Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengaruh Pola Asuh dan Metode STIFin terhadap Hasil Belajar Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IV SD Mutiah, Tiah; Sardjijo; Warsihna, Jaka
Muallimun : Jurnal Kajian Pendidikan dan Keguruan Vol 5 No 1 (2025): MUALLIMUN
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/muallimun.v5i1.10201

Abstract

This study investigates the influence of parenting styles and the STIFIn learning method on students' character education outcomes in Civics (PKn) classes at the fourth-grade level. The research employed a quantitative factorial experimental design (2x5) involving 30 students from SDIT Assuryaniyyah, Bekasi. The researchers categorized the sample based on parenting styles (democratic and permissive) and STIFIn personality types (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, and Instinct). They collected the data through STIFIn tests, parenting style questionnaires, and final learning achievement scores. Using Two-Way ANOVA, the study found a significant main effect of parenting style on learning outcomes (F = 6.808, p = 0.017), with democratic parenting leading to higher scores (M = 89.13) than permissive parenting (M = 84.93). The main effect of the STIFIn type was also significant (F = 5.692, p = 0.003), with the highest scores among students with the Feeling type (M = 92.33). Moreover, a significant interaction was found between parenting style and STIFIn type (F = 3.596, p = 0.023), indicating that the effectiveness of parenting styles varies depending on students' personality types. These findings highlight the importance of aligning parenting approaches and personalized learning strategies based on student personality types to optimize character education outcomes.
PENGARUH KEDISIPLINAN DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA SISWA KELAS V SDN SE-KAPANEWON BAMBANGLIPURO Taufiq, Suhendra; Sarwanti, Sri; Warsihna, Jaka
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10 No. 02 Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.25037

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedisiplinan dan efikasi diri terhadap kemandirian belajar dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kemandirian belajar penting untuk meningkatkan keberhasilan, menyelesaikan berbagai tantangan, dan pencapaian tujuan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan ex post facto. Populasi terdiri dari 333 siswa kelas V SDN se-Kapanewon Bambanglipuro, dengan sampel 172 siswa yang dipilih melalui proportional random sampling berdasarkan Tabel Isaac dan Michael. Data dikumpulkan menggunakan skala psikologi dan dianalisis dengan regresi linier berganda setelah uji prasyarat terpenuhi. Hasil menunjukkan bahwa kedisiplinan (sig. 0,00; t = 16,519) dan efikasi diri (sig. 0,00; t = 13,684) berpengaruh signifikan terhadap kemandirian belajar secara parsial, dengan kontribusi masing-masing sebesar 0,616 dan 0,524. Secara simultan, kedisiplinan dan efikasi diri berpengaruh signifikan (sig. 0,00; F = 169,536) dengan kontribusi sebesar 0,667. Hasil penelitian ini diharapkan agar guru melakukan penguatan kedisiplinan dan efikasi diri siswa, khususnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Improving writing skills of expository text with "˜think, talk, write' learning method Budiyono, Sri; Sukini, Sukini; Warsihna, Jaka; Sutaji, Sutaji; Amertawingrum, Indiyah Prana
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Directorate of Research and Community ServiceUniversitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v7i2.54166

Abstract

This studi was aimed at describing the learning process of writing expository texts in class VII C SMP Ekakapti Karangmojo Gunungkidul, through the use of the TTW learning method. and describing the results of writing an exposition text for class VII C SMP Ekakapti Karangmojo Gunungkidul using the TTW learning method. This research is a Classroom Action Research (CAR). The technique of analyzing the data is using quantitative and qualitative techniques. Based on the results of the study, the conclusions that can be drawn are as follows. First, their exposition text writing skills have improved after using the TTW learning method. The improvement in writing exposition text skills was known from the pre-cycle, first cycle, and second cycle tests. The average score of their pre-cycle was 58.67. This result belongs to the poor category. Furthermore, for the average score in the first cycle the result was 75.63 so that it can be said to have increased and is included in the good category. Thus, there was an increase of 16.96% from the pre-cycle. In the second cycle, the average score achieved was 82.61. This result is included in the good category as well. Thus, there was an increase from the first cycle of 6.98% and 23.94% of the pre-cycle results. Second, learning to write Exposition texts through the TTW learning method has been proven to be able to change students' negative attitudes and behaviors into positive ones. These changes can make students who are less enthusiastic and less active become more alert, excited, happy, and able to enjoy learning. Students become more active in thinking (think), actively discussing (talk), and more actively writing exposition texts (write).
PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN SOFT SKILL GURU TERHADAP KINERJA GURU DI SEKOLAH DASAR GUGUS 16 PONDOK AREN TANGERANG SELATAN Imronah Amelia, Iin; C. Kurniatun, Taufani; Warsihna, Jaka
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.43979

