Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pelatihan Peningkatan Koping Mekanisme Remaja: Upaya Mencegah Remaja dari Perilaku Self-Harm dan Resiko Bunuh Diri Estria, Suci Ratna; Herdian, Herdian; Fitriana, Nurul Fatwati; Elsanti, Devita; Supriyatno, Supriyatno; Wikantadi, Latief
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Peduli Masyarakat: Mei 2025
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v7i3.6049

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental remaja melalui pelatihan peningkatan koping sebagai upaya untuk mencegah perilaku self-harm dan resiko bunuh diri. Berdasarkan temuan dari diskusi dengan remaja dan guru ditemukan adanya siswa yang berperilaku self-harm, kurangnya pengetahuan remaja terkait kesehatan mental remaja, bahaya ketika masalah mental dibiarkan saja, mekanisme koping adaptif dan maladaptive serta kurangnya ketrampilan dalam melakukan self terapi saat muncul stressor. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memberikan edukasi terkait self-harm, serta mekanisme koping untuk mengatasi stressor remaja, sehingga remaja dapat mengetahui dan memahami tentang masalah mental yang dirasakan dan cara mengatasinya dengan adaptif, sehingga remaja bisa terhindar dari perilaku self-harm. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim pengabdian akan melakukan pengabdian dengan pendekatan ceramah, FGD, serta praktik metode hug therapy, terapi 1-5, mindfulness, relaksasi nafas dalam dan relaksasi otot progresif. Evaluasi dan monitoring akan dilakukan untuk memastikan efektivitas program ini. Peserta dalam kegiatan ini sebanyak 62 siswa. Diharapkan pengabdian ini dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan mental remaja dan membantu mereka mengatasi stressor yang sering muncul karena adanya perubahan dan perkembangan saat remaja. Hasil kegiatan didapatkan pengetahuan siswa terkait masalah mental emosional dan koping mekanisme siswa mengalami peningkatan. Simpulan dari pengabdian ini, bahwa edukasi konsep kesehatan mental dan ketrampilan koping mekanisme dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
Pengaruh Intervensi Virtual Reality Exposure Therapy terhadap Kecemasan dan Ketakutan Anak Presirkumsisi Estria, Suci Ratna; Herdian, Herdian; Riyaningrum, Wahyu; Supriyatno, Supriyatno; Wikantadi, Latief
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 15 No 3 (2025): Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v15i3.3736

Abstract

Mayoritas anak presirkumsisi mengalami gejala kecemasan dan ketakutan karena anak-anak mendapatkan informasi yang salah terkait sirkumsisi. Subjek yang mengalami kecemasan atau ketakutan terhadap sesuatu, biasanya akan berusaha menghindar dari objek, aktivitas atau situasi yang dia cemaskan atau takutkan. Perilaku menghindar yang dilakukan bisa jadi dapat mengurangi perasaan cemas dan takut sesaat, akan tetapi jika dibiarkan saja maka kecemasan dan ketakutan tersebut dalam jangka panjang akan semakin memburuk dan merugikan, bahkan bisa menjadi factor predisposisi dari masalah gangguan mental berat dimasa mendatang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh virtual reality exposure terhadap kecemasan dan ketakutan anak presirkumsisi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimen one group pretest-posttest. Sampelnya adalah anak-anak presirkumsisi usia 7-12 tahun sebanyak 39 anak yang mengalami kecemasan dengan pengukuran STAI for Children dan ketakutan dengan pengukuran Children’s Fair Scale. Teknik sampling yang digunakan adalah total sample. Pengumpulan data dengan angket yang diisi oleh orang tua dan dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil dari penelitian didapatkan terdapat pengaruh Virtual Reality Exposure terhadap kecemasan (p value 0,0001) dan ketakutan (p value 0,0001) anak prasirkumsisi. Rekomendasi dari penelitian ini adalah kecemasan dan ketakutan anak perlu diatasi agar tidak berkembang menjadi permasalahan yang lebih berat, salah satunya dengan intervensi virtual reality exposure therapy.
Pengaruh spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap skor kecemasan narapidana Annas, Grandis Dwi; Estria, Suci Ratna; Linggardini, Kris; Muzaenah, Tina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.615

