data collection was done through observation, documentation, interview, and data analysis. The result showed, Tony Broer execute body politic practice in the event of Tu(m)buh theater. The formation of Tony Broer's body construction is disciplined and body forming that intense, hard, and radical. Tony Broer's actions gave birth to concepts and practices that show the body's political image, both to oneself and to others, to the theater of Tu(m)buh as the presentation of the body's political construction.Keywords: Theater, Body Politics, Tu(m)buhABSTRAK Politik tubuh kerap distigmakan dalam konteks institusi-institusi kemasyarakatan dan pemerintah, misalnya militer, rumah sakit, lapas, dan sebagainya. Kajian ini memperlihatkan politik tubuh dalam konteks berbeda. Penelitian ini membaca fenomena teater yang melahirkan bentuk politik tubuh fokus studi kasus peristiwa Tu(m)buh karya Tony Broer. Penerapan kerja teater Tony Broer berbeda dari pelaku teater lainnya, yakni gagasan politik tubuh. Untuk membaca persoalan praktik politik tubuh Tony Broer menggunakan konsep disciplinary power Foucault. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan analisis data. Hasilnya menunjukkan, Tony Broer melaksanakan praktek politik tubuh dalam peristiwa teater Tu(m)buh. Pembentukan kontruksi tubuh Tony Broer berupa pendisiplinan dan pembentukan tubuh yang intens, keras, dan radikal. Tindakan Tony Broer melahirkan konsep dan praktis yang memperlihatkan citra politik tubuh, baik terhadap diri sendiri dan atas orang lain, sehingga peristiwa teater Tu(m)buh sebagai kerja teater presentasi politik tubuh.Kata Kunci: Teater, Politik Tubuh, Tu(m)buh.
Tari Pepe-Pepeka Ri Makka Sanggar Tari Paropo Makassar: Analisis Perubahan Bentuk dan Fungsi Syakhruni*, Syakhruni; Saputra, Andi Taslim; Saleh, Jalil
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2011

Abstract

Tari Pepe-Pepeka ri Makka merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang masih hidup sampai sekarang. Tari ini semula berfungsi sebagai penyebaran agama Islam dan sebagai sarana ritual bagi umat islam. Seiring dengan perkembangan zaman fungsinya berubah menjadi pertunjukan hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perubahan bentuk dan fungsi pada pertunjukan tari Pepe-Pepeka ri Makka di Paropo Makassar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan etnokoreologi dan -pepeka ri Makka dan faktor penyebabnya sehingga tetap eksis. Penelitian ini bersifat penelitian kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi yang dikemukakan oleh Soedarsono, yaitu penelitian yang mengkombinasikan antara tekstual dan kontekstual serta menggunakan teori bantu yakni teori perubahan Alvin Boskoff yaitu perubahan dilihat dari segi internal dan eksternal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan bentuk dan fungsi tari Pepe-Pepeka ri Makka tampak pada penambahan dan penggarapan gerak, desain lantai, alat musik, waktu, dan tempat pertunjukan. Perubahan bentuk dan fungsi tari Pepe-Pepeka ri Makka didukung oleh masyarakat, seniman, dan lembaga yang terkait sehingga menjadikan tari Pepe-Pepeka ri Makka tetap eksis hingga saat ini.
LEGITIMASI KEDATUAN DALAM TARI PAJAGA BONE BALLA ANADDARA SULESSANA Nurwahidah*, Nurwahidah; Saputra, Andi Taslim
PANGGUNG Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i3.2729

Abstract

Pajaga Bone Balla Anaddara Sulessana (PBBAS) merupakan tari tradisional klasik dalam masyarakat Luwu di Sulawesi Selatan. Tari ini dikategorikan sebagai tari klasik karena telah mengalami perjalanan panjang dalam pengolahan artistik dan estetiknya yang diawali di era-era feodalisme di Indonesia. Penelitian ini berupaya melakukan pelacakan sekaligus mengungkap sistem nilai yang terangkum pada bentuk, makna simbolik, dan sistem pewarisan PBBAS dalam Masyarakat Luwu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnokoreologis membedah PBBAS secara teks dan kontekstual, yang didukung dengan beberapa teori dan dituliskan secara deskriptif kualitatif. Teori sistem nilai digunakan untuk mengungkap kekuatan bertahan PBBAS dalam masyarakat Luwu. Keseluruhan teks tari maupun teks pertunjukan PBBAS merupakan simbol yang memiliki makna berimplikasi pada legitimasi Kedatuan dalam masyarakat Luwu. Selain makna simbolik, juga terdapat sistem nilai yang terangkum baik dalam nilai historis maupun nilai sosial yang menjadi pembentuk kekuatan bertahan PBBAS di Kedatuan Luwu. Kata Kunci: Tari, Pajaga Bone Balla Anaddara Sulessana, Legitimasi, Kedatuan
REPRESENTASI NILAI SIRI’ NA PACCE PERTUNJUKAN TEATER RAKYAT KONDOBULENG SANGGAR SENI TRADISIONAL I LOLO GADING PAROPO Ramli*, Asia; Saputra, Andi Taslim
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2904

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan teater rakyat Kondobuleng representasi nilai siri’ na pacce (harga diri dan kehormatan). Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Pertunjukan Teater Rakyat Kondobuleng (PTRK) merupakan salah satu karya seni kolektif yang di dalamnya memuat beragam unsur seni yang saling terkait antar satu dengan yang lain, tokoh/karakter, pemeranan, dialog, kostum, rias, properti, tari atau gerak, musik, dan lagu. Penelitian ini menguraikan fenomena pertunjukan dengan menggunakan salah satu teori dari John Fiske yang membaca realitas seni dengan berfokus pada representasi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada tahapan analisis data diolah dengan bentuk reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan representasi nilai siri’ na pacce yang berhubungan dengan sosiokultural masyarakat pesisir Bugis-Makassar meliputi mempertahankan diri dan kehormatan, memegang teguh pendirian, menumbuhkan kerja gotong royong, menanamkan sifat tolong menolong, menumbuhkan etos kerja, menempatkan seseorang dengan keahliannya, mengambil keputusan secara arif dan bijaksana, serta menjunjung tinggi rasa kesetiakawanan. Nilai yang disampaikan termuat pada adegan dari pertunjukan teater rakyat Kondobuleng. Kata kunci: Pertunjukan, Teater, Representasi, Nilai siri’ na pacce.
Eksistensi Komunitas Gresik Movie Terhadap Budaya Lokal Ali*, Moh. Mahrush; Saputra, Andi Taslim
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3472

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunitas Gresik Movie bisa eksis melalui program-program yang dilakukan, dan perannya terhadap budaya lokal. Jenis Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Pengamatan langsung dilakukan di lapangan, wawancara mendalam dilakukan langsung dengan pendiri komunitas, sedangkan studi pustaka dari beberapa dokumen yang ada di media online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Gresik Movie bisa bertahan sampai berusia satu dekade lebih, serta melalui program-program yang diselenggarakan selalu disisipkan budaya lokal di dalamnya. Informasi dari pengumpulan data, disebutkan bahwa ada beberapa program sebagai upaya mengangkat budaya lokal diantaranya adalah Sapa Sinema (program screening film di kampung-kampung), Gresik Short Movie Competition, Seminar/ Sarasehan Film, Pameran Karya Seni (baik seni rupa atau pertunjukan), Lokakarya/ pelatihan Pembuatan Film, dan Festival Budaya.