Abstract

This study aims to identify and examine the magnitude of the influence of principals’ transformational leadership and teachers’ soft skills on teacher performance in Cluster 16 of Pondok Aren. This study employed a quantitative approach using a ques­tionnaire method to collect samples from the population of all teachers and princi­pals in Cluster 16, Pondok Aren, South Tangerang. A total of 152 respondents were selected as the research sample using a probability sampling technique. Data were collected through questionnaires based on a Likert scale. The data analysis tech­nique used was Smart PLS with Structural Equation Modeling (SEM) analysis. The results of the hypothesis testing indicate that: (1) principals’ transformational lead­ership has a significant effect on teacher performance in elementary schools in Cluster 16, Pondok Aren, South Tangerang, with a p-value of 0.008 < 0.05; (2) teachers’ soft skills have a significant effect on teacher performance in elementary schools in Cluster 16, Pondok Aren, South Tangerang, with a p-value of 0.000 < 0.05; and (3) principals’ transformational leadership and teachers’ soft skills simultaneously have a significant effect on teacher performance in elementary schools in Cluster 16, Pondok Aren, South Tangerang, with a p-value of 0.000 < 0.05. The study concludes that principals’ transformational leadership and teachers’ soft skills significantly in­fluence teacher performance in Cluster 16 of Pondok Aren.
E-Learning Melalui Portal Rumah Belajar Warsihna, Jaka
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.212 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.9

Abstract

Belajar merupakan kewajiban setiap manusia sejak kecil hingga akhir hayatnya. Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu dalam aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Agar proses belajar dapat terus termotivasi diperlukan berbagai model, sistem, dan media pembelajaran. Salah satu sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi adalah e-learning. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyiapkan sebuah portal yang khusus didedikasikan untuk e-learning. Portal tersebut diberi nama “Rumah Belajar” dengan alamat belajar.kemdiknas.go.id. Portal ini setelah diluncurkan sudah banyak yang mengakses dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada. Setelah dimanfaatkan ternyata portal ini memiliki berbagai kekuatan dan juga kelemahan. Kekuatannya portal ini antara lain dikemas sesuai dengan proses pembelajaran yaitu sesuai kurikulum, ada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), materi, katalog media, peta materi, dan bank soal. Sedangkan kelemahannya antara lain belum ada home, materi belum lengkap, masih sering failure, bank soalnya belum sesuai dengan kompetensi dasar, katalog medianya belum lengkap, dan lain sebagainya.
KOMPETENSI TIK UNTUK GURU Warsihna, Jaka
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.598 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.23

Abstract

Kehadiran TIK untuk pendidikan tidak dapat dihindari. Salah satu fungsi TIK di dalam pendidikan adalah untuk pembelajaran ( e-learning). Keberhasilan pembelajaran kunci utamanya terletak pada guru. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional. Untuk mewujudkan keempat kompetensi tersebut dengan cepat dan efisien harus ditambah dengan kompetensi TIK. Kompetensi TIK ada beberapa tahap, mulai dari yang dasar sampai ke tingkat mahir. Agar seluruh guru memiliki kompetensi TIK dengan baik perlu dibuat standar kompetensinya. Dengan adanya standar kompetensi TIK untuk guru akan memudahkan bagi berbagai pihak yang akan berpartisipasi untuk meningkatkan kompetensi TIK guru. Pihak yang secara langsung menggunakan standar kompetensi tersebut adalah lembaga yang menghasilkan calon guru (PTK) dan yang mengurusi peningkatan kompetensi guru. Sedangkan dampaknya adalah proses pembelajaran akan menjadi lebih menarik dan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dari sumber yang beragam. Dengan demikian mutu sumber daya manusia Indonesia akan meningkat dengan cepat dan dapat sejajar dengan bangsa lain di dunia.
MODEL PEMBELAJARAN DENGAN TIK DI SEKOLAH KATEGORI PERINTIS Warsihna, Jaka
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1634.022 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.vi0.45