Abstract

Background: Anxiety is a feeling of worry, discomfort, uncertainty, or fear that arises from real or perceived events. It is often characterized by vague fears, accompanied by feelings of helplessness, isolation, and insecurity. Anxiety is a common mental health problem that can affect anyone, including their superiors. Anxiety experienced by revenge can stem from various events and experiences that occur during the isolated period. Several factors contribute to the development of anxiety disorders, including compensation, including age, length of sentence, time remaining before custody, and level of family and social support from the community. Purpose: To determine the effect of spiritual emotional freedom technique (SEFT) on anxiety scores of prisoners. Method: Quantitative research with pre-experimental design using one-group pretest-posttest methodology. This study was conducted on prisoners at Class IIB Purbalingga Penitentiary who had served more than four years. The sampling method used total sampling because the population was less than 100. The total number of participants in this study was 42 prisoners. This study used the Zung Self Anxiety Rating Scale (ZSAS), a questionnaire to measure anxiety. Results: The anxiety scores of the participants were at a mild level of 35.7%, a moderate level of 47.6%, and a severe level of 16.7%. The results of the analysis showed that there was a significant difference in anxiety scores from SEFT therapy in participants before and after the intervention with a p value of 0.001 ≤ ɑ (0.05) which indicated a decrease in anxiety scores before and after the intervention. Conclusion: There was an effect before and after the SEFT intervention with a p value = 0.001 and there was a difference in the decrease in score of 29.6 which shows that SEFT had an effect in reducing participants' anxiety scores.   Keywords: Anxiety; Prisoners; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).   Pendahuluan: Kecemasan adalah perasaan khawatir, tidak nyaman, tidak pasti, atau takut yang muncul dari peristiwa nyata atau yang dipersepsikan. Sering kali ditandai dengan ketakutan yang samar, disertai perasaan tidak berdaya, terasing, dan tidak aman. Kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang umum dan dapat memengaruhi siapa saja, termasuk narapidana. Kecemasan yang dialami oleh narapidana dapat berasal dari berbagai peristiwa dan pengalaman yang dihadapi selama masa penahanan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap skor kecemasan narapidana. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental menggunakan metodologi one-group pretest-posttest. Studi ini berkaitan dengan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purbalingga yang telah menyelesaikan lebih dari empat tahun masa hukuman. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling karena ukuran populasi kurang dari 100. Jumlah total partisipan dalam penelitian ini adalah 42 narapidana. Studi ini menggunakan Zung Self Anxiety Rating Scale (ZSAS) yaitu kuesioner untuk mengukur kecemasan. Hasil: Skor kecemasan partisipan berada dalam tingkat ringan sebanyak 35.7%, tingkat sedang 47.6%, dan berat 16.7%. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor kecemasan yang signifikan dari terapi SEFT terhadap partisipan sebelum dan sesudah intervensi dengan p value 0.001 ≤ ɑ (0.05), menunjukkan terdapat penurunan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Terdapat pengaruh sebelum dan setelah dilakukan intervensi SEFT dengan p value = 0.001, dan terdapat selisih penurunan skor sebanyak 29.6, menunjukkan bahwa SEFT berpengaruh dalam menurunkan skor kecemasan partisipan.   Kata Kunci: Kecemasan; Narapidana; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).
Pengaruh terapi okupasi hidroponik terhadap tingkat harga diri penerima manfaat di unit rehabilitasi sosial eks psikotik Romadhan, Robi; Estria, Suci Ratna; Etlidawati, Etlidawati; Prasetya, Rikhan Luhur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.843

