Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Indonesia Medicus Veterinus

Laporan Kasus: Penanganan Enteritis pada Kambing Peranakan Ettawa Akibat Nematodiasis dan Koksidiosis Fangidae, Petra Yudha; Nururrozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.818 KB)

Abstract

Nematodiasis dan koksidiosis merupakan penyakit pada kambing yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak. Seekor kambing Peranakan Ettawa (PE) betina berumur 1 tahun dan berat badan 35 kg, dianamnesis mengalami diare, lemas, dan nafsu makan menurun. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan rambut yang kasar, konjungtiva dan gingiva hiperemis, limfaglandula mandibularis dekster bengkak, pada hidung terdapat leleran mukopurulen, peristaltik usus meningkat, dan konsistensi feses yang lembek. Hasil pemeriksaan sampel feses ditemukan adanya ookista Eimeria spp., larva nematoda jenis strongyle dan telur cacing strongyle. Pemeriksaan hematologi didapatkan polisitemia, anemia mikrositik-hipokromik, leukositosis dengan disertai neutrofilia dan eosinofilia. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan laboratorium maka kambing didiagnosis mengalami enteritis akibat nematodiasis dan koksidiosis dengan prognosis fausta. Pengobatan yang diberikan adalah Albendazole 8,5 mg/kg BB (PO), Oxytetracycline 17 mg/kg BB (IM), Diphenhydramine HCL 1 mg/kg BB (IM), dan injeksi multivitamin 3 mL (IM). Tujuh hari setelah pengobatan telah ada perbaikan klinis berupa keadaan kambing yang sudah aktif, tidak diare, feses yang mulai padat, jumlah larva nematoda dalam feses sudah berkurang.
Laporan Kasus: Cystic Endometrial Hiperplasia-Pyometra Kompleks pada Kucing Persia Nurrurozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.096 KB)

Abstract

Seekor kucing persia betina berumur satu tahun diperiksa dengan keluhan perut membesar selama beberapa minggu. Pemeriksaan hematologi pertama kucing mengalami leukositosis (29.150 sel/µL) dan neutrofilia. Pemeriksaan hematologi kedua terjadi peningkatan leukosit yang lebih tinggi (38.750 sel/µL), eutrofilia disertai monositosis, eosinofilia, hiperproteinemia dan hiperfibrinogenemia. Sonogram hasil pemeriksaan ultrasonografi terlihat adanya penebalan pada dinding uterus bersifat hyperechoic dengan lumen berisi cairan hypoechoic. Pemeriksaan radiografi terlihat perbesaran uterus dengan gambaran radiopaque pada semua bagian uterus. Berdasarkan hasil pemeriksaan gejala klinis dan laboratoris kucing didiagnosis mengalami cystic endometrial hyperplasia-pyometra kompleks dengan prognosis dubius. Penanganan yang dilakukan adalah ovariohisterektomi. Pemeriksaan makroskopis pascaoperasi terhadap uterus nampak perbesaran uterus terisi cairan keruh, kental dan berbau. Mukosa endometrium mengalami hiperplasia dan memiliki penampilan haemorrhagic dengan sejumlah kecil sista endometrium. Pengobatan pascaoperasi dilakukan dengan amoksisilin dosis 10 mg/kg BB dan deksametason dosis 0,125 mg/kg diminumkan dua kali sehari selama empat hari, dan multivitamin sebanyak 0,6 mL diberikan satu kali sehari. Kucing mengalami perbaikan secara klinis empat hari setelah operasi dan dinyatakan sembuh pada hari ke-6 setelah operasi.
Laporan Kasus: Sporotrikosis pada Kucing Persia Maharani, Sukma; Nururrozi, Alfarisa; Yunartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.860

Abstract

Sporotrikosis adalah infeksi kronik yang disebabkan oleh fungi Sporothrix schenckii. Sporotrikosis terbagi menjadi dua jenis, yaitu tipe kulit primer dan sistemik. Seekor kucing persia berumur satu tahun dengan bobot badan 3,7 kg diperiksa dengan keluhan banyak luka di kulit, kurus, dan sesak nafas selama beberapa minggu. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan adanya ulserasi disertai papula dan nodul kecil pada kulit punggung, pangkal ekor dan kaki. Pemeriksaan hematologi menunjukkan hasil kucing mengalami leukositosis (WBC 32.900 sel/mm3) dengan neutrofilia, limfositopenia dan hiperproteinemia. Pemeriksaan histopatologi kulit ditemukan adanya radang granulomatosa. Kultur pada media Sabaraud Dextrose Agar terisolasi dan teridentifikasi fungi S. schenckii. Kucing didiagnosis mengalami infeksi sporotrikosis dengan prognosis dubius. Pengobatan dilakukan dengan pemberian itraconazol (10 mg/kg BB s1dd, PO); dan hepatovit (0,4 mL s1dd, PO). Kucing mulai menunjukkan perbaikan kondisi pada hari ke-14 pengobatan. Ulserasi kulit mulai berkurang dan area kulit yang terbuka mulai tertutup. Pengobatan antifungal sistemik dapat dilanjutkan hingga 1-2 bulan sambil dilakukan observasi kesembuhan secara klinis.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan White Scours Diarrhea pada Sapi Pedet Hasil Persilangan Simmental dengan Peranakan Ongole Indarjulianto, Soedarmanto; Nururrozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Winarsih, Sugi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.282

Abstract

White scours atau calf scours adalah penyakit yang sering terjadi pada pedet dengan gejala klinis diare berwarna putih kekuningan. Seekor sapi pedet peranakan simmental-peranakan ongole betina berumur satu bulan dengan berat ±30 kg, dilaporkan mengalami diare dan lemas. Hasil pemeriksaan fisik pada pedet didapatkan hasil suhu tubuh demam (40,4°C), rambut berdiri dan kusam, peristaltik usus meningkat, dan diare dengan konsistensi feses sangat lunak berwarna putih kekuningan. Hasil pemeriksaan feses dengan metode natif menunjukkan adanya telur cacing Neoascaris vitulorum. Hasil kultur pada media ditemukan bentuk bakteri cocobacillus Gram negatif yang diduga E. coli. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik serta laboratorium, pedet didiagnosis mengalami white scours diarrhea diduga akibat colibasillosis dan toksokariasis. Terapi yang diberikan yaitu pemberian injeksi antibiotik (kombinasi penicillin dan dihydrostreptomycin), kombinasi dipyrone dan lidocaine, serta pemberian albendazole per oral. Pedet menunjukkan gejala perbaikan setelah pemberian terapi ini. Pada hari kelima setelah pengobatan, warna feses kembali normal dan cacing mulai keluar melalui anus. Pada hari ke-15 setelah pengobatan, berat badan pedet mengalami peningkatan, pedet tampak aktif dan sudah mulai makan hijauan.