Abstract

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pendidikan sudah dilaksanakan hampir sebagian besar sekolah di Indonesia. Bentuk pemanfaatannya sangat beragam mulai dari yang sederhana sampai pada tahap maju. Bagaimana guru memanfaatkan TIK untuk pembelajaran di kelas dan model pembelajaran dengan TIK seperti apa agar seluruh siswa dapat belajar secara optimal. Pembelajaran yang mengintegrasikan TIK di sekolah sangat beragam. Keberagaman ini disebabkan oleh empat hal yaitu kebijakan, infrastruktur, bahan ajar berbasis TIK, dan kualitas SDM. Berdasarkan keempat hal tersebut, sekolah dapat dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu kategori rintisan, dasar, menengah, dan mapan. Sekolah kategori rintisan adalah sekolah baru memulai menggunakan TIK untuk pembelajaran. Model pembelajaran berbasis TIK untuk sekolah kategori rintisan adalah berpusat pada siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa harus memperhatikan isi pembelajaran, strategi pembelajaran, lingkungan kelas, sistem penilaian, dan teknologi yang tersedia. Hal kedua yang perlu dilakukan oleh guru adalah pembelajaran aneka sumber. Pada umumnya guru belum memanfaatkan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar. Ketika hal ini sudah dimanfaatkan, maka proses pembelajaran menjadi lebih alami, sosial, peran guru sudah berubah sebab guru bukan satu-satunya sumber informasi, dan siswa akan lebih aktif karena terlibat dari awal sampai akhir baik perencaaan sampai dengan evaluasi.
PEMANFAATAN TIK UNTUK PENDIDIKAN (E-LEARNING) DI SMP Warsihna, Jaka
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.114 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.64

Abstract

diterima: 13 Januari 2013; dikembalikan untuk revisi: 26 Januari 2013; disetujui: 13 Februari 2013;Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimana kebijakan Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah terhadap TIK untuk pendidikan; (2) mengidentifikasi infrastruktur TIK; (3) mengidentifikasi sumber daya manusia; (4) mengidentifikasi materi pembelajaran berbasis TIK; (5) mengetahui model pemanfaatan TIK untuk pendidikan; dan (6) dampak pemanfaatan TIK untuk pendidikan. Penelitian ini merupakan studi evaluasi dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian, yaitu Kepala Sekolah, guru, siswa, dan tenaga kependidikan di SMP Negeri Kota Pontianak. Teknik pengumpul data yang digunakan, yaitu: wawancara, observasi, dan mencatat arsip serta dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kebijakan Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah sangat mendukung pemanfaatan TIK untuk pendidikan; (2) infrastruktur TIK di SMP Negeri Kota Pontianak ada tiga kategori yaitu: lengkap, sedang, dan kurang; (3) SDM dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: terampil, cukup terampil, dan kurang terampil; (4) materi pembelajaran berbasis TIK yang dimiliki sekolah dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: lengkap, sedang, dan kurang; (5) pemanfaatan TIK untuk pendidikan di sekolah dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: maju, sedang, dan kurang; dan (6) setelah memanfaatkan TIK pelayanan administrasi sekolah menjadi lebih efisien dan afektif, pembelajaran menjadi lebih menarik, meningkatkan profesionalitas guru, minat belajar siswa meningkat, daya serap menjadi lebih baik, tingkat kelulusan meningkat, dan nilai UN terus meningkat.Kata Kunci: pemanfaatan, TIK, pendidikan, e-learning, SMP, kualitatif.Abstract:This study aimed to: (1) find out the ICT for education policy of The Education Office and principals(2) identify the ICT infrastructure, (3) identify the human resources, (4) identifiy ICT-based learning materials, (5) identify the model of ICT utilization for education, and (6) the impact of ICT on education. This study was an evaluation study using qualitative descriptive method. Subjects of the study were the principals, teachers, students, and academic staff of Junior High Schools in Pontianak. The technique for data collection were: interview, observation, and archival and document recording. The results showed that: (1) the policy of The Education Office and principals strongly supported the use of ICT for education, (2) there were three main cathegories of ICT infracstructure in Junior High Schools in Pontianak,namely equipped, fairly equipped, and less equipped, 3) Human resources of ICT use for education could be classified into three cathegories, namely: skilled, fairly skilled,, and less skilled, (4) The availability of the ICT-based learning materials in schools could be divided into three states, namely: fully available,fairly available, and less available, (5) The level of ICT use for education in schools could be cathegorized into 3 levels, they are advance, intermediate and less utilization, and (6) The use of ICT had positive impacts on the efficiency and effectiveness of school administration, learning attractiveness, teacher professionalism, student interest in learning, learning material absorption, enhancement of passing rate, and National Examination scores.Key words: ICT, learning, junior high school, distric, and qualitative
PERANAN TIK DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR SESUAI KURIKULUM 2013 Warsihna, Jaka
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.209 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.120