Abstract

Background: Mental health issues encompass a range of challenges, such as schizophrenia disorders that are often associated with decreased self-esteem in individuals. Patients with schizophrenia who have low self-esteem exhibit poor self-perception, feelings of worthlessness, and lack of self-confidence. Occupational therapy, as an effective non-pharmacological intervention, can improve self-esteem through targeted activities. Purpose: To assess the effect of hydroponic occupational therapy intervention on the level of self-esteem of beneficiaries in a social rehabilitation unit for ex-psychotics. Method: Pre-experimental one group pretest-posttest design, conducted on beneficiaries who experience low self-esteem at the Social Rehabilitation Unit for Ex-Psychotics "Martani" Cilacap. The sample was selected by total sampling and the instrument used was the Rosenberg Self-Esteem Scale. The data were tested for normality using Shapiro Wilk, after the normality test was normally distributed, then using the paired sample t-test. Results: The low self-esteem score before the intervention was 28.82 and after the intervention increased to 30.00. The normality test obtained a score before the intervention p-value of 0.105 and after the intervention it became 0.093. This figure shows that the data is normally distributed (> 0.05), meaning that there is an effect of occupational therapy intervention on the level of low self-esteem. Conclusion: Agricultural hydroponic occupational therapy intervention can increase the self-esteem score of patients with mental disorders. Hydroponic occupational therapy can help patients with mental disorders who have low self-esteem.   Keywords: Hydroponics; Low Self-Esteem; Occupational Therapy.   Pendahuluan: Masalah kesehatan mental mencakup berbagai tantangan, seperti gangguan skizofrenia yang sering dikaitkan dengan penurunan harga diri pada individu. Pasien dengan skizofrenia yang memiliki harga diri rendah menunjukkan persepsi diri yang buruk, perasaan tidak berharga, dan kurangnya rasa percaya diri. Terapi okupasi sebagai intervensi non-farmakologis dapat meningkatkan harga diri melalui aktivitas yang terarah. Tujuan: Untuk menilai pengaruh intervensi terapi okupasi hidroponik terhadap tingkat harga diri penerima manfaat di unit rehabilitasi sosial eks psikotik. Metode: Desain pre-experimental one group pretest-posttest, dilakukan kepada penerima manfaat yang mengalami harga diri rendah di Unit Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik “Martani” Cilacap. Sampel dipilih secara total sampling dan instrumen yang digunakan adalah Rosenberg Self-Esteem Scale. Data di uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk, setelah uji normalitas berdistribusi normal, maka menggunakan paired sample t-test. Hasil: Skor harga diri rendah sebelum intervensi adalah 28.82 dan setelah intervensi meningkat menjadi 30.00. Uji normalitas didapatkan skor sebelum intervensi p-value 0.105 dan setelah intervensi menjadi 0.093. Angka tersebut menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (>0.05), artinya terdapat pengaruh intervensi terapi okupasi terhadap tingkat harga diri rendah. Simpulan: Intervensi terapi okupasi hidroponik pertanian dapat meningkatkan skor harga diri pasien gangguan jiwa. Terapi okupasi hidroponik dapat membantu pasien gangguan jiwa yang memiliki harga diri rendah.   Kata Kunci: Harga Diri Rendah; Hidroponik; Terapi Okupasi.
DIRECT CONTACT CHALLENGE: METODE MENURUNKAN STIGMA DAN MENINGKATKAN EMPATI TERHADAP ODGJ Estria, Suci Ratna
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Orang gangguan jiwa sering dianggap berbahaya, tidak dapat diprediksi, rentan terhadap kekerasan, menakutkan dan berbagai stigma negative bagi sebagian besar mahasiswa keperawatan. Keyakinan dan pandangan yang dimiliki mahasiswa dapat menghalangi kemampuan mahasiswa keperawatan untuk memiliki empati dalam berinteraksi dan merawat pasien dengan penyakit mental di area klinis/RSJ. Kurangnya empati pada mahasiswa yang disebabkan oleh stigma negatif dapat diatasi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan direct contact challenge. Direct contact challenge merupakan sebuah rangkaian program terdiri dari edukasi terkait gangguan jiwa, kemudian peserta diberikan tantangan untuk berinteraksi langsung dengan orang gangguan jiwa yang ada di jalanan (gelandangan psikotik) serta memenuhi kebutuhan dasarnya (memberi makan, minum, merawat kebersihan diri). Interaksi langsung dengan orang gangguan jiwa dapat meningkatkan empati dan menurunkan stigma negative mahasiswa. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh direct contact challenge terhadap stigma dan empati mahasiswa terhadap orang gangguan jiwa. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pre-eksperiment intact-group comparison. Populasinya adalah mahasiswa keperawatan s1 semester V. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 81 mahasiswa pada kelompok intervensi dan 81 pada kelompok kontrol, pengambilan sampel dengan simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan. Instrument yang digunakan menggunakan kuesioner Emphaty Toward the Mentally Ill Scale untuk mengukur empati mahasiswa terhadap orang gangguan jiwa dan kuesioner Community Attitudes Toward the Mentally Ill Scale (CAMI) Hasil : Rata-rata nilai stigma sebelum perlakuan pada kelompok intervensi adalah 96,4 dan pada control 92,3 skor Uji statistik menunjukkan nilai p=0.0001 pada skor stigma dan p=0.0001 pada empati, artinya terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata skor stigma dab empati sebelum dan sesudah perlakuan antara kedua kelompok. Kesimpulan : Direct contact challenge dapat menurunkan stigma negative dan meningkatkan empati mahasiswa terhadap orang gangguan jiwa.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN SOP KONSELING VCT PADA PASIEN SUSPEK B20 DI RAWAT INAP RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Saputro, Wawan Dwi; Linggardini, Kris; Suroso, Jebul; Estria, Suci Ratna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.36970