Abstract

Abstrak:Di dalam kurikulum 2013 pelajaran TIK mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dihilangkan. Menurut pemerintah, TIK harus terintegrasi dalam semua pelajaran. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, semua guru harus belajar menggunakan TIK dan dapat menggunakan TIK untuk belajar. Model pemanfaatan TIK di sekolah harus disesuaikan dengan kondisi sekolah. Apabila saran TIK terbatas, maka TIK sebagai sarana pembelajaran. Apabila setiap anak memiliki satu perangkat, maka anak diberikan kebebasan untuk belajarnya. Dalam kondisi ini anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sebaiknya guru sudah mengintegrasikan materi pembelajaran dengan sumber-sumber belajar yang berbasis TIK. Di samping itu kegiatan pembelajaran di SD mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup dapat dilakukan oleh guru dengan memanfaatkan TIK. Khusus di dalam kegiatan inti dalam pembelajaran di SD sesuai kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yaitu dari mengamati, menanya, menggali informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan dapat dibantu oleh TIK.Kata Kunci: peranan, TIK, pembelajaran, kurikulum 2013, dan sekolah dasar Abstract :In the 2013 curriculum, ICT lessons from elementary School to Senior High School has been eliminated . According to the government, ICT should be integrated in all subjects. To meet this demand, all teachers must learn to use ICT and to use ICT for learning. The use of ICT in schools should be adapted based on the school condition and situation. If the ICT infrastructure is limited, then the use of ICT is only limited as a tool for learning. Whereas if every child has one device, then the child is given the freedom to learn. In this condition the child will learn to perform activities in accordance with the conditions of their individual abilities so that sooner or later the child will receive services suitable to his learning. To achieve these objectives, the teacher should have integrated learning material to the sources of ICT-based learning. In addition, the beginning, the core, and the final learning activities in elementary school can be carried out by a teacher cover the use of ICT. The use of ICT can be influential to assist the the 2013 school curriculumcore activities of learning in primary school, especially by the scientific approach of observing, asking, digging up information, associating, and communicating.Key words: ICT, learning, curriculum 2013, and elementary school
E-SABAK (TABLET) UNTUK PEMBELAJARAN DI INDONESIA warsihna, jaka; mutmainah, siti; utari, ita
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.264 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i3.171

Abstract

Abstrak:Pemanfaatan tablet (e-Sabak) untuk pembelajaran di Indonesia dirintis oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2011. Namun demikian, kebijakan ini baru direalisasikan pada tahun 2015. Pemanfaatan e-Sabak difokuskan pada pembelajaran di Sekolah Dasar khususnya di daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T). Pembahasan tentang penggunaan tablet untuk pembelajaran di Indonesia masih terbatas. Kajian ini ingin membahas: (1) manfaat e-Sabak untuk pembelajaran; (2) kesiapan anak Indonesia, khususnya siswa SD di daerah 3T, untuk menggunakan e-Sabak dalam pembelajaran; dan (3) persiapan sekolah dalam pemanfaatan e-Sabak untuk pembelajaran. Hasil kajian menyatakan bahwa tablet (e-Sabak) untuk pembelajaran dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, sumber pembelajaran, sarana interaksi pembelajaran, pengelolaan sistem pembelajaran, dan alat penilaian pembelajaran. Saat ini, tablet hanya akan digunakan sebagai sumber pembelajaran menggantikan buku. Anak Indonesia sudah siap untuk menggunakan e-Sabak dalam pembelajaran mereka. Kesiapan sekolah untuk melakukan pembelajaran dengan tablet perlu mendapatkan dukungan kebijakan yang konsisten dari pusat hingga sekolah, pelatihan guru dan siswa, penambahan infrastruktur (listrik, internet/intranet, LCD projector, komputer/laptop, dan lain sebagainya), serta penyiapan konten pembelajaran yang sesuai.Kata Kunci: Tablet (e-Sabak), belajar, pembelajaran di IndonesiaAbstract:The use of e-Sabak for learning in Indonesia was initiated by the Government, through the Ministry of Education and Culture, in 2011. However, this policy has just been realized in 2015. The use of e-Sabak will be focused on learning in elementary schools, especially those located in remote, left, and forefront areas (3T). Studies on tablet usage (e-Sabak) for learning in Indonesia are still limited. This study tries to explore the following issues: (1) The benefis of e-Sabak for learning; (2) The readiness of Indonesian children, especially the students of elementary schools in remote, left, and forefront areas to use e-Sabak in their learning; and (3) the preparations that should be made by schools before utilizing e-Sabak for learning. The result of the study shows that e-Sabak can be used as a learning tool, a learning resource, a medium of learning interaction, a learning system management, and a learning evaluation tool. Currently, e-Sabak is only used as a learning resource replacing books. Indonesian children have been ready to utilize e-Sabak tablet for their learning. Schools’ readiness in utilizing e-Sabak in their teaching-learning process should be supported by relevant and consistent policies from the central government up to schools, teacher as well as student trainings, infrastructure provision (electricity, internet/intranet, LCD projectors, computers/laptops, and so on), and relevant learning content provisions.Key Words: Tablet (e-Sabak), learning, education in Indonesia