Abstract

Kepatuhan perawat dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) konseling Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada pasien suspek B20 (HIV/AIDS) sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT pada pasien suspek B20 di rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 7 perawat konselor VCT di ruang rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Analisis data menggunakan teknik Miles dan Hubermen. Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT, yaitu: 1. Pengetahuan perawat tentang prosedur konseling VCT, 2. Tingkat pendidikan perawat, 3. Masa kerja. Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP konseling VCT dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, penyediaan fasilitas yang memadai, dan dukungan manajemen merupakan aspek penting dalam meningkatkan kepatuhan perawat terhadap SOP konseling VCT.
PENGARUH PERMAINAN KURSI GOYANG TERHADAP TANDA GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI Antoni, Aji Ali; Estria, Suci Ratna
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 13 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan: November 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jik.v13i2.5870

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan kursi goyang terhadap tanda gejala dan kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien. Penelitian ini menggunakan metode Quasy Exsperimen with control group pre test and post test. Jumlah responden sebanyak 62 responden dengan menggunakan purposive sampling. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Tanda gejala responden pada kelompok kelompok eksperimen pre test (7.26%) dan post test (3.13%), sedangkan pada kelompok kontrol pre test (6.87%) dan post test (8.10%). terjadi penurunan tanda gejala pada kelompok eksperimen sebesar (4.13%) dan terjadi kenaikan sebesar (1.23%) pada kelompok kontrol. Kemampuan mengontrol halusinasi pada kelompok eksperimen pre test (3.77%) dan post test (9.35%), sedangkan pada kelompok kontrol pre test (4.06%) dan post test (5.48%) peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi pada kelompok eksperimen sebesar (5.75%) dan kelompok kontrol (1.42%). Nilai p value pada kelompok eksperimen 0.000 <0.05 dan kelompok kontrol 0.008 <0.05, sedangkan kemampuan mengontrol kelompok eksperimen 0.000 <0.05 dan kelompok kontrol 0.001 <0.05 yang berarti ada pengaruh permainan kursi goyang terhadap tanda gejala dan kemapuan mengontrol halusinasi pada pasien.
Fatherlessness as a Risk Factor for Suicide among Nursing Students in Indonesia: An Attachment Theory Perspective Karimatunnisa, Fatin; Ramdani, Meida Laely; Estria, Suci Ratna; Riyaningrum, Wahyu
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51946

Abstract

Suicide is the third leading cause of death among young people worldwide. Contributing  factors including family dysfunction and weak parent–child attachment. One prominent issue is the loss of a father’s role, either physically or emotionally, known as fatherlessness. This condition can hinder emotional regulation and increase vulnerability to mental health problems. Nursing students represent a high-risk group due to academic and clinical pressures. This study aimed to analyze the relationship between the level of fatherlessness and suicide risk among nursing students based on attachment theory. A quantitative cross-sectional design was used with 351 respondents selected through purposive sampling. The instruments included the Nurturant Father Involvement and Reported Father Involvement scales to measure fatherlessness, and the Suicide Behavior Questionnaire Revised (SBQ-R) to assess suicide risk. Results showed a significant relationship between fatherlessness and suicide risk (p < 0.001) with a moderate strength of association (Cramer’s V = 0,273). These findings emphasize that secure attachment as a protective factor for emotional well-being and highlight of paternal involvement as part of preventive efforts to reduce suicide risk among nursing students. Practical implications include educational institutions conducting family-based mental health screenings and educating on fathers’ caregiving importance to prevent suicide
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Video Animasi terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa tentang Bullying Kamal, Fitri Amelia; Estria, Suci Ratna; Etlidawati, Etlidawati; Riyaningrum, Wahyu
Jurnal Gema Keperawatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Gema Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jgk.v18i2.4717

Abstract

Bullying remains a serious problem in elementary schools and has a negative impact on students’ psychological health as well as their social relationships. Low levels of knowledge and response toward this behavior contribute to its high incidence. This study targeted fifth- and sixth-grade students at MI Muhammadiyah Dukuhturi, Bumiayu, Brebes, because at this age social interactions become increasingly complex, heightening the risk of both perpetrating and experiencing bullying. Effective prevention requires engaging and easily understood education, one of which is health education delivered through animated video that conveys information interactively. This research employed a quantitative pre-experimental design with a one group pretest–posttest approach. The entire population of 40 students was included as the sample using a total sampling technique because the population size was relatively small and the researchers aimed to obtain a comprehensive picture without inaccuracy from selecting only part of the respondents. The research instrument consisted of a knowledge and attitude questionnaire, while the intervention was carried out by screening an educational animated video of approximately four minutes’ duration, presented once in a scheduled session during a single learning activity. Data analyzed with a paired t-test showed an increase in mean knowledge scores from 29.65 to 35.62 and in attitude scores from 57,97 to 89,05, both with p = 0,0001 (p 0,05). These findings confirm that health education using animated video is effective in improving students’ knowledge and fostering positive attitudes toward bullying, making it a suitable and interactive educational method for bullying prevention in elementary schools. In line with these findings, the purpose of this study was to determine the effect of health education using animated video media on students’ knowledge and attitudes about bullying at MI Muhammadiyah Dukuhturi, Bumiayu.
Efektivitas Jar Positive Self-Talk Therapy terhadap Remaja dengan Perilaku Self-Injury di SMP Telkom Purwokerto Safitri, Safira Jihan; Estria, Suci Ratna
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23301

Abstract

ABSTRACT Self-injury is a serious issue involving intentional physical harm without the intent to end one's life and is not considered a socially or medically acceptable procedure. The prevalence of self-injury among adolescents has significantly increased over the past decade. According to a YouGov Omnibus report (2019), more than one-third (36%) of Indonesians have intentionally engaged in self-injury, with 45% of respondents being adolescents. Further, recent research by Faradiba (2021) revealed that 20.21% of Indonesian adolescents have been involved in self-injury behavior. A preliminary study conducted by the researchers on July 22, 2024, at Telkom Junior High School Purwokerto discovered that 81 participants had engaged in self-injury, while 110 participants had considered engaging in self-injury. This study aimed to identify the effectiveness of jar positive self-talk therapy in adolescents with self-injury behavior at SMP Telkom Purwokerto. This research employed a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The sampling technique used was total sampling, with a total of 81 respondents. The research instrument utilized was the Non-Suicidal Self-Injury Expectancy Questionnaire (NEQ). The findings indicated that the average expectancy score for self-injury behavior before the intervention with jar positive self-talk therapy was 70.80, which decreased to 52.83 after the intervention. The Paired Sample T-test yielded a p-value of 0.000, with an effect size (r) of 0.79. This study concludes that jar positive self-talk therapy is effective in addressing self-injury behavior among adolescents at SMP Telkom Purwokerto.  Keywords: Self-injury, Adolescents, Jar Positive Self-Talk Therapy.  ABSTRAK Self-injury merupakan masalah serius, perilaku ini dapat menyebabkan kerusakan fisik yang disengaja meskipun tanpa niat untuk mengakhiri hidup dan bukan merupakan prosedur yang dianggap legal menurut sosial maupun medis. Self-injury pada remaja prevalensinya semakin meningkat dalam satu dekade terakhir. YouGov Omnibus (2019) melaporkan lebih dari sepertiga (36%) orang Indonesia pernah dengan sengaja melakukan self-injury, dengan 45% responden berada pada usia remaja. Selain itu, data terbaru dari penelitian Faradiba (2021) menunjukan bahwa 20,21% remaja di Indonesia pernah terlibat dalam perilaku self-injury. Studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 22 Juli 2024 di SMP Telkom Purwokerto didapatkan hasil bahwa 81 peserta pernah melakukan tindakan self-injury dan 110 peserta pernah berpikiran untuk melakukan self-injury. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas jar positive self-talk therapy terhadap remaja dengan perilaku self-injury di SMP Telkom Purwokerto.Desain penelitian ini adalah pre-experimental dengan one group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah total responden adalah 81 responden. Instrumen penelitian menggunakankuisioner The Non-Suicidal Self-Injury Expectancy Questionnaire (NEQ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata skor ekspektansi perilaku self-injury sebelum intervensi dengan media jar positive self-talk therapy adalah 70.80 dan setelah dilakukan intervensi menjadi 52.83. Hasil Uji Paired Sample T-test p-value 0,000 dan hasil effect size r = 0,79. Penelitian ini menyimpulkan terdapat efektivitas jar positive self-talk therapy terhadap remaja dengan perilaku self-injury di SMP Telkom Purwokerto. Kata Kunci: Self-injury, Remaja, Jar Positive Self-Talk Therapy.